Di Tanah Baduy, Kesetaraan Tak Perlu Didebatkan

3 menit baca
Netizen
Ditulis oleh Netizen diterbitkan
Di tanah Baduy, kesetaraan laki-laki dan perempuan tak diperdebatkan, melainkan dijalani dalam keseharian yang sederhana dan harmonis. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Dian Naren Prastiti)
Di tanah Baduy, kesetaraan laki-laki dan perempuan tak diperdebatkan, melainkan dijalani dalam keseharian yang sederhana dan harmonis. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Dian Naren Prastiti)

LEBAK, AYOBANDUNG.ID - Pagi baru saja menyentuh perbukitan di wilayah Kawasan Baduy. Kabut tipis masih menggantung, menyelimuti rumah-rumah panggung yang berdiri sederhana. Dari kejauhan, tampak sepasang suami istri berjalan berdampingan menuju ladang. Tidak ada yang berjalan di depan, tidak pula di belakang. Langkah mereka sejajar.

Di banyak tempat lain, pemandangan ini mungkin biasa. Tapi di tengah riuhnya perdebatan soal peran laki-laki dan perempuan di kota tentang siapa yang harus bekerja, siapa yang “seharusnya” di dapur, pemandangan di tanah Suku Baduy justru terasa seperti jawaban yang sederhana.

Saya berkesempatan belajar mengenai kehidupan Baduy dengan menginap di rumah salah satu warga dan sempat mewawancarai ketua adat Baduy setempat.

Di sini, kesetaraan tidak dibicarakan, tapi dijalani

Sehari-hari, laki-laki Baduy dikenal berburu atau mencari madu di hutan. Sementara perempuan menenun kain dengan tangan-tangan terampil yang telah dilatih sejak kecil. Namun pembagian ini tidak pernah menjadi batas kaku. Ia lebih menyerupai ritme, bukan aturan.

Di dapur, misalnya, tidak ada garis tegas yang memisahkan siapa yang “berhak” memasak. Laki-laki bisa ikut menyiapkan makanan, sama seperti perempuan. Aktivitas domestik bukan beban sepihak, melainkan bagian dari kehidupan bersama.

Asap mengepul dari rumah warga biasanya sehari dua kali, saat pagi dan sore. "Pagi masak sarapan terus sore masak lagi menu yang berbeda. Siapa yang masak ya tergantung siapa yang lapar duluan", ujar Pulung kepada Ayobandung.

Aktivitas memasak bersama di Baduy menjadi cerminan kesetaraan yang dijalani—tanpa sekat peran, laki-laki dan perempuan berbagi tugas dalam harmoni kehidupan sehari-hari. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Dian Naren Prastiti)
Aktivitas memasak bersama di Baduy menjadi cerminan kesetaraan yang dijalani—tanpa sekat peran, laki-laki dan perempuan berbagi tugas dalam harmoni kehidupan sehari-hari. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Dian Naren Prastiti)

Begitu pula dalam urusan mengasuh anak. Tidak ada istilah ayah sebagai “pencari nafkah utama” yang absen dari pengasuhan. Di Baduy, ayah dan ibu hadir dalam peran yang sama: mendidik, menjaga, dan membesarkan.

"Walaupun nggak sekolah, tapi kita ajarin anak-anak kami membaca, menulis, dan berhitung oleh orang tuanya sendiri. Kadang sama ayahnya, kadang sama ibunya, tergantung anaknya mau sama siapa", ujar Ayah Hadi.

Menjelang siang, ladang menjadi ruang kerja bersama. Suami dan istri menanam, merawat, hingga memanen berdampingan. Tanah tidak mengenal siapa yang lebih berhak mengolahnya, begitu pula mereka.

Hampir setiap perempuan Baduy memiliki kemampuan menenun. Di beranda rumah, alat tenun sederhana menjadi saksi ketekunan mereka. Benang demi benang dirajut menjadi kain yang bukan hanya bernilai ekonomi, tapi juga menyimpan identitas budaya. Namun tidak semua kain itu dijual. Ada yang tetap disimpan, digunakan sendiri, atau diwariskan. Produksi di sini bukan semata soal pasar, melainkan juga soal makna.

Sore hari, ketika ada hajatan atau kegiatan adat, laki-laki dan perempuan kembali terlihat bekerja bersama. Mereka memanggul kayu dari satu titik ke titik lain, berjalan beriringan di jalur-jalur tanah yang menanjak. Beban itu sama beratnya, dan dipikul bersama.

Tidak ada yang mempertanyakan: ini tugas siapa?

Di banyak ruang diskusi urban, isu gender kerap dibungkus istilah besar "patriarki", emansipasi, hingga stereotip seperti wife trophy. Perdebatan berlangsung panjang, kadang melelahkan, dan tak jarang berujung pada tarik-menarik definisi.

Laki-laki dan perempuan, tua maupun muda, memikul tanggung jawab yang sama beratnya, berjalan bersama dalam keseimbangan hidup yang sederhana namun bermakna. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Dian Naren Prastiti)
Laki-laki dan perempuan, tua maupun muda, memikul tanggung jawab yang sama beratnya, berjalan bersama dalam keseimbangan hidup yang sederhana namun bermakna. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Dian Naren Prastiti)

Namun di Baduy, tidak ada kebutuhan untuk memberi label.

Tidak ada perbedaan derajat antara laki-laki dan perempuan dalam rumah tangga. Tidak ada kompetisi kuasa. Yang ada adalah kemitraan yang berjalan tanpa banyak kata.

