Upah Tak Menentu dan Tanggung Jawab Besar, Realitas Hidup Porter Stasiun Bandung

4 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
Mengangkat barang sekaligus memandu penumpang menjadi tugas keseharian para porter di Stasiun Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Mengangkat barang sekaligus memandu penumpang menjadi tugas keseharian para porter di Stasiun Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Riuh roda koper yang bergesekan dengan lantai dan pengumuman keberangkatan yang bersahutan menjadi latar keseharian di Stasiun Bandung. Di tengah arus penumpang yang datang dan pergi, para porter sigap menawarkan bantuan mengangkat barang, sekaligus memastikan penumpang hingga duduk di kursi dalam gerbong sesuai tiket.

Mudik Ramai, Rezeki Tak Selalu Sama

Salah seorang di antara mereka adalah Surya Apandi (63), pria yang telah menggantungkan hidupnya di Stasiun Bandung selama 27 tahun.

Seragam merah bernomor 66 di dadanya menjadi penanda profesinya. Surya tampak sedikit berbeda dari porter lain. Peci yang selalu dikenakannya memberi kesan khas. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya menyimpan jejak panjang kehidupan di tengah lalu-lalang perjalanan kereta selama puluhan tahun.

“Lupa, (masuk bekerja) tahun berapa. Tapi kurang lebih sudah 27 tahun di Stasiun Bandung,” ujar Surya sambil mengernyitkan dahi, mencoba mengingat awal perjalanannya.

“Sebelumnya saya bekerja sebagai cleaning service di sini selama 17 tahun,” tambahnya pelan.

Surya Apandi porter di Stasiun Bandung yang sudah bekerja selama 27 tahun (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Surya Apandi porter di Stasiun Bandung yang sudah bekerja selama 27 tahun (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Jika ditarik dari hitungan waktu, Surya telah menjadi porter sejak 2016, atau sekitar satu dekade terakhir. Dalam kurun itu, ia menyaksikan berbagai perubahan di stasiun, termasuk dinamika arus mudik yang selalu datang setiap tahun.

Saat musim mudik tiba, suasana stasiun berubah drastis. Penumpang berdatangan dari berbagai daerah dengan beragam bawaan seperti koper besar, kardus oleh-oleh, hingga tas bertumpuk di bahu.

“Kalau musim mudik, suasananya memang lebih ramai. Alhamdulillah, kadang pendapatan juga meningkat,” ujar Surya sambil mengangguk.

Namun baginya, ramainya penumpang tidak selalu berbanding lurus dengan banyaknya pengguna jasa porter. Ada kalanya, justru saat penumpang tidak terlalu padat, lebih banyak yang meminta bantuan.

“Banyaknya penumpang belum tentu banyak yang manggil kita,” katanya sambil memperagakan gestur tangan memanggil.

Di Stasiun Bandung, porter terbagi dalam dua kelompok besar: tim merah dan tim biru. Keduanya bekerja bergiliran dalam sistem 24 jam, mulai pukul 09.00 hingga 09.00 keesokan harinya.

Setiap tim beranggotakan sekitar 67 orang. Namun pada hari biasa, biasanya hanya 30 hingga 40 porter yang bertugas. Sementara saat musim mudik, hampir seluruh anggota turun bekerja.

Tanggung Jawab

Di tengah padatnya arus penumpang, tugas porter bukan sekadar mengangkat barang. Mereka juga kerap menjadi penunjuk arah bagi penumpang yang kebingungan mencari peron atau kereta.

“Tanggung jawab kami menjaga barang penumpang dan membantu mereka menemukan kereta yang tepat,” jelas Surya.

Ia menambahkan, kesalahan sekecil apa pun bisa berujung sanksi. Karena itu, kehati-hatian menjadi hal yang mutlak di tengah situasi stasiun yang sibuk.

