Dari Ngabeubeurang sampai Lilikuran Ramadan di Tatar Sunda

Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan Minggu 15 Feb 2026, 15:22 WIB
Berikut lima istilah Sunda yang hampir selalu terdengar menjelang, selama, hingga akhir Ramadan. (Sumber: Ilusrtasi dibuat dengan ChatGPT)

Berikut lima istilah Sunda yang hampir selalu terdengar menjelang, selama, hingga akhir Ramadan. (Sumber: Ilusrtasi dibuat dengan ChatGPT)

Setiap wilayah punya cara sendiri dalam menyambut Ramadan. Di tanah Sunda, bulan puasa bukan hanya soal ibadah, tetapi juga ruang hidup bagi bahasa. Sejumlah kosakata khas bermunculan, dipakai lintas generasi, dan membentuk lanskap kultural yang unik.

Menariknya, istilah-istilah ini tidak sekadar penanda waktu, melainkan cermin struktur sosial, kebiasaan kolektif, bahkan pergerakan ekonomi musiman.

Berikut lima istilah Sunda yang hampir selalu terdengar menjelang, selama, hingga akhir Ramadan.

1. Ngabuburit

Barangkali inilah istilah Sunda yang paling “naik kelas” menjadi kosakata nasional. Ngabuburit merujuk pada aktivitas menunggu waktu magrib menjelang berbuka puasa. Secara etimologis, istilah ini berakar dari ungkapan ngalantung ngadagoan burit, menunggu waktu sore.

Di kota-kota seperti Bandung dan Tasikmalaya, ngabuburit bukan lagi sekadar kegiatan santai. Ia telah menjelma menjadi fenomena sosial-ekonomi. Taman kota, alun-alun, hingga pusat kuliner dadakan ramai oleh pedagang takjil. Dalam perspektif ekonomi musiman, ngabuburit menciptakan temporary market, yakni pasar temporer dengan permintaan tinggi dalam rentang waktu sangat spesifik, yakni satu hingga dua jam sebelum magrib.

Secara budaya, ngabuburit adalah bentuk adaptasi masyarakat terhadap jeda waktu puasa. Secara ekonomi, ia menjadi momentum sirkulasi uang harian yang signifikan.

2. Ngabeubeurang

Jika ngabuburit identik dengan sore, maka ngabeubeurang berkaitan dengan siang hari. Berasal dari kata beurang (siang), istilah ini merujuk pada aktivitas mengisi waktu sejak pagi hingga menjelang sore selama berpuasa.

Ngabeubeurang sering dikaitkan dengan kegiatan produktif ringan: membaca, bekerja, belajar, atau sekadar berbincang. Dalam kultur Sunda, istilah ini mencerminkan kesadaran akan ritme waktu, bahwa puasa bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga tentang mengelola energi sepanjang hari.

Dari sudut pandang sosial, ngabeubeurang memperlihatkan bagaimana masyarakat membangun strategi adaptasi terhadap perubahan pola konsumsi dan aktivitas. Produktivitas siang hari selama Ramadan cenderung menurun di beberapa sektor, namun sektor informal (terutama persiapan kuliner) justru mulai bergerak sejak siang.

3. Lilikuran

Memasuki sepuluh hari terakhir Ramadan, masyarakat Sunda mengenal istilah lilikuran. Kata ini merujuk pada fase akhir bulan puasa yang identik dengan peningkatan ibadah dan persiapan Lebaran.

Secara kultural, lilikuran adalah masa transisi. Spiritualitas meningkat, tetapi aktivitas ekonomi juga memuncak. Pasar pakaian, kebutuhan rumah tangga, hingga jasa transportasi mengalami lonjakan permintaan. Dalam logika ekonomi, ini adalah fase peak season.

Menariknya, lilikuran bukan sekadar hitungan kalender. Ia adalah penanda psikologis bahwa Ramadan akan segera berakhir. Ada campuran rasa haru, semangat, sekaligus sibuk. Bahasa menangkap nuansa itu dalam satu kata.

4. Munggahan

Beberapa hari sebelum Ramadan, masyarakat Sunda mengenal tradisi munggahan. Berasal dari kata munggah (naik), istilah ini mengandung makna simbolik: menaikkan derajat spiritual sebelum memasuki bulan suci.

Praktiknya beragam. Ada yang berkumpul bersama keluarga besar, melakukan botram (makan bersama), hingga saling bermaafan. Di sejumlah daerah Jawa Barat, munggahan bahkan menjadi agenda komunal yang melibatkan warga satu kampung.

