Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Mushaf Sundawi, Menjaga Kalam dalam Ragam Sunda

Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan Kamis 26 Mar 2026, 07:22 WIB
Mushaf Sundawi bukan sekadar Al-Qur’an, tetapi jejak budaya Sunda yang ditulis tangan dengan ketelatenan dan diwariskan dalam keheningan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Mushaf Sundawi bukan sekadar Al-Qur’an, tetapi jejak budaya Sunda yang ditulis tangan dengan ketelatenan dan diwariskan dalam keheningan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Di sebuah lorong di Perpustakaan Pusdai Jawa Barat, terdapat bilik khusus yang menyimpan warisan budaya Islam. Namanya Mushaf Sundawi, sebuah mushaf besar yang tersimpan rapi di sudut kota.

Halaman-halamannya tebal, dihiasi ornamen khas Sunda dan dipercantik dengan bubuhan emas 24 karat di setiap sisi. Tidak banyak yang menyadari, mushaf tersebut bukan sekadar Al-Qur’an, melainkan jejak sejarah panjang yang lahir dari perpaduan nilai budaya dan religius.

Bagus Reyhan (24), staf perpustakaan yang telah menjaga ruangan itu selama tiga tahun, menyebut Mushaf Sundawi sebagai warisan yang kerap diabaikan. Ia melihat pengunjung datang dengan rasa ingin tahu, lalu pulang dengan perasaan takjub yang sama.

Bagus Reyhan, petugas Perpustakaan Pusdai Jawa Barat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bagus Reyhan, petugas Perpustakaan Pusdai Jawa Barat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Dari Ide Gubernur ke Halaman Mushaf

Mushaf Sundawi berawal dari gagasan Gubernur Jawa Barat saat itu, Raden Nana Nuriana, pada tahun 1995. Di tengah geliat pembangunan daerah, muncul keinginan untuk menghadirkan identitas religius sekaligus kultural bagi Jawa Barat.

“Awalnya itu dari inisiasi Gubernur (Jawa Barat) tahun 1995, karena Jawa Barat belum punya mushaf sendiri,” kata Bagus.

Pada periode 1995 hingga 1997, Indonesia berada di penghujung era Orde Baru, ketika upaya penguatan identitas daerah mulai digencarkan sebagai bagian dari pelestarian budaya lokal. Di Bandung, kawasan seperti Pusdai Jawa Barat berkembang menjadi pusat kegiatan dakwah dan intelektual Islam.

Mushaf ini bahkan rampung sebelum Pusdai resmi dibuka pada Desember 1997. Hal itu menunjukkan bahwa sejak awal, mushaf ini dirancang sebagai simbol, bukan sekadar koleksi.

Ditulis Secara Manual Selama 14 Bulan

Proses penyusunan Mushaf Sundawi sepenuhnya dilakukan dengan tangan oleh Haji Hawi bersama timnya. Sebanyak 762 halaman diselesaikan dalam waktu sekitar 14 bulan sejak Mei 1995, sebuah proses yang menuntut ketelatenan dan kesabaran tinggi.

“Ditulis tangan oleh Haji Hawi sama timnya, totalnya 762 lembar,” ujar Bagus.

Di tengah keterbatasan teknologi saat itu, penulisan manual bukan sekadar pilihan teknis, tetapi juga menjadi ciri khas. Sementara itu, ornamentasi seperti batik dan desain visual mulai menggunakan bantuan komputer, tetapi ayat Al-Qur’annya tetap ditulis secara manual.

Dari Mamolo hingga Gandaria

Yang membuat Mushaf Sundawi unik dibandingkan mushaf lainnya adalah identitas visualnya. Setiap halaman dihiasi pola flora khas Jawa Barat seperti Patra Komala dan Gandaria, serta motif batik seperti Mega Mendung dari Cirebon.

“Bedanya di flora sama batik-batiknya, kayak Mega Mendung dari Cirebon,” ucap Bagus.

