Dadang Adnan Dahlan Jejak Pegiat Literasi dari Jatinangor

6 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
Istana Topkapi, Istanbul, Turki. Dadang Adnan Dahlan berfoto di depan kompleks istana bersejarah tersebut. (Sumber: Istimewa)
Istana Topkapi, Istanbul, Turki. Dadang Adnan Dahlan berfoto di depan kompleks istana bersejarah tersebut. (Sumber: Istimewa)

Di kalangan perbukuan dan penerbitan, nama Dadang Adnan Dahlan dikenal dengan nama pena Adnan Abi Wildan, atau akrab disapa Pa Adnan. Nama itu menjadi penanda kedekatannya dengan dunia buku yang telah ia geluti sejak usia muda. Ia lahir di Garut pada 1963, putra kedua pasangan Hj. Yuyu Yuhaetika dan H. Dahlan. Benih kecintaannya pada buku mulai tumbuh ketika ia menempuh pendidikan di SMAN 12 Bandung. Meski mengambil jurusan IPA, minatnya terhadap bahasa dan literasi justru sangat menonjol.

Bersama beberapa teman, ia aktif dalam kelompok usrah, komunitas kecil beranggotakan lima hingga tujuh siswa yang rutin mengadakan bahtsul kutub yaitu forum diskusi buku untuk memperkaya wawasan. Dalam suasana diskusi yang hangat itu, buku bukan sekadar bahan bacaan, melainkan jendela untuk memahami dunia.

Di sekolah itulah pula ia bertemu sosok guru yang sangat berpengaruh yakni Hanapi Natasasmita, pengajar Bahasa Indonesia yang dikenal telaten mengoreksi tulisan murid-muridnya. Catatan tinta merah di setiap tugas bukan sekadar koreksi, melainkan bentuk perhatian terhadap mutu bahasa. Dari pengalaman itu, Pa Dadang belajar tentang disiplin menulis dan pentingnya menghargai kata-kata.

Kecintaannya pada buku terus berlanjut ketika ia melanjutkan studi di Akademi Ilmu Kehutanan (AIK) Provinsi Jawa Barat. Pada masa kuliah, ia mulai merintis langkah sebagai penjual buku keliling. Dengan sepeda motor, ia membawa buku dari masjid ke masjid, dari kampus ke kampus.

Aktivitas itu bukan semata berdagang. Baginya, perjalanan tersebut merupakan cara menyebarkan kecintaan pada bacaan. Pengalaman itu pula yang membawanya masuk ke dunia penerbitan. Pada periode 1988–1990 ia bekerja di perusahaan penerbitan dan percetakan Orba Shakti Bandung sebagai editor sekaligus manajer penerbitan. Di sana ia belajar langsung tentang proses panjang lahirnya sebuah buku, dari naskah mentah hingga menjadi karya cetak yang siap dibaca.

Berbekal pengalaman tersebut, pada 1990 ia mendirikan Humaniora Utama Press (HUP), yang kemudian berkembang menjadi PT Humaniora Utama Press pada 1994. Perusahaan ini dipimpinnya hingga 2002 sebagai bagian dari kontribusinya dalam mengembangkan dunia perbukuan. Pada 1996 ia juga mendirikan Alqaprint Jatinangor, sebuah usaha percetakan dan penerbitan dengan slogan “Cakrawala Baru Dunia Buku.” Usaha ini semakin menguatkan kiprahnya dalam produksi buku dan bahan bacaan. Ia juga pernah aktif sebagai pengurus Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Cabang Jawa Barat.

Seiring waktu, Pa Dadang tidak hanya dikenal sebagai pegiat perbukuan, tetapi juga sebagai penggerak literasi di Jatinangor, wilayah yang kini berkembang sebagai kawasan pendidikan. Ia aktif menumbuhkan budaya membaca melalui kegiatan sekolah dan komunitas. 

Selama lebih dari satu dekade, ia menjabat sebagai Ketua DSCS (Komite Sekolah) SDN Cibeusi  (2002–2014), "dinamis sinergis cerdas selaras." Keterlibatan ini juga berkaitan erat dengan perannya sebagai ayah dari tujuh anak hasil pernikahannya dengan Widy Asmara (1983). Ketujuh anak mereka yaitu Wildan (1985), Thifa (1988), Alqa (1989), Nury (1990), Adlhan (1992), Liga (1993), dan Mekka (1997), semuanya pernah menempuh pendidikan dasar di SDN Cibeusi Jatinangor.

Ada kisah menarik dari perjalanan pendidikan keluarga ini. Setelah lulus sekolah dasar, ketujuh putranya menempuh pendidikan di sekolah dan kampus yang berbeda-beda sejak jenjang SMP hingga perguruan tinggi. Hampir seluruh perguruan tinggi negeri (PTN) di Bandung pernah mereka “singgahi”. “Hikmah punya banyak anak,” ujar Pak Dadang sambil tersenyum.

Di SDN Cibeusi, ia turut menggagas berbagai kegiatan kreatif. Pa Dadang menggubah sejumlah lagu sekolah, di antaranya Himne-Mars SDN Cibeusi yang diaransemen Ruhyana, serta Himne-Mars DSCS yang diaransemen Budi Yanto. Bersama Supriatna Motekar, ia juga menginisiasi proyek musikal Trio Simfoni SDN Cibeusi.

Dari proses kreatif tersebut, SDN Cibeusi akhirnya memiliki 54 lagu bertema sekolah. Pencapaian ini mengantarkan sekolah tersebut meraih Rekor MURI pada 2008 sebagai sekolah dasar negeri dengan jumlah lagu terbanyak yang didedikasikan untuk institusinya sendiri. Prestasi ini juga membawa Komite Sekolah SDN Cibeusi meraih Juara III Komite Sekolah Berprestasi tingkat Jawa Barat pada 2009.

