Lalap: Rahasia Kesehatan dan Identitas Budaya di Meja Makan Sunda

Badiatul Muchlisin Asti
Ditulis oleh Badiatul Muchlisin Asti diterbitkan Senin 13 Apr 2026, 18:07 WIB
Lalapan dan sambal terasi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)

Lalapan dan sambal terasi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)

Di tengah riuh rendah modernitas yang kian meminggirkan nilai-nilai tradisional, dokumentasi tertulis bukan sekadar upaya pengarsipan data, melainkan sebuah tindakan penyelamatan terhadap kearifan lokal yang mulai luntur.

Bagi masyarakat Sunda, tradisi mengonsumsi tumbuhan segar atau lalab (lalap) adalah denyut nadi kebudayaan yang selama ini lebih banyak berpindah melalui tutur lisan. Namun, ketika transmisi lisan tersebut menemui jalan buntu di hadapan generasi gawai, sebuah literatur yang komprehensif menjadi jangkar penguat identitas agar pengetahuan botani warisan leluhur tidak menguap begitu saja ditelan zaman.

Buku berjudul Tumbuhan Lalapan Masyarakat Sunda ini hadir sebagai manifesto ilmiah untuk menjawab kegelisahan akan retaknya rantai informasi antar-generasi mengenai kekayaan hayati Nusantara.

Masyarakat Sunda modern kini berada di persimpangan jalan gaya hidup yang mengkhawatirkan—sebuah kondisi yang bisa kita sebut sebagai “krisis selera”. Hegemoni makanan cepat saji dan sajian instan telah menyebabkan diskoneksi antara manusia dengan tanahnya sendiri.

Secara aktual, kebiasaan mengonsumsi lalapan menunjukkan tren penurunan drastis; data menunjukkan bahwa angka konsumsi sayuran di Jawa Barat hanya berkisar 58% dari anjuran kesehatan nasional.

Penulis mengevaluasi secara kritis bahwa transmisi informasi secara lisan dari orang tua ke generasi muda tidak lagi memadai di era disrupsi ini. Pengetahuan tentang tanaman mana yang aman dan berkhasiat seringkali terkubur bersama hilangnya memori kolektif.

Buku ini bukan sekadar buku botani biasa; ia adalah “cold storage” intelektual—langkah strategis untuk menginventarisasi dan mendokumentasikan warisan leluhur agar tetap dapat diakses ketika tradisi tutur sudah tak lagi mampu menjangkau telinga generasi muda.

Kelebihan utama buku ini ada pada caranya bercerita: tersusun rapi namun tetap luwes, sehingga asyik dibaca oleh pakar maupun masyarakat umum. Penulis membagi isi buku ini ke dalam empat bagian atau bab. Pada Bab I, penulis mengajak kita melihat kembali sejarah panjang manusia dan alam, serta betapa pentingnya tumbuhan dalam menopang hidup kita sehari-hari.

Dilanjut Bab II, membedah kedekatan orang Sunda dengan alam. Salah satu contoh menariknya adalah filosofi Luhur-Handap di Kampung Adat Naga, yang mengatur posisi area suci dan hunian demi menjaga harmoni lingkungan.

Lalu Bab III yang menjadi bagian inti buku mendata secara lengkap 86 jenis tumbuhan dari 33 keluarga (familia). Diakhiri Bab IV yang berisi pandangan ke depan tentang bagaimana pengetahuan ini bisa terus diajarkan di sekolah agar tetap bermanfaat bagi generasi mendatang.

Kekuatan narasi ini semakin dipertegas dengan dokumentasi visual berupa foto-foto asli hasil observasi lapangan (dokumentasi pribadi), yang memberikan jaminan akurasi bagi pembaca untuk mengenali karakteristik morfologis setiap tanaman secara nyata.

