Tidak Dipilah Pasti Tidak Diangkut: Gaya Hidup Kampung Takakura dalam Mengatasi Krisis Sampah Bandung

Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan Selasa 20 Jan 2026, 08:33 WIB
Hasil dari pengolahan sampah organik salah satunya dijadikan eco enzyme yang kaya enzim ramah lingkungan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Hasil dari pengolahan sampah organik salah satunya dijadikan eco enzyme yang kaya enzim ramah lingkungan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Status darurat sampah di Kota Bandung menjadi persoalan serius yang tengah dihadapi ibu kota Jawa Barat dalam beberapa tahun terakhir. Situasi ini berawal dari kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti pada Agustus 2023, yang berdampak pada terganggunya pengangkutan dan pengolahan sampah dari berbagai daerah di wilayah Bandung Raya.

Namun, di tengah kondisi darurat tersebut, warga RW 09 Kelurahan Sukamiskin, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung justru tidak merasakan dampak berarti. RW yang dihuni 1.053 jiwa ini mampu mengolah sekitar 6,9 ton sampah setiap bulan secara mandiri melalui metode Takakura dan komitmen kolektif warganya. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 11 persen sampah yang tersisa sebagai residu dan dikirim ke Tempat Penampungan Sementara (TPS).

“Kalau sampah tidak dipilah, kita tidak akan diangkut. Itu komitmen kami,” ujar Ketua RW 09 Sukamiskin, Dandan Sunardja.

Ketua RW 09 Sukamiskin, Dandan Sunardja. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ketua RW 09 Sukamiskin, Dandan Sunardja. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Tagline “Tidak Dipilah Pasti Tidak Diangkut” menjadi bentuk kesepakatan bersama warga dalam menjaga kedisiplinan pengelolaan sampah. Aturan ini berlaku tegas: sampah yang tidak dipilah sejak dari rumah tidak akan diangkut oleh petugas.

“Tahun 2015 sampai 2018 kami melakukan sosialisasi ke warga untuk mengubah pola pikir, supaya bisa mengelola sampah mulai dari rumah. Caranya macam-macam, lewat brosur, surat edaran, rapat, sampai door to door,” jelas Dandan.

Koordinator Kebun Kampung Takakura, Dian, menambahkan bahwa edukasi pengelolaan sampah dilakukan dengan pendekatan yang dekat dengan keseharian warga.

“Sosialisasi pengolahan sampah, pembuatan kompos, dan berkebun organik biasanya dilakukan saat ada kegiatan arisan di tiap RT,” kata Dian.

Koordinator Kebun Kampung Takakura, Dian, dan botol-botol berisi eco enzym di belakangnya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Koordinator Kebun Kampung Takakura, Dian, dan botol-botol berisi eco enzym di belakangnya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Komitmen memilah dan mengolah sampah di RW 09 Sukamiskin juga dipicu oleh kebijakan Pemerintah Kota Bandung. Pada 2018, RW ini ditetapkan sebagai salah satu dari delapan Kawasan Bebas Sampah (KBS) di Kota Bandung.

“Jadi di Kampung Takakura ini ada taman bermain, taman bunga, kebun sayuran, pengolahan sampah, sekaligus edukasi,” ujar Dian.

“Lalu ada inisiatif warga untuk memanfaatkan lahan kosong menjadi kebun sayur dan membuat kompos dengan metode Takakura,” tambahnya.

Takakura dan Laboratorium “Bakteri” Skala Rumah

Nama “Kampung Takakura” bukan sekadar sebutan, melainkan bentuk penghormatan terhadap metode pengolahan sampah yang mereka adaptasi.

“Itu hasil penemuan Profesor Koji Takakura. Jadi kami memakai nama beliau,” terang Dian.

Meski berasal dari Jepang, metode Takakura telah dimodifikasi agar sesuai dengan kondisi lingkungan permukiman warga serta ketersediaan bahan lokal. Salah satu keunggulan keranjang Takakura adalah sifatnya yang praktis dan minim dampak negatif.

“Metode ini disesuaikan dengan bahan yang ada di masing-masing negara. Jadi cocok sekali untuk skala rumah,” jelas dia.

