Dadang Adnan Dahlan Jejak Pegiat Literasi dari Jatinangor

Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan Kamis 12 Mar 2026, 15:04 WIB
Istana Topkapi, Istanbul, Turki. Dadang Adnan Dahlan berfoto di depan kompleks istana bersejarah tersebut. (Sumber: Istimewa)

Istana Topkapi, Istanbul, Turki. Dadang Adnan Dahlan berfoto di depan kompleks istana bersejarah tersebut. (Sumber: Istimewa)

Di kalangan perbukuan dan penerbitan, nama Dadang Adnan Dahlan dikenal dengan nama pena Adnan Abi Wildan, atau akrab disapa Pa Adnan. Nama itu menjadi penanda kedekatannya dengan dunia buku yang telah ia geluti sejak usia muda. Ia lahir di Garut pada 1963, putra kedua pasangan Hj. Yuyu Yuhaetika dan H. Dahlan. Benih kecintaannya pada buku mulai tumbuh ketika ia menempuh pendidikan di SMAN 12 Bandung. Meski mengambil jurusan IPA, minatnya terhadap bahasa dan literasi justru sangat menonjol.

Bersama beberapa teman, ia aktif dalam kelompok usrah, komunitas kecil beranggotakan lima hingga tujuh siswa yang rutin mengadakan bahtsul kutub yaitu forum diskusi buku untuk memperkaya wawasan. Dalam suasana diskusi yang hangat itu, buku bukan sekadar bahan bacaan, melainkan jendela untuk memahami dunia.

Di sekolah itulah pula ia bertemu sosok guru yang sangat berpengaruh yakni Hanapi Natasasmita, pengajar Bahasa Indonesia yang dikenal telaten mengoreksi tulisan murid-muridnya. Catatan tinta merah di setiap tugas bukan sekadar koreksi, melainkan bentuk perhatian terhadap mutu bahasa. Dari pengalaman itu, Pa Dadang belajar tentang disiplin menulis dan pentingnya menghargai kata-kata.

Kecintaannya pada buku terus berlanjut ketika ia melanjutkan studi di Akademi Ilmu Kehutanan (AIK) Provinsi Jawa Barat. Pada masa kuliah, ia mulai merintis langkah sebagai penjual buku keliling. Dengan sepeda motor, ia membawa buku dari masjid ke masjid, dari kampus ke kampus.

Aktivitas itu bukan semata berdagang. Baginya, perjalanan tersebut merupakan cara menyebarkan kecintaan pada bacaan. Pengalaman itu pula yang membawanya masuk ke dunia penerbitan. Pada periode 1988–1990 ia bekerja di perusahaan penerbitan dan percetakan Orba Shakti Bandung sebagai editor sekaligus manajer penerbitan. Di sana ia belajar langsung tentang proses panjang lahirnya sebuah buku, dari naskah mentah hingga menjadi karya cetak yang siap dibaca.

Berbekal pengalaman tersebut, pada 1990 ia mendirikan Humaniora Utama Press (HUP), yang kemudian berkembang menjadi PT Humaniora Utama Press pada 1994. Perusahaan ini dipimpinnya hingga 2002 sebagai bagian dari kontribusinya dalam mengembangkan dunia perbukuan. Pada 1996 ia juga mendirikan Alqaprint Jatinangor, sebuah usaha percetakan dan penerbitan dengan slogan “Cakrawala Baru Dunia Buku.” Usaha ini semakin menguatkan kiprahnya dalam produksi buku dan bahan bacaan. Ia juga pernah aktif sebagai pengurus Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Cabang Jawa Barat.

Seiring waktu, Pa Dadang tidak hanya dikenal sebagai pegiat perbukuan, tetapi juga sebagai penggerak literasi di Jatinangor, wilayah yang kini berkembang sebagai kawasan pendidikan. Ia aktif menumbuhkan budaya membaca melalui kegiatan sekolah dan komunitas. 

