Tatkala THR bukan Lagi Tunjangan, tapi Tekanan Hari Raya

4 menit baca
Sukron Abdilah
Ditulis oleh Sukron Abdilah diterbitkan
Ilustrasi uang rupiah (Sumber: Pexels | Foto: Ahsanjaya)
Ilustrasi uang rupiah (Sumber: Pexels | Foto: Ahsanjaya)

Di Bandung, menjelang Hari Raya ada satu fenomena sosial yang selalu muncul seperti kabut pagi di Dago: THR. Secara resmi, singkatannya memang Tunjangan Hari Raya. Tapi bagi banyak orang—terutama mereka yang gajinya masih berkategori “cukup buat hidup, tapi hidupnya jangan terlalu banyak kegiatan”—THR sering berubah makna menjadi Tekanan Hari Raya.

Saya mulai menyadari hal ini suatu sore di Jalan berkelok dan nanjak di Cibiru. Hujan baru saja turun, motor parkir rapat seperti sarden yang sedang reuni keluarga. Di sebuah kafe kecil, saya membuka aplikasi mobile banking dengan harapan yang sangat manusiawi: melihat angka THR yang masuk.

Angkanya memang masuk. Masalahnya, keluarnya lebih cepat daripada masuknya. Belum juga sempat menikmati euforia finansial itu, pikiran saya sudah seperti spreadsheet Excel otomatis:

  • Zakat
  • Amplop keponakan
  • Amplop sepupu
  • Amplop anak tetangga yang tiba-tiba jadi akrab
  • Kue lebaran
  • Tiket pulang kampung
  • Bensin
  • Ujar keluarga di kampong, “Titip oleh-oleh dari Bandung dong!”

Dalam waktu lima menit, THR itu sudah berubah dari “bonus” menjadi proposal pengeluaran nasional versi keluarga besar. Di titik inilah saya teringat Viktor E. Frankl.

Ya, Viktor E. Frankl, psikiater Austria yang menulis Man’s Search for Meaning. Ia selamat dari kamp konsentrasi Nazi dan menyimpulkan satu gagasan besar: manusia bisa bertahan dari penderitaan selama ia menemukan makna di dalamnya.

Saya pun disertai dengan rumahuh  menutup aplikasi mobile banking itu dengan perasaan filosofis. “Huh, jadi begini rasanya eksperimen logoterapi itu,” gumam saya.

Bandung dan Drama THR

Bandung punya cara unik memperlihatkan tekanan Hari Raya. Di Jalan Pasteur, mobil antre seperti sedang ikut audisi kesabaran nasional. Orang-orang yang biasanya santai minum kopi di Ciumbuleuit tiba-tiba berubah menjadi logistik manager keluarga.

Teman saya, Rian, contohnya. Dia berkata dengan wajah serius di sebuah warung seblak dekat kampus: “Gue baru sadar, THR itu bukan uang tambahan. Itu cuma uang yang dititipkan Tuhan untuk orang lain lewat rekening kita.”

Saya terdiam. Hmmm…betul juga sih, pendapatnya edun! Ini kalimat yang kalau diucapkan di seminar motivasi mungkin akan dapat tepuk tangan panjang. Tapi di warung seblak, kalimat itu terdengar seperti pengakuan korban sistem sosial Lebaran.

Kami kemudian menghitung bersama. THR Rian: sekian juta. Total kewajiban Lebaran: hampir sama. Sisanya? Cukup untuk membeli cireng satu paket keluarga.

pecahan uang rupiah. (Sumber: Pexels/Noval Gani)
pecahan uang rupiah. (Sumber: Pexels/Noval Gani)

Vicktor E Frankl menulis bahwa manusia selalu punya kebebasan terakhir: memilih sikap terhadap keadaan hidupnya. Kalimat ini terasa sangat filosofis sampai Anda berada di ruang tamu saat Lebaran dan ada lima keponakan berdiri di depan Anda sambil berkata:

“Om, THR-nya mana?”

Mereka tidak mengatakannya dengan nada memaksa. Justru dengan wajah polos yang membuat Anda merasa seperti bendahara negara yang sedang diaudit publik.

Di momen seperti itu, saya mencoba mempraktikkan logoterapi-nya Frankl. Ia mengatakan penderitaan tanpa makna akan terasa menyiksa. Tapi penderitaan yang punya makna bisa diterima.

Jadi saya mulai berpikir: Amplop-amplop itu mungkin bukan sekadar uang. Mungkin itu ritual sosial kecil yang menjaga hubungan keluarga tetap hangat. Atau minimal… tetap saling menyapa di grup WhatsApp keluarga.

Itulah makna hidup sejati, ya…bukan sejati merek rokok!

Bandung dan Ironi Tekanan Hari Raya

Bandung selalu punya ironi yang lucu. Di satu sisi, kota ini penuh tempat nongkrong estetik. Kopi single origin, croissant artisan, dan interior industrial minimalis.

Di sisi lain, menjelang Lebaran semua orang kembali ke kenyataan yang sangat tradisional: amplop cokelat.

