SETIAP mendekati Lebaran guyonan legendaris “Kaleng Khong Guan tapi Isinya Rengginang” biasanya mendadak ramai diperbincangkan ulang. Di tatar Priangan—tempat asal cemilan Rengginang—adalah sebuah kebiasaan setelah biskuit Khong Guan habis, masyarakat menggunakan kalengnya untuk diisi Rengginang.
Sebenarnya “budaya” itu biasa saja, tak perlu menjadi bahan candaan atau guyonan. Malah hal itu justru bagus. Atas nama efisiensi, kaleng kosong yang tidak terpakai, bisa bermanfaat lagi untuk diisi cemilan lain. Tak harus kaleng merek Khong Guan—merek apa pun—bisa diisi cemilan lain, tidak harus Rengginang.
Malah kaleng kosong Khong Guan bisa juga di dalamnya berisi opak, kerupuk, atau emping. Di tukang nasi goreng atau mi tektek yang berkeliling pada malam hari kaleng Khong Guan itu isinya kerupuk. Di tukang bubur ayam yang berjualan pagi hari, kaleng itu berisi emping.
Pengalaman emak-emak yang lain malah lebih seru: boks bekas es krim diisi ubi Cilembu. Praktis, sih, jadi enggak kena semut, katanya. Kelihatannya sederhana, tapi justru menjadi solusi yang masuk akal. Yang penting isinya nikmat, mau wadahnya bekas boks es krim, ember cat, atau kaleng Khong Guan yang penting bersih, dan isinya bukan harapan palsu.
Adanya budaya “Kaleng Khong Guan Isi Rengginang” hal itu malah membuktikan cemilan tradisional Rengginang masih mampu bersaing dengan kue olahan pabrik modern. Malah sebagian masyarakat Sunda merasa Lebaran tanpa Rengginang “tak sempurna” atau serasa ada yang hilang gitu. Tak jadi masalah, Rengginang itu di dalam kaleng Khong Guan atau di dalam keler.

Adanya guyonan legendaris itu justru menguntungkan bagi pengusaha Rengginang maupun pengusaha kue Khong Guan. Nama keduanya jadi melambung. Naman Rengginang terangkat, nama Khong Guan sendiri menjadi semakin populer.
Kang Yuyun Salimin (46) pengusaha Rengginang Al Birkah asal Bumi Parahyangan Kencana, Soreang, mengiyakan hal itu. Ia mengaku sudah 20 tahun menggeluti usaha Rengginang. Menurutnya, mendekati Lebaran--dari H-10 sampai H+3--omset penjualan Rengginangnya meningkat di kisaran 400% hingga 500%. Bahkan ia memprediksi potensi pasar Rengginang masih sangat tinggi dan mampu bersaing dengan makanan atau kue modern.
Kang Yuyun, saat ini, sedang sibuk-sibuknya melayani pesanan dari dalam dan luar kota. “Harga per bungkus sekarang Rp20.000. Ada kenaikan harga dari biasanya karena HPP naik dari bahan baku ketan ada kenaikan -/+ 8-10% per karungnya,” katanya.
Sementara Khong Guan sudah lama selalu menghiasi jamuan saat momen Lebaran masyarakat Indonesia. Khong Guan adalah brand legendaris produsen kue dan wafer populer di Indonesia.
Baca Juga: Mendekati Lebaran, Kue Khong Guan dan Rengginang Sama-Sama ‘Marema’
Hartono Kweefanus, pemilik Khong Guan, adalah salah satu miliarder kelahiran Indonesia. Hartono juga merupakan salah satu konglomerat dan pemilik perusahaan mi instan dan biskuit terbesar di Indonesia dan Filipina, Monde Nissin. Khong Guan mulak masuk dari Singapura ke Indonesia pada era 1950-an.
Hampir dua dekade, Khong Guan menjadi biskuit impor. Baru pada era 1970-an, pabrik Khong Guan di Indonesia berdiri di Surabaya sebelum akhirnya membangun pabrik di Ciracas, Jakarta Timur, dan Cibinong, Bogor.
Di Indonesia, Khong Guan berhasil menjadi salah satu merek dagang biskuit dan wafer yang paling populer dan merajai pasar. (*)
