Kompleks perumahan yang dibangun dengan gaya taman villa (villapark) menjadi kecenderungan pembangunan rumah di Kota Bandung antara tahun 1920an hingga 1930an. Pengembang perumahannya banyak membangun taman villa di batas-batas kota. Dengan harapan suasana luar kotanya masih terasa, tapi tetap mengutamakan kenyamanan hunian. Hanya beberapa kilo meter saja ke pusat kota, dengan jalan-jalan yang lebar dan ditata rapi. Konsep pemukiman berupa perpaduan antara kemodernan dengan kehijauan taman. Lahan terbuka hijau sudah dirancang luas dengan jajaran pohon-pohon yang memberikan naungan. Bangunan-bangunannya bergaya modern dengan rancangan yang disesuaikan dengan iklim tropis yang panas dan lembab. Rumahnya berjendela besar, serambi yang luas, dan atap yang tinggi. Vila-vila itu bergaya modern tapi tetap fungsional, menyatu dengan lingkungan alami yang estetis.
Karena pasar yang terus membesar, perumahan bergaya taman villa yang semula dibangun di batas kota, kemudian melebar lebih ke utara, ke kawasan Dago, ke Ciumbuleuit, ke arah Lembang. Namun dalam perkembangannya, ada juga yang dibangun di sekitar batas kota sebelah barat. Pembangunan taman villa di sekitar Situ Aksan itu diketahui dari advertorial di majalah bulanan Mooi Bandoeng, volume 7 nomor 3, yang terbit 3 Januari 1939. Majalah resmi yang dikeluarkan oleh Bandoeng Vooruit.
Dituliskan dalam advetorial itu, tidak jauh dari batas barat Kota Bandung, antara jalan Jamika dan jalan Situ Aksan, di sana sudah ada Situ Aksan dengan kebun buah yang kurang terurus. Pohon durian, jambu, dan kelapa, tumbuh tinggi dari tanah yang masih agak lembab. Pohon beringin yang tinggi dan rimbun, pohon palem yang menjulang, daunnya saling menjemari dalam harmoni. Di sana mengalir Sungai Leuwi Limoes, yang airnya cukup bila digunakan dengan baik untuk memenuhi kebutuhan pengairan di lahan tersebut.
Keberadaan Situ Aksan sudah menjadi ciri bumi, sehingga menjadi sebutan bila akan menuju ke perkampungan yang ada di seputar situ. Toponim Kampung Situ Aksan sudah populer, sehingga ditulis dalam pemberitaan yang terjadi di sana. Seperti berita yang dimuat dalam Sumatra-bode (14 Januari 1925), toponim Kampung Situ Aksan ditulis pada saat memberitakan pemogokan di perusahaan Vorkink. Begitu pun dalam The Courier (1 Juli 1927), toponim Kampung Situ Aksan ditulis pada saat memberitakan kebakaran kecil yang terjadi di rumah Nurhapi di Kampung Situ Aksan. Bila toponim Kampung Situ Aksan sudah populer pada bulan Januari 1925, sangat mungkin, pada tahun 1924 atau pada tahun-tahun sebelumnya, keberadaan Situ Aksan sudah lama ada, demikian juga dengan Kampung Situ Aksan. Pada tahun 1938, koran De Koerier (22 Oktober 1938) memuat tulisan tentang remaja Belanda yang bermain perahu di Situ Aksan.
Dalam advertorial Mooi Bandoeng (3 Januari 1939), dituliskan keadaan Situ Aksan yang kurang tertata rapi. Itulah yang akan dibenahi menjadi lebih baik. Penataan ulang mulai dilaksanakan pada akhir tahun 1938, menjadi destinasi wisata air unggulan yang terpadu dengan komplek perumahan bergaya taman villa. Digambarkan dalam advertorial itu, terlihat para pekerja keras sedang bekerja di mana-mana. Puluhan buruh bekerja sangat keras, berjalan bolak-balik menggotong tumpukan tanah. Tanah-tanah itu untuk menimbun jalan yang sedang dibangun. Agak ke selatan, para pekerja sibuk memperdalam situ. Dalam waktu singkat, situ ini akan menjadi tempat pelesiran bagi warga kota untuk bersenang-senang dengan mendayung, memancing, dan berenang.