Desainnya terinspirasi dari bentuk Mamolo, ornamen yang menyerupai menara masjid di wilayah Cirebon dan Banten. Dari sana, konsep visual mushaf dikembangkan sebagai perpaduan antara nilai religius dan kekayaan budaya lokal.

Di tepi setiap halaman terdapat sentuhan emas yang menambah kesan sakral. Sekitar 2,5 kilogram emas dilebur dan digunakan untuk menghias mushaf ini, menjadikannya bernilai tidak hanya secara spiritual, tetapi juga artistik.

Di sudut Pusdai, Mushaf Sundawi menyimpan cerita tentang iman, seni, dan identitas yang menunggu untuk lebih dikenal. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Di sudut Pusdai, Mushaf Sundawi menyimpan cerita tentang iman, seni, dan identitas yang menunggu untuk lebih dikenal. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Keheningan yang Menyimpan Warisan

Walaupun memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi, Mushaf Sundawi belum banyak dikenal masyarakat luas. Bagus mengakui, banyak pengunjung baru mengetahui keberadaan mushaf ini setelah datang langsung ke Pusdai.

“Banyak yang belum tahu, bahkan orang Bandung sendiri juga,” kata Bagus.

Upaya memperkenalkan mushaf ini terus dilakukan, mulai dari kunjungan lembaga pendidikan hingga pameran rutin, terutama pada bulan Ramadan. Dalam sebulan, Perpustakaan Pusdai dapat menerima hingga lima kunjungan dari berbagai institusi.

Jejak yang Sampai ke Luar Negeri

Menariknya, pengunjung Mushaf Sundawi tidak hanya berasal dari dalam negeri. Beberapa di antaranya datang dari luar negeri, seperti Malaysia, khusus untuk melihat mushaf tersebut secara langsung.

Selain itu, Pusdai juga menyediakan salinan cetakan yang kerap diberikan kepada lembaga yang berkunjung. Tujuannya sederhana, agar mushaf ini tidak hanya tersimpan, tetapi juga dikenal di berbagai tempat.

Lebih dari Sebuah Mushaf

Bagi Bagus, Mushaf Sundawi bukan sekadar kitab suci, melainkan sarana untuk memperkenalkan identitas budaya Sunda kepada publik. Ragam hias di dalamnya menjadi penghubung antara nilai religius dan kekayaan lokal.

“Penting, karena orang jadi tahu ragam budaya Jawa Barat dari sini,” ucapnya.

Ia memandang mushaf ini sebagai cara yang halus untuk menunjukkan bahwa budaya dan agama dapat berjalan berdampingan. Keduanya tidak saling menyingkirkan, tetapi justru saling menguatkan.

Warisan yang Menunggu untuk Dikenal

Di tengah perkembangan zaman modern, kepedulian terhadap warisan budaya kerap memudar, terutama di kalangan anak muda. Bagus menyadari hal itu dan memiliki harapan sederhana.

“Anak muda harusnya lebih mencari tahu tentang hal-hal di sekitarnya,” kata Bagus.

Bagi Bagus, mengenal warisan seperti Mushaf Sundawi merupakan langkah awal untuk menjaga keberlangsungan budaya. Sebab, sesuatu yang tidak dikenal perlahan bisa terlupakan.

Mushaf Sundawi tetap berada di tempatnya, tenang, tanpa banyak sorotan. Namun di balik ketenangan itu, tersimpan cerita tentang identitas, ketekunan, dan upaya melestarikan warisan.

Ia tidak berpindah, juga tidak berubah bentuk. Yang berubah hanyalah seberapa banyak orang yang datang untuk melihat dan memahami maknanya.

News Update

Ayo Netizen 26 Mar 2026, 09:47

Akar Sejarah Halalbihalal: Transformasi Tradisi dari Era Walisongo ke Budaya Nasional Indonesia

Walaupun menggunakan istilah Arab dan telah melembaga di Indonesia, tradisi ini tidak ditemukan pada zaman Nabi Saw.