Selama lebih dari satu dekade, ia menjabat sebagai Ketua DSCS (Komite Sekolah) SDN Cibeusi  (2002–2014), "dinamis sinergis cerdas selaras." Keterlibatan ini juga berkaitan erat dengan perannya sebagai ayah dari tujuh anak hasil pernikahannya dengan Widy Asmara (1983). Ketujuh anak mereka yaitu Wildan (1985), Thifa (1988), Alqa (1989), Nury (1990), Adlhan (1992), Liga (1993), dan Mekka (1997), semuanya pernah menempuh pendidikan dasar di SDN Cibeusi Jatinangor.

Ada kisah menarik dari perjalanan pendidikan keluarga ini. Setelah lulus sekolah dasar, ketujuh putranya menempuh pendidikan di sekolah dan kampus yang berbeda-beda sejak jenjang SMP hingga perguruan tinggi. Hampir seluruh perguruan tinggi negeri (PTN) di Bandung pernah mereka “singgahi”. “Hikmah punya banyak anak,” ujar Pak Dadang sambil tersenyum.

Di SDN Cibeusi, ia turut menggagas berbagai kegiatan kreatif. Pa Dadang menggubah sejumlah lagu sekolah, di antaranya Himne-Mars SDN Cibeusi yang diaransemen Ruhyana, serta Himne-Mars DSCS yang diaransemen Budi Yanto. Bersama Supriatna Motekar, ia juga menginisiasi proyek musikal Trio Simfoni SDN Cibeusi.

Dari proses kreatif tersebut, SDN Cibeusi akhirnya memiliki 54 lagu bertema sekolah. Pencapaian ini mengantarkan sekolah tersebut meraih Rekor MURI pada 2008 sebagai sekolah dasar negeri dengan jumlah lagu terbanyak yang didedikasikan untuk institusinya sendiri. Prestasi ini juga membawa Komite Sekolah SDN Cibeusi meraih Juara III Komite Sekolah Berprestasi tingkat Jawa Barat pada 2009.

Bagi Pa Dadang, seni dan pendidikan adalah dua ruang yang saling melengkapi. Gagasan itu tercermin dalam bukunya “Fespara LauSsi”, yang lahir dari cita-citanya menyelenggarakan Festival Paduan Suara Lagu-Lagu SDN Cibeusi Jatinangor. Buku yang terbit pada 2020 itu memuat kumpulan lagu Rekor MURI DSCS SDN Cibeusi beserta modifikasinya dan tambahan lirik-lirik baru.

Kebiasaan menulis lirik lagu terus ia lanjutkan hingga sekarang. Sejak Pemilu 2024, ia menandai karya-karyanya dengan tagar #Vafevo100. Hingga kini, di akun media sosialnya tercatat lebih dari 333 judul lirik lagu bertema pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup, dan humaniora. Sekitar seratus di antaranya bertema Jatinangor, Sumedang, dan Jawa Barat. Sebagian karya tersebut dapat dijumpai di kanal YouTube dan Instagram pribadinya. 

Contoh lagu terbaru karya Dadang Adnan Dahlan setelah berkunjung ke Istanbul, Turki.

Dadang Adnan Dahlan bersama penulis. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Dadang Adnan Dahlan bersama penulis. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Karakter liriknya verbal faktual dengan sentuhan metaforis ringan. Setiap bait disusun beraturan dalam jumlah suku kata (silabel), berima ringan, serta meminimalkan repetisi kata kecuali pada kata kunci.

Tag karya: #vafevo333 (ke-15)

GRAND BAZAAR – KAPALIÇARŞI ISTANBUL

Pasar Tertua di Dunia (sejak Abad XV)

Lirik: Dadang Adnan Dahlan

Lagu: MultiGenre Sample LkPr

https://tinyurl.com/GRAND-BAZAR-VafevoADN-333 – drive lagu

[Intro]

[1]

Kapalıçarşı

terkenal Grand Bazaar

Istanbul Turki

lorong bazaar beratap

tertua di dunia

[2]

mulai berdiri

abad lima belas (1455)

zaman Utsmani

Sultan Mehmed II (1432–1481)

Al-Fatih Sang Penakluk

[1a – Struktur & Gerbang]

ribuan kios (>4.000)

dua puluhan kapısı (22 gerbang)

gerbang utama

Beyazıt, Çarşıkapı

dan Nuruosmaniye

[2a – Suasana & Bahasa]

multi bahasa

pedagang dan pengunjung

berinteraksi

tawar-menawar harga

pasar penuh semangat

[3a – Lorong & Aktivitas]

ramai bazaar

enam puluh satu (61) lorong

labirin dagang

destinasi wisata

pengunjung nan semarak

Reff.

