Tatkala THR bukan Lagi Tunjangan, tapi Tekanan Hari Raya

Sukron Abdilah
Ditulis oleh Sukron Abdilah diterbitkan Senin 16 Mar 2026, 09:23 WIB
Ilustrasi uang rupiah (Sumber: Pexels | Foto: Ahsanjaya)

Ilustrasi uang rupiah (Sumber: Pexels | Foto: Ahsanjaya)

Di Bandung, menjelang Hari Raya ada satu fenomena sosial yang selalu muncul seperti kabut pagi di Dago: THR. Secara resmi, singkatannya memang Tunjangan Hari Raya. Tapi bagi banyak orang—terutama mereka yang gajinya masih berkategori “cukup buat hidup, tapi hidupnya jangan terlalu banyak kegiatan”—THR sering berubah makna menjadi Tekanan Hari Raya.

Saya mulai menyadari hal ini suatu sore di Jalan berkelok dan nanjak di Cibiru. Hujan baru saja turun, motor parkir rapat seperti sarden yang sedang reuni keluarga. Di sebuah kafe kecil, saya membuka aplikasi mobile banking dengan harapan yang sangat manusiawi: melihat angka THR yang masuk.

Angkanya memang masuk. Masalahnya, keluarnya lebih cepat daripada masuknya. Belum juga sempat menikmati euforia finansial itu, pikiran saya sudah seperti spreadsheet Excel otomatis:

  • Zakat
  • Amplop keponakan
  • Amplop sepupu
  • Amplop anak tetangga yang tiba-tiba jadi akrab
  • Kue lebaran
  • Tiket pulang kampung
  • Bensin
  • Ujar keluarga di kampong, “Titip oleh-oleh dari Bandung dong!”

Dalam waktu lima menit, THR itu sudah berubah dari “bonus” menjadi proposal pengeluaran nasional versi keluarga besar. Di titik inilah saya teringat Viktor E. Frankl.

Ya, Viktor E. Frankl, psikiater Austria yang menulis Man’s Search for Meaning. Ia selamat dari kamp konsentrasi Nazi dan menyimpulkan satu gagasan besar: manusia bisa bertahan dari penderitaan selama ia menemukan makna di dalamnya.

Saya pun disertai dengan rumahuh  menutup aplikasi mobile banking itu dengan perasaan filosofis. “Huh, jadi begini rasanya eksperimen logoterapi itu,” gumam saya.

Bandung dan Drama THR

Bandung punya cara unik memperlihatkan tekanan Hari Raya. Di Jalan Pasteur, mobil antre seperti sedang ikut audisi kesabaran nasional. Orang-orang yang biasanya santai minum kopi di Ciumbuleuit tiba-tiba berubah menjadi logistik manager keluarga.

Teman saya, Rian, contohnya. Dia berkata dengan wajah serius di sebuah warung seblak dekat kampus: “Gue baru sadar, THR itu bukan uang tambahan. Itu cuma uang yang dititipkan Tuhan untuk orang lain lewat rekening kita.”

Saya terdiam. Hmmm…betul juga sih, pendapatnya edun! Ini kalimat yang kalau diucapkan di seminar motivasi mungkin akan dapat tepuk tangan panjang. Tapi di warung seblak, kalimat itu terdengar seperti pengakuan korban sistem sosial Lebaran.

Kami kemudian menghitung bersama. THR Rian: sekian juta. Total kewajiban Lebaran: hampir sama. Sisanya? Cukup untuk membeli cireng satu paket keluarga.

pecahan uang rupiah. (Sumber: Pexels/Noval Gani)
pecahan uang rupiah. (Sumber: Pexels/Noval Gani)

Vicktor E Frankl menulis bahwa manusia selalu punya kebebasan terakhir: memilih sikap terhadap keadaan hidupnya. Kalimat ini terasa sangat filosofis sampai Anda berada di ruang tamu saat Lebaran dan ada lima keponakan berdiri di depan Anda sambil berkata:

“Om, THR-nya mana?”

Mereka tidak mengatakannya dengan nada memaksa. Justru dengan wajah polos yang membuat Anda merasa seperti bendahara negara yang sedang diaudit publik.

