BARANGKALI ketika sang arsitek Belanda A.F. Albers & R. De Wall membangun Viaduct (jembatan layang) pada 1939 ia menyisipkan kata “rindu” pada karya desainnya. Sehingga. bangunan bersejarah yang menggabungkan gaya Neo-klasik dan Art Deco ini selalu membuat orang-orang yang melewatinya rindu untuk kembali dan kini menjelma menjadi landmark Kota Bandung.
Sebenarnya rencana pembangunan Viaduct sudah ada sejak 1919. Namun, seperti banyak rencana besar lainnya, Viaduct Suniaraja gagal terwujud. Sebab, jembatan beton ini bukan sekadar penghubung rel, tetapi juga sebagai simbol bagaimana kota ini berbenah besar-besaran saat dipersiapkan menjadi calon ibu kota Hindia Belanda.
Menjelang awal abad ke-20, Bandung memang dipoles habis-habisan. Gedung-gedung megah berdiri, jalan-jalan dibuka, dan jaringan kereta api diperbarui. Di antara rencana itu, terselip gagasan membangun Viaduct yang melintasi Sungai Cikapundung sekaligus boulevard penghubung Jalan Suniaraja, Perintis Kemerdekaan, dan Kebon Jukut.
Saat saya bervakansi ke Bandung--jika kebetulan naik motor lewat Viaduct--biasanya saya selalu menyempatkan diri untuk berhenti di pinggir jalan dan mencari tempat untuk memarkir motor, menatap ke atas--berharap di atas sana akan ada kereta api lewat.

Di Viaduct banyak view pemandangan indah: jembatan kereta api di atas jalan--apalagi jika kebetulan ada kereta lewat—membuat mata kita tak akan berkedip melihat kereta api lewat hingga ekornya menghilang. Suaranya khas, bergemuruh yang lama-lama menghilang.
Viaduct menghubungkan Jalan Suniaraja dengan Jalan Braga. Di arah baratnya ada Jalan Kebon Jukut yang nyambung ke Stasiun Bandung dan Gedung Pakuan. Di arah timurnya ada Jalan Perintis Kemerdekaan yang nyambung ke Balai Kota.
Setiap Minggu pagi, Masjid Persis di dekatnya selalu menggelar pengajian subuh. Saking banyaknya jemaah hingga meluber ke jalan karena tak tertampung di dalam masjid. Konon, di belakang masjid Persis ini--sebelum ada Viaduct--ada perkampungan tempat rumah orangtua Inggit Garnasih--istri pertama presiden ke 1 RI, Ir. Soekarno--tinggal. “Rumah itu tempat menikahnya Soekarno dengan Inggit,” ungkap seorang sejarawan.
Di sekitar daerah tersebut pun ada Jalan yang cukup pendek yang dinamakan Jalan Viaduct. yang menghubungkan Viaduct ke Jalan Braga.
Baca Juga: Haji Oma: Napas Terakhir Keramik Kiaracondong
Di arah baratnya juga ada Patung Laswi dan Tentara Pelajar, ada Tugu Lokomotif, ada Kantor PT KAI yang arsitekturnya klasik, dan Gedung Indonesia Menggugat yang punya sejarah panjang. Sementara di bawah ada Sungai Cikapundung yang membelah Kota Bandung. Airnya mengalir ke selatan meskipun tidak bersih.
Karena banyak view yang bagus, tak heran Viaduct dijadikan salah satu tempat syuting sinetron “Preman Pensiun”. Dalam sinetron ini, Viaduct menjadi markas pencopet Bandung, Saef dan kawanannya. Bisa jadi, sebelum direnovasi oleh pemerintah Kota Bandung, Viaduct dulunya memang markas copet.
Viaduct merupakan tiang jembatan yang jaraknya berdekatan. Kata viaduc berasal dari bahasa Latin yang berarti 'menyeberang jalan ke satu arah'. Di Bandung, Viaduct ada dua. Viaduct yang pertama di Pasirkaliki dibangun pada 1890-an. Yang kedua, di Jalan Kebon Jukut, dibangun pada 1939. Viaduct yang paling terkenal ada di Kebon Jukut ini. (*)
