Puasa (Menangkal) Hoaks

8 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan Senin 16 Mar 2026, 16:09 WIB
Pemerintah melakukan pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah 16 tahun (Sumber: Pixabay)

Pemerintah melakukan pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah 16 tahun (Sumber: Pixabay)

Jelang akhir Ramadan, media sosial diramaikan oleh beragam informasi (hoaks) yang belum tentu benar. Seorang kawan bertanya ihwal pesan (berantai) yang beredar di Facebook dengan redaksi,

“ATURAN BARU KEMENAG: Takbiran Hanya Boleh Dari Jam 18.00 Sampai Jam 21.00 Tidak Boleh Menggunakan Sound System Dan Tidak Boleh Keliling.” Benarkah info ini?

Kujawab singkat dengan membuka rilis Kemenag bertajuk “Ini Panduan Takbiran di Bali Jika Idulfitri Berbarengan dengan Nyepi”

Memang sekilas, informasi ini tampak meyakinkan. Dengan mengatasnamakan lembaga resmi (Kemenag), menggunakan huruf kapital, yang disebarkan berulang-ulang melalui berbagai akun. Namun saat ditelusuri lebih jauh, kabar ini tidak berasal dari sumber resmi (pemerintah) dan berpotensi menyesatkan masyarakat.

Cek fakta, aturan takbiran Kemenag dibatasi sampai jam 21.00 dan larangan sound system (Sumber: facebook)
Cek fakta, aturan takbiran Kemenag dibatasi sampai jam 21.00 dan larangan sound system (Sumber: facebook)

Cek Fakta

Mari kita cek fakta, aturan takbiran Kemenag dibatasi sampai jam 21.00 dan larangan sound system. Berdasarkan penelusuran, Menteri Agama Nasaruddin Umar memang menyampaikan laporan kepada Presiden Prabowo Subianto terkait pelaksanaan takbiran yang bertepatan dengan Hari Raya Nyepi di Bali pada 19 Maret.

Pemerintah dan tokoh masyarakat di Bali menyepakati bahwa pelaksanaan takbiran tetap dapat dilakukan, tetapi dengan pembatasan tertentu agar tidak mengganggu pelaksanaan Nyepi.

Pembatasan ini hanya berlaku di wilayah Bali yang sedang menjalankan perayaan Nyepi. Dalam kesepakatan itu, takbiran dapat dilakukan tanpa menggunakan sound system (pengeras suara) dan dibatasi pada pukul 18.00 hingga 21.00 WITA. Kebijakan ini bertujuan agar pelaksanaan takbiran tetap berjalan tanpa mengganggu kekhusyukan perayaan Nyepi.

Dengan demikian, narasi yang menyebut Kementerian Agama menetapkan aturan baru yang melarang takbiran menggunakan sound system dan melarang takbiran keliling secara umum adalah informasi yang keliru. Pembatasan itu hanya berlaku dalam konteks khusus di Bali saat perayaan Nyepi. (Antara, 13 Maret 2026 08:08 WIB).

Padahal, panduan ini dirumuskan berdasarkan hasil koordinasi Kementerian Agama dengan pemerintah daerah, tokoh agama, dan tokoh masyarakat Bali. Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kemenag, Thobib Al Asyhar, mengatakan, langkah ini dilakukan untuk memastikan kedua perayaan keagamaan ini, jika waktunya memang bersamaan, tetap dapat berlangsung dengan baik, penuh toleransi dan saling menghormati, menjaga harmoni kehidupan beragama di Bali.

“Sejak awal kami telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta para tokoh agama di Bali. Prinsipnya, jika memang waktunya bersamaan, kedua perayaan ini tetap dapat dijalankan dengan saling menghormati dan penuh pengertian,” ujarnya, Minggu (8/3/2026).

Panduan takbiran di Bali jika Idulfitri berbarengan dengan Nyepi (Sumber: instagram@nasaruddinumaroffice)

Berikut ini panduan takbiran di Bali jika bersamaan dengan momen Hari Raya Nyepi: Pertama, Umat Islam diperkenankan melaksanakan Takbiran di Masjid (Mushola) terdekat dengan berjalan kaki, tanpa penggunaan pengeras suara, tanpa menyalakan petasan/mercon atau bunyi-bunyian lainnya, serta menggunakan penerangan secukupnya, mulai pukul 18.00 WITA sampai dengan pukul 21.00 WITA.

