Tidak Dipilah Pasti Tidak Diangkut: Gaya Hidup Kampung Takakura dalam Mengatasi Krisis Sampah Bandung

5 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
Hasil dari pengolahan sampah organik salah satunya dijadikan eco enzyme yang kaya enzim ramah lingkungan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Hasil dari pengolahan sampah organik salah satunya dijadikan eco enzyme yang kaya enzim ramah lingkungan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Status darurat sampah di Kota Bandung menjadi persoalan serius yang tengah dihadapi ibu kota Jawa Barat dalam beberapa tahun terakhir. Situasi ini berawal dari kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti pada Agustus 2023, yang berdampak pada terganggunya pengangkutan dan pengolahan sampah dari berbagai daerah di wilayah Bandung Raya.

Namun, di tengah kondisi darurat tersebut, warga RW 09 Kelurahan Sukamiskin, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung justru tidak merasakan dampak berarti. RW yang dihuni 1.053 jiwa ini mampu mengolah sekitar 6,9 ton sampah setiap bulan secara mandiri melalui metode Takakura dan komitmen kolektif warganya. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 11 persen sampah yang tersisa sebagai residu dan dikirim ke Tempat Penampungan Sementara (TPS).

“Kalau sampah tidak dipilah, kita tidak akan diangkut. Itu komitmen kami,” ujar Ketua RW 09 Sukamiskin, Dandan Sunardja.

Ketua RW 09 Sukamiskin, Dandan Sunardja. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ketua RW 09 Sukamiskin, Dandan Sunardja. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Tagline “Tidak Dipilah Pasti Tidak Diangkut” menjadi bentuk kesepakatan bersama warga dalam menjaga kedisiplinan pengelolaan sampah. Aturan ini berlaku tegas: sampah yang tidak dipilah sejak dari rumah tidak akan diangkut oleh petugas.

“Tahun 2015 sampai 2018 kami melakukan sosialisasi ke warga untuk mengubah pola pikir, supaya bisa mengelola sampah mulai dari rumah. Caranya macam-macam, lewat brosur, surat edaran, rapat, sampai door to door,” jelas Dandan.

Koordinator Kebun Kampung Takakura, Dian, menambahkan bahwa edukasi pengelolaan sampah dilakukan dengan pendekatan yang dekat dengan keseharian warga.

“Sosialisasi pengolahan sampah, pembuatan kompos, dan berkebun organik biasanya dilakukan saat ada kegiatan arisan di tiap RT,” kata Dian.

Koordinator Kebun Kampung Takakura, Dian, dan botol-botol berisi eco enzym di belakangnya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Koordinator Kebun Kampung Takakura, Dian, dan botol-botol berisi eco enzym di belakangnya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Komitmen memilah dan mengolah sampah di RW 09 Sukamiskin juga dipicu oleh kebijakan Pemerintah Kota Bandung. Pada 2018, RW ini ditetapkan sebagai salah satu dari delapan Kawasan Bebas Sampah (KBS) di Kota Bandung.

“Jadi di Kampung Takakura ini ada taman bermain, taman bunga, kebun sayuran, pengolahan sampah, sekaligus edukasi,” ujar Dian.

“Lalu ada inisiatif warga untuk memanfaatkan lahan kosong menjadi kebun sayur dan membuat kompos dengan metode Takakura,” tambahnya.

Takakura dan Laboratorium “Bakteri” Skala Rumah

Nama “Kampung Takakura” bukan sekadar sebutan, melainkan bentuk penghormatan terhadap metode pengolahan sampah yang mereka adaptasi.

“Itu hasil penemuan Profesor Koji Takakura. Jadi kami memakai nama beliau,” terang Dian.

Meski berasal dari Jepang, metode Takakura telah dimodifikasi agar sesuai dengan kondisi lingkungan permukiman warga serta ketersediaan bahan lokal. Salah satu keunggulan keranjang Takakura adalah sifatnya yang praktis dan minim dampak negatif.

“Metode ini disesuaikan dengan bahan yang ada di masing-masing negara. Jadi cocok sekali untuk skala rumah,” jelas dia.

“Karena wadahnya kecil, tidak berbau, dan tidak memunculkan binatang aneh-aneh. Kelebihannya juga cepat hancur, sampah satu hari bisa langsung terurai.”

