Ramadan Setahun Sekali, Internet Setiap Hari

Ridwan Rustandi
Ditulis oleh Ridwan Rustandi diterbitkan Minggu 15 Mar 2026, 11:11 WIB
Animasi perempuan berjilbab yang memanfaatkan beragam platform media sosial untuk berbagai kepentingan (Sumber: pixabay | Foto: Mohame Hassan (Pixabay)

Animasi perempuan berjilbab yang memanfaatkan beragam platform media sosial untuk berbagai kepentingan (Sumber: pixabay | Foto: Mohame Hassan (Pixabay)

Tak dapat dipungkiri, dunia berubah dengan sangat cepat berkat teknologi internet. Internet telah mewujud menjadi mesin pencarian yang digunakan oleh berbagai kalangan manusia untuk beragam kebutuhan. Internet menawarkan keteraksesan pada beragam informasi dan pengetahuan. Bukan hanya informasi yang penting saja, tetapi juga informasi yang remeh dan renyah.

Bukan hanya perkara pengetahuan yang serius, tetapi juga pengetahuan yang menghibur. Bukan hanya pesan yang berorientasi positif, tetapi juga nada yang sumbang, negatif, bahkan mengarah pada pesan manipulasi dan kebenciaan. Bukan hanya konten yang bertanggung jawab, tetapi juga konten yang hanya mengejar viral.

Internet menjadi wajah teknologi masa kini yang menampilkan dua arus berlawanan. Satu sisi menawarkan kemudahan dan keteraksesan yang tiada berbatas. Di sisi lainnya, berpotensi mengakibatkan banjir informasi bahkan anomali pengetahuan. Internet menjadi agora peradaban manusia, tempat mereka mengekpresikan berbagai pemikiran, perasaan, pengalaman, dan tindakan.

Agora ini begitu ramai dikunjungi manusia dengan berbagai kepentingan. Dan di bulan ramadan, jumlah kunjungannya meningkat dengan signifikan. Data mencatat bahwa sejumlah 6 miliar orang sudah terhubung ke internet. Angka ini setara dengan 75 persen jumlah populasi dunia. Saat ini kira-kira ada 3 orang manusia dari 4 orang yang mengakses internet setiap hari.

Lonjakan Spiritualitas

Ilustrasi media sosial. (Sumber: Pexels/Pixabay)
Ilustrasi media sosial. (Sumber: Pexels/Pixabay)

Di bulan ramadan, lalu lintas (traffic) penggunaan internet meningkat dengan signifikan. Atmosfer pengguna dalam mengakses konten-konten keagamaan di internet dipandang dapat memenuhi kebutuhan spiritualitasnya. Internet menjadi ruang ‘spiritual surfing’ yang digunakan untuk berselancar mencari pengetahuan keagamaan. Bukan hanya pengetahuan, tetapi juga mewujud menjadi keyakinan dan tindakan beragama.

Ada lonjakan yang luar biasa selama bulan ramadan terhadap akses keagamaan di internet. Sebesar 340 persen peningkatan akses terhadap konten Islami di google selama ramadan. Sebesar 2,1 miliar rata-rata views konten ramadan yang diakses di bulan ramadan. 68 persen pemuda (generasi Y dan Z) yang menyatakan belajar agama melalui internet terutama media sosial di bulan ramadan.

Lonjakan ini dinamakan seasonal demand spike, sebuah lonjakan permintaan musiman yang bisa diprediksi dan dipersiapkan. Internet dapat dijakan wajah Islam masa kini, di mana pengguna melakukan safari ilmiah, bahkan ilahiah melalui platform ini. Ia akan mendapati menu keagamaan yang beragam yang disajikan oleh berbagai penyedia layanan. Lonjakan ini pula yang mendorong pengguna untuk berhenti pada scroll pencarian terakhir, ketika mendapati konten keagamaan yang sesuai seleranya.

Menariknya, lonjakan keteraksesan ini puncaknya terjadi pada bulan ramadan. Masa di mana energi spiritual tersebar dengan cepat. Waktu di saat atmosfer kebaikan terus meningkat. Ramadan mewujud menjadi fenomena budaya-spiritual terbesar di Indonesia yang juga merupakan fenomena digital religion yang luar biasa. Pencarian tentang ‘tata cara shalat yang benar,’ ‘makna surah Al-Fatihah,’ ‘amalan ramadan,’ melonjak ratusan persen. Orang-orang yang sebelas bulan sebelumnya tidak memikirkan agama, tiba-tiba terbuka dan lapar terhadap konten spiritual selama bulan ramadan.

