Puasa (Menangkal) Hoaks

8 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Pemerintah melakukan pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah 16 tahun (Sumber: Pixabay)
Pemerintah melakukan pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah 16 tahun (Sumber: Pixabay)

Jelang akhir Ramadan, media sosial diramaikan oleh beragam informasi (hoaks) yang belum tentu benar. Seorang kawan bertanya ihwal pesan (berantai) yang beredar di Facebook dengan redaksi,

“ATURAN BARU KEMENAG: Takbiran Hanya Boleh Dari Jam 18.00 Sampai Jam 21.00 Tidak Boleh Menggunakan Sound System Dan Tidak Boleh Keliling.” Benarkah info ini?

Kujawab singkat dengan membuka rilis Kemenag bertajuk “Ini Panduan Takbiran di Bali Jika Idulfitri Berbarengan dengan Nyepi”

Memang sekilas, informasi ini tampak meyakinkan. Dengan mengatasnamakan lembaga resmi (Kemenag), menggunakan huruf kapital, yang disebarkan berulang-ulang melalui berbagai akun. Namun saat ditelusuri lebih jauh, kabar ini tidak berasal dari sumber resmi (pemerintah) dan berpotensi menyesatkan masyarakat.

Cek fakta, aturan takbiran Kemenag dibatasi sampai jam 21.00 dan larangan sound system (Sumber: facebook)
Cek fakta, aturan takbiran Kemenag dibatasi sampai jam 21.00 dan larangan sound system (Sumber: facebook)

Cek Fakta

Mari kita cek fakta, aturan takbiran Kemenag dibatasi sampai jam 21.00 dan larangan sound system. Berdasarkan penelusuran, Menteri Agama Nasaruddin Umar memang menyampaikan laporan kepada Presiden Prabowo Subianto terkait pelaksanaan takbiran yang bertepatan dengan Hari Raya Nyepi di Bali pada 19 Maret.

Pemerintah dan tokoh masyarakat di Bali menyepakati bahwa pelaksanaan takbiran tetap dapat dilakukan, tetapi dengan pembatasan tertentu agar tidak mengganggu pelaksanaan Nyepi.

Pembatasan ini hanya berlaku di wilayah Bali yang sedang menjalankan perayaan Nyepi. Dalam kesepakatan itu, takbiran dapat dilakukan tanpa menggunakan sound system (pengeras suara) dan dibatasi pada pukul 18.00 hingga 21.00 WITA. Kebijakan ini bertujuan agar pelaksanaan takbiran tetap berjalan tanpa mengganggu kekhusyukan perayaan Nyepi.

Dengan demikian, narasi yang menyebut Kementerian Agama menetapkan aturan baru yang melarang takbiran menggunakan sound system dan melarang takbiran keliling secara umum adalah informasi yang keliru. Pembatasan itu hanya berlaku dalam konteks khusus di Bali saat perayaan Nyepi. (Antara, 13 Maret 2026 08:08 WIB).

Padahal, panduan ini dirumuskan berdasarkan hasil koordinasi Kementerian Agama dengan pemerintah daerah, tokoh agama, dan tokoh masyarakat Bali. Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kemenag, Thobib Al Asyhar, mengatakan, langkah ini dilakukan untuk memastikan kedua perayaan keagamaan ini, jika waktunya memang bersamaan, tetap dapat berlangsung dengan baik, penuh toleransi dan saling menghormati, menjaga harmoni kehidupan beragama di Bali.

“Sejak awal kami telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta para tokoh agama di Bali. Prinsipnya, jika memang waktunya bersamaan, kedua perayaan ini tetap dapat dijalankan dengan saling menghormati dan penuh pengertian,” ujarnya, Minggu (8/3/2026).

Panduan takbiran di Bali jika Idulfitri berbarengan dengan Nyepi (Sumber: instagram@nasaruddinumaroffice)

Berikut ini panduan takbiran di Bali jika bersamaan dengan momen Hari Raya Nyepi: Pertama, Umat Islam diperkenankan melaksanakan Takbiran di Masjid (Mushola) terdekat dengan berjalan kaki, tanpa penggunaan pengeras suara, tanpa menyalakan petasan/mercon atau bunyi-bunyian lainnya, serta menggunakan penerangan secukupnya, mulai pukul 18.00 WITA sampai dengan pukul 21.00 WITA.

Kedua, pengamanan dan ketertiban pelaksanaan Takbiran menjadi tanggung jawab masing-masing pengurus Masjid (Mushola), dengan tetap berkoordinasi dengan aparat keamanan setempat.