Kedua, pengamanan dan ketertiban pelaksanaan Takbiran menjadi tanggung jawab masing-masing pengurus Masjid (Mushola), dengan tetap berkoordinasi dengan aparat keamanan setempat.

Prajuru Desa Adat, Pengurus Masjid (Mushola), Pecalang, Linmas, serta Aparat Desa/Kelurahan bertanggung jawab untuk bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban pelaksanaan Nyepi maupun kegiatan Takbiran di wilayahnya masing-masing, dengan berkoordinasi secara sinergis bersama aparat keamanan.

“Panduan ini hanya untuk Bali dan jika malam takbiran bersamaan dengan Hari Raya Nyepi. Sekira ada yang membuat konten media sosial dengan framing bahwa panduan ini untuk semua daerah, itu tidak benar,” (www.kemenag.go.id)

Data Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mencatat konten hoaks per Oktober 2024- Oktober tahun 2025 sebanyak 1.674.  Bila merujuk pada data tahun 2024, telah terjadi total 1.923 konten hoaks, dengan jenis kontetn penipuan menempati posisi paling tinggi sebanyak 890 konten.

Masyarakat dihimbau untuk melakukan pemeriksaan informasi ganda, dengan senantiasa melakukan verifikasi ulang pada sumber-sumber terpercaya dan resmi. (instagram@dinaskominfontt)

Kehadiran Ramadan menjadi momentum yang tepat untuk “berpuasa dari hoaks.” Caranya dengan berusaha menahan diri dari menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.

Ingat, dalam ajaran Islam, kehati-hatian terhadap informasi sudah lama diajarkan. Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an, “Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya...” (QS. Al-Hujurat: 6).

Ayat ini menegaskan pentingnya tabayyun (check dan re-check), memeriksa kebenaran berita sebelum mempercayai, menyebarkannya. Tentunya, prinsip ini sangat relevan di era media sosial, saat informasi berlimpah dapat menyebar dalam hitungan detik tanpa proses verifikasi.

Hoaks tentang aturan takbiran, misalnya, dapat memicu keresahan publik. Pasalnya, sebagian orang bisa saja langsung mempercayainya, lalu menyebarkannya ke grup keluarga, komunitas. Padahal, belum tentu informasi itu benar, (sesuai) dengan kebijakan resmi pemerintah (Kemenag).

Internet bijak terhindar dari hoaks (Sumber: instagram@dinaskominfontt)

Cara Mengatasi Berita Hoaks

Ketua Masyarakat Indonesia Anti Hoax Septiaji Eko Nugroho menguraikan lima langkah sederhana yang bisa membantu dalam mengidentifikasi mana berita hoaks dan mana berita asli. Berikut penjelasannya:

1. Hati-hati dengan judul provokatif

Berita hoaks seringkali menggunakan judul sensasional yang provokatif, misalnya dengan langsung menudingkan jari ke pihak tertentu. Isinya bisa diambil dari berita media resmi, hanya saja diubah-ubah agar menimbulkan persepsi sesuai yang dikehendaki sang pembuat hoaks.

Apabila menjumpai berita denga judul provokatif, sebaiknya mencari referensi berupa berita serupa dari situs online resmi, kemudian bandingkan isinya, apakah sama atau berbeda. Dengan demikian, setidaknya sebabagi pembaca bisa memperoleh kesimpulan yang lebih berimbang.

2. Cermati alamat situs

Untuk informasi yang diperoleh dari website atau mencantumkan link, cermatilah alamat URL situs dimaksud. Apabila berasal dari situs yang belum terverifikasi sebagai institusi pers resmi, misalnya menggunakan domain blog, maka informasinya bisa dibilang meragukan.

Dalam catatan Dewan Pers, di Indonesia terdapat sekitar 43.000 situs di Indonesia yang mengklaim sebagai portal berita. Dari jumlah itu yang sudah terverifikasi sebagai situs berita resmi tak sampai 300. Terdapat setidaknya puluhan ribu situs yang berpotensi menyebarkan berita palsu di internet yang mesti diwaspadai.

3. Periksa fakta

Perhatikan dari mana berita berasal dan siapa sumbernya? Apakah dari institusi resmi seperti KPK atau Polri? Sebaiknya jangan cepat percaya apabila informasi berasal dari pegiat ormas, tokoh politik, atau pengamat.