Pengolahan sampah organik dalam keranjang Takakura melibatkan peran bakteri yang diracik dari bahan-bahan sederhana. Mikroorganisme inilah yang mempercepat proses pengomposan.

“Bakterinya dibuat dari campuran tanah, sekam, pupuk kandang, dedak, lalu diaduk dengan air gula, air cucian beras, dan air kelapa,” beber Dian.

Dandan memastikan setiap rumah di RW 09 Sukamiskin memiliki instrumen mandiri untuk mengelola sampah organik.

“Di tiap rumah, sampah organik itu dikelola minimal dengan dua metode. Pertama biopori, kedua keranjang Takakura,” ungkapnya.

Hasil pengomposan pun memberi manfaat ganda bagi warga.

“Kalau kompos dari rumah masing-masing, dipakai sendiri. Kalau yang di balai warga, itu untuk kebutuhan kebun,” jelas Dandan.

Selain biopori dan keranjang Takakura, RW 09 Sukamiskin juga memanfaatkan berbagai metode pengolahan lain, seperti maggot, biodigester, loseda, open windrow, eco enzyme, dan bata terawang. Hasil pengolahan sampah tidak hanya berupa kompos, tetapi juga gas untuk keperluan dapur, pupuk, disinfektan, obat-obatan, hingga souvenir.

Bata terawang berupa susunan bata berongga untuk mengomposkan sampah organik agar sirkulasi udara optimal. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bata terawang berupa susunan bata berongga untuk mengomposkan sampah organik agar sirkulasi udara optimal. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Peralatan biodigester untuk mengurai bahan organik oleh mikroorganisme dalam kondisi tanpa oksigen. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Peralatan biodigester untuk mengurai bahan organik oleh mikroorganisme dalam kondisi tanpa oksigen. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Sementara itu, sampah anorganik yang telah dipilah dikumpulkan di tempat pengumpulan dan dijual ke bank sampah. Adapun sampah residu dan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) diserahkan ke TPS.

Berdasarkan survei penelitian dari perguruan tinggi dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK), RW 09 Sukamiskin menghasilkan sekitar 6,9 ton sampah per bulan, dengan hanya 11 persen yang dikirim ke TPS.

“Dari hasil survei, setiap jiwa menghasilkan 0,218 kilogram sampah per hari. Dikalikan 1.053 jiwa, totalnya sekitar 6,9 ton per bulan,” jelas Dandan.

Rinciannya, sampah organik sekitar 4 ton, anorganik sekitar 2 ton, sisanya residu dan B3 sekitar 700 kilogram.

Hasil kerja kolektif ini benar-benar terasa saat Kota Bandung dilanda darurat sampah. RW 09 Sukamiskin justru menjadi wilayah yang relatif tenang.

“Masalah bau sampah sudah hilang. Penumpukan tidak ada. Waktu Bandung darurat sampah kemarin, di sini sama sekali nggak ada masalah,” ujar Dian.

Meski demikian, perjalanan tersebut tidak sepenuhnya tanpa hambatan. Salah satu tantangan datang dari sebagian warga yang merasa iuran bulanan sudah membebaskan mereka dari kewajiban memilah sampah.

Hasil dari pengolahan sampah organik dijadikan souvenir. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Hasil dari pengolahan sampah organik dijadikan souvenir. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

“Dari penarikan iuran itu, ada warga yang merasa sudah bayar, lalu ngapain harus membilas sampah,” kata Dandan.

“Kita terus sosialisasikan bahwa tujuan kita bukan sekadar iuran, tapi memilah sampah dari rumah supaya bisa bermanfaat dan tidak banyak dibuang ke TPS,” tambahnya.

“Karena dari awal taglinenya ‘tidak dipilah pasti tidak diangkut’. Setelah itu diterapkan, akhirnya semua nurut. Terpaksa nurut,” sambung Dian.

Sebagai penutup, Dandan menegaskan bahwa selama manusia hidup dan berproduksi, sampah adalah keniscayaan. Yang bisa diubah adalah cara pandang terhadapnya.

“Selama hidup, manusia pasti memproduksi sampah. Sampai kapan pun itu tidak akan hilang. Karena itu kita harus berteman dengan sampah. Berteman dalam arti menjadikannya sesuatu yang menghasilkan dan punya nilai tambah,” pungkas Dandan.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)