Ramadan Setahun Sekali, Internet Setiap Hari

5 menit baca
Ridwan Rustandi
Ditulis oleh Ridwan Rustandi diterbitkan
Animasi perempuan berjilbab yang memanfaatkan beragam platform media sosial untuk berbagai kepentingan (Sumber: pixabay | Foto: Mohame Hassan (Pixabay)
Animasi perempuan berjilbab yang memanfaatkan beragam platform media sosial untuk berbagai kepentingan (Sumber: pixabay | Foto: Mohame Hassan (Pixabay)

Tak dapat dipungkiri, dunia berubah dengan sangat cepat berkat teknologi internet. Internet telah mewujud menjadi mesin pencarian yang digunakan oleh berbagai kalangan manusia untuk beragam kebutuhan. Internet menawarkan keteraksesan pada beragam informasi dan pengetahuan. Bukan hanya informasi yang penting saja, tetapi juga informasi yang remeh dan renyah.

Bukan hanya perkara pengetahuan yang serius, tetapi juga pengetahuan yang menghibur. Bukan hanya pesan yang berorientasi positif, tetapi juga nada yang sumbang, negatif, bahkan mengarah pada pesan manipulasi dan kebenciaan. Bukan hanya konten yang bertanggung jawab, tetapi juga konten yang hanya mengejar viral.

Internet menjadi wajah teknologi masa kini yang menampilkan dua arus berlawanan. Satu sisi menawarkan kemudahan dan keteraksesan yang tiada berbatas. Di sisi lainnya, berpotensi mengakibatkan banjir informasi bahkan anomali pengetahuan. Internet menjadi agora peradaban manusia, tempat mereka mengekpresikan berbagai pemikiran, perasaan, pengalaman, dan tindakan.

Agora ini begitu ramai dikunjungi manusia dengan berbagai kepentingan. Dan di bulan ramadan, jumlah kunjungannya meningkat dengan signifikan. Data mencatat bahwa sejumlah 6 miliar orang sudah terhubung ke internet. Angka ini setara dengan 75 persen jumlah populasi dunia. Saat ini kira-kira ada 3 orang manusia dari 4 orang yang mengakses internet setiap hari.

Lonjakan Spiritualitas

Ilustrasi media sosial. (Sumber: Pexels/Pixabay)
Ilustrasi media sosial. (Sumber: Pexels/Pixabay)

Di bulan ramadan, lalu lintas (traffic) penggunaan internet meningkat dengan signifikan. Atmosfer pengguna dalam mengakses konten-konten keagamaan di internet dipandang dapat memenuhi kebutuhan spiritualitasnya. Internet menjadi ruang ‘spiritual surfing’ yang digunakan untuk berselancar mencari pengetahuan keagamaan. Bukan hanya pengetahuan, tetapi juga mewujud menjadi keyakinan dan tindakan beragama.

Ada lonjakan yang luar biasa selama bulan ramadan terhadap akses keagamaan di internet. Sebesar 340 persen peningkatan akses terhadap konten Islami di google selama ramadan. Sebesar 2,1 miliar rata-rata views konten ramadan yang diakses di bulan ramadan. 68 persen pemuda (generasi Y dan Z) yang menyatakan belajar agama melalui internet terutama media sosial di bulan ramadan.

Lonjakan ini dinamakan seasonal demand spike, sebuah lonjakan permintaan musiman yang bisa diprediksi dan dipersiapkan. Internet dapat dijakan wajah Islam masa kini, di mana pengguna melakukan safari ilmiah, bahkan ilahiah melalui platform ini. Ia akan mendapati menu keagamaan yang beragam yang disajikan oleh berbagai penyedia layanan. Lonjakan ini pula yang mendorong pengguna untuk berhenti pada scroll pencarian terakhir, ketika mendapati konten keagamaan yang sesuai seleranya.