Perhatikan keberimbangan sumber berita. Jika hanya ada satu sumber, pembaca tidak bisa mendapatkan gambaran yang utuh. Hal lain yang perlu diamati adalah perbedaan antara berita yang dibuat berdasarkan fakta dan opini. Fakta adalah peristiwa yang terjadi dengan kesaksian dan bukti, sementara opini adalah pendapat dan kesan dari penulis berita, sehingga memiliki kecenderungan untuk bersifat subyektif.

4. Cek keaslian foto

Di era teknologi digital saat ini, bukan hanya konten berupa teks yang bisa dimanipulasi, melainkan konten lain berupa foto, video. Ada kalanya pembuat berita palsu mengedit foto untuk memprovokasi pembaca.

Cara untuk mengecek keaslian foto bisa dengan memanfaatkan mesin pencari Google, yakni dengan melakukan drag-and-drop ke kolom pencarian Google Images. Hasil pencarian akan menyajikan gambar-gambar serupa yang terdapat di internet, sehingga bisa dibandingkan.

5. Ikut serta grup diskusi anti-hoaks

Di Facebook terdapat sejumlah fanpage dan grup diskusi anti hoax, misalnya Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax (FAFHH), Fanpage dan Group Indonesian Hoax Buster, Fanpage Indonesian Hoaxes, dan Grup Sekoci.

Di grup-grup diskusi ini, netizen bisa ikut bertanya apakah suatu informasi merupakan hoaks atau bukan, sekaligus melihat klarifikasi yang sudah diberikan oleh orang lain. Semua anggota bisa ikut berkontribusi sehingga grup berfungsi layaknya crowdsourcing yang memanfaatkan tenaga banyak orang. (www.komdigi.go.id)

Paling tidak, ada empat cara yang dapat ditempuh agar kita tak mudah terhasut hoaks. Pertama, saat ada berita yang menghebohkan dan penuh kontroversi, jangan langsung memercayainya, apalagi sampai ikut-ikutan menyebarkan (meng-share) berita tersebut. Teliti dulu sumber, si penyebar beritanya. Apakah dapat dipercaya ataukah tidak. Bila ternyata, si penyebar berita adalah yang memiliki rekam jejak gemar berbuat bohong (berdusta), maka jangan memercayainya.

Kedua, biasakan membaca berita sampai tuntas. Sebagaimana kita ketahui, sebagian media kita, kadang dengan sengaja membuat judul berita, artikel dengan judul-judul provokatif. Jadi, ketika ada sebuah berita dengan judul dan isi provokatif, jangan sampai kita ikut terpancing. Baca dulu sampai tuntas, pahami dan renungkan. Lalu cari informasi lain di berbagai media yang lebih tepercaya, atau bisa menghubungi orang-orang yang mumpuni (kompeten) di bidangnya.

Ketiga, mengajak orang-orang di sekitar kita agar jangan mudah terpancing dengan hoaks. Mulailah dari diri sendiri. Ketika kita telah mengetahui bahwa kabar yang disebarkan di berbagai media sosial itu ternyata berita bohong, maka tugas kita selanjutnya adalah memberitahukan ketidakbenaran berita tersebut kepada orang-orang terdekat dan lingkungan sekitar kita.

Baca Juga: Cerita Ibu-ibu Majelis Taklim Menjaga Bumi dari Tumpukan Sampah di Jatihandap

Keempat, selalu berusaha menyadari dan merenungi, bahwa hoaks adalah termasuk jenis fitnah yang dalam syariat Islam sangat-sangat dilarang. Ketika kita sengaja membuat dan menyebarkan hoaks, maka kita sama saja telah sengaja melakukan dosa. Ketika kita menebar fitnah, selain harus segera bertobat kepada Allah Swt., kita harus segera mencari orang yang kita fitnah, dan memohon padanya agar kesalahan kita diampuni.