“Kalau ada yang salah, kita bisa kena sanksi atau diskors seminggu. Bahkan harus mengganti tiket penumpang kalau kita salah mengarahkan,” ujarnya.

Meski demikian, Surya mengaku setuju dengan aturan tersebut.

“Menurut saya bagus, jadi kita lebih sadar dan disiplin,” tambahnya.

Tarif resmi jasa porter di Stasiun Bandung saat ini berkisar Rp38.000. Namun dalam praktiknya, jumlah yang diterima kerap tidak sesuai dengan ketentuan.

“Kadang ada yang kasih sembilan ribu, lima belas ribu, dua puluh ribu. Ya saya terima saja,” kata Surya.

Ia tak pernah mempermasalahkan hal itu. Baginya, setiap pemberian adalah rezeki yang patut disyukuri.

“Barangkali memang rezekinya segitu. Mungkin mereka hanya punya uang segitu,” ujarnya sambil tersenyum.

Di tengah ramainya arus penumpang, porter menjadi tangan yang membantu perjalanan tetap berjalan lancar. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Di tengah ramainya arus penumpang, porter menjadi tangan yang membantu perjalanan tetap berjalan lancar. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Rp35 Ribu dan Cerita Berhenti Merokok

Salah satu momen yang paling diingat Surya terjadi saat ia masih bekerja sebagai petugas kebersihan. Kala itu, aturan larangan merokok di stasiun belum seketat sekarang.

Suatu hari, seorang penumpang menegurnya karena merokok saat bekerja. Teguran itu membuatnya sangat merasa bersalah.

“Saya benar-benar minta maaf waktu itu,” kenangnya, sambil menangkupkan kedua tangan di dada, memperagakan momen tersebut.

Peristiwa itu membekas kuat. Sejak saat itu, Surya memutuskan berhenti merokok secara permanen.

Dalam kesehariannya sebagai porter, ia juga menghadapi ketidakpastian penghasilan. Ada masa ketika ia bekerja seharian penuh, tetapi hanya membawa pulang uang dalam jumlah minim.

“Pernah seharian di stasiun cuma dapat tiga puluh lima ribu,” ujarnya.

“Buat makan saja tidak cukup,” lanjutnya lirih.

Namun Surya tetap percaya, rezeki bisa datang dari arah yang tak terduga. Di waktu lain, ia pernah mendapat bayaran lebih, bahkan menerima THR dari seorang penumpang.

Di balik pekerjaannya, Surya memiliki alasan sederhana untuk terus bertahan: keluarga.

Istri dan anak-anaknya tinggal di Ciamis. Ia hanya bisa pulang sekitar sebulan sekali.

“Pulang kalau ada uang,” katanya sambil tersenyum tipis.

Selama fisiknya masih kuat, Surya ingin terus bekerja demi mengirim nafkah.

“Selama saya masih mampu, saya akan tetap bekerja untuk keluarga,” ujarnya.

Tahun ini, ia berencana pulang saat Lebaran selama kurang lebih satu minggu agar bisa berkumpul bersama keluarga di kampung halaman.

Bagi porter, banyaknya penumpang tak selalu berarti banyaknya penghasilan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bagi porter, banyaknya penumpang tak selalu berarti banyaknya penghasilan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Harapan

Setelah puluhan tahun bekerja di stasiun, harapan Surya tidaklah muluk. Ia hanya ingin tempatnya mencari nafkah terus berkembang.

“Semoga stasiun terus maju, saya juga tetap sehat,” ucapnya.

Ia juga berharap ada perhatian lebih dari pemerintah terhadap para porter yang selama ini bekerja di balik sibuknya perjalanan kereta.

“Ya, saya juga ingin dapat THR,” katanya sambil tersenyum kecil, lalu menggeleng.

“Tapi sepertinya masih jauh untuk berharap ke sana,” tambahnya ringan.