Di momen seperti itu, saya mencoba mempraktikkan logoterapi-nya Frankl. Ia mengatakan penderitaan tanpa makna akan terasa menyiksa. Tapi penderitaan yang punya makna bisa diterima.

Jadi saya mulai berpikir: Amplop-amplop itu mungkin bukan sekadar uang. Mungkin itu ritual sosial kecil yang menjaga hubungan keluarga tetap hangat. Atau minimal… tetap saling menyapa di grup WhatsApp keluarga.

Itulah makna hidup sejati, ya…bukan sejati merek rokok!

Bandung dan Ironi Tekanan Hari Raya

Bandung selalu punya ironi yang lucu. Di satu sisi, kota ini penuh tempat nongkrong estetik. Kopi single origin, croissant artisan, dan interior industrial minimalis.

Di sisi lain, menjelang Lebaran semua orang kembali ke kenyataan yang sangat tradisional: amplop cokelat.

Tidak peduli seberapa modern hidup kita. Pada akhirnya kita tetap duduk di ruang tamu, mendengar: “Kerja di mana sekarang?”, “Gajinya berapa?”, dan pertanyaan interogatif terakhir, “Kapan nikah?”

Kalau Frankl hidup di Bandung, mungkin dia akan menulis bab tambahan di bukunya: “Man’s Search for Meaning… During Family Gatherings.”

Setelah beberapa tahun melewati siklus THR—euforia, perhitungan, kepanikan ringan—saya mulai memahami sesuatu. Ya, sesuatu itu Tekanan Hari Raya sebenarnya bukan cuma soal uang. Itu tentang ekspektasi sosial.

Tentang ingin terlihat cukup berhasil di depan keluarga. Tentang keinginan memberi, meskipun kadang kondisi kita juga sedang menghitung cicilan.

Namun di situlah paradoksnya. Vicktor E Frankl percaya manusia menemukan makna lewat tiga hal:

  1. Karya atau kontribusi
  2. Cinta atau hubungan
  3. Cara kita menghadapi penderitaan

Lebaran diam-diam mengandung ketiganya. Kita bekerja sepanjang tahun (karya). Kita pulang bertemu keluarga (hubungan). Dan kita bertahan menghadapi saldo yang tiba-tiba minimalis (penderitaan ringan yang filosofis).

Nggak kerasa, malam itu di Bandung udaranya dingin banget turun dari arah Lembang. Lampu-lampu kota terlihat seperti taburan bintang yang terlalu malas naik ke langit.

Saya kembali membuka aplikasi bank. Saldo memang menurun. Tapi anehnya, perasaan tidak terlalu buruk. Mungkin karena saya akhirnya memahami sesuatu:

THR memang bisa menjadi Tekanan Hari Raya. Tapi justru di situlah kita diingatkan bahwa hidup bukan hanya soal menyimpan, melainkan juga berbagi.

Dan kalau pun setelah Lebaran dompet terasa lebih ringan…setidaknya hati kita sedikit lebih penuh. Walaupun, tentu saja, bulan depan tetap harus kembali kerja keras.

Karena makna hidup menurut Vicktor E Frankl itu penting. Tapi bayar cicilan juga tidak kalah penting.

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Sukron Abdilah
Peneliti Pusat Studi Media Digital dan Kebijakan Publik Universitas Muhammadiyah Bandung

Berita Terkait

Ayo Netizen 12 Mar 2026, 16:07

Cik, THR-na?

Cik, THR-na?

News Update

Ayo Netizen 30 Apr 2026, 20:12

Tema Ayo Netizen Mei 2026: Bersabar, Bekerja, dan Berkorban demi Hidup di Bandung

Mei bukan sekadar bulan kelima dalam kalender. Di Bandung, Mei adalah bulan yang sesak.

Keluarga korban longsor Cisarua menangis usai mendengar informasi salah satu keluarganya ditemukan. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Mayantara 30 Apr 2026, 18:41

Kehidupan Sehari-hari sebagai ‘Arsip’

Internet tidak hanya membangun hubungan kolaboratif antar-pengguna secara individual, tetapi juga “merekam” serangkaian tindakan online kita setiap hari.

