Upah Tak Menentu dan Tanggung Jawab Besar, Realitas Hidup Porter Stasiun Bandung

Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan Selasa 17 Mar 2026, 08:56 WIB
Mengangkat barang sekaligus memandu penumpang menjadi tugas keseharian para porter di Stasiun Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Mengangkat barang sekaligus memandu penumpang menjadi tugas keseharian para porter di Stasiun Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Riuh roda koper yang bergesekan dengan lantai dan pengumuman keberangkatan yang bersahutan menjadi latar keseharian di Stasiun Bandung. Di tengah arus penumpang yang datang dan pergi, para porter sigap menawarkan bantuan mengangkat barang, sekaligus memastikan penumpang hingga duduk di kursi dalam gerbong sesuai tiket.

Mudik Ramai, Rezeki Tak Selalu Sama

Salah seorang di antara mereka adalah Surya Apandi (63), pria yang telah menggantungkan hidupnya di Stasiun Bandung selama 27 tahun.

Seragam merah bernomor 66 di dadanya menjadi penanda profesinya. Surya tampak sedikit berbeda dari porter lain. Peci yang selalu dikenakannya memberi kesan khas. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya menyimpan jejak panjang kehidupan di tengah lalu-lalang perjalanan kereta selama puluhan tahun.

“Lupa, (masuk bekerja) tahun berapa. Tapi kurang lebih sudah 27 tahun di Stasiun Bandung,” ujar Surya sambil mengernyitkan dahi, mencoba mengingat awal perjalanannya.

“Sebelumnya saya bekerja sebagai cleaning service di sini selama 17 tahun,” tambahnya pelan.

Surya Apandi porter di Stasiun Bandung yang sudah bekerja selama 27 tahun (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Surya Apandi porter di Stasiun Bandung yang sudah bekerja selama 27 tahun (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Jika ditarik dari hitungan waktu, Surya telah menjadi porter sejak 2016, atau sekitar satu dekade terakhir. Dalam kurun itu, ia menyaksikan berbagai perubahan di stasiun, termasuk dinamika arus mudik yang selalu datang setiap tahun.

Saat musim mudik tiba, suasana stasiun berubah drastis. Penumpang berdatangan dari berbagai daerah dengan beragam bawaan seperti koper besar, kardus oleh-oleh, hingga tas bertumpuk di bahu.

“Kalau musim mudik, suasananya memang lebih ramai. Alhamdulillah, kadang pendapatan juga meningkat,” ujar Surya sambil mengangguk.

Namun baginya, ramainya penumpang tidak selalu berbanding lurus dengan banyaknya pengguna jasa porter. Ada kalanya, justru saat penumpang tidak terlalu padat, lebih banyak yang meminta bantuan.

“Banyaknya penumpang belum tentu banyak yang manggil kita,” katanya sambil memperagakan gestur tangan memanggil.

Di Stasiun Bandung, porter terbagi dalam dua kelompok besar: tim merah dan tim biru. Keduanya bekerja bergiliran dalam sistem 24 jam, mulai pukul 09.00 hingga 09.00 keesokan harinya.

Setiap tim beranggotakan sekitar 67 orang. Namun pada hari biasa, biasanya hanya 30 hingga 40 porter yang bertugas. Sementara saat musim mudik, hampir seluruh anggota turun bekerja.

Tanggung Jawab

Di tengah padatnya arus penumpang, tugas porter bukan sekadar mengangkat barang. Mereka juga kerap menjadi penunjuk arah bagi penumpang yang kebingungan mencari peron atau kereta.

“Tanggung jawab kami menjaga barang penumpang dan membantu mereka menemukan kereta yang tepat,” jelas Surya.

Ia menambahkan, kesalahan sekecil apa pun bisa berujung sanksi. Karena itu, kehati-hatian menjadi hal yang mutlak di tengah situasi stasiun yang sibuk.

“Kalau ada yang salah, kita bisa kena sanksi atau diskors seminggu. Bahkan harus mengganti tiket penumpang kalau kita salah mengarahkan,” ujarnya.

