Cik, THR-na?

7 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Tunjangan Hari Raya (THR) (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Magang Foto/Rasyad Yahdiyan)
Tunjangan Hari Raya (THR) (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Magang Foto/Rasyad Yahdiyan)

Seorang kawan datang menghampiri tanpa banyak basa-basi. Langsung “tancap gas” dengan pertanyaan yang terdengar akrab di telinga setiap akhir Ramadan, 

“Cik, mana THR-na? Aya meureun?”

“Kaleresan nu aya mah… ieu,” kataku sambil menunjuk kaleng Khong Guan yang tepat ada di depan meja.

Laki-laki bertubuh gemuk tertawa lepas. “Alah, éta mah lain kueh… tapi rangginang!” ujarnya berseloroh, khas candaan yang sering muncul setiap kali kaleng legendaris itu dibuka.

”Apalah aku yang cuma remahan rengginang di kaleng Khong Guan…” (Sumber: Instagram @kompasmuda)

Jejak dan Berkah Kebijakan Soekiman

Memang di minggu-minggu terakhir Ramadan beberapa kerabat mengirim pesan WhatsApp, dulu SMS (Short Message Service) singkat, "Pak, jangan lupa THR-nya ya." Ada yang dijawab langsung, ada pula yang tidak, sebab sebagiannya hanya bercanda karena tidak layak untuk mendapatkan THR.

Begitulah keseharian kita di Indonesia setiap kali jelang lebaran, kata THR yang sesungguhnya akronim dari "Tunjangan Hari Raya" menjadi kata dan singkatan yang sangat populer. Walaupun sesungguhnya THR ini hanya berlaku bagi pekerja, baik sebagai pegawai negeri sipil (PNS), pegawai swasta, pegawai tetap maupun honor dan harian, untuk PNS THR ini kerap dibilangnya gaji ke-13 sebab dalam setahun memang hanya 12 kali saja gajian sesuai bulan dalam kelender miladia.

Uniknya, di hari-hari jelang lebaran, semua pemberian dalam bentuk uang dimaknai sebagai THR, termasuk sedekah ke orang perorang, infak, dan sebagainya. Jadi, THR sudah menjadi pesan umum di negeri ini, tidak lagi berkenaan dengan pekerjaan saja tapi siapa pun termasuk secara perorangan yang memberikan sedekah ke orang-orang.

Para saudagar yang saban tahun mengumpulkan orang-orang yang kurang mampu di depan rumahnya kemudian membagi-bagikan uang dalam amplop dalam bentuk sedekah kerap dibilang THR. Tapi THR sebagai sebuah kegiatan memberi dan diberi di setiap menyambut Idulfitri tidaklah dipersoalkan, bahkan telah menjadi sebuah kebiasaan yang baik, sebab mengundang orang-orang untuk bersedekah di akhir-akhir bulan pengampunan itu.

Ilustrasi - Perusahaan di Kota Bandung wajib membayar THR kepada buruhnya. Bakal kena sanksi ini jika melanggar. (Sumber: djpb.kemenkeu.go.id)

Anak-anaknya hingga mereka sudah dapat mengeluarkan THR sendiri masih kerap meminta THR pada kedua orangtuanya. Jadi perkembangannya kemudian menjadi kebiasaan yang positif.

Berkenaan dengan pemberian THR yang sesungguhnya, kepada karyawan swasta, itu telah diatur dalam sebuah aturan pemerintah dengan sangat apik. Jadi siapa pun pengusaha mesti tunduk dengan aturan tersebut.

Menyiapkannya jauh hari sebelum hari raya Idulfitri termasuk hari raya agama lainnya. Karena jumlahnya cukup besar sama dengan memberi satu bulan gaji karyawan, maka di situlah sesungguhnya sebuah perusahaan harus pandai-pandai memenej keuangannya, hingga kala tiba waktunya tidak ada alasan untuk mengurungkan pemberian THR itu.

Pada dasarnya, pengaturan mengenai pekerja secara umum diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (UU Ketenagakerjaan). Namun ketentuan mengenai Tunjangan Hari Raya Keagamaan atau THR tidak diatur dalam UU Ketenagakerjaan, melainkan secara khusus diatur dalam Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 6 Tahun 2016 tentang Tunjangan Hari Raya Keagamaan bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan (Permenaker 6/2016). 

Tunjangan Hari Raya Keagamaan (THR) adalah pendapatan non upah yang wajib dibayarkan oleh Pengusaha kepada pekerja, buruh (keluarganya) menjelang Hari Raya Keagamaan. THR ini wajib dibayarkan paling lambat tujuh hari sebelum hari raya keagamaan.

Karyawan yang telah mempunyai masa kerja satu bulan, berdasarkan ketentuan Permenaker 6/2016, berhak mendapatkan THR dengan perhitungan proporsional. Cara menghitung besaran THR yaitu:

a. Pekerja/buruh yang telah mempunyai masa kerja 12 (dua belas) bulan secara terus-menerus atau lebih, diberikan sebesar 1 (satu) bulan upah;

b. Pekerja/buruh yang mempunyai masa kerja 1 (satu) bulan secara terus-menerus tetapi kurang dari 12 (dua belas) bulan, diberikan secara proporsional sesuai masa kerja dengan perhitungan: masa kerja x 1 (satu) bulan upah 12.