[1a/b]

wisata belanja

kuliner dan sejarah

senyuman ramah

akrab saling menyapa

penjual pembeli senang

[2a]

selamat datang

“merhaba”, “buyurun!”

silakan masuk

“bakın bakın!” lihat dulu

“çok ucuz!” sangat murah

[2b]

“gel, gel!” ayo datang

“İyi fiyat!” harga bagus

“indirim!” ada diskon

“sadece bakmak serbest”

lihat saja tak apa

[1b – Komoditas]

aneka ragam

karpet Anatolia

lampu mozaik

tekstil sutra pashmina

suvenir mata nazar

[2b – Komoditas]

keramik İznik

perhiasan emas perak

kulit tembaga

manisan lokum baklava

teh kopi rempah hangat

[3b – Akses & Lokasi]

akses angkutan

dermaga Eminönü

bus dan tramway

halte dekat bazaar

Masjid Nuruosmaniye

[Outro]

[1]

jejak dagang

sejak zaman Utsmani

warisan jagat

pusat perniagaan

Grand Bazaar Istanbul

[2]

Bedesten lama*

awal mula Grand Bazaar

kubah ikonik

cahaya lampu memijar

suara dagang bergema

[3]

jantung sejarah

Kota Tua Sultanahmet

Hagia Sophia

Masjid Biru dan Topkapı

kota poros dua benua

Jatinangor, 9 Maret 2026 / 19 Ramadan 1447 H

(pola lirik per bait beraturan 5–7–5–7–7 suku kata per baris)

* Bedesten = bangunan tertutup utama, awalnya pusat perdagangan tekstil dan barang berharga. Masih berdiri di tengah Grand Bazaar, dikenal sebagai “Covered Bazaar” atau “Inner Bedesten”, yang ikonik.

Dadang Adnan Dahlan bersama para kolega saat berkunjung ke Istanbul, Turki. (Sumber: Istimewa)
Dadang Adnan Dahlan bersama para kolega saat berkunjung ke Istanbul, Turki. (Sumber: Istimewa)

Perjalanan Pa Dadang memperlihatkan satu benang merah yang kuat yakni cinta pada buku, pendidikan, dan kreativitas. Dari diskusi buku di bangku sekolah, menjajakan buku dengan sepeda motor, hingga menciptakan lagu-lagu sekolah yang memecahkan rekor, ia menunjukkan bahwa literasi dan seni dapat berjalan beriringan.

Di bulan Ramadan, saat umat Muslim diajak kembali mendekat pada kitab, ilmu, dan perenungan, kisah Pa Dadang menjadi pengingat bahwa membaca dan berbagi pengetahuan adalah bagian dari ibadah panjang dalam kehidupan.

Dan di Jatinangor, dari ruang-ruang sekolah hingga percakapan komunitas literasi, semangat itu masih terus hidup, merajut cinta buku untuk generasi yang akan datang. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 30 Apr 2026, 20:12

Tema Ayo Netizen Mei 2026: Bersabar, Bekerja, dan Berkorban demi Hidup di Bandung

Mei bukan sekadar bulan kelima dalam kalender. Di Bandung, Mei adalah bulan yang sesak.

Keluarga korban longsor Cisarua menangis usai mendengar informasi salah satu keluarganya ditemukan. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Mayantara 30 Apr 2026, 18:41

Kehidupan Sehari-hari sebagai ‘Arsip’

Internet tidak hanya membangun hubungan kolaboratif antar-pengguna secara individual, tetapi juga “merekam” serangkaian tindakan online kita setiap hari.

