Mengapa Sejarah Kelam G30S Harus Tetap Dibaca?

4 menit baca
Vito Prasetyo
Ditulis oleh Vito Prasetyo diterbitkan
Poster rilis film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI tahun 1984 oleh Perusahaan Produksi Film Negara. (Sumber: Wikimedia Commons)
Poster rilis film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI tahun 1984 oleh Perusahaan Produksi Film Negara. (Sumber: Wikimedia Commons)

Pada intinya, kenapa sejarah harus dibaca kembali? Sejarah itu sebagai kerangka perjalanan bangsa, yang seyogianya bukan dijadikan sebagai alat penebar kebencian. Kita wajib tahu, bahwa bangsa yang ada sekarang itu tidak bisa terlepas dari perjalanan sejarah masa lalu. Ada kisah pahit, tetapi ada juga kisah yang fenomenal terhadap keberhasilan bangsa di pelbagai sektor.

Generasi muda sekarang, banyak yang tidak mengalami dan tidak tahu apa yang terjadi di masa lalu. Perjuangan bangsa demi NKRI bukanlah pemberian dari penjajah, yang memberikan kemerdekaan bagi negara Indonesia. Semua dilewati dengan perjuangan berat.

Ada sejarah yang ingin kita rayakan. Ada pula sejarah yang ingin kita lupakan. Namun bangsa yang hanya membaca sejarah yang menyenangkan dirinya sendiri sesungguhnya sedang membangun ingatan yang rapuh.

Peristiwa Gerakan 30 September 1965, dan rangkaian kekerasan yang berlangsung sesudahnya, adalah salah satu bagian paling gelap dalam perjalanan Indonesia. Karena itu, sejarah tersebut tetap perlu dibaca. Bukan untuk membangkitkan dendam. Bukan pula untuk membuka kembali luka antargenerasi. Terlebih bukan untuk menjadikan sejarah sebagai alat menghakimi kelompok tertentu pada masa kini.

Sejarah harus dibaca karena manusia mempunyai kecenderungan mengulangi kesalahan ketika ia berhenti mengingat. Peristiwa 1965 tidak berdiri sebagai satu kejadian yang sederhana. Di dalamnya terdapat konflik politik, pertarungan ideologi, ketegangan militer, pergulatan kekuasaan, serta kekerasan yang kemudian menimpa masyarakat dalam skala luas.

Komnas HAM dalam penyelidikannya mengenai peristiwa 1965–1966 menemukan bukti permulaan yang cukup mengenai berbagai bentuk kejahatan terhadap kemanusiaan, antara lain pembunuhan, pemusnahan, perbudakan, pemindahan penduduk secara paksa, perampasan kebebasan, penyiksaan, kekerasan seksual, penganiayaan, dan penghilangan orang secara paksa.

Fakta tersebut membuat sejarah 1965 tidak cukup dibaca sebagai cerita mengenai siapa yang menang dan siapa yang kalah. Ada keluarga yang kehilangan ayah. Ada anak yang tumbuh tanpa mengetahui secara utuh apa yang terjadi kepada orang tuanya. Ada orang-orang yang mengalami penahanan, stigma dan diskriminasi. Ada pula keluarga yang selama puluhan tahun hidup dengan ketakutan dan memilih diam.

Karena itu, membaca sejarah bukan sekadar menghafalkan tanggal 30 September dan 1 Oktober 1965. Membaca sejarah berarti berusaha memahami bagaimana sebuah masyarakat dapat masuk ke dalam situasi ketika manusia begitu mudah kehilangan kemanusiaannya.

Sejarah bukan alat untuk mewariskan kebencian. Ada kesalahpahaman yang perlu diluruskan. Mengingat tragedi 1965 tidak berarti membenarkan komunisme. Demikian pula, mengakui penderitaan korban tidak berarti menghapus kenyataan bahwa pada masa itu terdapat konflik politik dan tindakan yang dilakukan oleh berbagai aktor politik.

