Sampah Kota Bandung: Antara Program, Partisipasi Warga, dan Tantangan Kepemimpinan

kurniawan abuwijdan
Ditulis oleh kurniawan abuwijdan diterbitkan Senin 29 Des 2025, 15:07 WIB
Tumpukan sampah di Pasar Gedebage. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar Putra)

Tumpukan sampah di Pasar Gedebage. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar Putra)

Masalah sampah bukanlah persoalan baru dan sepele. Ia adalah problem klasik yang terus hadir seiring dengan berlangsungnya kehidupan manusia. Dampaknya pun nyata dan luas, mulai dari persoalan kesehatan masyarakat, kerusakan lingkungan, hingga beban ekonomi yang kian membesar.

Di Kota Bandung, persoalan sampah berada pada level yang mengkhawatirkan. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup (DLH), produksi sampah warga Kota Bandung mencapai rata-rata sekitar 1.400 ton per hari. Sementara itu, kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti sebagai tumpuan utama memiliki daya tampung yang terbatas. Upaya penanganan melalui Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) serta sejumlah TPS di berbagai lokasi pun belum sepenuhnya mampu menjawab persoalan ini.

Faktanya, sistem yang ada saat ini hanya mampu menyerap sekitar 60–70 persen dari total sampah harian. Artinya, sekitar 30 persen sampah tidak terangkut ke TPA dan menumpuk di TPS. Kondisi ini memunculkan masalah baru karena setiap hari volume sampah terus bertambah tanpa penanganan tuntas.

Pemerintah Kota Bandung kini memfokuskan upaya pada pengurangan timbulan sampah baru melalui penambahan Kawasan Bebas Sampah (KBS). Kawasan ini ditargetkan mampu mengolah minimal 30 persen sampah yang dihasilkan di wilayahnya. Hingga saat ini, sebanyak 412 RW atau sekitar 25 persen dari total 1.597 RW di Kota Bandung telah ditetapkan sebagai Kawasan Bebas Sampah.

Jika target penambahan KBS dapat ditingkatkan hingga 700 kawasan sebagaimana rencana Pemkot Bandung pada akhir tahun 2025, maka penurunan penumpukan sampah baru diperkirakan akan cukup signifikan.

Upaya tersebut diperkuat dengan kebijakan insentif. Seperti dilansir dari sekitarbandung.com, Pemkot Bandung berencana meningkatkan bantuan dana RW dari semula Rp100 juta menjadi Rp200 juta per RW. Namun, bantuan ini diberikan dengan kriteria tertentu, di antaranya konsistensi dalam pengelolaan sampah berbasis warga melalui Program Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, dan Manfaatkan), serta keterkaitan dengan program pengentasan kemiskinan melalui pemberdayaan UMKM di tingkat RW.

"Gunung"sampah di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Dakota di Jl. Gunung Batu, Sukaraja, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung pada Jumat, 7 November 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
"Gunung"sampah di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Dakota di Jl. Gunung Batu, Sukaraja, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung pada Jumat, 7 November 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

Tambahan bantuan dana ini diharapkan mampu mendorong partisipasi aktif warga dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan bebas sampah, sekaligus membangun masyarakat yang lebih berdaya secara ekonomi melalui aktivitas UMKM.

Salah satu praktik unggulan dalam Kawasan Bebas Sampah adalah program magotisasi, yakni pengolahan sampah organik rumah tangga menggunakan larva Black Soldier Fly (BSF). Program ini menjadi relevan mengingat sekitar 40 persen sampah rumah tangga merupakan sampah organik. Larva BSF mampu mengurai sampah tersebut menjadi produk bernilai guna, seperti pupuk organik, sementara larvanya dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

Namun demikian, keberhasilan magotisasi sangat bergantung pada partisipasi masyarakat. Kunci utamanya terletak pada pemilahan sampah sejak dari hulu, yaitu di tingkat rumah tangga. Oleh karena itu, edukasi yang intensif dan berkesinambungan kepada masyarakat menjadi faktor krusial agar program ini berjalan optimal dan berkelanjutan.

Rencana program satu orang petugas pemilah sampah di setiap RW yang dicanangkan Wali Kota Bandung untuk tahun 2026 juga dinilai akan sangat membantu. Program ini diharapkan dapat memperkuat pemisahan sampah organik dan anorganik, sehingga memaksimalkan kinerja TPST, termasuk pengolahan sampah anorganik menjadi bahan bakar alternatif (Refuse Derived Fuel/RDF).