Analisis Kekayaan Botani

Kalau kita bicara makanan Sunda, hampir pasti yang pertama kali muncul di kepala adalah lalapan. (Sumber: Unsplash/Keriliwi)
Kalau kita bicara makanan Sunda, hampir pasti yang pertama kali muncul di kepala adalah lalapan. (Sumber: Unsplash/Keriliwi)

Buku ini melampaui daftar belanja sayur; ia adalah studi multidimensi yang membedah lalapan dari perspektif tradisi, kesehatan, dan botani teknis. Penulis menyajikan fakta bahwa lalapan adalah simbol peremajaan diri, kaya akan beta-karoten yang menjaga kebugaran tubuh dan kesehatan kulit.

Buku ini mengupas kekayaan tanaman pangan Sunda yang bukan sekadar pelengkap isi piring, melainkan juga berfungsi sebagai obat alami. Mulai dari Reundeu yang berkhasiat sebagai pelancar urine hingga Genjer yang kini naik kelas karena kemampuannya mencegah penyakit jantung dan kanker lewat kandungan seratnya.

Ada pula berbagai jenis Bayam yang sejak lama dipercaya sebagai pembersih darah, serta Pegagan, tumbuhan liar yang kini populer untuk memperkuat daya tahan tubuh dan mengobati tifus. Tak ketinggalan, Jambu Monyet hadir menawarkan sensasi tekstur yang unik saat disantap bersama sambal kacang, sekaligus menjadi penawar radang mulut yang mujarab.

Keseluruhan artefak budaya ini membuktikan bahwa meja makan masyarakat Sunda adalah perpaduan harmonis antara rasa dan kesehatan.

Informasi detail mengenai habitus hingga cara pengonsumsian ini adalah upaya konkret penulis untuk menumbuhkan kembali rasa cinta masyarakat terhadap kedaulatan hayati lokal.

Buku ini memiliki urgensi besar dalam dunia pendidikan formal. Penulis mendorong agar kearifan lokal lalapan diintegrasikan ke dalam kurikulum sekolah, sehingga identitas bangsa tumbuh sejak dini.

Kebijakan Open Access dari Penerbit BRIN yang memungkinkan buku ini diunduh secara gratis adalah langkah revolusioner dalam diseminasi pengetahuan tanpa hambatan finansial.

Satu poin intelektual yang tajam adalah pilihan istilah edible. Secara etimologis, edible yang berakar dari bahasa Latin tidak sekadar merujuk pada sesuatu yang "bisa dikunyah" (eatable), tetapi mencakup standar kualitas dan keamanan pangan.

Ini adalah upaya penulis memberikan legitimasi ilmiah bahwa tradisi mengonsumsi lalapan mentah adalah praktik yang aman, berkualitas, dan sehat selama mengikuti panduan yang benar.

Buku Tumbuhan Lalapan Masyarakat Sunda bukan sekadar literatur botani; ia adalah surat cinta untuk kebudayaan Sunda dan upaya menjaga martabat pangan lokal. Bagi Generasi Z dan Milenial yang kian akrab dengan gaya hidup urban yang serba cepat, buku ini menawarkan jembatan untuk kembali "membumi"—menyadari bahwa masa depan kesehatan kita mungkin tersimpan dalam kearifan masa lalu yang ada di piring makan kita.

Boleh dibilang, buku ini adalah referensi penting yang berhasil mentransformasikan data teknis menjadi narasi budaya yang menggugah. Membaca karya Diana Hernawati dan Rinaldi Rizal Putra akan menyadarkan kita bahwa lalapan bukan sekadar pendamping nasi, melainkan simbol identitas dan kesehatan yang harus kita kedaulatkan kembali. (*)

Data Buku:

  • Judul buku: Tumbuhan Lalapan Masyarakat Sunda
  • Penulis: Diana Hernawati dan Rinaldi Rizal Putra
  • Penerbit: Penerbit BRIN (Anggota Ikapi)
  • Tahun terbit: Desember 2022 (Cetakan Pertama)
  • Tebal: xvi + 212 halaman
  • ISBN: 978-623-8052-19-7 (e-book) / 978-623-8052-18-0 (cetak)

Lisensi: CC BY-NC-SA 4.0 (Tersedia gratis di penerbit.brin.go.id)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Badiatul Muchlisin Asti
Penulis dan jurnalis warga. Peminat kajian sejarah lokal dan kuliner Indonesia. Buku terbarunya "Grobogan Untold Story: Tokoh, Tradisi, dan Kuliner" (2025).