“Karena wadahnya kecil, tidak berbau, dan tidak memunculkan binatang aneh-aneh. Kelebihannya juga cepat hancur, sampah satu hari bisa langsung terurai.”

Pengolahan sampah organik dalam keranjang Takakura melibatkan peran bakteri yang diracik dari bahan-bahan sederhana. Mikroorganisme inilah yang mempercepat proses pengomposan.

“Bakterinya dibuat dari campuran tanah, sekam, pupuk kandang, dedak, lalu diaduk dengan air gula, air cucian beras, dan air kelapa,” beber Dian.

Dandan memastikan setiap rumah di RW 09 Sukamiskin memiliki instrumen mandiri untuk mengelola sampah organik.

“Di tiap rumah, sampah organik itu dikelola minimal dengan dua metode. Pertama biopori, kedua keranjang Takakura,” ungkapnya.

Hasil pengomposan pun memberi manfaat ganda bagi warga.

“Kalau kompos dari rumah masing-masing, dipakai sendiri. Kalau yang di balai warga, itu untuk kebutuhan kebun,” jelas Dandan.

Selain biopori dan keranjang Takakura, RW 09 Sukamiskin juga memanfaatkan berbagai metode pengolahan lain, seperti maggot, biodigester, loseda, open windrow, eco enzyme, dan bata terawang. Hasil pengolahan sampah tidak hanya berupa kompos, tetapi juga gas untuk keperluan dapur, pupuk, disinfektan, obat-obatan, hingga souvenir.

Bata terawang berupa susunan bata berongga untuk mengomposkan sampah organik agar sirkulasi udara optimal. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bata terawang berupa susunan bata berongga untuk mengomposkan sampah organik agar sirkulasi udara optimal. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Peralatan biodigester untuk mengurai bahan organik oleh mikroorganisme dalam kondisi tanpa oksigen. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Peralatan biodigester untuk mengurai bahan organik oleh mikroorganisme dalam kondisi tanpa oksigen. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Sementara itu, sampah anorganik yang telah dipilah dikumpulkan di tempat pengumpulan dan dijual ke bank sampah. Adapun sampah residu dan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) diserahkan ke TPS.

Berdasarkan survei penelitian dari perguruan tinggi dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK), RW 09 Sukamiskin menghasilkan sekitar 6,9 ton sampah per bulan, dengan hanya 11 persen yang dikirim ke TPS.

“Dari hasil survei, setiap jiwa menghasilkan 0,218 kilogram sampah per hari. Dikalikan 1.053 jiwa, totalnya sekitar 6,9 ton per bulan,” jelas Dandan.

Rinciannya, sampah organik sekitar 4 ton, anorganik sekitar 2 ton, sisanya residu dan B3 sekitar 700 kilogram.

Hasil kerja kolektif ini benar-benar terasa saat Kota Bandung dilanda darurat sampah. RW 09 Sukamiskin justru menjadi wilayah yang relatif tenang.

“Masalah bau sampah sudah hilang. Penumpukan tidak ada. Waktu Bandung darurat sampah kemarin, di sini sama sekali nggak ada masalah,” ujar Dian.

Meski demikian, perjalanan tersebut tidak sepenuhnya tanpa hambatan. Salah satu tantangan datang dari sebagian warga yang merasa iuran bulanan sudah membebaskan mereka dari kewajiban memilah sampah.

Hasil dari pengolahan sampah organik dijadikan souvenir. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Hasil dari pengolahan sampah organik dijadikan souvenir. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

“Dari penarikan iuran itu, ada warga yang merasa sudah bayar, lalu ngapain harus membilas sampah,” kata Dandan.

“Kita terus sosialisasikan bahwa tujuan kita bukan sekadar iuran, tapi memilah sampah dari rumah supaya bisa bermanfaat dan tidak banyak dibuang ke TPS,” tambahnya.

“Karena dari awal taglinenya ‘tidak dipilah pasti tidak diangkut’. Setelah itu diterapkan, akhirnya semua nurut. Terpaksa nurut,” sambung Dian.

Sebagai penutup, Dandan menegaskan bahwa selama manusia hidup dan berproduksi, sampah adalah keniscayaan. Yang bisa diubah adalah cara pandang terhadapnya.

