Mencintai Kota seperti Kekasih: Kota Bandung, Konferensi Asia Afrika, dan Tanggung Jawab Kita

MSG
Ditulis oleh MSG diterbitkan Minggu 25 Jan 2026, 18:15 WIB
Bangku yang terduduk di Perpustakaan Kota Bandung (Sumber: Koleksi Pribadi Penulis | Foto: Penulis)

Bangku yang terduduk di Perpustakaan Kota Bandung (Sumber: Koleksi Pribadi Penulis | Foto: Penulis)

Apakah kalian pernah mencintai kota seperti kekasih?

Pertanyaan itu dulu terasa berlebihan. Bahkan mungkin tak pernah benar-benar terlintas dalam pikiran saya. Bagaimana mungkin seseorang mencintai kota—sekumpulan jalan, gedung, lampu merah, dan kemacetan—seperti mencintai manusia?

Bagi saya waktu itu, kota hanyalah alamat. Tempat pulang. Tempat macet.Tempat mengeluh. Tidak lebih. Perasaan saya terhadap kota barangkali serupa dengan kegamangan yang pernah ditulis penyair Atasi Amin dalam puisinya Kota. Namun yang paling menempel justru bagian akhirnya:

semua telah berubah
kecuali nasehat bapak
kepada anak-anaknya

: jangan ke kota
(2001)

Empat baris sederhana itu seperti tamparan kecil. Bukan tentang bunga-bunga atau romantika kota, melainkan peringatan.

Jangan ke kota.

Seolah kota bukan lagi ruang harapan, melainkan ruang kehilangan. Tempat di mana orang-orang datang dengan mimpi, lalu pulang dengan lelah. Tempat wajah-wajah diganti beton. Tempat kenangan kalah oleh pembangunan. Puisi itu terasa dekat sekali dengan pengalaman saya. Kota bukan rumah, melainkan persinggahan. Bukan pelukan, melainkan antrean. Bukan tempat bertumbuh, melainkan tempat bertahan hidup dan membiarkan hidup.

Datang pagi, pulang malam. Kerja, lelah, tidur. Besok diulang lagi.

Tak ada ikatan batin.

Tak ada rasa memiliki.

Tak ada cinta.

Maka wajar jika dulu saya tak pernah membayangkan bahwa seseorang bisa menyanyikan lagu tentang kota dengan suara bergetar, atau menuliskan puisi tentang Bandung seperti menulis surat cinta.

Sampai suatu hari, semua itu berubah ketika saya dan para relawan Peringatan Konferensi Asia Afrika ke-60 tahun, harus berkumpul di ruang auditorium Museum Sribaduga.

Seharusnya kami berada di Gedung Merdeka atau Museum Konferensi Asia Afrika—rumah sejarah itu, tempat bangsa-bangsa pernah duduk setara dan menulis takdir dunia. Namun waktu itu kedua gedung tersebut sedang direnovasi sekaligus masuk kawasan ring satu pengamanan karena persiapan acara kenegaraan. Sejumlah kegiatan relawan dan agenda pendukung pun dipindahkan sementara ke beberapa titik di kota, salah satunya ke Museum Sribaduga.

Awalnya saya merasa janggal. Apa hubungannya museum sejarah Jawa Barat dengan Asia-Afrika?

Belakangan saya paham: yang berpindah hanya tempatnya. Nilainya tetap sama.

Di situlah saya pertama kali mendengar Adew Habtsa—seorang pegiat literasi dan musik balada dari Museum Konferensi Asia Afrika—sosok yang selama ini menyebarkan Dasasila Bandung—semangat Bandung lewat buku, diskusi, puisi, musik, dan pertemuan-pertemuan kecil. Ia berdiri sederhana dengan gitar di tangan, suaranya gemetar—seperti orang membacakan surat wasiat untuk sesuatu yang sangat ia cintai.

