Hikayat Bandit Rusuh di Ciparay, Bikin Onar Tusuk dan Palak Warga Tionghoa

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Ilustrasi suasana pasar di Ciparay zaman kolonial.
Ilustrasi suasana pasar di Ciparay zaman kolonial.

AYOBANDUNG.ID - Hari Natal tahun 1926 di Ciparay rupanya tak seromantis kartu pos dari toko kolonial. Tidak ada lonceng, tidak ada kue jahe, hanya ada pisau yang melesat di antara lapak kain dan jeritan pedagang. Seorang penjual kain pribumi bernama Wanta memutuskan untuk mengisi hari suci itu dengan sedikit pertunjukan darah.

Semua bermula di pasar Ciparay, tempat segala urusan ekonomi dan gosip lokal bertemu dalam satu aroma: keringat, ikan asin, dan kain basah. Di sanalah Jo Tjioe Kien, seorang Tionghoa yang mencari rezeki dari perdagangan tekstil, berselisih dengan si Wanta. Perselisihan kecil tampaknya, namun entah soal apa persisnya.

Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië edisi 6 Januari 1926 mencatat keonaran yang dibkin Wnata ini. Keributan mereka menarik perhatian pengunjung lain. Orang-orang berhenti menawar bawang dan tembakau, ikut menonton. Di antara kerumunan itu, datanglah Tan Tian Hoat. Ia mencoba melerai. Sialnya, keberanian itu berujung petaka. Dalam sekejap, pisau muncul dari pinggang Wanta. Sekali hunus, tajamnya menembus lidah Tan, keluar di pipi sebelah.

"Ia mencabut pisau dan menusuk wajah Tan Tian Hoat, melukai lidahnya, dan pisau itu bahkan menembus hingga ke pipi sebelah lain." tulis koran itu menggambarkan kelakuaan Wanta.

Baca Juga: Hikayat Komplotan Bandit Revolusi di Cileunyi, Sandiwara Berdarah Para Tentara Palsu

Darah berceceran. Jeritan terdengar. Tan terjatuh di tanah, wajahnya berlumuran darah, dan pasar berubah jadi kekacauan. Beberapa pedagang Tionghoa buru-buru menolongnya, menyeret Tan keluar dari tengah kerumunan. Sementara Wanta berdiri saja, dengan tangan masih memegang pisau yang sudah berubah warna.

Polisi lapangan datang. Polisi desa datang. Mereka melihat korban, menulis sesuatu di buku catatan, lalu menghilang. Tidak ada borgol, tidak ada perintah tangkap. Wanta tetap di pasar, berjalan tenang di antara lapak-lapak, seperti penjaga keamanan yang baru saja menunaikan tugasnya.

"Dalam keadaan berlumuran darah, korban segera diselamatkan oleh orang-orang Tionghoa lain yang ada di pasar. Polisi lapangan dan polisi desa segera diberitahu, namun anehnya pelaku Wanta tidak ditangkap." demikian tertulis dalam koran.

Kabar penusukan itu menyebar ke seluruh Ciparay. Orang-orang tidak hanya membicarakan darah yang muncrat, tapi juga keberanian Wanta. Dalam obrolan warung kopi, ia bukan lagi penjual kain, melainkan semacam raja kecil pasar. Ada yang bilang ia punya orang dalam. Ada pula yang bilang, ia bagian dari kelompok yang sudah lama membuat onar di wilayah itu.

"Secara umum di Ciparay beredar kabar bahwa Wanta berani bertindak sewenang-wenang karena bekerjasama dengan sekelompok penjahat yang menebar teror di seluruh wilayah Ciparay."

Kemudian nama-nama lain muncul: Karta, sang mandor pasar yang lebih sering mengatur urusan pribadi daripada urusan kebersihan, dan Soekardi, penjaga wesel kereta api Staatsspoorwegen (SS) yang dikenal lebih suka berjudi ketimbang menjaga rel. Mereka bertiga, kata orang-orang, sering terlihat bersama. Di warung, di pasar, atau di pojok kampung saat malam tiba.

Baca Juga: Sejarah Pacuan Kuda Tegallega Bandung, Panggung Ratu Wilhelmina yang Jadi Sarang Judi dan Selingkuh Tuan Eropa

Laporan Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië edisi 6 Januari 1926.
Laporan Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië edisi 6 Januari 1926.

