LEBAK, AYOBANDUNG.ID - Pagi baru saja menyentuh perbukitan di wilayah Kawasan Baduy. Kabut tipis masih menggantung, menyelimuti rumah-rumah panggung yang berdiri sederhana. Dari kejauhan, tampak sepasang suami istri berjalan berdampingan menuju ladang. Tidak ada yang berjalan di depan, tidak pula di belakang. Langkah mereka sejajar.
Di banyak tempat lain, pemandangan ini mungkin biasa. Tapi di tengah riuhnya perdebatan soal peran laki-laki dan perempuan di kota tentang siapa yang harus bekerja, siapa yang “seharusnya” di dapur, pemandangan di tanah Suku Baduy justru terasa seperti jawaban yang sederhana.
Saya berkesempatan belajar mengenai kehidupan Baduy dengan menginap di rumah salah satu warga dan sempat mewawancarai ketua adat Baduy setempat.
Di sini, kesetaraan tidak dibicarakan, tapi dijalani
Sehari-hari, laki-laki Baduy dikenal berburu atau mencari madu di hutan. Sementara perempuan menenun kain dengan tangan-tangan terampil yang telah dilatih sejak kecil. Namun pembagian ini tidak pernah menjadi batas kaku. Ia lebih menyerupai ritme, bukan aturan.

Di dapur, misalnya, tidak ada garis tegas yang memisahkan siapa yang “berhak” memasak. Laki-laki bisa ikut menyiapkan makanan, sama seperti perempuan. Aktivitas domestik bukan beban sepihak, melainkan bagian dari kehidupan bersama.
Asap mengepul dari rumah warga biasanya sehari dua kali, saat pagi dan sore. "Pagi masak sarapan terus sore masak lagi menu yang berbeda. Siapa yang masak ya tergantung siapa yang lapar duluan", ujar Pulung kepada Ayobandung.

Begitu pula dalam urusan mengasuh anak. Tidak ada istilah ayah sebagai “pencari nafkah utama” yang absen dari pengasuhan. Di Baduy, ayah dan ibu hadir dalam peran yang sama: mendidik, menjaga, dan membesarkan.
"Walaupun nggak sekolah, tapi kita ajarin anak-anak kami membaca, menulis, dan berhitung oleh orang tuanya sendiri. Kadang sama ayahnya, kadang sama ibunya, tergantung anaknya mau sama siapa", ujar Ayah Hadi.
Menjelang siang, ladang menjadi ruang kerja bersama. Suami dan istri menanam, merawat, hingga memanen berdampingan. Tanah tidak mengenal siapa yang lebih berhak mengolahnya, begitu pula mereka.
Hampir setiap perempuan Baduy memiliki kemampuan menenun. Di beranda rumah, alat tenun sederhana menjadi saksi ketekunan mereka. Benang demi benang dirajut menjadi kain yang bukan hanya bernilai ekonomi, tapi juga menyimpan identitas budaya. Namun tidak semua kain itu dijual. Ada yang tetap disimpan, digunakan sendiri, atau diwariskan. Produksi di sini bukan semata soal pasar, melainkan juga soal makna.

Sore hari, ketika ada hajatan atau kegiatan adat, laki-laki dan perempuan kembali terlihat bekerja bersama. Mereka memanggul kayu dari satu titik ke titik lain, berjalan beriringan di jalur-jalur tanah yang menanjak. Beban itu sama beratnya, dan dipikul bersama.
Tidak ada yang mempertanyakan: ini tugas siapa?
Di banyak ruang diskusi urban, isu gender kerap dibungkus istilah besar "patriarki", emansipasi, hingga stereotip seperti wife trophy. Perdebatan berlangsung panjang, kadang melelahkan, dan tak jarang berujung pada tarik-menarik definisi.

Namun di Baduy, tidak ada kebutuhan untuk memberi label.
Tidak ada perbedaan derajat antara laki-laki dan perempuan dalam rumah tangga. Tidak ada kompetisi kuasa. Yang ada adalah kemitraan yang berjalan tanpa banyak kata.
Barangkali, di saat masyarakat kota masih sibuk merumuskan apa itu kesetaraan, masyarakat Baduy telah lama mempraktikkannya secara sunyi, namun nyata.
Dan di antara langkah kaki yang sejajar di pagi hari itu, kesetaraan menemukan bentuknya yang paling sederhana dan bisa berjalan bersama.
***
Penulis: Dian Naren
Lulusan Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia. Meminati isu gender, keberagaman, kelompok minoritas, dan hak asasi manusia.