Meski ruangnya berbeda, semangat yang ia bawa tetap sama. Saat itu saya mulai mengerti: yang membuat museum hidup bukan gedungnya, melainkan orang-orang yang menjaganya.

Antarinstansi mungkin terasa kaku, birokrasi terasa berlapis. Namun di tangan komunitas, semuanya menjadi cair. Museum-museum saling menopang, relawan saling membantu, dan sejarah berpindah dari ruang pajangan ke ruang-ruang pertemuan.

Ada Sahabat Museum KAA yang setia menghidupkan Gedung Merdeka.

Ada Balad Sribaduga yang merawat kegiatan belajar di Museum Sribaduga.

Ada Komunitas Aleut yang berjalan kaki menelusuri sejarah kota.

Ada Bandung Heritage yang menjaga ingatan bangunan-bangunan lama.

Mereka mungkin tak selalu terlihat, tapi merekalah yang membuat kota dan museum tetap bernapas—membuat sejarah tidak menjadi peti mati, melainkan terus lahir, hidup, dan menyihir.

Budayawan Bandung, Hawe Setiawan, pernah berseloroh bahwa para pegiat museum itu seperti “hantu-hantu kecil” yang bergentayangan di lorong-lorong gedung bersejarah. Bukan hantu yang menakuti, melainkan hantu yang setia tinggal: duduk di sudut ruangan, membaca buku, memandu pengunjung, menggelar diskusi kecil—menjaga ingatan agar tidak mati.


Saya membayangkannya sebagai jelmaan arwah sejarah—bisikan-bisikan halus yang menggerakkan orang lain untuk datang, duduk, mendengar, melanjutkan cita-cita sejarah yang belum selesai, sekaligus memberi ruang bagi setiap pengunjung menemukan tujuannya sendiri.

Dan di tengah jejaring kecil itulah saya duduk, mendengar ia bernyanyi tentang Bandung.

Ia tidak menyanyikan lagu pop. Ia menyanyikan sejarah.

Tentang Bung Karno.

Tentang solidaritas Asia-Afrika.

Tentang kesetaraan bangsa-bangsa berwarna.

Tentang niat baik, gotong royong, dan hidup berdampingan secara damai.

Tentang Bandung sebagai pusat harapan dunia.

Suara itu memenuhi ruangan kecil, tapi rasanya seperti menggema jauh melampaui dinding-dinding museum.

Saya duduk terpaku. Sejak kapan ada orang mencintai kota sedalam itu? Bagaimana bisa?

Dan sejak hari itu, saya pelan-pelan belajar: barangkali memang ada. Dan barangkali saya bisa menjadi salah satunya.

Bandung yang Pernah Menjadi Pusat Dunia

Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung. (Sumber: Museum Konferensi Asia Afrika)
Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung. (Sumber: Museum Konferensi Asia Afrika)

Kita sering lupa: Bandung bukan kota pinggiran sejarah.

Pada 18–24 April 1955, di Gedung Merdeka, 29 negara Asia dan Afrika berkumpul dalam Konferensi Asia Afrika (KAA). Negara-negara yang baru merdeka, atau masih berjuang keluar dari kolonialisme, duduk setara—tanpa Barat, tanpa blok Timur.

Indonesia, India, Mesir, Gold Coast, Burma, Tiongkok, Ethiopia, hingga Arab Saudi.

Lebih dari setengah populasi dunia diwakili di kota ini.

Hasilnya adalah Dasasila Bandung: sepuluh prinsip tentang penghormatan kedaulatan, anti-kolonialisme, non-intervensi, dan hidup berdampingan secara damai.

Dari Bandung lahir cikal bakal Gerakan Non-Blok, yang kelak mengubah peta politik dunia ketiga.

Bandung—kota pegunungan yang bahkan tak punya pelabuhan—menjadi panggung diplomasi global.

Jawaharlal Nehru menyebutnya: the capital of Asia and Africa.

