Mencintai Kota seperti Kekasih: Kota Bandung, Konferensi Asia Afrika, dan Tanggung Jawab Kita

7 menit baca
MSG
Ditulis oleh MSG diterbitkan
Bangku yang terduduk di Perpustakaan Kota Bandung (Sumber: Koleksi Pribadi Penulis | Foto: Penulis)
Bangku yang terduduk di Perpustakaan Kota Bandung (Sumber: Koleksi Pribadi Penulis | Foto: Penulis)

Apakah kalian pernah mencintai kota seperti kekasih?

Pertanyaan itu dulu terasa berlebihan. Bahkan mungkin tak pernah benar-benar terlintas dalam pikiran saya. Bagaimana mungkin seseorang mencintai kota—sekumpulan jalan, gedung, lampu merah, dan kemacetan—seperti mencintai manusia?

Bagi saya waktu itu, kota hanyalah alamat. Tempat pulang. Tempat macet.Tempat mengeluh. Tidak lebih. Perasaan saya terhadap kota barangkali serupa dengan kegamangan yang pernah ditulis penyair Atasi Amin dalam puisinya Kota. Namun yang paling menempel justru bagian akhirnya:

semua telah berubah
kecuali nasehat bapak
kepada anak-anaknya

: jangan ke kota
(2001)

Empat baris sederhana itu seperti tamparan kecil. Bukan tentang bunga-bunga atau romantika kota, melainkan peringatan.

Jangan ke kota.

Seolah kota bukan lagi ruang harapan, melainkan ruang kehilangan. Tempat di mana orang-orang datang dengan mimpi, lalu pulang dengan lelah. Tempat wajah-wajah diganti beton. Tempat kenangan kalah oleh pembangunan. Puisi itu terasa dekat sekali dengan pengalaman saya. Kota bukan rumah, melainkan persinggahan. Bukan pelukan, melainkan antrean. Bukan tempat bertumbuh, melainkan tempat bertahan hidup dan membiarkan hidup.

Datang pagi, pulang malam. Kerja, lelah, tidur. Besok diulang lagi.

Tak ada ikatan batin.

Tak ada rasa memiliki.

Tak ada cinta.

Maka wajar jika dulu saya tak pernah membayangkan bahwa seseorang bisa menyanyikan lagu tentang kota dengan suara bergetar, atau menuliskan puisi tentang Bandung seperti menulis surat cinta.

Sampai suatu hari, semua itu berubah ketika saya dan para relawan Peringatan Konferensi Asia Afrika ke-60 tahun, harus berkumpul di ruang auditorium Museum Sribaduga.

Seharusnya kami berada di Gedung Merdeka atau Museum Konferensi Asia Afrika—rumah sejarah itu, tempat bangsa-bangsa pernah duduk setara dan menulis takdir dunia. Namun waktu itu kedua gedung tersebut sedang direnovasi sekaligus masuk kawasan ring satu pengamanan karena persiapan acara kenegaraan. Sejumlah kegiatan relawan dan agenda pendukung pun dipindahkan sementara ke beberapa titik di kota, salah satunya ke Museum Sribaduga.

Awalnya saya merasa janggal. Apa hubungannya museum sejarah Jawa Barat dengan Asia-Afrika?

Belakangan saya paham: yang berpindah hanya tempatnya. Nilainya tetap sama.

Di situlah saya pertama kali mendengar Adew Habtsa—seorang pegiat literasi dan musik balada dari Museum Konferensi Asia Afrika—sosok yang selama ini menyebarkan Dasasila Bandung—semangat Bandung lewat buku, diskusi, puisi, musik, dan pertemuan-pertemuan kecil. Ia berdiri sederhana dengan gitar di tangan, suaranya gemetar—seperti orang membacakan surat wasiat untuk sesuatu yang sangat ia cintai.

Meski ruangnya berbeda, semangat yang ia bawa tetap sama. Saat itu saya mulai mengerti: yang membuat museum hidup bukan gedungnya, melainkan orang-orang yang menjaganya.

Antarinstansi mungkin terasa kaku, birokrasi terasa berlapis. Namun di tangan komunitas, semuanya menjadi cair. Museum-museum saling menopang, relawan saling membantu, dan sejarah berpindah dari ruang pajangan ke ruang-ruang pertemuan.

Ada Sahabat Museum KAA yang setia menghidupkan Gedung Merdeka.

Ada Balad Sribaduga yang merawat kegiatan belajar di Museum Sribaduga.

Ada Komunitas Aleut yang berjalan kaki menelusuri sejarah kota.

Ada Bandung Heritage yang menjaga ingatan bangunan-bangunan lama.

Mereka mungkin tak selalu terlihat, tapi merekalah yang membuat kota dan museum tetap bernapas—membuat sejarah tidak menjadi peti mati, melainkan terus lahir, hidup, dan menyihir.

