Lalap: Rahasia Kesehatan dan Identitas Budaya di Meja Makan Sunda

4 menit baca
Badiatul Muchlisin Asti
Ditulis oleh Badiatul Muchlisin Asti diterbitkan
Lalapan dan sambal terasi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Lalapan dan sambal terasi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)

Di tengah riuh rendah modernitas yang kian meminggirkan nilai-nilai tradisional, dokumentasi tertulis bukan sekadar upaya pengarsipan data, melainkan sebuah tindakan penyelamatan terhadap kearifan lokal yang mulai luntur.

Bagi masyarakat Sunda, tradisi mengonsumsi tumbuhan segar atau lalab (lalap) adalah denyut nadi kebudayaan yang selama ini lebih banyak berpindah melalui tutur lisan. Namun, ketika transmisi lisan tersebut menemui jalan buntu di hadapan generasi gawai, sebuah literatur yang komprehensif menjadi jangkar penguat identitas agar pengetahuan botani warisan leluhur tidak menguap begitu saja ditelan zaman.

Buku berjudul Tumbuhan Lalapan Masyarakat Sunda ini hadir sebagai manifesto ilmiah untuk menjawab kegelisahan akan retaknya rantai informasi antar-generasi mengenai kekayaan hayati Nusantara.

Masyarakat Sunda modern kini berada di persimpangan jalan gaya hidup yang mengkhawatirkan—sebuah kondisi yang bisa kita sebut sebagai “krisis selera”. Hegemoni makanan cepat saji dan sajian instan telah menyebabkan diskoneksi antara manusia dengan tanahnya sendiri.

Secara aktual, kebiasaan mengonsumsi lalapan menunjukkan tren penurunan drastis; data menunjukkan bahwa angka konsumsi sayuran di Jawa Barat hanya berkisar 58% dari anjuran kesehatan nasional.

Penulis mengevaluasi secara kritis bahwa transmisi informasi secara lisan dari orang tua ke generasi muda tidak lagi memadai di era disrupsi ini. Pengetahuan tentang tanaman mana yang aman dan berkhasiat seringkali terkubur bersama hilangnya memori kolektif.

Buku ini bukan sekadar buku botani biasa; ia adalah “cold storage” intelektual—langkah strategis untuk menginventarisasi dan mendokumentasikan warisan leluhur agar tetap dapat diakses ketika tradisi tutur sudah tak lagi mampu menjangkau telinga generasi muda.

Kelebihan utama buku ini ada pada caranya bercerita: tersusun rapi namun tetap luwes, sehingga asyik dibaca oleh pakar maupun masyarakat umum. Penulis membagi isi buku ini ke dalam empat bagian atau bab. Pada Bab I, penulis mengajak kita melihat kembali sejarah panjang manusia dan alam, serta betapa pentingnya tumbuhan dalam menopang hidup kita sehari-hari.

Dilanjut Bab II, membedah kedekatan orang Sunda dengan alam. Salah satu contoh menariknya adalah filosofi Luhur-Handap di Kampung Adat Naga, yang mengatur posisi area suci dan hunian demi menjaga harmoni lingkungan.

Lalu Bab III yang menjadi bagian inti buku mendata secara lengkap 86 jenis tumbuhan dari 33 keluarga (familia). Diakhiri Bab IV yang berisi pandangan ke depan tentang bagaimana pengetahuan ini bisa terus diajarkan di sekolah agar tetap bermanfaat bagi generasi mendatang.

Kekuatan narasi ini semakin dipertegas dengan dokumentasi visual berupa foto-foto asli hasil observasi lapangan (dokumentasi pribadi), yang memberikan jaminan akurasi bagi pembaca untuk mengenali karakteristik morfologis setiap tanaman secara nyata.

