Hikayat Bandit Rusuh di Ciparay, Bikin Onar Tusuk dan Palak Warga Tionghoa

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Jumat 24 Okt 2025, 12:34 WIB
Ilustrasi suasana pasar di Ciparay zaman kolonial.

Ilustrasi suasana pasar di Ciparay zaman kolonial.

AYOBANDUNG.ID - Hari Natal tahun 1926 di Ciparay rupanya tak seromantis kartu pos dari toko kolonial. Tidak ada lonceng, tidak ada kue jahe, hanya ada pisau yang melesat di antara lapak kain dan jeritan pedagang. Seorang penjual kain pribumi bernama Wanta memutuskan untuk mengisi hari suci itu dengan sedikit pertunjukan darah.

Semua bermula di pasar Ciparay, tempat segala urusan ekonomi dan gosip lokal bertemu dalam satu aroma: keringat, ikan asin, dan kain basah. Di sanalah Jo Tjioe Kien, seorang Tionghoa yang mencari rezeki dari perdagangan tekstil, berselisih dengan si Wanta. Perselisihan kecil tampaknya, namun entah soal apa persisnya.

Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië edisi 6 Januari 1926 mencatat keonaran yang dibkin Wnata ini. Keributan mereka menarik perhatian pengunjung lain. Orang-orang berhenti menawar bawang dan tembakau, ikut menonton. Di antara kerumunan itu, datanglah Tan Tian Hoat. Ia mencoba melerai. Sialnya, keberanian itu berujung petaka. Dalam sekejap, pisau muncul dari pinggang Wanta. Sekali hunus, tajamnya menembus lidah Tan, keluar di pipi sebelah.

"Ia mencabut pisau dan menusuk wajah Tan Tian Hoat, melukai lidahnya, dan pisau itu bahkan menembus hingga ke pipi sebelah lain." tulis koran itu menggambarkan kelakuaan Wanta.

Baca Juga: Hikayat Komplotan Bandit Revolusi di Cileunyi, Sandiwara Berdarah Para Tentara Palsu

Darah berceceran. Jeritan terdengar. Tan terjatuh di tanah, wajahnya berlumuran darah, dan pasar berubah jadi kekacauan. Beberapa pedagang Tionghoa buru-buru menolongnya, menyeret Tan keluar dari tengah kerumunan. Sementara Wanta berdiri saja, dengan tangan masih memegang pisau yang sudah berubah warna.

Polisi lapangan datang. Polisi desa datang. Mereka melihat korban, menulis sesuatu di buku catatan, lalu menghilang. Tidak ada borgol, tidak ada perintah tangkap. Wanta tetap di pasar, berjalan tenang di antara lapak-lapak, seperti penjaga keamanan yang baru saja menunaikan tugasnya.

"Dalam keadaan berlumuran darah, korban segera diselamatkan oleh orang-orang Tionghoa lain yang ada di pasar. Polisi lapangan dan polisi desa segera diberitahu, namun anehnya pelaku Wanta tidak ditangkap." demikian tertulis dalam koran.

Kabar penusukan itu menyebar ke seluruh Ciparay. Orang-orang tidak hanya membicarakan darah yang muncrat, tapi juga keberanian Wanta. Dalam obrolan warung kopi, ia bukan lagi penjual kain, melainkan semacam raja kecil pasar. Ada yang bilang ia punya orang dalam. Ada pula yang bilang, ia bagian dari kelompok yang sudah lama membuat onar di wilayah itu.

"Secara umum di Ciparay beredar kabar bahwa Wanta berani bertindak sewenang-wenang karena bekerjasama dengan sekelompok penjahat yang menebar teror di seluruh wilayah Ciparay."

Kemudian nama-nama lain muncul: Karta, sang mandor pasar yang lebih sering mengatur urusan pribadi daripada urusan kebersihan, dan Soekardi, penjaga wesel kereta api Staatsspoorwegen (SS) yang dikenal lebih suka berjudi ketimbang menjaga rel. Mereka bertiga, kata orang-orang, sering terlihat bersama. Di warung, di pasar, atau di pojok kampung saat malam tiba.

