Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Tidak Dipilah Pasti Tidak Diangkut: Gaya Hidup Kampung Takakura dalam Mengatasi Krisis Sampah Bandung

Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan Selasa 20 Jan 2026, 08:33 WIB
Hasil dari pengolahan sampah organik salah satunya dijadikan eco enzyme yang kaya enzim ramah lingkungan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Hasil dari pengolahan sampah organik salah satunya dijadikan eco enzyme yang kaya enzim ramah lingkungan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Status darurat sampah di Kota Bandung menjadi persoalan serius yang tengah dihadapi ibu kota Jawa Barat dalam beberapa tahun terakhir. Situasi ini berawal dari kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti pada Agustus 2023, yang berdampak pada terganggunya pengangkutan dan pengolahan sampah dari berbagai daerah di wilayah Bandung Raya.

Namun, di tengah kondisi darurat tersebut, warga RW 09 Kelurahan Sukamiskin, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung justru tidak merasakan dampak berarti. RW yang dihuni 1.053 jiwa ini mampu mengolah sekitar 6,9 ton sampah setiap bulan secara mandiri melalui metode Takakura dan komitmen kolektif warganya. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 11 persen sampah yang tersisa sebagai residu dan dikirim ke Tempat Penampungan Sementara (TPS).

“Kalau sampah tidak dipilah, kita tidak akan diangkut. Itu komitmen kami,” ujar Ketua RW 09 Sukamiskin, Dandan Sunardja.

Ketua RW 09 Sukamiskin, Dandan Sunardja. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ketua RW 09 Sukamiskin, Dandan Sunardja. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Tagline “Tidak Dipilah Pasti Tidak Diangkut” menjadi bentuk kesepakatan bersama warga dalam menjaga kedisiplinan pengelolaan sampah. Aturan ini berlaku tegas: sampah yang tidak dipilah sejak dari rumah tidak akan diangkut oleh petugas.

“Tahun 2015 sampai 2018 kami melakukan sosialisasi ke warga untuk mengubah pola pikir, supaya bisa mengelola sampah mulai dari rumah. Caranya macam-macam, lewat brosur, surat edaran, rapat, sampai door to door,” jelas Dandan.

Koordinator Kebun Kampung Takakura, Dian, menambahkan bahwa edukasi pengelolaan sampah dilakukan dengan pendekatan yang dekat dengan keseharian warga.

“Sosialisasi pengolahan sampah, pembuatan kompos, dan berkebun organik biasanya dilakukan saat ada kegiatan arisan di tiap RT,” kata Dian.

Koordinator Kebun Kampung Takakura, Dian, dan botol-botol berisi eco enzym di belakangnya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Koordinator Kebun Kampung Takakura, Dian, dan botol-botol berisi eco enzym di belakangnya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Komitmen memilah dan mengolah sampah di RW 09 Sukamiskin juga dipicu oleh kebijakan Pemerintah Kota Bandung. Pada 2018, RW ini ditetapkan sebagai salah satu dari delapan Kawasan Bebas Sampah (KBS) di Kota Bandung.

“Jadi di Kampung Takakura ini ada taman bermain, taman bunga, kebun sayuran, pengolahan sampah, sekaligus edukasi,” ujar Dian.

“Lalu ada inisiatif warga untuk memanfaatkan lahan kosong menjadi kebun sayur dan membuat kompos dengan metode Takakura,” tambahnya.

Takakura dan Laboratorium “Bakteri” Skala Rumah

Nama “Kampung Takakura” bukan sekadar sebutan, melainkan bentuk penghormatan terhadap metode pengolahan sampah yang mereka adaptasi.

“Itu hasil penemuan Profesor Koji Takakura. Jadi kami memakai nama beliau,” terang Dian.

Meski berasal dari Jepang, metode Takakura telah dimodifikasi agar sesuai dengan kondisi lingkungan permukiman warga serta ketersediaan bahan lokal. Salah satu keunggulan keranjang Takakura adalah sifatnya yang praktis dan minim dampak negatif.

“Metode ini disesuaikan dengan bahan yang ada di masing-masing negara. Jadi cocok sekali untuk skala rumah,” jelas dia.

“Karena wadahnya kecil, tidak berbau, dan tidak memunculkan binatang aneh-aneh. Kelebihannya juga cepat hancur, sampah satu hari bisa langsung terurai.”