Secara sosial-ekonomi, munggahan memperkuat modal sosial. Pertemuan keluarga menciptakan solidaritas, sementara konsumsi bersama mendorong perputaran ekonomi lokal, dari pedagang bahan pangan hingga katering rumahan. Tradisi ini menunjukkan bahwa solidaritas budaya sering kali berjalan beriringan dengan dinamika ekonomi.

5. Papajar

Papajar, atau mapag pajar, berarti menjemput fajar. Tradisi ini dilakukan menjelang Ramadan sebagai simbol kesiapan menyambut waktu puasa. Di beberapa wilayah, papajar diisi dengan makan bersama atau doa kolektif sebelum memasuki bulan suci.

Jika munggahan lebih bernuansa kekeluargaan, papajar memiliki dimensi simbolik yang kuat: menyongsong terang setelah gelap. Ia menandai ambang waktu, dari keseharian biasa menuju disiplin spiritual Ramadan.

Dalam perspektif kebudayaan, papajar adalah ritual peralihan (rite of passage). Ia menegaskan bahwa Ramadan bukan sekadar perubahan tanggal, tetapi perubahan suasana batin dan tata hidup.

Baca Juga: Viaduct: Landmark Kota Bandung dan Kisah Cinta Soekarno

Kelima istilah ini memperlihatkan bagaimana bahasa Sunda menjadi arsip musiman Ramadan. Ia merekam ritme waktu (ngabeubeurang, ngabuburit), fase spiritual (lilikuran), serta tradisi kolektif (munggahan, papajar). (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 20 Mei 2026, 15:21

Profil Dr. Dewi Turgarini: Pionir Wisata Gastronomi dan Pelestari Warisan Budaya Indonesia

Dalam diskursus pariwisata kontemporer di Indonesia, Dr. Dewi Turgarini, S.S., MM.Par., berdiri sebagai figur sentral yang mendefinisikan ulang makna kuliner tradisional.

Dr. Dewi Turgarini, S.S., MM.Par., figur sentral yang mendefinisikan ulang makna kuliner tradisional. (Sumber: UPI)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 11:38

Inflasi Mengganas: Pilih Menabung Sampai Bonyok atau Berutang Biar Jadi Bos?

Memegang uang tunai terlalu lama di dalam tabungan adalah sebuah kerugian karena nilainya menyusut.

Ilustrasi uang tunai rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 10:13

Hadiah Kecil untuk Lembang (Lembangku Sayang, Lembangku Malang)

Untuk melahirkan rasa sayang dan kepedulian itu maka, marilah mengenal Lembang lebih dekat.

Para pemuda yang tergabung dalam komunitas pecinta budaya Lembang mengikuti tur sejarah Lembang untuk meningkatkan kesadaran para pemuda. (Sumber: Dokumentasi Indra Riyadi)
Beranda 20 Mei 2026, 09:39

Menjaga Damai dan Bahagia para Oma hingga Tuhan Memanggilnya

Panti Nazareth di Bandung bukan sekadar tempat tinggal lansia, tetapi ruang untuk menemani para oma menjalani masa tua dengan hangat.

Yunanth, staf administrasi dan bagian umum di Panti Nazareth. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 08:51

Molornya Acara Nobar 'Pesta Babi': Pilih Bertahan atau Pergi

Untuk peduli dan mengajak banyak orang peduli dengan isu-isu krusial dan besar.

Bagaimana mungkin kita mengajak orang lain untuk peduli kepada mereka yang diperlakukan semena-mena. Sementara dengan orang terdekat kita tidak peduli dengan waktunya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 05:35

Tamasya ke Pantai Pasir Putih Pangandaran, Surga Tersembunyi di Balik Hutan Pananjung

Tersembunyi di balik hutan Pananjung, Pantai Pasir Putih Pangandaran dikenal dengan air jernih, terumbu karang, dan suasana yang lebih sunyi.

Pantai Pasir Putih Pangandaran.
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 03:00

Tamasya Bukit Strawberry Lembang, Bucket List Wisata Panorama Perbukitan di Bandung Barat

Panduan wisata Bukit Strawberry Lembang lengkap: tiket masuk, petik strawberry, wahana keluarga, glamping, kuliner, hingga waktu terbaik berkunjung.

Bukit Strawberry Lembang.
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 20:05

Bertahan dari Stereotipe 'Perempuan Belum Menikah'

Seberdaya apapun seorang perempuan tapi jika belum menikah, mereka seringkali dianggap tidak cukup lengkap hidup di tengah masyarakat.

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Fanny Hariadi)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 17:52

Eksistensialisme Mahasiswa Zaman Now: Daya Nalar Mengikis, yang Penting Eksis!