Tidak peduli seberapa modern hidup kita. Pada akhirnya kita tetap duduk di ruang tamu, mendengar: “Kerja di mana sekarang?”, “Gajinya berapa?”, dan pertanyaan interogatif terakhir, “Kapan nikah?”

Kalau Frankl hidup di Bandung, mungkin dia akan menulis bab tambahan di bukunya: “Man’s Search for Meaning… During Family Gatherings.”

Setelah beberapa tahun melewati siklus THR—euforia, perhitungan, kepanikan ringan—saya mulai memahami sesuatu. Ya, sesuatu itu Tekanan Hari Raya sebenarnya bukan cuma soal uang. Itu tentang ekspektasi sosial.

Tentang ingin terlihat cukup berhasil di depan keluarga. Tentang keinginan memberi, meskipun kadang kondisi kita juga sedang menghitung cicilan.

Namun di situlah paradoksnya. Vicktor E Frankl percaya manusia menemukan makna lewat tiga hal:

  1. Karya atau kontribusi
  2. Cinta atau hubungan
  3. Cara kita menghadapi penderitaan

Lebaran diam-diam mengandung ketiganya. Kita bekerja sepanjang tahun (karya). Kita pulang bertemu keluarga (hubungan). Dan kita bertahan menghadapi saldo yang tiba-tiba minimalis (penderitaan ringan yang filosofis).

Nggak kerasa, malam itu di Bandung udaranya dingin banget turun dari arah Lembang. Lampu-lampu kota terlihat seperti taburan bintang yang terlalu malas naik ke langit.

Saya kembali membuka aplikasi bank. Saldo memang menurun. Tapi anehnya, perasaan tidak terlalu buruk. Mungkin karena saya akhirnya memahami sesuatu:

THR memang bisa menjadi Tekanan Hari Raya. Tapi justru di situlah kita diingatkan bahwa hidup bukan hanya soal menyimpan, melainkan juga berbagi.

Dan kalau pun setelah Lebaran dompet terasa lebih ringan…setidaknya hati kita sedikit lebih penuh. Walaupun, tentu saja, bulan depan tetap harus kembali kerja keras.

Karena makna hidup menurut Vicktor E Frankl itu penting. Tapi bayar cicilan juga tidak kalah penting.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:10

Bandung Menuju Kota Digital Aman

Kota yang benar-benar cerdas bukan hanya kota yang mampu mengadopsi teknologi terbaru, melainkan yang mampu melindungi warganya.

Ilustrasi layanan digital. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Biz 01 Nov 2026, 15:21

Lahan Sempit di Kota Bandung Disulap Jadi Kebun Produktif, Hasilnya untuk Warga

Sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae.

Pada Jumat, 30 Oktober 2026, sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 20:39

Stop The Wedding: Tren Perempuan yang Membagikan Cerita Traumatis Pernikahan

Apakah perempuan benar-benar takut menikah karena tidak menemukan urgensinya atau hanya takut karena tren "Stop The Wedding" yang sedang beredar di media sosial

Stop the Wedding sedang menjadi headline di media sosial yang mengangkat pengalaman buruk perempuan dalam pernikahan (Sumber: Ilustrasi Gambar AI)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 19:15

Bandung Akan Terkena Asap Pekat Karhutla

Nafsu-nafsu tidak terkendali untuk menguasai hutan bisa menyebabkan semua wilayah terkena dampak asap pekat kebakaran hutan dan lahan termasuk Kota Bandung

Penanganan karhutla. (Sumber: Kementerian Kehutanan)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 17:11

Merancang Kawasan Hunian untuk Mobilitas Berkelanjutan

Integrasi tata ruang dan transportasi dalam pengembangan kawasan hunian melalui akses berjalan kaki, bersepeda, dan angkutan umum untuk mewujudkan mobilitas yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Halte bus yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian angkutan umum di kawasan hunian. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 16:31

Korupsi di Negeri Bencana

Korupsi di BNPB yang dilakukan oleh oknum, merupakan perbuatan yang biadab.

SDN 1 Babakan Talang di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat hancur akibat bencana pergerakan tanah , Senin 4 Maret 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 15:17

Ketika Api Menguji Integritas

Bencana menuntut kita bergerak cepat menyelamatkan kehidupan, tetapi juga menguji integritas dalam menjaga amanah dan menyalurkan bantuan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 20:24

Bdg-GoX Dibangun, Kapan Warga Bandung Menikmati Internet Murah?

Akses digital bukan hanya persoalan ketersediaan jaringan, melainkan juga keterjangkauan ekonomi.

Ilustrasi Bandung Kota Digital dengan program  Bdg-Gox (Sumber: Ilustrasi di desain dengan ChatGPT oleh Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 19:47

Cangkoréh Awi Ngarambat

Ada jenis bambu yang merambat, yang dikenal, ada yang menyebutnya awi cangkoréh, ada juga yang menyebutnya awi cangkoré.

Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 16:33

Persembahan untuk Lembang

Lembang telah jatuh ke tangan para kapitalis, memaksakan berubah wujud, memeras keindahan alamnya, meluluhlantakkan kenangan hijau yang terpatri di benak warganya.

Persembahan saya untuk Lembang, tertuang dalam beberapa karya buku. (Foto: Malia)