Memburu Senyum Wisatawan, Rezeki Fotografer Jalanan di Asia Afrika Kota Bandung

5 menit baca
Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan Selasa 21 Apr 2026, 09:41 WIB
Wisatawan lokal berpose di Jalan Asia Afrika Kota Bandung dengan latar belakang gedung bersejarah, Hotel Savoy Homann. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Wisatawan lokal berpose di Jalan Asia Afrika Kota Bandung dengan latar belakang gedung bersejarah, Hotel Savoy Homann. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Wisatawan terus berdatangan di kawasan Jalan Asia Afrika hingga Alun-Alun Bandung saat sore menjelang malam. Sebagian berjalan santai menikmati bangunan tua, sebagian lain sibuk mencari sudut terbaik untuk mengabadikan momen.

Lampu-lampu kota perlahan menyala, bangunan tua tampak semakin berkarakter. Ada yang datang bersama keluarga, pasangan, hingga rombongan teman. Di tengah keramaian itu, puluhan fotografer jalanan berdiri dengan kamera di tangan, menawarkan jasa sederhana yang masih dibutuhkan banyak pelancong yaitu membantu membuat kenangan.

Mereka bukan sekadar menawarkan jasa memotret. Di tangan para fotografer itu, momen liburan para wisatawan diubah menjadi kenangan yang bisa dibawa pulang.

Jalan Asia Afrika tetap menjadi ruang abadi untuk merayakan kenangan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Jalan Asia Afrika tetap menjadi ruang abadi untuk merayakan kenangan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Salah satunya adalah Deden, pria yang lebih dikenal dengan nama Ale di kawasan Asia Afrika. Lelaki berusia sekitar 30 tahun itu sudah empat tahun mencari rezeki sebagai fotografer jalanan. Meski lahir di Indramayu, Ale mengaku sejak kecil tumbuh di Bandung dan kini menggantungkan hidup dari jalanan wisata kota.

“Kalau nama di sini mah Ale. Nama asli mah Deden. Asli kelahiran Indramayu, cuma dari kecil di Bandung,” ujarnya sambil tersenyum.

Bagi Ale, profesi ini lahir dari kecintaannya pada dunia seni. Sebelum menekuni fotografi jalanan, ia bekerja di bidang dekorasi pelaminan dan seni lukis. Menurutnya, fotografi masih menjadi bagian dari pekerjaan kreatif yang sudah lama ia geluti.

“Awalnya dari dekorasi, seni lukis, bikin background buat pelaminan. Kalau ini juga seni kan, jadi lumayan cocok. Ikut hobi sebenarnya,” katanya.

Rutinitas Ale dimulai sejak siang hingga larut malam. Pada hari biasa, ia mulai bekerja sekitar pukul 13.00 sampai pukul 23.00 WIB. Namun saat akhir pekan, ketika kawasan wisata dipenuhi pengunjung, ia sudah berada di lokasi sejak pagi dan baru pulang lewat tengah malam.

“Kalau Sabtu-Minggu paling jam delapan atau jam sembilan sudah di lapak. Pulangnya bisa jam setengah dua pagi,” ucapnya.

Di kawasan Asia Afrika, Ale mematok tarif Rp5.000 per foto. Pelanggan bebas memilih hasil mana yang ingin dibayar. Menurutnya, sistem itu membuat wisatawan lebih nyaman karena tidak dipaksa membeli semua hasil jepretan.

“Yang dipilih customer aja yang dibayar. Misalnya dia suka delapan foto, ya itu yang dibayar. Kita mah enggak maksa,” katanya.

Pendapatan pun sangat bergantung pada keramaian kota. Saat akhir pekan atau libur panjang, penghasilannya bisa menembus Rp1 juta dalam sehari. Namun ketika sepi, uang yang dibawa pulang jauh berkurang.

“Kalau hari libur bisa sampai sejuta sehari. Kalau sepi paling masuk Rp300 ribu,” ujarnya.

