Di antara lembaran majalah lama, sering tersembunyi potongan kecil kehidupan sebuah kota. Kadang bukan berita utama yang paling menarik, melainkan iklan, pengumuman, atau catatan kecil yang memberi gambaran bagaimana masyarakat menjalani tradisinya.
Salah satu potongan kecil itu dapat ditemukan dalam arsip Majalah Mangle edisi Januari 1964. Di dalamnya terdapat sebuah pengumuman mengenai rencana pertemuan bertajuk “Silaturahmi Boboran Siam 1383 Hijriyah" yang diselenggarakan di Bandung.
Pada masa itu, istilah boboran siam cukup akrab di telinga warga Bandung dan masyarakat Sunda. Ungkapan tersebut merujuk pada suasana setelah berakhirnya bulan Ramadan masa Lebaran ketika orang-orang saling berkunjung, bermaaf-maafan, dan mempererat silaturahmi. Kini, praktik seperti itu lebih dikenal luas dengan istilah halal bihalal.
Pengumuman tersebut menyebutkan bahwa acara silaturahmi diselenggarakan oleh direksi dan karyawan Majalah Mangle bersama Percetakan Sumber Djaya serta para agen majalah tersebut. Para agen datang dari berbagai daerah. Tidak hanya dari Bandung, tetapi juga dari Jakarta, sejumlah kota di Jawa Tengah, hingga Lampung.

Bayangan suasana pertemuan itu menarik untuk dibayangkan. Bandung pada awal 1960-an masih dikenal sebagai kota yang hidup dengan denyut kebudayaan Sunda yang kuat. Majalah Mangle sendiri menjadi salah satu media penting yang merawat bahasa dan sastra Sunda di tengah perkembangan pers nasional.
Tidak sulit membayangkan para agen Mangle yang datang dari berbagai daerah berkumpul di Bandung setelah Lebaran. Mereka mungkin berbincang tentang peredaran majalah, bertukar kabar tentang pembaca di daerah masing-masing, sambil menikmati suasana silaturahmi khas Lebaran. Saling bersalaman, saling memaafkan, dan melepas rindu setelah lama tidak bertemu.
Sayangnya, pengumuman dalam majalah tersebut tidak mencatat secara rinci kapan tepatnya acara itu berlangsung ataupun di mana lokasinya diadakan. Namun keberadaan pengumuman tersebut menunjukkan bahwa tradisi berkumpul setelah Lebaran telah menjadi bagian dari kehidupan sosial di Bandung setidaknya sejak dekade 1960-an.

Tradisi yang kini dikenal sebagai halal bihalal sendiri memiliki jejak sejarah yang cukup panjang di Indonesia. Sebagian sumber mengaitkannya dengan praktik pertemuan istana pada masa Mangkunegara I, ketika raja mengadakan pertemuan dengan para punggawa dan prajurit setelah Idulfitri.
Sementara itu, pada masa awal kemerdekaan istilah halal bihalal mulai populer setelah ulama Nahdlatul Ulama Abdul Wahab Chasbullah mengusulkan kepada Presiden Soekarno untuk mengadakan pertemuan silaturahmi nasional guna meredakan ketegangan politik pada tahun 1948.
Sejak saat itu, halal bihalal berkembang menjadi tradisi sosial yang luas, dari lingkungan keluarga hingga lembaga pemerintahan.
Baca Juga: Kawasan Terpadu Situ Aksan dan Perumahan Bergaya Taman Villa
Fenomena ini juga pernah disoroti oleh pakar komunikasi Deddy Mulyana dalam kolomnya di harian Pikiran Rakyat. Ia menyebut halal bihalal sebagai fenomena sosial tahunan yang menjadi ajang silaturahmi sekaligus temu kangen atau dalam istilah Sunda disebut tepang sono.
Jika pada tahun 1960-an kabar pertemuan seperti itu diumumkan melalui majalah, kini cara orang berkumpul telah berubah. Undangan halal bihalal lebih sering beredar melalui aplikasi pesan dan media sosial. Foto-foto reuni, temu kangen, dan silaturahmi keluarga hampir setiap hari muncul di linimasa.
Namun esensinya tetap sama. Baik di halaman majalah pada tahun 1964 maupun di layar ponsel masa kini, Lebaran selalu menjadi waktu untuk kembali bertemu, mempererat hubungan, dan membersihkan hati.
Dari sebuah pengumuman kecil di majalah Mangle, kita dapat melihat bagaimana tradisi silaturahmi itu telah lama hidup di Bandung menjadi bagian dari denyut sosial kota ini, dari masa ke masa. (*)
