Silaturahmi Lebaran di Bandung 1964 dalam Arsip Majalah Mangle

Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan Selasa 17 Mar 2026, 15:06 WIB
Karikatur klasik yang menggambarkan suasana perayaan Idulfitri 1383 H tahun 1964 di Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Karikatur klasik yang menggambarkan suasana perayaan Idulfitri 1383 H tahun 1964 di Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Di antara lembaran majalah lama, sering tersembunyi potongan kecil kehidupan sebuah kota. Kadang bukan berita utama yang paling menarik, melainkan iklan, pengumuman, atau catatan kecil yang memberi gambaran bagaimana masyarakat menjalani tradisinya.

Salah satu potongan kecil itu dapat ditemukan dalam arsip Majalah Mangle edisi Januari 1964. Di dalamnya terdapat sebuah pengumuman mengenai rencana pertemuan bertajuk “Silaturahmi Boboran Siam 1383 Hijriyah" yang diselenggarakan di Bandung.

Pada masa itu, istilah boboran siam cukup akrab di telinga warga Bandung dan masyarakat Sunda. Ungkapan tersebut merujuk pada suasana setelah berakhirnya bulan Ramadan masa Lebaran ketika orang-orang saling berkunjung, bermaaf-maafan, dan mempererat silaturahmi. Kini, praktik seperti itu lebih dikenal luas dengan istilah halal bihalal.

Pengumuman tersebut menyebutkan bahwa acara silaturahmi diselenggarakan oleh direksi dan karyawan Majalah Mangle bersama Percetakan Sumber Djaya serta para agen majalah tersebut. Para agen datang dari berbagai daerah. Tidak hanya dari Bandung, tetapi juga dari Jakarta, sejumlah kota di Jawa Tengah, hingga Lampung.

Majalah Mangle edisi Januari 1964 yang memuat liputan Silaturahmi Boboran Siam 1383 Hijriah. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Majalah Mangle edisi Januari 1964 yang memuat liputan Silaturahmi Boboran Siam 1383 Hijriah. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Bayangan suasana pertemuan itu menarik untuk dibayangkan. Bandung pada awal 1960-an masih dikenal sebagai kota yang hidup dengan denyut kebudayaan Sunda yang kuat. Majalah Mangle sendiri menjadi salah satu media penting yang merawat bahasa dan sastra Sunda di tengah perkembangan pers nasional.

Tidak sulit membayangkan para agen Mangle yang datang dari berbagai daerah berkumpul di Bandung setelah Lebaran. Mereka mungkin berbincang tentang peredaran majalah, bertukar kabar tentang pembaca di daerah masing-masing, sambil menikmati suasana silaturahmi khas Lebaran. Saling bersalaman, saling memaafkan, dan melepas rindu setelah lama tidak bertemu.

Sayangnya, pengumuman dalam majalah tersebut tidak mencatat secara rinci kapan tepatnya acara itu berlangsung ataupun di mana lokasinya diadakan. Namun keberadaan pengumuman tersebut menunjukkan bahwa tradisi berkumpul setelah Lebaran telah menjadi bagian dari kehidupan sosial di Bandung setidaknya sejak dekade 1960-an.

Karikatur klasik yang menggambarkan suasana perayaan Idulfitri 1383 H tahun 1964 di Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Karikatur klasik yang menggambarkan suasana perayaan Idulfitri 1383 H tahun 1964 di Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Tradisi yang kini dikenal sebagai halal bihalal sendiri memiliki jejak sejarah yang cukup panjang di Indonesia. Sebagian sumber mengaitkannya dengan praktik pertemuan istana pada masa Mangkunegara I, ketika raja mengadakan pertemuan dengan para punggawa dan prajurit setelah Idulfitri.

Sementara itu, pada masa awal kemerdekaan istilah halal bihalal mulai populer setelah ulama Nahdlatul Ulama Abdul Wahab Chasbullah mengusulkan kepada Presiden Soekarno untuk mengadakan pertemuan silaturahmi nasional guna meredakan ketegangan politik pada tahun 1948.

Sejak saat itu, halal bihalal berkembang menjadi tradisi sosial yang luas, dari lingkungan keluarga hingga lembaga pemerintahan.

Baca Juga: Kawasan Terpadu Situ Aksan dan Perumahan Bergaya Taman Villa

Fenomena ini juga pernah disoroti oleh pakar komunikasi Deddy Mulyana dalam kolomnya di harian Pikiran Rakyat. Ia menyebut halal bihalal sebagai fenomena sosial tahunan yang menjadi ajang silaturahmi sekaligus temu kangen atau dalam istilah Sunda disebut tepang sono.