Prajuru Desa Adat, Pengurus Masjid (Mushola), Pecalang, Linmas, serta Aparat Desa/Kelurahan bertanggung jawab untuk bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban pelaksanaan Nyepi maupun kegiatan Takbiran di wilayahnya masing-masing, dengan berkoordinasi secara sinergis bersama aparat keamanan.

“Panduan ini hanya untuk Bali dan jika malam takbiran bersamaan dengan Hari Raya Nyepi. Sekira ada yang membuat konten media sosial dengan framing bahwa panduan ini untuk semua daerah, itu tidak benar,” (www.kemenag.go.id)

Data Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mencatat konten hoaks per Oktober 2024- Oktober tahun 2025 sebanyak 1.674.  Bila merujuk pada data tahun 2024, telah terjadi total 1.923 konten hoaks, dengan jenis kontetn penipuan menempati posisi paling tinggi sebanyak 890 konten.

Masyarakat dihimbau untuk melakukan pemeriksaan informasi ganda, dengan senantiasa melakukan verifikasi ulang pada sumber-sumber terpercaya dan resmi. (instagram@dinaskominfontt)

Kehadiran Ramadan menjadi momentum yang tepat untuk “berpuasa dari hoaks.” Caranya dengan berusaha menahan diri dari menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.

Ingat, dalam ajaran Islam, kehati-hatian terhadap informasi sudah lama diajarkan. Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an, “Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya...” (QS. Al-Hujurat: 6).

Ayat ini menegaskan pentingnya tabayyun (check dan re-check), memeriksa kebenaran berita sebelum mempercayai, menyebarkannya. Tentunya, prinsip ini sangat relevan di era media sosial, saat informasi berlimpah dapat menyebar dalam hitungan detik tanpa proses verifikasi.

Hoaks tentang aturan takbiran, misalnya, dapat memicu keresahan publik. Pasalnya, sebagian orang bisa saja langsung mempercayainya, lalu menyebarkannya ke grup keluarga, komunitas. Padahal, belum tentu informasi itu benar, (sesuai) dengan kebijakan resmi pemerintah (Kemenag).

Internet bijak terhindar dari hoaks (Sumber: instagram@dinaskominfontt)

Cara Mengatasi Berita Hoaks

Ketua Masyarakat Indonesia Anti Hoax Septiaji Eko Nugroho menguraikan lima langkah sederhana yang bisa membantu dalam mengidentifikasi mana berita hoaks dan mana berita asli. Berikut penjelasannya:

1. Hati-hati dengan judul provokatif

Berita hoaks seringkali menggunakan judul sensasional yang provokatif, misalnya dengan langsung menudingkan jari ke pihak tertentu. Isinya bisa diambil dari berita media resmi, hanya saja diubah-ubah agar menimbulkan persepsi sesuai yang dikehendaki sang pembuat hoaks.

Apabila menjumpai berita denga judul provokatif, sebaiknya mencari referensi berupa berita serupa dari situs online resmi, kemudian bandingkan isinya, apakah sama atau berbeda. Dengan demikian, setidaknya sebabagi pembaca bisa memperoleh kesimpulan yang lebih berimbang.

2. Cermati alamat situs

Untuk informasi yang diperoleh dari website atau mencantumkan link, cermatilah alamat URL situs dimaksud. Apabila berasal dari situs yang belum terverifikasi sebagai institusi pers resmi, misalnya menggunakan domain blog, maka informasinya bisa dibilang meragukan.

Dalam catatan Dewan Pers, di Indonesia terdapat sekitar 43.000 situs di Indonesia yang mengklaim sebagai portal berita. Dari jumlah itu yang sudah terverifikasi sebagai situs berita resmi tak sampai 300. Terdapat setidaknya puluhan ribu situs yang berpotensi menyebarkan berita palsu di internet yang mesti diwaspadai.

3. Periksa fakta

Perhatikan dari mana berita berasal dan siapa sumbernya? Apakah dari institusi resmi seperti KPK atau Polri? Sebaiknya jangan cepat percaya apabila informasi berasal dari pegiat ormas, tokoh politik, atau pengamat.

Perhatikan keberimbangan sumber berita. Jika hanya ada satu sumber, pembaca tidak bisa mendapatkan gambaran yang utuh. Hal lain yang perlu diamati adalah perbedaan antara berita yang dibuat berdasarkan fakta dan opini. Fakta adalah peristiwa yang terjadi dengan kesaksian dan bukti, sementara opini adalah pendapat dan kesan dari penulis berita, sehingga memiliki kecenderungan untuk bersifat subyektif.