“Selama hidup, manusia pasti memproduksi sampah. Sampai kapan pun itu tidak akan hilang. Karena itu kita harus berteman dengan sampah. Berteman dalam arti menjadikannya sesuatu yang menghasilkan dan punya nilai tambah,” pungkas Dandan.

Berita Terkait

News Update

Beranda 04 Feb 2026, 09:42 WIB

Jika Kebun Binatang Bandung Hilang, Apa yang Tersisa dari Kota Ini?

Tempat ini merupakan rangkaian panjang sejarah dan ungkapan cinta warga kota yang telah terbangun sejak satu abad lalu.
Pegunjung memanfaatkan Kawasan Kebun Binatang Bandung yang rindang dan sejuk untuk berkumpul dan makan bersama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 04 Feb 2026, 09:39 WIB

Aan Merdeka Permana Penulis Spesialis Tema Padjadjaran

Yayasan Kebudayaan Rancagé menetapkan sastrawan Sunda senior Aan Merdeka Permana sebagai peraih Hadiah Jasa 2026.
Buku-buku karya Aan Merdeka Permana. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 04 Feb 2026, 08:04 WIB

Ngabuburit dari Masa ke Masa

Ngabuburit di kota Bandung mengalami pergeseran nilai dan aktifitas serta cara melakukannya.
Masjid Al-Jabar di Kota Bandung. (Sumber: Pexels/Andry Sasongko)
Bandung 03 Feb 2026, 21:16 WIB

Misi Kemanusiaan dan Esensi CSR Berkelanjutan dalam Memulihkan Luka Bencana Cisarua

CSR berkelanjutan bukan hanya tentang memberi, tetapi tentang hadir dan tetap ada hingga masyarakat benar-benar mampu berdiri kembali di atas kaki sendiri.
Dalam skenario bencana sebesar Cisarua, kecepatan respons adalah kunci utama untuk menyelamatkan nyawa dan harapan. (Sumber: SANY Indonesia)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 19:40 WIB

Kisah Sentra Karangan Bunga Pasirluyu Bandung, Panen Rezeki saat Rajab dan Syaban

Jalan Pasirluyu Selatan Bandung berubah menjadi sentra karangan bunga. Bulan Rajab dan Syaban membawa lonjakan pesanan papan ucapan pernikahan dan hajatan.
Salah satu deretan toko bunga di Pasirluyu, Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 03 Feb 2026, 19:00 WIB

Info Ciumbuleuit, Homeless Media yang Hidup dari Kepercayaan Warga Sekitar

“Kalau sampai ada yang keberatan atau komplain, jujur saja bingung mau berlindung ke siapa. Kita kan nggak punya lembaga atau badan hukum,” tuturnya.
Pemilik dan pengelola akun Info Ciumbuleuit, Dio Rama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 18:19 WIB

UU ITE dan Ancaman Kebebasan Ekspresi: Menggugat Pelanggaran Asas Lex Certa

Menganalisis pelanggaran asas lex certa dalam UU ITE yang memicu chilling effect dan mengancam kebebasan berekspresi serta kualitas demokrasi di Indonesia.
Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 17:02 WIB

Lakon Kelaparan dan Kemiskinan Melalui Puasa Ramadan

Puasa itu mengajarkan menahan diri, zakat menyempurnakannya. Ia menumbuhkan kesadaran sosial dan kebahagiaan bagi sesama.
Ilustrasi puasa Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Abdullah Arif)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 16:33 WIB

Sejarah Pasteur Bandung, Jejak Peradaban Ilmu Pengetahuan di Kota Kembang

Kawasan Pasteur Bandung tumbuh dari pusat riset vaksin kolonial menjadi simpul penting ilmu kesehatan nasional yang jejaknya masih bertahan hingga kini.
Suasana di Jalan Pasteur, Kota Bandung. Salah satu titik lalu lintas yang selalu padat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 16:31 WIB

Hikayat Indische Partij, Partai Politik Pertama yang Lahir dari Bandung

Didirikan di Bandung pada 1912, Indische Partij menjadi organisasi politik pertama yang secara terbuka menuntut kemerdekaan penuh dari kekuasaan kolonial Belanda.
Logo Indische Partij.
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 15:13 WIB

