Review Ingatan Sosok Figur Publik yang Pernah Menjabat Walikota Bandung

4 menit baca
Vito Prasetyo
Ditulis oleh Vito Prasetyo diterbitkan
Walikota dari masa ke masa : R. Husein Wangsaatmadja (1976 - 1983), H. Ateng Wahyudi (1983 - 1993), Wahyu Hamidjaja (1983 - 1998), Aa Tarmana (1998 - 2003). (Sumber: Instagram | Foto: Musium Kota Bandung)
Walikota dari masa ke masa : R. Husein Wangsaatmadja (1976 - 1983), H. Ateng Wahyudi (1983 - 1993), Wahyu Hamidjaja (1983 - 1998), Aa Tarmana (1998 - 2003). (Sumber: Instagram | Foto: Musium Kota Bandung)

Setiap tokoh yang pernah menjabat sebagai pemimpin atau sebagai figur publik, senantiasa meninggalkan jejak ingatan. Ada kenangan yang memaksa kita mengingat kembali. Meski kenangan itu tidak akan bisa hadir sama pada waktu yang berbeda.

Narasi ini, bukanlah ingin membandingkan antara satu sosok dengan sosok figur lain. Tapi bagaimanapun juga, ada sisi baik yang perlu kita ingat, bahwa stigma sosial selalu menjadi metafora dari perjalanan sebuah sejarah: “Jangan pernah melupakan sejarah.”

Jika kita kilas balik dalam sejarah atau ingatan warga Bandung adalah wali kota yang bukan hanya meninggalkan proyek fisik, tetapi juga melekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, ada dua nama yang sangat kuat: Ateng Wahyudi dan Dada Rosada. Namun karakter keduanya berbeda.

Kalau ukurannya adalah kedekatan dengan kehidupan warga, suasana Bandung pada zamannya, dan jejak yang terasa dalam memori kolektif, sosok H. Ateng Wahyudi sangat menarik untuk dibicarakan. Bukan berarti walikota yang lain tidak meninggalkan jejak sejarah.

Ateng Wahyudi memimpin Bandung pada 1983–1993. Data Pemerintah Kota Bandung juga mencatat periode tersebut. Era di mana teknologi informasi masih belum berkembang pesat. Ini mungkin menjadi salah satu alasan mengapa figur ini, layak untuk dikenang kembali di masa kini, yang terkadang menjadi konotasi dalam masyarakat, karena begitu instan untuk sebuah pencitraan. Di era Ateng Wahyudi, mungkin pendekatan itu masih dengan cara sederhana.

Ia bukan sekadar birokrat yang duduk di Balai Kota. Namanya melekat pada dua dunia yang sangat dekat dengan kehidupan warga Bandung: kota dan Persib. Masa di mana perhatian pemerintah begitu harmonis dengan kemajuan olahraga.

Pada masa kepemimpinannya, perhatian terhadap kebersihan dan penghijauan kota menjadi salah satu cirinya. Bahkan sosok Ateng ikut berada di balik lahirnya ikon Ramadan Haji Geyot, yang kemudian dikenal masyarakat Bandung pada dekade 1990-an.

Tetapi jejak Ateng yang paling kuat barangkali justru berada di Persib. Ia menjadi Ketua Umum Persib pada 1985–1993. Di bawah kepemimpinannya, Persib meraih sejumlah prestasi penting, termasuk gelar Perserikatan 1986 dan 1990 serta keberhasilan di tingkat internasional; sebagai manajer, ia juga terkait dengan keberhasilan Persib meraih gelar 1993/1994.

Jadi, bagi generasi Bandung pada masa itu, Ateng bukan hanya nama di papan Balai Kota. Ia hadir dalam percakapan tentang kampung, kebersihan kota, olahraga, Persib, dan kehidupan sosial masyarakat.

