Memburu Senyum Wisatawan, Rezeki Fotografer Jalanan di Asia Afrika Kota Bandung

Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan Selasa 21 Apr 2026, 09:41 WIB
Wisatawan lokal berpose di Jalan Asia Afrika Kota Bandung dengan latar belakang gedung bersejarah, Hotel Savoy Homann. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Wisatawan lokal berpose di Jalan Asia Afrika Kota Bandung dengan latar belakang gedung bersejarah, Hotel Savoy Homann. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Wisatawan terus berdatangan di kawasan Jalan Asia Afrika hingga Alun-Alun Bandung saat sore menjelang malam. Sebagian berjalan santai menikmati bangunan tua, sebagian lain sibuk mencari sudut terbaik untuk mengabadikan momen.

Lampu-lampu kota perlahan menyala, bangunan tua tampak semakin berkarakter. Ada yang datang bersama keluarga, pasangan, hingga rombongan teman. Di tengah keramaian itu, puluhan fotografer jalanan berdiri dengan kamera di tangan, menawarkan jasa sederhana yang masih dibutuhkan banyak pelancong yaitu membantu membuat kenangan.

Mereka bukan sekadar menawarkan jasa memotret. Di tangan para fotografer itu, momen liburan para wisatawan diubah menjadi kenangan yang bisa dibawa pulang.

Jalan Asia Afrika tetap menjadi ruang abadi untuk merayakan kenangan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Jalan Asia Afrika tetap menjadi ruang abadi untuk merayakan kenangan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Salah satunya adalah Deden, pria yang lebih dikenal dengan nama Ale di kawasan Asia Afrika. Lelaki berusia sekitar 30 tahun itu sudah empat tahun mencari rezeki sebagai fotografer jalanan. Meski lahir di Indramayu, Ale mengaku sejak kecil tumbuh di Bandung dan kini menggantungkan hidup dari jalanan wisata kota.

“Kalau nama di sini mah Ale. Nama asli mah Deden. Asli kelahiran Indramayu, cuma dari kecil di Bandung,” ujarnya sambil tersenyum.

Bagi Ale, profesi ini lahir dari kecintaannya pada dunia seni. Sebelum menekuni fotografi jalanan, ia bekerja di bidang dekorasi pelaminan dan seni lukis. Menurutnya, fotografi masih menjadi bagian dari pekerjaan kreatif yang sudah lama ia geluti.

“Awalnya dari dekorasi, seni lukis, bikin background buat pelaminan. Kalau ini juga seni kan, jadi lumayan cocok. Ikut hobi sebenarnya,” katanya.

Rutinitas Ale dimulai sejak siang hingga larut malam. Pada hari biasa, ia mulai bekerja sekitar pukul 13.00 sampai pukul 23.00 WIB. Namun saat akhir pekan, ketika kawasan wisata dipenuhi pengunjung, ia sudah berada di lokasi sejak pagi dan baru pulang lewat tengah malam.

“Kalau Sabtu-Minggu paling jam delapan atau jam sembilan sudah di lapak. Pulangnya bisa jam setengah dua pagi,” ucapnya.

Di kawasan Asia Afrika, Ale mematok tarif Rp5.000 per foto. Pelanggan bebas memilih hasil mana yang ingin dibayar. Menurutnya, sistem itu membuat wisatawan lebih nyaman karena tidak dipaksa membeli semua hasil jepretan.

“Yang dipilih customer aja yang dibayar. Misalnya dia suka delapan foto, ya itu yang dibayar. Kita mah enggak maksa,” katanya.

Pendapatan pun sangat bergantung pada keramaian kota. Saat akhir pekan atau libur panjang, penghasilannya bisa menembus Rp1 juta dalam sehari. Namun ketika sepi, uang yang dibawa pulang jauh berkurang.

“Kalau hari libur bisa sampai sejuta sehari. Kalau sepi paling masuk Rp300 ribu,” ujarnya.

Ale membuktikan bahwa fotografi jalanan bukan sekadar hobi, melainkan urat nadi kehidupan keluarga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ale membuktikan bahwa fotografi jalanan bukan sekadar hobi, melainkan urat nadi kehidupan keluarga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Di balik peluang itu, persaingan pun tak sedikit. Ale menyebut jumlah fotografer jalanan di kawasan Asia Afrika mencapai sekitar 80-an orang. Meski begitu, ia menilai hubungan mereka lebih banyak diwarnai solidaritas ketimbang konflik.