Baca Juga: Arsitektur di Era AI: Masa Depan atau Mimpi Buruk?

Meski berbagai program telah dan akan dijalankan, publik masih melihat bahwa penanganan dan pengolahan sampah tetap menjadi pekerjaan rumah besar bagi Kota Bandung. Dibutuhkan kepemimpinan Wali Kota dan Wakil Wali Kota yang kuat agar seluruh program tersebut tidak berjalan parsial, melainkan terintegrasi dalam satu strategi pengelolaan sampah kota yang utuh, dengan target yang jelas serta mekanisme evaluasi yang transparan.

Pada akhirnya, pengelolaan sampah Kota Bandung bukan semata soal teknologi dan metode. Lebih dari itu, ini adalah soal kepemimpinan yang konsisten dan berani mengambil keputusan jangka panjang. Dengan kepemimpinan yang kuat dan partisipasi masyarakat yang terus tumbuh, cita-cita Bandung sebagai Zero Waste City bukan sekadar slogan, melainkan dapat menjadi bukti nyata keberhasilan bersama. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

kurniawan abuwijdan
Network Marketer dan Peternak Pemula

Berita Terkait

News Update

Beranda 11 Apr 2026, 08:51

JPO Berkarat dan Berlubang Membahayakan Pelajar di Batas Kota Bandung–Cimahi, Tanggung Jawab Siapa?

JPO di Jalan Amir Machmud rusak parah: lantai berlubang, berkarat, dan tanpa atap pelindung, membahayakan pejalan kaki terutama pelajar.

Pelejar berjalan di JPO di Jalan Amir Machmud, perbatasan Kota Bandung dan Cimahi, Jumat, 10 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 20:01

Antara Bandung yang Kubayangkan dan Kenyataan yang Kutemui

Bagi banyak orang, Bandung selalu punya tempat istimewa dalam imajinasi.

Jalan Asia-Afrika, depan Alun-Alun Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Suci Firda)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 18:23

WFH sebagai Cermin Budaya Kerja Aparatur

Hilangnya kehadiran fisik dalam WFH menantang organisasi untuk membangun sistem penilaian kerja yang berbasis output dan tanggung jawab.

Ilustrasi Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Diskominfo Depok)
Bandung 10 Apr 2026, 16:36

Mengenal Dongmoon Dimsum, Ikon Kuliner Baru di Pasar Cihapit yang Viral Lewat Varian Mentai

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum tetap kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung.

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ikon 10 Apr 2026, 15:17

Sejarah Istana Cipanas, Warisan Kolonial di Kaki Gunung Gede Pangrango

Istana Cipanas bermula dari rumah singgah abad ke-18, berkembang menjadi istana kepresidenan yang menyimpan jejak kolonial, perang, hingga keputusan penting negara

Lukisan Istana Cipanas, Cianjur, tahun 1880-1890-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:26

Jelajah Wisata Pangalengan dengan Pilihan Tempat Menginapnya

Pangalengan punya sejarah penginapan panjang, dari Berghotel hingga glamping modern di Rahong dan Situ Cileunca dengan nuansa alam yang menenangkan.

Muara Rahong Hills, salah satu glamping tempat menginap wisatawan di Pangalengan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:18

Panduan Wisata Gunung Guntur, "Semeru"-nya Jawa Barat dengan Panorama Spektakuler

Gunung Guntur menawarkan jalur berpasir terjal, panorama pegunungan luas, serta pengalaman mendaki unik di gunung berapi aktif dekat pusat Kota Garut.

Gunung Guntur dilihat dari kawasan pemandian Cipanas, Garut (Sumber: Wikimedia)
Beranda 10 Apr 2026, 09:29

Power of Ibu-ibu Cibogo Mengubah Sampah Jadi Gerakan Kolektif yang Berdampak Nyata

Power of Ibu-Ibu Cibogo mengubah pengelolaan sampah rumah tangga menjadi gerakan kolektif yang berdampak, menghadirkan solusi lingkungan sekaligus manfaat sosial dan ekonomi bagi warga.

Ibu-ibu di Cibogo, Kecamatan Sukajadi mengolah sampah rumah tangga yang memberikan perubahan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 08:30

Tren Rambut Lady Diana

Kehebohan para wanita Kota Bandung dari berbagai kalangan usia meniru gaya rambut Lady Diana saat tahun 1980-an

Lady Diana. (Sumber: Flickr | Foto: Joe Haupt)
Bandung 09 Apr 2026, 19:40

Urgensi Literasi Keuangan dan Akselerasi Sektor Riil demi Resiliensi Ekonomi Jawa Barat

Di tengah derasnya arus digitalisasi keuangan, Jawa Barat menghadapi tantangan besar: bagaimana memastikan inklusi keuangan berjalan selaras dengan literasi?