Menurunnya daya nalar adalah lampu kuning bagi masa depan.

Ilustrasi mahasiswa. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Magang Foto/Habib Riyadhi A.S)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 17:35

Panduan Berkunjung ke Keraton Kanoman Cirebon, Jejak Kesultanan Zaman Baheula

Keraton Kanoman Cirebon menawarkan wisata sejarah, museum pusaka, dan tradisi kesultanan yang masih bertahan di tengah hiruk-pikuk pasar kota tua.

Gedung Gajah Mungkur di kompleks Keraton Kanoman CIrebon. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 19 Mei 2026, 16:25

Bagi Wagino, Menjaga Buku Sama Artinya dengan Menjaga Harapan Orang untuk Belajar

Di tengah budaya digital, Wagino M Putra tetap menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, dan percaya membaca adalah pondasi penting bagi generasi muda.

Wagino M Putra tetap setia menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, sambil meyakini bahwa buku tidak akan tergantikan oleh layar ponsel. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 19 Mei 2026, 16:25

Digitalisasi yang Tanpa Sadar Mendongkrak Kenaikan Kelas UMKM Cikopi Mang Eko

Inilah sisi menarik lain dari Cikopi Mang Eko yang jarang diceritakan, tentang peran vital digitalisasi yang tanpa sadar telah mendongkrak 'UMKM Naik Kelas'.

Muchtar Koswara, pemiliki Cikopi Mang Eko,  di Jalan Golf Dalam, Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 15:27

Menolak Lupa Mei 98: Kini Indonesia Cemas akan Rupiah Kian Melorot

Jika pemerintah terus abai, krisis kepercayaan publik yang meruntuhkan Orde Baru bukan tidak mungkin akan terulang kembali.

Massa membakar kursi dan benda lainnya saat kerusuhan Mei 1998 di Jakarra. (Sumber: Publication of the Indonesian government without copyright notice)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 14:53

Panduan Jelajah Wisata Lembang Bandung, Iteneray Liburan Pilihan Destinasi Favorit

Jelajahi wisata favorit Lembang seperti Farmhouse, Floating Market, The Lodge Maribaya, hingga Curug Maribaya lengkap dengan tips waktu kunjungan terbaik.

Farmhouse Susu Lembang. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ikon 19 Mei 2026, 14:05

Jembatan BBS, Dari Muara Sampah Sampai Jadi Tempat Nongkrong

Jembatan BBS di Bandung Barat dikenal sebagai spot nongkrong estetik di atas Citarum, meski kawasan ini juga menjadi tempat penumpukan sampah.

Jembatan Babakan Sapan (BBS) di Bandung Barat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 13:44

Dari Pesisir Lasem hingga Jadi Maestro Kuliner di Bandung: Mengenang Dedikasi Julie Sutarjana

Julie Sutarjana pernah melewati "masa sulit" perjuangan ekonomi di Bandung.

Julie Sutarjana. (Sumber: Instagram | Foto: kedainyonyarumah.bdg)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 11:49

Untuk Bertahan Jangan jadi Manusia Polos di Bandung

Bertahan bukan tentang bisa makan dan memiliki pekerjaan saja melainkan bertahan dari segala tindak kriminalitas dan modus penipuan yang terjadi di ruang publik di Kota Bandung.

Ilustrasi rawan modus penipuan di ruang publik di Kota Bandung (Sumber: AI)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 10:36

Bangkit di Kota Hujan: Dari PHK hingga Peluang Baru

Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, menjadi perjuangan nyata bagi warga Bandung di tengah badai PHK.

Kota Hujan di Bandung. (Sumber: Humas Kota Bandung)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 09:11

Mengapa Kasus Ban Truk Lepas Terus Berulang?

Kasus ban truk lepas yang terus berulang menunjukkan pentingnya perawatan kendaraan, inspeksi rutin, dan penguatan budaya keselamatan transportasi jalan.

Dua gerobak pedagang di Kawasan Simpang DAM, Kota Batam, hancur dihantam ban truk pengangkut tanah yang lepas pada Senin (30/6/2025). (Sumber: Youtube/Official UTV)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 08:10

Syukur, Takabur, dan Kufur

Dari momen sederhana itu tersimpan harapan agar langkah kecil hari ini menjadi motivasi untuk terus mencintai Al-Qur’an, menjaganya dalam ingatan, dan menghidupkannya dalam keseharian.

Di balik kelancaran menghafal hingga 5 juz para murid hari ini, Sabtu (16/6/2026) ada komitmen dan disiplin kuat dalam menjaga rutinitas. (Sumber: Tangkap layar Instagram @sdialamanahbdg)