Budayawan Bandung, Hawe Setiawan, pernah berseloroh bahwa para pegiat museum itu seperti “hantu-hantu kecil” yang bergentayangan di lorong-lorong gedung bersejarah. Bukan hantu yang menakuti, melainkan hantu yang setia tinggal: duduk di sudut ruangan, membaca buku, memandu pengunjung, menggelar diskusi kecil—menjaga ingatan agar tidak mati.


Saya membayangkannya sebagai jelmaan arwah sejarah—bisikan-bisikan halus yang menggerakkan orang lain untuk datang, duduk, mendengar, melanjutkan cita-cita sejarah yang belum selesai, sekaligus memberi ruang bagi setiap pengunjung menemukan tujuannya sendiri.

Dan di tengah jejaring kecil itulah saya duduk, mendengar ia bernyanyi tentang Bandung.

Ia tidak menyanyikan lagu pop. Ia menyanyikan sejarah.

Tentang Bung Karno.

Tentang solidaritas Asia-Afrika.

Tentang kesetaraan bangsa-bangsa berwarna.

Tentang niat baik, gotong royong, dan hidup berdampingan secara damai.

Tentang Bandung sebagai pusat harapan dunia.

Suara itu memenuhi ruangan kecil, tapi rasanya seperti menggema jauh melampaui dinding-dinding museum.

Saya duduk terpaku. Sejak kapan ada orang mencintai kota sedalam itu? Bagaimana bisa?

Dan sejak hari itu, saya pelan-pelan belajar: barangkali memang ada. Dan barangkali saya bisa menjadi salah satunya.

Bandung yang Pernah Menjadi Pusat Dunia

Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung. (Sumber: Museum Konferensi Asia Afrika)
Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung. (Sumber: Museum Konferensi Asia Afrika)

Kita sering lupa: Bandung bukan kota pinggiran sejarah.

Pada 18–24 April 1955, di Gedung Merdeka, 29 negara Asia dan Afrika berkumpul dalam Konferensi Asia Afrika (KAA). Negara-negara yang baru merdeka, atau masih berjuang keluar dari kolonialisme, duduk setara—tanpa Barat, tanpa blok Timur.

Indonesia, India, Mesir, Gold Coast, Burma, Tiongkok, Ethiopia, hingga Arab Saudi.

Lebih dari setengah populasi dunia diwakili di kota ini.

Hasilnya adalah Dasasila Bandung: sepuluh prinsip tentang penghormatan kedaulatan, anti-kolonialisme, non-intervensi, dan hidup berdampingan secara damai.

Dari Bandung lahir cikal bakal Gerakan Non-Blok, yang kelak mengubah peta politik dunia ketiga.

Bandung—kota pegunungan yang bahkan tak punya pelabuhan—menjadi panggung diplomasi global.

Jawaharlal Nehru menyebutnya: the capital of Asia and Africa.

Bung Karno menyebutnya: pertemuan bangsa-bangsa yang “tidak mau lagi diinjak-injak”.

Dan Roeslan Abdulgani mencatatnya sebagai momen ketika bangsa-bangsa tertindas akhirnya “berbicara dengan kepala tegak.” Dalam bukunya The Bandung Connection

Tapi anehnya, generasi hari ini lebih hafal diskon gossip-gosip perselingkuhan pejabat kota ketimbang Dasasila Bandung.

Sebelum Bandung: Solidaritas Itu Sudah Dirintis

Kalau ditarik lebih jauh, semangat KAA bukan muncul tiba-tiba.

Sejak 1920-an, para intelektual Asia-Afrika sudah bertemu di Eropa—di Bierville (1926) dan Brussels (1927)—melalui Liga Menentang Imperialisme dan Penindasan Kolonial.

Di sana hadir Mohammad Hatta, Nehru, tokoh-tokoh Mesir, Senegal, hingga Tiongkok.

Mereka membicarakan satu hal sederhana: kemerdekaan dan martabat manusia.

Catatan sejarah itu menunjukkan satu paradoks: di saat Eropa melahirkan imperialisme, justru di sana pula lahir gagasan koperasi dan solidaritas ekonomi rakyat—model perlawanan terhadap dominasi modal besar.

Koperasi Rochdale di Inggris menjadi simbol “menolong diri sendiri bersama-sama”—gagasan yang kelak sangat memengaruhi Hatta dan ekonomi kerakyatan Indonesia.

Artinya, sejak awal, perjuangan Asia-Afrika bukan cuma politik. Ia juga sosial, ekonomi, dan kebudayaan.

Bandung 1955 hanyalah puncaknya.

Dan kita mewarisi semua itu.

Bukan sekadar gedungnya. Tapi semangatnya. Bukan sekadar abunya tapi apinya.

Museum Kota yang Menjadi Rumah

Saya baru benar-benar memahami makna itu ketika masuk ke Museum Konferensi Asia Afrika. Di sana saya bertemu Asian African Reading Club (AARC). Sederhana sekali kegiatannya: setiap Rabu sore, duduk melingkar, membaca buku sejarah, lalu berdiskusi. Metodenya disebut “tadarusan buku”. Tidak ada tiket. Tidak ada syarat. Tidak ada target. Hanya membaca bersama.

