Beda Hari Satu Kemenangan: Menghargai Landasan Ilmu di Balik Penentuan Hari Raya

2 menit baca
Nenah Haryati
Ditulis oleh Nenah Haryati diterbitkan
Salat Idulfitri di Balai Kota Bandung Berlangsung Khidmat, Jadi Ajang Silaturahmi Warga. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar)
Salat Idulfitri di Balai Kota Bandung Berlangsung Khidmat, Jadi Ajang Silaturahmi Warga. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar)

Di sela-sela obrolan santai sambil menikmati kue nastar bersama keluarga, nggak jarang obrolan kita bergeser ke topik yang cukup klasik: "Kenapa ya Lebaran tahun ini kok beda lagi?" Pertanyaan itu memang sudah jadi langganan setiap tahun, seolah-olah sudah jadi bagian dari tradisi di meja makan kita. Bahkan, rasa penasaran itu biasanya sudah muncul beberapa hari sebelum takbiran berkumandang.

Penentuan awal bulan ini bukan soal siapa yang paling benar atau siapa yang keliru. Di satu sisi, ada teman-teman kita yang berpegang teguh pada metode Rukyatul Hilal—yaitu cara yang sangat menjaga tradisi dengan "mengintip" langsung keberadaan bulan sabit muda di ufuk.

Di sisi lain, ada juga yang lebih percaya pada Metode Hisab, yang mengandalkan hitungan astronomi super akurat untuk memprediksi posisi bulan secara matematis. Keduanya bukan cara yang asal-asalan. Metode Rukyat punya dasar sejarah yang kuat, sementara Hisab punya akurasi data yang luar biasa. Para ulama yang memegang teguh salah satu metode ini pun sudah melakukan kajian yang sangat dalam.

Seni Menghargai "Cara Tracking" Ulama

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Perbedaan tanggal 1 Syawal seharusnya nggak kita lihat sebagai perpecahan. Kalau para ahli ilmu saja bisa saling menghargai cara tracking masing-masing, masa kita yang tinggal terima hasilnya malah sibuk berdebat? Menghargai landasan ilmu di balik penentuan hari raya adalah bentuk kedewasaan kita dalam beragama.

Lebaran itu bukan soal menang-menangan tanggal di kalender, tapi soal kemenangan hati kita setelah sebulan penuh "war" melawan hawa nafsu. Mau hari Sabtu atau Minggu, tujuannya satu: merayakan rasa syukur kepada Sang Pencipta.

Perbedaan waktu merayakan bukan alasan untuk membuat jarak, justru inilah momen paling pas untuk menunjukkan toleransi dan rasa saling menghargai. Inilah hari untuk saling memaafkan. Memang, banyak yang menganggap Lebaran hanya sekadar formalitas tahunan—yang kalau dasarnya sulit memaafkan, ya akan tetap terasa sulit.

Baca Juga: Setiap Habis Ramadhan

Lebaran bukan hanya diisi seremoni atau bagi-bagi amplop. Ini adalah satu langkah besar untuk menjernihkan kembali hati kita. Jika setelah ini masih ada yang memilih untuk tetap menjaga jarak atau tidak bertegur sapa, itu kembali ke pilihan masing-masing. Namun, bukankah sayang jika kemenangan ini dilewati tanpa kedamaian batin?

Lalu, siapa orang pertama yang harus kita kasih ucapan terima kasih dan minta maaf? Jawabannya bukan orang lain, tapi diri sendiri. Kita perlu berterima kasih karena diri ini sudah mau berjuang, bertahan, dan berusaha jadi versi lebih baik selama sebulan penuh.

Mari kita nikmati kemenangan ini dengan hati yang lapang. Karena di balik metode penentuan hari raya, tetap ada satu kebahagiaan yang kita tuju bersama. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Nenah Haryati
Tentang Nenah Haryati
Mahasiswa yang hobi mengamati sisi lain kehidupan sehari-hari, terutama yang dialami Generasi Z.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 28 Sep 2026, 07:40

Gunta Akhiri: Mewujudkan Rumah Besar Para Insinyur Kota Bandung

Tantangan besar ketersediaan Insinyur Profesional mesti segera diatasi

Ilustrasi Ketua PII  Cabang Bandung, Gunta Akhiri dan Ketum PII Pusat, Ilham Akbar Habibie (Sumber: dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 19:12

Eksplorasi Gastronomi Bandung: Menyingkap Jejak Rasa, Sejarah, dan Warisan Budaya Pasundan

Memahami kuliner Bandung bukan sekadar aktivitas konsumsi, melainkan sebuah penelusuran antropologis terhadap budaya Pasundan yang menempatkan harmoni alam di atas piring saji.

Soto Bandung tampil unik dengan kuah bening kaldu sapi sebagai pembeda dari soto bersantan di daerah lain, dipadukan secara khas dengan potongan lobak. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 16:09

Jalan yang Benar di 'Google Maps' Belum Tentu Benar bagi Kendaraan Kita

Google Maps tidak berada di balik kemudi. Ia tidak tahu secara langsung apakah kendaraan tertentu membawa muatan berlebih atau apakah mesin kendaraan sedang prima.

Google Maps (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:36

Cuma Rp216 Bisa Keliling Bandung! Merayakan Ulang Tahun Kota Kembang Naik Bandros dan TMB

Pemerintah Kota Bandung memberikan kado spesial kepada seluruh warga dan wisatawan dalam rangka merayakan Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-216.