Internet tidak hanya membangun hubungan kolaboratif antar-pengguna secara individual, tetapi juga “merekam” serangkaian tindakan online kita setiap hari. (Sumber: Pexels | Foto: Şevval Pirinççi)
Wisata & Kuliner 30 Apr 2026, 18:00

Panduan Wisata Curug Citambur, Eksotisme Tersembunyi di Cianjur Selatan

Panduan wisata Curug Citambur, air terjun 130 meter di Cianjur Selatan, lengkap rute, tiket, dan tips berkunjung.

Curug Citambur. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 30 Apr 2026, 17:12

Menakar Geliat Inovasi di Lereng Subang: Tinjauan Kritis atas Transformasi Ekonomi Berbasis Kopi

Dalam konstelasi perdagangan global, kopi bukan sekadar komoditas penyegar, melainkan instrumen strategis yang menentukan posisi tawar sebuah negara.

Buku "Geliat Desa Membangun Inovasi Kopi Subang: Status Quo" (Sumber: BRIN)
Ayo Netizen 30 Apr 2026, 15:30

Jalan Nasional Rasa Jalan Lokal: Mengapa Macet dan Kecelakaan Terus Terjadi di Koridor Caringin–Cimahi?

Kemacetan dan kecelakaan bukan sekadar ulah pengguna, tetapi akibat kegagalan sistem: akses tak terkendali, hambatan samping tinggi, dan simpang tanpa pengaturan yang andal.

Kepadatan arus lalu lintas di Jalan Raya Cimareme, Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung.com/Restu Nugraha)
Beranda 30 Apr 2026, 14:59

Hadapi Kemarau Panjang dan Risiko Kebakaran, Diskar Kota Bandung Fokus Perkuat Sumber Air

Diskar PB Kota Bandung perkuat akses sumber air melalui pemetaan hidran dan kolam retensi guna pastikan penanganan kebakaran yang cepat dan efektif selama musim kemarau panjang.

Petugas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bandung melakukan pendinginan pada kios material barang bekas yang terbakar di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Kamis 26 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Apr 2026, 11:30

Panduan Lengkap Penggunaan Partikel dalam Bahasa Indonesia

Panduan praktis agar tidak lagi ragu saat menuliskan partikel-partikel bahasa.

Partikel dalam bahasa Indonesia. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 30 Apr 2026, 11:17

Kuliner Soto Bongko Sumedang, Sarapan Ratusan Tahun yang Bertahan di Balik Bayang Tahu

Sarapan khas Sumedang ini menawarkan kuah santan gurih, lontong besar, dan tahu Sumedang dalam tradisi pagi yang bertahan sejak ratusan tahun.

Kuliner Soto Bongko Sumedang. (Sumber: Instagram @sajiansedap)
Wisata & Kuliner 30 Apr 2026, 11:17

Hikayat Opak, Camilan Tradisional yang Masih Bertahan Bahkan Menjadi Ciri Khas

Opak Sukamanah dibuat turun-temurun dengan resep rahasia. Pulen, gurih, dan jadi andalan oleh-oleh khas Bandung.

Opak di Kampun Sukamanah, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 30 Apr 2026, 09:27

Dari Bekasi untuk Evaluasi: Keselamatan KRL Bukan Soal Posisi Gerbong

Tragedi di Stasiun Bekasi Timur menyoroti bahwa keselamatan KRL bukan soal posisi gerbong, melainkan tentang keandalan sistem perkeretaapian dalam mencegah kecelakaan dan melindungi seluruh penumpang.

Stasiun Bekasi Timur. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Fikri RA)
Wisata & Kuliner 29 Apr 2026, 20:34

Wisata Pantai Karangsong, Tamasya Santai di Pesisir Utara Jawa Barat

Panduan lengkap Pantai Karangsong Indramayu dengan info lokasi, biaya masuk, wisata mangrove, serta pengalaman menikmati pantai di pesisir utara.

Pantai Karangsong Indramayu. (Sumber: Ayomedia)
Beranda 29 Apr 2026, 18:48

Mereka yang Agamanya Pernah ‘Dihapus’ dari KTP, Kini Gencar Menebar Hal Baik

Hidup pada masa Orde Baru tidaklah mudah. Terutama jika keturunan Tionghoa dan beragama Konghucu.

