Mushaf Sundawi, Menjaga Kalam dalam Ragam Sunda

4 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
Mushaf Sundawi bukan sekadar Al-Qur’an, tetapi jejak budaya Sunda yang ditulis tangan dengan ketelatenan dan diwariskan dalam keheningan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Mushaf Sundawi bukan sekadar Al-Qur’an, tetapi jejak budaya Sunda yang ditulis tangan dengan ketelatenan dan diwariskan dalam keheningan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Di sebuah lorong di Perpustakaan Pusdai Jawa Barat, terdapat bilik khusus yang menyimpan warisan budaya Islam. Namanya Mushaf Sundawi, sebuah mushaf besar yang tersimpan rapi di sudut kota.

Halaman-halamannya tebal, dihiasi ornamen khas Sunda dan dipercantik dengan bubuhan emas 24 karat di setiap sisi. Tidak banyak yang menyadari, mushaf tersebut bukan sekadar Al-Qur’an, melainkan jejak sejarah panjang yang lahir dari perpaduan nilai budaya dan religius.

Bagus Reyhan (24), staf perpustakaan yang telah menjaga ruangan itu selama tiga tahun, menyebut Mushaf Sundawi sebagai warisan yang kerap diabaikan. Ia melihat pengunjung datang dengan rasa ingin tahu, lalu pulang dengan perasaan takjub yang sama.

Bagus Reyhan, petugas Perpustakaan Pusdai Jawa Barat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bagus Reyhan, petugas Perpustakaan Pusdai Jawa Barat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Dari Ide Gubernur ke Halaman Mushaf

Mushaf Sundawi berawal dari gagasan Gubernur Jawa Barat saat itu, Raden Nana Nuriana, pada tahun 1995. Di tengah geliat pembangunan daerah, muncul keinginan untuk menghadirkan identitas religius sekaligus kultural bagi Jawa Barat.

“Awalnya itu dari inisiasi Gubernur (Jawa Barat) tahun 1995, karena Jawa Barat belum punya mushaf sendiri,” kata Bagus.

Pada periode 1995 hingga 1997, Indonesia berada di penghujung era Orde Baru, ketika upaya penguatan identitas daerah mulai digencarkan sebagai bagian dari pelestarian budaya lokal. Di Bandung, kawasan seperti Pusdai Jawa Barat berkembang menjadi pusat kegiatan dakwah dan intelektual Islam.

Mushaf ini bahkan rampung sebelum Pusdai resmi dibuka pada Desember 1997. Hal itu menunjukkan bahwa sejak awal, mushaf ini dirancang sebagai simbol, bukan sekadar koleksi.

Ditulis Secara Manual Selama 14 Bulan

Proses penyusunan Mushaf Sundawi sepenuhnya dilakukan dengan tangan oleh Haji Hawi bersama timnya. Sebanyak 762 halaman diselesaikan dalam waktu sekitar 14 bulan sejak Mei 1995, sebuah proses yang menuntut ketelatenan dan kesabaran tinggi.

“Ditulis tangan oleh Haji Hawi sama timnya, totalnya 762 lembar,” ujar Bagus.

Di tengah keterbatasan teknologi saat itu, penulisan manual bukan sekadar pilihan teknis, tetapi juga menjadi ciri khas. Sementara itu, ornamentasi seperti batik dan desain visual mulai menggunakan bantuan komputer, tetapi ayat Al-Qur’annya tetap ditulis secara manual.

Dari Mamolo hingga Gandaria

Yang membuat Mushaf Sundawi unik dibandingkan mushaf lainnya adalah identitas visualnya. Setiap halaman dihiasi pola flora khas Jawa Barat seperti Patra Komala dan Gandaria, serta motif batik seperti Mega Mendung dari Cirebon.

“Bedanya di flora sama batik-batiknya, kayak Mega Mendung dari Cirebon,” ucap Bagus.

Desainnya terinspirasi dari bentuk Mamolo, ornamen yang menyerupai menara masjid di wilayah Cirebon dan Banten. Dari sana, konsep visual mushaf dikembangkan sebagai perpaduan antara nilai religius dan kekayaan budaya lokal.

Di tepi setiap halaman terdapat sentuhan emas yang menambah kesan sakral. Sekitar 2,5 kilogram emas dilebur dan digunakan untuk menghias mushaf ini, menjadikannya bernilai tidak hanya secara spiritual, tetapi juga artistik.

Di sudut Pusdai, Mushaf Sundawi menyimpan cerita tentang iman, seni, dan identitas yang menunggu untuk lebih dikenal. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Di sudut Pusdai, Mushaf Sundawi menyimpan cerita tentang iman, seni, dan identitas yang menunggu untuk lebih dikenal. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Keheningan yang Menyimpan Warisan

Walaupun memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi, Mushaf Sundawi belum banyak dikenal masyarakat luas. Bagus mengakui, banyak pengunjung baru mengetahui keberadaan mushaf ini setelah datang langsung ke Pusdai.

“Banyak yang belum tahu, bahkan orang Bandung sendiri juga,” kata Bagus.

Upaya memperkenalkan mushaf ini terus dilakukan, mulai dari kunjungan lembaga pendidikan hingga pameran rutin, terutama pada bulan Ramadan. Dalam sebulan, Perpustakaan Pusdai dapat menerima hingga lima kunjungan dari berbagai institusi.

Jejak yang Sampai ke Luar Negeri

Menariknya, pengunjung Mushaf Sundawi tidak hanya berasal dari dalam negeri. Beberapa di antaranya datang dari luar negeri, seperti Malaysia, khusus untuk melihat mushaf tersebut secara langsung.