Bung Karno menyebutnya: pertemuan bangsa-bangsa yang “tidak mau lagi diinjak-injak”.

Dan Roeslan Abdulgani mencatatnya sebagai momen ketika bangsa-bangsa tertindas akhirnya “berbicara dengan kepala tegak.” Dalam bukunya The Bandung Connection

Tapi anehnya, generasi hari ini lebih hafal diskon gossip-gosip perselingkuhan pejabat kota ketimbang Dasasila Bandung.

Sebelum Bandung: Solidaritas Itu Sudah Dirintis

Kalau ditarik lebih jauh, semangat KAA bukan muncul tiba-tiba.

Sejak 1920-an, para intelektual Asia-Afrika sudah bertemu di Eropa—di Bierville (1926) dan Brussels (1927)—melalui Liga Menentang Imperialisme dan Penindasan Kolonial.

Di sana hadir Mohammad Hatta, Nehru, tokoh-tokoh Mesir, Senegal, hingga Tiongkok.

Mereka membicarakan satu hal sederhana: kemerdekaan dan martabat manusia.

Catatan sejarah itu menunjukkan satu paradoks: di saat Eropa melahirkan imperialisme, justru di sana pula lahir gagasan koperasi dan solidaritas ekonomi rakyat—model perlawanan terhadap dominasi modal besar.

Koperasi Rochdale di Inggris menjadi simbol “menolong diri sendiri bersama-sama”—gagasan yang kelak sangat memengaruhi Hatta dan ekonomi kerakyatan Indonesia.

Artinya, sejak awal, perjuangan Asia-Afrika bukan cuma politik. Ia juga sosial, ekonomi, dan kebudayaan.

Bandung 1955 hanyalah puncaknya.

Dan kita mewarisi semua itu.

Bukan sekadar gedungnya. Tapi semangatnya. Bukan sekadar abunya tapi apinya.

Museum Kota yang Menjadi Rumah

Saya baru benar-benar memahami makna itu ketika masuk ke Museum Konferensi Asia Afrika. Di sana saya bertemu Asian African Reading Club (AARC). Sederhana sekali kegiatannya: setiap Rabu sore, duduk melingkar, membaca buku sejarah, lalu berdiskusi. Metodenya disebut “tadarusan buku”. Tidak ada tiket. Tidak ada syarat. Tidak ada target. Hanya membaca bersama.

Komunitas ini berdiri sejak 2009, lahir dari keyakinan bahwa museum bukan gudang benda mati, melainkan ruang hidup warga—tempat publik belajar sejarah, literasi, dan perdamaian. Buku-buku yang dibaca pun tidak main-main, pemikiran: Soekarno, Hatta, Ali Sastroamidjojo, hingga kajian pemikiran dari Afrika dan Asia. Saya melihat sesuatu yang jarang hari ini: orang-orang datang bukan untuk selfie, tapi untuk berpikir. Mereka datang untuk mendengarkan orang lain membaca buku, sesuatu yang sulit dewasa ini

Dan saya sadar: kadang revolusi paling sunyi dimulai dari lingkaran kecil; membaca.

Seni, Musik, dan Perlawanan Kultural

Wanggi Hoed, Adew Habtsa, Abah Omtris sedang melakukan pertunjukan dia acara Konser Trotoar dalam rangka peringatan Konferensi Asia Afrika 2023 yang digagas oleh Komunitas Seni dan Musik Balada Manjing Manjang (Sumber: Arsip Pribadi Penulis | Foto: Penulis)
Wanggi Hoed, Adew Habtsa, Abah Omtris sedang melakukan pertunjukan dia acara Konser Trotoar dalam rangka peringatan Konferensi Asia Afrika 2023 yang digagas oleh Komunitas Seni dan Musik Balada Manjing Manjang (Sumber: Arsip Pribadi Penulis | Foto: Penulis)

Bukan cuma buku. Di sudut lain Bandung, saya mengenal Manjing Manjang—komunitas seni dan musik balada kota bandung. Mereka percaya musik bukan sekadar hiburan, tapi alat menyampaikan kegelisahan sosial. Pertunjukan puisi, lagu, diskusi, konser kecil di kedai kopi. Tak glamor. Tapi konsisten.