Lonjakan ini adalah momentum yang harus dimanfaatkan oleh para juru dakwah untuk menampilkan semangat Islam yang aktual, friendly, dan menyenangkan. Sekalipun di saat bersamaan tidak menutup kemungkinan, di ruang yang persis sama terjadi lonjakan penyebaran konten hoaks keagamaan, narasi intoleran, pembingkaian ektremisme gerakan, diseminasi pesan-pesan kebenciaan, dan berbagai macam ancaman digital lainnya.

Boleh jadi karena para juru dakwah tidak menyuguhkan dakwah Islam yang atraktif dan berkualitas. Sehingga, para pengguna lebih tertarik pada pesan-pesan yang berorientasi pada perpecahan tinimbang persatuan. Salah mengartikan kedamaian sebagai pemaksaan ideologis. Tidak menampilkan keteladanan dalam bertindak, tetapi menunjukkan hinaan dan makian.

Permintaan terhadap konten-konten keagamaan harus dibarengi dengan akhlak juru dakwah yang utuh dalam memanfaatkan platform digital sebagai media dakwah. Jangan sampai frame yang terbentuk lebih menitikberatkan pada viralisasi konten dibanding risalah Islam itu sendiri. Jangan sampai menempatkan ukuran keberhasilan dakwah di internet hanya berdasar pada mengejar engagement. Berupaya meningkatkan jumlah views, likes, shares, dan comments tapi lupa bertangung jawab menyampaikan kebenaran itu sendiri.

Lonjakan permintaan konten spiritual ini harus disertai tanggung jawab dakwah digital yang bermartabat. Setidaknya terdapat tiga hal yang harus diperhatikan agar dakwah kita berorientasi pada kebaikan dan kebenaran, ud‘u ilā sabīli rabbika (Qs. 16: 125). Pertama, konten keagamaan yang disebar haruslah akurat secara keilmuan (Qs. 49: 6). setiap klaim tentang agama bisa diverifikasi sumbernya, tidak ada hadis palsu yang disebarkan sebagai sahih, tidak ada pendapat minoritas yang dipresentasikan sebagai konsensus ulama. Internet adalah ruang publik terbesar yang harus diisi dengan pengetahuan agama yang dapat divalidasi. Inilah tanggung jawab publik para juru dakwah yang tampil kepada khalayak.

Kedua, hendaknya para juru dakwah menempatkan audiens atau objek dakwahnya sebagai manusia yang berpikir, merasa dan memiliki motivasi untuk bertindak. Jangan menempatkan audiens sebagai robot yang tidak memiliki kehendak. Tugas da’i adalah memanusiakan manusia dengan beragam proses perjalanan kebaikannya. Tidak boleh ada penghakiman, tidak mesti melakukan pemaksaan (Qs. 02: 256). Da’i bertanggung jawab menyampaikan kebenaran dengan ketulusan, mengundang mereka untuk melangkah lebih jauh.

Ketiga, proses dakwah yang dilakukan harus menampilkan kesan undangan yang mengasyikan bukan justeru dipandang sebagai hinaan. Ruang digital adalah etalase dakwah yang menampilkan berbagai menu sajian keagamaan. Arena pertarungan ideologis yang akan berbenturan dengan berbagai motif kepentingan.

Baca Juga: Hayu Mudik?

Oleh karena itu, pesan keagamaan harus atraktif dan menarik. Ia harus membuat agama terasa seperti rumah yang hangat dan terbuka, bukan gedung yang berpenjaga dan penuh persyaratan untuk masuk. Nabi Muhammad Saw bersabda: yassirū wa lā tu‘assirū, wa basyshirū wa lā tunaffirū. Berilah kemudahan dan jangan mempersulit. Berilah kabar gembira dan jangan membuat mereka lari (HR. Bukhori & Muslim).

Ramadan hanya datang satu kali setiap tahun, sementara internet hadir setiap hari. Jadikan ramadan bukan hanya momen konsumsi konten keagamaan saja, tetapi sebagai momen produksi kebaikan yang nyata (al-khair) dan kebenaran yang bertanggung jawab (al-haq). Internet menunggu suara kebaikan terpancar dari mulut kita.

