Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan Rabu 18 Mar 2026, 20:29 WIB
Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)

Di setiap hari raya sudah menjadi kebiasaan kita untuk menyiapkan kue–kue khas, terutama kue–kue kering yang disajikan dalam toples plastik bening. Kesemuanya itu tertata rapi di meja–meja ruang tamu di setiap rumah saat hari raya. Bukan hanya Lebaran, namun hari raya lainnya pun, kue–kue kering selalu menjadi teman sejati untuk melengkapi suasana. 

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”, yang berarti kue kue yang berukuran kecil yang sekali hap saja untuk memakannya. Sedangkan di Italia, istilah kue–kue kering sering disebut dengan “biscotti” yang nantinya bertoponimi di negara kita menjadi kata biskuit. Sedangkan di negara Jerman, kue–kue kecil disebut keks, yang nantinya di negara kita bertoponimi menjadi Cake ( dalam bahasa inggris). 

Dalam tiga buah buku karya Fadly Rahman yang berjudul Jejak Rasa Nusantara, Rasa Tanah Air dan Rijsttafel kita akan disuguhkan kisah–kisah sejarah kuliner khas Nusantara ini dengan lengkap, dan sang penulis pun berkisah bahwa menyajikan kue kering saat hari raya ditengarai muncul pada masa kolonial Belanda. Semuanya terjadi karena proses akulturasi warga Eropa, terutama Belanda dan warga lokal pada abad ke 19 dan abad ke 20 yang melahirkan penyerapan budaya Eropa dalam budaya Indonesia, terlebih lagi dalam hal kuliner.

Pada masa kolonial Belanda, menyajikan kue–kue kering yang lahir akibat proses akulturasi tersebut merupakan kebiasaan warga menengah atas pada saat itu, betul–betul menunjukan status sosial sang empunya rumah pada saat hari raya. Saat itu masyarakat  Hindia Belanda kelas atas sudah jarang menyajikan makanan tradisional yang terbuat dari sagu, tepung beras, tepung ketan dan lainnya. Karena itu berubahlah pola yang terjadi di masyarakat soal menu kudapan yang disajikan.

Masyarakat Hindia Belanda saat itu merasa cemilan lokal tidak tahan lama. Berbeda dengan tekstur kue–kue kering yang disajikan, ia akan lebih awet beberapa hari bahkan beberapa minggu, hingga mulai dipertimbangkan hal ekonomis dalam penyajian kudapan untuk hari raya tersebut.

Kue- kue kering tersebut diadaptasi dan diakulturasikan dengan budaya nusantara, namun memang di Eropa pun kue–kue kering tersebut memang disajikan ketika hari Natal tiba. Lalu ketika Belanda dan warga Eropa lainnya mulai memasuki nusantara, budaya tersebut tetap dilakukan para warga Eropa di Hindia Belanda, mereka saling bertukar kue–kue kering, dan para pejabat Eropa pun banyak yang mengantarkan kue–kue kering tersebut pada pejabat–pejabat lokal ketika Natal dan Idul Fitri tiba. Hingga , makin populerlah keberadaan kue–kue kering tersebut di benak para warga lokal.

Kue nastar adalah salah satu kue yang paling khas saat hari raya Idul Fitri. Nama nastar ternyata berasal dari kata–kata bahasa Belanda yaitu “ Ananas” yang artinya buah nanas dan “taart” yang berarti adonan pie. Pada awalnya di negara Belanda dan negara–negara Eropa lainnya, isian kue ini adalah selai buah blueberry, namun karena buah blueberry sulit ditemukan di Hindia Belanda saat itu maka, warga lokal memakai buah nanas sebagai penggantinya. 

Lalu kue kering yang sering kita jumpai saat hari saya lainnya adalah kastengel, kue ini adalah kue kering berbahan dasar keju. Kaas dalam bahasa Belanda artinya adalah keju dan stengels adalah batang. Dahulu, kastengels adalah cemilan khas Belanda yang awalnya berbentuk stik yang panjang seperti roti yang sering dijadikan pelengkap sup atau salad. Kue ini harganya mahal, karena pada resep awal menggunakan keju edam yang harganya cukup tinggi. Kastengels masuk ke Hindia Belanda pada abad ke 19 dan 20, dibawa oleh para kebiasaan para nyonya  Belanda dan para pejabat kolonial lainnya. 

