Puasa (Menangkal) Hoaks

Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan Senin 16 Mar 2026, 16:09 WIB
Pemerintah melakukan pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah 16 tahun (Sumber: Pixabay)

Pemerintah melakukan pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah 16 tahun (Sumber: Pixabay)

Jelang akhir Ramadan, media sosial diramaikan oleh beragam informasi (hoaks) yang belum tentu benar. Seorang kawan bertanya ihwal pesan (berantai) yang beredar di Facebook dengan redaksi,

“ATURAN BARU KEMENAG: Takbiran Hanya Boleh Dari Jam 18.00 Sampai Jam 21.00 Tidak Boleh Menggunakan Sound System Dan Tidak Boleh Keliling.” Benarkah info ini?

Kujawab singkat dengan membuka rilis Kemenag bertajuk “Ini Panduan Takbiran di Bali Jika Idulfitri Berbarengan dengan Nyepi”

Memang sekilas, informasi ini tampak meyakinkan. Dengan mengatasnamakan lembaga resmi (Kemenag), menggunakan huruf kapital, yang disebarkan berulang-ulang melalui berbagai akun. Namun saat ditelusuri lebih jauh, kabar ini tidak berasal dari sumber resmi (pemerintah) dan berpotensi menyesatkan masyarakat.

Cek fakta, aturan takbiran Kemenag dibatasi sampai jam 21.00 dan larangan sound system (Sumber: facebook)
Cek fakta, aturan takbiran Kemenag dibatasi sampai jam 21.00 dan larangan sound system (Sumber: facebook)

Cek Fakta

Mari kita cek fakta, aturan takbiran Kemenag dibatasi sampai jam 21.00 dan larangan sound system. Berdasarkan penelusuran, Menteri Agama Nasaruddin Umar memang menyampaikan laporan kepada Presiden Prabowo Subianto terkait pelaksanaan takbiran yang bertepatan dengan Hari Raya Nyepi di Bali pada 19 Maret.

Pemerintah dan tokoh masyarakat di Bali menyepakati bahwa pelaksanaan takbiran tetap dapat dilakukan, tetapi dengan pembatasan tertentu agar tidak mengganggu pelaksanaan Nyepi.

Pembatasan ini hanya berlaku di wilayah Bali yang sedang menjalankan perayaan Nyepi. Dalam kesepakatan itu, takbiran dapat dilakukan tanpa menggunakan sound system (pengeras suara) dan dibatasi pada pukul 18.00 hingga 21.00 WITA. Kebijakan ini bertujuan agar pelaksanaan takbiran tetap berjalan tanpa mengganggu kekhusyukan perayaan Nyepi.

Dengan demikian, narasi yang menyebut Kementerian Agama menetapkan aturan baru yang melarang takbiran menggunakan sound system dan melarang takbiran keliling secara umum adalah informasi yang keliru. Pembatasan itu hanya berlaku dalam konteks khusus di Bali saat perayaan Nyepi. (Antara, 13 Maret 2026 08:08 WIB).

Padahal, panduan ini dirumuskan berdasarkan hasil koordinasi Kementerian Agama dengan pemerintah daerah, tokoh agama, dan tokoh masyarakat Bali. Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kemenag, Thobib Al Asyhar, mengatakan, langkah ini dilakukan untuk memastikan kedua perayaan keagamaan ini, jika waktunya memang bersamaan, tetap dapat berlangsung dengan baik, penuh toleransi dan saling menghormati, menjaga harmoni kehidupan beragama di Bali.

“Sejak awal kami telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta para tokoh agama di Bali. Prinsipnya, jika memang waktunya bersamaan, kedua perayaan ini tetap dapat dijalankan dengan saling menghormati dan penuh pengertian,” ujarnya, Minggu (8/3/2026).

