Sampah Kota Bandung: Antara Program, Partisipasi Warga, dan Tantangan Kepemimpinan

3 menit baca
kurniawan abuwijdan
Ditulis oleh kurniawan abuwijdan diterbitkan
Tumpukan sampah di Pasar Gedebage. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar Putra)
Tumpukan sampah di Pasar Gedebage. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar Putra)

Masalah sampah bukanlah persoalan baru dan sepele. Ia adalah problem klasik yang terus hadir seiring dengan berlangsungnya kehidupan manusia. Dampaknya pun nyata dan luas, mulai dari persoalan kesehatan masyarakat, kerusakan lingkungan, hingga beban ekonomi yang kian membesar.

Di Kota Bandung, persoalan sampah berada pada level yang mengkhawatirkan. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup (DLH), produksi sampah warga Kota Bandung mencapai rata-rata sekitar 1.400 ton per hari. Sementara itu, kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti sebagai tumpuan utama memiliki daya tampung yang terbatas. Upaya penanganan melalui Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) serta sejumlah TPS di berbagai lokasi pun belum sepenuhnya mampu menjawab persoalan ini.

Faktanya, sistem yang ada saat ini hanya mampu menyerap sekitar 60–70 persen dari total sampah harian. Artinya, sekitar 30 persen sampah tidak terangkut ke TPA dan menumpuk di TPS. Kondisi ini memunculkan masalah baru karena setiap hari volume sampah terus bertambah tanpa penanganan tuntas.

Pemerintah Kota Bandung kini memfokuskan upaya pada pengurangan timbulan sampah baru melalui penambahan Kawasan Bebas Sampah (KBS). Kawasan ini ditargetkan mampu mengolah minimal 30 persen sampah yang dihasilkan di wilayahnya. Hingga saat ini, sebanyak 412 RW atau sekitar 25 persen dari total 1.597 RW di Kota Bandung telah ditetapkan sebagai Kawasan Bebas Sampah.

Jika target penambahan KBS dapat ditingkatkan hingga 700 kawasan sebagaimana rencana Pemkot Bandung pada akhir tahun 2025, maka penurunan penumpukan sampah baru diperkirakan akan cukup signifikan.

Upaya tersebut diperkuat dengan kebijakan insentif. Seperti dilansir dari sekitarbandung.com, Pemkot Bandung berencana meningkatkan bantuan dana RW dari semula Rp100 juta menjadi Rp200 juta per RW. Namun, bantuan ini diberikan dengan kriteria tertentu, di antaranya konsistensi dalam pengelolaan sampah berbasis warga melalui Program Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, dan Manfaatkan), serta keterkaitan dengan program pengentasan kemiskinan melalui pemberdayaan UMKM di tingkat RW.

"Gunung"sampah di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Dakota di Jl. Gunung Batu, Sukaraja, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung pada Jumat, 7 November 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
"Gunung"sampah di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Dakota di Jl. Gunung Batu, Sukaraja, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung pada Jumat, 7 November 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

Tambahan bantuan dana ini diharapkan mampu mendorong partisipasi aktif warga dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan bebas sampah, sekaligus membangun masyarakat yang lebih berdaya secara ekonomi melalui aktivitas UMKM.

Salah satu praktik unggulan dalam Kawasan Bebas Sampah adalah program magotisasi, yakni pengolahan sampah organik rumah tangga menggunakan larva Black Soldier Fly (BSF). Program ini menjadi relevan mengingat sekitar 40 persen sampah rumah tangga merupakan sampah organik. Larva BSF mampu mengurai sampah tersebut menjadi produk bernilai guna, seperti pupuk organik, sementara larvanya dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

Namun demikian, keberhasilan magotisasi sangat bergantung pada partisipasi masyarakat. Kunci utamanya terletak pada pemilahan sampah sejak dari hulu, yaitu di tingkat rumah tangga. Oleh karena itu, edukasi yang intensif dan berkesinambungan kepada masyarakat menjadi faktor krusial agar program ini berjalan optimal dan berkelanjutan.

Rencana program satu orang petugas pemilah sampah di setiap RW yang dicanangkan Wali Kota Bandung untuk tahun 2026 juga dinilai akan sangat membantu. Program ini diharapkan dapat memperkuat pemisahan sampah organik dan anorganik, sehingga memaksimalkan kinerja TPST, termasuk pengolahan sampah anorganik menjadi bahan bakar alternatif (Refuse Derived Fuel/RDF).

Baca Juga: Arsitektur di Era AI: Masa Depan atau Mimpi Buruk?

Meski berbagai program telah dan akan dijalankan, publik masih melihat bahwa penanganan dan pengolahan sampah tetap menjadi pekerjaan rumah besar bagi Kota Bandung. Dibutuhkan kepemimpinan Wali Kota dan Wakil Wali Kota yang kuat agar seluruh program tersebut tidak berjalan parsial, melainkan terintegrasi dalam satu strategi pengelolaan sampah kota yang utuh, dengan target yang jelas serta mekanisme evaluasi yang transparan.

Pada akhirnya, pengelolaan sampah Kota Bandung bukan semata soal teknologi dan metode. Lebih dari itu, ini adalah soal kepemimpinan yang konsisten dan berani mengambil keputusan jangka panjang. Dengan kepemimpinan yang kuat dan partisipasi masyarakat yang terus tumbuh, cita-cita Bandung sebagai Zero Waste City bukan sekadar slogan, melainkan dapat menjadi bukti nyata keberhasilan bersama. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)