“Kadang ada yang belum dapat uang atau belum laku, suka dikasihin pelanggan ke mereka. Jadi saling bantu aja sebenarnya,” katanya.

Sesekali, rebutan pelanggan memang terjadi, terutama jika rombongan wisatawan datang dalam jumlah besar. Namun masalah biasanya diselesaikan secara damai.

“Pernah ada rombongan difoto sama saya, ternyata katanya rombongan orang lain. Ya sudah, dibagi dua aja. Yang penting enggak ribut,” ujarnya.

Tantangan terbesar justru datang dari perubahan zaman. Banyak wisatawan merasa kamera ponsel sudah cukup bagus sehingga jasa fotografer dianggap tak lagi perlu. Ale mengaku tak jarang diremehkan.

“Kadang ada yang bilang pakai iPhone aja cukup. Saya bilang, kalau hasilnya sama dengan kamera saya, keliling Bandung saya gratisin. Tapi kalau beda, mohon maaf Bapak bayar,” katanya sambil tertawa.

Meski begitu, masih banyak wisatawan yang memilih jasa mereka. Salah satunya Ntep (40), pengunjung asal Cianjur yang datang bersama istri dan anaknya untuk menikmati suasana pusat Kota Bandung. Ia mengaku tertarik menggunakan jasa fotografer jalanan karena ingin mendapat hasil yang lebih baik dibanding memotret sendiri.

“Ya mungkin karena bisa membantu ya untuk foto-foto yang bagus. Terus hasilnya juga bisa langsung ditransfer ke handphone kita sendiri, jadi praktis,” ujar Ntep.

Setelah menerima hasil foto, ia mengaku puas. Menurutnya, keberadaan fotografer jalanan sangat membantu wisatawan yang ingin mengabadikan momen tanpa repot.

“Alhamdulillah hasilnya bagus juga. Dengan adanya fotografer kayak gini, ngebantu buat wisatawan yang datang ke sini,” katanya.

Terpikat keramahan lokal, Ramlan Purba dan pasangannya membawa pulang potongan sejarah Bandung melalui lensa fotografer jalanan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Terpikat keramahan lokal, Ramlan Purba dan pasangannya membawa pulang potongan sejarah Bandung melalui lensa fotografer jalanan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Hal serupa dirasakan Ramlan Purba (25), wisatawan asal Medan bersama kekasihnya yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Alun-Alun Bandung. Ia sengaja menggunakan jasa fotografer karena merasa para pekerja di kawasan itu ramah dan membuat pengunjung nyaman.

“Soalnya fotografernya ramah-ramah. Pas ditawarin juga enak cara ngomongnya, jadi saya tertarik buat foto di sini,” ujarnya.

Ramlan ingin membawa pulang kenangan dari Bandung dengan latar kawasan bersejarah yang selama ini hanya ia lihat lewat cerita dan media sosial.

“Buat foto di alun-alun, terus sama bangunan-bangunan tua yang ada sejarahnya gitu. Jadi ada kenangannya kalau pulang nanti,” katanya.

Ia juga mengaku puas dengan hasil foto yang diterimanya. Menurutnya, kehadiran fotografer jalanan justru menjadi daya tarik tersendiri di Bandung.

“Hasil fotonya bagus, memuaskan. Menurut saya ngebantu sekali buat wisatawan, karena pas liburan jadi ada yang bantu fotoin. Malah jadi hal unik juga, enggak semua kota punya suasana kayak gini,” ujarnya.

Di tengah era kamera ponsel, tripod mini, dan budaya swafoto, fotografer jalanan di Asia Afrika ternyata masih bertahan. Mereka berdiri di sudut-sudut kota, membaca arah cahaya, menawarkan jasa dengan senyum, lalu menunggu momen terbaik datang bersama langkah wisatawan.

Bagi Ale, profesi ini bukan hanya soal menekan tombol shutter. Dari setiap jepretan, ada kebutuhan rumah tangga yang harus dipenuhi.

“Alhamdulillah bisa ngehidupin keluarga. Anak istri bisa dari jalur fotografi jalanan ini. Walaupun enggak gede, tapi masih bisa buat makan dan kebutuhan lainnya,” tuturnya.

News Update

Ikon 21 Apr 2026, 18:46

Hikayat Tol Cipali, Warisan Enam Presiden yang jadi Jantung Penghubung Jawa Barat

Sejarah panjang Tol Cipali dari krisis 1998 hingga beroperasi, serta dampaknya terhadap konektivitas dan ekonomi Pulau Jawa.