Analisis Kekayaan Botani

Kalau kita bicara makanan Sunda, hampir pasti yang pertama kali muncul di kepala adalah lalapan. (Sumber: Unsplash/Keriliwi)
Kalau kita bicara makanan Sunda, hampir pasti yang pertama kali muncul di kepala adalah lalapan. (Sumber: Unsplash/Keriliwi)

Buku ini melampaui daftar belanja sayur; ia adalah studi multidimensi yang membedah lalapan dari perspektif tradisi, kesehatan, dan botani teknis. Penulis menyajikan fakta bahwa lalapan adalah simbol peremajaan diri, kaya akan beta-karoten yang menjaga kebugaran tubuh dan kesehatan kulit.

Buku ini mengupas kekayaan tanaman pangan Sunda yang bukan sekadar pelengkap isi piring, melainkan juga berfungsi sebagai obat alami. Mulai dari Reundeu yang berkhasiat sebagai pelancar urine hingga Genjer yang kini naik kelas karena kemampuannya mencegah penyakit jantung dan kanker lewat kandungan seratnya.

Ada pula berbagai jenis Bayam yang sejak lama dipercaya sebagai pembersih darah, serta Pegagan, tumbuhan liar yang kini populer untuk memperkuat daya tahan tubuh dan mengobati tifus. Tak ketinggalan, Jambu Monyet hadir menawarkan sensasi tekstur yang unik saat disantap bersama sambal kacang, sekaligus menjadi penawar radang mulut yang mujarab.

Keseluruhan artefak budaya ini membuktikan bahwa meja makan masyarakat Sunda adalah perpaduan harmonis antara rasa dan kesehatan.

Informasi detail mengenai habitus hingga cara pengonsumsian ini adalah upaya konkret penulis untuk menumbuhkan kembali rasa cinta masyarakat terhadap kedaulatan hayati lokal.

Buku ini memiliki urgensi besar dalam dunia pendidikan formal. Penulis mendorong agar kearifan lokal lalapan diintegrasikan ke dalam kurikulum sekolah, sehingga identitas bangsa tumbuh sejak dini.

Kebijakan Open Access dari Penerbit BRIN yang memungkinkan buku ini diunduh secara gratis adalah langkah revolusioner dalam diseminasi pengetahuan tanpa hambatan finansial.

Satu poin intelektual yang tajam adalah pilihan istilah edible. Secara etimologis, edible yang berakar dari bahasa Latin tidak sekadar merujuk pada sesuatu yang "bisa dikunyah" (eatable), tetapi mencakup standar kualitas dan keamanan pangan.

Ini adalah upaya penulis memberikan legitimasi ilmiah bahwa tradisi mengonsumsi lalapan mentah adalah praktik yang aman, berkualitas, dan sehat selama mengikuti panduan yang benar.

Buku Tumbuhan Lalapan Masyarakat Sunda bukan sekadar literatur botani; ia adalah surat cinta untuk kebudayaan Sunda dan upaya menjaga martabat pangan lokal. Bagi Generasi Z dan Milenial yang kian akrab dengan gaya hidup urban yang serba cepat, buku ini menawarkan jembatan untuk kembali "membumi"—menyadari bahwa masa depan kesehatan kita mungkin tersimpan dalam kearifan masa lalu yang ada di piring makan kita.

Boleh dibilang, buku ini adalah referensi penting yang berhasil mentransformasikan data teknis menjadi narasi budaya yang menggugah. Membaca karya Diana Hernawati dan Rinaldi Rizal Putra akan menyadarkan kita bahwa lalapan bukan sekadar pendamping nasi, melainkan simbol identitas dan kesehatan yang harus kita kedaulatkan kembali. (*)

Data Buku:

  • Judul buku: Tumbuhan Lalapan Masyarakat Sunda
  • Penulis: Diana Hernawati dan Rinaldi Rizal Putra
  • Penerbit: Penerbit BRIN (Anggota Ikapi)
  • Tahun terbit: Desember 2022 (Cetakan Pertama)
  • Tebal: xvi + 212 halaman
  • ISBN: 978-623-8052-19-7 (e-book) / 978-623-8052-18-0 (cetak)

Lisensi: CC BY-NC-SA 4.0 (Tersedia gratis di penerbit.brin.go.id)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Badiatul Muchlisin Asti
Penulis dan jurnalis warga. Peminat kajian sejarah lokal dan kuliner Indonesia. Buku terbarunya "Grobogan Untold Story: Tokoh, Tradisi, dan Kuliner" (2025).

