Ciri Malam Lailatul Qadar: Langit Tenang dan Matahari yang Malu-Malu

2 menit baca
Nenah Haryati
Ditulis oleh Nenah Haryati diterbitkan
ilustrasi malam Lailatul Qadr. (Sumber: Pixabay | Foto: Pixabay)
ilustrasi malam Lailatul Qadr. (Sumber: Pixabay | Foto: Pixabay)

Di tengah keriuhan 'war takjil' yang mulai mereda dan hiruk-pikuk persiapan mudik yang kian memuncak, ada sebuah kesunyian yang paling dicari di penghujung Ramadan. Banyak yang mengira kehadiran Lailatul Qadar hanya bisa dirasakan lewat getaran batin, padahal alam semesta pun sebenarnya turut memberikan 'sinyal'.

Meskipun waktu tepatnya hanya Tuhan yang tahu, alam memberikan isyarat bagi kita untuk mengenalinya. Berdasarkan literatur klasik yang dikaji para penuntut ilmu, berikut adalah fase-fase tanda alam yang menandai kehadiran malam seribu bulan tersebut:

Suasana Malam yang Menenangkan (Kitab Busyro Karim)

Pernah tidak, merasakan satu malam yang atmosfernya terasa tenang sekali? Berdasarkan penjelasan dalam kitab Busyro Karim, malam Lailatul Qadar biasanya punya cuaca yang "pas"—tidak gerah yang bikin berkeringat, tapi juga tidak dingin yang bikin menggigil.

Ketenangannya itu seolah-olah alam sedang ikut bersujud bersama kita. Tapi tenang saja, meski sedang hujan deras pun tidak menutup kemungkinan malam mulia ini tetap turun, karena semua kembali pada kuasa-Nya.

Potongan teks dalam kitab klasik yang menjelaskan fenomena aktivitas malaikat dan tanda-tanda alam Lailatul Qadar. (Sumber: Kitab Busyro Karim | Foto: ekan di Tarim, Yaman)
Potongan teks dalam kitab klasik yang menjelaskan fenomena aktivitas malaikat dan tanda-tanda alam Lailatul Qadar. (Sumber: Kitab Busyro Karim | Foto: ekan di Tarim, Yaman)

Fase 2: Terbitnya Matahari yang Teduh (Kitab Manhajul Qowim & Turmusi)

Nah, tanda berikutnya muncul saat fajar mulai menyingsing. Kalau biasanya matahari pagi sinarnya sangat kuat dan bikin silau, pagi setelah Lailatul Qadar biasanya terasa berbeda.

Berdasarkan kitab Manhajul Qowim yang diperkuat dengan tafsiran dalam kitab Turmusi, matahari akan muncul dengan warna merah yang cenderung pucat dan cahayanya tidak menyengat. Kita bahkan bisa menatap bulatnya matahari dengan nyaman tanpa perlu menyipitkan mata sama sekali.

Rahasia di Balik Cahaya yang Redup (Kitab Manhajul Qowim & Turmusi)

Mungkin kita penasaran, kenapa matahari pagi itu bisa jadi begitu redup? Masih merujuk pada kitab Manhajul Qowim dan Turmusi, hal ini disebabkan oleh padatnya barisan malaikat yang sedang bolak-balik naik dan turun dari bumi ke langit.

Setelah semalaman turun ke bumi untuk menebar berkah dan kedamaian, jutaan malaikat tersebut kembali naik secara bergelombang. Saking sibuk dan padatnya saf mereka, cahaya matahari sampai terhalang dan terasa teduh di mata kita. Sebuah penghormatan alam untuk para penjaga langit.

Baca Juga: Ramadan Setahun Sekali, Internet Setiap Hari

Tanda-tanda alam ini bukan sekadar untuk kita tebak-tebak kapan datangnya, melainkan pengingat bahwa ada kedamaian luar biasa yang Allah tawarkan di penghujung Ramadan. Penjelasan mengenai fase-fase alam ini saya rangkum dari hasil obrolan hangat dengan seorang rekan yang saat ini sedang menempuh pendidikan di Tarim, Yaman.

Melalui literatur kitab-kitab klasik yang dikajinya di sana, kita diajak untuk lebih peka membaca "sinyal" yang diberikan semesta. Di tengah hiruk-pikuk persiapan Lebaran dan lelahnya urusan duniawi, semoga matahari yang teduh dan langit yang tenang itu menjadi simbol harapan baru bagi hati kita semua. Semoga kita termasuk golongan yang beruntung bisa membasuh jiwa di malam seribu bulan ini, dan membawanya sebagai bekal indah saat memasuki bulan Syawal nanti. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:10

Bandung Menuju Kota Digital Aman

Kota yang benar-benar cerdas bukan hanya kota yang mampu mengadopsi teknologi terbaru, melainkan yang mampu melindungi warganya.

Ilustrasi layanan digital. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Biz 01 Nov 2026, 15:21

Lahan Sempit di Kota Bandung Disulap Jadi Kebun Produktif, Hasilnya untuk Warga

Sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae.

Pada Jumat, 30 Oktober 2026, sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 20:39

Stop The Wedding: Tren Perempuan yang Membagikan Cerita Traumatis Pernikahan

Apakah perempuan benar-benar takut menikah karena tidak menemukan urgensinya atau hanya takut karena tren "Stop The Wedding" yang sedang beredar di media sosial

Stop the Wedding sedang menjadi headline di media sosial yang mengangkat pengalaman buruk perempuan dalam pernikahan (Sumber: Ilustrasi Gambar AI)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 19:15

Bandung Akan Terkena Asap Pekat Karhutla

Nafsu-nafsu tidak terkendali untuk menguasai hutan bisa menyebabkan semua wilayah terkena dampak asap pekat kebakaran hutan dan lahan termasuk Kota Bandung

Penanganan karhutla. (Sumber: Kementerian Kehutanan)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 17:11

Merancang Kawasan Hunian untuk Mobilitas Berkelanjutan

Integrasi tata ruang dan transportasi dalam pengembangan kawasan hunian melalui akses berjalan kaki, bersepeda, dan angkutan umum untuk mewujudkan mobilitas yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Halte bus yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian angkutan umum di kawasan hunian. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 16:31

Korupsi di Negeri Bencana

Korupsi di BNPB yang dilakukan oleh oknum, merupakan perbuatan yang biadab.

SDN 1 Babakan Talang di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat hancur akibat bencana pergerakan tanah , Senin 4 Maret 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 15:17

Ketika Api Menguji Integritas

Bencana menuntut kita bergerak cepat menyelamatkan kehidupan, tetapi juga menguji integritas dalam menjaga amanah dan menyalurkan bantuan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 20:24

Bdg-GoX Dibangun, Kapan Warga Bandung Menikmati Internet Murah?

Akses digital bukan hanya persoalan ketersediaan jaringan, melainkan juga keterjangkauan ekonomi.

Ilustrasi Bandung Kota Digital dengan program  Bdg-Gox (Sumber: Ilustrasi di desain dengan ChatGPT oleh Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 19:47

Cangkoréh Awi Ngarambat

Ada jenis bambu yang merambat, yang dikenal, ada yang menyebutnya awi cangkoréh, ada juga yang menyebutnya awi cangkoré.

Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 16:33

Persembahan untuk Lembang

Lembang telah jatuh ke tangan para kapitalis, memaksakan berubah wujud, memeras keindahan alamnya, meluluhlantakkan kenangan hijau yang terpatri di benak warganya.

Persembahan saya untuk Lembang, tertuang dalam beberapa karya buku. (Foto: Malia)