Tidak perlu suara yang sempurna, melainkan suara yang jujur, yang berakar dalam pengalaman nyata, yang bicara dari jiwa yang sedang benar-benar berjuang untuk menjadi lebih baik. Sebab sering kali, ketulusan lebih mampu menyentuh hati manusia daripada kesempurnaan kata-kata. Dan mungkin saja, dari satu kalimat yang lahir dari kejujuran itu, Allah menyalakan cahaya hidayah di hati seseorang yang sedang mencari jalan pulang. Termasuk mereka yang mencarinya di ruang-ruang kebisingan internet. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ridwan Rustandi
Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung

Berita Terkait

Ayo Netizen 15 Mar 2026, 08:21

Hayu Mudik?

Hayu Mudik?

News Update

Ayo Netizen 15 Mar 2026, 20:42

Catatan Seorang Pendengar Radio dari Continental ke K-Lite FM

Salah satu yang tetap bertahan hingga kini adalah Radio K-Lite FM Bandung.

Radio K-Lite FM beralamat di Jl. Sumur Bandung No. 12, tidak jauh dari Kampus ITB, Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Bandung 15 Mar 2026, 16:50

One-Set Jadi Primadona, Killua Warnai Persiapan Idulfitri dengan Konsep Simpel

Killua hadir dengan mengusung konsep kasual yang dirancang untuk menarik perhatian konsumen sekaligus menunjang gaya berpakaian sehari-hari.

Killua hadir dengan mengusung konsep kasual yang dirancang untuk menarik perhatian konsumen sekaligus menunjang gaya berpakaian sehari-hari. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 15 Mar 2026, 14:36

Ciri Malam Lailatul Qadar: Langit Tenang dan Matahari yang Malu-Malu

Inilah sinyal semesta tentang Lailatul Qadr.

ilustrasi malam Lailatul Qadr. (Sumber: Pixabay | Foto: Pixabay)
Ayo Netizen 15 Mar 2026, 11:11

Ramadan Setahun Sekali, Internet Setiap Hari

Di bulan ramadan, lalu lintas penggunaan internet meningkat signifikan.

Animasi perempuan berjilbab yang memanfaatkan beragam platform media sosial untuk berbagai kepentingan (Sumber: pixabay | Foto: Mohame Hassan (Pixabay)
Sejarah 15 Mar 2026, 09:55

Kematian Julius Caesar, Konspirasi Senat dan Tulah Kiamat Republik Roma

Pada 15 Maret 44 SM, Julius Caesar dibunuh oleh para senator di Curia Pompey. Peristiwa Ides of March ini bukan sekadar pembunuhan politik, tetapi juga awal runtuhnya Republik Roma.

The Death of Julius Caesar (1806) karya Vincenzo Camuccini (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 15 Mar 2026, 08:21

Hayu Mudik?

Mudik adalah momen langka untuk berkumpul dengan orang tua, saudara, dan keluarga dalam suasana Lebaran.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 14 Mar 2026, 18:04

Eco Enzyme dari Sampah Organik, Langkah Warga Jatihandap Tekan Sampah dan Hasilkan Produk Ramah Lingkungan

Sampah organik rumah tangga di Jatihandap, Bandung, diolah menjadi eco enzyme melalui proses fermentasi. Cairan ini membantu mengurangi timbunan sampah sekaligus menjadi bahan pembersih alami.

Galon air mineral bekas diisi sampah organik seperti kulit buah dan sisa sayuran yang akan difermentasi menjadi eco enzyme. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 14 Mar 2026, 09:57

Dari Botol Plastik jadi Tabungan Emas: Cara Warga Jatihandap Mengelola Sampah yang Bisa Ditiru

Bank Sampah Ikhtiar 15 di Jatihandap, Bandung, menghadirkan program tabungan emas dari sampah. Inovasi ini menjadi solusi lingkungan sekaligus peluang ekonomi warga.

Pengelola Bank Sampah Ikhtiar 15 Jatihandap, Kota Bandung, mencatat hasil timbangan sampah warga yang nantinya dapat dikonversi menjadi tabungan emas. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 13 Mar 2026, 20:45

Lebaran 'Fashion Show' Terbesar Setiap Tahun

Masyarakat terlihat memakai busana2 baru layaknya fashion show saat Lebaran.

