Cekungan Bandung: Catatan tentang Kota Kreatif yang Berdiri di Tengah Ancaman Geologis dan Minimnya Mitigasi

4 menit baca
Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan
Titi Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Titi Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Sore itu, di Selasar Sunaryo Art Space, Dago, T. Bachtiar tidak sedang berbicara tentang seni. Ia berbicara tentang tanah yang kita pijak—tanah yang, menurutnya, menyimpan sejarah geologis sekaligus risiko yang kerap diabaikan.

Di hadapan para peserta Bandung Review #006, ia membuka pembicaraan dengan satu kalimat yang mengubah cara pandang terhadap kota ini.

“Bandung ini bekas danau. Sekitar 90 ribu tahun lalu, letusan Gunung Sunda membendung aliran Sungai Citarum, membentuk danau besar yang perlahan mengering. Endapan lumpur dan material vulkanik mengisi cekungan ini. Di atas endapan itulah kita membangun rumah, jalan, gedung, dan kehidupan.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih berat.

“Di beberapa titik, endapan lumpurnya bisa mencapai 75 meter, bahkan lebih dari 100 meter. Di atasnya mungkin hanya ada urugan beberapa meter. Jadi kalau kita bicara tentang fondasi kota, sebenarnya kita sedang berdiri di atas material yang sangat lunak.”

Ruang diskusi mendadak terasa lebih sunyi. Pernyataan itu mengandung guncangan yang tidak sederhana. Bachtiar tidak sedang menakut-nakuti. Ia berbicara tentang konsekuensi ilmiah.

“Kalau gempa terjadi di wilayah berbatuan keras, getarannya mungkin sekian. Tapi kalau gelombang gempa masuk ke wilayah dengan endapan lunak seperti Cekungan Bandung, getarannya bisa diperbesar. Jadi bukan hanya gempa yang jadi persoalan, tapi bagaimana tanah ini merespons gempa.”

Untuk menjelaskan, ia memberi ilustrasi sederhana.

“Coba isi wadah dengan pasir dan air, letakkan miniatur rumah di atasnya, lalu goyangkan. Air akan naik ke permukaan, tanah bisa ambles. Itu gambaran sederhana tentang tanah yang jenuh air dan lunak.”

Risiko ini bukan sekadar teori. Bachtiar menyoroti infrastruktur vital yang kita gunakan sehari-hari, salah satunya jalan tol. Ia mengingatkan bahwa jalur Sesar Lembang memotong jalur bebas hambatan tersebut.

“Bagaimana kalau gempa terjadi saat kendaraan melaju 100 kilometer per jam, lalu jalannya tiba-tiba patah atau naik-turun? Kita belum punya panduan mitigasi atau simulasi untuk itu,” ujarnya, dengan nada khawatir.

Kekhawatiran Bachtiar melampaui persoalan teknis tanah. Ia juga menyoroti bagaimana kita kerap mengabaikan “alarm” yang diwariskan leluhur melalui nama tempat. Nama seperti Muril (pusing, berputar) atau Ngalembang (air tergenang) sejatinya adalah catatan bencana masa lalu yang kini tertimbun perumahan mewah.

Ia lalu mengulang frasa yang kerap ia tekankan, baik dalam pemaparan maupun saat doorstop.

“Banjir itu bom waktu. Gempa juga bom waktu. Kita ini hidup di cekungan yang menyimpan banyak potensi risiko, tapi sering kali merasa aman-aman saja.”

Rasa aman semu inilah yang, menurutnya, justru mengancam. Persoalan terbesar bukan semata kondisi geologis, melainkan kesadaran kolektif.

“Kalau ditanya apakah kita sudah hidup harmonis dengan kondisi alam Cekungan Bandung? Belum. Sangat jauh. Banyak orang merasa tidak ada apa-apa. Padahal rasa aman semu itu berbahaya.”

Ia mengaku kerap dianggap “menakut-nakuti” ketika berbicara soal risiko.

“Tapi saya tidak sedang menakut-nakuti. Saya hanya mengingatkan. Harmoni bukan berarti bebas dari ancaman. Harmoni itu tahu ancaman, lalu menyesuaikan diri.”