Baca Juga: Sejarah Pacuan Kuda Tegallega Bandung, Panggung Ratu Wilhelmina yang Jadi Sarang Judi dan Selingkuh Tuan Eropa

Laporan Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië edisi 6 Januari 1926.
Laporan Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië edisi 6 Januari 1926.

Beraksi Bukan Cuma Sekali

Tanggal 29 Desember, empat hari setelah Natal berdarah itu, Ciparay belum tenang. Malam itu, rumah seorang Tionghoa bernama Joe Koei dilempari batu. Suara pecahan kaca terdengar hingga ke gang belakang. Tak ada yang berani keluar rumah. Setelah puas, geng Wanta beranjak ke rumah lain, milik Jo Laij Hie.

Komplotan ini mengetuk pintu, menuntut uang. Tapi Jo Laij Hie, yang mengaku tidak punya uang di rumah, menjawab dengan jujur. Geng itu tidak suka kejujuran. Mereka membalasnya dengan tinju dan tendangan.

Sejak malam itu, pasar kecil di Lemboer Awi mendadak sunyi. Wanta dan anak buahnya menyebar kabar: siapa pun yang berani datang ke pasar, akan diserang. Ancaman itu cukup untuk membuat para pedagang Tionghoa menutup toko dan tidak keluar rumah.

Pasar yang biasanya ramai dengan suara timbangan dan tawa, berubah jadi tempat kosong. Lalat lebih banyak dari pembeli. Sementara itu, di kantor polisi desa, tak ada yang terjadi. Polisi duduk di kursinya, menatap keluar jendela. Mereka tahu nama pelaku, tahu tempatnya, tapi tangan mereka seperti terikat.

Seseorang menyebut bahwa Wanta punya pelindung. Entah benar, entah hanya gosip, tapi faktanya, ia tetap bebas. Ia masih berkeliaran di pasar Ciparay, membawa pisau seperti tanda jasa. Kadang ia terlihat duduk di warung bersama mandor Karta. Kadang berbincang dengan Soekardi di dekat rel kereta. Tidak ada yang berani menegur.

Ketakutan menyebar seperti demam. Para pedagang Tionghoa tak lagi berani menyalakan lampu malam. Pintu ditutup rapat. Anak-anak disuruh tidur lebih awal. Di jalan-jalan kampung, hanya suara anjing yang terdengar menggonggong panjang.

Kabar itu sampai ke telinga para pejabat di Bandung. Tapi sebelum itu, beberapa orang Tionghoa di Ciparay sudah lebih dulu menulis surat. Mereka memohon kepada Residen Priangan Tengah agar dikirim bantuan. Mereka tidak menulis panjang, hanya memohon perlindungan. Surat itu dikirim lewat pos, diantar oleh seseorang yang juga gemetar saat menyerahkannya.

Koran Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië menulis panjang lebar rangakaian aksi abndit selebor ala bang jago zaman kiwari ini di bawah tajuk “Terrorisme di Tjiparai.” Kata “terorisme” terdengar besar untuk sebuah pasar kecil di selatan Bandung, tapi itulah cara koran Hindia Belanda kala itu memoles kekacauan lokal agar terlihat serius.

Baca Juga: Jejak Dukun Cabul dan Jimat Palsu di Bandung, Bikin Resah Sejak Zaman Kolonial

Dalam laporan itu juga disebutkan, bukan hanya warga Tionghoa yang ketakutan, tapi juga para pribumi kaya yang merasa ikut diincar. Rumah mereka ikut ditutup, toko mereka ikut dikunci. Di Ciparay, siang hari jadi panjang, malam terasa lebih pekat.

"Bukan hanya warga Tionghoa di Ciparay yang diancam oleh Wanta, tetapi juga para pribumi kaya yang ikut diberi teror olehnya."

Polisi desa tetap diam. Mereka seperti bayangan—ada, tapi tak berfungsi. Di jalan, orang-orang hanya berbisik. Nama Wanta tidak disebut keras-keras. Anak-anak bahkan diajari jangan menatap pria berpeci dengan pisau di pinggang yang sering melintas di depan pasar.