Meski demikian, Surya mengaku setuju dengan aturan tersebut.

“Menurut saya bagus, jadi kita lebih sadar dan disiplin,” tambahnya.

Tarif resmi jasa porter di Stasiun Bandung saat ini berkisar Rp38.000. Namun dalam praktiknya, jumlah yang diterima kerap tidak sesuai dengan ketentuan.

“Kadang ada yang kasih sembilan ribu, lima belas ribu, dua puluh ribu. Ya saya terima saja,” kata Surya.

Ia tak pernah mempermasalahkan hal itu. Baginya, setiap pemberian adalah rezeki yang patut disyukuri.

“Barangkali memang rezekinya segitu. Mungkin mereka hanya punya uang segitu,” ujarnya sambil tersenyum.

Di tengah ramainya arus penumpang, porter menjadi tangan yang membantu perjalanan tetap berjalan lancar. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Di tengah ramainya arus penumpang, porter menjadi tangan yang membantu perjalanan tetap berjalan lancar. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Rp35 Ribu dan Cerita Berhenti Merokok

Salah satu momen yang paling diingat Surya terjadi saat ia masih bekerja sebagai petugas kebersihan. Kala itu, aturan larangan merokok di stasiun belum seketat sekarang.

Suatu hari, seorang penumpang menegurnya karena merokok saat bekerja. Teguran itu membuatnya sangat merasa bersalah.

“Saya benar-benar minta maaf waktu itu,” kenangnya, sambil menangkupkan kedua tangan di dada, memperagakan momen tersebut.

Peristiwa itu membekas kuat. Sejak saat itu, Surya memutuskan berhenti merokok secara permanen.

Dalam kesehariannya sebagai porter, ia juga menghadapi ketidakpastian penghasilan. Ada masa ketika ia bekerja seharian penuh, tetapi hanya membawa pulang uang dalam jumlah minim.

“Pernah seharian di stasiun cuma dapat tiga puluh lima ribu,” ujarnya.

“Buat makan saja tidak cukup,” lanjutnya lirih.

Namun Surya tetap percaya, rezeki bisa datang dari arah yang tak terduga. Di waktu lain, ia pernah mendapat bayaran lebih, bahkan menerima THR dari seorang penumpang.

Di balik pekerjaannya, Surya memiliki alasan sederhana untuk terus bertahan: keluarga.

Istri dan anak-anaknya tinggal di Ciamis. Ia hanya bisa pulang sekitar sebulan sekali.

“Pulang kalau ada uang,” katanya sambil tersenyum tipis.

Selama fisiknya masih kuat, Surya ingin terus bekerja demi mengirim nafkah.

“Selama saya masih mampu, saya akan tetap bekerja untuk keluarga,” ujarnya.

Tahun ini, ia berencana pulang saat Lebaran selama kurang lebih satu minggu agar bisa berkumpul bersama keluarga di kampung halaman.

Bagi porter, banyaknya penumpang tak selalu berarti banyaknya penghasilan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bagi porter, banyaknya penumpang tak selalu berarti banyaknya penghasilan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Harapan

Setelah puluhan tahun bekerja di stasiun, harapan Surya tidaklah muluk. Ia hanya ingin tempatnya mencari nafkah terus berkembang.

“Semoga stasiun terus maju, saya juga tetap sehat,” ucapnya.

Ia juga berharap ada perhatian lebih dari pemerintah terhadap para porter yang selama ini bekerja di balik sibuknya perjalanan kereta.

“Ya, saya juga ingin dapat THR,” katanya sambil tersenyum kecil, lalu menggeleng.

“Tapi sepertinya masih jauh untuk berharap ke sana,” tambahnya ringan.

Di tengah hiruk-pikuk para pemudik yang pulang ke kampung halaman, Surya tetap berdiri di antara keramaian. Mengangkat koper demi koper, sambil menyimpan harapan demi keluarganya di rumah.

