Setiap tokoh yang pernah menjabat sebagai pemimpin atau sebagai figur publik, senantiasa meninggalkan jejak ingatan. Ada kenangan yang memaksa kita mengingat kembali. Meski kenangan itu tidak akan bisa hadir sama pada waktu yang berbeda.
Narasi ini, bukanlah ingin membandingkan antara satu sosok dengan sosok figur lain. Tapi bagaimanapun juga, ada sisi baik yang perlu kita ingat, bahwa stigma sosial selalu menjadi metafora dari perjalanan sebuah sejarah: “Jangan pernah melupakan sejarah.”
Jika kita kilas balik dalam sejarah atau ingatan warga Bandung adalah wali kota yang bukan hanya meninggalkan proyek fisik, tetapi juga melekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, ada dua nama yang sangat kuat: Ateng Wahyudi dan Dada Rosada. Namun karakter keduanya berbeda.
Kalau ukurannya adalah kedekatan dengan kehidupan warga, suasana Bandung pada zamannya, dan jejak yang terasa dalam memori kolektif, sosok H. Ateng Wahyudi sangat menarik untuk dibicarakan. Bukan berarti walikota yang lain tidak meninggalkan jejak sejarah.
Ateng Wahyudi memimpin Bandung pada 1983–1993. Data Pemerintah Kota Bandung juga mencatat periode tersebut. Era di mana teknologi informasi masih belum berkembang pesat. Ini mungkin menjadi salah satu alasan mengapa figur ini, layak untuk dikenang kembali di masa kini, yang terkadang menjadi konotasi dalam masyarakat, karena begitu instan untuk sebuah pencitraan. Di era Ateng Wahyudi, mungkin pendekatan itu masih dengan cara sederhana.
Ia bukan sekadar birokrat yang duduk di Balai Kota. Namanya melekat pada dua dunia yang sangat dekat dengan kehidupan warga Bandung: kota dan Persib. Masa di mana perhatian pemerintah begitu harmonis dengan kemajuan olahraga.
Pada masa kepemimpinannya, perhatian terhadap kebersihan dan penghijauan kota menjadi salah satu cirinya. Bahkan sosok Ateng ikut berada di balik lahirnya ikon Ramadan Haji Geyot, yang kemudian dikenal masyarakat Bandung pada dekade 1990-an.
Tetapi jejak Ateng yang paling kuat barangkali justru berada di Persib. Ia menjadi Ketua Umum Persib pada 1985–1993. Di bawah kepemimpinannya, Persib meraih sejumlah prestasi penting, termasuk gelar Perserikatan 1986 dan 1990 serta keberhasilan di tingkat internasional; sebagai manajer, ia juga terkait dengan keberhasilan Persib meraih gelar 1993/1994.
Jadi, bagi generasi Bandung pada masa itu, Ateng bukan hanya nama di papan Balai Kota. Ia hadir dalam percakapan tentang kampung, kebersihan kota, olahraga, Persib, dan kehidupan sosial masyarakat.
Tetapi ada satu nama lain yang juga sangat kuat. Ia adalah Dada Rosada. Ia memimpin Bandung selama dua periode, 2003–2013. Ia memiliki karakter kedekatan dengan masyarakat yang berbeda dengan Ateng.
Dada dikenal sangat aktif turun ke masyarakat. Bahkan sejumlah warga yang diwawancarai media setelah masa jabatannya menggambarkan Dada sebagai sosok yang dekat dengan kegiatan warga dan sering membantu kegiatan kemasyarakatan. Ia juga memiliki perhatian besar terhadap taman dan ruang kota sehingga pernah mendapat julukan “Wali Kota Gila Taman.”
Pada masa pemerintahannya, Bandung juga menjadi tuan rumah peringatan 50 tahun Konferensi Asia-Afrika pada 2005, sementara pemerintahannya mendorong berbagai pembangunan dan pembenahan kota.
Di bidang sepak bola, Dada mempunyai peran dalam proses pembentukan PT Persib Bandung Bermartabat, yang kemudian menaungi Persib sebagai klub profesional.
Namun sejarah Dada Rosada juga mempunyai sisi yang tidak dapat dilepaskan dari pembicaraan tentang warisannya: ia divonis 10 tahun penjara dalam perkara suap terkait penanganan perkara dana bantuan sosial Pemkot Bandung. Karena itu, pembicaraan tentang kiprahnya harus memisahkan antara program dan kedekatan sosial yang didokumentasikan dengan catatan hukum tersebut.
Mengapa wali kota tertentu bisa begitu berkesan? Menurut penulis, jawabannya bukan semata-mata karena berapa banyak jalan yang dibangun atau berapa banyak penghargaan yang diperoleh.
Seorang wali kota menjadi bagian dari ingatan warga ketika ia masuk ke dalam ritme kehidupan sehari-hari. Warga tidak mengingat wali kota hanya melalui dokumen APBD. Mereka mengingatnya melalui beberapa catatan penting dalam pemerintahan.
Jalan yang mereka lewati, taman tempat anak-anak bermain, stadion tempat mereka menonton Persib, pasar yang mereka datangi, kegiatan kampung, kebersihan jalan, bahkan figur yang mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari.
Itulah sebabnya sosok seperti Ateng Wahyudi menarik secara historis. Ia berada pada masa ketika hubungan antara pemimpin, kota, dan masyarakat belum sepenuhnya dimediasi oleh media sosial.
Wali kota belum menjadi “figur digital”. Ia menjadi figur kota. Dan ini menghasilkan jenis popularitas yang berbeda. Bukan figur yang sengaja direkayasa oleh kemajuan teknologi cerdas, tetapi oleh aksi nyata bagi warganya.

Ada juga sosok Ridwan Kamil, misalnya, kemudian membangun kedekatan dengan warga melalui media sosial dan komunikasi visual. Ateng berada dalam zaman yang sama sekali berbeda: kedekatan dibangun melalui kehadiran fisik dan ingatan kolektif masyarakat.
Maka kalau pertanyaannya adalah “siapa wali kota Bandung yang paling terasa sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Bandung lama?”, penulis akan mengatakan Ateng Wahyudi adalah salah satu nama yang paling kuat untuk dikaji—bukan sebagai klaim bahwa ia secara objektif “terbaik”, melainkan karena jejaknya menyentuh beberapa unsur identitas Bandung sekaligus: kota, kebersihan, ruang publik, budaya populer, dan Persib. Tetapi ini bukanlah pendekatan empiris mutlak dan objektif. Karena setiap orang akan memiliki sudut pandang berbeda. Tergantung ikatan emosional yang dialaminya.
Dan justru di situlah menariknya sejarah sebuah kota: “kadang seorang pemimpin dikenang bukan karena pidatonya, tetapi karena wajah kota yang pernah ia tinggalkan dalam ingatan warganya.” (*)