Sejarah justru menjadi lebih dewasa apabila mampu melihat persoalan dengan kompleksitasnya. Kita dapat menolak suatu ideologi tanpa membenci manusia. Kita dapat mempertahankan negara tanpa menghalalkan kekerasan. Kita dapat berbeda pandangan politik tanpa menganggap orang yang berbeda sebagai musuh yang harus dihancurkan.

Di sinilah sejarah 1965 mempunyai relevansi yang jauh lebih besar daripada sekadar perdebatan mengenai masa lalu. Ia berbicara tentang batas-batas kemanusiaan.

Ketika seseorang mulai percaya bahwa kelompok lain tidak lagi memiliki hak untuk hidup, berbicara, beribadah, bekerja, atau memperoleh keadilan, pada saat itulah kehidupan bernegara memasuki wilayah yang berbahaya.

Itulah sebabnya generasi muda perlu membaca sejarah 1965 bukan dengan kebencian, melainkan dengan kemampuan berpikir kritis.

Menariknya, tragedi semacam 1965 justru memberikan alasan mengapa Pancasila tetap penting dalam kehidupan bangsa. Pancasila bukan sekadar lima kalimat yang dibacakan dalam upacara. Ia seharusnya menjadi etika kehidupan bersama.

Perayaan Milad PKI yang ke-45 di Jakarta pada awal tahun 1965. (Sumber: Wikimedia Commons)
Perayaan Milad PKI yang ke-45 di Jakarta pada awal tahun 1965. (Sumber: Wikimedia Commons)

Kelima sila itu bukan sekadar slogan. Dalam kerangka BPIP, Pancasila diposisikan sebagai dasar negara, ideologi dan pandangan hidup bangsa yang harus diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Sejarah seharusnya menjadi cermin. Generasi muda harus mengetahui bahwa demokrasi tidak otomatis membuat sebuah bangsa kebal terhadap kekerasan. Pendidikan tidak otomatis membuat manusia terbebas dari fanatisme. Kemajuan teknologi juga tidak otomatis membuat masyarakat menjadi lebih beradab.

Karena itu, pelajaran terpenting dari sejarah bukanlah menghafal siapa yang menjadi musuh pada masa lalu, melainkan memahami bagaimana kebencian terhadap sesama manusia dapat dibentuk dan dilegitimasi.

Yang seharusnya kita takutkan adalah masyarakat yang tidak mampu membaca sejarah secara kritis. Membaca sejarah berarti memberikan ruang kepada berbagai sumber, kesaksian, dokumen dan penelitian. Tidak semua kesaksian harus diterima begitu saja tanpa kritik, tetapi tidak pula setiap kesaksian boleh dibungkam hanya karena membuat kita tidak nyaman.

Sejarah yang sehat adalah sejarah yang memungkinkan masyarakat menguji fakta.

Komnas HAM sendiri telah mendokumentasikan persoalan 1965–1966 sebagai bagian dari pembahasan pelanggaran HAM berat masa lalu. Dalam dokumentasi tersebut juga ditegaskan bahwa dampak peristiwa itu tidak berhenti pada korban langsung, tetapi berlanjut dalam bentuk diskriminasi dan penderitaan yang dirasakan korban maupun keluarga korban.

Maka, keberanian membaca sejarah bukan keberanian untuk membongkar luka demi luka. Ia adalah keberanian untuk mengatakan: Kita pernah mengalami kesalahan besar sebagai bangsa, dan kita tidak ingin mengulanginya.

Kita mempertahankan Pancasila bukan hanya karena ia pernah menjadi dasar negara, tetapi karena nilai-nilainya memberi kita bahasa moral untuk mengatakan bahwa perbedaan politik tidak boleh menghapus kemanusiaan, kekuasaan tidak boleh menghalalkan kekerasan, dan persatuan tidak boleh dibangun dengan mengorbankan keadilan.

Sejarah boleh menjadi gelap. Tetapi bangsa tidak boleh kehilangan cahaya dari sejarah itu. Cahaya tersebut adalah ingatan, kemanusiaan, keadilan, persatuan—dan Pancasila.