Komunitas ini berdiri sejak 2009, lahir dari keyakinan bahwa museum bukan gudang benda mati, melainkan ruang hidup warga—tempat publik belajar sejarah, literasi, dan perdamaian. Buku-buku yang dibaca pun tidak main-main, pemikiran: Soekarno, Hatta, Ali Sastroamidjojo, hingga kajian pemikiran dari Afrika dan Asia. Saya melihat sesuatu yang jarang hari ini: orang-orang datang bukan untuk selfie, tapi untuk berpikir. Mereka datang untuk mendengarkan orang lain membaca buku, sesuatu yang sulit dewasa ini

Dan saya sadar: kadang revolusi paling sunyi dimulai dari lingkaran kecil; membaca.

Seni, Musik, dan Perlawanan Kultural

Wanggi Hoed, Adew Habtsa, Abah Omtris sedang melakukan pertunjukan dia acara Konser Trotoar dalam rangka peringatan Konferensi Asia Afrika 2023 yang digagas oleh Komunitas Seni dan Musik Balada Manjing Manjang (Sumber: Arsip Pribadi Penulis | Foto: Penulis)
Wanggi Hoed, Adew Habtsa, Abah Omtris sedang melakukan pertunjukan dia acara Konser Trotoar dalam rangka peringatan Konferensi Asia Afrika 2023 yang digagas oleh Komunitas Seni dan Musik Balada Manjing Manjang (Sumber: Arsip Pribadi Penulis | Foto: Penulis)

Bukan cuma buku. Di sudut lain Bandung, saya mengenal Manjing Manjang—komunitas seni dan musik balada kota bandung. Mereka percaya musik bukan sekadar hiburan, tapi alat menyampaikan kegelisahan sosial. Pertunjukan puisi, lagu, diskusi, konser kecil di kedai kopi. Tak glamor. Tapi konsisten.

Nama “manjing manjang”—cukup, tapi berkelanjutan. Diambil dari bahasa sunda. Sedikit, tapi terus-menerus. Filosofi yang terasa sangat Bandung.

Musik di sini bukan komoditas. Ia menjadi medium empati dan pendidikan publik. Saya mulai melihat pola:

buku di museum, musik di kedai, diskusi di komunitas—semuanya adalah cara warga menjaga ingatan kotanya.

Bandung Hari Ini: Seperti mendayung diantara dua karang

Namun jujur saja: Bandung hari ini jauh dari romantik.

Macet. Sampah. Ruang publik menyusut. Literasi rendah. Museum sepi. Kesenjangan, Dewan Kebudayaan yang telah mengundurkan diri.

Kita punya sejarah besar, tapi kebiasaan kecil kita rapuh. Kita bangga menyebut “Bandung Lautan Api”, tapi tak berani memadamkan api egoisme sehari-hari. Dulu Bandung menjadi ruang dialog antarbangsa. Sekarang kita bahkan sulit berdialog dengan tetangga.Inilah paradoks kita: kota dengan warisan perdamaian dunia, tapi warganya mudah saling bising. Karena ketidakpiawaan pemerintah kota dalam menampung aspirasi dan menjalankan kota dengan adil dan kejujuran.

Resolusi untuk Bandung 2026

berdiskusi dan bersantai di Taman Sejarah Kota Bandung (Sumber: Arsip Pribadi Penulis | Foto: Penulis)

Maka menjelang 2026, saya tidak membayangkan resolusi besar. Bukan flyover baru.
Bukan gedung tinggi. Bukan pula Wali Kota baru.

Saya membayangkan hal-hal kecil:

  • museum ramai oleh diskusi
  • taman dipakai baca buku
  • komunitas seni tumbuh
  • anak muda kenal sejarah kotanya
  • UMKM lokal hidup
  • warga mau gotong royong lagi
  • Seniman bisa hidup dari karyanya

Karena sejarah Bandung mengajarkan satu hal: perubahan selalu dimulai dari kebersamaan, bukan kehebatan individu.

Dari koperasi. Dari solidaritas. Dari komunitas.

Dari duduk melingkar, bukan berdiri sendiri.

Baca Juga: Sejarah Pasar Cimol Gedebage Bandung, Surga Thrifting Kota Kembang di Ujung Jalan

Sekarang saya tahu jawaban pertanyaan itu. Ya, ada yang mencintai kota seperti kekasih. Karena kota ini pernah membuat dunia percaya pada perdamaian, pada kesetaraan, pada niat baik, serta hidup berdampingan secara damai. Dan kalau generasi 1955 berani mengubah dunia dari Bandung, mari kita mulai mencintai kota ini, Bandung.

Barangkali tugas kita sederhana: membaca lebih banyak, bertemu lebih sering, bekerja bersama-sama lebih tulus. Supaya ketika orang menyebut Bandung lagi, ia bukan hanya ingat wisata, tapi ingat alasan kenapa Bandung(?).

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

MSG
Tentang MSG
peaceful co-existence

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)