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 13 Apr 2026, 18:07

Lalap: Rahasia Kesehatan dan Identitas Budaya di Meja Makan Sunda

Tradisi mengonsumsi tumbuhan segar atau lalab (lalap) adalah denyut nadi kebudayaan yang selama ini lebih banyak berpindah melalui tutur lisan.

Lalapan dan sambal terasi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Bandung 13 Apr 2026, 18:06

Mencicipi 'The Best Dirty Latte in Town' di CO,MA Coffee Matter, Coffee Shop dengan Bakery Paling 'Niat' di Bandung

Menjadi pusat gravitasi komunitas kreatif, Coffee Matter hadir bukan hanya membawa aroma biji kopi pilihan, melainkan sebuah ekosistem gaya hidup yang inklusif.

CO,MA Coffee Matter hadir bukan hanya membawa aroma biji kopi pilihan, melainkan sebuah ekosistem gaya hidup yang inklusif. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Wisata & Kuliner 13 Apr 2026, 17:00

Panduan Wisata Capolaga Subang, Surga Tiga Curug dan Camping di Kebun Teh

Wisata Capolaga Subang menawarkan tiga curug, camping ground, dan trekking kebun teh dengan suasana alam sejuk dan asri.

Salah satu curug yang ada di Wisata Alam Capolaga. (Sumber: subang.go.id)
Ayo Netizen 13 Apr 2026, 16:11

Bandung dalam Novel ‘Dilan ITB 1997’

Mari kita telusuri jejak-jejak Dilan dan Ancika di Bandung tahun 1997.

Poster film 'Dilan ITB 1997'. (Sumber: Falcon Pictures)
Ayo Netizen 13 Apr 2026, 15:12

Ketik, Kurir, dan Kupon

Setiap kata yang ditulis dengan sungguh-sungguh selalu menemukan jalan bersama untuk menjadi ilmu, rezeki, dan kenangan yang tak pernah benar-benar selesai.

Ayobandung.id dengan bangga mengumumkan 10 netizen terpilih dengan kontribusi terbaik di kanal AYO NETIZEN (Sumber: Unsplash/Bram Naus)
Linimasa 13 Apr 2026, 14:00

Sejarah dan Kontroversi Konversi Gas Elpiji di Indonesia

Program konversi minyak tanah ke LPG sejak 2007 mengubah pola energi rumah tangga, namun menyisakan kontroversi, kecelakaan, dan polemik kebijakan

Sejumlah warga mengantre untuk membeli gas elpiji di Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 13 Apr 2026, 12:43

Potret Bandung Era 90-an dalam Kenangan 

Bandung pada awal 1990-an adalah kota yang bergerak dengan irama pelan.

Bus DAMRI jadul di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 13 Apr 2026, 10:24

Intelektual, Masyarakat Sipil, dan Perubahan Sosial

Di tengah kondisi yang tidak pasti saat ini, kita membutuhkan intelektual yang mampu berpikir jernih, masyarakat sipil yang kuat, dan keberanian untuk melakukan perubahan sosial.

Calon jemaah haji saat kegiatan pelepasan manasik haji di Masjid Pusat Dakwah Islam (Pusdai), Kota Bandung, Rabu (1/4/2026). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Komunitas 13 Apr 2026, 09:11

Masagi Tjibogo, Kekuatan Warga Lokal Mengolah Sampah Hingga Produknya Tembus Pasar Global

Komunitas Masagi Tjibogo mengolah sampah berbasis budaya lokal, membangun kesadaran warga, sekaligus menciptakan produk bernilai ekonomi yang menembus pasar global.

