Lalapan dan Spirit Keugaharian

4 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Kalau kita bicara makanan Sunda, hampir pasti yang pertama kali muncul di kepala adalah lalapan. (Sumber: Unsplash/Keriliwi)
Kalau kita bicara makanan Sunda, hampir pasti yang pertama kali muncul di kepala adalah lalapan. (Sumber: Unsplash/Keriliwi)

Kalau kita bicara makanan Sunda, hampir pasti yang pertama kali muncul di kepala adalah lalapan. Daun kemangi, selada mentah, timun segar, sambal, dan nasi hangat. Sederhana, tapi entah selalu terasa lengkap. Di banyak warung nasi Sunda, lalapan bahkan jadi semacam ikon.

Riadi Darwis, dosen dan peneliti, dalam program Keurseus Budaya Sunda #57 “Nyungsi Kulinér Sunda” yang diselenggarakan oleh Pusat Kebudayaan Sunda Universitas Padjadjaran, menyebutkan ada delapan kategori makanan Sunda. Ialah makanan pokok, lauk pauk, rujak, lalap, sambal, tek-tek, manisan, dan minuman.

Dari delapan kategori itu, hanya satu, lauk pauk yang secara eksplisit mengandalkan bahan hewani. Sisanya didominasi oleh unsur nabati, sayur, dan buah. Tentu hal ini bukan kebetulan. Data yang dihimpun Riyadi juga menarik, ada 718 jenis lalapan, 362 bahan untuk rujak, 54 jenis rujak, dan 100 sambal khas Sunda.

Jika melihat angka-angka itu, mudah disimpulkan bahwa pola makan orang Sunda pada dasarnya hampir vegetarian, tentu dalam pengertiannya yang cair. Bukan karena ideologi diet, bukan pula karena moralisme ekologis yang muluk-muluk, tapi karena terbiasa, dirasa nikmat, dan semuanya berdiri di atas nilai hidup secukupnya, sederhana, serta bersahaja.

Makan yang Seadanya

Keugaharian ini bukan cuma gaya makan, tapi pandangan hidup. Di Tatar Sunda, alam selalu menjadi sahabat, bukan objek eksploitasi. Makan sayur bukan karena tren go green atau keinginan tampil sehat di media sosial, tapi karena memang itu yang tumbuh di halaman. Orang Sunda makan apa yang ada, bukan apa yang sedang viral.

Kini, di tengah maraknya wacana gaya hidup hijau, veganisme, dan diet organik, semangat itu seakan kehilangan spiritnya. Kita melihat gerakan-gerakan yang mengatasnamakan kesadaran ekologis, tapi sering kali berhenti di gaya hidup kelas menengah. Makanan “sehat” dijual mahal, dikemas estetis, dan diposisikan sebagai simbol moral baru. Bahwa siapa yang makan organik dianggap lebih baik, lebih sadar, lebih “beradab”.

Padahal kalau dicermati, spirit dasar dari makanan Sunda justru bukan soal hijau atau tidak, tapi soal hal-hal yang wajar. Keugaharian mengajarkan keseimbangan, bukan fanatisme. Orang Sunda tidak menolak daging, tapi tidak pula menjadikannya pusat. Tidak menolak kemewahan, tapi tidak menggantungkan kebahagiaan padanya. Dalam lalapan, ada pesan sederhana tapi menukik bahwa dunia ini cukup selama kita tidak serakah.

Ekologi, Kelas, dan Ilusi “Hijau”

Kritik paling mendalam terhadap tren hijau modern adalah ia seringkali absen memandang kelas. Makanan organik yang katanya kembali ke alam justru dijual di restoran mahal.

Sementara itu, masyarakat bawah yang secara historis hidup paling dekat dengan alam, kini malah kehilangan akses ke makanan segar karena harga dan industrialisasi pangan.

Ilustrasi masakan khas Sunda. (Sumber: Wikimedia Commons/Dudygr)
Ilustrasi masakan khas Sunda. (Sumber: Wikimedia Commons/Dudygr)

Ikan asin, tempe, sambal terasi, sayur rebus, makanan rakyat yang dulu dianggap biasa, kini mulai digeser oleh makanan cepat saji yang lebih murah dan instan. Ironisnya, makanan-makanan alam malah dipasarkan ke kalangan menengah ke atas, sementara rakyat yang hidup dari bumi malah makin jauh dari alamnya sendiri.

Di sinilah keugaharian Sunda menemukan relevansinya kembali. Ia mengingatkan bahwa keadilan ekologis tidak bisa dilepaskan dari keadilan ekonomi. Tak ada gunanya berbicara soal veganisme, organik, atau sustainability jika hanya bisa diakses segelintir orang. Keugaharian Sunda, sesungguhnya menawarkan model yang lebih inklusif dan membumi.