Nama “manjing manjang”—cukup, tapi berkelanjutan. Diambil dari bahasa sunda. Sedikit, tapi terus-menerus. Filosofi yang terasa sangat Bandung.

Musik di sini bukan komoditas. Ia menjadi medium empati dan pendidikan publik. Saya mulai melihat pola:

buku di museum, musik di kedai, diskusi di komunitas—semuanya adalah cara warga menjaga ingatan kotanya.

Bandung Hari Ini: Seperti mendayung diantara dua karang

Namun jujur saja: Bandung hari ini jauh dari romantik.

Macet. Sampah. Ruang publik menyusut. Literasi rendah. Museum sepi. Kesenjangan, Dewan Kebudayaan yang telah mengundurkan diri.

Kita punya sejarah besar, tapi kebiasaan kecil kita rapuh. Kita bangga menyebut “Bandung Lautan Api”, tapi tak berani memadamkan api egoisme sehari-hari. Dulu Bandung menjadi ruang dialog antarbangsa. Sekarang kita bahkan sulit berdialog dengan tetangga.Inilah paradoks kita: kota dengan warisan perdamaian dunia, tapi warganya mudah saling bising. Karena ketidakpiawaan pemerintah kota dalam menampung aspirasi dan menjalankan kota dengan adil dan kejujuran.

Resolusi untuk Bandung 2026

berdiskusi dan bersantai di Taman Sejarah Kota Bandung (Sumber: Arsip Pribadi Penulis | Foto: Penulis)

Maka menjelang 2026, saya tidak membayangkan resolusi besar. Bukan flyover baru.
Bukan gedung tinggi. Bukan pula Wali Kota baru.

Saya membayangkan hal-hal kecil:

  • museum ramai oleh diskusi
  • taman dipakai baca buku
  • komunitas seni tumbuh
  • anak muda kenal sejarah kotanya
  • UMKM lokal hidup
  • warga mau gotong royong lagi
  • Seniman bisa hidup dari karyanya

Karena sejarah Bandung mengajarkan satu hal: perubahan selalu dimulai dari kebersamaan, bukan kehebatan individu.

Dari koperasi. Dari solidaritas. Dari komunitas.

Dari duduk melingkar, bukan berdiri sendiri.

Baca Juga: Sejarah Pasar Cimol Gedebage Bandung, Surga Thrifting Kota Kembang di Ujung Jalan

Sekarang saya tahu jawaban pertanyaan itu. Ya, ada yang mencintai kota seperti kekasih. Karena kota ini pernah membuat dunia percaya pada perdamaian, pada kesetaraan, pada niat baik, serta hidup berdampingan secara damai. Dan kalau generasi 1955 berani mengubah dunia dari Bandung, mari kita mulai mencintai kota ini, Bandung.

Barangkali tugas kita sederhana: membaca lebih banyak, bertemu lebih sering, bekerja bersama-sama lebih tulus. Supaya ketika orang menyebut Bandung lagi, ia bukan hanya ingat wisata, tapi ingat alasan kenapa Bandung(?).

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

MSG
Tentang MSG
peaceful co-existence

Berita Terkait

News Update

Beranda 04 Feb 2026, 09:42 WIB

Jika Kebun Binatang Bandung Hilang, Apa yang Tersisa dari Kota Ini?