Tetapi ada satu nama lain yang juga sangat kuat. Ia adalah Dada Rosada. Ia memimpin Bandung selama dua periode, 2003–2013. Ia memiliki karakter kedekatan dengan masyarakat yang berbeda dengan Ateng.

Dada dikenal sangat aktif turun ke masyarakat. Bahkan sejumlah warga yang diwawancarai media setelah masa jabatannya menggambarkan Dada sebagai sosok yang dekat dengan kegiatan warga dan sering membantu kegiatan kemasyarakatan. Ia juga memiliki perhatian besar terhadap taman dan ruang kota sehingga pernah mendapat julukan “Wali Kota Gila Taman.”

Pada masa pemerintahannya, Bandung juga menjadi tuan rumah peringatan 50 tahun Konferensi Asia-Afrika pada 2005, sementara pemerintahannya mendorong berbagai pembangunan dan pembenahan kota.

Di bidang sepak bola, Dada mempunyai peran dalam proses pembentukan PT Persib Bandung Bermartabat, yang kemudian menaungi Persib sebagai klub profesional.

Namun sejarah Dada Rosada juga mempunyai sisi yang tidak dapat dilepaskan dari pembicaraan tentang warisannya: ia divonis 10 tahun penjara dalam perkara suap terkait penanganan perkara dana bantuan sosial Pemkot Bandung. Karena itu, pembicaraan tentang kiprahnya harus memisahkan antara program dan kedekatan sosial yang didokumentasikan dengan catatan hukum tersebut.

Mengapa wali kota tertentu bisa begitu berkesan? Menurut penulis, jawabannya bukan semata-mata karena berapa banyak jalan yang dibangun atau berapa banyak penghargaan yang diperoleh.

Seorang wali kota menjadi bagian dari ingatan warga ketika ia masuk ke dalam ritme kehidupan sehari-hari. Warga tidak mengingat wali kota hanya melalui dokumen APBD. Mereka mengingatnya melalui beberapa catatan penting dalam pemerintahan.

Jalan yang mereka lewati, taman tempat anak-anak bermain, stadion tempat mereka menonton Persib, pasar yang mereka datangi, kegiatan kampung, kebersihan jalan, bahkan figur yang mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari.

Itulah sebabnya sosok seperti Ateng Wahyudi menarik secara historis. Ia berada pada masa ketika hubungan antara pemimpin, kota, dan masyarakat belum sepenuhnya dimediasi oleh media sosial.

Wali kota belum menjadi “figur digital”. Ia menjadi figur kota. Dan ini menghasilkan jenis popularitas yang berbeda. Bukan figur yang sengaja direkayasa oleh kemajuan teknologi cerdas, tetapi oleh aksi nyata bagi warganya.

Ada juga sosok Ridwan Kamil, misalnya, kemudian membangun kedekatan dengan warga melalui media sosial dan komunikasi visual. Ateng berada dalam zaman yang sama sekali berbeda: kedekatan dibangun melalui kehadiran fisik dan ingatan kolektif masyarakat.

Maka kalau pertanyaannya adalah “siapa wali kota Bandung yang paling terasa sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Bandung lama?”, penulis akan mengatakan Ateng Wahyudi adalah salah satu nama yang paling kuat untuk dikaji—bukan sebagai klaim bahwa ia secara objektif “terbaik”, melainkan karena jejaknya menyentuh beberapa unsur identitas Bandung sekaligus: kota, kebersihan, ruang publik, budaya populer, dan Persib. Tetapi ini bukanlah pendekatan empiris mutlak dan objektif. Karena setiap orang akan memiliki sudut pandang berbeda. Tergantung ikatan emosional yang dialaminya.

Dan justru di situlah menariknya sejarah sebuah kota: “kadang seorang pemimpin dikenang bukan karena pidatonya, tetapi karena wajah kota yang pernah ia tinggalkan dalam ingatan warganya.” (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Vito Prasetyo
Tentang Vito Prasetyo
Malang

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 23 Sep 2026, 17:23

Ikon Bandung Pilihan Saya: 'Toko Buku Djawa'

Toko Buku Djawa bukan sekadar toko buku lama di Braga, tetapi juga bagian dari memori masa kecil dan jejak perubahan budaya kawasan tersebut.