Sebuah potret yang menunjukkan tradisi makan bersama dalam acara halalbihalal tahun 1926. (Sumber foto: Delpher)
Beranda 26 Mar 2026, 07:51

Jejak Pendatang Asli Garut di Kota Bandung yang Bertahan Tiga Generasi

Kisah urbanisasi dari Garut ke Bandung tergambar dalam Barbershop Sawargi yang telah bertahan lebih dari 70 tahun, menjadi bukti bagaimana perantau membangun kehidupan dan mewariskan usaha.

Foto Eros Saifullah dan istrinya yang meninggalkan Garut untuk merantau di Kota Bandung pascakemerdekaan Indonesia. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 26 Mar 2026, 07:22

Mushaf Sundawi, Menjaga Kalam dalam Ragam Sunda

Mushaf Sundawi di Pusdai Jawa Barat menjadi warisan budaya Islam yang memadukan seni khas Sunda dengan nilai religius, ditulis tangan selama 14 bulan dan dihiasi emas 24 karat.

Mushaf Sundawi bukan sekadar Al-Qur’an, tetapi jejak budaya Sunda yang ditulis tangan dengan ketelatenan dan diwariskan dalam keheningan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ikon 25 Mar 2026, 19:53

Sejarah Masjid Salman ITB, Kawah Pergulatan Islam di Jantung Bandung

Lahir di tengah tarik-menarik ideologi 1960-an, Masjid Salman ITB berdiri berkat restu Soekarno dan menjadi simbol hadirnya Islam di jantung kampus teknik.

Masjid Salman ITB
Ayo Netizen 25 Mar 2026, 18:11

Lebaran itu Tentang Asal Usul Diri: Dari Bakti Kepada Orang Tua Hingga Nasionalisme yang Sejati

Dari hal yang paling sederhana, Lebaran selalu dimulai dari keluarga.

Warga berziarah di Tempat Pemakaman Umum Cikutra, Kota Bandung pada Sabtu, 21 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 25 Mar 2026, 17:39

Strategi Unik Nasi Tempong Santi Jangkau Pasar Berbeda Lewat Konsep Bisnis Nomaden

Hidangan utama yang disajikan Nasi Tempong Santi dikenal memiliki cita rasa kuat dengan sentuhan bumbu pedas dan beragam pilihan sambal.

Nasi Tempong Santi mengusung konsep hidangan berat untuk memikat atensi pengunjung di tengah gelaran food festival. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 25 Mar 2026, 15:46

Antre Dua Jam Demi Foto Viral di Braga: Seru-Seruan atau Sekadar Ikut Tren?

Fenomena antre panjang demi foto viral di Braga, Kota Bandung.

Foto box koran yang sedang viral di Jalan Braga, Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 25 Mar 2026, 15:18

Masalah Urbanisasi Pasca Lebaran dan Dilema Pasar Kerja Fleksibel

Urbanisasi pasca Lebaran 2026 kian rumit karena kondisi ketenagakerjaan sedang suram.

Ilustrasi urbanisasi pasca lebaran. (Sumber: Meta | Foto: Arif Minardi)
Seni Budaya 25 Mar 2026, 13:31

Dari Sungai Kuantan ke Seluruh Dunia, Sejarah Panjang Tradisi Pacu Jalur

Video Anak Coki viral pada 2025 membawa Pacu Jalur mendunia. Namun tradisi ini telah berakar sejak abad ke-17 di Sungai Kuantan, jauh sebelum era internet.

Festival Pacu Jalur. (Sumber: Kemenparekraf)
Ayo Netizen 25 Mar 2026, 11:47

Mabok Kakaretaan

Dalam setiap perjalanan, kita tak hanya bergerak secara fisik, justru sedang dilatih untuk lebih memahami diri, keluarga, dan kehidupan yang serba cepat.

