Memburu Senyum Wisatawan, Rezeki Fotografer Jalanan di Asia Afrika Kota Bandung

5 menit baca
Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan
Wisatawan lokal berpose di Jalan Asia Afrika Kota Bandung dengan latar belakang gedung bersejarah, Hotel Savoy Homann. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Wisatawan lokal berpose di Jalan Asia Afrika Kota Bandung dengan latar belakang gedung bersejarah, Hotel Savoy Homann. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Wisatawan terus berdatangan di kawasan Jalan Asia Afrika hingga Alun-Alun Bandung saat sore menjelang malam. Sebagian berjalan santai menikmati bangunan tua, sebagian lain sibuk mencari sudut terbaik untuk mengabadikan momen.

Lampu-lampu kota perlahan menyala, bangunan tua tampak semakin berkarakter. Ada yang datang bersama keluarga, pasangan, hingga rombongan teman. Di tengah keramaian itu, puluhan fotografer jalanan berdiri dengan kamera di tangan, menawarkan jasa sederhana yang masih dibutuhkan banyak pelancong yaitu membantu membuat kenangan.

Mereka bukan sekadar menawarkan jasa memotret. Di tangan para fotografer itu, momen liburan para wisatawan diubah menjadi kenangan yang bisa dibawa pulang.

Jalan Asia Afrika tetap menjadi ruang abadi untuk merayakan kenangan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Jalan Asia Afrika tetap menjadi ruang abadi untuk merayakan kenangan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Salah satunya adalah Deden, pria yang lebih dikenal dengan nama Ale di kawasan Asia Afrika. Lelaki berusia sekitar 30 tahun itu sudah empat tahun mencari rezeki sebagai fotografer jalanan. Meski lahir di Indramayu, Ale mengaku sejak kecil tumbuh di Bandung dan kini menggantungkan hidup dari jalanan wisata kota.

“Kalau nama di sini mah Ale. Nama asli mah Deden. Asli kelahiran Indramayu, cuma dari kecil di Bandung,” ujarnya sambil tersenyum.

Bagi Ale, profesi ini lahir dari kecintaannya pada dunia seni. Sebelum menekuni fotografi jalanan, ia bekerja di bidang dekorasi pelaminan dan seni lukis. Menurutnya, fotografi masih menjadi bagian dari pekerjaan kreatif yang sudah lama ia geluti.

“Awalnya dari dekorasi, seni lukis, bikin background buat pelaminan. Kalau ini juga seni kan, jadi lumayan cocok. Ikut hobi sebenarnya,” katanya.

Rutinitas Ale dimulai sejak siang hingga larut malam. Pada hari biasa, ia mulai bekerja sekitar pukul 13.00 sampai pukul 23.00 WIB. Namun saat akhir pekan, ketika kawasan wisata dipenuhi pengunjung, ia sudah berada di lokasi sejak pagi dan baru pulang lewat tengah malam.

“Kalau Sabtu-Minggu paling jam delapan atau jam sembilan sudah di lapak. Pulangnya bisa jam setengah dua pagi,” ucapnya.

Di kawasan Asia Afrika, Ale mematok tarif Rp5.000 per foto. Pelanggan bebas memilih hasil mana yang ingin dibayar. Menurutnya, sistem itu membuat wisatawan lebih nyaman karena tidak dipaksa membeli semua hasil jepretan.

“Yang dipilih customer aja yang dibayar. Misalnya dia suka delapan foto, ya itu yang dibayar. Kita mah enggak maksa,” katanya.

Pendapatan pun sangat bergantung pada keramaian kota. Saat akhir pekan atau libur panjang, penghasilannya bisa menembus Rp1 juta dalam sehari. Namun ketika sepi, uang yang dibawa pulang jauh berkurang.

“Kalau hari libur bisa sampai sejuta sehari. Kalau sepi paling masuk Rp300 ribu,” ujarnya.

