Di Tanah Baduy, Kesetaraan Tak Perlu Didebatkan

3 menit baca
Netizen
Ditulis oleh Netizen diterbitkan Senin 20 Apr 2026, 13:39 WIB
Di tanah Baduy, kesetaraan laki-laki dan perempuan tak diperdebatkan, melainkan dijalani dalam keseharian yang sederhana dan harmonis. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Dian Naren Prastiti)

Di tanah Baduy, kesetaraan laki-laki dan perempuan tak diperdebatkan, melainkan dijalani dalam keseharian yang sederhana dan harmonis. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Dian Naren Prastiti)

LEBAK, AYOBANDUNG.ID - Pagi baru saja menyentuh perbukitan di wilayah Kawasan Baduy. Kabut tipis masih menggantung, menyelimuti rumah-rumah panggung yang berdiri sederhana. Dari kejauhan, tampak sepasang suami istri berjalan berdampingan menuju ladang. Tidak ada yang berjalan di depan, tidak pula di belakang. Langkah mereka sejajar.

Di banyak tempat lain, pemandangan ini mungkin biasa. Tapi di tengah riuhnya perdebatan soal peran laki-laki dan perempuan di kota tentang siapa yang harus bekerja, siapa yang “seharusnya” di dapur, pemandangan di tanah Suku Baduy justru terasa seperti jawaban yang sederhana.

Saya berkesempatan belajar mengenai kehidupan Baduy dengan menginap di rumah salah satu warga dan sempat mewawancarai ketua adat Baduy setempat.

Di sini, kesetaraan tidak dibicarakan, tapi dijalani

Sehari-hari, laki-laki Baduy dikenal berburu atau mencari madu di hutan. Sementara perempuan menenun kain dengan tangan-tangan terampil yang telah dilatih sejak kecil. Namun pembagian ini tidak pernah menjadi batas kaku. Ia lebih menyerupai ritme, bukan aturan.

Di dapur, misalnya, tidak ada garis tegas yang memisahkan siapa yang “berhak” memasak. Laki-laki bisa ikut menyiapkan makanan, sama seperti perempuan. Aktivitas domestik bukan beban sepihak, melainkan bagian dari kehidupan bersama.

Asap mengepul dari rumah warga biasanya sehari dua kali, saat pagi dan sore. "Pagi masak sarapan terus sore masak lagi menu yang berbeda. Siapa yang masak ya tergantung siapa yang lapar duluan", ujar Pulung kepada Ayobandung.

Aktivitas memasak bersama di Baduy menjadi cerminan kesetaraan yang dijalani—tanpa sekat peran, laki-laki dan perempuan berbagi tugas dalam harmoni kehidupan sehari-hari. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Dian Naren Prastiti)
Aktivitas memasak bersama di Baduy menjadi cerminan kesetaraan yang dijalani—tanpa sekat peran, laki-laki dan perempuan berbagi tugas dalam harmoni kehidupan sehari-hari. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Dian Naren Prastiti)

Begitu pula dalam urusan mengasuh anak. Tidak ada istilah ayah sebagai “pencari nafkah utama” yang absen dari pengasuhan. Di Baduy, ayah dan ibu hadir dalam peran yang sama: mendidik, menjaga, dan membesarkan.

"Walaupun nggak sekolah, tapi kita ajarin anak-anak kami membaca, menulis, dan berhitung oleh orang tuanya sendiri. Kadang sama ayahnya, kadang sama ibunya, tergantung anaknya mau sama siapa", ujar Ayah Hadi.

Menjelang siang, ladang menjadi ruang kerja bersama. Suami dan istri menanam, merawat, hingga memanen berdampingan. Tanah tidak mengenal siapa yang lebih berhak mengolahnya, begitu pula mereka.

Hampir setiap perempuan Baduy memiliki kemampuan menenun. Di beranda rumah, alat tenun sederhana menjadi saksi ketekunan mereka. Benang demi benang dirajut menjadi kain yang bukan hanya bernilai ekonomi, tapi juga menyimpan identitas budaya. Namun tidak semua kain itu dijual. Ada yang tetap disimpan, digunakan sendiri, atau diwariskan. Produksi di sini bukan semata soal pasar, melainkan juga soal makna.

Sore hari, ketika ada hajatan atau kegiatan adat, laki-laki dan perempuan kembali terlihat bekerja bersama. Mereka memanggul kayu dari satu titik ke titik lain, berjalan beriringan di jalur-jalur tanah yang menanjak. Beban itu sama beratnya, dan dipikul bersama.

