Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

4 menit baca
Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan
Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)
Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)

Di setiap hari raya sudah menjadi kebiasaan kita untuk menyiapkan kue–kue khas, terutama kue–kue kering yang disajikan dalam toples plastik bening. Kesemuanya itu tertata rapi di meja–meja ruang tamu di setiap rumah saat hari raya. Bukan hanya Lebaran, namun hari raya lainnya pun, kue–kue kering selalu menjadi teman sejati untuk melengkapi suasana. 

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”, yang berarti kue kue yang berukuran kecil yang sekali hap saja untuk memakannya. Sedangkan di Italia, istilah kue–kue kering sering disebut dengan “biscotti” yang nantinya bertoponimi di negara kita menjadi kata biskuit. Sedangkan di negara Jerman, kue–kue kecil disebut keks, yang nantinya di negara kita bertoponimi menjadi Cake ( dalam bahasa inggris). 

Dalam tiga buah buku karya Fadly Rahman yang berjudul Jejak Rasa Nusantara, Rasa Tanah Air dan Rijsttafel kita akan disuguhkan kisah–kisah sejarah kuliner khas Nusantara ini dengan lengkap, dan sang penulis pun berkisah bahwa menyajikan kue kering saat hari raya ditengarai muncul pada masa kolonial Belanda. Semuanya terjadi karena proses akulturasi warga Eropa, terutama Belanda dan warga lokal pada abad ke 19 dan abad ke 20 yang melahirkan penyerapan budaya Eropa dalam budaya Indonesia, terlebih lagi dalam hal kuliner.

Pada masa kolonial Belanda, menyajikan kue–kue kering yang lahir akibat proses akulturasi tersebut merupakan kebiasaan warga menengah atas pada saat itu, betul–betul menunjukan status sosial sang empunya rumah pada saat hari raya. Saat itu masyarakat  Hindia Belanda kelas atas sudah jarang menyajikan makanan tradisional yang terbuat dari sagu, tepung beras, tepung ketan dan lainnya. Karena itu berubahlah pola yang terjadi di masyarakat soal menu kudapan yang disajikan.

Masyarakat Hindia Belanda saat itu merasa cemilan lokal tidak tahan lama. Berbeda dengan tekstur kue–kue kering yang disajikan, ia akan lebih awet beberapa hari bahkan beberapa minggu, hingga mulai dipertimbangkan hal ekonomis dalam penyajian kudapan untuk hari raya tersebut.

Kue- kue kering tersebut diadaptasi dan diakulturasikan dengan budaya nusantara, namun memang di Eropa pun kue–kue kering tersebut memang disajikan ketika hari Natal tiba. Lalu ketika Belanda dan warga Eropa lainnya mulai memasuki nusantara, budaya tersebut tetap dilakukan para warga Eropa di Hindia Belanda, mereka saling bertukar kue–kue kering, dan para pejabat Eropa pun banyak yang mengantarkan kue–kue kering tersebut pada pejabat–pejabat lokal ketika Natal dan Idul Fitri tiba. Hingga , makin populerlah keberadaan kue–kue kering tersebut di benak para warga lokal.

Kue nastar adalah salah satu kue yang paling khas saat hari raya Idul Fitri. Nama nastar ternyata berasal dari kata–kata bahasa Belanda yaitu “ Ananas” yang artinya buah nanas dan “taart” yang berarti adonan pie. Pada awalnya di negara Belanda dan negara–negara Eropa lainnya, isian kue ini adalah selai buah blueberry, namun karena buah blueberry sulit ditemukan di Hindia Belanda saat itu maka, warga lokal memakai buah nanas sebagai penggantinya. 

Lalu kue kering yang sering kita jumpai saat hari saya lainnya adalah kastengel, kue ini adalah kue kering berbahan dasar keju. Kaas dalam bahasa Belanda artinya adalah keju dan stengels adalah batang. Dahulu, kastengels adalah cemilan khas Belanda yang awalnya berbentuk stik yang panjang seperti roti yang sering dijadikan pelengkap sup atau salad. Kue ini harganya mahal, karena pada resep awal menggunakan keju edam yang harganya cukup tinggi. Kastengels masuk ke Hindia Belanda pada abad ke 19 dan 20, dibawa oleh para kebiasaan para nyonya  Belanda dan para pejabat kolonial lainnya. 

