Setiap wilayah punya cara sendiri dalam menyambut Ramadan. Di tanah Sunda, bulan puasa bukan hanya soal ibadah, tetapi juga ruang hidup bagi bahasa. Sejumlah kosakata khas bermunculan, dipakai lintas generasi, dan membentuk lanskap kultural yang unik.
Menariknya, istilah-istilah ini tidak sekadar penanda waktu, melainkan cermin struktur sosial, kebiasaan kolektif, bahkan pergerakan ekonomi musiman.
Berikut lima istilah Sunda yang hampir selalu terdengar menjelang, selama, hingga akhir Ramadan.
1. Ngabuburit
Barangkali inilah istilah Sunda yang paling “naik kelas” menjadi kosakata nasional. Ngabuburit merujuk pada aktivitas menunggu waktu magrib menjelang berbuka puasa. Secara etimologis, istilah ini berakar dari ungkapan ngalantung ngadagoan burit, menunggu waktu sore.
Di kota-kota seperti Bandung dan Tasikmalaya, ngabuburit bukan lagi sekadar kegiatan santai. Ia telah menjelma menjadi fenomena sosial-ekonomi. Taman kota, alun-alun, hingga pusat kuliner dadakan ramai oleh pedagang takjil. Dalam perspektif ekonomi musiman, ngabuburit menciptakan temporary market, yakni pasar temporer dengan permintaan tinggi dalam rentang waktu sangat spesifik, yakni satu hingga dua jam sebelum magrib.
Secara budaya, ngabuburit adalah bentuk adaptasi masyarakat terhadap jeda waktu puasa. Secara ekonomi, ia menjadi momentum sirkulasi uang harian yang signifikan.
2. Ngabeubeurang
Jika ngabuburit identik dengan sore, maka ngabeubeurang berkaitan dengan siang hari. Berasal dari kata beurang (siang), istilah ini merujuk pada aktivitas mengisi waktu sejak pagi hingga menjelang sore selama berpuasa.
Ngabeubeurang sering dikaitkan dengan kegiatan produktif ringan: membaca, bekerja, belajar, atau sekadar berbincang. Dalam kultur Sunda, istilah ini mencerminkan kesadaran akan ritme waktu, bahwa puasa bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga tentang mengelola energi sepanjang hari.
Dari sudut pandang sosial, ngabeubeurang memperlihatkan bagaimana masyarakat membangun strategi adaptasi terhadap perubahan pola konsumsi dan aktivitas. Produktivitas siang hari selama Ramadan cenderung menurun di beberapa sektor, namun sektor informal (terutama persiapan kuliner) justru mulai bergerak sejak siang.
3. Lilikuran
Memasuki sepuluh hari terakhir Ramadan, masyarakat Sunda mengenal istilah lilikuran. Kata ini merujuk pada fase akhir bulan puasa yang identik dengan peningkatan ibadah dan persiapan Lebaran.
Secara kultural, lilikuran adalah masa transisi. Spiritualitas meningkat, tetapi aktivitas ekonomi juga memuncak. Pasar pakaian, kebutuhan rumah tangga, hingga jasa transportasi mengalami lonjakan permintaan. Dalam logika ekonomi, ini adalah fase peak season.
Menariknya, lilikuran bukan sekadar hitungan kalender. Ia adalah penanda psikologis bahwa Ramadan akan segera berakhir. Ada campuran rasa haru, semangat, sekaligus sibuk. Bahasa menangkap nuansa itu dalam satu kata.
4. Munggahan
Beberapa hari sebelum Ramadan, masyarakat Sunda mengenal tradisi munggahan. Berasal dari kata munggah (naik), istilah ini mengandung makna simbolik: menaikkan derajat spiritual sebelum memasuki bulan suci.
Praktiknya beragam. Ada yang berkumpul bersama keluarga besar, melakukan botram (makan bersama), hingga saling bermaafan. Di sejumlah daerah Jawa Barat, munggahan bahkan menjadi agenda komunal yang melibatkan warga satu kampung.
Secara sosial-ekonomi, munggahan memperkuat modal sosial. Pertemuan keluarga menciptakan solidaritas, sementara konsumsi bersama mendorong perputaran ekonomi lokal, dari pedagang bahan pangan hingga katering rumahan. Tradisi ini menunjukkan bahwa solidaritas budaya sering kali berjalan beriringan dengan dinamika ekonomi.
5. Papajar
Papajar, atau mapag pajar, berarti menjemput fajar. Tradisi ini dilakukan menjelang Ramadan sebagai simbol kesiapan menyambut waktu puasa. Di beberapa wilayah, papajar diisi dengan makan bersama atau doa kolektif sebelum memasuki bulan suci.
Jika munggahan lebih bernuansa kekeluargaan, papajar memiliki dimensi simbolik yang kuat: menyongsong terang setelah gelap. Ia menandai ambang waktu, dari keseharian biasa menuju disiplin spiritual Ramadan.
Dalam perspektif kebudayaan, papajar adalah ritual peralihan (rite of passage). Ia menegaskan bahwa Ramadan bukan sekadar perubahan tanggal, tetapi perubahan suasana batin dan tata hidup.
Baca Juga: Viaduct: Landmark Kota Bandung dan Kisah Cinta Soekarno
Kelima istilah ini memperlihatkan bagaimana bahasa Sunda menjadi arsip musiman Ramadan. Ia merekam ritme waktu (ngabeubeurang, ngabuburit), fase spiritual (lilikuran), serta tradisi kolektif (munggahan, papajar). (*)
