Ciri Malam Lailatul Qadar: Langit Tenang dan Matahari yang Malu-Malu

Nenah Haryati
Ditulis oleh Nenah Haryati diterbitkan Minggu 15 Mar 2026, 14:36 WIB
ilustrasi malam Lailatul Qadr. (Sumber: Pixabay | Foto: Pixabay)

ilustrasi malam Lailatul Qadr. (Sumber: Pixabay | Foto: Pixabay)

Di tengah keriuhan 'war takjil' yang mulai mereda dan hiruk-pikuk persiapan mudik yang kian memuncak, ada sebuah kesunyian yang paling dicari di penghujung Ramadan. Banyak yang mengira kehadiran Lailatul Qadar hanya bisa dirasakan lewat getaran batin, padahal alam semesta pun sebenarnya turut memberikan 'sinyal'.

Meskipun waktu tepatnya hanya Tuhan yang tahu, alam memberikan isyarat bagi kita untuk mengenalinya. Berdasarkan literatur klasik yang dikaji para penuntut ilmu, berikut adalah fase-fase tanda alam yang menandai kehadiran malam seribu bulan tersebut:

Suasana Malam yang Menenangkan (Kitab Busyro Karim)

Pernah tidak, merasakan satu malam yang atmosfernya terasa tenang sekali? Berdasarkan penjelasan dalam kitab Busyro Karim, malam Lailatul Qadar biasanya punya cuaca yang "pas"—tidak gerah yang bikin berkeringat, tapi juga tidak dingin yang bikin menggigil.

Ketenangannya itu seolah-olah alam sedang ikut bersujud bersama kita. Tapi tenang saja, meski sedang hujan deras pun tidak menutup kemungkinan malam mulia ini tetap turun, karena semua kembali pada kuasa-Nya.

Potongan teks dalam kitab klasik yang menjelaskan fenomena aktivitas malaikat dan tanda-tanda alam Lailatul Qadar. (Sumber: Kitab Busyro Karim | Foto: ekan di Tarim, Yaman)
Potongan teks dalam kitab klasik yang menjelaskan fenomena aktivitas malaikat dan tanda-tanda alam Lailatul Qadar. (Sumber: Kitab Busyro Karim | Foto: ekan di Tarim, Yaman)

Fase 2: Terbitnya Matahari yang Teduh (Kitab Manhajul Qowim & Turmusi)

Nah, tanda berikutnya muncul saat fajar mulai menyingsing. Kalau biasanya matahari pagi sinarnya sangat kuat dan bikin silau, pagi setelah Lailatul Qadar biasanya terasa berbeda.

Berdasarkan kitab Manhajul Qowim yang diperkuat dengan tafsiran dalam kitab Turmusi, matahari akan muncul dengan warna merah yang cenderung pucat dan cahayanya tidak menyengat. Kita bahkan bisa menatap bulatnya matahari dengan nyaman tanpa perlu menyipitkan mata sama sekali.

Rahasia di Balik Cahaya yang Redup (Kitab Manhajul Qowim & Turmusi)

Mungkin kita penasaran, kenapa matahari pagi itu bisa jadi begitu redup? Masih merujuk pada kitab Manhajul Qowim dan Turmusi, hal ini disebabkan oleh padatnya barisan malaikat yang sedang bolak-balik naik dan turun dari bumi ke langit.

Setelah semalaman turun ke bumi untuk menebar berkah dan kedamaian, jutaan malaikat tersebut kembali naik secara bergelombang. Saking sibuk dan padatnya saf mereka, cahaya matahari sampai terhalang dan terasa teduh di mata kita. Sebuah penghormatan alam untuk para penjaga langit.

Baca Juga: Ramadan Setahun Sekali, Internet Setiap Hari

Tanda-tanda alam ini bukan sekadar untuk kita tebak-tebak kapan datangnya, melainkan pengingat bahwa ada kedamaian luar biasa yang Allah tawarkan di penghujung Ramadan. Penjelasan mengenai fase-fase alam ini saya rangkum dari hasil obrolan hangat dengan seorang rekan yang saat ini sedang menempuh pendidikan di Tarim, Yaman.