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 17 Jul 2026, 12:33

Persib dan Mimpi Menjadi Kekuatan Indonesia

Persib memiliki peluang menjadi salah satu lokomotif perubahan sepak bola di Tanah Air.

Pemain Persib Bandung melakukan selebarasi saar mengalahkan tamunya Selangor FC dengan skor 2-0. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 17 Jul 2026, 10:59

Soekarno-Hatta: Jalur Maut di Kota Bandung yang Terbelenggu Sekat Birokrasi

Selama birokrasi belum mampu di-bypass demi keselamatan, aspal Soekarno-Hatta akan tetap menjadi "jalur tengkorak" yang menanti nyawa lainnya.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 09:55

Hikayat Stasiun Kereta Api di Padang Panjang

dari awal berjalannya kereta api Padang Panjang sampai Berhentinya beroperasinya kereta api Padang Panjang

Stasiun Kereta Api Padang Panjang. (atourin.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 06:51

Reaktivasi SPP Sekolah Negeri di Jawa Barat

Pemerintah wajib menjaga stabilitas kehidupan masyarakat dalam pendidikan. Masyarakat tidak ingin ada beban biaya lagi dalam menuntut pendidikan

Sejumlah siswa SD pergi sekolah menaiki rakit bambu melintasi Waduk Saguling. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:41

Perkembangan Lukisan dari Zaman purba sampai Era Digital

Lukisan-lukisan yang kini kita kenal, menyimpan sejarahnya tersendiri tanpa kita sadari.

Lukisan digital printing. (Sumber: Taswadi. 2019. "Teknik Digital Printing Lukisan Warli Haryana." Irama: Jurnal Seni, Desain dan Pembelajarannya, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain UPI)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:03

Jejak Tersembunyi di Balik Gereja Sidang Kristus Sukabumi

Gereja Sidang Kristus merupakan salah satu bangunan bersejarah yang ada di pusat kota Sukabumi.

Tampak depan Gereja Sidang Kristus Kota Sukabumi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Kepadalisna)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 18:44

Inspirasi Pajajaran sebagai Warisan yang Menunggu Diingat Kembali

Kerajaan Pajajaran banyak meninggalkan sejarah di masa Nusantara, tapi sayangnya ingatan kolektif tentang inspirasi Pajajaran bagi masa kini mulai terlupakan.

Kirab budaya di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Selasa 19 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 16 Jul 2026, 17:05

Menikmati Matahari Terbit di Lawang Angin

Lawang Angin Garut menawarkan panorama matahari terbit, Gunung Cikuray, kabut pegunungan, dan potensi wisata yang belum tergarap.

Sunset di Lawang Angin, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 16:33

Mandala Koran Legendaris yang Mewarnai Sejarah Pers Jawa Barat

Pada masanya, Harian Mandala merupakan salah satu surat kabar paling berpengaruh di Jawa Barat.

Sampul depan Harian Umum MANDALA edisi 13 Juli 1976, terbitan 50 tahun silam yang menjadi salah satu saksi perjalanan pers di Jawa Barat. (Sumber: Foto dan koleksi koran lawas milik Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 15:12

Teruslah Membaca meskipun Dianggap Tidak Berguna

Membaca saja tidak cukup, kita harus memahami isi, konteks, dan pesan yang ingin disampaikan dalam buku atau tulisan tersebut.