Pasar Lembur Awi yang dulu hidup dari jual beli, kemudian tinggal tersisa debu. Tidak ada pedagang, tidak ada pembeli. Hanya papan nama pasar yang mulai pudar di bawah sinar matahari. Dari balik jendela rumah, orang-orang menatap ke luar dengan rasa cemas yang sama.

Di rumah Jo Laij Hie, bekas pukulan di dinding belum dihapus. Di rumah Joe Koei, kaca jendela yang pecah belum diganti. Di jalan tempat Tan Tian Hoat dulu jatuh, masih ada bekas noda gelap yang tak mau hilang meski sudah sering diguyur hujan.

News Update

Bandung 06 Mei 2026, 20:20

Mulai Rp10 Ribu, Aksesori Batu Rimba Buktikan Produk Lokal Bisa Tampil Berkelas dan Bernilai Estetika Tinggi

Di tengah geliat keragaman aspek budaya nasional yang dipadu-padankan dengan ranah bisnis, kini pelaku UMKM aksesori turut menjadi sasaran atensi.

Batu Rimba asal Kalimantan, produk ini menampilkan gelang jenis batu alam hingga mutiara Lombok. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 18:29

Separuh Kehidupan untuk Kemacetan di Kota Bandung

Bagi pengguna fasilitas transportasi umum, kemacetan adalah pergumulan yang melelahkan tapi harus dilewati setiap hari.

Kemacetan Cibaduyut Saat Ramadhan 2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 17:21

Bandung Kini, Mereka yang Bertahan di Antara Deru Zaman

Di tengah impitan kondisi sosial yang terasa begitu tajam, warga Bandung harus bisa tetap bertahan hidup dengan cara pengorbanan dan kesabaran. Yang akhirnya akan menemukan solusi terbaik.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Mei 2026, 16:38

Panduan Wisata ke Little Venice Kota Bunga, Wisata Kanal ala Italia di Kaki Gunung Gede

Destinasi tematik di Kota Bunga ini menghadirkan kanal buatan, bangunan Eropa, dan wahana keluarga dengan latar pegunungan.

Little Venice Kota Bunga Puncak.
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 14:59

Menuju Pelestarian Cagar Budaya Kota Bandung yang Progresif dan Berkeadilan: Kebijakan Insentif Pajak Bumi dan Bangunan

Strategi pelestarian cagar budaya yang progresif dan berkelanjutan untuk menciptakan simbiosis mutualisme antara pelestarian Cagar Budaya dan kepastian hak ekonomi pemilik Cagar Budaya.

Pengendara melintas di Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung, Selasa 21 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 06 Mei 2026, 13:51

Panjat Dinding, Prestasi dan Profesi yang Langka

Prestasi panjat dinding Indonesia didominasi nomor speed, sementara kekurangan route setter jadi kendala perkembangan atlet.

Panjat dinding. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Mei 2026, 11:25

5 Tempat Kuliner dan Restoran Pilihan dengan View Ikonik di Ciwidey Bandung

Panduan tempat makan di Ciwidey dengan view paling menarik. Dari warung sederhana hingga restoran unik di tepi danau.

Warung Kabut, Ciwidey.
Ayo Biz 06 Mei 2026, 11:23

Kita Butuh Isinya, Bukan Wadahnya

Jaga Bumi Ecomart mengajak belanja tanpa kemasan sekali pakai lewat konsep *refill* dan *reuse*. Pesannya sederhana: yang dibutuhkan adalah isi, bukan wadah, demi mengurangi sampah.

Beragam produk hasil recycle di Jaga Bumi Ecomart, menunjukkan limbah dapat diolah menjadi barang bernilai guna. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 09:45

Tujuan Kawula Muda Nonton Film di Tahun 1980-an

Kawula muda Kota Bandung sangat beruntung karena kota tempat mereka beraktifitas di sekolah punya seribu buat menghilangkan kepenatan sebagai pelajar di tahun 1980-an.

Bioskop Majestic, Kota Bandung. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Chainwit)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 07:39

Dari Loyalitas ke Konsumsi, Ketika Bobotoh dan Merchandise Jadi Satu Cerita

Dukungan klub kini bukan hanya emosi, tapi juga konsumsi. Artikel ini mengulas perubahan loyalitas Bobotoh dalam merchandise Persib x Weekend Offender.