Melalui literatur kitab-kitab klasik yang dikajinya di sana, kita diajak untuk lebih peka membaca "sinyal" yang diberikan semesta. Di tengah hiruk-pikuk persiapan Lebaran dan lelahnya urusan duniawi, semoga matahari yang teduh dan langit yang tenang itu menjadi simbol harapan baru bagi hati kita semua. Semoga kita termasuk golongan yang beruntung bisa membasuh jiwa di malam seribu bulan ini, dan membawanya sebagai bekal indah saat memasuki bulan Syawal nanti. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Nenah Haryati
Tentang Nenah Haryati
Mahasiswa yang hobi mengamati sisi lain kehidupan sehari-hari, terutama yang dialami Generasi Z.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 15 Mar 2026, 20:42

Catatan Seorang Pendengar Radio dari Continental ke K-Lite FM

Salah satu yang tetap bertahan hingga kini adalah Radio K-Lite FM Bandung.

Radio K-Lite FM beralamat di Jl. Sumur Bandung No. 12, tidak jauh dari Kampus ITB, Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Bandung 15 Mar 2026, 16:50

One-Set Jadi Primadona, Killua Warnai Persiapan Idulfitri dengan Konsep Simpel

Killua hadir dengan mengusung konsep kasual yang dirancang untuk menarik perhatian konsumen sekaligus menunjang gaya berpakaian sehari-hari.

Killua hadir dengan mengusung konsep kasual yang dirancang untuk menarik perhatian konsumen sekaligus menunjang gaya berpakaian sehari-hari. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 15 Mar 2026, 14:36

Ciri Malam Lailatul Qadar: Langit Tenang dan Matahari yang Malu-Malu

Inilah sinyal semesta tentang Lailatul Qadr.

ilustrasi malam Lailatul Qadr. (Sumber: Pixabay | Foto: Pixabay)
Ayo Netizen 15 Mar 2026, 11:11

Ramadan Setahun Sekali, Internet Setiap Hari

Di bulan ramadan, lalu lintas penggunaan internet meningkat signifikan.

Animasi perempuan berjilbab yang memanfaatkan beragam platform media sosial untuk berbagai kepentingan (Sumber: pixabay | Foto: Mohame Hassan (Pixabay)
Sejarah 15 Mar 2026, 09:55

Kematian Julius Caesar, Konspirasi Senat dan Tulah Kiamat Republik Roma

Pada 15 Maret 44 SM, Julius Caesar dibunuh oleh para senator di Curia Pompey. Peristiwa Ides of March ini bukan sekadar pembunuhan politik, tetapi juga awal runtuhnya Republik Roma.

The Death of Julius Caesar (1806) karya Vincenzo Camuccini (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 15 Mar 2026, 08:21

Hayu Mudik?

Mudik adalah momen langka untuk berkumpul dengan orang tua, saudara, dan keluarga dalam suasana Lebaran.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 14 Mar 2026, 18:04

Eco Enzyme dari Sampah Organik, Langkah Warga Jatihandap Tekan Sampah dan Hasilkan Produk Ramah Lingkungan

Sampah organik rumah tangga di Jatihandap, Bandung, diolah menjadi eco enzyme melalui proses fermentasi. Cairan ini membantu mengurangi timbunan sampah sekaligus menjadi bahan pembersih alami.

Galon air mineral bekas diisi sampah organik seperti kulit buah dan sisa sayuran yang akan difermentasi menjadi eco enzyme. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 14 Mar 2026, 09:57

Dari Botol Plastik jadi Tabungan Emas: Cara Warga Jatihandap Mengelola Sampah yang Bisa Ditiru

Bank Sampah Ikhtiar 15 di Jatihandap, Bandung, menghadirkan program tabungan emas dari sampah. Inovasi ini menjadi solusi lingkungan sekaligus peluang ekonomi warga.

Pengelola Bank Sampah Ikhtiar 15 Jatihandap, Kota Bandung, mencatat hasil timbangan sampah warga yang nantinya dapat dikonversi menjadi tabungan emas. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 13 Mar 2026, 20:45

Lebaran 'Fashion Show' Terbesar Setiap Tahun

Masyarakat terlihat memakai busana2 baru layaknya fashion show saat Lebaran.