Tidak ada yang mempertanyakan: ini tugas siapa?

Di banyak ruang diskusi urban, isu gender kerap dibungkus istilah besar "patriarki", emansipasi, hingga stereotip seperti wife trophy. Perdebatan berlangsung panjang, kadang melelahkan, dan tak jarang berujung pada tarik-menarik definisi.

Laki-laki dan perempuan, tua maupun muda, memikul tanggung jawab yang sama beratnya, berjalan bersama dalam keseimbangan hidup yang sederhana namun bermakna. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Dian Naren Prastiti)
Laki-laki dan perempuan, tua maupun muda, memikul tanggung jawab yang sama beratnya, berjalan bersama dalam keseimbangan hidup yang sederhana namun bermakna. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Dian Naren Prastiti)

Namun di Baduy, tidak ada kebutuhan untuk memberi label.

Tidak ada perbedaan derajat antara laki-laki dan perempuan dalam rumah tangga. Tidak ada kompetisi kuasa. Yang ada adalah kemitraan yang berjalan tanpa banyak kata.

Barangkali, di saat masyarakat kota masih sibuk merumuskan apa itu kesetaraan, masyarakat Baduy telah lama mempraktikkannya secara sunyi, namun nyata.

Dan di antara langkah kaki yang sejajar di pagi hari itu, kesetaraan menemukan bentuknya yang paling sederhana dan bisa berjalan bersama.

***

Penulis: Dian Naren

Lulusan Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia. Meminati isu gender, keberagaman, kelompok minoritas, dan hak asasi manusia.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Bandung 10 Jun 2026, 21:21

Menjembatani Komunitas dan Profesional Urban, Strategi Respiro Definisikan Ulang Fashion Berkendara Tropis

Respiro menangkap peluang emas ini dengan merumuskan ulang konsep estetika visual produk agar selaras dengan kebutuhan gaya hidup kaum urban yang serbacepat.

Koleksi perlengkapan berkendara atau riding apparel dari Respiro Indonesia. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 20:24

Tugu Koperasi Tasikmalaya, Bukti Nyata Lahirnya Semangat Koperasi Indonesia

Artikel ini membahas Tugu Koperasi Tasikmalaya sebagai simbol sejarah lahir dan berkembangnya semangat koperasi di Indonesia.

Depan Tugu koperasi Tasikmalaya saat ini (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nabila imania)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 18:47

Ulos: Kain yang Menjadi Simbol dari Masyarakat Batak

Ulos adalah kain tenun khas Batak berbentuk selendang. Benda sakral ini merupakan simbol restu, kasih sayang dan persatuan.

Kain Ulos Ragi Hidup (Sumber: https://repositori.kemendikdasmen.go.id/19484/1/2010-Booklet-Mengenal%20Ulos.pdf)
Bandung 10 Jun 2026, 17:55

Mengenal Kanemura, Brand Kuliner Jepang yang Mengusung Sistem Manajemen Terpusat dalam Bisnis Waralaba

Brand kuliner Jepang, Kanemura, menawarkan berbagai paket kemitraan menarik bagi masyarakat yang ingin merambah bisnis waralaba (franchise).

Brand kuliner Jepang, Kanemura, menawarkan berbagai paket kemitraan menarik bagi masyarakat yang ingin merambah bisnis waralaba (franchise). (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Biz 10 Jun 2026, 17:29

Denyut Digitalisasi Perbankan yang Menghidupi Perajin Sepatu Kulit Cibaduyut

Sejak 2018, Mochamad Indra Yusuf Wahyudin aktif mengikuti pelatihan di Rumah BUMN Bandung.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik Koku Footwear (produsen sepatu kulit) di Taman Cibaduyut Indah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Linimasa 10 Jun 2026, 16:50

Ibun Bajra, Fenomena Alam Embun Membeku di Kertasari Bandung

Fenomena ibun bajra kembali muncul di Kertasari. Embun membeku jadi lapisan es dan berdampak pada pertanian.

Daun teh membeku di Kertasari saat cuaca dingin menyergap Bandung 2019 silam. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 16:48

Menelusuri Jejak Historis Surabi, Oleh-Oleh Khas Jawa Barat

Surabi adalah salah satu makanan tradisional khas Jawa Barat.