Di Tengah Tekanan Zaman, Seni Menjadi Cara Bertahan

Di tengah kecemasan, kisah “Nihilist Penguin” bertemu tekanan hidup kota. Dari luka personal lahir Florist Project dan lagu “Cemas”, seni yang tak menggurui, tapi menemani manusia belajar bertahan.
Belajar dan menanamkan cinta pada anak-anak (Sumber: Arsip Penulis, Ekspedisi Nusantara Jaya 2016)
Bandung 03 Feb 2026, 12:52 WIB

Berlari Menjemput Cahaya Pendidikan: Jejak Kebaikan di Balik DH Run 2026

Di balik kemeriahan medali dan garis finis, DH Run 2026 membawa misi sosial yang menyentuh akar kehidupan.
Konferensi pers DH Run 2026 yang membawa misi sosial untuk menyentuh akar kehidupan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 12:43 WIB

Raih Hadiah Jasa Rancage, Aan M.P. Sebut KDM Tidak Senang Bantu Sastrawan Miskin

Aan Merdeka Permana, lahir di Bandung, 16 Novémber 1950 dipandang panitia pantas menerima Hadiah Jasa.
Aan Merdeka Permana, lahir di Bandung, 16 Novémber 1950 dipandang panitia pantas menerima Hadiah Jasa. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 11:11 WIB

Tema Ayo Netizen Februari 2026: Bandung Raya dan Bulan Puasa

Tema ini menjadi ajakan terbuka bagi para penulis Ayo Netizen untuk mengirim tulisan terbaik.
Ayo Netizen Ayobandung.id mengangkat tema "Bandung Raya dan Bulan Puasa: Tradisi, Ekonomi, dan Realita Saat Ini" untuk edisi Februari 2026. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan AI ChatGPT)
Bandung 03 Feb 2026, 10:58 WIB

Dari Kaki Lima ke Ruko Lantai Tiga: Strategi Awug Cibeunying Bertahan di Tengah Zaman

Rizky turut serta menjaga kualitas dan kuantitas awug supaya tetap terjaga meski pasang-surut perubahan zaman telah dihadapi bersama keluarga besarnya selama membangun bisnis ini.
Kios Awug Cibeunying. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 09:36 WIB

Kian Banyak Tertemper Kereta Api, Perlintasan Sebidang Titik Paling Mematikan

Setelah perlintasan sebidang dibangun jalan layang atau terowongan, ternyata kebijakan daerah sangat lemah.
Perlintasan sebidang di Cimindi yang sangat rawan. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Bandung 03 Feb 2026, 09:19 WIB

Digitalisasi Jejak Karbon: Menakar Teknologi Berkelanjutan dalam Layanan Pelanggan Singapore Airlines

Penumpang dan pelanggan kargo SIA dapat menghitung dan mengimbangi emisi karbon penerbangan mereka, baik sebelum maupun setelah terbang.
Maskapai Singapore Airlines. (Sumber: Singapore Air)
Beranda 03 Feb 2026, 07:12 WIB

Di Antapani, Komunitas Temu Tumbuh Menjadi Tempat Pulang bagi Percakapan yang Jujur

Nilai-nilai dalam kacamata tuntutan masyarakat inilah yang kemudian memantik kecenderungan rasa cemas manusia di masa kini.
Komunitas Temu Tumbuh membuka ruang diskusi yang aman dan nyaman untuk saling berbagi dan bertumbuh. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 02 Feb 2026, 19:47 WIB

Susah Payah Menjaga Tertib Bahasa Dicengkram Mesin Algoritma

Standar Bahasa Indonesia perlahan tidak lagi dibentuk oleh komunitas diskusi, melainkan oleh mesin berbasis data global.
Ilustrasi bahasa mesin yang menentukan algoritma. (Sumber: Sketsa oleh ChatGPT)
Ayo Netizen 02 Feb 2026, 17:43 WIB

Quo Vadis BKKBN dalam Kepungan Patologi Sosial

Jika fenomena YOLO, FOMO, dan FOPO dihubungkan, muncul gambaran yang lebih luas mengenai bagaimana komunikasi digital mempengaruhi kesehatan mental individu.
Ilustrasi perubahan perilaku generasi milenial dan Z. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)