Coba kita renungkan, betapa beratnya beban yang harus kita tanggung, jika kita dengan gegabah menyebarkan berita bohong di media sosial yang bisa diakses oleh miliaran orang di berbagai belahan dunia ini. Tak bisa dibayangkan, sebesar apa dosa yang akan kita tanggung bila tak segera memohon maaf kepada mereka. Betapa susah payahnya kita untuk memohon maaf kepada jutaan orang tersebut. (Sam Edy Yuswanto, 2019:162-163)

Saatnya puasa medsos hari Lebaran, pasti bisa! (Sumber: instagram@heryadisilvianto)
Saatnya puasa medsos hari Lebaran, pasti bisa! (Sumber: instagram@heryadisilvianto)

Dalam konteks Ramadan, di sinilah pentingnya sikap “puasa informasi.” Kita berusaha menahan diri dari makanan (minuman) yang membatalkan puasa, termasuk perlu menahan diri (aktivitas jari) dari kebiasaan menyebarkan kabar (hoaks) yang belum jelas sumbernya.

Sejatinya Ramadan menjadi bulan penyucian diri, bukan hanya dari sisi ibadah ritual semata, melainkan dari perilaku yang merugikan orang lain. Misalnya menyebarkan hoaks, tanpa sengaja, yang dapat menimbulkan kegaduhan, kebingungan, hingga berujung konflik di tengah-tengah masyarakat.

Walhasil, saat menjelang Idulfitri, mari kita jadikan Ramadan ini sebagai momentum untuk berpuasa dari hoaks dengan cara menahan diri dari mempercayai berita (hokas), informasi yang belum pasti dan tidak tergesa-gesa menyebarkannya.

Dengan demikian, kehadiran internet beserta media sosial saat puasa tidak hanya menjadi ruang berbagi informasi, justru menjadi tempat (ruang) menyebarkan algoritma kebaikan, keberkahan, ketenangan di tengah derasnya arus digital yang sehat, cerdas dan bijak. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

Ayo Netizen 15 Mar 2026, 08:21

Hayu Mudik?

Hayu Mudik?

News Update

Bandung 15 Jun 2026, 21:16

Kolaborasi Bekali Kopi Bersama Petani Lembang Dorong Peningkatan Ekonomi dan Regenerasi Sektor Kopi

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting.

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 18:19

UMKM 'Jangan Cuma Dagang' untuk Berkembang, Belajar dari Perjalanan Bisnis Kebab Factory

Bagi Widya, Rumah BUMN Bandung bukan sekadar tempat pelatihan.

Widya Ratna Puspita, pemilik KebabFactory.id, di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 17:27

Perjalanan Sate Maranggi sebagai Kuliner Khas Kabupaten Purwakarta

Lebih dari sekadar nilai gastronomi, Sate Maranggi mengandung nilai-nilai sosial sebagai pemersatu masyarakat Purwakarta.

Sate Maranggi khas Purwakarta (Sumber: Dokumentasi milik pribadi)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 16:44

Panduan Wisata Kuliner Empal Gentong Cirebon, Jejak Sejarah Kota Pelabuhan dalam Semangkuk Kuah

Kenali sejarah empal gentong Cirebon, perbedaannya dengan empal asem, rekomendasi warung legendaris, serta tips menikmati hidangan khas ini.

Empal gentong, kuliner khas Cirebon. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 16:40

Punya Varian Produk Tak Biasa, Kebab Factory Bisa Ekspor ke Malaysia dan Singapura berkat 'Ide Anak'

Perjalanan Kebab Factory, UMKM Kota Bandung yang terkenal dengan produk uniknya.

Kebab ice cream mellowberry, salah satu varian produk Kebab Faktory di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 15:54

Wayang Wong: Kesenian Unik yang Mengganti Peran Boneka Menggunakan Manusia

Tentang wayang wong, salah satu kesenian tradisional Jawa yang menggabungkan tari, musik, dan drama.

Wayang Wong Ramayana. (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 13:17

Hijrah, Ubah, dan Arah

Hijrah digital bukanlah tentang meninggalkan teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai jalan untuk mendekat pada nilai-nilai kebaikan.

Diskusi Film "Hijrah Digital" Ajak Mahasiswa Refleksi Literasi Digital dan Peran AI dalam Keberagamaan (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)
Beranda 15 Jun 2026, 13:02

Jejak Ksatria di Gang Maksudi: Menjaga Amanah, Menghidupkan Nadi Ekonomi Negeri

Kisah Hasan, seorang kurir JNE di Bandung yang sempat dibegal saat berteduh karena hujan, namun kini sudah kembali bekerja berkat bantuan dari tempatnya bekerja.