Pengolahan sampah organik dalam keranjang Takakura melibatkan peran bakteri yang diracik dari bahan-bahan sederhana. Mikroorganisme inilah yang mempercepat proses pengomposan.

“Bakterinya dibuat dari campuran tanah, sekam, pupuk kandang, dedak, lalu diaduk dengan air gula, air cucian beras, dan air kelapa,” beber Dian.

Dandan memastikan setiap rumah di RW 09 Sukamiskin memiliki instrumen mandiri untuk mengelola sampah organik.

“Di tiap rumah, sampah organik itu dikelola minimal dengan dua metode. Pertama biopori, kedua keranjang Takakura,” ungkapnya.

Hasil pengomposan pun memberi manfaat ganda bagi warga.

“Kalau kompos dari rumah masing-masing, dipakai sendiri. Kalau yang di balai warga, itu untuk kebutuhan kebun,” jelas Dandan.

Selain biopori dan keranjang Takakura, RW 09 Sukamiskin juga memanfaatkan berbagai metode pengolahan lain, seperti maggot, biodigester, loseda, open windrow, eco enzyme, dan bata terawang. Hasil pengolahan sampah tidak hanya berupa kompos, tetapi juga gas untuk keperluan dapur, pupuk, disinfektan, obat-obatan, hingga souvenir.

Bata terawang berupa susunan bata berongga untuk mengomposkan sampah organik agar sirkulasi udara optimal. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bata terawang berupa susunan bata berongga untuk mengomposkan sampah organik agar sirkulasi udara optimal. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Peralatan biodigester untuk mengurai bahan organik oleh mikroorganisme dalam kondisi tanpa oksigen. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Peralatan biodigester untuk mengurai bahan organik oleh mikroorganisme dalam kondisi tanpa oksigen. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Sementara itu, sampah anorganik yang telah dipilah dikumpulkan di tempat pengumpulan dan dijual ke bank sampah. Adapun sampah residu dan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) diserahkan ke TPS.

Berdasarkan survei penelitian dari perguruan tinggi dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK), RW 09 Sukamiskin menghasilkan sekitar 6,9 ton sampah per bulan, dengan hanya 11 persen yang dikirim ke TPS.

“Dari hasil survei, setiap jiwa menghasilkan 0,218 kilogram sampah per hari. Dikalikan 1.053 jiwa, totalnya sekitar 6,9 ton per bulan,” jelas Dandan.

Rinciannya, sampah organik sekitar 4 ton, anorganik sekitar 2 ton, sisanya residu dan B3 sekitar 700 kilogram.

Hasil kerja kolektif ini benar-benar terasa saat Kota Bandung dilanda darurat sampah. RW 09 Sukamiskin justru menjadi wilayah yang relatif tenang.

“Masalah bau sampah sudah hilang. Penumpukan tidak ada. Waktu Bandung darurat sampah kemarin, di sini sama sekali nggak ada masalah,” ujar Dian.

Meski demikian, perjalanan tersebut tidak sepenuhnya tanpa hambatan. Salah satu tantangan datang dari sebagian warga yang merasa iuran bulanan sudah membebaskan mereka dari kewajiban memilah sampah.

Hasil dari pengolahan sampah organik dijadikan souvenir. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Hasil dari pengolahan sampah organik dijadikan souvenir. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

“Dari penarikan iuran itu, ada warga yang merasa sudah bayar, lalu ngapain harus membilas sampah,” kata Dandan.

“Kita terus sosialisasikan bahwa tujuan kita bukan sekadar iuran, tapi memilah sampah dari rumah supaya bisa bermanfaat dan tidak banyak dibuang ke TPS,” tambahnya.

“Karena dari awal taglinenya ‘tidak dipilah pasti tidak diangkut’. Setelah itu diterapkan, akhirnya semua nurut. Terpaksa nurut,” sambung Dian.

Sebagai penutup, Dandan menegaskan bahwa selama manusia hidup dan berproduksi, sampah adalah keniscayaan. Yang bisa diubah adalah cara pandang terhadapnya.

“Selama hidup, manusia pasti memproduksi sampah. Sampai kapan pun itu tidak akan hilang. Karena itu kita harus berteman dengan sampah. Berteman dalam arti menjadikannya sesuatu yang menghasilkan dan punya nilai tambah,” pungkas Dandan.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 17:21

Menata Arah Pendidikan Tinggi Keagamaan di Era Serba Cepat

Pepen Supendi, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)