News Update

Ayo Netizen 17 Mar 2026, 20:16

Idul Fitri: Jangan Cuma Suci, tapi Jadi Solusi

Ramadan melatih, Idul Fitri menguji: apakah kita hanya jadi pribadi lebih baik, atau naik level menjadi pelaku perubahan yang memberi dampak nyata bagi umat?

Salat Idulfitri. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 17 Mar 2026, 18:56

Apa yang Hilang dalam Lebaran

Kesempatan untuk menyentuh kembali relasi manusia, tradisi sederhana, dan pengalaman kebersamaan yang raib dalam kehidupan modern.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Mar 2026, 17:48

Salam Tempel 2026: Ketika THR Beralih ke Dompet Digital, Masihkah Amplop Fisik Diperlukan?

Meski dompet elektronik jadi "amplop modern" yang praktis, mampukah teknologi menggantikan hangatnya tradisi salam tempel?

Tanpa punya rupiah di dompet, kehadiran paylater menambah lapisan “keajaiban” baru, kita bisa membeli hari ini dan membayarnya nanti. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Ayo Netizen 17 Mar 2026, 16:01

Pasca-Lebaran: Simpul Perasaan, Peluang, dan Tantangan Baru di Tanah Parahyangan

Peralihan menuju Syawal menjadi titik awal baru bagi masyarakat, ditandai dengan arus urbanisasi, pergerakan pasar kerja, fluktuasi UMKM, hingga perubahan pola konsumsi.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Mar 2026, 15:06

Silaturahmi Lebaran di Bandung 1964 dalam Arsip Majalah Mangle

Salah satu potongan kecil itu dapat ditemukan dalam arsip Majalah Mangle edisi Januari 1964.

Karikatur klasik yang menggambarkan suasana perayaan Idulfitri 1383 H tahun 1964 di Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 17 Mar 2026, 14:11

Kawasan Terpadu Situ Aksan dan Perumahan Bergaya Taman Villa

Keberadaan Situ Aksan sudah menjadi ciri bumi, sehingga menjadi sebutan bila akan menuju ke perkampungan yang ada di seputar situ.

Jalan-jalan yang teratur, diberi warna kuning, di sanalah (A-B-C) dibangun 150 rumah tamanvilla. Situ Aksan menjadi kekuatannya. (Sumber: Sumber citra satelit: Google maps | Foto: T Bachtiar)
Linimasa 17 Mar 2026, 14:06

Kisah Balap Lari Pakansari, Dashrun Ramadan yang Lahir dari Jalanan

Setelah tarawih, kawasan Stadion Pakansari dipenuhi anak muda yang mengikuti balap lari pendek. Tradisi spontan ini berkembang menjadi agenda olahraga populer di Kabupaten Bogor.

Lomba lari Stadion Pakansari, Cibinong, Bogor. (Sumber: Pemkab Bogor)
Ayo Netizen 17 Mar 2026, 11:49

Kisah Rengginang di Dalam Kaleng Khong Guan yang Tak Pernah Usai

Malah kaleng kosong Khong Guan bisa juga di dalamnya berisi opak, kerupuk, atau emping.

Rengginang. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hayati Mayang Arum)
Ayo Netizen 17 Mar 2026, 10:29

Kala Ketupat dan Nastar Berebut Tahta di Hari Lebaran

Nastar dan ketupat sama-sama berkontribusi pada kebahagiaan Lebaran kita semua. Karena tanpa mereka, Lebaran akan terasa seperti ada yang kurang.

Ilustrasi makan bersama saat Lebaran. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Gambar: AI Gemini)
Linimasa 17 Mar 2026, 09:45

Balada Lebaran Zaman Kolonial, Kala Pribumi Berburu Utang di Rumah Gadai

Tradisi baju baru saat Lebaran ternyata sudah kuat sejak zaman Hindia Belanda. Catatan majalah Indie 1922 menyebut banyak warga meminjam uang bahkan menggadaikan barang demi tampil rapi di hari raya.

ilustrasi pribumi menggadai barang untk keperluan lebaran.
Beranda 17 Mar 2026, 08:56

Upah Tak Menentu dan Tanggung Jawab Besar, Realitas Hidup Porter Stasiun Bandung

Kisah Surya Apandi, porter Stasiun Bandung yang telah bekerja selama 27 tahun, menggambarkan perjuangan pekerja sektor informal dengan penghasilan tidak menentu di tengah ramainya arus mudik.