Ale membuktikan bahwa fotografi jalanan bukan sekadar hobi, melainkan urat nadi kehidupan keluarga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ale membuktikan bahwa fotografi jalanan bukan sekadar hobi, melainkan urat nadi kehidupan keluarga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Di balik peluang itu, persaingan pun tak sedikit. Ale menyebut jumlah fotografer jalanan di kawasan Asia Afrika mencapai sekitar 80-an orang. Meski begitu, ia menilai hubungan mereka lebih banyak diwarnai solidaritas ketimbang konflik.

“Kadang ada yang belum dapat uang atau belum laku, suka dikasihin pelanggan ke mereka. Jadi saling bantu aja sebenarnya,” katanya.

Sesekali, rebutan pelanggan memang terjadi, terutama jika rombongan wisatawan datang dalam jumlah besar. Namun masalah biasanya diselesaikan secara damai.

“Pernah ada rombongan difoto sama saya, ternyata katanya rombongan orang lain. Ya sudah, dibagi dua aja. Yang penting enggak ribut,” ujarnya.

Tantangan terbesar justru datang dari perubahan zaman. Banyak wisatawan merasa kamera ponsel sudah cukup bagus sehingga jasa fotografer dianggap tak lagi perlu. Ale mengaku tak jarang diremehkan.

“Kadang ada yang bilang pakai iPhone aja cukup. Saya bilang, kalau hasilnya sama dengan kamera saya, keliling Bandung saya gratisin. Tapi kalau beda, mohon maaf Bapak bayar,” katanya sambil tertawa.

Meski begitu, masih banyak wisatawan yang memilih jasa mereka. Salah satunya Ntep (40), pengunjung asal Cianjur yang datang bersama istri dan anaknya untuk menikmati suasana pusat Kota Bandung. Ia mengaku tertarik menggunakan jasa fotografer jalanan karena ingin mendapat hasil yang lebih baik dibanding memotret sendiri.

“Ya mungkin karena bisa membantu ya untuk foto-foto yang bagus. Terus hasilnya juga bisa langsung ditransfer ke handphone kita sendiri, jadi praktis,” ujar Ntep.

Setelah menerima hasil foto, ia mengaku puas. Menurutnya, keberadaan fotografer jalanan sangat membantu wisatawan yang ingin mengabadikan momen tanpa repot.

“Alhamdulillah hasilnya bagus juga. Dengan adanya fotografer kayak gini, ngebantu buat wisatawan yang datang ke sini,” katanya.

Terpikat keramahan lokal, Ramlan Purba dan pasangannya membawa pulang potongan sejarah Bandung melalui lensa fotografer jalanan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Terpikat keramahan lokal, Ramlan Purba dan pasangannya membawa pulang potongan sejarah Bandung melalui lensa fotografer jalanan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Hal serupa dirasakan Ramlan Purba (25), wisatawan asal Medan bersama kekasihnya yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Alun-Alun Bandung. Ia sengaja menggunakan jasa fotografer karena merasa para pekerja di kawasan itu ramah dan membuat pengunjung nyaman.

“Soalnya fotografernya ramah-ramah. Pas ditawarin juga enak cara ngomongnya, jadi saya tertarik buat foto di sini,” ujarnya.

Ramlan ingin membawa pulang kenangan dari Bandung dengan latar kawasan bersejarah yang selama ini hanya ia lihat lewat cerita dan media sosial.

“Buat foto di alun-alun, terus sama bangunan-bangunan tua yang ada sejarahnya gitu. Jadi ada kenangannya kalau pulang nanti,” katanya.

Ia juga mengaku puas dengan hasil foto yang diterimanya. Menurutnya, kehadiran fotografer jalanan justru menjadi daya tarik tersendiri di Bandung.