Ale membuktikan bahwa fotografi jalanan bukan sekadar hobi, melainkan urat nadi kehidupan keluarga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ale membuktikan bahwa fotografi jalanan bukan sekadar hobi, melainkan urat nadi kehidupan keluarga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Di balik peluang itu, persaingan pun tak sedikit. Ale menyebut jumlah fotografer jalanan di kawasan Asia Afrika mencapai sekitar 80-an orang. Meski begitu, ia menilai hubungan mereka lebih banyak diwarnai solidaritas ketimbang konflik.

“Kadang ada yang belum dapat uang atau belum laku, suka dikasihin pelanggan ke mereka. Jadi saling bantu aja sebenarnya,” katanya.

Sesekali, rebutan pelanggan memang terjadi, terutama jika rombongan wisatawan datang dalam jumlah besar. Namun masalah biasanya diselesaikan secara damai.

“Pernah ada rombongan difoto sama saya, ternyata katanya rombongan orang lain. Ya sudah, dibagi dua aja. Yang penting enggak ribut,” ujarnya.

Tantangan terbesar justru datang dari perubahan zaman. Banyak wisatawan merasa kamera ponsel sudah cukup bagus sehingga jasa fotografer dianggap tak lagi perlu. Ale mengaku tak jarang diremehkan.

“Kadang ada yang bilang pakai iPhone aja cukup. Saya bilang, kalau hasilnya sama dengan kamera saya, keliling Bandung saya gratisin. Tapi kalau beda, mohon maaf Bapak bayar,” katanya sambil tertawa.

Meski begitu, masih banyak wisatawan yang memilih jasa mereka. Salah satunya Ntep (40), pengunjung asal Cianjur yang datang bersama istri dan anaknya untuk menikmati suasana pusat Kota Bandung. Ia mengaku tertarik menggunakan jasa fotografer jalanan karena ingin mendapat hasil yang lebih baik dibanding memotret sendiri.

“Ya mungkin karena bisa membantu ya untuk foto-foto yang bagus. Terus hasilnya juga bisa langsung ditransfer ke handphone kita sendiri, jadi praktis,” ujar Ntep.

Setelah menerima hasil foto, ia mengaku puas. Menurutnya, keberadaan fotografer jalanan sangat membantu wisatawan yang ingin mengabadikan momen tanpa repot.

“Alhamdulillah hasilnya bagus juga. Dengan adanya fotografer kayak gini, ngebantu buat wisatawan yang datang ke sini,” katanya.

Terpikat keramahan lokal, Ramlan Purba dan pasangannya membawa pulang potongan sejarah Bandung melalui lensa fotografer jalanan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Terpikat keramahan lokal, Ramlan Purba dan pasangannya membawa pulang potongan sejarah Bandung melalui lensa fotografer jalanan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Hal serupa dirasakan Ramlan Purba (25), wisatawan asal Medan bersama kekasihnya yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Alun-Alun Bandung. Ia sengaja menggunakan jasa fotografer karena merasa para pekerja di kawasan itu ramah dan membuat pengunjung nyaman.

“Soalnya fotografernya ramah-ramah. Pas ditawarin juga enak cara ngomongnya, jadi saya tertarik buat foto di sini,” ujarnya.

Ramlan ingin membawa pulang kenangan dari Bandung dengan latar kawasan bersejarah yang selama ini hanya ia lihat lewat cerita dan media sosial.

“Buat foto di alun-alun, terus sama bangunan-bangunan tua yang ada sejarahnya gitu. Jadi ada kenangannya kalau pulang nanti,” katanya.

Ia juga mengaku puas dengan hasil foto yang diterimanya. Menurutnya, kehadiran fotografer jalanan justru menjadi daya tarik tersendiri di Bandung.

“Hasil fotonya bagus, memuaskan. Menurut saya ngebantu sekali buat wisatawan, karena pas liburan jadi ada yang bantu fotoin. Malah jadi hal unik juga, enggak semua kota punya suasana kayak gini,” ujarnya.

Di tengah era kamera ponsel, tripod mini, dan budaya swafoto, fotografer jalanan di Asia Afrika ternyata masih bertahan. Mereka berdiri di sudut-sudut kota, membaca arah cahaya, menawarkan jasa dengan senyum, lalu menunggu momen terbaik datang bersama langkah wisatawan.