Ini artinya, yang telah memiliki masa kerja selama 1,3 tahun dan berhak mendapat THR penuh sebesar satu bulan gaji.

Upah 1 (satu) bulan yang dimaksud itu terdiri atas komponen upah: a. upah tanpa tunjangan yang merupakan upah bersih (clean wages); atau b. upah pokok termasuk tunjangan tetap. (Abdul Rasyid Idris, 2024:134-136)

Semua ini berkat kebijakan Perdana Menteri Soekiman Wirjosandjojo yang mencetuskan kebijakan Tunjangan Hari Raya (THR) pada tahun 1951 untuk meningkatkan kesejahteraan aparatur negara (Pamong Praja).

Sesuai dengan janjinya hendak melaksanakan rencana kemakmuran nasional dalam jangka pendek untuk mempertinggi kehidupan sosial ekonomi rakyat, Kabinet Soekiman dikenal sebagai kabinet yang pemurah dalam hal keuangan bagi para pegawai negeri.

Kebijakan Soekiman yang sangat popular, bahkan terus dipertahan kan hingga saat ini, walaupun sempat dihentikan sementara di masa Kabinet Wilopo, adalah pemberian Tunjangan Hari Raya (THR). Soekiman memberikan bonus kepada para abdi negara menjelang Idulfitri yang saat itu jatuh pada awal Juli 1951 sebesar Rp 125,00 hingga Rp 200,00 untuk setiap orang. Pada masa Soekiman memerintah, para pegawai memperoleh tunjangan beras yang cukup untuk satu bulan. (Lukman Hakiem, 2022:295)

Ilustrasi uang rupiah (Sumber: Pexels | Foto: Ahsanjaya)
Ilustrasi uang rupiah (Sumber: Pexels | Foto: Ahsanjaya)

Dinamika dan Paradoks Tekanan Hari Raya

Seiring dengan semakin dekatnya waktu lebaran, maka Tunjangan Hari Raya (THR) menjadi hal yang ditunggu oleh setiap pegawai pada berbagai instansi. Menteri Tenaga Kerja (Menaker) meminta agar setiap perusahaan memberikan THR kepada setiap karyawannya sepuluh hari sebelum waktu lebaran.

Saat ini para karyawan sedang menunggu-nunggu THR karena mereka membutuhkannya ditambah mereka pun akan mudik ke kampung halaman. Ketika mudik, para pemudik tak ubahnya pahlawan yang pulang dari medan perang dan membawa kabar THR untuk keluarga di kampung.

Tidak dapat dipungkiri, lebaran di samping menjadi sebuah hari yang membahagiakan dan ditunggu-tunggu, justru menjadi tekanan karena saat lebaran seolah harus ada, serba ada, serba baru, bahkan diada-adakan. Bukan hanya diri yang dipercantik dengan pakaian dengan pakaian, sepatu, sandal, dan sepatu baru, rumah juga dipercantik. Malu atuh kalau nanti pas ada tamu datang ke rumah, cat rumah masih bladus.

Keinginan anak untuk setahun sekali membahagiakan orang tua dan sanak saudara mendorong tingginya kebutuhan lebaran. Selain jauh-jauh hari sudah menabung, mereka pun mengharapkkan THR dari kantor tempatnya bekerja. Walau demikian, tentunya harus digunakan secara bijak, karena kebutuhan hidup bukan hanya pada saat lebaran saja, setelah lebaran pun kebutuhan pasti ada.

THR (Tunjangan Hari Raya), jika melihat kepada fenomena yang terjadi di masyarakat, berubah menjadi Tekanan Hari Raya. Pemimpin perusahaan dan instansi di samping harus memberikan THR kepada para karyawannya, sangat tertekan oleh permintaan THR dari "tamu-tamu" yang datang untuk "bersilaturahmi". Oleh karena itu, mereka harus menyiapkan anggaran yang tidak sedikit.

Secara psikologis, masyarakat tertekan dengan adanya istilah THR, sehingga yang tidak bekerja, bukan karyawan, tetap meminta THR kepada pihak yang dinilainya mampu. Anak meminta THR kepada orang tua, adik meminta THR kepada kakak-kakaknya, kolega meminta THR kepada temannya yang sudah mapan, dan pelanggan meminta THR kepada pedagang langganannya.

THR selain sebuah kewajiban normatif pengusaha, pimpinan instansi, sudah menjadi budaya dan kebiasaan yang hanya ada pada saat lebaran. Pada bulan-bulan lain tidak ada. Tidak dapat dipungkiri hal itu menjadi berkah karena dapat menambah dana kebutuhan lebaran.

Siapa yang sering mengalami kejadian yang samaa? (Sumber: Instagram @divaswalayan)
Siapa yang sering mengalami kejadian yang samaa? (Sumber: Instagram @divaswalayan)

Gara-gara" urusan THR, maka ibadah Ramadan menjadi terganggu, kurang fokus, kesakralan dan kesucian Ramadan mulai berkurang. Orang-orang berpacu mengejar setoran mengumpulkan bekal lebaran. Malam lailatulkadar dan keutamaan sepuluh malam terakhir sebagai malam pembebasan dari api neraka kurang begitu memikat, meski ada sebagian yang masih berusaha dan berjuang untuk istikamah dalam beribadah di bulan Ramadan.