Baginya, harmoni berarti adaptasi: rumah yang dirancang tahan gempa, ruang publik dengan penanda evakuasi yang jelas, serta latihan berkala yang bukan sekadar formalitas.

“Mitigasi itu kehormatan,” katanya tegas. “Karena kita menghargai nyawa. Satu nyawa pun tidak bisa dianggap kecil.”

Selama ini, Bachtiar telah berkeliling menyampaikan pesan serupa ke komunitas, sekolah, hingga forum pemerintah. Pengetahuan, menurutnya, sebenarnya sudah tersebar.

“Tapi pengetahuan tidak boleh berhenti di tahap tahu. Harus jadi tindakan. Harus jadi program kerja. Kalau tidak, hanya jadi bahan diskusi.”

Ia juga menyinggung rencana tata ruang wilayah yang sering tampak indah sebagai dokumen administratif, tetapi lemah dalam praktik. Pembangunan tetap merambah zona rawan demi estetika pemandangan.

Karena itu, baginya, jawaban tercepat saat ini bukan menunggu birokrasi, melainkan inisiatif warga. Kemampuan komunitas mengenali tanda alam dan saling terhubung menjadi kunci pertahanan utama.

Ia memberi contoh sederhana: apakah warga tahu apa yang harus dilakukan ketika gempa terjadi di jalan tol? Apakah tahu harus menepi, mematikan mesin, dan menjauh dari kendaraan?

Bandung, katanya, bahkan belum memiliki buku panduan praktis tinggal di kota rawan bencana seperti di Jepang.

“Kita ini tinggal di cekungan, di wilayah dengan sejarah letusan dan patahan aktif. Tapi literasi kebencanaan kita masih minim.”

Di tengah kompleksitas itu, solusi yang ia tawarkan justru sederhana.

“Tanam pohon.”

Bagi Bachtiar, pohon bukan sekadar elemen lanskap, melainkan titik kumpul alami saat darurat.

“Kalau gempa, orang bingung mau lari ke mana. Kenapa tidak sepakati saja satu pohon besar sebagai titik kumpul?”

Latihan pun harus berulang.

“Simulasi tidak bisa sekali lalu selesai. Harus terus-menerus, supaya refleks terbentuk.”

Di akhir pemaparannya, ia mengingatkan satu fakta yang sulit diabaikan.

“Berapa juta orang hidup di dasar cekungan ini. Kita membangun kota kreatif, kota pendidikan, kota wisata. Tapi secara geologis, kita tetap cekungan. Kita tetap wilayah tangkapan air dengan sejarah panjang letusan dan gempa.”

Sore itu, Bandung tampak tenang. Tidak ada getaran, tidak ada retakan. Lalu lintas tetap padat, kafe tetap ramai.

Namun di bawah beton dan aspal, tersimpan endapan lumpur puluhan ribu tahun yang menjadi fondasi kehidupan sekaligus potensi risiko.

Pertanyaannya bukan lagi apakah ancaman itu ada.

Pertanyaannya adalah: apakah kita benar-benar siap hidup harmonis dengan cekungan yang kita tinggali?

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 16 Okt 2026, 20:03

KDM dan Tantangan Mengubah Empati Menjadi Kebijakan

Pemimpin dengan skor empati tinggi bisa berhasil ketika mereka membangun institusi yang mampu menerjemahkan empati menjadi kebijakan yang bermakna.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 18:00

Pengalaman Memandu SMP Atirah Makassar #1

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin.

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:57

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta.

Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:42

Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie mengulas perjalanan Benny Soebardja dan perannya dalam membentuk sejarah rock progresif Indonesia.

Benny Soebardja: Perjalanan Sang Godfather Rock Progresif Indonesia (Sumber: Zuhair Alyafie)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 15:21

Peran Bank Perekonomian Rakyat Mencegah Jerat Rentenir di Bandung

Tujuan utama perbankan daerah bukan hanya menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Keberadaannya menjaga martabat ekonomi keluarga di Bandung.