“Hasil fotonya bagus, memuaskan. Menurut saya ngebantu sekali buat wisatawan, karena pas liburan jadi ada yang bantu fotoin. Malah jadi hal unik juga, enggak semua kota punya suasana kayak gini,” ujarnya.

Di tengah era kamera ponsel, tripod mini, dan budaya swafoto, fotografer jalanan di Asia Afrika ternyata masih bertahan. Mereka berdiri di sudut-sudut kota, membaca arah cahaya, menawarkan jasa dengan senyum, lalu menunggu momen terbaik datang bersama langkah wisatawan.

Bagi Ale, profesi ini bukan hanya soal menekan tombol shutter. Dari setiap jepretan, ada kebutuhan rumah tangga yang harus dipenuhi.

“Alhamdulillah bisa ngehidupin keluarga. Anak istri bisa dari jalur fotografi jalanan ini. Walaupun enggak gede, tapi masih bisa buat makan dan kebutuhan lainnya,” tuturnya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Linimasa 10 Jun 2026, 16:50

Ibun Bajra, Fenomena Alam Embun Membeku di Kertasari Bandung

Fenomena ibun bajra kembali muncul di Kertasari. Embun membeku jadi lapisan es dan berdampak pada pertanian.

Daun teh membeku di Kertasari saat cuaca dingin menyergap Bandung 2019 silam. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 16:48

Menelusuri Jejak Historis Surabi, Oleh-Oleh Khas Jawa Barat

Surabi adalah salah satu makanan tradisional khas Jawa Barat.

Surabi Cihapit Bandung. (Sumber: Instagram | Foto: Surabi Cihapit)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 15:31

Menyusuri Bukit Plangon: Saat Sejarah dan Kepercayaan Menjaga Alam

Bukit Plangon menjadi contoh bagaimana nilai spiritual dan kearifan lokal berperan dalam menjaga keseimbangan alam.

Sinar matahari menerobos rimbunnya pepohonan di sekitar bangunan makam Bukit Plangon, Cirebon. (Sumber Foto: Dokumentasi pribadi, 2025)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 14:48

Kesadaran Masyarakat terhadap Penggunaan Kain Wol dengan Fashion Old Money

Penerapan gaya old money dan pemakaian kain wol menjadi strategi yang sangat efektif untuk menekan laju pertumbuhan fashion cepat di Indonesia.

Ilustrasi kain wol. (Sumber: Pexels | Foto: Vlada Karpovich)
Wisata & Kuliner 10 Jun 2026, 14:33

Jelajah TMII, Panduan Lengkap Wisata, Harga Tiket, dan Wahana Terbaru

Panduan lengkap berkunjung ke TMII Jakarta, mulai dari harga tiket, museum, anjungan daerah, Jagat Satwa Nusantara, hingga cara menjelajahi kawasan seluas 150 hektare.

Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 12:49

Filosofi Kendi, Animo Pemakaian Tumbler dan Mesin Air Minum Gratis

Kendi adalah ikon sosialisme air minum pada zamannya.

Ilustrasi kendi yang merupakan ikon sosialisme air minum warisan budaya bangsa. (Sumber: Pexels | Foto: Eda Yılmaz)
Sejarah 10 Jun 2026, 12:21

Jelajah Candi-candi di Bandung, Jejak Peradaban Kuno yang yang Hampir Terlupakan

Jejak peninggalan Hindu kuno di Bandung masih bertahan, tetapi kondisi situsnya memerlukan perhatian serius.

Situs Candi Bojongemas di Solokanjeruk Kabupaten Bandung memprihatinkan dan tak terawat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 11:29

Toponimi Lembang (Bagian 1)

Lembang berasal dari bahasa Sunda yaitu “Ngalembang” yang berarti air yang tergenang.

Buku Toponimi Lembang. (Foto: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 10:18

Gedung Juang 45: Transformasi Bangunan Kolonial Menjadi Museum Berbasis Digital

Revitalisasi Gedung Juang 45 Bekasi dari bangunan cagar budaya yang sempat terbengkalai menjadi museum modern berbasis teknologi digital.