Jika ditelaah lebih jauh, justru lailatukadar adalah "THR" yang paling istimewa yang diberikan Allah kepada setiap hamba-Nya pada bulan Ramadan, hanya memang tantangan dan godaannya pun sangat besar. Hanya orang-orang yang keimanannya benar-benar kuat dan terpilih yang akan mendapatkannya.

Di tengah godaan THR di akhir Ramadan yang semakin deras, umat Islam yang berpuasa diberikan kemampuan untuk senantiasa melaksanakan ibadah-ibadah Ramadan sampai mendapatkan kemenangan dan meraih predikat muttaqiin, orang yang bertakwa sebagai tujuan berpuasa. (Idris Apandi, 2018:19-21).

Baca Juga: Dadang Adnan Dahlan Jejak Pegiat Literasi dari Jatinangor

Ya memang begitulah akhir pekan di bulan Ramadan. Obrolan tentang bingkisan, THR, dan kadeudeuh menjadi semacam ritual sosial yang berulang setiap tahun. Bukan sekadar soal isi dalam amplop, kotak, kaleng, melainkan tentang kebiasaan berbagi yang perlahan membentuk rasa kedekatan, keakraban dan kekeluargaan.

Rupanya, di balik candaan soal biskuit yang berubah menjadi rengginang, tersimpan makna yang lebih sederhana dan dalam. Ya perhatian tak selalu harus mewah. Kadang cukup berupa tanda ingat, secuil kadeudeuh, sekadar tawa yang dibagi bersama-sama.

Kehadiran ramadan, pada akhirnya, bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Melainkan soal merawat kebiasaan kecil yang membuat hubungan antarmanusia tetap hangat, akrab, terkadang hanya dimulai dari kaleng Khong Guan yang isinya ternyata rangginang euy!. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti
Tag Terkait

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:10

Bandung Menuju Kota Digital Aman

Kota yang benar-benar cerdas bukan hanya kota yang mampu mengadopsi teknologi terbaru, melainkan yang mampu melindungi warganya.

Ilustrasi layanan digital. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Biz 01 Nov 2026, 15:21

Lahan Sempit di Kota Bandung Disulap Jadi Kebun Produktif, Hasilnya untuk Warga

Sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae.

Pada Jumat, 30 Oktober 2026, sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 20:39

Stop The Wedding: Tren Perempuan yang Membagikan Cerita Traumatis Pernikahan

Apakah perempuan benar-benar takut menikah karena tidak menemukan urgensinya atau hanya takut karena tren "Stop The Wedding" yang sedang beredar di media sosial

Stop the Wedding sedang menjadi headline di media sosial yang mengangkat pengalaman buruk perempuan dalam pernikahan (Sumber: Ilustrasi Gambar AI)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 19:15

Bandung Akan Terkena Asap Pekat Karhutla

Nafsu-nafsu tidak terkendali untuk menguasai hutan bisa menyebabkan semua wilayah terkena dampak asap pekat kebakaran hutan dan lahan termasuk Kota Bandung

Penanganan karhutla. (Sumber: Kementerian Kehutanan)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 17:11

Merancang Kawasan Hunian untuk Mobilitas Berkelanjutan

Integrasi tata ruang dan transportasi dalam pengembangan kawasan hunian melalui akses berjalan kaki, bersepeda, dan angkutan umum untuk mewujudkan mobilitas yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Halte bus yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian angkutan umum di kawasan hunian. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 16:31

Korupsi di Negeri Bencana

Korupsi di BNPB yang dilakukan oleh oknum, merupakan perbuatan yang biadab.

SDN 1 Babakan Talang di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat hancur akibat bencana pergerakan tanah , Senin 4 Maret 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 15:17

Ketika Api Menguji Integritas

Bencana menuntut kita bergerak cepat menyelamatkan kehidupan, tetapi juga menguji integritas dalam menjaga amanah dan menyalurkan bantuan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 20:24

Bdg-GoX Dibangun, Kapan Warga Bandung Menikmati Internet Murah?

Akses digital bukan hanya persoalan ketersediaan jaringan, melainkan juga keterjangkauan ekonomi.

Ilustrasi Bandung Kota Digital dengan program  Bdg-Gox (Sumber: Ilustrasi di desain dengan ChatGPT oleh Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 19:47

Cangkoréh Awi Ngarambat

Ada jenis bambu yang merambat, yang dikenal, ada yang menyebutnya awi cangkoréh, ada juga yang menyebutnya awi cangkoré.

Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 16:33

Persembahan untuk Lembang

Lembang telah jatuh ke tangan para kapitalis, memaksakan berubah wujud, memeras keindahan alamnya, meluluhlantakkan kenangan hijau yang terpatri di benak warganya.

Persembahan saya untuk Lembang, tertuang dalam beberapa karya buku. (Foto: Malia)