Sejumlah pengunjung memilih pakaian di Pasar Baru Trade Center, Kota Bandung, Jumat 13 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 13 Mar 2026, 19:27

Memanfaatkan Hutan untuk Produksi Madu

Penangkaran lebah semi liar di Desa Cibodas dan Gunung Puntang, Kabupaten Bandung, memanfaatkan hutan sebagai sumber pakan alami.

Ilustrasi peternak madu.
Ayo Netizen 13 Mar 2026, 17:24

Lailatul Qadar, Malam yang Datang Tanpa Pengumuman

Lailatul Qadar adalah malam ketika alam berzikir dan manusia mendengar. Dalam keheningan penghambaan diri kepada Allah Swt, manusia tunduk menangkap sinyal-sinyal spiritual.

Ilustrasi seorang laki-laki memanjatkan doa, melatih kepekaan batinnya (Sumber: Pixabay | Foto: Mohammed Hassan, Pixabay)
Ayo Netizen 13 Mar 2026, 16:12

Es Bingu: Si Anak Baru yang Mengancam Tahta Es Campur di Meja Takjil

Es Bingu hadir sebagai pilihan takjil terbaru di Ramadan 2026.

Ilustrasi Es Bingu yang creamy dengan topping keju melimpah. (Sumber: ig@esubiungu_hamcida)
Linimasa 13 Mar 2026, 16:10

Dari Daendels hingga Pemudik, Sejarah Panjang Jalur Nagreg

Jalur Nagreg telah menjadi penghubung penting antara Bandung dan Priangan Timur sejak era kolonial. Dari jalan tanah zaman Daendels hingga jalan nasional modern, jalur ini terus menjadi urat nadi perj

Terowongan Nagreg
Ayo Netizen 13 Mar 2026, 15:28

Ketika Ramadhan Akan Berakhir

Tanpa terasa bulan Ramadhan telah memasuki fase sepuluh hari terakhir.

Sejumlah pengunjung memilih pakaian di Pasar Baru Trade Center, Kota Bandung, Jumat 13 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Mar 2026, 14:41

Mengenang ‘Takbiran’ Lawas di Masjid Tertua Sukamiskin Bandung 

Pesantren Sukamiskin lah yang akan saya kisahkan, yang merupakan salah satu pesantren tertua di Kota Bandung.

Pesantren Sukamiskin Bandung. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 13 Mar 2026, 13:18

Mewujudkan Kelayakan Bus Pemudik Lebaran

Pekerja transportasi garis depan semestinya diberikan tunjangan yang memadai, termasuk tunjangan lembur paling sedikit sesuai dengan peraturan.

Ilustrasi angkutan bus lebaran di Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Mar 2026, 11:14

Ulah Unggut Kalinduan Bila Dimaknai sebagai Upaya Mitigasi Gempa Bumi

Ada peribahasa Sunda ulah unggut kalinduan, ulah gedag kaanginan

Kampung Muril, Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Dari nama geografis ini menunjukkan kampung ini pernah diguncang gempabumi yang membuat pusing dan mual. (Sumber: Citra satelit: Google maps)
Sejarah 13 Mar 2026, 10:40

Jejak Kereta Api Bandung-Ciwidey di Soreang Kabupaten Bandung

Jembatan Sadu dan bekas Stasiun Soreang menjadi saksi kejayaan jalur kereta api Bandung–Ciwidey yang dibangun sejak 1917.

Jembatan Sadu, salah satu peninggalan eks rel kereta Soreang-Ciwidey. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 13 Mar 2026, 08:10

Bingkai Perang di Bulan Suci

Sebab nuansa perang, Ramadan 1447 H terasa berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

Peta Iran. (Sumber: Pexel | Foto: Lara Jameson)
Beranda 13 Mar 2026, 06:35

Marbot yang Merawat Masjid Setiap Hari dengan Honor Sejuta Rupiah

Selama lebih dari satu dekade, pria 60 tahun ini menjaga masjid di Kota Bandung—pekerjaan sunyi yang ia jalani dengan penghasilan sekitar Rp1 juta setiap bulan.

Didin menjalankan rutinitas membersihkan masjid. Selama lebih dari satu dekade ia bekerja sebagai marbot. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)