Internet tidak hanya membangun hubungan kolaboratif antar-pengguna secara individual, tetapi juga “merekam” serangkaian tindakan online kita setiap hari. (Sumber: Pexels | Foto: Şevval Pirinççi)
Wisata & Kuliner 30 Apr 2026, 18:00

Panduan Wisata Curug Citambur, Eksotisme Tersembunyi di Cianjur Selatan

Panduan wisata Curug Citambur, air terjun 130 meter di Cianjur Selatan, lengkap rute, tiket, dan tips berkunjung.

Curug Citambur. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 30 Apr 2026, 17:12

Menakar Geliat Inovasi di Lereng Subang: Tinjauan Kritis atas Transformasi Ekonomi Berbasis Kopi

Dalam konstelasi perdagangan global, kopi bukan sekadar komoditas penyegar, melainkan instrumen strategis yang menentukan posisi tawar sebuah negara.

Buku "Geliat Desa Membangun Inovasi Kopi Subang: Status Quo" (Sumber: BRIN)
Ayo Netizen 30 Apr 2026, 15:30

Jalan Nasional Rasa Jalan Lokal: Mengapa Macet dan Kecelakaan Terus Terjadi di Koridor Caringin–Cimahi?

Kemacetan dan kecelakaan bukan sekadar ulah pengguna, tetapi akibat kegagalan sistem: akses tak terkendali, hambatan samping tinggi, dan simpang tanpa pengaturan yang andal.

Kepadatan arus lalu lintas di Jalan Raya Cimareme, Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung.com/Restu Nugraha)
Beranda 30 Apr 2026, 14:59

Hadapi Kemarau Panjang dan Risiko Kebakaran, Diskar Kota Bandung Fokus Perkuat Sumber Air

Diskar PB Kota Bandung perkuat akses sumber air melalui pemetaan hidran dan kolam retensi guna pastikan penanganan kebakaran yang cepat dan efektif selama musim kemarau panjang.

Petugas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bandung melakukan pendinginan pada kios material barang bekas yang terbakar di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Kamis 26 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Apr 2026, 11:30

Panduan Lengkap Penggunaan Partikel dalam Bahasa Indonesia

Panduan praktis agar tidak lagi ragu saat menuliskan partikel-partikel bahasa.

Partikel dalam bahasa Indonesia. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 30 Apr 2026, 11:17

Kuliner Soto Bongko Sumedang, Sarapan Ratusan Tahun yang Bertahan di Balik Bayang Tahu

Sarapan khas Sumedang ini menawarkan kuah santan gurih, lontong besar, dan tahu Sumedang dalam tradisi pagi yang bertahan sejak ratusan tahun.

Kuliner Soto Bongko Sumedang. (Sumber: Instagram @sajiansedap)
Wisata & Kuliner 30 Apr 2026, 11:17

Hikayat Opak, Camilan Tradisional yang Masih Bertahan Bahkan Menjadi Ciri Khas

Opak Sukamanah dibuat turun-temurun dengan resep rahasia. Pulen, gurih, dan jadi andalan oleh-oleh khas Bandung.

Opak di Kampun Sukamanah, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 30 Apr 2026, 09:27

Dari Bekasi untuk Evaluasi: Keselamatan KRL Bukan Soal Posisi Gerbong

Tragedi di Stasiun Bekasi Timur menyoroti bahwa keselamatan KRL bukan soal posisi gerbong, melainkan tentang keandalan sistem perkeretaapian dalam mencegah kecelakaan dan melindungi seluruh penumpang.

Stasiun Bekasi Timur. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Fikri RA)
Wisata & Kuliner 29 Apr 2026, 20:34

Wisata Pantai Karangsong, Tamasya Santai di Pesisir Utara Jawa Barat

Panduan lengkap Pantai Karangsong Indramayu dengan info lokasi, biaya masuk, wisata mangrove, serta pengalaman menikmati pantai di pesisir utara.

Pantai Karangsong Indramayu. (Sumber: Ayomedia)
Beranda 29 Apr 2026, 18:48

Mereka yang Agamanya Pernah ‘Dihapus’ dari KTP, Kini Gencar Menebar Hal Baik

Hidup pada masa Orde Baru tidaklah mudah. Terutama jika keturunan Tionghoa dan beragama Konghucu.