Bagi Ale, profesi ini bukan hanya soal menekan tombol shutter. Dari setiap jepretan, ada kebutuhan rumah tangga yang harus dipenuhi.

“Alhamdulillah bisa ngehidupin keluarga. Anak istri bisa dari jalur fotografi jalanan ini. Walaupun enggak gede, tapi masih bisa buat makan dan kebutuhan lainnya,” tuturnya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 25 Jul 2026, 21:02

Stamp Hunting di Kota Kembang: Fenomena Demam “Museum Passport” dan Candu Baru Kaum Metropolis Bandung

Siapa sangka selembar kertas dan ketukan tinta bisa memicu adrenalin sedahsyat ini? Di Jakarta, demam stamp hunting sudah lebih dulu meledak. Sekarang fenomenanya menular ke Kota Bandung.

Para Stamp Hunter Peserta Komunitas Cerita Bunda Lintas Generasi Berfoto di Museum KAA (Sumber: Pribadi | Foto: Pribadi)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 19:06

Ketika Pelajar Diminta Pulang Cepat, Apakah Bandung Menjadi Lebih Aman?

Jika seorang pelajar dianggap aman hanya karena berada di rumah setelah pukul 21.00, lalu bagaimana dengan keamanan kota setelah jam itu?

Warga berlalu lalang di kawasan Asia Afrika, Kota Bandung, pada malam hari. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ditya Rafi Muttaqin/Magang)
Linimasa 24 Jul 2026, 18:41

Menengok Produksi Kerajinan Ukir Arjasari

Seni ukir kayu menjadi cara warga Kampung Bunisakti, Arjasari, memperkenalkan daerahnya. Beragam ukiran bernilai seni diproduksi dengan teknik khas.

Menengok Produksi Kerajinan Ukir Arjasari. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 24 Jul 2026, 18:33

5 'Warung' Sarapan di Pilihan Bandung, dari Kedai Legendaris hingga Hidden Gem

Jelajahi 5 kedai sarapan favorit di Bandung dengan pilihan menu rumahan, panorama asri, hingga hidden gem yang cocok untuk memulai hari.

Sajian di Sepiring Pagi.
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 17:15

Di Balik Kampanye Digital Jakarta International Marathon 2025: Analisis Merek Air Mineral Nasional

Membedah hal-hal yang tidak terlihat di balik kampanye digital.

Ilustrasi. (Sumber: AI)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 16:18

Pesta Kesenian Bali sebagai Bukti Apresiasi Seni yang Perlu Ditularkan ke Provinsi Lain

Ketika suatu festival seni dapat memberi inspirasi bagi daerah lain.

Pertunjukan Pesta Kesenian Bali tahun 2026 (Sumber: Youtube: Disbud Prov. Bali)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 15:27

Mega Korupsi Era 90-an Skandal Bapindo dan Eddy Tansil Mengguncang Indonesia

Pengusaha bernama lengkap Edy Tansil (Tan Tjoa Ing) dituntut hukuman penjara seumur hidup serta diwajibkan membayar uang pengganti sebesar Rp800 miliar.

Surat kabar Bandung Pos edisi akhir Juli 1994 yang menampilkan berita utama mengenai kasus mega korupsi Eddy Tansil. (Sumber: Foto dan koleksi surat kabar Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 15:10

Modernisasi Berkebaya yang Berbudaya

Tidak dapat ditawar lagi dengan berkebaya. Kebaya sudah menjadi identitas yang sangat penting bagi Indonesia.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 14:17

Telusur Arca Derenten: Ikonografi Durga-Agastya, Omon-Omon dari Kebun Binatang ke Museum Kota

Pengejawantahan arkeolog sebagai 'detektif masa lalu': mengkaji ikonografi Arca batu, menelusuri jejak hilangnya, hingga mengurai urgensi lembaga Museum Kota

Pintu masuk kebun binatang Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 13:40

Pentingnya Patuh Minum Obat Hipertensi: Penyuluhan Mahasiswa PKPA UMB di Puskesmas Cibiru

Kegiatan kolaborasi yang dilakukan oleh mahasiswa dan praktisi fasilitas pelayanan kesehatan di puskesmas dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup pasien di puskesmas cibiru.