Panduan takbiran di Bali jika Idulfitri berbarengan dengan Nyepi (Sumber: instagram@nasaruddinumaroffice)

Berikut ini panduan takbiran di Bali jika bersamaan dengan momen Hari Raya Nyepi: Pertama, Umat Islam diperkenankan melaksanakan Takbiran di Masjid (Mushola) terdekat dengan berjalan kaki, tanpa penggunaan pengeras suara, tanpa menyalakan petasan/mercon atau bunyi-bunyian lainnya, serta menggunakan penerangan secukupnya, mulai pukul 18.00 WITA sampai dengan pukul 21.00 WITA.

Kedua, pengamanan dan ketertiban pelaksanaan Takbiran menjadi tanggung jawab masing-masing pengurus Masjid (Mushola), dengan tetap berkoordinasi dengan aparat keamanan setempat.

Prajuru Desa Adat, Pengurus Masjid (Mushola), Pecalang, Linmas, serta Aparat Desa/Kelurahan bertanggung jawab untuk bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban pelaksanaan Nyepi maupun kegiatan Takbiran di wilayahnya masing-masing, dengan berkoordinasi secara sinergis bersama aparat keamanan.

“Panduan ini hanya untuk Bali dan jika malam takbiran bersamaan dengan Hari Raya Nyepi. Sekira ada yang membuat konten media sosial dengan framing bahwa panduan ini untuk semua daerah, itu tidak benar,” (www.kemenag.go.id)

Data Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mencatat konten hoaks per Oktober 2024- Oktober tahun 2025 sebanyak 1.674.  Bila merujuk pada data tahun 2024, telah terjadi total 1.923 konten hoaks, dengan jenis kontetn penipuan menempati posisi paling tinggi sebanyak 890 konten.

Masyarakat dihimbau untuk melakukan pemeriksaan informasi ganda, dengan senantiasa melakukan verifikasi ulang pada sumber-sumber terpercaya dan resmi. (instagram@dinaskominfontt)

Kehadiran Ramadan menjadi momentum yang tepat untuk “berpuasa dari hoaks.” Caranya dengan berusaha menahan diri dari menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.

Ingat, dalam ajaran Islam, kehati-hatian terhadap informasi sudah lama diajarkan. Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an, “Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya...” (QS. Al-Hujurat: 6).

Ayat ini menegaskan pentingnya tabayyun (check dan re-check), memeriksa kebenaran berita sebelum mempercayai, menyebarkannya. Tentunya, prinsip ini sangat relevan di era media sosial, saat informasi berlimpah dapat menyebar dalam hitungan detik tanpa proses verifikasi.

Hoaks tentang aturan takbiran, misalnya, dapat memicu keresahan publik. Pasalnya, sebagian orang bisa saja langsung mempercayainya, lalu menyebarkannya ke grup keluarga, komunitas. Padahal, belum tentu informasi itu benar, (sesuai) dengan kebijakan resmi pemerintah (Kemenag).

Internet bijak terhindar dari hoaks (Sumber: instagram@dinaskominfontt)

Cara Mengatasi Berita Hoaks

Ketua Masyarakat Indonesia Anti Hoax Septiaji Eko Nugroho menguraikan lima langkah sederhana yang bisa membantu dalam mengidentifikasi mana berita hoaks dan mana berita asli. Berikut penjelasannya:

1. Hati-hati dengan judul provokatif

Berita hoaks seringkali menggunakan judul sensasional yang provokatif, misalnya dengan langsung menudingkan jari ke pihak tertentu. Isinya bisa diambil dari berita media resmi, hanya saja diubah-ubah agar menimbulkan persepsi sesuai yang dikehendaki sang pembuat hoaks.

Apabila menjumpai berita denga judul provokatif, sebaiknya mencari referensi berupa berita serupa dari situs online resmi, kemudian bandingkan isinya, apakah sama atau berbeda. Dengan demikian, setidaknya sebabagi pembaca bisa memperoleh kesimpulan yang lebih berimbang.