Jika pada tahun 1960-an kabar pertemuan seperti itu diumumkan melalui majalah, kini cara orang berkumpul telah berubah. Undangan halal bihalal lebih sering beredar melalui aplikasi pesan dan media sosial. Foto-foto reuni, temu kangen, dan silaturahmi keluarga hampir setiap hari muncul di linimasa.

Namun esensinya tetap sama. Baik di halaman majalah pada tahun 1964 maupun di layar ponsel masa kini, Lebaran selalu menjadi waktu untuk kembali bertemu, mempererat hubungan, dan membersihkan hati.

Dari sebuah pengumuman kecil di majalah Mangle, kita dapat melihat bagaimana tradisi silaturahmi itu telah lama hidup di Bandung menjadi bagian dari denyut sosial kota ini, dari masa ke masa. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 05 Mei 2026, 13:37

10 Netizen Terpilih April 2026: Bandung di Mata Pendatang, antara Bayangan dan Kenyataan

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 13:14

Tamasya ke Pulau Biawak, Wisata Pulau Konservasi di Laut Jawa

Wisata Pulau Biawak Indramayu mencakup akses dari Karangsong, mercusuar Belanda, habitat biawak liar, kondisi terumbu karang, serta tips kunjungan ke pulau.

Pulau Biawak, Indramayu. (Sumber: Pemprov Jabar)
Beranda 05 Mei 2026, 10:46

Mal BTM yang Tergerus Perubahan Cara Orang Berbelanja

Mal BTM di Bandung perlahan sepi seiring perubahan cara orang berbelanja ke digital, memangkas peran toko fisik dan menggeser rantai distribusi tradisional.

Suasana mal BTM terasa sunyi, pengunjung tak lagi seramai dulu. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 09:25

Setiap Kata adalah Arsip Sejarah

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama.

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama. (Sumber: Pexels | Foto: BOOM 💥 Photography)
Beranda 05 Mei 2026, 09:15

Nasib Pekerja Informal yang Setiap Hari Dikejar Setoran, Tapi Masa Depan Tak Pernah Ikut Dijamin

Kisah dua saudara yang berjuang di tengah keterbatasan peluang kerja dan ketidakpastian upah sebagai petugas parkir demi menyambung hidup hari demi hari.

Sudah hampir 20 tahun Ade bekerja sebagai petugas parkir untuk menyambung hidup. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 04 Mei 2026, 21:56

Belajar dari Tragedi KA Argo: Sudah Saatnya Ubah Cara Awasi Perlintasan Biar Mobil Mogok Tak Lagi Jadi Maut

Tragedi KA Argo 2026 mendesak PT KAI untuk memodernisasi keamanan perlintasan sebidang guna mencegah mobil mogok akibat gangguan elektromagnetik dan rel yang tidak rata.

(Sumber: Pixels | Foto: Irsyad Rifqi)
Bandung 04 Mei 2026, 19:34

8 Tahun Eksis di Industri Wedding, Begini Cara Q Art Wedding Jaga Ekosistem UMKM Vendor Lokal

Tren pernikahan masa kini telah bergeser ke arah yang lebih praktis, namun tetap mempertahankan sentuhan personal yang mencerminkan karakteristik unik kedua mempelai.

Q Art Wedding, vendor pernikahan yang telah eksis selama delapan tahun, mereka konsisten menjaga kualitas layanannya di tengah ketatnya persaingan industri. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Bandung 04 Mei 2026, 18:45

Menakar Inklusivitas Ekosistem Musik Lokal di Kecil Tapi Party Jilid 3

Strategi pengembangan industri kreatif di Jawa Barat kini memang sedang bergeser dari sentralisasi kota besar menuju wilayah penyangga.

Penampilan Seringai di festival musik Kecil Tapi Party Jilid 3. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 04 Mei 2026, 18:12

Masih Ada Waktu! 10 Momen Mei yang Bisa Jadi Tulisanmu di Ayobandung.id

Berikut sepuluh momen yang tersisa di Mei, dan bagaimana masing-masing bisa menjadi pintu masuk menuju tulisanmu.

Kondisi Pasar Buku Palasari Bandung kini, terus bertahan di tengfah gempuran perubahan zaman. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 04 Mei 2026, 17:30

Hikayat Kalua Jeruk, Manisan Khas Ciwidey yang Berasal dari Limbah Kulit Jeruk Bali

Kisah kalua jeruk Ciwidey, camilan dari kulit jeruk bali yang bertahan sejak 1952 hingga kini tetap jadi oleh-oleh khas.