Kepala Cabang Utama JNE Bandung Iyus Rustandi menyerahkan bantuan sepeda motor baru kepada Hasan sebagai bentuk nyata komitmen dan kepedulian perusahaan terhadap keselamatan karyawannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Linimasa 15 Jun 2026, 12:58

Ketika Selisih Harga BBM Terasa Sampai Akhir Bulan

Kenaikan harga BBM non-subsidi membuat banyak pengendara memilih antre demi mendapatkan Pertalite.

Pengendara rela mengantre lebih panjang di SPBU setelah kenaikan harga BBM Pertamax. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 11:45

Itinerary Wisata Yogyakarta 1–2 Hari, Destinasi, Kuliner, dan Budget Lengkap

Jelajahi Yogyakarta berdasarkan pembagian kawasan wisata agar perjalanan lebih nyaman. Cocok untuk liburan singkat satu hingga dua hari.

Tugu Jogja, ikon Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 11:28

Dulu Pakai Ritual, Kini Pakai Kimia: Perubahan Praktik Bertani di Desa Pamoyanan

Perjalanan pertanian Desa Pamoyanan merekam pergeseran dari sistem kepercayaan Sunda Buhun menuju metode pertanian modern yang dianggap lebih efektif dan rasional.

Foto Hamparan sawah di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, pada 21 Maret 2026. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 09:59

Potensi Ulat Sutra Solusi Masalah Bahan Baku Industri Tekstil

Mengatasi krisis bahan baku industri tekstil dengan ulat sutra.

Industri rakyat berbasis benang sutra binaan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha di Desa Cipondok Kecamatan Sukaresik Kabupaten Tasikmalaya. (Foto: Humas PGE)
Beranda 15 Jun 2026, 09:46

Jejak Persib di Kota Bandung, Jalan-jalan Bobotoh Menyusuri Memori yang Nyaris Dilupakan

Bobotoh menyusuri jejak sejarah Persib di berbagai sudut Kota Bandung, mengungkap kisah, tempat, dan memori yang nyaris terlupakan oleh waktu.

Peserta Bobotoh Story Walk menyusuri jalanan Bandung sambil mendengarkan kisah-kisah yang membentuk sejarah Persib. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Linimasa 15 Jun 2026, 08:43

Layangan Adu, Hobi yang Tidak Lekang oleh Usia

Layangan adu tetap digemari lintas usia dan menjadi ruang silaturahmi para pehobinya.

Layangan adu, hobi yang tak mengenal usia. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 08:40

Sinergi Batalyon Pangan dengan Petani Mengatasi Deflasi Komoditas Pertanian

Eksistensi Yonif TP sebaiknya turut menyelesaikan masalah hilir komoditas pertanian hingga ke pasar induk atau pasar tradisional serta pasar modern.

Bimtek Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kemampuan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). (Foto: dok Puspen TNI)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 19:00

Di Era Digital Kita Hidup dalam Situasi Alone Together

Di era digital, kita telah terjebak dengan hubungan teknologi dalam berkoneksi dengan sesama.

Ilustrasi teknologi digital di sekitar generasi muda saat ini. (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 15:00

AI Art: Pencuri Masa Depan para Seniman

Jika AI mampu menghasilkan gambar secara massal, apa yang akan terjadi pada keberadaan dan masa depan para seniman masa kini?

Ilustrasi seni hasil AI. (Sumber: Pexels | Foto: Google DeepMind)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 12:51

1 Dolar Mencapai Rp 17.865 Rupiah: Apakah Kita Berada dalam Keadaan Baik-Baik Saja?

Pada 27 Mei 2026, nilai rupiah terhadap 1 dolar mencapai Rp 17.865.

Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Wisata & Kuliner 14 Jun 2026, 11:46

Kopi Joss Jogja, Tradisi Kuliner Unik yang Bertahan Lebih dari 60 Tahun

Kenali kopi joss khas Yogyakarta, kopi dengan bara arang panas yang kini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Simak sejarah dan keunikannya.

Kopi Joss, salah satu kuliner khas Jogja.
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 11:12

Bagaimana Merek Lokal Membangun Branding dalam Multi-Platform

Aroma kopi menjadi identitas utama yang digunakan Implora Cosmetics untuk membangun branding Caffe Matte Lip Cream secara konsisten di berbagai platform komunikasi.

Penulis sedang menelaah kajian tentang merek lokal di Bandung.