2. Cermati alamat situs

Untuk informasi yang diperoleh dari website atau mencantumkan link, cermatilah alamat URL situs dimaksud. Apabila berasal dari situs yang belum terverifikasi sebagai institusi pers resmi, misalnya menggunakan domain blog, maka informasinya bisa dibilang meragukan.

Dalam catatan Dewan Pers, di Indonesia terdapat sekitar 43.000 situs di Indonesia yang mengklaim sebagai portal berita. Dari jumlah itu yang sudah terverifikasi sebagai situs berita resmi tak sampai 300. Terdapat setidaknya puluhan ribu situs yang berpotensi menyebarkan berita palsu di internet yang mesti diwaspadai.

3. Periksa fakta

Perhatikan dari mana berita berasal dan siapa sumbernya? Apakah dari institusi resmi seperti KPK atau Polri? Sebaiknya jangan cepat percaya apabila informasi berasal dari pegiat ormas, tokoh politik, atau pengamat.

Perhatikan keberimbangan sumber berita. Jika hanya ada satu sumber, pembaca tidak bisa mendapatkan gambaran yang utuh. Hal lain yang perlu diamati adalah perbedaan antara berita yang dibuat berdasarkan fakta dan opini. Fakta adalah peristiwa yang terjadi dengan kesaksian dan bukti, sementara opini adalah pendapat dan kesan dari penulis berita, sehingga memiliki kecenderungan untuk bersifat subyektif.

4. Cek keaslian foto

Di era teknologi digital saat ini, bukan hanya konten berupa teks yang bisa dimanipulasi, melainkan konten lain berupa foto, video. Ada kalanya pembuat berita palsu mengedit foto untuk memprovokasi pembaca.

Cara untuk mengecek keaslian foto bisa dengan memanfaatkan mesin pencari Google, yakni dengan melakukan drag-and-drop ke kolom pencarian Google Images. Hasil pencarian akan menyajikan gambar-gambar serupa yang terdapat di internet, sehingga bisa dibandingkan.

5. Ikut serta grup diskusi anti-hoaks

Di Facebook terdapat sejumlah fanpage dan grup diskusi anti hoax, misalnya Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax (FAFHH), Fanpage dan Group Indonesian Hoax Buster, Fanpage Indonesian Hoaxes, dan Grup Sekoci.

Di grup-grup diskusi ini, netizen bisa ikut bertanya apakah suatu informasi merupakan hoaks atau bukan, sekaligus melihat klarifikasi yang sudah diberikan oleh orang lain. Semua anggota bisa ikut berkontribusi sehingga grup berfungsi layaknya crowdsourcing yang memanfaatkan tenaga banyak orang. (www.komdigi.go.id)

Paling tidak, ada empat cara yang dapat ditempuh agar kita tak mudah terhasut hoaks. Pertama, saat ada berita yang menghebohkan dan penuh kontroversi, jangan langsung memercayainya, apalagi sampai ikut-ikutan menyebarkan (meng-share) berita tersebut. Teliti dulu sumber, si penyebar beritanya. Apakah dapat dipercaya ataukah tidak. Bila ternyata, si penyebar berita adalah yang memiliki rekam jejak gemar berbuat bohong (berdusta), maka jangan memercayainya.

Kedua, biasakan membaca berita sampai tuntas. Sebagaimana kita ketahui, sebagian media kita, kadang dengan sengaja membuat judul berita, artikel dengan judul-judul provokatif. Jadi, ketika ada sebuah berita dengan judul dan isi provokatif, jangan sampai kita ikut terpancing. Baca dulu sampai tuntas, pahami dan renungkan. Lalu cari informasi lain di berbagai media yang lebih tepercaya, atau bisa menghubungi orang-orang yang mumpuni (kompeten) di bidangnya.

Ketiga, mengajak orang-orang di sekitar kita agar jangan mudah terpancing dengan hoaks. Mulailah dari diri sendiri. Ketika kita telah mengetahui bahwa kabar yang disebarkan di berbagai media sosial itu ternyata berita bohong, maka tugas kita selanjutnya adalah memberitahukan ketidakbenaran berita tersebut kepada orang-orang terdekat dan lingkungan sekitar kita.