Menariknya, lonjakan keteraksesan ini puncaknya terjadi pada bulan ramadan. Masa di mana energi spiritual tersebar dengan cepat. Waktu di saat atmosfer kebaikan terus meningkat. Ramadan mewujud menjadi fenomena budaya-spiritual terbesar di Indonesia yang juga merupakan fenomena digital religion yang luar biasa. Pencarian tentang ‘tata cara shalat yang benar,’ ‘makna surah Al-Fatihah,’ ‘amalan ramadan,’ melonjak ratusan persen. Orang-orang yang sebelas bulan sebelumnya tidak memikirkan agama, tiba-tiba terbuka dan lapar terhadap konten spiritual selama bulan ramadan.

Lonjakan ini adalah momentum yang harus dimanfaatkan oleh para juru dakwah untuk menampilkan semangat Islam yang aktual, friendly, dan menyenangkan. Sekalipun di saat bersamaan tidak menutup kemungkinan, di ruang yang persis sama terjadi lonjakan penyebaran konten hoaks keagamaan, narasi intoleran, pembingkaian ektremisme gerakan, diseminasi pesan-pesan kebenciaan, dan berbagai macam ancaman digital lainnya.

Boleh jadi karena para juru dakwah tidak menyuguhkan dakwah Islam yang atraktif dan berkualitas. Sehingga, para pengguna lebih tertarik pada pesan-pesan yang berorientasi pada perpecahan tinimbang persatuan. Salah mengartikan kedamaian sebagai pemaksaan ideologis. Tidak menampilkan keteladanan dalam bertindak, tetapi menunjukkan hinaan dan makian.

Permintaan terhadap konten-konten keagamaan harus dibarengi dengan akhlak juru dakwah yang utuh dalam memanfaatkan platform digital sebagai media dakwah. Jangan sampai frame yang terbentuk lebih menitikberatkan pada viralisasi konten dibanding risalah Islam itu sendiri. Jangan sampai menempatkan ukuran keberhasilan dakwah di internet hanya berdasar pada mengejar engagement. Berupaya meningkatkan jumlah views, likes, shares, dan comments tapi lupa bertangung jawab menyampaikan kebenaran itu sendiri.

Lonjakan permintaan konten spiritual ini harus disertai tanggung jawab dakwah digital yang bermartabat. Setidaknya terdapat tiga hal yang harus diperhatikan agar dakwah kita berorientasi pada kebaikan dan kebenaran, ud‘u ilā sabīli rabbika (Qs. 16: 125). Pertama, konten keagamaan yang disebar haruslah akurat secara keilmuan (Qs. 49: 6). setiap klaim tentang agama bisa diverifikasi sumbernya, tidak ada hadis palsu yang disebarkan sebagai sahih, tidak ada pendapat minoritas yang dipresentasikan sebagai konsensus ulama. Internet adalah ruang publik terbesar yang harus diisi dengan pengetahuan agama yang dapat divalidasi. Inilah tanggung jawab publik para juru dakwah yang tampil kepada khalayak.

Kedua, hendaknya para juru dakwah menempatkan audiens atau objek dakwahnya sebagai manusia yang berpikir, merasa dan memiliki motivasi untuk bertindak. Jangan menempatkan audiens sebagai robot yang tidak memiliki kehendak. Tugas da’i adalah memanusiakan manusia dengan beragam proses perjalanan kebaikannya. Tidak boleh ada penghakiman, tidak mesti melakukan pemaksaan (Qs. 02: 256). Da’i bertanggung jawab menyampaikan kebenaran dengan ketulusan, mengundang mereka untuk melangkah lebih jauh.

Ketiga, proses dakwah yang dilakukan harus menampilkan kesan undangan yang mengasyikan bukan justeru dipandang sebagai hinaan. Ruang digital adalah etalase dakwah yang menampilkan berbagai menu sajian keagamaan. Arena pertarungan ideologis yang akan berbenturan dengan berbagai motif kepentingan.

Baca Juga: Hayu Mudik?

Oleh karena itu, pesan keagamaan harus atraktif dan menarik. Ia harus membuat agama terasa seperti rumah yang hangat dan terbuka, bukan gedung yang berpenjaga dan penuh persyaratan untuk masuk. Nabi Muhammad Saw bersabda: yassirū wa lā tu‘assirū, wa basyshirū wa lā tunaffirū. Berilah kemudahan dan jangan mempersulit. Berilah kabar gembira dan jangan membuat mereka lari (HR. Bukhori & Muslim).