4. Cek keaslian foto

Di era teknologi digital saat ini, bukan hanya konten berupa teks yang bisa dimanipulasi, melainkan konten lain berupa foto, video. Ada kalanya pembuat berita palsu mengedit foto untuk memprovokasi pembaca.

Cara untuk mengecek keaslian foto bisa dengan memanfaatkan mesin pencari Google, yakni dengan melakukan drag-and-drop ke kolom pencarian Google Images. Hasil pencarian akan menyajikan gambar-gambar serupa yang terdapat di internet, sehingga bisa dibandingkan.

5. Ikut serta grup diskusi anti-hoaks

Di Facebook terdapat sejumlah fanpage dan grup diskusi anti hoax, misalnya Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax (FAFHH), Fanpage dan Group Indonesian Hoax Buster, Fanpage Indonesian Hoaxes, dan Grup Sekoci.

Di grup-grup diskusi ini, netizen bisa ikut bertanya apakah suatu informasi merupakan hoaks atau bukan, sekaligus melihat klarifikasi yang sudah diberikan oleh orang lain. Semua anggota bisa ikut berkontribusi sehingga grup berfungsi layaknya crowdsourcing yang memanfaatkan tenaga banyak orang. (www.komdigi.go.id)

Paling tidak, ada empat cara yang dapat ditempuh agar kita tak mudah terhasut hoaks. Pertama, saat ada berita yang menghebohkan dan penuh kontroversi, jangan langsung memercayainya, apalagi sampai ikut-ikutan menyebarkan (meng-share) berita tersebut. Teliti dulu sumber, si penyebar beritanya. Apakah dapat dipercaya ataukah tidak. Bila ternyata, si penyebar berita adalah yang memiliki rekam jejak gemar berbuat bohong (berdusta), maka jangan memercayainya.

Kedua, biasakan membaca berita sampai tuntas. Sebagaimana kita ketahui, sebagian media kita, kadang dengan sengaja membuat judul berita, artikel dengan judul-judul provokatif. Jadi, ketika ada sebuah berita dengan judul dan isi provokatif, jangan sampai kita ikut terpancing. Baca dulu sampai tuntas, pahami dan renungkan. Lalu cari informasi lain di berbagai media yang lebih tepercaya, atau bisa menghubungi orang-orang yang mumpuni (kompeten) di bidangnya.

Ketiga, mengajak orang-orang di sekitar kita agar jangan mudah terpancing dengan hoaks. Mulailah dari diri sendiri. Ketika kita telah mengetahui bahwa kabar yang disebarkan di berbagai media sosial itu ternyata berita bohong, maka tugas kita selanjutnya adalah memberitahukan ketidakbenaran berita tersebut kepada orang-orang terdekat dan lingkungan sekitar kita.

Baca Juga: Cerita Ibu-ibu Majelis Taklim Menjaga Bumi dari Tumpukan Sampah di Jatihandap

Keempat, selalu berusaha menyadari dan merenungi, bahwa hoaks adalah termasuk jenis fitnah yang dalam syariat Islam sangat-sangat dilarang. Ketika kita sengaja membuat dan menyebarkan hoaks, maka kita sama saja telah sengaja melakukan dosa. Ketika kita menebar fitnah, selain harus segera bertobat kepada Allah Swt., kita harus segera mencari orang yang kita fitnah, dan memohon padanya agar kesalahan kita diampuni.

Coba kita renungkan, betapa beratnya beban yang harus kita tanggung, jika kita dengan gegabah menyebarkan berita bohong di media sosial yang bisa diakses oleh miliaran orang di berbagai belahan dunia ini. Tak bisa dibayangkan, sebesar apa dosa yang akan kita tanggung bila tak segera memohon maaf kepada mereka. Betapa susah payahnya kita untuk memohon maaf kepada jutaan orang tersebut. (Sam Edy Yuswanto, 2019:162-163)

Saatnya puasa medsos hari Lebaran, pasti bisa! (Sumber: instagram@heryadisilvianto)
Saatnya puasa medsos hari Lebaran, pasti bisa! (Sumber: instagram@heryadisilvianto)

Dalam konteks Ramadan, di sinilah pentingnya sikap “puasa informasi.” Kita berusaha menahan diri dari makanan (minuman) yang membatalkan puasa, termasuk perlu menahan diri (aktivitas jari) dari kebiasaan menyebarkan kabar (hoaks) yang belum jelas sumbernya.

Sejatinya Ramadan menjadi bulan penyucian diri, bukan hanya dari sisi ibadah ritual semata, melainkan dari perilaku yang merugikan orang lain. Misalnya menyebarkan hoaks, tanpa sengaja, yang dapat menimbulkan kegaduhan, kebingungan, hingga berujung konflik di tengah-tengah masyarakat.