Baca Juga: Kisah Rengginang di Dalam Kaleng Khong Guan yang Tak Pernah Usai

Masuk ke budaya nusantara perubahan kastengels disesuaikan dengan ukuran oven yang ada, maka kastengels khas nusantara adalah berukuran 3 sampai 4 cm saja, dan bahan keju edam yang mahal pun diganti dengan keju cheddar agar lebih ekonomis, namun ternyata menjadikan kekhasan tersendiri. Kastengels kini menjadi ikon kuliner perpaduan Belanda–Indonesia yang populer sebagai salah satu kue kering wajib saat perayaan hari raya Idul Fitri.

Berbeda dengan sejarah kue putri salju yang identik berbentuk bulan sabit,  sangat digemari anak–anak karena dibalut dengan gula halus. Ternyata awalnya kue kering ini berasal dari Austria dan Jerman yang dikenal dengan sebutan Vanillekipferl yang juga dibawa ke Hindia Belanda pada masa kolonial di abad ke 19 dan 20.

Resep asli kue putri salju ini sebetulnya dibuat dari kacang almond, namun karena di Hindia Belanda saat itu sulit ditemukan, maka digantilah dengan kacang tanah yang dipadupadankan dengan susu bubuk. Yang paling unik adalah mengapa diberinama putri salju, karena ditaburi oleh banyak gula putih halus, sehingga identik seperti salju yang memberikan sensasi dingin dan manis saat digigit. Di Eropa kue putri salju ini sangat identik dengan perayaan hari raya Natal. Namun, di indonesia lebih terkenal sebagai kue hari raya Idul Fitri. 

Itulah kisah sejarah dibalik kue–kue kering yang sangat familiar dalam tradisi budaya kita, ternyata belajar sejarah itu bisa dimana saja dan belajar sejarah itu bisa lahir dari apa pun, salah satunya kue–kue kering ini. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Malia Nur Alifa
Periset sejarah Lembang sejak 2009. Menuliskan beberapa buku sejarah tentang Lembang dan pemandu wisata sejarah sejak 2015.

Berita Terkait

News Update

Bandung 18 Apr 2026, 15:10

Manis Legit Jenang Mbak Nana, Primadona Baru di Tengah Hiruk Pikuk Pasar Cihapit

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan.

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 18 Apr 2026, 14:30

Melawan Arus Digital: Denyut Musik Analog di Bandung dan Makassar

Di tengah dominasi digital, kaset dan vinyl tetap hidup sebagai simbol identitas, koneksi emosional, dan ruang nostalgia antargenerasi.

Koleksi kaset lama di DU 68 Musik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 18 Apr 2026, 11:47

Uang Menjadi Simbol: Membaca Realitas Sosial Lewat Lukisan “Uang Kecil”

Lukisan "Uang Kecil" karya Vania Kamila Zahra merefleksikan ketimpangan sosial dan perjuangan hidup melalui detail uang lusuh, mengajak penonton bersyukur di tengah kerasnya realitas ekonomi.

Vania Kamila Zahra dan lukisannya yang berjudul “Uang Kecil”. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 20:52

Tantangan Kartini Masa Kini : Bangkitkan Kesadaran Konsumen dan Geluti Ekonomi Kreatif

Kartini 4.0 memiliki tugas sejarah memperbaiki mutu, volume produksi dan kemasan pangan tradisional sehingga mampu bersaing di pasar.

Ilustrasi RA.Kartini dalam sebuah film (Sumber: Legacy Pictures)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 19:51

Pamer atau Bertahan? Logika Sosial di Balik Tren Flexing di Media Sosial

Flexing bukan sekadar pamer kekayaan, tetapi bagian dari logika media sosial yang menuntut setiap orang untuk terus terlihat dan diakui.

Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 18:03

Kisah Kaum Urban 'Wong Kalang' di Jantung Parijs van Java

Mungkin untuk sebagian orang kisah “Wong Kalang” ini masih terdengar samar.

Anak turun keluarga wong kalang yang menetap di barat Braga sejak 1880. (Foto: Dokumentasi keluarga Apandi)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 17:25

Di Balik Roda yang Bergerak: Bandung, Angkot, dan Cara Kita Membaca Kota

Hari Angkutan Nasional menjadi momen bersejarah sekaligus cara untuk mengenal Kota Bandung, tidak hanya dari keindahannya, tetapi juga dari kehidupan yang bergerak di dalamnya.

Angkot di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 17 Apr 2026, 16:44

Panduan Wisata Situ Bagendit Garut: Tiket, Rute, dan Wahana

Situ Bagendit menawarkan tiket murah, akses mudah, wahana air, dan panorama empat gunung, cocok untuk wisata keluarga di Garut.