Etalase toko buku Djawa di Jalan Braga no. 79, Kota Bandung. (Sumber: Flickr | Foto: fatmanabilla)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 16:27

Review Ingatan Sosok Figur Publik yang Pernah Menjabat Walikota Bandung

Setiap pemimpin akan meninggalkan kesan dan jejak sejarah. Sosok walikota Bandung yang diketengahkan di sini adalah Ateng Wahyudi dan Dada Rosada. Layak menjadi sosok figur publik untuk dikenang.

Walikota dari masa ke masa : R. Husein Wangsaatmadja (1976 - 1983), H. Ateng Wahyudi (1983 - 1993), Wahyu Hamidjaja (1983 - 1998), Aa Tarmana (1998 - 2003). (Sumber: Instagram | Foto: Musium Kota Bandung)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 15:23

Konservasi Khusus Owa dan Celepuk Indonesia

Lindungi owa, primata setia Indonesia dan celepuk, burung hantu kecil Indonesia dari kepunahan. Upaya konservasi habitat dan penyelamatan satwa ini demi menjaga keseimbangan ekosistem hutan berharga.

Owa Jawa. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: A.Baihaqi)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 13:59

Keadilan Ekonomi untuk Guru

Guru masih diposisikan sebagai pahlawan, itu pun tanpa tanda jasa, tanpa ada jalan keluarnya, menganggap bahwa guru hanya sukarela, keilmuannya tidak sebesar gaji karyawan non pendidikan.

Sejumlah siswa saat beraktivitas di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 8 Cimahi, Jalan Kerkof, Kota Cimahi, Kamis 18 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 10:26

Potret Destinasi dan Lanskap Kuliner Bogor Tahun 2000

Memasuki milenium baru pada tahun 2000, Bogor tetap mengukuhkan posisinya sebagai destinasi gastronomi yang tak lekang oleh waktu.

Es Pala, minuman segar khas Bogor. (Sumber: ChatGPT | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 09:02

Ada Warga yang Mungkin Hilang dari Radar Data Pemerintah Kota Bandung

Kehidupan bergerak cepat, sementara pemutakhiran data bergerak lambat. Maka, muncullah apa yang diistilahkan sebagai invisible citizens.

Warga sedang antre menerima bantuan sosial. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 18:33

Jika Ada Lagi Taman Nasional atau Taman Hutan Raya Baru di Jawa Barat

Menelusuri peluang hadirnya taman nasional atau taman hutan raya (tahura) baru sebagai benteng keanekaragaman hayati, pelindung ekosistem (flora dan fauna) serta oasis hijau masa depan Bumi Pasundan.

Bagas Aji Prakoso saat menjajal Tahura Djuanda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 16:50

Ketika Idealisme Pengabdian Gen-Z Membentur Tembok Kaku Birokrasi

Artikel opini ini membahas paradoks antara idealisme pengabdian ASN Generasi Z dan budaya birokrasi yang masih dianggap kaku.

Tumpukan Berkas. (Sumber: Chat GPT | Foto: AI Chat GPT)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 15:05

Jalur FM: Ketika Suara dari Udara Menjadi Lebih Jernih

Sebelum gelombang FM semakin ramai di Bandung, perubahan serupa lebih dahulu terasa di Jakarta.

Studio Radio OZ Bandung di Jl. Setrasari II No. 14, Bandung. Radio OZ menjadi salah satu stasiun radio di Bandung yang termasuk awal bermigrasi dari jalur AM ke FM. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 14:42

216 Tahun Kota Bandung: Merawat Warisan dan Membangun Masa Depan Gastronomi Berkelanjutan

Lebih dari sekadar destinasi tempat orang mencari tempat makan yang estetis atau makanan lezat, Bandung pada hakikatnya adalah laboratorium budaya.