Selain itu, Pusdai juga menyediakan salinan cetakan yang kerap diberikan kepada lembaga yang berkunjung. Tujuannya sederhana, agar mushaf ini tidak hanya tersimpan, tetapi juga dikenal di berbagai tempat.

Lebih dari Sebuah Mushaf

Bagi Bagus, Mushaf Sundawi bukan sekadar kitab suci, melainkan sarana untuk memperkenalkan identitas budaya Sunda kepada publik. Ragam hias di dalamnya menjadi penghubung antara nilai religius dan kekayaan lokal.

“Penting, karena orang jadi tahu ragam budaya Jawa Barat dari sini,” ucapnya.

Ia memandang mushaf ini sebagai cara yang halus untuk menunjukkan bahwa budaya dan agama dapat berjalan berdampingan. Keduanya tidak saling menyingkirkan, tetapi justru saling menguatkan.

Warisan yang Menunggu untuk Dikenal

Di tengah perkembangan zaman modern, kepedulian terhadap warisan budaya kerap memudar, terutama di kalangan anak muda. Bagus menyadari hal itu dan memiliki harapan sederhana.

“Anak muda harusnya lebih mencari tahu tentang hal-hal di sekitarnya,” kata Bagus.

Bagi Bagus, mengenal warisan seperti Mushaf Sundawi merupakan langkah awal untuk menjaga keberlangsungan budaya. Sebab, sesuatu yang tidak dikenal perlahan bisa terlupakan.

Mushaf Sundawi tetap berada di tempatnya, tenang, tanpa banyak sorotan. Namun di balik ketenangan itu, tersimpan cerita tentang identitas, ketekunan, dan upaya melestarikan warisan.

Ia tidak berpindah, juga tidak berubah bentuk. Yang berubah hanyalah seberapa banyak orang yang datang untuk melihat dan memahami maknanya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 10 Sep 2026, 20:26

Warisan Gunung Sunda Purba, dari Purwakarta, Subang, sampai Bandung Barat

Menjelajah warisan Gunung Sunda Purba melalui kemegahan Gunung Burangrang. Sisi Utara membentang di Purwakarta dan Subang, sementara sisi Selatan megah berdiri di Bandung Barat.

Keadaan ronabumi seperti inilah yang dilihat oleh masyarakat, bukan Gunung Sunda yang menjulang  tinggi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 18:26

Transformasi Perpustakaan Meningkatkan Kunjungan Masyarakat

Setiap perpustakaan memang mengidentifikasi problematika yang sama, salah satunya berkaitan dengan kunjungan masyarakat yang minim.

Ilustrasi perpustakaan. (Sumber: Pexels | Foto: Tima Miroshnichenko)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 18:00

ASN Gen Z dan Tantangan Mengubah Kepastian Menjadi Kinerja

Artikel ini mengkaji persepsi ASN Gen Z terhadap kecocokan karier, kompetensi, dan kebutuhan pengembangan dalam birokrasi.

Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 17:01

Polemik Desil dalam Indikator Kesejahteraan Ekonomi

Apakah desil bisa dijadikan indikator dalam menentukan strata kesejahteraan masyarakat kini? Desil hanya sebuah istilah dalam algoritma statistik. Jangan memaksa manusia menjadi angka dalam database.

Bantuan pangan cadangan beras pemerintah alokasi Juni dan Juli wilayah Kota Bandung di Kantor Kelurahan Cihapit, Jalan Sabang, Kota Bandung, Jumat 18 Juli 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 16:37

Remy Sylado: Jejak Sang Maestro di Bandung

Jejak Remy Sylado di Bandung kembali ditelusuri melalui buku, arsip, dan kesaksian orang-orang terdekat yang menghidupkan kembali sosok maestro multidisipliner tersebut.

Silaturahmi menyambut terbitnya buku Remy Sylado dan Dua Brouwer yang dihadiri budayawan, pegiat seni, serta sahabat dekat Remy Sylado, di Perpustakaan Ajip Rosidi, Jalan Garut No. 2, Kota Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 15:11

KDM, Jawa Barat, dan Temtasi 2029

KDM membutuhkan policy dashboard, bukan sekadar social-media dashboard.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam sebuah acara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 10 Sep 2026, 10:57

Kampung Sate, Ketika Bambu Bisa Diubah Menjadi Rupiah Oleh Warga Satu Kampung

Kampung Randukurung Kutawaringin dikenal sebagai sentra tusuk sate. Warga mengolah bambu secara tradisional menjadi sumber penghasilan.

Di Kampung Randukurung, bambu gombong diolah menjadi ribuan tusuk sate dengan tangan dan peralatan tradisional. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 10:44

Stok Masker mulai Langka dan Harganya Melambung Kembali

Permintaan pasar yang tinggi seringkali membuat harga pun ikut naik begitu juga dengan kondisi yang terjadi pada masker.

Maskter kesehatan. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 08:58

Strategi Kuliah Luar Negeri Tembus Ivy League dan Program Pre-College

Sejak didirikan pada tahun 2003, Euro Management Indonesia mengembangkan pola pendampingan studi ke luar negeri secara terpadu dan terintegrasi.

Suasana belajar di Euro Management Indonesia, Menteng Jakarta. (Foto: Humas Euro MI)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 21:13

Rekam Jejak Euro Management Indonesia Siapkan SDM Indonesia Go Global

Program Academic Writing diarahkan untuk memperkuat kemampuan pegawai dalam menyusun tulisan akademik secara sistematis dan sesuai dengan standar internasional.

Keberangkatan siswa Euro Management Indonesia kuliah di  Jerman (Foto: Humas Euro Manajemen Indonesia)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 19:25

Art Zine SMPN 1 Kasokandel

Setiap karya harus diapresiasi karena kita percaya bahwa setiap anak memiliki kodratnya yang unik

 (Foto: Penulis)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)