MENDEKATI LEBARAN guyon legendaris “kaleng Khong Guan tapi isinya Rengginang” biasanya mendadak ramai diperbincangkan. Sebuah kebiasaan, setelah biskuit Khong Guan habis, masyarakat menggunakan kalengnya untuk diisi Rengginang.
Di tatar Priangan sebenarnya “budaya” itu biasa saja, tak perlu menjadi bahan guyonan. Malah justru bagus, atas nama efisiensi, kaleng kosong yang tidak terpakai, bisa bermanfaat lagi untuk diisi cemilan lain. Sama-sama diuntungkan,i nama Rengginang melambung. Bagi kue merek Khong Guan sendiri juga menguntungkan menjadi semakin populer.
Kaleng kosong Khong Guan, mendekati Lebaran, sebenarnya tidak hanya diisi Rengginang saja, bisa jadi juga di dalamnya berisi opak atau-- di tukang nasi goreng atau mi tektek yang berkeliling pada malam hari—malah isinya kerupuk.

Adanya budaya “Kaleng Khong Guan Isi Rengginang” hal itu membuktikan cemilan tradisional Rengginang masih mampu bersaing dengan kue olahan pabrik modern. Malah sebagian masyarakat Sunda merasa Lebaran tanpa Rengginang “tak sempurna” atau serasa ada yang hilang gitu. Akibatnya, mendekati Lebaran biasanya penjualan Rengginang meningkat.
Kang Yuyun Salimin (46) pengusaha Rengginang Al Birkah asal Bumi Parahyangan Kencana, Soreang, mempertegas hal itu. Ia mengaku sudah 20 tahun menggeluti usaha Rengginang. Menurutnya, mendekati Lebaran--dari H-10 sampai H+3--omset penjualan Rengginangnya meningkat di kisaran 400% hingga 500%. Bahkan ia memprediksi potensi pasar Rengginang masih sangat tinggi dan mampu bersaing dengan makanan atau kue modern.
Kang Yuyun, saat ini, sedang sibuk-sibuknya melayani pesanan dari dalam dan luar kota. “Harga per bungkus sekarang Rp20.000. Ada kenaikan harga dari biasanya karena HPP naik dari bahan baku ketan ada kenaikan -/+ 8-10% per karungnya,” katanya. (*)