Elin, cuu dari Eneh Sutinah, pionir oleh-oleh bernama kalua jeruk dari Ciwidey. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 04 Mei 2026, 17:05

Panduan Tamasya Kebun Raya Bogor: Laboratorium Hidup di Jantung Kota Hujan

Kebun Raya Bogor menawarkan 15.000 koleksi tanaman, tiket mulai Rp15 ribu, serta tips menjelajah taman luas dengan efisien.

Kebun Raya Bogor.
Ayo Netizen 04 Mei 2026, 14:33

Hardiknas Jangan Sekedar Jadi Kalender

Hari Pendidikan Nasional seharusnya bukan sekadar penanda kalender.

Sekolah Sabtu-Minggu Odesa di Cisanggarung Wetan, Sekebalingbing, Desa Cikadut, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Antusias mereka untuk mengenal literasi lebih baik. Bekal mereka untuk tumbuh adaptif. (Foto: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 04 Mei 2026, 12:35

Bandung Punya Banyak Kampus, tapi Apakah Semua Bisa Mengaksesnya?

Bandung sebagai kota pendidikan yang masih menghadapi ketimpangan akses, sehingga tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan.

Ki Hajar Dewantara, tokoh pendidikan Indonesia. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 04 Mei 2026, 10:12

Antrean Solar Subsidi Picu Kemacetan serta Ganggu Angkutan Umum dan Logistrik

Kelangkaan solar subsidi memicu antrean di SPBU, mengganggu operasional angkutan umum, distribusi barang, serta berpotensi menekan ekonomi melalui kenaikan biaya logistik.

Antrean truk yang akan membeli solar subsidi di SPBU Nagreg mengular hingga ke jalan raya, Kamis (30/4/2026) siang. (Sumber: Facebook/Radio Elshinta 90FM)
Ayo Netizen 04 Mei 2026, 08:19

Kebijakan Kriminal dan Kriminalisasi Kebijakan

Kebijakan yang telah ditetapkan dan kemudian diimplementasikannya, dalam prakteknya tidak selamanya menghasilkan sesuatu yang diharapkan.

Ilustrasi penjara. (Sumber: Pexels | Foto: Xiaoyi)
Ayo Netizen 03 Mei 2026, 18:51

Tiga Dekade Kepergian Ibu Tien Soeharto

Ibu Tien lahir dengan nama Raden Ayu Fatimah Siti Hartinah di Jateng, wilayah Kadipaten Mangkunegaran, Surakarta, 23 Agustus 1923.

Halaman depan berbagai surat kabar nasional yang memberitakan wafatnya Ibu Tien Soeharto pada akhir April 1996. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanunbary)
Ayo Netizen 03 Mei 2026, 14:25

Hari Pendidikan Nasional 2026: Akses, Mutu, Relevansi, dan Efisiensi di Tengah Wacana Penataan Program Studi

Pendidikan adalah investasi peradaban. Setiap kebijakan, harus diarahkan untuk memastikan bahwa investasi itu benar-benar menghasilkan manusia yang unggul, berdaya, dan siap menghadapi masa depan.

Untuk menciptakan pendidikan yang bermutu, kita dihadapkan pada sederet tantangan. (Sumber: Pexels/muallim nur)
Wisata & Kuliner 03 Mei 2026, 11:58

Kebun Teh Ciater, Wisata Hijau dengan Sejarah Panjang di di Kaki Gunung Tangkuban Parahu

Dari eksploitasi kolonial hingga wisata populer, Kebun Teh Ciater menyuguhkan sejarah dan panorama alam yang menenangkan.

Kebun Teh Ciater, Subang. (Sumber: subang.go.id)
Ayo Netizen 03 Mei 2026, 09:36

Hardiknas 2026: Partisipasi Semesta Tanpa Fondasi Kuat Berisiko Jadi Semu

Partisipasi semesta dalam pendidikan tinggi menghadapi tantangan kualitas, relevansi prodi, dan kesejahteraan dosen, sehingga perlu penguatan kebijakan berbasis data dan kolaborasi.

Potret Ki Hadjar Dewantara yang dianugerahi gelar sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 03 Mei 2026, 09:12

Mereka Tak Melihat Dunia, Tapi Dunia Perlu Melihat Mereka

Kisah pelajar difabel di SLB ABCD Caringin yang belajar mandiri, menghadapi keterbatasan, dan menunjukkan bahwa mereka mampu berkarya serta layak mendapat perhatian dan kesempatan setara.

Fathur Rohman M. Farel dan Aulia Ramadhani, siswa SLB ABCD Caringin, menjalani proses belajar dengan cara masing-masing. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)