Beraksi Bukan Cuma Sekali

Tanggal 29 Desember, empat hari setelah Natal berdarah itu, Ciparay belum tenang. Malam itu, rumah seorang Tionghoa bernama Joe Koei dilempari batu. Suara pecahan kaca terdengar hingga ke gang belakang. Tak ada yang berani keluar rumah. Setelah puas, geng Wanta beranjak ke rumah lain, milik Jo Laij Hie.

Komplotan ini mengetuk pintu, menuntut uang. Tapi Jo Laij Hie, yang mengaku tidak punya uang di rumah, menjawab dengan jujur. Geng itu tidak suka kejujuran. Mereka membalasnya dengan tinju dan tendangan.

Sejak malam itu, pasar kecil di Lemboer Awi mendadak sunyi. Wanta dan anak buahnya menyebar kabar: siapa pun yang berani datang ke pasar, akan diserang. Ancaman itu cukup untuk membuat para pedagang Tionghoa menutup toko dan tidak keluar rumah.

Pasar yang biasanya ramai dengan suara timbangan dan tawa, berubah jadi tempat kosong. Lalat lebih banyak dari pembeli. Sementara itu, di kantor polisi desa, tak ada yang terjadi. Polisi duduk di kursinya, menatap keluar jendela. Mereka tahu nama pelaku, tahu tempatnya, tapi tangan mereka seperti terikat.

Seseorang menyebut bahwa Wanta punya pelindung. Entah benar, entah hanya gosip, tapi faktanya, ia tetap bebas. Ia masih berkeliaran di pasar Ciparay, membawa pisau seperti tanda jasa. Kadang ia terlihat duduk di warung bersama mandor Karta. Kadang berbincang dengan Soekardi di dekat rel kereta. Tidak ada yang berani menegur.

Ketakutan menyebar seperti demam. Para pedagang Tionghoa tak lagi berani menyalakan lampu malam. Pintu ditutup rapat. Anak-anak disuruh tidur lebih awal. Di jalan-jalan kampung, hanya suara anjing yang terdengar menggonggong panjang.

Kabar itu sampai ke telinga para pejabat di Bandung. Tapi sebelum itu, beberapa orang Tionghoa di Ciparay sudah lebih dulu menulis surat. Mereka memohon kepada Residen Priangan Tengah agar dikirim bantuan. Mereka tidak menulis panjang, hanya memohon perlindungan. Surat itu dikirim lewat pos, diantar oleh seseorang yang juga gemetar saat menyerahkannya.

Koran Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië menulis panjang lebar rangakaian aksi abndit selebor ala bang jago zaman kiwari ini di bawah tajuk “Terrorisme di Tjiparai.” Kata “terorisme” terdengar besar untuk sebuah pasar kecil di selatan Bandung, tapi itulah cara koran Hindia Belanda kala itu memoles kekacauan lokal agar terlihat serius.

Baca Juga: Jejak Dukun Cabul dan Jimat Palsu di Bandung, Bikin Resah Sejak Zaman Kolonial

Dalam laporan itu juga disebutkan, bukan hanya warga Tionghoa yang ketakutan, tapi juga para pribumi kaya yang merasa ikut diincar. Rumah mereka ikut ditutup, toko mereka ikut dikunci. Di Ciparay, siang hari jadi panjang, malam terasa lebih pekat.

"Bukan hanya warga Tionghoa di Ciparay yang diancam oleh Wanta, tetapi juga para pribumi kaya yang ikut diberi teror olehnya."

Polisi desa tetap diam. Mereka seperti bayangan—ada, tapi tak berfungsi. Di jalan, orang-orang hanya berbisik. Nama Wanta tidak disebut keras-keras. Anak-anak bahkan diajari jangan menatap pria berpeci dengan pisau di pinggang yang sering melintas di depan pasar.

Pasar Lembur Awi yang dulu hidup dari jual beli, kemudian tinggal tersisa debu. Tidak ada pedagang, tidak ada pembeli. Hanya papan nama pasar yang mulai pudar di bawah sinar matahari. Dari balik jendela rumah, orang-orang menatap ke luar dengan rasa cemas yang sama.

Di rumah Jo Laij Hie, bekas pukulan di dinding belum dihapus. Di rumah Joe Koei, kaca jendela yang pecah belum diganti. Di jalan tempat Tan Tian Hoat dulu jatuh, masih ada bekas noda gelap yang tak mau hilang meski sudah sering diguyur hujan.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:46

Medsos Mengubah Waktu dan Jarak

Medsos dapat merubah waktu dan jarak dalam penyampaian informasi

Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)