Nilai yang Dikandung

Di balik lalapan, ada pesan kesederhanaan. Bukan pasrah atau miskin pilihan, tapi kesadaran bahwa hidup yang baik tidak butuh banyak. Dalam filosofi ini, makan bukan sekadar pemenuhan nutrisi, tapi bentuk hubungan sosial dan ekologis. Daun singkong, petai, jengkol, dan sambal bukan sekadar bahan makanan, tapi simbol keterhubungan antara manusia, tanah, dan spiritualitas.

Makan lalapan berarti menghormati kerja alam yang menyediakan pasokan pangan. Makan seadanya berarti mengakui bahwa kita tidak lebih besar dari semesta. Sementara itu, gaya hidup modern dengan obsesi pada efisiensi, nutrisi, dan estetika makanan seringkali justru memutus relasi itu. Kita sibuk menghitung kalori tapi lupa mengingat tanah. 

Bagi orang Sunda makan bukan hanya soal tubuh, tapi juga soal kebersamaan. Manusia modern, meski berupaya hidup hijau, sering tersekat dari sesamanya. Solidaritas dan keberpihakan tak lagi terasa di meja makan. Padahal dalam tradisi Sunda, bahkan lalapan yang sederhana pun dinikmati bersama, dalam riuh tawa, dalam bagi cerita yang hangat.

Yang Sebenarnya Ditawarkan

Jika keugaharian Sunda dipahami sebagai etika hidup, maka ia sebetulnya sangat relevan dengan krisis ekologis dan sosial hari ini. Dunia sedang berusaha menata ulang hubungannya dengan alam, tapi sering kali lewat jalan yang elitis dan simbolik. Padahal solusi itu sudah lama ada di dapur-dapur bambu di kampung. Makan seperlunya, syukuri yang ada, jangan berlebihan.

Keugaharian bukan anti-kemajuan, tapi cara menjaga keseimbangan di tengah laju dunia. Ia tidak menolak inovasi kuliner, tetapi menuntut agar setiap ide tetap berpihak pada keberlanjutan dan keadilan sosial. Mungkin justru di sanalah filsafat lalapan menemukan maknanya bahwa dunia yang baik bukan dunia yang penuh, tapi dunia yang cukup.

Di era ketika makanan sering dijadikan penanda kelas sosial dan moralitas, budaya makan Sunda mengingatkan bahwa makan adalah praktik spiritual yang membumi. Tidak perlu organik yang mahal, cukup jujur pada rasa lapar dan rasa syukur. Lalapan tidak menuntut status, tidak butuh ornamen, bukan cari muka.

Keugaharian adalah bentuk spiritualitas yang paling dekat dengan dapur. Ia sunyi. Mungkin di sanalah letak kebijaksanaan orang Sunda. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Sep 2026, 18:33

Jika Ada Lagi Taman Nasional atau Taman Hutan Raya Baru di Jawa Barat

Menelusuri peluang hadirnya taman nasional atau taman hutan raya (tahura) baru sebagai benteng keanekaragaman hayati, pelindung ekosistem (flora dan fauna) serta oasis hijau masa depan Bumi Pasundan.

Bagas Aji Prakoso saat menjajal Tahura Djuanda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 16:50

Ketika Idealisme Pengabdian Gen-Z Membentur Tembok Kaku Birokrasi

Artikel opini ini membahas paradoks antara idealisme pengabdian ASN Generasi Z dan budaya birokrasi yang masih dianggap kaku.

Tumpukan Berkas. (Sumber: Chat GPT | Foto: AI Chat GPT)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 15:05

Jalur FM: Ketika Suara dari Udara Menjadi Lebih Jernih

Sebelum gelombang FM semakin ramai di Bandung, perubahan serupa lebih dahulu terasa di Jakarta.

Studio Radio OZ Bandung di Jl. Setrasari II No. 14, Bandung. Radio OZ menjadi salah satu stasiun radio di Bandung yang termasuk awal bermigrasi dari jalur AM ke FM. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 14:42

216 Tahun Kota Bandung: Merawat Warisan dan Membangun Masa Depan Gastronomi Berkelanjutan

Lebih dari sekadar destinasi tempat orang mencari tempat makan yang estetis atau makanan lezat, Bandung pada hakikatnya adalah laboratorium budaya.

Kudapan tradisional khas Kota Kembang yang sangat populer antara lain cireng, cilok, seblak, dan telur gulung. (Sumber: Shutterstock | Foto: Hanifah Kurniati)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 12:21

Momentum Mahasiswa Meraih Prestasi

Mahasiswa sering menyalahkan diri dan keadaannya dalam situasi yang sulit. Menurut mahasiswa, bahwa keberadaannya belum tentu berprestasi. 

Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 22 Sep 2026, 10:40

Media Lokal Cari Model Bisnis Baru di Local Media Summit 2026

Media lokal tidak lagi hanya dituntut menjadi penerbit berita, tetapi juga dapat berkembang menjadi agensi lokal, pengelola komunitas.

Local Media Summit (LMS) akan kembali hadir di pada 22-23 Oktober 2026 di Hotel Manhattan Jakarta.
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:15

Jika Benzema Datang, Persib Sebenarnya Membeli Apa?