Di sini, Pancasila bukan sebagai slogan penutup, melainkan sebagai alat untuk membaca kembali tragedi 1965: bagaimana sila kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial dapat menjadi prinsip agar konflik politik tidak berubah menjadi kekerasan terhadap manusia. Ini juga sejalan dengan dokumentasi Komnas HAM mengenai dampak kemanusiaan peristiwa 1965–1966. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Vito Prasetyo
Tentang Vito Prasetyo
Malang

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 24 Sep 2026, 20:45

Becak Listrik Bandung dan Penyakit Lama Kebijakan Publik

Becak listrik adalah alat produksi. Ia menghasilkan uang hanya ketika bergerak dan membawa penumpang. Kalau baterai habis, ada risiko pendapatan hilang.

Becak listrik bantuan Presiden tiba di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayobandung)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 18:56

Koleksi Media Cetak Lawas: Merawat Ingatan dan Sumber Pengetahuan 

Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat dan instan, koleksi media cetak lawas menghadirkan cara lain untuk memahami perjalanan bangsa.

Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, melakukan penelitian terhadap surat kabar Pikiran Rakyat edisi lawas. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 17:27

Toponimi yang Lahir dari Respons Indra Manusia terhadap Stimulus Gempa 

Guncangan gempa bumi yang besar dengan kehancuran permukiman, akan menimbulkan emosi dan rasa takut, sebab inilah yang dapat menjadi alasan lahirnya toponim Cieundeur dan Cigenjlong.

Korban Gempa Cianjur. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 16:03

Mengapa Sejarah Kelam G30S Harus Tetap Dibaca?

Seyogianya sejarah harus tetap dibaca, meski itu adalah sejarah kelam. Sejarah bukanlah alat untuk menebar kebencian, tetapi dari sejarah kita belajar. Pentingnya menjaga nilai-nilai Pancasila.

Poster rilis film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI tahun 1984 oleh Perusahaan Produksi Film Negara. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 13:53

Mengapa Hari Tani dan Reforma Agraria Penting bagi Warga Bandung?

Petani dan usaha pertanian di Kota Bandung masih ada dan terus bertahan,

Hamparan sampah di kota Bandung dan petani yang sedang beraktivitas (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 09:25

Kenapa Biaya Publish Scopus Berbeda? Simak Alasannya!

Biaya publikasi jurnal Scopus sering disalahpahami akademisi. Pahami siapa yang menetapkan biayanya, cara cek tarif resmi, dan cara menyusun anggaran publikasi yang realistis.

Ilustrasi akademisi sedang menyusun jurnal ilmiah. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 08:34

Pelecehan terhadap Perempuan di Ruang Keagamaan

Pelecehan seksual terhadap perempuan tidak menutup kemungkinan terjadi di ruang-ruang keagamaan.

Perempuan seringkali menjadi satu-satunya korban yang harus menanggung traumanya juga beban sosial yang seharusnya ditanggung oleh para pelaku. (Sumber: pexels)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 20:44

KDM Muncul di 'Financial Times' dan Sinyal Radar Kekuasaan Global

Ketika Financial Times mengangkat KDM dalam salah satu reportasenya, yang terjadi bukan sekadar peliputan, melainkan juga sinyal ihwal adanya potensi perubahan lanskap politik.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 19:26

Dari Wilayah Ilir ke Ulu: Sejarah Jembatan Ampera Peninggalan Soekarno

Jembatan Ampera merupakan jembatan yang menghubungi kedua wilayah yaitu Ulu dan Ilir yang terpisah oleh Sungai Musi. Jembatan ini menyimpan berbagai sejarah yang tersimpan di dalamnya.

 (Sumber: Balai Diklat Keuangan Palembang | Foto: Angga Sunda Prima)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 17:23

Ikon Bandung Pilihan Saya: 'Toko Buku Djawa'

Toko Buku Djawa bukan sekadar toko buku lama di Braga, tetapi juga bagian dari memori masa kecil dan jejak perubahan budaya kawasan tersebut.