Abang Oyong yang sudah memasuki usia 80-an membantu membuat karpet hasil olahan sampah di Komunitas Masagi Tjibogo. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Komunitas 13 Apr 2026, 05:25

Bandung Berpuisi Buka Panggung, Siapa Saja Bisa Bersuara Lewat Kata

Komunitas Bandung Berpuisi menghadirkan panggung terbuka melalui Open Mic Vol. 17 sebagai ruang ekspresi bagi siapa saja untuk membacakan karya, sekaligus mendekatkan puisi kepada masyarakat.

Puluhan penampil memeriahkan Open Mic Vol. 17 Bandung Berpuisi untuk mengekspresikan karya dan merayakan puisi secara langsung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Sejarah 12 Apr 2026, 14:38

Sejarah Letusan Galunggung 1982, Sembilan Bulan Bencana Vulkanik di Jawa Barat

Letusan Galunggung 1982 berlangsung sembilan bulan, memicu pengungsian massal, kerusakan luas, dan menjadi salah satu bencana vulkanik terbesar di Jawa Barat.

Letusan Galunggung 1982. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 12 Apr 2026, 13:26

4 Ide Cerita untuk Kamu yang Merasa 'Terasing' di Bandung Kampung Halamanmu

Kita berdiri di kota tempat lahir, tapi merasa seperti tamu.

Wisata kuda tunggang di kawasan Jalan Cilaki, Kota Bandung, Rabu 25 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 12 Apr 2026, 09:39

Hikayat Kampung Adat Mahmud, Penyebaran Islam hingga Larangan Menabuh Gong

Kampung Adat Mahmud di Bandung menyimpan sejarah penyebaran Islam, tradisi rumah panggung, dan larangan menabuh gong yang masih dijaga.

Kampung Mahmud, Bandung. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 12 Apr 2026, 08:52

Bandung Era 1990-an dalam Ingatan Anak Kost

Bandung era 90-an, bagi saya, bukan sekadar kenangan. Ia adalah rumah yang selalu bisa saya kunjungi, kapan saja, dalam ingatan.

Anak kost era 1990-an, bersahabat dengan Erwan Setiawan, kini Wagub Jawa Barat. Kenangan sederhana yang tak lekang waktu. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 11 Apr 2026, 08:51

JPO Berkarat dan Berlubang Membahayakan Pelajar di Batas Kota Bandung–Cimahi, Tanggung Jawab Siapa?

JPO di Jalan Amir Machmud rusak parah: lantai berlubang, berkarat, dan tanpa atap pelindung, membahayakan pejalan kaki terutama pelajar.

Pelejar berjalan di JPO di Jalan Amir Machmud, perbatasan Kota Bandung dan Cimahi, Jumat, 10 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 20:01

Antara Bandung yang Kubayangkan dan Kenyataan yang Kutemui

Bagi banyak orang, Bandung selalu punya tempat istimewa dalam imajinasi.

Jalan Asia-Afrika, depan Alun-Alun Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Suci Firda)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 18:23

WFH sebagai Cermin Budaya Kerja Aparatur

Hilangnya kehadiran fisik dalam WFH menantang organisasi untuk membangun sistem penilaian kerja yang berbasis output dan tanggung jawab.

Ilustrasi Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Diskominfo Depok)
Bandung 10 Apr 2026, 16:36

Mengenal Dongmoon Dimsum, Ikon Kuliner Baru di Pasar Cihapit yang Viral Lewat Varian Mentai

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum tetap kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung.

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ikon 10 Apr 2026, 15:17

Sejarah Istana Cipanas, Warisan Kolonial di Kaki Gunung Gede Pangrango

Istana Cipanas bermula dari rumah singgah abad ke-18, berkembang menjadi istana kepresidenan yang menyimpan jejak kolonial, perang, hingga keputusan penting negara

Lukisan Istana Cipanas, Cianjur, tahun 1880-1890-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:26

Jelajah Wisata Pangalengan dengan Pilihan Tempat Menginapnya

Pangalengan punya sejarah penginapan panjang, dari Berghotel hingga glamping modern di Rahong dan Situ Cileunca dengan nuansa alam yang menenangkan.

Muara Rahong Hills, salah satu glamping tempat menginap wisatawan di Pangalengan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)