Fam Kiun Fat yang akrab disapa Akiun, salah satu tokoh Tionghoa dan Konghucu ternama di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 29 Apr 2026, 16:54

Kota ini Tak Lagi Sama(Pah) Tanpamu

Tidak ada langkah yang lebih realistis untuk mengatasi masalah sampah di Kota Bandung selain mengendalikan petugas pengelola sampah dan terus mengedukasi masyarakat

Gunungan Sampah di TPST Batununggal Bandung. Rabu, 29 April 2026 (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 29 Apr 2026, 15:35

Heritage: Mana yang Usang, Mana yang (harus) Terbuang

Konsep warisan kita sangat dibentuk oleh kolonialisme. Oleh karena itu, tulisan ini jadi ajakan dekonstruksi warisan yang elitis menjadi lebih inklusif, emansipatif, dan adil bagi pemilik properti.

Gedung-gedung peninggalan masa kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Unsplash | Foto: Neermana Studio)
Beranda 29 Apr 2026, 15:16

Biaya Mahal yang Harus Dikeluarkan Setiap Hari untuk Mengurus Sampah Kota Bandung

Kelola ribuan ton sampah setiap hari, Kota Bandung harus mengeluarkan ribuan liter BBM demi memastikan ratusan armada pengangkut tetap bergerak menyisir lingkungan warga.

"Gunung"sampah di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Dakota di Jl. Gunung Batu, Sukaraja, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung pada Jumat, 7 November 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Bandung 29 Apr 2026, 15:05

Tren Intimate Wedding di Bandung, Afrodite WO: Tonjolkan Karakter Pengantin dan Kesesuaian Venue

Tren pernikahan bergeser ke arah privat dan personal. Afrodite Wedding Organizer Bandung ungkap pentingnya menyesuaikan venue dengan karakter pengantin dibandingkan sekadar mengejar keviralan.

Tren pernikahan bergeser ke arah privat dan personal. Afrodite Wedding Organizer Bandung ungkap pentingnya menyesuaikan venue dengan karakter pengantin dibandingkan sekadar mengejar keviralan. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 29 Apr 2026, 13:36

Dari Pesantren ke Panggung Nasional: Perjalanan Hayyun Halimatul Ummah Menjadi Duta Santri

Kisah Hayyun Halimatul Ummah, santri dari keluarga sederhana yang menembus Duta Santri Nasional lewat ketekunan, keberanian, dan tekad untuk bermanfaat.

Hayyun Halimatul Ummah ketika dinobatkan sebagai Duta Santri Nasional pada malam grand final. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Wisata & Kuliner 29 Apr 2026, 13:34

Panduan Wisata Pemandian Cipanas Garut, Pilih Tempat Sesuai Gaya Liburanmu di Kaki Gunung Guntur

Panduan wisata Cipanas Garut, mengulas sejarah dua abad, sumber air panas alami, serta pilihan pemandian dan resort terbaik di kaki Gunung Guntur.

Kawasan Wisata Cipanas Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Beranda 29 Apr 2026, 10:30

Beban Berat Pengangkutan Sampah di Kota Bandung, Sehari Habiskan BBM Setara 457 Galon Air Mineral

Setiap hari, bahan bakar yang dipakai untuk mengangkut sampah di Bandung setara ratusan galon air minum. Jumlah ini menggambarkan betapa besar energi yang dibutuhkan hanya untuk menjaga kota tetap ber

Aktivitas pengangkutan sampah menuju TPA Sarimukti di Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB) pada Selasa 6 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Restu Nugraha Sauqi)
Beranda 29 Apr 2026, 09:15

Kota Bandung Kewalahan Hadapi 1.500 Ton Sampah per Hari, Armada Tertahan, TPA Kian Tertekan

Bandung menghadapi lonjakan sampah hingga 1.500 ton per hari. Armada tersendat akibat antrean dan kuota TPA, membuat pengangkutan melambat dan tumpukan sampah kian meluas.

Truk sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung sedang mengangkut sampah pada 18 November 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Bob Yanuar Muslim)