Situ Bagendit, Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 12:51

Perempuan yang Menulis dalam Bahasa Penjajahnya, Sisi Lain Kartini yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah

Di balik peringatan Hari Kartini, ada sisi gelap yang terlupakan, perjuangan seorang perempuan yang bahkan harus menulis dalam bahasanya sendiri.

R.A. Kartini. (Sumber: Istimewa)
Beranda 17 Apr 2026, 11:45

Lapak Cilok dan Buku: Cara Raja Menantang Stigma di Jalan Dago

Lapak cilok di Dago jadi ruang baca gratis yang digagas Raja. Ia menantang stigma bahwa membaca hanya milik kalangan tertentu, lewat buku yang dibuka untuk siapa saja.

Berjualan cilok menjadi sumber penghasilan utama Raja, di sela kegiatannya mengelola lapak baca sederhana di pinggir jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 11:16

Membangun LRT Bandung Raya, Revolusi Angkutan Kota yang Esensial

Sistem LRT memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan moda yang lain.

Ilustrasi urgensi sistem angkutan LRT untuk kawasan Bandung Raya (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Linimasa 17 Apr 2026, 10:44

Para Peramal Piala Dunia, dari Paul Si Gurita hingga Prediksi AI

Fenomena ramalan Piala Dunia berkembang dari Paul si gurita hingga kecerdasan buatan yang kini memprediksi hasil turnamen global 2026.

Paul Si Gurita, peraamal Piala Dunia 2010. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 09:42

Ciseeng, Endapan Laut Purba yang Dikukus Panas Bumi

Endapan travertin Cisѐѐng yang membukit, merupakan endapan dari masa lalu kini, yang sudah berlangsung jutaan tahun.

Gundukan endapan travertin, semula bentuknya menyerupai sѐѐng, menyerupai dandang, dan di dalamnya terdapat air panas yang terus membual. Inilah yang menjadi inspirasi para karuhun untuk menamai kawasan ini Cisѐѐng. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 08:50

Mitigasi El Nino Godzilla untuk Ketenagakerjaan

Para pekerja sangat rentan terkena dampak kabut asap , temperatur ekstrim serta debu beterbangan yang bisa membahayakan jiwanya.

Kekeringan akibat perubahan iklim El Nino di  di Kabupaten Bandung Barat (KBB). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 20:13

Komunitas Lite Rock Society Wadah Ekspresi Musisi Rock Bandung dari Radio K-Lite FM

Radio K-Lite FM melalui program musik Lite Rock, kini memberikan kesempatan kepada band-band rock di seputaran Kota Bandung.

Host Lite Rock bersama Band Rain of Doom dan penggiat rock Ghowo Van Bares dalam sesi talk show di K-Lite FM Bandung. (Foto: Band Rain of Doom)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 18:26

Bandung Setelah Asia-Afrika: Apa yang Tersisa?

Kota yang menyimpan jejak Konferensi Asia-Afrika 1955 sekaligus menghadapi jarak antara simbol solidaritas masa lalu dan realitas tantangan masa kini.

eringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 17:52

Mengapa Jalur Sepeda di Kota Bandung Gagal Jadi Solusi Transportasi?

Jalur sepeda di Kota Bandung masih menghadapi konflik ruang dan lemahnya implementasi kebijakan, sehingga belum mampu menjadi alternatif transportasi harian yang andal dan selamat.

Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 16 Apr 2026, 16:23

DU 68, Lapak Jalanan yang Tumbuh Jadi Ruang Berkumpul Pecinta Musik Analog

DU 68 berawal dari lapak kaset sederhana di jalanan Bandung, lalu tumbuh menjadi ruang berkumpul bagi pecinta musik analog yang bertahan di tengah dominasi era digital.

Di sudut Dipatiukur, DU 68 Musik menjadi tempat singgah para pencinta musik analog. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 16:19

Reinventing Bandung Kota Diplomasi, Nyalakan Lagi Solidaritas Asia Afrika!

Bentuk solidaritas bangsa Asia Afrika yang relevan dan aktual perlu dirumuskan kembali. Karena eksploitasi dan penjajahan sejatinya masih ada.

Ilustrasi diorama Konferensi Asia Afrika di Museum KAA Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 16 Apr 2026, 15:25

7 Kegiatan, Wisata, dan Kuliner yang Paling Cocok Dinikmati Saat Cuaca Dingin

Rekomendasi 7 kegiatan seru saat cuaca dingin, mulai dari kuliner hangat, ngopi santai, hingga staycation nyaman.

Ilustrasi ngopi di kafe saat cuaca dingin. (Sumber: Freepik)