Tempat ini merupakan rangkaian panjang sejarah dan ungkapan cinta warga kota yang telah terbangun sejak satu abad lalu.
Pegunjung memanfaatkan Kawasan Kebun Binatang Bandung yang rindang dan sejuk untuk berkumpul dan makan bersama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 04 Feb 2026, 09:39 WIB

Aan Merdeka Permana Penulis Spesialis Tema Padjadjaran

Yayasan Kebudayaan Rancagé menetapkan sastrawan Sunda senior Aan Merdeka Permana sebagai peraih Hadiah Jasa 2026.
Buku-buku karya Aan Merdeka Permana. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 04 Feb 2026, 08:04 WIB

Ngabuburit dari Masa ke Masa

Ngabuburit di kota Bandung mengalami pergeseran nilai dan aktifitas serta cara melakukannya.
Masjid Al-Jabar di Kota Bandung. (Sumber: Pexels/Andry Sasongko)
Bandung 03 Feb 2026, 21:16 WIB

Misi Kemanusiaan dan Esensi CSR Berkelanjutan dalam Memulihkan Luka Bencana Cisarua

CSR berkelanjutan bukan hanya tentang memberi, tetapi tentang hadir dan tetap ada hingga masyarakat benar-benar mampu berdiri kembali di atas kaki sendiri.
Dalam skenario bencana sebesar Cisarua, kecepatan respons adalah kunci utama untuk menyelamatkan nyawa dan harapan. (Sumber: SANY Indonesia)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 19:40 WIB

Kisah Sentra Karangan Bunga Pasirluyu Bandung, Panen Rezeki saat Rajab dan Syaban

Jalan Pasirluyu Selatan Bandung berubah menjadi sentra karangan bunga. Bulan Rajab dan Syaban membawa lonjakan pesanan papan ucapan pernikahan dan hajatan.
Salah satu deretan toko bunga di Pasirluyu, Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 03 Feb 2026, 19:00 WIB

Info Ciumbuleuit, Homeless Media yang Hidup dari Kepercayaan Warga Sekitar

“Kalau sampai ada yang keberatan atau komplain, jujur saja bingung mau berlindung ke siapa. Kita kan nggak punya lembaga atau badan hukum,” tuturnya.
Pemilik dan pengelola akun Info Ciumbuleuit, Dio Rama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 18:19 WIB

UU ITE dan Ancaman Kebebasan Ekspresi: Menggugat Pelanggaran Asas Lex Certa

Menganalisis pelanggaran asas lex certa dalam UU ITE yang memicu chilling effect dan mengancam kebebasan berekspresi serta kualitas demokrasi di Indonesia.
Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 17:02 WIB

Lakon Kelaparan dan Kemiskinan Melalui Puasa Ramadan

Puasa itu mengajarkan menahan diri, zakat menyempurnakannya. Ia menumbuhkan kesadaran sosial dan kebahagiaan bagi sesama.
Ilustrasi puasa Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Abdullah Arif)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 16:33 WIB

Sejarah Pasteur Bandung, Jejak Peradaban Ilmu Pengetahuan di Kota Kembang

Kawasan Pasteur Bandung tumbuh dari pusat riset vaksin kolonial menjadi simpul penting ilmu kesehatan nasional yang jejaknya masih bertahan hingga kini.
Suasana di Jalan Pasteur, Kota Bandung. Salah satu titik lalu lintas yang selalu padat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 16:31 WIB

Hikayat Indische Partij, Partai Politik Pertama yang Lahir dari Bandung

Didirikan di Bandung pada 1912, Indische Partij menjadi organisasi politik pertama yang secara terbuka menuntut kemerdekaan penuh dari kekuasaan kolonial Belanda.
Logo Indische Partij.
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 15:13 WIB

Di Tengah Tekanan Zaman, Seni Menjadi Cara Bertahan

Di tengah kecemasan, kisah “Nihilist Penguin” bertemu tekanan hidup kota. Dari luka personal lahir Florist Project dan lagu “Cemas”, seni yang tak menggurui, tapi menemani manusia belajar bertahan.
Belajar dan menanamkan cinta pada anak-anak (Sumber: Arsip Penulis, Ekspedisi Nusantara Jaya 2016)
Bandung 03 Feb 2026, 12:52 WIB