Fam Kiun Fat yang akrab disapa Akiun, salah satu tokoh Tionghoa dan Konghucu ternama di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 29 Apr 2026, 16:54

Kota ini Tak Lagi Sama(Pah) Tanpamu

Tidak ada langkah yang lebih realistis untuk mengatasi masalah sampah di Kota Bandung selain mengendalikan petugas pengelola sampah dan terus mengedukasi masyarakat

Gunungan Sampah di TPST Batununggal Bandung. Rabu, 29 April 2026 (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 29 Apr 2026, 15:35

Heritage: Mana yang Usang, Mana yang (harus) Terbuang

Konsep warisan kita sangat dibentuk oleh kolonialisme. Oleh karena itu, tulisan ini jadi ajakan dekonstruksi warisan yang elitis menjadi lebih inklusif, emansipatif, dan adil bagi pemilik properti.

Gedung-gedung peninggalan masa kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Unsplash | Foto: Neermana Studio)
Beranda 29 Apr 2026, 15:16

Biaya Mahal yang Harus Dikeluarkan Setiap Hari untuk Mengurus Sampah Kota Bandung

Kelola ribuan ton sampah setiap hari, Kota Bandung harus mengeluarkan ribuan liter BBM demi memastikan ratusan armada pengangkut tetap bergerak menyisir lingkungan warga.

"Gunung"sampah di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Dakota di Jl. Gunung Batu, Sukaraja, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung pada Jumat, 7 November 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Bandung 29 Apr 2026, 15:05

Tren Intimate Wedding di Bandung, Afrodite WO: Tonjolkan Karakter Pengantin dan Kesesuaian Venue

Tren pernikahan bergeser ke arah privat dan personal. Afrodite Wedding Organizer Bandung ungkap pentingnya menyesuaikan venue dengan karakter pengantin dibandingkan sekadar mengejar keviralan.

Tren pernikahan bergeser ke arah privat dan personal. Afrodite Wedding Organizer Bandung ungkap pentingnya menyesuaikan venue dengan karakter pengantin dibandingkan sekadar mengejar keviralan. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 29 Apr 2026, 13:36

Dari Pesantren ke Panggung Nasional: Perjalanan Hayyun Halimatul Ummah Menjadi Duta Santri

Kisah Hayyun Halimatul Ummah, santri dari keluarga sederhana yang menembus Duta Santri Nasional lewat ketekunan, keberanian, dan tekad untuk bermanfaat.

Hayyun Halimatul Ummah ketika dinobatkan sebagai Duta Santri Nasional pada malam grand final. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Wisata & Kuliner 29 Apr 2026, 13:34

Panduan Wisata Pemandian Cipanas Garut, Pilih Tempat Sesuai Gaya Liburanmu di Kaki Gunung Guntur

Panduan wisata Cipanas Garut, mengulas sejarah dua abad, sumber air panas alami, serta pilihan pemandian dan resort terbaik di kaki Gunung Guntur.

Kawasan Wisata Cipanas Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Beranda 29 Apr 2026, 10:30

Beban Berat Pengangkutan Sampah di Kota Bandung, Sehari Habiskan BBM Setara 457 Galon Air Mineral

Setiap hari, bahan bakar yang dipakai untuk mengangkut sampah di Bandung setara ratusan galon air minum. Jumlah ini menggambarkan betapa besar energi yang dibutuhkan hanya untuk menjaga kota tetap ber

Aktivitas pengangkutan sampah menuju TPA Sarimukti di Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB) pada Selasa 6 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Restu Nugraha Sauqi)
Beranda 29 Apr 2026, 09:15

Kota Bandung Kewalahan Hadapi 1.500 Ton Sampah per Hari, Armada Tertahan, TPA Kian Tertekan

Bandung menghadapi lonjakan sampah hingga 1.500 ton per hari. Armada tersendat akibat antrean dan kuota TPA, membuat pengangkutan melambat dan tumpukan sampah kian meluas.

Truk sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung sedang mengangkut sampah pada 18 November 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Bob Yanuar Muslim)