Barangkali, di saat masyarakat kota masih sibuk merumuskan apa itu kesetaraan, masyarakat Baduy telah lama mempraktikkannya secara sunyi, namun nyata.

Dan di antara langkah kaki yang sejajar di pagi hari itu, kesetaraan menemukan bentuknya yang paling sederhana dan bisa berjalan bersama.

***

Penulis: Dian Naren

Lulusan Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia. Meminati isu gender, keberagaman, kelompok minoritas, dan hak asasi manusia.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 23 Okt 2026, 20:14

Lemahneundeut, Jejak Tanah Neundeut atau Nendatan di Lereng Gunung

Lemahneundeut adalah masa tanah atau batuan yang bergerak ke bawah lereng.

Persawahan berteras-teras di Bandung Selatan, merupakan jejak lemahneundeut yang dikelola dengan baik. (Sumber: T. Bachtiar)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 19:17

Sosok Didi Petet sebagai Potret Bandung dalam Film Preman Pensiun

Didi Petet sudah meninggal beberapa tahun lalu, tapi sosoknya dalam film Preman Pensiun masih membekas, dan menjadi ingatan waktu yang tercermin dalam potret kehidupan sehari-hari di Bandung.

Ilustrasi Didi Petet. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 18:31

Lebih Berani di Rumah daripada di Jenewa: Posisi Indonesia dalam Perundingan Plastik

Menurut KLH/BPLH, 202), porsi plastik dalam sampah nasional naik dari 11% pada 2010 menjadi hampir 20% pada 2024 dan dapat mencapai 50% pada 2050 tanpa intervensi seriu.

Warga memungut sampah botol dan gelas plastik di bawah jembatan Babakan Sapan (BBS) Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 30 Juni 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:59

Kampus Bukan Tempat Pamer Knalpot: Saatnya Menjaga Kenyamanan Akademik di UIN Bandung Kampus I Cipadung

Knalpot bising di Kampus I UIN Bandung, Cipadung, mengganggu kenyamanan akademik. Saatnya bersama menjaga ketertiban kampus.

Ilustrasi knalpot brong. (Sumber: Pexels | Foto: Quốc Bùi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:26

CCTV Merekam, tetapi Belum Tentu Mencegah: Keamanan Lingkungan Mahasiswa Perlu Tanggung Jawab Bersama

CCTV dapat membantu merekam kejadian, menyusun kronologi, dan memberikan petunjuk untuk mengidentifikasi orang yang diduga terlibat.

Ilustrasi CCTV. (Sumber: Pexels | Foto: Bezalens JGP)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 15:32

Kisah 101 FM : Ketika Radio Bandung Masih Siaran di Gelombang AM/MW

Dari kawasan Jalan Rajamantri Kulon, Bandung, stasiun radio ini mengudara melalui jalur FM (Frequency Modulation).

Radio 101 FM Bandung, salah satu pelopor siaran radio di jalur FM di Kota Bandung pada era 1980-an hingga 1990-an. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 14:41

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon

Taman Wisata Goa Sunyaragi adalah salah satu wisata bersejarah di Kota Cirebon yang menyimpan banyak cerita menarik.

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 13:00

BRT Bandung Dibangun untuk Mengurai Kemacetan, Mengapa Masyarakat Justru Menanggung Dampaknya?

Pembangunan Bus Rapid Transit Bandung Raya diharapkan mengurangi kemacetan. Namun, dampak proyek halte menimbulkan pertanyaan tentang tanggung jawab pemerintah dalam menjaga kenyamanan masyarakat.

Halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Cicadas termasuk tipe B dimana halte berada di antara jalan satu arah dengan 4 lajur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 12:41

Mewujudkan Bandung Kota Jamu, Merawat Warisan Inggit Garnasih

Salah satu contoh inovasi Jamu kekinian di Bandung adalah Paduan Rempah, usaha minuman herbal yang dirintis Ahmad Hikmat Rahayu bersama istrinya

Acaraki Jamu tak sekadar menjual minuman herbal, tetapi menyuguhkan pengalaman gaya hidup yang berakar pada warisan budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 11:27

Demam Aplikasi Pemda: Solusi Pelayanan Publik atau Cuma Proyek 'Sampah Digital'?

Membahas masalah aplikasi pemerintah yang belum efektif serta pentingnya digitalisasi pelayanan publik yang berorientasi pada kemudahan, keamanan, dan kebutuhan masyarakat.

Foto seseorang menggunakan ponsel. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 10:17

Menengok Terminal Ledeng, Menengok Diri Sendiri

Terminal Ledeng mengingatkan saya bahwa kita tidak pernah benar-benar berjalan di tempat yang sama, bahkan ketika melewati jalan yang benar-benar sama.

Terminal Ledeng, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)
Sejarah 22 Okt 2026, 12:36

Hikayat Resolusi Jihad dan Lahirnya Hari Santri

Resulusi Jihad menjadi pembakar jiwa nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional

Ilustrasi Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang diperingatinya Hari Santri Nasional (Foto: artificial intelligence)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 09:04

Polisi, Massa Hitam, dan Keamanan Kota Bandung

Dalam merespon demonstrasi, kemampuan membedakan aksi damai dan serangan terorganisir sangat penting.

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demo di sekitar Tugu Simpang Lima, Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026) sore (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 07:54

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan.

Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)