Bagi Pa Dadang, seni dan pendidikan adalah dua ruang yang saling melengkapi. Gagasan itu tercermin dalam bukunya “Fespara LauSsi”, yang lahir dari cita-citanya menyelenggarakan Festival Paduan Suara Lagu-Lagu SDN Cibeusi Jatinangor. Buku yang terbit pada 2020 itu memuat kumpulan lagu Rekor MURI DSCS SDN Cibeusi beserta modifikasinya dan tambahan lirik-lirik baru.

Kebiasaan menulis lirik lagu terus ia lanjutkan hingga sekarang. Sejak Pemilu 2024, ia menandai karya-karyanya dengan tagar #Vafevo100. Hingga kini, di akun media sosialnya tercatat lebih dari 333 judul lirik lagu bertema pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup, dan humaniora. Sekitar seratus di antaranya bertema Jatinangor, Sumedang, dan Jawa Barat. Sebagian karya tersebut dapat dijumpai di kanal YouTube dan Instagram pribadinya. 

Contoh lagu terbaru karya Dadang Adnan Dahlan setelah berkunjung ke Istanbul, Turki.

Dadang Adnan Dahlan bersama penulis. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Dadang Adnan Dahlan bersama penulis. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Karakter liriknya verbal faktual dengan sentuhan metaforis ringan. Setiap bait disusun beraturan dalam jumlah suku kata (silabel), berima ringan, serta meminimalkan repetisi kata kecuali pada kata kunci.

Tag karya: #vafevo333 (ke-15)

GRAND BAZAAR – KAPALIÇARŞI ISTANBUL

Pasar Tertua di Dunia (sejak Abad XV)

Lirik: Dadang Adnan Dahlan

Lagu: MultiGenre Sample LkPr

https://tinyurl.com/GRAND-BAZAR-VafevoADN-333 – drive lagu

[Intro]

[1]

Kapalıçarşı

terkenal Grand Bazaar

Istanbul Turki

lorong bazaar beratap

tertua di dunia

[2]

mulai berdiri

abad lima belas (1455)

zaman Utsmani

Sultan Mehmed II (1432–1481)

Al-Fatih Sang Penakluk

[1a – Struktur & Gerbang]

ribuan kios (>4.000)

dua puluhan kapısı (22 gerbang)

gerbang utama

Beyazıt, Çarşıkapı

dan Nuruosmaniye

[2a – Suasana & Bahasa]

multi bahasa

pedagang dan pengunjung

berinteraksi

tawar-menawar harga

pasar penuh semangat

[3a – Lorong & Aktivitas]

ramai bazaar

enam puluh satu (61) lorong

labirin dagang

destinasi wisata

pengunjung nan semarak

Reff.

[1a/b]

wisata belanja

kuliner dan sejarah

senyuman ramah

akrab saling menyapa

penjual pembeli senang

[2a]

selamat datang

“merhaba”, “buyurun!”

silakan masuk

“bakın bakın!” lihat dulu

“çok ucuz!” sangat murah

[2b]

“gel, gel!” ayo datang

“İyi fiyat!” harga bagus

“indirim!” ada diskon

“sadece bakmak serbest”

lihat saja tak apa

[1b – Komoditas]

aneka ragam

karpet Anatolia

lampu mozaik

tekstil sutra pashmina

suvenir mata nazar

[2b – Komoditas]

keramik İznik

perhiasan emas perak

kulit tembaga

manisan lokum baklava

teh kopi rempah hangat

[3b – Akses & Lokasi]

akses angkutan

dermaga Eminönü

bus dan tramway

halte dekat bazaar

Masjid Nuruosmaniye

[Outro]

[1]

jejak dagang

sejak zaman Utsmani

warisan jagat

pusat perniagaan

Grand Bazaar Istanbul

[2]

Bedesten lama*

awal mula Grand Bazaar

kubah ikonik

cahaya lampu memijar

suara dagang bergema

[3]

jantung sejarah

Kota Tua Sultanahmet

Hagia Sophia

Masjid Biru dan Topkapı

kota poros dua benua

Jatinangor, 9 Maret 2026 / 19 Ramadan 1447 H

(pola lirik per bait beraturan 5–7–5–7–7 suku kata per baris)

* Bedesten = bangunan tertutup utama, awalnya pusat perdagangan tekstil dan barang berharga. Masih berdiri di tengah Grand Bazaar, dikenal sebagai “Covered Bazaar” atau “Inner Bedesten”, yang ikonik.

Dadang Adnan Dahlan bersama para kolega saat berkunjung ke Istanbul, Turki. (Sumber: Istimewa)
Dadang Adnan Dahlan bersama para kolega saat berkunjung ke Istanbul, Turki. (Sumber: Istimewa)

Perjalanan Pa Dadang memperlihatkan satu benang merah yang kuat yakni cinta pada buku, pendidikan, dan kreativitas. Dari diskusi buku di bangku sekolah, menjajakan buku dengan sepeda motor, hingga menciptakan lagu-lagu sekolah yang memecahkan rekor, ia menunjukkan bahwa literasi dan seni dapat berjalan beriringan.

Di bulan Ramadan, saat umat Muslim diajak kembali mendekat pada kitab, ilmu, dan perenungan, kisah Pa Dadang menjadi pengingat bahwa membaca dan berbagi pengetahuan adalah bagian dari ibadah panjang dalam kehidupan.

Dan di Jatinangor, dari ruang-ruang sekolah hingga percakapan komunitas literasi, semangat itu masih terus hidup, merajut cinta buku untuk generasi yang akan datang. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)