Kudapan tradisional khas Kota Kembang yang sangat populer antara lain cireng, cilok, seblak, dan telur gulung. (Sumber: Shutterstock | Foto: Hanifah Kurniati)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 12:21

Momentum Mahasiswa Meraih Prestasi

Mahasiswa sering menyalahkan diri dan keadaannya dalam situasi yang sulit. Menurut mahasiswa, bahwa keberadaannya belum tentu berprestasi. 

Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 22 Sep 2026, 10:40

Media Lokal Cari Model Bisnis Baru di Local Media Summit 2026

Media lokal tidak lagi hanya dituntut menjadi penerbit berita, tetapi juga dapat berkembang menjadi agensi lokal, pengelola komunitas.

Local Media Summit (LMS) akan kembali hadir di pada 22-23 Oktober 2026 di Hotel Manhattan Jakarta.
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:15

Jika Benzema Datang, Persib Sebenarnya Membeli Apa?

Status bebas transfer Benzema saat ini membuat sebuah pintu terbuka untuk Persib.

Karim Benzema (Sumber: ayobandung.com | Foto: Wikimedia Commons (Lisensi CC) via ayobandung.com)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:00

Urap: Jejak Mahakarya Kuliner Tertua dan Filosofi Kehidupan dalam Sepiring Sayuran Nusantara

Dalam khazanah gastronomi Indonesia, urap bukan sekadar komposisi sayuran dan kelapa parut.

Urap merupakan sajian sayuran tertua di tanah Jawa yang tercatat secara formal dalam literatur sejarah. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:31

Demokrasi yang Berakar: Ketika Politik Bertemu  Budaya dan Kepercayaan

Sebelum seseorang menjatuhkan pilihan politiknya, ada proses komunikasi yang panjang. Sebelum sebuah kekuasaan dianggap sah, ada proses pembentukan makna.

Diah Fatma Sjoraida merupakan Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. (Sumber: Gemini | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:01

Urgensi Kota Bandung: Persolan Sampah dan Kemacetan

Sampah dan kemacetan adalah dua persoalan besar yang dihadapi Bandung. Harus diatasi dengan membangun kesadaran bersama, yang akhirnya demi kenyamanan bagi warga Bandung, sebagai rumah bersama.

Pengendara melintas di dekat tumpukan sampah yang menggunung di TPS Jalan Makam Caringin, Kota Bandung, Kamis, 9 April 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 18:17

Imaji Papua Bersilaturahmi dengan Caraka Sundanologi Bandung

Imaji Papua membawa cerita tentang manusia, budaya, dan kehidupan Tanah Papua ke Bandung melalui film dan dialog lintas komunitas.

Caraka Sundanologi bersilaturahmi dengan komunitas Imaji Papua melalui pemutaran film dokumenter sebagai ruang berbagi cerita, budaya, dan pengalaman tentang Papua. (Sumber: Nonon Rachnaya)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 17:20

Bandung dan Terbentuknya Karyawan 'Flourish'

Ketika Pemkot Bandung berhasil memangkas hambatan birokrasi,sektor industri harus siapkan sistem rekrutmen yang presisi.

Bandung dan urgensi karyawan "Flourish" (Sumber: dokpri dengan kreasi chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 16:22

Tugu Proklamasi Cirebon: Jejak Pembacaan Proklamasi 15 Agustus 1945

Sebuah tugu berwarna putih di perempatan Jalan Siliwangi, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, itu menjadi saksi bahwa kemerdekaan Indonesia pernah diproklamirkan sebelum 17 Agustus 1945.

Tugu Proklamasi Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Wahyu)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 15:58

Menimbang Dampak Pajak Otomatis di Tengah Melejitnya Lokapasar Kota Bandung

Proses perpajakan digital menuntut UMKM agar merapikan pembukuan mereka

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan (Kanan). (Sumber: Humas Pemkot Bandung)