Baca Juga: Kisah Rengginang di Dalam Kaleng Khong Guan yang Tak Pernah Usai

Masuk ke budaya nusantara perubahan kastengels disesuaikan dengan ukuran oven yang ada, maka kastengels khas nusantara adalah berukuran 3 sampai 4 cm saja, dan bahan keju edam yang mahal pun diganti dengan keju cheddar agar lebih ekonomis, namun ternyata menjadikan kekhasan tersendiri. Kastengels kini menjadi ikon kuliner perpaduan Belanda–Indonesia yang populer sebagai salah satu kue kering wajib saat perayaan hari raya Idul Fitri.

Berbeda dengan sejarah kue putri salju yang identik berbentuk bulan sabit,  sangat digemari anak–anak karena dibalut dengan gula halus. Ternyata awalnya kue kering ini berasal dari Austria dan Jerman yang dikenal dengan sebutan Vanillekipferl yang juga dibawa ke Hindia Belanda pada masa kolonial di abad ke 19 dan 20.

Resep asli kue putri salju ini sebetulnya dibuat dari kacang almond, namun karena di Hindia Belanda saat itu sulit ditemukan, maka digantilah dengan kacang tanah yang dipadupadankan dengan susu bubuk. Yang paling unik adalah mengapa diberinama putri salju, karena ditaburi oleh banyak gula putih halus, sehingga identik seperti salju yang memberikan sensasi dingin dan manis saat digigit. Di Eropa kue putri salju ini sangat identik dengan perayaan hari raya Natal. Namun, di indonesia lebih terkenal sebagai kue hari raya Idul Fitri. 

Itulah kisah sejarah dibalik kue–kue kering yang sangat familiar dalam tradisi budaya kita, ternyata belajar sejarah itu bisa dimana saja dan belajar sejarah itu bisa lahir dari apa pun, salah satunya kue–kue kering ini. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Malia Nur Alifa
Tentang Malia Nur Alifa
Periset sejarah Lembang sejak 2009. Menuliskan beberapa buku sejarah tentang Lembang dan pemandu wisata sejarah sejak 2015.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 28 Sep 2026, 07:40

Gunta Akhiri: Mewujudkan Rumah Besar Para Insinyur Kota Bandung

Tantangan besar ketersediaan Insinyur Profesional mesti segera diatasi

Ilustrasi Ketua PII  Cabang Bandung, Gunta Akhiri dan Ketum PII Pusat, Ilham Akbar Habibie (Sumber: dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 19:12

Eksplorasi Gastronomi Bandung: Menyingkap Jejak Rasa, Sejarah, dan Warisan Budaya Pasundan

Memahami kuliner Bandung bukan sekadar aktivitas konsumsi, melainkan sebuah penelusuran antropologis terhadap budaya Pasundan yang menempatkan harmoni alam di atas piring saji.

Soto Bandung tampil unik dengan kuah bening kaldu sapi sebagai pembeda dari soto bersantan di daerah lain, dipadukan secara khas dengan potongan lobak. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 16:09

Jalan yang Benar di 'Google Maps' Belum Tentu Benar bagi Kendaraan Kita

Google Maps tidak berada di balik kemudi. Ia tidak tahu secara langsung apakah kendaraan tertentu membawa muatan berlebih atau apakah mesin kendaraan sedang prima.

Google Maps (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:36

Cuma Rp216 Bisa Keliling Bandung! Merayakan Ulang Tahun Kota Kembang Naik Bandros dan TMB

Pemerintah Kota Bandung memberikan kado spesial kepada seluruh warga dan wisatawan dalam rangka merayakan Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-216.

Salah satu video Youtube Boby Rachma "BANDUNG TOUR ON BUS!! KELILING KOTA BANDUNG NAIK BANDROS!!".
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:06

Ekstrakurikuler yang Membahagiakan sebagai Resiliensi Pendidikan Berkelanjutan

Hadirnya pembelajaran ekstrakurikuler bagi murid diwujudkan dengan kegiatan yang lebih tepat dan memberi ruang bagi murid untuk mengekspresikan dirinya sesuai dengan hobi atau minat bakatnya.

Ilustrasi murid sekolah negeri. (Sumber: Pexels/Yazid N)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 08:26

Kamera Dulu, Peluk dan Tolong Kemudian

Fenomena masyarakat modern yang lebih mengutamakan kamera dan dokumentasi dibandingkan dengan mengutamakan empati.