Komplek taman villa yang sedang dibangun ini akan menjadi tempat yang mengesankan bagi warga Kota Bandung. Konsep taman villa akan menarik banyak orang, terutama akan memikat kaum muda. Dalam perencanaannya, di sana akan dibangun 150 rumah. Rumah-rumah itu akan disewakan kepada orang-orang yang akan segera meninggalkan kehidupan kota yang ramai untuk menetap – tapi masih di dalam kota – dengan lingkungan yang unik. Ada situ yang sedang diperdalam. Situ yang luas permukaannya tidak kurang dari 50.000 meter persegi. Begitu advertorial dalam majalah bulanan Mooi Bandoeng (3 Januari 1939).
Di bawah arahan Ir Poldervaart dari pemerintahan Kota Bandung, jalan-jalan dan jalur-jalurnya sedang dibangun. Lokasi rumah-rumahnya sudah diberi patok, pertanda akan segera dibangun. Harganya akan bervariasi dari murah hingga sedikit lebih mahal.
Kalau melihat jalan-jalan yang teratur dalam peta saat ini, sangat mungkin itulah lokasi taman villa yang dibangun 87 tahun yang lalu. Kalau diplot dalam peta, taman vila itu dibangun di sepanjang Jl Aksan, Jl Situ, Jl Situ Aksan, Jl Situ Aksan Permai (A-B-C).
Dalam advertorial Mooi Bandoeng itu dituliskan, akan dibangun juga taman bermain kanak-kanak di tepi danau, tapi aman dari risiko tercebur. Di sini pula akan dibangun labirin yang sungguhnya. Para pengunjung dapat menjelajahinya, sampai akhirnya mereka kebingungan dan dibimbing ke luar oleh petugas. Penataan kawasan sedang berlangsung, kesibukan, dan keramaian sangat terasa.
Tujuan pembangunan taman vila ini untuk membangun rumah-rumah yang harganya terjangkau. Rumah-rumah dengan anggaran kecil, namun tetap menawarkan segala kenyamanan, di samping keindahan alam yang tak tertandingi di tempat lainnya di Kota Bandung.
Tamanvila ini dapat diakses secara bebas oleh semua orang. Di sini, orang dapat menghabiskan hari Minggu di situ, atau di salah satu dari pulau kecil yang dibuat di tengah situ. Di sini, pengunjung dapat berpiknik sepuasnya. Sementara ayahnya dapat bersenang-senang dengan memancing, dan anak-anak bermain di taman bermain di bawah pengawasan. Ibunya dapat menikmati ketenangan tanpa khawatir diganggu. Dengan tamanvila yang sedang dibangun oleh NV Denis, Kota Bandung akan mendapatkan daya tarik lain. Begitu advertorial dalam Mooi Bandoeng (3 Januari 1939).
Baca Juga: Toponimi Kampung Muril: Serasa Berputar karena Gempa Sesar Lembang
Taman Vila ini akan menjadikan Kota Bandung sebagai yang pertama di Hindia yang memiliki labirin dan situ di dalam batas wilayah kota. Dan, seratus lima puluh rumah baru akan dibangun, merupakan tambahan yang menjadi daya tarik, karena mempertimbangkan dana pensiun, yang akan memenuhi kebutuhan ini.
Taman adalah paru-paru kota. Di Bandung udara segar berlimpah. Di tengah kota dan di pinggiran kota, orang dapat membayangkan dirinya berjalan di taman. Seluruh kota Bandung sebenarnya adalah taman.
Mengakhiri advertorialnya, Mooi Bandoeng (3 Januari 1939) menuliskan, bahwa pengembangan Situ Aksan akan menjadi salah satu kawasan perumahan bergaya vila terindah yang akan dimiliki Kota Bandung. (Mooi Bandoeng; maandblad van Bandoeng en omstreken-officieel orgaan van de Vereeniging "Bandoeng Vooruit", jrg 7, 1939, no. 3, 01-03-1939, 01-03-1939).
Apakah komplek villa taman itu menyisakan jejaknya? (*)