Tol Cipali. (Sumber: Ayomedia)
Beranda 21 Apr 2026, 17:08

Di Hari Kartini, Dua Perempuan Ojol Ceritakan Realitas Kerasnya Pekerjaan di Jalanan

Di Hari Kartini, dua perempuan pengemudi ojol di Bandung berbagi pengalaman menghadapi risiko, stigma, dan ketidakpastian penghasilan saat bekerja di jalanan.

Bagi Enis, menjadi Kartini masa kini berarti pantang menyerah mencari nafkah di usia senja. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 21 Apr 2026, 16:12

Kartini Masa Kini yang Menggeluti Energi Angin

Wanita yang mendapat julukan ”Iron Lady” ini tumbuh dalam budaya Betawi yang kental.

Ani Dwi Octavia, Kartini masa kini yang menggeluti energi angin. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Ani Dwi Octavia)
Komunitas 21 Apr 2026, 15:51

Lewat Kearifan Lokal, Komunitas Cika-Cika Konsisten Jaga Ekosistem Sungai Selama 17 Tahun

Komunitas Cika-Cika menjaga ekosistem Sungai Cikapundung selama 17 tahun melalui edukasi dan kearifan lokal. Aksi nyata ini mengubah bantaran sungai menjadi ruang sosial ekonomi yang berkelanjutan.

Pengunjung beraktivitas di bantaran Sungai Cikapundung, Cikalapa pada Minggu 19 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 21 Apr 2026, 15:29

Langkah Kecil Merawat Bumi

Menjaga lingkungan bukan sekadar kebiasaan baik, tetapi menjadi bagian dari ibadah.

Sejumlah siswa SD Darul Hikam Bandung menanam pohon di kawasan Dago Giri, Kabupaten Bandung Barat, Kamis, 25 April 2024 (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Apr 2026, 12:32

Jejak Kiprah Radio Bandung Era Tahun 70-an

Romantisme mendengarkan radio di Bandung pada awal dekade 1970-an bukan sekadar hiburan.

Para penyiar Radio Flippies Psychedelic, salah satu radio favorit di Bandung pada awal 1970-an. (Sumber: Majalah Aktuil)
Ayo Netizen 21 Apr 2026, 10:21

Mewujudkan Bandung Kota Vokasional

Bandung memiliki potensi besar menjadi kota vokasional, terutama berbasis industri kreatif, teknologi, dan jasa.

Ilustrasi sekolah kejuruan SMKN 4 Bandung. (Sumber: Laman SMKN 4 Bandung)
Beranda 21 Apr 2026, 09:41

Memburu Senyum Wisatawan, Rezeki Fotografer Jalanan di Asia Afrika Kota Bandung

Kisah inspiratif para fotografer jalanan di Asia Afrika Bandung yang tetap eksis di era ponsel, mengubah momen liburan wisatawan menjadi kenangan berharga demi mengais rezeki.

Wisatawan lokal berpose di Jalan Asia Afrika Kota Bandung dengan latar belakang gedung bersejarah, Hotel Savoy Homann. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 21 Apr 2026, 08:58

Tangkuban Parahu dari Sudut yang Tak Biasa

Kisah perjalanan empat orang ke Upas Hill yang tidak hanya soal puncak, tapi juga cara baru melihat Tangkuban Perahu.

Empat orang di perjalanan menuju puncak Upas Hill, sebelum semua sudut pandang berubah di atas ketinggian 2084 Mdpl. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Pernando Aigro S.)
Ayo Netizen 21 Apr 2026, 07:55

Rahasia Dapur Putri Jepara: Menghidupkan Kembali 209 Resep Autentik R.A. Kartini

Warisan kuliner ini kini terdokumentasi secara megah dalam buku Kisah dan Kumpulan Resep Putri Jepara: Rahasia Kuliner RA Kartini, RA Kardinah, RA Roekmini.

Sampul depan buku Kisah dan Kumpulan Resep Putri Jepara: Rahasia Kuliner RA Kartini, RA Kardinah, RA Roekmini. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Bandung 20 Apr 2026, 21:13

Dari Kantoran ke Roastery, Cerita Good Things Membangun “Rasa” dan Relasi Lewat Kopi

Good Things dimulai dari langkah sederhana sang founder, Alvira Kanusa Putra, yang memilih resign dari pekerja kantoran dan gagasan sederhana yang berkaitan dengan ketertarikannya dengan kopi.