Seseorang sedang membaca buku. (Sumber: Unsplash | Foto: Mufid Majnun)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 14:43

Di Balik MPLS Masih Adakah Pendidikan untuk Semua?

MPLS sudah dilaksanakan namun yang menjadi sorotan adalah masih ada sekolah yang menerima murid kurang dari kebutuhan

Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 12:56

Bagaimana Teknologi Pengenal Plat Nomor Mengubah Wajah Transportasi Modern?

Teknologi License Plate Recognition (LPR) memungkinkan kamera dan AI mengenali plat nomor kendaraan secara otomatis untuk mendukung transportasi yang lebih aman, efisien, dan cerdas.

LPR (License Plate Recognition) atau disebut juga dengan ANPR (Automatic Number Plate Recognition) adalah salah satu aplikasi cctv untuk mengenali plat nomor kendaraan. (Sumber: ilmiteknik.co.id)
Wisata & Kuliner 16 Jul 2026, 11:48

Panduan Berkunjung ke Pulau Komodo: Cara ke Labuan Bajo, Pink Beach, dan Pulau Padar

Panduan lengkap Taman Nasional Komodo mulai dari harga tiket, aplikasi SiOra, Pulau Padar, Pink Beach, Manta Point, hingga pilihan tour terbaik.

Pulau Komodo. (Sumber: Flickr)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 11:09

Bobotoh Layak Menuntut Persib Lebih daripada Sekadar Juara

Klab besar di dunia hampir tidak pernah mendefinisikan dirinya hanya melalui jumlah piala yang mereka koleksi.

Bobotoh Persib sedang berkonvoi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Lukman Hidayat/Magang)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 08:00

Ci Manuk, Sungai Suci Penuh Do’a untuk Kekuatan Jiwa

Ci Manuk itu bukan berasal dari kata "manuk" yang berarti burung, tapi berasal dari kata "manu", dari bahasa Sanskerta.

Bandar Dermayu, tertulis dalam peta abad ke-16. Peta ini merupakan potongan dari Nova tabula insularum Javae, Sumatrae, Borneonis et aliarum Malaccam usque, 1598. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 07:42

Republik Tanpa Akuntabilitas

Kekuasaan yang menolak pertanggungjawaban sesungguhnya sedang mengingkari hakikatnya sebagai amanah rakyat.

Sebuah aksi penolakan Jokowi di Jawa Barat. Bandung 14 Juli 2026 di Depan DPRD Jawa Barat (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 15 Jul 2026, 18:45

Sisi Lain Kota Bandung: Kebiasaan Lama yang Berulang Kembali

Bahkan peringatan "Kesurupan" pun tetap tidak menghentikan oknum pembuang sampah sembarangan di kawasan Cibaduyut.

Peringatan Hantu dan CCTV pun tidak mengurungkan niat seseorang untuk membuang sampah sembarangan (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 15 Jul 2026, 18:03

MPLS Tanpa Bully

Sekolah yang ramah bukanlah tempat menimba ilmu yang sekadar bebas dari perundungan. Rumah kedua itu harus menjadi ruang bersama yang membuat setiap anak pulang dengan senyum yang lebih lebar

Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 15 Jul 2026, 17:22

Dampak Program Makan Bergizi Gratis terhadap Pedagang Kantin dan UMKM Sekolah

Saya tertarik membahas topik ini karena menunjukkan dampak Program Makan Bergizi Gratis bagi siswa, pedagang kantin, dan UMKM sekolah.

FAGI Jabar ingatkan bahwa tugas utama guru adalah mengajar, bukan mengurusi MBG. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 15 Jul 2026, 16:23

Benang-Benang Asing dalam Tenun Tradisi Nusantara: Jejak Budaya Eropa dalam Perubahan Kebaya dan Identitas Sosial.

Membahas pengaruh budaya Eropa terhadap perubahan kebaya sebagai busana tradisional dan simbol identitas sosial di Nusantara pada masa kolonial.

Wanita Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)