Baca Juga: Cerita Ibu-ibu Majelis Taklim Menjaga Bumi dari Tumpukan Sampah di Jatihandap

Keempat, selalu berusaha menyadari dan merenungi, bahwa hoaks adalah termasuk jenis fitnah yang dalam syariat Islam sangat-sangat dilarang. Ketika kita sengaja membuat dan menyebarkan hoaks, maka kita sama saja telah sengaja melakukan dosa. Ketika kita menebar fitnah, selain harus segera bertobat kepada Allah Swt., kita harus segera mencari orang yang kita fitnah, dan memohon padanya agar kesalahan kita diampuni.

Coba kita renungkan, betapa beratnya beban yang harus kita tanggung, jika kita dengan gegabah menyebarkan berita bohong di media sosial yang bisa diakses oleh miliaran orang di berbagai belahan dunia ini. Tak bisa dibayangkan, sebesar apa dosa yang akan kita tanggung bila tak segera memohon maaf kepada mereka. Betapa susah payahnya kita untuk memohon maaf kepada jutaan orang tersebut. (Sam Edy Yuswanto, 2019:162-163)

Saatnya puasa medsos hari Lebaran, pasti bisa! (Sumber: instagram@heryadisilvianto)
Saatnya puasa medsos hari Lebaran, pasti bisa! (Sumber: instagram@heryadisilvianto)

Dalam konteks Ramadan, di sinilah pentingnya sikap “puasa informasi.” Kita berusaha menahan diri dari makanan (minuman) yang membatalkan puasa, termasuk perlu menahan diri (aktivitas jari) dari kebiasaan menyebarkan kabar (hoaks) yang belum jelas sumbernya.

Sejatinya Ramadan menjadi bulan penyucian diri, bukan hanya dari sisi ibadah ritual semata, melainkan dari perilaku yang merugikan orang lain. Misalnya menyebarkan hoaks, tanpa sengaja, yang dapat menimbulkan kegaduhan, kebingungan, hingga berujung konflik di tengah-tengah masyarakat.

Walhasil, saat menjelang Idulfitri, mari kita jadikan Ramadan ini sebagai momentum untuk berpuasa dari hoaks dengan cara menahan diri dari mempercayai berita (hokas), informasi yang belum pasti dan tidak tergesa-gesa menyebarkannya.

Dengan demikian, kehadiran internet beserta media sosial saat puasa tidak hanya menjadi ruang berbagi informasi, justru menjadi tempat (ruang) menyebarkan algoritma kebaikan, keberkahan, ketenangan di tengah derasnya arus digital yang sehat, cerdas dan bijak. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

Ayo Netizen 15 Mar 2026, 08:21

Hayu Mudik?

Hayu Mudik?

News Update

Ayo Netizen 30 Apr 2026, 20:12

Tema Ayo Netizen Mei 2026: Bersabar, Bekerja, dan Berkorban demi Hidup di Bandung

Mei bukan sekadar bulan kelima dalam kalender. Di Bandung, Mei adalah bulan yang sesak.

Keluarga korban longsor Cisarua menangis usai mendengar informasi salah satu keluarganya ditemukan. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Mayantara 30 Apr 2026, 18:41

Kehidupan Sehari-hari sebagai ‘Arsip’

Internet tidak hanya membangun hubungan kolaboratif antar-pengguna secara individual, tetapi juga “merekam” serangkaian tindakan online kita setiap hari.

Internet tidak hanya membangun hubungan kolaboratif antar-pengguna secara individual, tetapi juga “merekam” serangkaian tindakan online kita setiap hari. (Sumber: Pexels | Foto: Şevval Pirinççi)
Wisata & Kuliner 30 Apr 2026, 18:00

Panduan Wisata Curug Citambur, Eksotisme Tersembunyi di Cianjur Selatan

Panduan wisata Curug Citambur, air terjun 130 meter di Cianjur Selatan, lengkap rute, tiket, dan tips berkunjung.