Ramadan hanya datang satu kali setiap tahun, sementara internet hadir setiap hari. Jadikan ramadan bukan hanya momen konsumsi konten keagamaan saja, tetapi sebagai momen produksi kebaikan yang nyata (al-khair) dan kebenaran yang bertanggung jawab (al-haq). Internet menunggu suara kebaikan terpancar dari mulut kita.

Tidak perlu suara yang sempurna, melainkan suara yang jujur, yang berakar dalam pengalaman nyata, yang bicara dari jiwa yang sedang benar-benar berjuang untuk menjadi lebih baik. Sebab sering kali, ketulusan lebih mampu menyentuh hati manusia daripada kesempurnaan kata-kata. Dan mungkin saja, dari satu kalimat yang lahir dari kejujuran itu, Allah menyalakan cahaya hidayah di hati seseorang yang sedang mencari jalan pulang. Termasuk mereka yang mencarinya di ruang-ruang kebisingan internet. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:10

Bandung Menuju Kota Digital Aman

Kota yang benar-benar cerdas bukan hanya kota yang mampu mengadopsi teknologi terbaru, melainkan yang mampu melindungi warganya.

Ilustrasi layanan digital. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Biz 01 Nov 2026, 15:21

Lahan Sempit di Kota Bandung Disulap Jadi Kebun Produktif, Hasilnya untuk Warga

Sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae.

Pada Jumat, 30 Oktober 2026, sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 20:39

Stop The Wedding: Tren Perempuan yang Membagikan Cerita Traumatis Pernikahan

Apakah perempuan benar-benar takut menikah karena tidak menemukan urgensinya atau hanya takut karena tren "Stop The Wedding" yang sedang beredar di media sosial

Stop the Wedding sedang menjadi headline di media sosial yang mengangkat pengalaman buruk perempuan dalam pernikahan (Sumber: Ilustrasi Gambar AI)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 19:15

Bandung Akan Terkena Asap Pekat Karhutla

Nafsu-nafsu tidak terkendali untuk menguasai hutan bisa menyebabkan semua wilayah terkena dampak asap pekat kebakaran hutan dan lahan termasuk Kota Bandung

Penanganan karhutla. (Sumber: Kementerian Kehutanan)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 17:11

Merancang Kawasan Hunian untuk Mobilitas Berkelanjutan

Integrasi tata ruang dan transportasi dalam pengembangan kawasan hunian melalui akses berjalan kaki, bersepeda, dan angkutan umum untuk mewujudkan mobilitas yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Halte bus yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian angkutan umum di kawasan hunian. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 16:31

Korupsi di Negeri Bencana

Korupsi di BNPB yang dilakukan oleh oknum, merupakan perbuatan yang biadab.

SDN 1 Babakan Talang di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat hancur akibat bencana pergerakan tanah , Senin 4 Maret 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 15:17

Ketika Api Menguji Integritas

Bencana menuntut kita bergerak cepat menyelamatkan kehidupan, tetapi juga menguji integritas dalam menjaga amanah dan menyalurkan bantuan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 20:24

Bdg-GoX Dibangun, Kapan Warga Bandung Menikmati Internet Murah?

Akses digital bukan hanya persoalan ketersediaan jaringan, melainkan juga keterjangkauan ekonomi.

Ilustrasi Bandung Kota Digital dengan program  Bdg-Gox (Sumber: Ilustrasi di desain dengan ChatGPT oleh Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 19:47

Cangkoréh Awi Ngarambat

Ada jenis bambu yang merambat, yang dikenal, ada yang menyebutnya awi cangkoréh, ada juga yang menyebutnya awi cangkoré.

Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 16:33

Persembahan untuk Lembang

Lembang telah jatuh ke tangan para kapitalis, memaksakan berubah wujud, memeras keindahan alamnya, meluluhlantakkan kenangan hijau yang terpatri di benak warganya.

Persembahan saya untuk Lembang, tertuang dalam beberapa karya buku. (Foto: Malia)