Good Things dimulai dari langkah sederhana sang founder, Alvira Kanusa Putra, yang memilih resign dari pekerja kantoran dan gagasan sederhana yang berkaitan dengan ketertarikannya dengan kopi. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Wisata & Kuliner 20 Apr 2026, 20:28

Wisata Gunung Singah, Gunung Api Purba yang Cocok untuk Pendaki Pemula

Panduan pendakian Gunung Singah Bandung, termasuk jalur pendakian, estimasi waktu, kondisi trek, dan pemandangan luas Cekungan Bandung dari puncaknya.

Pemandangan dari puncak Gunung Singah. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 20 Apr 2026, 20:22

Meningkatkan Kerjasama Ketenagakerjaan dengan Jepang

Salah satu isu penting yang perlu terus ditekankan kepada pemerintah Jepang adalah masalah ketenagakerjaan

Keberangkatan pekerja dari Bandung untuk magang dan bekerja di Jepang (Sumber: lpksekaimustika.com)
Seni Budaya 20 Apr 2026, 14:27

Ketakutan dalam Kehidupan Baduy Luar: Modernisasi yang Diterima Diam-Diam dan Adat yang Tetap Mengawasi

Di Baduy Luar, barang modern seperti sabun hingga panel surya mulai digunakan, namun tetap disembunyikan karena aturan adat yang kuat.

Rumah dengan panel surya, bukti Baduy luar menerima modernisasi dengan cara sembunyi-sembunyi dari ketua adat.
Ayo Jelajah 20 Apr 2026, 13:39

Di Tanah Baduy, Kesetaraan Tak Perlu Didebatkan

Di tanah Baduy, kesetaraan laki-laki dan perempuan tak diperdebatkan, melainkan dijalani dalam keseharian yang sederhana dan harmonis.

Di tanah Baduy, kesetaraan laki-laki dan perempuan tak diperdebatkan, melainkan dijalani dalam keseharian yang sederhana dan harmonis. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Dian Naren Prastiti)
Ayo Netizen 20 Apr 2026, 13:10

Dari Lari ke Meditasi: Lari sebagai Praktik Budaya Populer dalam Transformasi Ruang Kota Bandung

Tren lari selalu menjadi solusi untuk mencari ketenangan dalam setiap indiividu.

Komunitas dan aktivitas lari yang semakin marak di Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Wisata & Kuliner 20 Apr 2026, 11:45

Wisata Geopark Ciletuh Sukabumi, Panduan Jelajah dari Puncak hingga Pantai

Jelajahi Geopark Ciletuh dari Puncak Darma hingga pesisir Samudra Hindia dengan panduan akses, tiket, dan spot wisata terbaik.

Geopark Ciletuh Sukabumi. (Sumber: anri.go.id)
Ayo Netizen 20 Apr 2026, 10:28

Kartini di Jalan Kota: Mengapa Transportasi Inklusif Masih Jadi PR?

Hari Kartini mengingatkan: emansipasi belum selesai jika perempuan masih merasa tidak aman dalam mobilitas.

Potret Raden Ajeng Kartini, pelopor emansipasi perempuan Indonesia yang memperjuangkan pendidikan, kesetaraan, dan kebebasan berpikir bagi perempuan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Ayo Netizen 20 Apr 2026, 09:57

Hari Buku Sedunia dan Angka 59: Ketika Bandung Belum Benar-Benar Membaca

Peringatan Hari Buku Sedunia dan realitas minat baca di Bandung yang masih cenderung rendah berdasarkan data BPS.

Ilustrasi Hari Buku Sedunia yang menjadi pengingat bahwa buku bukan hanya untuk dirayakan, tetapi juga untuk dibaca dalam keseharian. (Sumber: Freepik | Foto: Black Foundry)
Beranda 20 Apr 2026, 09:14

Curhat Konsumen Pertamax Turbo hingga Dexlite di Bandung, Pakar Ingatkan Adanya Risiko Kelangkaan

Harga BBM non-subsidi naik drastis! Konsumen di Bandung mengeluh terbebani, sementara pakar ekonomi memperingatkan risiko kelangkaan BBM subsidi akibat migrasi konsumsi masyarakat.

Warga mengeluhkan kenaikan harga BBM non-subsidi yang dianggap mencekik dan berharap pemerintah lebih bijak dalam menetapkan regulasi harga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)