Ilustrasi. Di tengah derasnya arus digitalisasi keuangan, Jawa Barat menghadapi tantangan besar bagaimana memastikan inklusi keuangan berjalan selaras dengan literasi. (Sumber: Ayobiz.id/Gemini Generated)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 18:18

Asyiknya Berburu Koran Era 2000-an

Berburu koran tidak hanya mencari informasi, berita, ilmu pengetahuan, melainkan momentum bersejarah saat menerima (menjemput), ikhtiar, harapan dan kenyataan untuk terus belajar sepanjang hayat.

Aa Akil, anak kedua tengah asyik baca koran, Sabtu (4/4/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Wisata & Kuliner 09 Apr 2026, 16:40

Wisata Pantai Patimban, Pesisir Subang Utara yang jadi Pelabuhan Logistik

Pantai Patimban tawarkan sunset, kuliner laut, dan suasana santai, namun kini berubah sejak hadirnya Pelabuhan Internasional.

Pantai Patimban Subang. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 09 Apr 2026, 16:39

Beralih ke Motor Listrik, Ojol Hadapi Dilema Antara Hemat Biaya dan Keterbatasan Jarak

Peralihan ojol ke motor listrik menghadirkan efisiensi biaya, namun dibayangi tantangan jarak tempuh dan infrastruktur, memaksa pengemudi lebih cermat mengatur strategi kerja.

Rizki Ahmad sedang melakukan pengisian baterai motor listrik di Kantor Pos Ujung Berung Kota Bandung, pada Kamis, 9 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 15:02

4 Ide Tulisan Hari Besar Terkait Tema Ayonetizen April 2026: Kartini, Asia-Afrika, sampai Hari Puisi

Bulan April penuh dengan momentum yang bisa diubah jadi cerita.

Warga berwisata di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Minggu, 30 April 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 09 Apr 2026, 13:42

Menjembatani Kreativitas dan Regulasi: Menilik Tantangan Ekonomi Kreatif di Bandung

Pemerintah dan pelaku ekraf Bandung bedah regulasi & standar harga pengadaan dalam Ruang Dialog Ekraf guna dorong dampak ekonomi nyata.

Ilustrasi. Ekonomi kreatif (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 13:14

Dari Sampah Menjadi Penjernih Sungai

Mahasiswa Tel-U menggagas website edukasi Ecoenzyme untuk atasi banjir Bojongsoang, Kabupaten Bandung.

Ilustrasi banjir yang menggenang Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 12:03

Doktrin Pemikiran Manusia

Dalam konteks apapun, doktrin menjadikan sebuah pemikiran otak manusia menjadi lebih aktif dalam berbagai permasalahan.

Ilustrasi manusia. (Sumber: Pexels | Foto: beytlik)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 11:18

Acara Radio Legendaris Top Hits Pop Indonesia (THPI) dari Radio Ganesha Bandung

Di Bandung, salah satu acara yang paling ditunggu adalah Top Hits Pop Indonesia (THPI).

Daftar lagu Top Hits Pop Indonesia edisi Desember 1990 yang dimuat di surat kabar Suara Pembaruan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 09 Apr 2026, 09:55

Menjembatani Kesenjangan Internet: Antara Fiber, FWA, dan Harapan 5G

Kesenjangan akses internet di Indonesia masih tinggi, sehingga kombinasi fiber optik, 4G, 5G, dan FWA serta kolaborasi pemerintah dan operator jadi kunci pemerataan broadband.

Suasana Seminar Teknologi FTTH, FWA & Mobile Broadband di Aula Timur ITB Kampus Ganesa, yang membahas strategi pemerataan akses internet di tengah kesenjangan infrastruktur digital di Indonesia. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 09:54

Rambu dan Marka yang Tidak Dipelihara: Ancaman Sunyi di Jalanan Bandung

Rambu pudar, tertutup, dan marka hilang meningkatkan risiko kecelakaan di Bandung. Masalah ini menegaskan pentingnya pemeliharaan infrastruktur jalan.

Salah satu titik yang sering mengalami kemacetan parah di Kota Bandung, persimpangan lampu merah di Jalan Djunjunan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)