Salah satu video Youtube Boby Rachma "BANDUNG TOUR ON BUS!! KELILING KOTA BANDUNG NAIK BANDROS!!".
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:06

Ekstrakurikuler yang Membahagiakan sebagai Resiliensi Pendidikan Berkelanjutan

Hadirnya pembelajaran ekstrakurikuler bagi murid diwujudkan dengan kegiatan yang lebih tepat dan memberi ruang bagi murid untuk mengekspresikan dirinya sesuai dengan hobi atau minat bakatnya.

Ilustrasi murid sekolah negeri. (Sumber: Pexels/Yazid N)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 08:26

Kamera Dulu, Peluk dan Tolong Kemudian

Fenomena masyarakat modern yang lebih mengutamakan kamera dan dokumentasi dibandingkan dengan mengutamakan empati.

Fenomena yang sering terjadi pada masyarakat modern yang menjadikan dokumentasi satu-satunya yang penting ketika terjadi sesuatu (Sumber: Generated AI)
Beranda 26 Sep 2026, 11:23

46 Kilometer Jalan yang Melintasi Kota Bandung Ini Bukan Milik Pemkot

Berdasarkan dokumen itu, sebagian besar ruas jalan nasional yang melintasi Kota Bandung tersebut membentang dari barat ke timur.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 19:46

MJT: Program Pemerintah Jawa Barat yang Cukup Solutif untuk Mengurangi Kemacetan

Metro Jabar Trans menjadi program yang cukup bermanfaat untuk meminimalisir kemacetan juga alternatif kendaraan umum yang terjangkau bagi masyarakat

Metro Jabar Trans menjadi salah satu transportasi umum pilihan masyarakat (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 18:19

Menonton Film di Bioskop Legendaris Bandung Era 90-an

Jauh sebelum bioskop hadir di dalam pusat perbelanjaan dan sinepleks modern, Bandung memiliki banyak gedung bioskop yang menjadi bagian dari denyut kehidupan kota.

Penulis berdiri di seberang bekas Bioskop Dian, Jalan Dalem Kaum, tepat di seberang kawasan Alun-Alun Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 17:24

Apa yang Salah Ketika Kekerasan Dipertontonkan di Sosial Media secara Vulgar?

Tontonan pada konten media sosial kini banyak yang mempertontonkan kekerasan secara vulgar. Nilai-nilai humanistik kian tergerus. Apakah kita bisa bijak dan memikirkan dampaknya untuk masa depan?

Ilustrasi korban kekerasan. (Sumber: Pexels | Foto: Daniel Reche)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 16:50

Nilai Diri 'Dus Obat' dalam Perspektif Industri Farmasi

Dus obat yang sering kita sepelekan ternyata tidak sesederhana yang kita pikirkan karena perlu spesifikasi tertentu saat diproduksi.

Dus Obat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Seni Budaya 25 Sep 2026, 15:21

Mengenal Makna Kehidupan Melalui Batik

Legenda Ki Bahu Reksa dihadirkan melalui empat panel batik tulis Pekalongan yang menggambarkan perjalanan hidup manusia.

Luqiani Octa Pratiwi menghidupkan legenda Ki Bahu Reksa melalui wayang beber dan batik tulis khas Pekalongan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 15:17

Membenahi Kompetensi Sopir, Atasi Jalur Tengkorak di Bandung Raya

Regulasi mewajibkan pemerintah menjamin penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi pengemudi

Ilustrasi jalur tengkorak di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 13:32

Api Biru Papandayan: Ketika Foto Indah Justru Bisa Menyimpan Bahaya

Foto yang baik tidak harus menjadi bukti bahwa fotografer berhasil mengalahkan jarak.

Fenomena blue fire. (Sumber: kemenparekraf.go.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 10:19

Jejak Kuliner Nusantara: Telaah Literatur Resep Masakan Indonesia Pascakemerdekaan (1950–1979)

Secara keseluruhan, literatur resep masakan kurun 1950 hingga 1979 berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern.

Di antara buku-buku resep masakan yang terbit pada kurun 1950 hingga 1979 telah berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 08:28

Kado Istimewa Hari Jadi Kota Bandung:  Penghargaan Nasional Layanan Investasi

Pada semester pertama tahun 2026 telah mencatatkan angka investasi yang sangat impresif, yaitu melampaui Rp 6 triliun

Penghargaan Nasional Layanan Investasi 2026 untuk  kota Bandung (Sumber: dok bandung.go.id)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 20:45

Becak Listrik Bandung dan Penyakit Lama Kebijakan Publik

Becak listrik adalah alat produksi. Ia menghasilkan uang hanya ketika bergerak dan membawa penumpang. Kalau baterai habis, ada risiko pendapatan hilang.

Becak listrik bantuan Presiden tiba di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayobandung)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 18:56

Koleksi Media Cetak Lawas: Merawat Ingatan dan Sumber Pengetahuan 

Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat dan instan, koleksi media cetak lawas menghadirkan cara lain untuk memahami perjalanan bangsa.

Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, melakukan penelitian terhadap surat kabar Pikiran Rakyat edisi lawas. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 17:27

Toponimi yang Lahir dari Respons Indra Manusia terhadap Stimulus Gempa 

Guncangan gempa bumi yang besar dengan kehancuran permukiman, akan menimbulkan emosi dan rasa takut, sebab inilah yang dapat menjadi alasan lahirnya toponim Cieundeur dan Cigenjlong.

Korban Gempa Cianjur. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 16:03

Mengapa Sejarah Kelam G30S Harus Tetap Dibaca?

Seyogianya sejarah harus tetap dibaca, meski itu adalah sejarah kelam. Sejarah bukanlah alat untuk menebar kebencian, tetapi dari sejarah kita belajar. Pentingnya menjaga nilai-nilai Pancasila.

Poster rilis film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI tahun 1984 oleh Perusahaan Produksi Film Negara. (Sumber: Wikimedia Commons)