Berlari Menjemput Cahaya Pendidikan: Jejak Kebaikan di Balik DH Run 2026

Di balik kemeriahan medali dan garis finis, DH Run 2026 membawa misi sosial yang menyentuh akar kehidupan.
Konferensi pers DH Run 2026 yang membawa misi sosial untuk menyentuh akar kehidupan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 12:43 WIB

Raih Hadiah Jasa Rancage, Aan M.P. Sebut KDM Tidak Senang Bantu Sastrawan Miskin

Aan Merdeka Permana, lahir di Bandung, 16 Novémber 1950 dipandang panitia pantas menerima Hadiah Jasa.
Aan Merdeka Permana, lahir di Bandung, 16 Novémber 1950 dipandang panitia pantas menerima Hadiah Jasa. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 11:11 WIB

Tema Ayo Netizen Februari 2026: Bandung Raya dan Bulan Puasa

Tema ini menjadi ajakan terbuka bagi para penulis Ayo Netizen untuk mengirim tulisan terbaik.
Ayo Netizen Ayobandung.id mengangkat tema "Bandung Raya dan Bulan Puasa: Tradisi, Ekonomi, dan Realita Saat Ini" untuk edisi Februari 2026. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan AI ChatGPT)
Bandung 03 Feb 2026, 10:58 WIB

Dari Kaki Lima ke Ruko Lantai Tiga: Strategi Awug Cibeunying Bertahan di Tengah Zaman

Rizky turut serta menjaga kualitas dan kuantitas awug supaya tetap terjaga meski pasang-surut perubahan zaman telah dihadapi bersama keluarga besarnya selama membangun bisnis ini.
Kios Awug Cibeunying. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 09:36 WIB

Kian Banyak Tertemper Kereta Api, Perlintasan Sebidang Titik Paling Mematikan

Setelah perlintasan sebidang dibangun jalan layang atau terowongan, ternyata kebijakan daerah sangat lemah.
Perlintasan sebidang di Cimindi yang sangat rawan. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Bandung 03 Feb 2026, 09:19 WIB

Digitalisasi Jejak Karbon: Menakar Teknologi Berkelanjutan dalam Layanan Pelanggan Singapore Airlines

Penumpang dan pelanggan kargo SIA dapat menghitung dan mengimbangi emisi karbon penerbangan mereka, baik sebelum maupun setelah terbang.
Maskapai Singapore Airlines. (Sumber: Singapore Air)
Beranda 03 Feb 2026, 07:12 WIB

Di Antapani, Komunitas Temu Tumbuh Menjadi Tempat Pulang bagi Percakapan yang Jujur

Nilai-nilai dalam kacamata tuntutan masyarakat inilah yang kemudian memantik kecenderungan rasa cemas manusia di masa kini.
Komunitas Temu Tumbuh membuka ruang diskusi yang aman dan nyaman untuk saling berbagi dan bertumbuh. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 02 Feb 2026, 19:47 WIB

Susah Payah Menjaga Tertib Bahasa Dicengkram Mesin Algoritma

Standar Bahasa Indonesia perlahan tidak lagi dibentuk oleh komunitas diskusi, melainkan oleh mesin berbasis data global.
Ilustrasi bahasa mesin yang menentukan algoritma. (Sumber: Sketsa oleh ChatGPT)
Ayo Netizen 02 Feb 2026, 17:43 WIB

Quo Vadis BKKBN dalam Kepungan Patologi Sosial

Jika fenomena YOLO, FOMO, dan FOPO dihubungkan, muncul gambaran yang lebih luas mengenai bagaimana komunikasi digital mempengaruhi kesehatan mental individu.
Ilustrasi perubahan perilaku generasi milenial dan Z. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)