Sejumlah penumpang saat akan memasuki gerbong kereta api di Stasiun Bandung, Rabu 4 Desember 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 25 Mar 2026, 09:54

Ayo, Kendalikan Inflasi Pangan Pascalebaran!

Daya beli masyarakat pascalebaran kian melemah.

Ilustrasi kondisi pasar tradisional pascalebaran (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Beranda 25 Mar 2026, 08:35

Saat Kota Libur, Petugas Kebersihan Justru Dikejar Lonjakan Sampah

Lonjakan wisatawan saat Lebaran di Bandung memicu kenaikan sampah hingga 20 persen, memperlihatkan beban lingkungan kota dan tantangan pengelolaan di tengah wisata massal.

Agus Suheri bersama petugas kebersihan lainnya bekerja dalam tiga shift untuk menjaga kawasan alun-alun tetap bersih. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 25 Mar 2026, 08:15

Ramai Pengunjung Tapi Sepi Pembeli: Wajah Lain Wisata Lebaran di Pusat Kota Bandung

Libur Lebaran membawa lonjakan pengunjung ke pusat Kota Bandung, namun tidak semua pelaku usaha merasakan dampaknya. Di tengah keramaian alun-alun, pedagang justru menghadapi penurunan daya beli.

Wisatawan lokal memadati kawasan Alun-alun Kota Bandung pada libur lebaran. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Wisata & Kuliner 25 Mar 2026, 02:52

Curug Sawer Cililin, Antara Mitos dan Fakta

Curug Sawer di Cililin dikenal dengan mitos mandi untuk mendapatkan jodoh. Namun faktanya, kawasan ini lebih ramai untuk healing di hutan pinus.

Curug Sawer. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 24 Mar 2026, 20:33

Nyekar, Mengingat Waktu Basahi Rindu

Kurang afdol jika saat lebaran tidak nyekar menaburkan kembang telon di pusara orang tua.

Nyekar ke makam orang tua dan kerabat saat lebaran (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 24 Mar 2026, 13:30

Menjelajah Jalur Alternatif Cililin–Ciwidey yang Menantang

Jalur Cililin–Ciwidey menawarkan tanjakan curam, turunan tajam, dan pemandangan asri. Bisa ditempuh motor 1 jam, lebih cepat daripada jalur utama.

Pemandangan di jalur alternatif Ciwidey-Cililin. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 24 Mar 2026, 13:05

Bioskop Bandung di Musim Lebaran

Era tahun 90-an bioskop layar lebar menjadi salah satu tempat hiburan warga kota Bandung.

Daftar film yang tayang di bioskop-bioskop yang ada di Kota Bandung menjelang Lebaran tahun 1994. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Sejarah 24 Mar 2026, 09:32

Hikayat Lebaran Para Inlander di Tanah Kompeni

Pada masa kolonial, mahasiswa dan bangsawan Hindia Belanda merayakan lebaran jauh dari kampung halaman. Di Leiden dan Den Haag, Idulfitri menjadi ajang silaturahmi diaspora sekaligus obat rindu tanah

Foto diaspora Indoneia saat lebaran di Den Haag, Belanda. (Sumber: Majalah Oost en West Februari 1934)
Linimasa 24 Mar 2026, 09:30

Mengurai Kemacetan di Jalur Wisata Ciwidey

Satlantas Polresta Bandung menerapkan penebalan personel, contra flow, dan buka tutup jalan untuk mengurai kemacetan di jalur wisata Ciwidey saat musim liburan.

Satlantas Polresta Bandung mengurai kemacetan di jalur Ciwidey. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 24 Mar 2026, 09:27

Kalkulasi yang Mati: Mengapa Bertani Tak Lagi Rasional bagi Generasi Muda?

Minat pemuda di sektor tani bukan soal gengsi, melainkan respons logis atas asimetri pasar dan risiko modal. Saatnya negara hadir melalui asuransi pendapatan dan korporasi lahan yang adil.

Petani menggarap lahan pertaniannya di kawasan Cimenyan, Kabupaten Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)