AYOBANDUNG.ID - Di sebuah lorong di Perpustakaan Pusdai Jawa Barat, terdapat bilik khusus yang menyimpan warisan budaya Islam. Namanya Mushaf Sundawi, sebuah mushaf besar yang tersimpan rapi di sudut kota.
Halaman-halamannya tebal, dihiasi ornamen khas Sunda dan dipercantik dengan bubuhan emas 24 karat di setiap sisi. Tidak banyak yang menyadari, mushaf tersebut bukan sekadar Al-Qur’an, melainkan jejak sejarah panjang yang lahir dari perpaduan nilai budaya dan religius.
Bagus Reyhan (24), staf perpustakaan yang telah menjaga ruangan itu selama tiga tahun, menyebut Mushaf Sundawi sebagai warisan yang kerap diabaikan. Ia melihat pengunjung datang dengan rasa ingin tahu, lalu pulang dengan perasaan takjub yang sama.

Dari Ide Gubernur ke Halaman Mushaf
Mushaf Sundawi berawal dari gagasan Gubernur Jawa Barat saat itu, Raden Nana Nuriana, pada tahun 1995. Di tengah geliat pembangunan daerah, muncul keinginan untuk menghadirkan identitas religius sekaligus kultural bagi Jawa Barat.
“Awalnya itu dari inisiasi Gubernur (Jawa Barat) tahun 1995, karena Jawa Barat belum punya mushaf sendiri,” kata Bagus.
Pada periode 1995 hingga 1997, Indonesia berada di penghujung era Orde Baru, ketika upaya penguatan identitas daerah mulai digencarkan sebagai bagian dari pelestarian budaya lokal. Di Bandung, kawasan seperti Pusdai Jawa Barat berkembang menjadi pusat kegiatan dakwah dan intelektual Islam.
Mushaf ini bahkan rampung sebelum Pusdai resmi dibuka pada Desember 1997. Hal itu menunjukkan bahwa sejak awal, mushaf ini dirancang sebagai simbol, bukan sekadar koleksi.
Ditulis Secara Manual Selama 14 Bulan
Proses penyusunan Mushaf Sundawi sepenuhnya dilakukan dengan tangan oleh Haji Hawi bersama timnya. Sebanyak 762 halaman diselesaikan dalam waktu sekitar 14 bulan sejak Mei 1995, sebuah proses yang menuntut ketelatenan dan kesabaran tinggi.
“Ditulis tangan oleh Haji Hawi sama timnya, totalnya 762 lembar,” ujar Bagus.
Di tengah keterbatasan teknologi saat itu, penulisan manual bukan sekadar pilihan teknis, tetapi juga menjadi ciri khas. Sementara itu, ornamentasi seperti batik dan desain visual mulai menggunakan bantuan komputer, tetapi ayat Al-Qur’annya tetap ditulis secara manual.
Dari Mamolo hingga Gandaria
Yang membuat Mushaf Sundawi unik dibandingkan mushaf lainnya adalah identitas visualnya. Setiap halaman dihiasi pola flora khas Jawa Barat seperti Patra Komala dan Gandaria, serta motif batik seperti Mega Mendung dari Cirebon.
“Bedanya di flora sama batik-batiknya, kayak Mega Mendung dari Cirebon,” ucap Bagus.
Desainnya terinspirasi dari bentuk Mamolo, ornamen yang menyerupai menara masjid di wilayah Cirebon dan Banten. Dari sana, konsep visual mushaf dikembangkan sebagai perpaduan antara nilai religius dan kekayaan budaya lokal.
Di tepi setiap halaman terdapat sentuhan emas yang menambah kesan sakral. Sekitar 2,5 kilogram emas dilebur dan digunakan untuk menghias mushaf ini, menjadikannya bernilai tidak hanya secara spiritual, tetapi juga artistik.

Keheningan yang Menyimpan Warisan
Walaupun memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi, Mushaf Sundawi belum banyak dikenal masyarakat luas. Bagus mengakui, banyak pengunjung baru mengetahui keberadaan mushaf ini setelah datang langsung ke Pusdai.
“Banyak yang belum tahu, bahkan orang Bandung sendiri juga,” kata Bagus.
Upaya memperkenalkan mushaf ini terus dilakukan, mulai dari kunjungan lembaga pendidikan hingga pameran rutin, terutama pada bulan Ramadan. Dalam sebulan, Perpustakaan Pusdai dapat menerima hingga lima kunjungan dari berbagai institusi.
Jejak yang Sampai ke Luar Negeri
Menariknya, pengunjung Mushaf Sundawi tidak hanya berasal dari dalam negeri. Beberapa di antaranya datang dari luar negeri, seperti Malaysia, khusus untuk melihat mushaf tersebut secara langsung.
Selain itu, Pusdai juga menyediakan salinan cetakan yang kerap diberikan kepada lembaga yang berkunjung. Tujuannya sederhana, agar mushaf ini tidak hanya tersimpan, tetapi juga dikenal di berbagai tempat.
Lebih dari Sebuah Mushaf
Bagi Bagus, Mushaf Sundawi bukan sekadar kitab suci, melainkan sarana untuk memperkenalkan identitas budaya Sunda kepada publik. Ragam hias di dalamnya menjadi penghubung antara nilai religius dan kekayaan lokal.
“Penting, karena orang jadi tahu ragam budaya Jawa Barat dari sini,” ucapnya.
Ia memandang mushaf ini sebagai cara yang halus untuk menunjukkan bahwa budaya dan agama dapat berjalan berdampingan. Keduanya tidak saling menyingkirkan, tetapi justru saling menguatkan.
Warisan yang Menunggu untuk Dikenal
Di tengah perkembangan zaman modern, kepedulian terhadap warisan budaya kerap memudar, terutama di kalangan anak muda. Bagus menyadari hal itu dan memiliki harapan sederhana.
“Anak muda harusnya lebih mencari tahu tentang hal-hal di sekitarnya,” kata Bagus.
Bagi Bagus, mengenal warisan seperti Mushaf Sundawi merupakan langkah awal untuk menjaga keberlangsungan budaya. Sebab, sesuatu yang tidak dikenal perlahan bisa terlupakan.
Mushaf Sundawi tetap berada di tempatnya, tenang, tanpa banyak sorotan. Namun di balik ketenangan itu, tersimpan cerita tentang identitas, ketekunan, dan upaya melestarikan warisan.
Ia tidak berpindah, juga tidak berubah bentuk. Yang berubah hanyalah seberapa banyak orang yang datang untuk melihat dan memahami maknanya.