Walhasil, saat menjelang Idulfitri, mari kita jadikan Ramadan ini sebagai momentum untuk berpuasa dari hoaks dengan cara menahan diri dari mempercayai berita (hokas), informasi yang belum pasti dan tidak tergesa-gesa menyebarkannya.

Dengan demikian, kehadiran internet beserta media sosial saat puasa tidak hanya menjadi ruang berbagi informasi, justru menjadi tempat (ruang) menyebarkan algoritma kebaikan, keberkahan, ketenangan di tengah derasnya arus digital yang sehat, cerdas dan bijak. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

Ayo Netizen 15 Mar 2026, 08:21

Hayu Mudik?

Hayu Mudik?

News Update

Ayo Netizen 31 Jul 2026, 13:01

Memahami Wajah Lain El Nino di Jawa Barat

El Nino bukan fenomena baru. Yang baru adalah intensitas dan dampaknya yang semakin terasa. Ini seharusnya menjadi dasar untuk membangun strategi jangka panjang.

Kemarau panjang yang terjadi dalam beberapa bulan terkahir, membuat kekeringan melanda di Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Linimasa 31 Jul 2026, 12:01

Bandung, Kota dengan Budaya Sepak Bola yang Kental

Bandung memiliki budaya sepakbola yang kuat, mulai dari Monumen Sepakbola, Persib Bandung, hingga lapangan dan SSB yang tersebar di berbagai wilayah.

Monumen Sepak Bola di persimpangan Jalan Tamblong dan Jalan Lembong. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 31 Jul 2026, 11:01

Integrasi Wisata Sungai Citarik, Taman Sumaba dan Stadion GBLA

Masyarakat desa di sekitar Citarik setuju jika desanya bertransformasi menjadi ekowisata.

Pemandangan sempadan anak sungai Citarik dan pematang sawah di daerah aliran sungai. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 31 Jul 2026, 10:18

Ci Mahi, Sungai yang Mengalirkan Air Susu Keagungan dan Kemuliaan

Toponim Cimahi berasal dari dua kata bahasa Sunda, yaitu ci atau cai, dan mahi.

Muara Sungai Mahi di Teluk Kambhat, Laut Arab. (Sumber: Istimewa)
Beranda 31 Jul 2026, 09:26

Dalam 43 Hari Dua Pesepeda Tewas di Jalan Soekarno Hatta, B2W Bandung Desak Jalur Terproteksi

B2W Bandung desak pemerintah bangun jalur sepeda terproteksi di Soekarno Hatta setelah dua pesepeda tewas dalam rentang waktu kurang dari dua bulan.

Kecelakaan di Jalan Soekarno-Hatta pada Rabu, 29 Juli 2026 mengakibatkan seorang pesepeda meninggal dunia. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 31 Jul 2026, 09:16

Perlindungan Pekerja Migran Dimulai dari Tata Kelola, Bukan Sekadar Penindakan

Perlindungan terhadap pekerja migran semestinya tidak dimulai ketika masalah sudah terjadi, melainkan sejak negara mengelola proses keberangkatan mereka.

Perlindungan terhadap pekerja migran semestinya tidak dimulai ketika masalah sudah terjadi, melainkan sejak negara mengelola proses keberangkatan mereka. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 31 Jul 2026, 08:32

Jalan Raya Kita Bukan untuk Pesepeda

Negara kita khsusunya Kota Bandung memang belum siap menjadikan jalan raya sebagai tempat yang ramah dengan sepeda.

Pengecatan ulang jalur khusus sepeda untuk meningkatkan kenyamanan dan juga meningkatkan keselamatan lalulintas pengguna sepeda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 30 Jul 2026, 18:40

Panduan Wisata Dieng: Sunrise Sikunir, Kawah Sikidang, hingga Candi Tertua di Jawa Tengah

Panduan lengkap wisata Dieng mulai Bukit Sikunir, Kawah Sikidang, Telaga Warna, Candi Arjuna, harga tiket terbaru, rute, dan tips berkunjung.

Panorama Dieng. (Sumber: Pemprov Jateng)
Ayo Netizen 30 Jul 2026, 18:30

Dari Singkong Menjadi Taart: Jejak Kedaulatan Pangan dari Bandung Tahun 1972

Melalui sentuhan-sentuhan, singkong tidak lagi tampil sebagai bahan pangan sederhana, melainkan sajian dengan kedalaman rasa dan istimewa.

Ilustrasi singkong. (Sumber: Pexels | Foto: Matheus Bertelli)
Ayo Netizen 30 Jul 2026, 17:05

Wujudkan 'Bandung Kota Perkedel' supaya Petani Kentang Makmur

Kota Bandung perlu menjadikan menu perkedel sebagai kuliner unggulan dari usaha kaki lima hingga restoran dan hotel berbintang.