Status bebas transfer Benzema saat ini membuat sebuah pintu terbuka untuk Persib.

Karim Benzema (Sumber: ayobandung.com | Foto: Wikimedia Commons (Lisensi CC) via ayobandung.com)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:00

Urap: Jejak Mahakarya Kuliner Tertua dan Filosofi Kehidupan dalam Sepiring Sayuran Nusantara

Dalam khazanah gastronomi Indonesia, urap bukan sekadar komposisi sayuran dan kelapa parut.

Urap merupakan sajian sayuran tertua di tanah Jawa yang tercatat secara formal dalam literatur sejarah. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:31

Demokrasi yang Berakar: Ketika Politik Bertemu  Budaya dan Kepercayaan

Sebelum seseorang menjatuhkan pilihan politiknya, ada proses komunikasi yang panjang. Sebelum sebuah kekuasaan dianggap sah, ada proses pembentukan makna.

Diah Fatma Sjoraida merupakan Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. (Sumber: Gemini | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:01

Urgensi Kota Bandung: Persolan Sampah dan Kemacetan

Sampah dan kemacetan adalah dua persoalan besar yang dihadapi Bandung. Harus diatasi dengan membangun kesadaran bersama, yang akhirnya demi kenyamanan bagi warga Bandung, sebagai rumah bersama.

Pengendara melintas di dekat tumpukan sampah yang menggunung di TPS Jalan Makam Caringin, Kota Bandung, Kamis, 9 April 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 18:17

Imaji Papua Bersilaturahmi dengan Caraka Sundanologi Bandung

Imaji Papua membawa cerita tentang manusia, budaya, dan kehidupan Tanah Papua ke Bandung melalui film dan dialog lintas komunitas.

Caraka Sundanologi bersilaturahmi dengan komunitas Imaji Papua melalui pemutaran film dokumenter sebagai ruang berbagi cerita, budaya, dan pengalaman tentang Papua. (Sumber: Nonon Rachnaya)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 17:20

Bandung dan Terbentuknya Karyawan 'Flourish'

Ketika Pemkot Bandung berhasil memangkas hambatan birokrasi,sektor industri harus siapkan sistem rekrutmen yang presisi.

Bandung dan urgensi karyawan "Flourish" (Sumber: dokpri dengan kreasi chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 16:22

Tugu Proklamasi Cirebon: Jejak Pembacaan Proklamasi 15 Agustus 1945

Sebuah tugu berwarna putih di perempatan Jalan Siliwangi, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, itu menjadi saksi bahwa kemerdekaan Indonesia pernah diproklamirkan sebelum 17 Agustus 1945.

Tugu Proklamasi Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Wahyu)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 15:58

Menimbang Dampak Pajak Otomatis di Tengah Melejitnya Lokapasar Kota Bandung

Proses perpajakan digital menuntut UMKM agar merapikan pembukuan mereka

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan (Kanan). (Sumber: Humas Pemkot Bandung)
Ikon 21 Sep 2026, 15:33

Stasiun Cicalengka, dari Stasiun Bersejarah jadi Tinggal Sejarah

Stasiun Cicalengka berusia lebih dari seabad. Bangunan lamanya telah dibongkar, sementara tinggalan sejarahnya masih tersisa.

Stasiun Cicalengka, Bandung, antara tahun 1900-1920-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 13:41

Akar Historis dan Evolusi Gastronomi Sunda: Meneroka Budaya Pangan Tatar Parahyangan

Gastronomi bukan sekadar urusan pemuasan kebutuhan fisiologis manusia melalui asupan nutrisi, melainkan sebuah disiplin ilmu yang membedah korelasi intrinsik antara makanan dan kebudayaan.

Penjual makanan keliling di Jawa Barat sekitar tahun 1910. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 11:21

Bioskop sebagai Ruang Refleksi Diri

Bioskop di era modern tidak sekedar ajang hiburan tapi ruang refleksi yang membuat nyaman.

Ilustrasi bioskop. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 09:09

Ketika Fikom Harus Mengajarkan Cara Berkomunikasi dengan Mesin

Sekarang mulai terbentuk pola baru komunikasi, yakni manusia berbicara kepada mesin, mesin menghasilkan pesan, mesin memilih pesan, lalu manusia menerima dan menafsirkannya.

Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. (Sumber: ayobandung.com | Foto: fikom.unpad.ac.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 17:07

930 Pecatur di Bandung Dapat Wejangan dari Legenda Utut Adianto

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru.

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 16:57

Istilah Bahasa Jawa untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Mengenal istilah lokal Bahasa Jawa untuk menggambarkan kekuatan guncangan gempa bumi, dari Lir hingga Lindhu Kiamat/Jagad Obah. Kaya makna dan kearifan lokal suu bangsa Jawa.

Ilustrasi bangunan yang rusak akibat gempa bumi. (Sumber: Pexels | Foto: Ahmed akacha)