Mahasiswa PKPA Universitas Muhammadiyah Bandung sedang melaksanakan Penyuluhan di Puskesmas Cibiru. Kamis (23/6/2026). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Indri Wahyuni A)
Wisata & Kuliner 24 Jul 2026, 13:22

Lontong Goreng Gasibu, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Gedung Sate Bandung

Cari sarapan enak di Bandung? Lontong Goreng Gasibu menawarkan lontong goreng hangat dan tahu Sumedang dengan harga mulai Rp4.000 di kawasan Lapangan Gasibu.

Lontong Goreng Gasibu. (Sumber: Instagram @hayulahgaskeun)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 10:22

Sate, Sang Mahakarya Kuliner Nusantara: Dari Warisan Budaya hingga Diplomasi Rasa Dunia

Indonesia boleh dibilang merupakan "Negeri Seribu Sate".

Pedagang sate. (Sumber: Pexels | Foto: nourrie zein)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 07:55

Kesantunan Berdigital bagi Anak

Kecerdasan buatan tidak boleh membatasi proses tumbuh kembang anak.

Orang tua dan anaknya. (Sumber: Pexels/Lgh_9)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 19:42

Gunung Alit Telah Lahir di Kawah Ratu Gunung Tangkuban Parahu

Gunung Alit ini lahir di sisi utara Kawah Ratu Gunung Tangkubanparahu.

Gunung Alit lahir di dalam Kawah Ratu pascaletusan Juli–Agustus 2019. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 18:02

Serunya Belajar di Alam Bebas

Pendidikan terbaik bukan selalu tentang seberapa cepat anak mampu membaca, menulis, berhitung. Melainkan ketika anak tumbuh menjadi manusia yang rasa ingin tahunya tetap hidup, hatinya tetap lembut

Asyiknya Kakang naik Bebek Gowes di Pondok Tandang Bakti Cigendel, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Ahad (31/5/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 17:00

Hari Anak Nasional: Kenalkan Proses Kreatif Sejak Dini Lewat Program Little Creator

Kreativitas di segala bidang kehidupan adalah kunci masa depan anak.

Program Kreator Cilik yang diselenggarakan oleh Omochatoys menekankan proses kreatif sejak usia dini (Foto: dok Omochatoys)
Wisata & Kuliner 23 Jul 2026, 16:22

Wahana Pilihan TMII, dari Kereta Gantung hingga Drone Show Gratis

Rencanakan kunjungan ke TMII dengan panduan wahana terbaik, lengkap dengan tiket, museum pilihan, Jagat Satwa Nusantara, dan tips berkunjung hemat.

Museum Indonesia TMII. (Sumber: TMII)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 16:21

Hari Anak Nasional: Sudahkah Anak-Anak Indonesia Merdeka?

Apakah anak-anak layak dikatakan sudah merdeka? jika rasa aman, nyaman dan hak-hak dasar dalam hidup mereka belum sepenuhnya bisa ditunaikan.

Seorang anak sekolah di Aceh yang menyebrangi jembatan tali menuju sekolah. (Sumber: Generated AI (Terinspirasi dari Video Asli di Aceh))
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 15:11

Hari Anak Nasional Menjadi Momen Tumbuhnya Generasi Kuat dan Cerdas

Seharusnya peringatan Hari Anak Nasional dijadikan momentum penting untuk membangun anak-anak yang kuat dan cerdas.

Butuh kerjasama dan partisipasi dari berbagai pihak dalam rangka mewujudkan pendidikan terbaik bagi anak-anak negeri ini. (Sumber: Pexels/Agung Pandit Wiguna)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 14:39

Ketika Kritik Tenggelam dalam Kebisingan

Status quo tidak selalu bertahan karena kritik dibungkam, tetapi karena perhatian kita terlalu mudah dialihkan.

Sebuah pagelaran seni dog-dog di tengah sebuah aksi. (Foto: Dokumen pribadi)