Ilustrasi wujudkan Bandung Kota Perkedel (Sumber: Ayobandung.com dan resepkoki.id)
Ayo Netizen 30 Jul 2026, 16:32

Romantisme Membaca Majalah Jakarta Jakarta: Menyusuri Jejak Peristiwa Era 1990-an

Salah satu majalah yang meninggalkan jejak kuat dalam sejarah pers Indonesia adalah Majalah Jakarta Jakarta atau yang akrab disingkat JJ.

Majalah Jakarta Jakarta, salah satu majalah berita bergambar yang paling diminati masyarakat Indonesia pada era 1990-an. (Sumber: Koleksi Majalah Jakarta Jakarta | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 30 Jul 2026, 16:18

Bukan Sekadar Menangkap Begal, Mengembalikan Rasa Aman Warga Lebih Penting

Maraknya aksi begal di Bandung Raya memicu kecemasan warga yang beraktivitas malam dan polemik terkait kebijakan sayembara penangkapan pelaku yang dinilai berisiko memicu aksi main hakim sendiri.

Polrestabes Bandung tangkap 19 orang pelaku kejahatan jalanan yang terjadi sejak 1 hingga 21 Juli 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 30 Jul 2026, 15:15

Putri Noong Tahun 1980-an

Kuliner khas di Bandung tahun 1980-an.

Putri noong, salah satu kuliner legendaris di Jawa Barat. (Sumber: Youtube | Foto: Dapur Marlia)
Bandung 30 Jul 2026, 15:04

Suguhkan Sentuhan Seni dan Wangi Teh Pemium nan Otentik, Yuk Nikmati Cerita Baru CHAGEE di Jantung Kota Bandung

CHAGEE merancang gerai flagship secara khusus untuk menampilkan jiwa Kota Bandung yang dikenal berani, ekspresif, kreatif, namun tetap mengakar kuat pada warisan budaya.

CHAGEE secara resmi menjejakkan kakinya untuk pertama kali di Bandung, membawa angin segar bagi lanskap tempat nongkrong di Kota Parijs van Java. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 30 Jul 2026, 15:00

Pelajaran 'Zero Waste' dari Stadion Persib Bandung

Jika stadion macam GBLA bisa dianggap sebagai “laboratorium” dalam pengelolaan sampah, maka kota adalah “ekosistem hidup” yang membutuhkan integrasi lintas sektor.

Stadion GBLA yang menjadi kandang Persib Maung Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 30 Jul 2026, 12:02

Menjelajah Gastronomi Pasundan dalam Mustikarasa: Kesegaran Alami di Lanskap Kuliner Nusantara

Pada tahun 1967, atas arahan Presiden Soekarno, terbitlah sebuah karya monumental bertajuk Mustikarasa.

Ilustrasi Sukarno dan buku Mustikarasa. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 30 Jul 2026, 11:46

Batagor Tamim, Legenda Kuliner Kaki Lima Bandung yang Bertahan dari Gerobak Sederhana

Batagor Tamim menawarkan batagor kering dan kuah dengan bumbu kacang khas serta rasa ikan yang kuat. Cari tahu lokasi, harga, dan jam bukanya.

Batagor Tamim Bandung.
Ayo Netizen 30 Jul 2026, 08:47

Harus Menunggu Berapa Korban? Jalan Soekarno-Hatta Harus Punya Jalur Sepeda Terproteksi

Kematian pesepeda di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung kembali menegaskan perlunya jalur sepeda terproteksi.

Kecelakaan maut yang menewaskan seorang pesepeda di Jalan Soekarno-Hatta, tepatnya di seberang Terminal Leuwipanjang pada Rabu (29/7/2026). (Sumber: Instagram/@ayobandung_official)
Wisata & Kuliner 29 Jul 2026, 23:55

Sejarah Sop Konro, Kuliner Kuah Hitam dari Kluwek yang Kental dengan Sejarah Sulawesi Selatan

Kenali sejarah Sop Konro Makassar, kuah hitam dari kluwek, asal-usulnya, hingga cara penyajian dengan burasa dan ketupat.

Sop Konro Makassar. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 29 Jul 2026, 18:01

Batas Antara Ojek Online dan Ojek Pangkalan

Permasalahan transportasi di Bandung memang seringkali memunculkan persaingan yang tidak sehat antara moda transportasi yang satu dengan yang lainnya.

Ribuan pengemudi ojek dan taksi online melakukan unjukrasa di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 25 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)