Curug Citambur. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 30 Apr 2026, 17:12

Menakar Geliat Inovasi di Lereng Subang: Tinjauan Kritis atas Transformasi Ekonomi Berbasis Kopi

Dalam konstelasi perdagangan global, kopi bukan sekadar komoditas penyegar, melainkan instrumen strategis yang menentukan posisi tawar sebuah negara.

Buku "Geliat Desa Membangun Inovasi Kopi Subang: Status Quo" (Sumber: BRIN)
Ayo Netizen 30 Apr 2026, 15:30

Jalan Nasional Rasa Jalan Lokal: Mengapa Macet dan Kecelakaan Terus Terjadi di Koridor Caringin–Cimahi?

Kemacetan dan kecelakaan bukan sekadar ulah pengguna, tetapi akibat kegagalan sistem: akses tak terkendali, hambatan samping tinggi, dan simpang tanpa pengaturan yang andal.

Kepadatan arus lalu lintas di Jalan Raya Cimareme, Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung.com/Restu Nugraha)
Beranda 30 Apr 2026, 14:59

Hadapi Kemarau Panjang dan Risiko Kebakaran, Diskar Kota Bandung Fokus Perkuat Sumber Air

Diskar PB Kota Bandung perkuat akses sumber air melalui pemetaan hidran dan kolam retensi guna pastikan penanganan kebakaran yang cepat dan efektif selama musim kemarau panjang.

Petugas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bandung melakukan pendinginan pada kios material barang bekas yang terbakar di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Kamis 26 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Apr 2026, 11:30

Panduan Lengkap Penggunaan Partikel dalam Bahasa Indonesia

Panduan praktis agar tidak lagi ragu saat menuliskan partikel-partikel bahasa.

Partikel dalam bahasa Indonesia. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 30 Apr 2026, 11:17

Kuliner Soto Bongko Sumedang, Sarapan Ratusan Tahun yang Bertahan di Balik Bayang Tahu

Sarapan khas Sumedang ini menawarkan kuah santan gurih, lontong besar, dan tahu Sumedang dalam tradisi pagi yang bertahan sejak ratusan tahun.

Kuliner Soto Bongko Sumedang. (Sumber: Instagram @sajiansedap)
Wisata & Kuliner 30 Apr 2026, 11:17

Hikayat Opak, Camilan Tradisional yang Masih Bertahan Bahkan Menjadi Ciri Khas

Opak Sukamanah dibuat turun-temurun dengan resep rahasia. Pulen, gurih, dan jadi andalan oleh-oleh khas Bandung.

Opak di Kampun Sukamanah, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 30 Apr 2026, 09:27

Dari Bekasi untuk Evaluasi: Keselamatan KRL Bukan Soal Posisi Gerbong

Tragedi di Stasiun Bekasi Timur menyoroti bahwa keselamatan KRL bukan soal posisi gerbong, melainkan tentang keandalan sistem perkeretaapian dalam mencegah kecelakaan dan melindungi seluruh penumpang.

Stasiun Bekasi Timur. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Fikri RA)
Wisata & Kuliner 29 Apr 2026, 20:34

Wisata Pantai Karangsong, Tamasya Santai di Pesisir Utara Jawa Barat

Panduan lengkap Pantai Karangsong Indramayu dengan info lokasi, biaya masuk, wisata mangrove, serta pengalaman menikmati pantai di pesisir utara.

Pantai Karangsong Indramayu. (Sumber: Ayomedia)
Beranda 29 Apr 2026, 18:48

Mereka yang Agamanya Pernah ‘Dihapus’ dari KTP, Kini Gencar Menebar Hal Baik

Hidup pada masa Orde Baru tidaklah mudah. Terutama jika keturunan Tionghoa dan beragama Konghucu.