Mengangkat barang sekaligus memandu penumpang menjadi tugas keseharian para porter di Stasiun Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bandung 16 Mar 2026, 21:01

Mendobrak Sekat Finansial, Cara Disabilitas di Jawa Barat Kini Lebih Berdaya Lewat DIA KITA

Inisiatif DIA KITA muncul sebagai jawaban atas tantangan literasi keuangan yang sering kali belum menyentuh kebutuhan spesifik disabilitas.

Inisiatif DIA KITA muncul sebagai jawaban atas tantangan literasi keuangan yang sering kali belum menyentuh kebutuhan spesifik disabilitas.
Ayo Netizen 16 Mar 2026, 20:43

Pembatasan Media Sosial Anak Resmi Berlaku 28 Maret: Solusi atau Tantangan Baru bagi Indonesia?

Mulai 28 Maret, Permen Komdigi No. 9/2026 ubah total akses digital anak bawah 16 tahun.

Ilustrasi media sosial. (Sumber: Pexels/Pixabay)
Ayo Netizen 16 Mar 2026, 17:18

Ngabuburit bersama ‘Jalan Sama Malia’

Selain meriset dan menulis, saya juga bekerja sebagai pemandu wisata sejarah sejak 2015.

Berfoto di depan mesjid Al imtizaj jalan ABC kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 16 Mar 2026, 16:09

Puasa (Menangkal) Hoaks

Mari kita jadikan Ramadan ini sebagai momentum untuk berpuasa dari hoaks dengan cara menahan diri dari mempercayai berita yang belum pasti dan tidak tergesa-gesa menyebarkannya.

Pemerintah melakukan pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah 16 tahun (Sumber: Pixabay)
Bandung 16 Mar 2026, 15:40

Batik Bukan Lagi "Pakaian Kondangan", Cara NAYARA Mengubah Wastra Menjadi Fashion Harian yang Modis

Penggunaan palet warna yang tidak mencolok membuat koleksi NAYARA mudah dipadupadankan sebagai busana kantor yang memberikan kesan elegan namun tetap bersahaja.

Salah satu jenama mode yang memperkenalkan batik dengan sentuhan santai untuk penggunaan harian adalah NAYARA. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 16 Mar 2026, 14:50

Cerita Ibu-ibu Majelis Taklim Menjaga Bumi dari Tumpukan Sampah di Jatihandap

Kisah perempuan pengelola Bank Sampah Ikhtiar 15 di Jatihandap Bandung yang memilah sampah warga demi menjaga lingkungan, meski kerap menghadapi stigma masyarakat.

Inisiatif perempuan di Bank Sampah Ikhtiar RW 15 membuktikan bahwa pengelolaan sampah tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga memperkuat kemandirian ekonomi keluarga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Sejarah 16 Mar 2026, 13:42

Sejak Kapan Ketupat jadi Sajian Khas Lebaran di Indonesia?

Ketupat identik dengan Lebaran, tetapi tradisinya jauh lebih tua. Jejaknya sudah muncul dalam sastra Jawa Kuno abad ke-9 dan kemudian mendapat makna baru ketika Islam berkembang di Jawa.

Ilustrasi ketupat lebaran.
Ayo Netizen 16 Mar 2026, 13:33

Smart Farming: Ketika Teknologi Membuka Peluang Baru bagi Generasi Muda di Sektor Pertanian Indonesia

Hadirnya smart farming dan inovasi agritech membuka peluang bagi Gen Z untuk menjadikan pertanian profesi modern yang menjanjikan.

Ladang pertanian. (Sumber: Pexels | Foto: Soo Ann Woon)