Di tengah hiruk-pikuk para pemudik yang pulang ke kampung halaman, Surya tetap berdiri di antara keramaian. Mengangkat koper demi koper, sambil menyimpan harapan demi keluarganya di rumah.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Biz 24 Jun 2026, 20:36

Kualitas Dulu, Narasi Kemudian: Dama Kara dan Mengapa Karyanya Istimewa

Kualitas harus bicara lebih dulu, sebelum cerita apa pun menyusulnya. Begitulah prinsip Dama Kara.

Nurdini Prihastiti, founder sekaligus pemilik Dama Kara di Jalan Gandapura, Kota Bandung, (23/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 20:02

Opini Publik terhadap Pemberitaan Media mengenai Peluncuran Smartphone

Analisis terhadap penulisan peluncuran smartphone terbaru pada sebuah acara teknologi tahunan, dan penggunaan kata kunci yang konsisten oleh media

Ilustrasi penggunaan smartphone yang mencerminkan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap perangkat mobile dengan teknologi terkini. 23/06/2026 (Sumber: Muhammad Aswan Hilman | Foto: Muhammad Aswan Hilman)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 18:45

Listrik, Lilin, dan Ilusi Transformasi Digital

Mengkritisi kesenjangan antara ambisi transformasi digital Indonesia dan rapuhnya fondasi infrastruktur energi.

Ilustrasi lilin menyala. (Sumber: Pexels | Foto: Rahul)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 17:57

Tantangan Mekanisasi dan Program Penyuluhan untuk Petani Muda

Tantangan berat sektor pertanian adalah masalah mekanisasi usaha pertanian, dari masalah teknologi irigasi, mesin pengolah tanah, sampai kepada mesin pasca panen.

Ilustrasi para petani muda dan calon pelaku usaha pertanian sedang menyusuri pematang sawah di pedesaan Kabupaten Garut. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 24 Jun 2026, 16:22

Panduan Berkunjung ke The Great Asia Africa Lembang: Keliling Tujuh Negara di Kaki Gunung Tangkuban Perahu

The Great Asia Africa menghadirkan replika budaya Jepang, Korea, India, Thailand, hingga Timur Tengah dalam satu destinasi wisata di Lembang.

The Great Asia Africa Lembang (Sumber: Ayomedia)
Linimasa 24 Jun 2026, 13:45

Menengok Pembuat Bet Pingpong Kayu Jati Bandung

Berawal dari hobi saat pandemi, Abah Jae di Cimenyan sukses membuat bet pingpong handmade dari limbah kayu jati berkualitas.

Abah Jae, pembuat bet pingpong kayu jati Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 13:04

Regenerasi Petani: Peluang dan Tantangan Pada Pendidikan Pertanian

Jika lahan sawah sudah tidak ada, lantas apakah regenerasi petani akan tercipta? Sedangkan profesi petani di Indonesia memunculkan permasalahan kritis.

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 12:49

Radio Nirom Rancaekek, Saksi Hidup Siaran Radio Hindia Belanda

NIROM (Nederlandsch-Indische Radio Omroep Maatschaapij) merupakan siaran radio swasta yang didirikan pada tahun 1928.

Stasiun Malabar Di gunung Puntang (Sumber: muspen.komdigi.go.id)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 12:08

Menelusuri Jejak Masa Lalu Rumah Indis dan Pabrik Gula Sewugalur

Badai datang melalui krisis ekonomi global pada masa Malaise yang menyebabkan pabrik gulung tikar.

kondisi pabrik gula sewugalur pada masa masih beroprasi tahun 1917. (KITLV/kebudayaan.kemdikbud.go.id)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 11:59

Restaurant Indonesia: Awal Pendirian dan Perjuangan Para Eksil Orde Baru

Perjalanan para eksil Orde Baru dalam mendirikan Restaurant Indonesia pada 1982.