Etalase toko buku Djawa di Jalan Braga no. 79, Kota Bandung. (Sumber: Flickr | Foto: fatmanabilla)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 16:27

Review Ingatan Sosok Figur Publik yang Pernah Menjabat Walikota Bandung

Setiap pemimpin akan meninggalkan kesan dan jejak sejarah. Sosok walikota Bandung yang diketengahkan di sini adalah Ateng Wahyudi dan Dada Rosada. Layak menjadi sosok figur publik untuk dikenang.

Walikota dari masa ke masa : R. Husein Wangsaatmadja (1976 - 1983), H. Ateng Wahyudi (1983 - 1993), Wahyu Hamidjaja (1983 - 1998), Aa Tarmana (1998 - 2003). (Sumber: Instagram | Foto: Musium Kota Bandung)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 15:23

Konservasi Khusus Owa dan Celepuk Indonesia

Lindungi owa, primata setia Indonesia dan celepuk, burung hantu kecil Indonesia dari kepunahan. Upaya konservasi habitat dan penyelamatan satwa ini demi menjaga keseimbangan ekosistem hutan berharga.

Owa Jawa. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: A.Baihaqi)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 13:59

Keadilan Ekonomi untuk Guru

Guru masih diposisikan sebagai pahlawan, itu pun tanpa tanda jasa, tanpa ada jalan keluarnya, menganggap bahwa guru hanya sukarela, keilmuannya tidak sebesar gaji karyawan non pendidikan.

Sejumlah siswa saat beraktivitas di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 8 Cimahi, Jalan Kerkof, Kota Cimahi, Kamis 18 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 10:26

Potret Destinasi dan Lanskap Kuliner Bogor Tahun 2000

Memasuki milenium baru pada tahun 2000, Bogor tetap mengukuhkan posisinya sebagai destinasi gastronomi yang tak lekang oleh waktu.

Es Pala, minuman segar khas Bogor. (Sumber: ChatGPT | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 09:02

Ada Warga yang Mungkin Hilang dari Radar Data Pemerintah Kota Bandung

Kehidupan bergerak cepat, sementara pemutakhiran data bergerak lambat. Maka, muncullah apa yang diistilahkan sebagai invisible citizens.

Warga sedang antre menerima bantuan sosial. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 18:33

Jika Ada Lagi Taman Nasional atau Taman Hutan Raya Baru di Jawa Barat

Menelusuri peluang hadirnya taman nasional atau taman hutan raya (tahura) baru sebagai benteng keanekaragaman hayati, pelindung ekosistem (flora dan fauna) serta oasis hijau masa depan Bumi Pasundan.

Bagas Aji Prakoso saat menjajal Tahura Djuanda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 16:50

Ketika Idealisme Pengabdian Gen-Z Membentur Tembok Kaku Birokrasi

Artikel opini ini membahas paradoks antara idealisme pengabdian ASN Generasi Z dan budaya birokrasi yang masih dianggap kaku.

Tumpukan Berkas. (Sumber: Chat GPT | Foto: AI Chat GPT)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 15:05

Jalur FM: Ketika Suara dari Udara Menjadi Lebih Jernih

Sebelum gelombang FM semakin ramai di Bandung, perubahan serupa lebih dahulu terasa di Jakarta.

Studio Radio OZ Bandung di Jl. Setrasari II No. 14, Bandung. Radio OZ menjadi salah satu stasiun radio di Bandung yang termasuk awal bermigrasi dari jalur AM ke FM. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 14:42

216 Tahun Kota Bandung: Merawat Warisan dan Membangun Masa Depan Gastronomi Berkelanjutan

Lebih dari sekadar destinasi tempat orang mencari tempat makan yang estetis atau makanan lezat, Bandung pada hakikatnya adalah laboratorium budaya.

Kudapan tradisional khas Kota Kembang yang sangat populer antara lain cireng, cilok, seblak, dan telur gulung. (Sumber: Shutterstock | Foto: Hanifah Kurniati)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 12:21

Momentum Mahasiswa Meraih Prestasi

Mahasiswa sering menyalahkan diri dan keadaannya dalam situasi yang sulit. Menurut mahasiswa, bahwa keberadaannya belum tentu berprestasi. 

Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)