Surabi Cihapit Bandung. (Sumber: Instagram | Foto: Surabi Cihapit)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 15:31

Menyusuri Bukit Plangon: Saat Sejarah dan Kepercayaan Menjaga Alam

Bukit Plangon menjadi contoh bagaimana nilai spiritual dan kearifan lokal berperan dalam menjaga keseimbangan alam.

Sinar matahari menerobos rimbunnya pepohonan di sekitar bangunan makam Bukit Plangon, Cirebon. (Sumber Foto: Dokumentasi pribadi, 2025)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 14:48

Kesadaran Masyarakat terhadap Penggunaan Kain Wol dengan Fashion Old Money

Penerapan gaya old money dan pemakaian kain wol menjadi strategi yang sangat efektif untuk menekan laju pertumbuhan fashion cepat di Indonesia.

Ilustrasi kain wol. (Sumber: Pexels | Foto: Vlada Karpovich)
Wisata & Kuliner 10 Jun 2026, 14:33

Jelajah TMII, Panduan Lengkap Wisata, Harga Tiket, dan Wahana Terbaru

Panduan lengkap berkunjung ke TMII Jakarta, mulai dari harga tiket, museum, anjungan daerah, Jagat Satwa Nusantara, hingga cara menjelajahi kawasan seluas 150 hektare.

Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 12:49

Filosofi Kendi, Animo Pemakaian Tumbler dan Mesin Air Minum Gratis

Kendi adalah ikon sosialisme air minum pada zamannya.

Ilustrasi kendi yang merupakan ikon sosialisme air minum warisan budaya bangsa. (Sumber: Pexels | Foto: Eda Yılmaz)
Sejarah 10 Jun 2026, 12:21

Jelajah Candi-candi di Bandung, Jejak Peradaban Kuno yang yang Hampir Terlupakan

Jejak peninggalan Hindu kuno di Bandung masih bertahan, tetapi kondisi situsnya memerlukan perhatian serius.

Situs Candi Bojongemas di Solokanjeruk Kabupaten Bandung memprihatinkan dan tak terawat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 11:29

Toponimi Lembang (Bagian 1)

Lembang berasal dari bahasa Sunda yaitu “Ngalembang” yang berarti air yang tergenang.

Buku Toponimi Lembang. (Foto: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 10:18

Gedung Juang 45: Transformasi Bangunan Kolonial Menjadi Museum Berbasis Digital

Revitalisasi Gedung Juang 45 Bekasi dari bangunan cagar budaya yang sempat terbengkalai menjadi museum modern berbasis teknologi digital.

Gedung Juang 45 Kota Bekasi (Sumber: bekasikab.go.id | Foto: Situs Pemerintah)
Beranda 10 Jun 2026, 10:12

Di Tengah Janji Energi Bersih, Warga Lereng Gunung Cemas Kehilangan Air, Lahan, dan Masa Depan

Di balik janji energi bersih dari proyek geotermal, warga di sejumlah lereng gunung di Jawa Barat menyuarakan kekhawatiran atas ancaman terhadap sumber air, lahan pertanian, dan ma

Dani Setiawan, petani sayur di kaki Gunung Gede Pangrango, menyuarakan kekhawatirannya terhadap proyek geotermal yang dinilai dapat mengancam sumber air, lahan pertanian, dan ruang hidup warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 09:17

Mengenal Peuyeum sebagai Makanan Tradisional Khas Jawa Barat

Peuyeum sebagai makanan tradisional khas Jawa Barat

Peuyeum Bandung. (Foto: Sofi Putri)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 08:38

Taat Rambu Lalu Lintas adalah Hal Sepele tapi Menyelamatkan Nafas Kehidupan

Satu detik yang menurut kita sepele bisa saja jadi harapan kehidupan bagi orang lain.

Salah satu titik yang sering mengalami kemacetan parah di Kota Bandung, persimpangan lampu merah di Jalan Djunjunan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 20:22

Pasang Surut Era Trem di Batavia

Transportasi trem di Batavia yang kini sudah tidak ada di Indonesia.

Tram Gondangdia di Batavia. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 09 Jun 2026, 16:31

Wisata Candi Borobudur: Panduan Lengkap Tiket, Sunrise, dan Sunset Experience

Panduan lengkap wisata Candi Borobudur 2026, mulai dari harga tiket, kuota naik candi, aturan penggunaan upanat, hingga waktu terbaik untuk berkunjung.

Candi Borobudur. (Sumber: Pemprov Jateng)