Restaurant Indonesia di Paris. (Sumber: Facebook milik Restaurant Indonesia.)
Wisata & Kuliner 24 Jun 2026, 11:22

Panduan Wisata Gembira Loka Zoo Yogyakarta: Harga Tiket, Wahana, dan Koleksi Satwa

Gembira Loka Zoo Yogyakarta menawarkan ratusan koleksi satwa, wahana keluarga, Zona Cakar, hingga Kereta Taring. Simak panduan lengkap sebelum berkunjung.

Gembira Loka Zoo Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 10:43

Analisis Konteks Historis Dibalik Pembuatan Film Kuldesak 1998

Artike lini membahas tentang latar belakang historis dari pembuatan Film Kuldesak 1998

Cuplikan adegan aktor Ryan Hidayat dan Iwa K dalam film Kuldesak 1998. (Sumber: Komunitas Pecinta Film Jadul Indonesia, Facebook. facebook.com)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 09:28

Ayobandung sebagai Inspirasi Literasi di Era Digitalisasi

Di era digitalisasi, apakah literasi semakin bagus atau kian redup.

Ilustrasi website Ayobandung.id. (Sumber: Pexels/gravity cut)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 08:58

Pengembangan Mainan Anak Bercorak Tradisional

Perlu strategi komersialisasi produk mainan tradisional dengan  menerapkan kemasan  yang menarik.

Permainan tradisional Sunda di halaman Gedung Pakuan. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 08:42

Menerobos Aturan di Simpang: Salah Pengendara atau Desain Jalan?

ATCS Dishub Kota Bandung mencatat ratusan pelanggaran di 10 lokasi simpang dengan tingkat pelanggaran tertinggi setiap bulan.

Dua pengendara sepeda motor kedapatan berhenti di zebra cross (4/5/2026). (Sumber: Instagram/@atcs.kotabandung)
Wisata & Kuliner 23 Jun 2026, 18:54

Panduan Wisata Waduk Jatiluhur, Bendungan Terbesar Indonesia yang jadi Destinasi Favorit

Panduan lengkap Waduk Jatiluhur Purwakarta, mulai dari sejarah bendungan terbesar di Indonesia, aktivitas wisata, kuliner khas, hingga tips berkunjung terbaru.

Waduk Jatiluhur. (Sumber: Disparbud Purwakarta)
Ayo Netizen 23 Jun 2026, 18:11

Penyalin Cahaya: Ketika Kekerasan Seksual tidak Memandang Gender

Kekerasan dan Pelecehan Seksual hari ini tidak memandang gender karena bisa terjadi kepada perempuan maupun laki-laki.

Penyalin Cahaya adalah film yang merepresentasikan kekerasan dan pelecehan seksual yang tidak memandang gender. (Istimewa)
Ayo Netizen 23 Jun 2026, 17:56

Membedah Konsistensi Pesan Promo Launching Brand oleh Perusahaan Sportswear di Berbagai Platform

Kolaborasi Nike dan NAKED Copenhagen menghadirkan produk yang menggabungkan unsur fashion dan sneakers dalam satu desain yang unik.

Diambil dari Website Resmi Nike
Ayo Biz 23 Jun 2026, 17:38

'Ngeureuyeuh' Membawa Athiya Cake dari Dapur Rumahan Jadi Pemberi Lapangan Kerja

Kini, di pertengahan 2026, dapur Rika tidak lagi sepi seperti dahulu. Pesanan mengalir hampir setiap hari.

Produk Athiya Cake di kompleks perumahan Mega Mutiara Tasik Regency, Kabupaten Tasikmalaya, (20/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Sejarah 23 Jun 2026, 16:25

Hikayat Ngamplang, dari Pusat Pemulihan Paru Pertama Hingga Pemberi Julukan Swiss Van Java

Dibangun pada 1912 sebagai sanatorium, Ngamplang kemudian berkembang menjadi wisata yang mendunia.

Salah satu sudut bangunan Sanatorium Ngamplang Garut yang kini berubah fungsi jadi lapangan golf. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)