Loyalitas Bobotoh dalam merchandise Persib x Weekend Offender. (Sumber: TikTok @terracedistric)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 20:28

Panduan Wisata Taman Safari Bogor, Tiket, Wahana, dan Safari Journey

Panduan lengkap Taman Safari Bogor mencakup harga tiket, Safari Journey, wahana, pertunjukan satwa, serta tips berkunjung agar pengalaman lebih maksimal.

Wisata Taman Safari Indonesia di kawasan Puncak, Bogor. (Sumber: Taman Safari Indonesia)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 18:05

Mobilitas Tinggi, Perlindungan Rendah: Catatan Hari Buruh dari Sektor Transportasi Darat

Mobilitas transportasi darat meningkat, tetapi perlindungan pengemudi tertinggal. Hari Buruh menyoroti risiko tinggi, jam kerja panjang, dan lemahnya pengawasan di sektor logistik dan bus.

Ilustrasi sejumlah pengemudi truk logistik dan bus sedang memperingati hari buruh 1 Mei. (Sumber: Google Gemini, 2026)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 17:22

Meng(hardik)nas, Peringatan, dan Kesadaran

Kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikannya. Ikhtiar memperbaiki pendidikan dimulai dari ruang kelas, tempat manusia tidak hanya diajarkan pengetahuan, sebagai manusia seutuhnya.

Sejumlah siswa berjualan aneka produk makanan saat acara Market Day di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (5/12/2023) (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 16:28

Lembangku Sayang, Lembangku Malang (Prolog)

Keheningan dan kesederhanaan Lembang mampu menjadi dirinya sendiri, mampu menorehkan kesan yang tiada duanya.

Kartu pos yang bergambarkan gunung Tangkuban Parahu pada masa kolonial Belanda. Lokasi tepat dari gambar ini adalah kawasan jalan Setiabudi atas/Terminal Ledeng, dan foto diambil dari loteng Villa Isola). (Sumber: wereledculturn.nl)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 13:37

10 Netizen Terpilih April 2026: Bandung di Mata Pendatang, antara Bayangan dan Kenyataan

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 13:14

Tamasya ke Pulau Biawak, Wisata Pulau Konservasi di Laut Jawa

Wisata Pulau Biawak Indramayu mencakup akses dari Karangsong, mercusuar Belanda, habitat biawak liar, kondisi terumbu karang, serta tips kunjungan ke pulau.

Pulau Biawak, Indramayu. (Sumber: Pemprov Jabar)
Beranda 05 Mei 2026, 10:46

Mal BTM yang Tergerus Perubahan Cara Orang Berbelanja

Mal BTM di Bandung perlahan sepi seiring perubahan cara orang berbelanja ke digital, memangkas peran toko fisik dan menggeser rantai distribusi tradisional.

Suasana mal BTM terasa sunyi, pengunjung tak lagi seramai dulu. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 09:25

Setiap Kata adalah Arsip Sejarah

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama.

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama. (Sumber: Pexels | Foto: BOOM 💥 Photography)
Beranda 05 Mei 2026, 09:15

Nasib Pekerja Informal yang Setiap Hari Dikejar Setoran, Tapi Masa Depan Tak Pernah Ikut Dijamin

Kisah dua saudara yang berjuang di tengah keterbatasan peluang kerja dan ketidakpastian upah sebagai petugas parkir demi menyambung hidup hari demi hari.

Sudah hampir 20 tahun Ade bekerja sebagai petugas parkir untuk menyambung hidup. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 04 Mei 2026, 21:56

Belajar dari Tragedi KA Argo: Sudah Saatnya Ubah Cara Awasi Perlintasan Biar Mobil Mogok Tak Lagi Jadi Maut

Tragedi KA Argo 2026 mendesak PT KAI untuk memodernisasi keamanan perlintasan sebidang guna mencegah mobil mogok akibat gangguan elektromagnetik dan rel yang tidak rata.

(Sumber: Pixels | Foto: Irsyad Rifqi)