Gedung Juang 45 Kota Bekasi (Sumber: bekasikab.go.id | Foto: Situs Pemerintah)
Beranda 10 Jun 2026, 10:12

Di Tengah Janji Energi Bersih, Warga Lereng Gunung Cemas Kehilangan Air, Lahan, dan Masa Depan

Di balik janji energi bersih dari proyek geotermal, warga di sejumlah lereng gunung di Jawa Barat menyuarakan kekhawatiran atas ancaman terhadap sumber air, lahan pertanian, dan ma

Dani Setiawan, petani sayur di kaki Gunung Gede Pangrango, menyuarakan kekhawatirannya terhadap proyek geotermal yang dinilai dapat mengancam sumber air, lahan pertanian, dan ruang hidup warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 09:17

Mengenal Peuyeum sebagai Makanan Tradisional Khas Jawa Barat

Peuyeum sebagai makanan tradisional khas Jawa Barat

Peuyeum Bandung. (Foto: Sofi Putri)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 08:38

Taat Rambu Lalu Lintas adalah Hal Sepele tapi Menyelamatkan Nafas Kehidupan

Satu detik yang menurut kita sepele bisa saja jadi harapan kehidupan bagi orang lain.

Salah satu titik yang sering mengalami kemacetan parah di Kota Bandung, persimpangan lampu merah di Jalan Djunjunan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 20:22

Pasang Surut Era Trem di Batavia

Transportasi trem di Batavia yang kini sudah tidak ada di Indonesia.

Tram Gondangdia di Batavia. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 09 Jun 2026, 16:31

Wisata Candi Borobudur: Panduan Lengkap Tiket, Sunrise, dan Sunset Experience

Panduan lengkap wisata Candi Borobudur 2026, mulai dari harga tiket, kuota naik candi, aturan penggunaan upanat, hingga waktu terbaik untuk berkunjung.

Candi Borobudur. (Sumber: Pemprov Jateng)
Ayo Biz 09 Jun 2026, 16:27

Kisah para Juara 1 BRIncubator, Konsisten Berdayakan Pekerja Lokal

Program inkubasi bergengsi dari BRI itu setiap tahunnya mengangkat segelintir UMKM ke panggung yang lebih besar.

Koku Footwear terpilih sebagai Juara 1 BRIncubator 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Beranda 09 Jun 2026, 16:05

Bandung Raya di Ambang Krisis Sampah, TPA Sarimukti Diperkirakan Penuh Oktober 2026

TPA Sarimukti diperkirakan penuh pada Oktober 2026, memicu ancaman krisis sampah di Bandung Raya yang masih bergantung pada pembuangan akhir dan minim pengolahan dari sumbernya.

Kendaraan pengangkut sampah terparkir di Jalan Tamansari, Kota Bandung, Rabu 6 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 15:08

Sesat Logika, Tantangan dalam Berbahasa

Transformasi digital telah membuka ruang publik semakin luas, tetapi membawa dampak pada kerusakan bahasa akibat kesalahan-kesalahan penafsiran masyarakat

Ilustrasi rak buku. (Sumber: Pexels | Foto: Yazid N)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 14:21

Sedia Payung sebelum Perusahaan Melakukan Pengrumahan Sementara hingga Tutup Permanen

Secara hukum lock out merupakan hak pengusaha untuk menolak pekerja masuk dalam rangka perselisihan industrial, namun pelaksanaannya wajib mematuhi aturan hukum yang berlaku.

Ilustrasi penutupan perusahaan atau lock out. (Sumber: Meta AI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 13:28

Dari Tambang ke Kanvas: Jejak Warna Biru dari Timur

Warna biru punya sejarah panjang yang dimulai dari ketiadaan, mari kita lihat perjalanannya.

Lapis Lazuli (Sumber: WikiMedia | Foto: Hannes Grobe)