Pada 27 April 2025 lalu, penulis mengamati sekaligus mengalami secara langsung menaiki Bus Metro Jabar Trans rute Dago-Leuwipanjang. Pengamatan ini dilakukan dari dalam bus, pada saat kondisi operasional harian dengan penumpang yang beragam, sehingga memungkinkan pengamatan dalam konteks desain interior bus tidak hanya secara visual, tetapi juga melalui pengalaman tubuh; duduk, berdiri, berpindah, serta merespons dinamika kendaraan saat berjalan.
Transportasi publik dalam konteks ini, dipahami sebagai ruang interior bergerak yang dialami secara nyata oleh pengguna/penumpang. Karena itu, desain interior bus tidak dapat dilepaskan dari aspek-aspek seperti; ergonomi, psikologi ruang, keselamatan pengguna, dll.

Dari pengalaman menaiki bus tersebut, layout atau tata letak interior terasa cukup efisien. Penempatan kursi di sisi kiri dan kanan dengan lorong tengah yang cukup lapang memudahkan sirkulasi penumpang, terutama saat bus berhenti dan terjadi pergantian penumpang. Efisiensi sirkulasi ini semakin diperkuat oleh pemisahan fungsi pintu. Pintu depan difungsikan sebagai akses masuk dan melakukan pembayaran, sementara pintu belakang difungsikan sebagai akses keluar. Skema ini terbukti efektif dalam mencegah penumpukan dan kemacetan di satu titik ketika terdapat pengunjung yang naik dan turun secara bersamaan. Sehingga alur pergerakan penumpang menjadi lebih terarah, minim konflik arah, dan lebih aman.

Kursi bus yang digunakan pada Bus Metro Jabar Trans ini memiliki kontur sederhana dengan material sintetis yang terasa cukup nyaman saat diduduki selama perjalanan. Material ini juga mencerminkan pertimbangan higienitas dan kemudahan perawatan jangka panjang, hal ini merupakan faktor penting dalam fasilitas publik.
Keberadaan seatbelt atau sabuk pengaman pada kursi penumpang menjadi elemen yang menarik. Meskipun tidak selalu digunakan oleh penumpang, tapi keberadaannnya menunjukkan kesadaran desain terhadap keselamatan penumpang, terutama pada kondisi pengereman mendadak. Dalam aspek desain kendaraan umum/publik, fitur keselamatan pasif seperti ini masih jarang ditemui pada sebagian bus kota dan patut diapresiasi sebagai langkah yang preventif.

Pencahayaan alami dan buatan di dalam bus cukup terang dan merata. Ketika hari masih terang, pencahayaan alami jelas berasal dari jendela yang ada di sekeliling bus. Kemudian pencahayaan buatan di sini menggunakan lampu LED linear di sepanjang plafon. Secara visual, pencahayaan buatan ini menghadirkan kesan modern dan bersih. Namun yang lebih penting, pencahayaan buatan tersebut berkontribusi pada rasa aman penumpang terutama ketika hari mulai gelap. Dalam konteks ini, desain pencahayaan Bus Metro Jabar Trans tidak hanya berfungsi estetis, tetapi juga sebagai elemen pendukung keamanan non-fisik.

Kemudian, penulis mengamati bahwa handle grip atau alat pegangan tangan yang menggantung ternyata dilengkapi penyangga/perekat pada rel/besinya, sehingga posisinya relatif stabil dan tidak mudah bergeser akibat guncangan. Selain itu, penggunaan warna kuning yang kontras juga memudahkan pegangan dikenali secara visual oleh pengguna. Detail kecil ini sangat penting khususnya dalam kondisi bus yang penuh, kestabilan pegangan saat berdiri berpengaruh langsung terhadap keseimbangan tubuh dan risiko jatuh.
Terkait penghawaan, Bus Metro Jabar Trans menggunakan sistem penghawaan mekanis terintegrasi yang ditempatkan pada bagian plafon. Pola ventilasi ini membuat aliran udara menyebar secara merata, sehingga kenyamanan termal tetap terjaga tanpa menimbulkan rasa pengap, bahkan saat keadaan bus cukup padat.
Berdasarkan pengalaman serta pengamatan langsung menaiki Bus Metro Jabar Trans rute Dago-Leuwipanjang pada 27 April 2025, dapat disimpulkan bahwa desain interior bus ini telah dirancang dengan pendekatan yang cukup matang, serta berhasil menggabungkan; efisiensi ruang, kenyamanan, keselamatan, dan estetika modern. (*)