Fam Kiun Fat yang akrab disapa Akiun, salah satu tokoh Tionghoa dan Konghucu ternama di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 29 Apr 2026, 16:54

Kota ini Tak Lagi Sama(Pah) Tanpamu

Tidak ada langkah yang lebih realistis untuk mengatasi masalah sampah di Kota Bandung selain mengendalikan petugas pengelola sampah dan terus mengedukasi masyarakat

Gunungan Sampah di TPST Batununggal Bandung. Rabu, 29 April 2026 (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 29 Apr 2026, 15:35

Heritage: Mana yang Usang, Mana yang (harus) Terbuang

Konsep warisan kita sangat dibentuk oleh kolonialisme. Oleh karena itu, tulisan ini jadi ajakan dekonstruksi warisan yang elitis menjadi lebih inklusif, emansipatif, dan adil bagi pemilik properti.

Gedung-gedung peninggalan masa kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Unsplash | Foto: Neermana Studio)
Beranda 29 Apr 2026, 15:16

Biaya Mahal yang Harus Dikeluarkan Setiap Hari untuk Mengurus Sampah Kota Bandung

Kelola ribuan ton sampah setiap hari, Kota Bandung harus mengeluarkan ribuan liter BBM demi memastikan ratusan armada pengangkut tetap bergerak menyisir lingkungan warga.

"Gunung"sampah di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Dakota di Jl. Gunung Batu, Sukaraja, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung pada Jumat, 7 November 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Bandung 29 Apr 2026, 15:05

Tren Intimate Wedding di Bandung, Afrodite WO: Tonjolkan Karakter Pengantin dan Kesesuaian Venue

Tren pernikahan bergeser ke arah privat dan personal. Afrodite Wedding Organizer Bandung ungkap pentingnya menyesuaikan venue dengan karakter pengantin dibandingkan sekadar mengejar keviralan.

Tren pernikahan bergeser ke arah privat dan personal. Afrodite Wedding Organizer Bandung ungkap pentingnya menyesuaikan venue dengan karakter pengantin dibandingkan sekadar mengejar keviralan. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 29 Apr 2026, 13:36

Dari Pesantren ke Panggung Nasional: Perjalanan Hayyun Halimatul Ummah Menjadi Duta Santri

Kisah Hayyun Halimatul Ummah, santri dari keluarga sederhana yang menembus Duta Santri Nasional lewat ketekunan, keberanian, dan tekad untuk bermanfaat.

Hayyun Halimatul Ummah ketika dinobatkan sebagai Duta Santri Nasional pada malam grand final. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Wisata & Kuliner 29 Apr 2026, 13:34

Panduan Wisata Pemandian Cipanas Garut, Pilih Tempat Sesuai Gaya Liburanmu di Kaki Gunung Guntur

Panduan wisata Cipanas Garut, mengulas sejarah dua abad, sumber air panas alami, serta pilihan pemandian dan resort terbaik di kaki Gunung Guntur.

Kawasan Wisata Cipanas Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Beranda 29 Apr 2026, 10:30

Beban Berat Pengangkutan Sampah di Kota Bandung, Sehari Habiskan BBM Setara 457 Galon Air Mineral

Setiap hari, bahan bakar yang dipakai untuk mengangkut sampah di Bandung setara ratusan galon air minum. Jumlah ini menggambarkan betapa besar energi yang dibutuhkan hanya untuk menjaga kota tetap ber

Aktivitas pengangkutan sampah menuju TPA Sarimukti di Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB) pada Selasa 6 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Restu Nugraha Sauqi)
Beranda 29 Apr 2026, 09:15

Kota Bandung Kewalahan Hadapi 1.500 Ton Sampah per Hari, Armada Tertahan, TPA Kian Tertekan

Bandung menghadapi lonjakan sampah hingga 1.500 ton per hari. Armada tersendat akibat antrean dan kuota TPA, membuat pengangkutan melambat dan tumpukan sampah kian meluas.

Truk sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung sedang mengangkut sampah pada 18 November 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Bob Yanuar Muslim)