Ilustrasi pentingnya peran Bank Perekonomian Rakyat di Kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 13:58

Cerita Perjalanan Menuju Palimanan dan Belajar Keberanian dari Lapak Baca Buku Gratis Cirebon

Kegiatan membuka lapak untuk membaca buku gratis mulai hadir di beberapa kota untuk meningkatkan minat literasi, begitu juga dengan Kota Cirebon.

Baca Buku Gratis di Alun-Alun Palimanan Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 11:07

Jalur Banjaran–Pangalengan Seringkali Padat: Mengapa Kemacetan Terjadi?

Kemacetan di jalur Banjaran–Pangalengan menjadi perhatian karena jalur ini digunakan oleh warga untuk beraktivitas sehari-hari sekaligus menjadi akses menuju kawasan wisata.

Dokumentasi kemacetan di daerah Pasar Banjaran.
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 10:07

SKS: Kebiasaan Buruk atau Mekanisme Bertahan Mahasiswa?

Tugas menumpuk dan tenggat mendekat membuat mahasiswa begadang demi menyelesaikan pekerjaan. Apakah SKS sekadar kebiasaan buruk atau cara bertahan di tengah tuntutan akademik?

night study (Sumber: pexels.com | Foto: Bikram Bezbaruah)
Bandung 15 Okt 2026, 19:59

Industri Hiburan Bandung Masih Bergelora, Playlist Rewind 2026 Jadi Bukti Eksistensi Kota Musik

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026.

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 17:57

Para Insinyur Planologi, Arsitektur dan Sipil Terkemuka Yang Terlibat Pembangunan Kota Bandung dan Cimahi (Bagian 1)

Kisah insinyur planologi, arsitektur dan sipil terkemuka dalam membangun Bandung dan Cimahi. Temukan jejak sejarah, inovasi tata kota dan mahakarya ikonis mereka di sini!

Lukisan cat air Gedung Sate (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Bandung 15 Okt 2026, 16:41

Menolak Lupa Rasa Rumah, 11 Tahun Warung Kopi Imah Babaturan Merawat Hangatnya Bandung

Tepat pada 15 Oktober 2026, warung kopi dan rumah makan, yakni Warung Kopi Imah Babaturan yang bersemayam di jantung Kota Bandung ini merayakan hari jadinya yang ke-11.

Pemilik Warung Kopi Imah Babaturan, yakni Mohammad Nurul Hudha dan sang istri, Anggia Bonyta. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:48

Relasi Santri dengan Indonesia

Refleksi Hari Santri Nasional 2026: menelusuri jejak Resolusi Jihad, peran ulama, dan perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga hubungan santri dan negara.

Relasi Santri dengan Indonesia (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:09

Ketika Pertemanan Punya Target Harian: Terhubung atau Sekadar Menjaga Api Streak TikTok?

Pernah takut api streak TikTok dengan teman terputus? Kebiasaan ini bisa menjaga komunikasi, tetapi juga terasa seperti kewajiban harian. Apakah kita benar-benar terhubung atau sekadar menjaga angka?

Fitur api streak TikTok bisa menjadi cara menyenangkan untuk menjaga komunikasi.
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:03

Pardoks 'Tidak Ada Bukti' dalam Kasus Pelecehan Seksual di Unpas

Data menunjukkan bahwa laporan palsu -- atau bahkan fitnah -- dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus sangat rendah, sementara underreporting sangat tinggi. Apa artinya?

Aksi mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 12:03

Mengenal Emma Poeradiredja dan Jejak Politik Perempuan Sunda

Emma Peoradiredja, seorang tokoh perempuan sunda yang membukakan jalan berpolitik untuk perempuan di tanah sunda

Emma Poeradiredja
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 22:06

Bandung dan Cirebon Sama-Sama Minim Penerangan Lampu Jalanan

Penerangan jalan umum di wilayah Jawa Barat masih sangat minim perhatian sehingga kondisi ini bisa mengakibatkan potensi kecelakaan bagi pengguna kendaraan.

Penerangan Jalan Ahmad Yani-Pantura Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)