Tamu Tembus 4.000 Orang, Kampung Takakura Sukamiskin Jadi Pusat Edukasi Sampah Lintas Pulau dan Negara

4 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
Sejumlah penghargaan yang diraih Kampung Takakura antara tahun 2018-2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Sejumlah penghargaan yang diraih Kampung Takakura antara tahun 2018-2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Di tengah padatnya permukiman Kota Bandung, hadir satu kampung yang menjadi pionir pengelolaan sampah skala rumah tangga. Selama delapan tahun sejak berdiri pada 2018, Kampung Takakura RW 09, Kelurahan Sukamiskin, Kecamatan Arcamanik, konsisten menjalankan satu visi bersama dalam pengelolaan sampah: “Tidak dipilah, pasti tidak diangkut.”

Enam RT di RW 09 disatukan oleh prinsip tersebut sebagai fondasi pengelolaan sampah mandiri berbasis warga.

“Memilah sampah dari rumah supaya bisa dimanfaatkan kembali, sehingga tidak banyak yang dibuang ke TPS,” kata Ketua Pengurus Kampung Takakura, Dandan Sunardja.

Berdasarkan hasil survei penelitian dari sejumlah perguruan tinggi dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK), RW 09 Sukamiskin menghasilkan sekitar 6,9 ton sampah per bulan. Dari jumlah tersebut, hanya 11 persen yang berakhir di Tempat Penampungan Sementara (TPS). Sisanya, sekitar 6,1 ton per bulan, berhasil dipilah dan diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah.

“Setiap jiwa menghasilkan sekitar 0,218 kilogram sampah per hari. Kalau dikalikan 1.053 jiwa, totalnya sekitar 6,9 ton per bulan, terdiri dari sampah organik, anorganik, residu, dan B3,” ujar Dandan.

Pengolahan sampah organik di Kampung Takakura tidak hanya menghasilkan kompos dan pupuk. Warga juga memproduksi beragam produk lain seperti souvenir lilin berwarna, sabun batang, kerajinan tangan, pernak-pernik, hiasan taman, hingga cairan multifungsi seperti obat luka, obat jerawat, disinfektan, cairan pencuci, dan penjernih air.

Beragam metode diterapkan dalam proses pengolahan tersebut, mulai dari eco enzyme, maggot, biodigester, bata terawang, biopori, loseda, open windrow, hingga keranjang Takakura.

Upaya warga Kampung Takakura ini mendapat perhatian pemerintah. Sejumlah dinas turut memberikan dukungan berupa fasilitas penunjang.

“Lama-lama kami mulai dikenal Pemkot. Lalu dapat bantuan dari Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pertanian, macam-macam bentuknya, termasuk fasilitas pengolahan sampah dan benih sayuran,” ujar Koordinator Kebun Kampung Takakura, Dian.

Selain dukungan fasilitas, Kampung Takakura juga mencatatkan prestasi di berbagai ajang penghargaan lingkungan, termasuk meraih level tertinggi Program Kampung Iklim (ProKlim).

“Kami ikut Kang Pisman Award, lalu diajak ikut ProKlim. Awalnya dapat ProKlim Utama, lalu meningkat menjadi ProKlim Lestari,” kata Dian.

Dari Inisiatif Warga hingga Etalase Edukasi Sampah Pemkot Bandung

Sejak berdiri pada 2018, Kampung Takakura telah mengedukasi lebih dari 4.000 orang. Dalam sejumlah kesempatan, tamu yang datang bisa mencapai puluhan orang, baik berkunjung langsung maupun mengundang pengurus Kampung Takakura untuk berbagi pengetahuan tentang pengelolaan sampah.

“Awalnya karena permintaan warga. Lama-lama kami banyak melakukan edukasi, dari RW, kelurahan, kecamatan sekitar, sampai luar provinsi dan luar pulau,” ujar Dian.

Ia menyebutkan, tamu yang datang berasal dari berbagai instansi, termasuk pemerintah daerah dari luar Jawa.

“Ada lurah-lurah dari Kalimantan, kepala dinas dari Semarang. Mereka sengaja datang ke sini untuk belajar,” katanya.

Permintaan edukasi tersebut umumnya difasilitasi oleh Pemerintah Kota Bandung.

“Mereka mengirim surat ke Pemkot, lalu Pemkot mengarahkan ke sini,” tambah Dian.

Menurut Dian, aktivitas edukasi bukanlah tujuan awal pendirian Kampung Takakura. Hal itu berkembang seiring meningkatnya ketertarikan pihak luar.

“Sekitar 2019 pertama kali ada sekolah yang datang dan minta diajari pengolahan sampah. Dari situ permintaan terus bertambah sampai sekarang,” ujarnya.

Laboratorium Lintas Jenjang Pendidikan

Konsistensi Kampung Takakura menjadikannya bukan sekadar lokasi edukasi, tetapi juga laboratorium pembelajaran lintas jenjang. Kampung ini menerima kunjungan dari tingkat PAUD hingga SMA, sekaligus menjadi lokasi penelitian akademik.

“Ada penelitian dari berbagai perguruan tinggi, seperti ITB, Unpad, Unpar, Unpas, UPI, dan Universitas Al Ghifari,” ujar Dandan.

Bahkan, Kampung Takakura telah menjadi lokasi riset untuk skripsi (S1), tesis (S2), hingga disertasi (S3), termasuk dari peneliti luar negeri.

“Ada mahasiswa S2 yang sebulan penuh meneliti di sini. Terakhir, penelitian S3 dari Belanda juga mengambil data ke sini,” kata Dian.

Kekuatan Lansia dalam Merawat Kampung Takakura

Salah satu kekuatan Kampung Takakura terletak pada para penggeraknya. Mayoritas pengurus kampung ini merupakan lansia, terutama ibu-ibu dan nenek-nenek.

“Organisasi Kampung Takakura itu mayoritas diisi lansia. Tapi justru di situ kekuatannya,” ujar Dian.

Ia menyebutkan, berdasarkan laporan DLHK, banyak kelompok Kawasan Bebas Sampah (KBS) lain yang bubar setelah dua tahun berjalan. Sementara Kampung Takakura tetap solid hampir delapan tahun.

Dalam evaluasi awal 2025, tercatat jumlah tamu yang mengikuti edukasi telah melampaui 4.000 orang, dari berbagai jenjang pendidikan.

“Dari PAUD sampai S3. Itu yang tercatat,” katanya.

Fokus pada transfer pengetahuan inilah yang menjadi pembeda Kampung Takakura dibanding KBS lain di Kota Bandung.

“Itu yang tanpa kami rencanakan sejak awal. Edukasi justru jadi ciri utama kami,” aku Dian.

Bagi Dandan, tujuan utama pengelolaan sampah tetap sederhana.

“Kami ingin sampah punya nilai tambah. Itu juga bagian dari ibadah, supaya bermanfaat bagi orang lain dan mengurangi polusi lingkungan,” katanya.

Menurut Dian, keberhasilan pengelolaan sampah di tingkat akar rumput sangat bergantung pada keberadaan pelopor dan tim inti yang konsisten.

“Harus ada penggerak awalnya. Itu kuncinya,” tegasnya.

Pada akhirnya, resep utama yang membuat Kampung Takakura bertahan hampir sewindu hanyalah satu hal.

“Komitmen pada tujuan awal,” pungkas Dian.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)