Fenomena yang sering terjadi pada masyarakat modern yang menjadikan dokumentasi satu-satunya yang penting ketika terjadi sesuatu (Sumber: Generated AI)
Beranda 26 Sep 2026, 11:23

46 Kilometer Jalan yang Melintasi Kota Bandung Ini Bukan Milik Pemkot

Berdasarkan dokumen itu, sebagian besar ruas jalan nasional yang melintasi Kota Bandung tersebut membentang dari barat ke timur.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 19:46

MJT: Program Pemerintah Jawa Barat yang Cukup Solutif untuk Mengurangi Kemacetan

Metro Jabar Trans menjadi program yang cukup bermanfaat untuk meminimalisir kemacetan juga alternatif kendaraan umum yang terjangkau bagi masyarakat

Metro Jabar Trans menjadi salah satu transportasi umum pilihan masyarakat (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 18:19

Menonton Film di Bioskop Legendaris Bandung Era 90-an

Jauh sebelum bioskop hadir di dalam pusat perbelanjaan dan sinepleks modern, Bandung memiliki banyak gedung bioskop yang menjadi bagian dari denyut kehidupan kota.

Penulis berdiri di seberang bekas Bioskop Dian, Jalan Dalem Kaum, tepat di seberang kawasan Alun-Alun Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 17:24

Apa yang Salah Ketika Kekerasan Dipertontonkan di Sosial Media secara Vulgar?

Tontonan pada konten media sosial kini banyak yang mempertontonkan kekerasan secara vulgar. Nilai-nilai humanistik kian tergerus. Apakah kita bisa bijak dan memikirkan dampaknya untuk masa depan?

Ilustrasi korban kekerasan. (Sumber: Pexels | Foto: Daniel Reche)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 16:50

Nilai Diri 'Dus Obat' dalam Perspektif Industri Farmasi

Dus obat yang sering kita sepelekan ternyata tidak sesederhana yang kita pikirkan karena perlu spesifikasi tertentu saat diproduksi.

Dus Obat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Seni Budaya 25 Sep 2026, 15:21

Mengenal Makna Kehidupan Melalui Batik

Legenda Ki Bahu Reksa dihadirkan melalui empat panel batik tulis Pekalongan yang menggambarkan perjalanan hidup manusia.

Luqiani Octa Pratiwi menghidupkan legenda Ki Bahu Reksa melalui wayang beber dan batik tulis khas Pekalongan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 15:17

Membenahi Kompetensi Sopir, Atasi Jalur Tengkorak di Bandung Raya

Regulasi mewajibkan pemerintah menjamin penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi pengemudi

Ilustrasi jalur tengkorak di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 13:32

Api Biru Papandayan: Ketika Foto Indah Justru Bisa Menyimpan Bahaya

Foto yang baik tidak harus menjadi bukti bahwa fotografer berhasil mengalahkan jarak.

Fenomena blue fire. (Sumber: kemenparekraf.go.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 10:19

Jejak Kuliner Nusantara: Telaah Literatur Resep Masakan Indonesia Pascakemerdekaan (1950–1979)

Secara keseluruhan, literatur resep masakan kurun 1950 hingga 1979 berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern.

Di antara buku-buku resep masakan yang terbit pada kurun 1950 hingga 1979 telah berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 08:28

Kado Istimewa Hari Jadi Kota Bandung:  Penghargaan Nasional Layanan Investasi

Pada semester pertama tahun 2026 telah mencatatkan angka investasi yang sangat impresif, yaitu melampaui Rp 6 triliun

Penghargaan Nasional Layanan Investasi 2026 untuk  kota Bandung (Sumber: dok bandung.go.id)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 20:45

Becak Listrik Bandung dan Penyakit Lama Kebijakan Publik

Becak listrik adalah alat produksi. Ia menghasilkan uang hanya ketika bergerak dan membawa penumpang. Kalau baterai habis, ada risiko pendapatan hilang.

Becak listrik bantuan Presiden tiba di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayobandung)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 18:56

Koleksi Media Cetak Lawas: Merawat Ingatan dan Sumber Pengetahuan 

Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat dan instan, koleksi media cetak lawas menghadirkan cara lain untuk memahami perjalanan bangsa.

Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, melakukan penelitian terhadap surat kabar Pikiran Rakyat edisi lawas. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 17:27

Toponimi yang Lahir dari Respons Indra Manusia terhadap Stimulus Gempa 

Guncangan gempa bumi yang besar dengan kehancuran permukiman, akan menimbulkan emosi dan rasa takut, sebab inilah yang dapat menjadi alasan lahirnya toponim Cieundeur dan Cigenjlong.

Korban Gempa Cianjur. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 16:03

Mengapa Sejarah Kelam G30S Harus Tetap Dibaca?

Seyogianya sejarah harus tetap dibaca, meski itu adalah sejarah kelam. Sejarah bukanlah alat untuk menebar kebencian, tetapi dari sejarah kita belajar. Pentingnya menjaga nilai-nilai Pancasila.

Poster rilis film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI tahun 1984 oleh Perusahaan Produksi Film Negara. (Sumber: Wikimedia Commons)