Sejumlah pengunjung memilih pakaian di Pasar Baru Trade Center, Kota Bandung, Jumat 13 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 13 Mar 2026, 19:27

Memanfaatkan Hutan untuk Produksi Madu

Penangkaran lebah semi liar di Desa Cibodas dan Gunung Puntang, Kabupaten Bandung, memanfaatkan hutan sebagai sumber pakan alami.

Ilustrasi peternak madu.
Ayo Netizen 13 Mar 2026, 17:24

Lailatul Qadar, Malam yang Datang Tanpa Pengumuman

Lailatul Qadar adalah malam ketika alam berzikir dan manusia mendengar. Dalam keheningan penghambaan diri kepada Allah Swt, manusia tunduk menangkap sinyal-sinyal spiritual.

Ilustrasi seorang laki-laki memanjatkan doa, melatih kepekaan batinnya (Sumber: Pixabay | Foto: Mohammed Hassan, Pixabay)
Ayo Netizen 13 Mar 2026, 16:12

Es Bingu: Si Anak Baru yang Mengancam Tahta Es Campur di Meja Takjil

Es Bingu hadir sebagai pilihan takjil terbaru di Ramadan 2026.

Ilustrasi Es Bingu yang creamy dengan topping keju melimpah. (Sumber: ig@esubiungu_hamcida)
Linimasa 13 Mar 2026, 16:10

Dari Daendels hingga Pemudik, Sejarah Panjang Jalur Nagreg

Jalur Nagreg telah menjadi penghubung penting antara Bandung dan Priangan Timur sejak era kolonial. Dari jalan tanah zaman Daendels hingga jalan nasional modern, jalur ini terus menjadi urat nadi perj

Terowongan Nagreg
Ayo Netizen 13 Mar 2026, 15:28

Ketika Ramadhan Akan Berakhir

Tanpa terasa bulan Ramadhan telah memasuki fase sepuluh hari terakhir.

Sejumlah pengunjung memilih pakaian di Pasar Baru Trade Center, Kota Bandung, Jumat 13 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Mar 2026, 14:41

Mengenang ‘Takbiran’ Lawas di Masjid Tertua Sukamiskin Bandung 

Pesantren Sukamiskin lah yang akan saya kisahkan, yang merupakan salah satu pesantren tertua di Kota Bandung.

Pesantren Sukamiskin Bandung. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 13 Mar 2026, 13:18

Mewujudkan Kelayakan Bus Pemudik Lebaran

Pekerja transportasi garis depan semestinya diberikan tunjangan yang memadai, termasuk tunjangan lembur paling sedikit sesuai dengan peraturan.

Ilustrasi angkutan bus lebaran di Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Mar 2026, 11:14

Ulah Unggut Kalinduan Bila Dimaknai sebagai Upaya Mitigasi Gempa Bumi

Ada peribahasa Sunda ulah unggut kalinduan, ulah gedag kaanginan

Kampung Muril, Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Dari nama geografis ini menunjukkan kampung ini pernah diguncang gempabumi yang membuat pusing dan mual. (Sumber: Citra satelit: Google maps)
Sejarah 13 Mar 2026, 10:40

Jejak Kereta Api Bandung-Ciwidey di Soreang Kabupaten Bandung

Jembatan Sadu dan bekas Stasiun Soreang menjadi saksi kejayaan jalur kereta api Bandung–Ciwidey yang dibangun sejak 1917.

Jembatan Sadu, salah satu peninggalan eks rel kereta Soreang-Ciwidey. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 13 Mar 2026, 08:10

Bingkai Perang di Bulan Suci

Sebab nuansa perang, Ramadan 1447 H terasa berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

Peta Iran. (Sumber: Pexel | Foto: Lara Jameson)
Beranda 13 Mar 2026, 06:35

Marbot yang Merawat Masjid Setiap Hari dengan Honor Sejuta Rupiah

Selama lebih dari satu dekade, pria 60 tahun ini menjaga masjid di Kota Bandung—pekerjaan sunyi yang ia jalani dengan penghasilan sekitar Rp1 juta setiap bulan.

Didin menjalankan rutinitas membersihkan masjid. Selama lebih dari satu dekade ia bekerja sebagai marbot. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)