Cekungan Bandung: Catatan tentang Kota Kreatif yang Berdiri di Tengah Ancaman Geologis dan Minimnya Mitigasi

Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan Sabtu 14 Feb 2026, 12:36 WIB
Titi Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Titi Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Sore itu, di Selasar Sunaryo Art Space, Dago, T. Bachtiar tidak sedang berbicara tentang seni. Ia berbicara tentang tanah yang kita pijak—tanah yang, menurutnya, menyimpan sejarah geologis sekaligus risiko yang kerap diabaikan.

Di hadapan para peserta Bandung Review #006, ia membuka pembicaraan dengan satu kalimat yang mengubah cara pandang terhadap kota ini.

“Bandung ini bekas danau. Sekitar 90 ribu tahun lalu, letusan Gunung Sunda membendung aliran Sungai Citarum, membentuk danau besar yang perlahan mengering. Endapan lumpur dan material vulkanik mengisi cekungan ini. Di atas endapan itulah kita membangun rumah, jalan, gedung, dan kehidupan.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih berat.

“Di beberapa titik, endapan lumpurnya bisa mencapai 75 meter, bahkan lebih dari 100 meter. Di atasnya mungkin hanya ada urugan beberapa meter. Jadi kalau kita bicara tentang fondasi kota, sebenarnya kita sedang berdiri di atas material yang sangat lunak.”

Ruang diskusi mendadak terasa lebih sunyi. Pernyataan itu mengandung guncangan yang tidak sederhana. Bachtiar tidak sedang menakut-nakuti. Ia berbicara tentang konsekuensi ilmiah.

“Kalau gempa terjadi di wilayah berbatuan keras, getarannya mungkin sekian. Tapi kalau gelombang gempa masuk ke wilayah dengan endapan lunak seperti Cekungan Bandung, getarannya bisa diperbesar. Jadi bukan hanya gempa yang jadi persoalan, tapi bagaimana tanah ini merespons gempa.”

Untuk menjelaskan, ia memberi ilustrasi sederhana.

“Coba isi wadah dengan pasir dan air, letakkan miniatur rumah di atasnya, lalu goyangkan. Air akan naik ke permukaan, tanah bisa ambles. Itu gambaran sederhana tentang tanah yang jenuh air dan lunak.”

Risiko ini bukan sekadar teori. Bachtiar menyoroti infrastruktur vital yang kita gunakan sehari-hari, salah satunya jalan tol. Ia mengingatkan bahwa jalur Sesar Lembang memotong jalur bebas hambatan tersebut.

“Bagaimana kalau gempa terjadi saat kendaraan melaju 100 kilometer per jam, lalu jalannya tiba-tiba patah atau naik-turun? Kita belum punya panduan mitigasi atau simulasi untuk itu,” ujarnya, dengan nada khawatir.

Kekhawatiran Bachtiar melampaui persoalan teknis tanah. Ia juga menyoroti bagaimana kita kerap mengabaikan “alarm” yang diwariskan leluhur melalui nama tempat. Nama seperti Muril (pusing, berputar) atau Ngalembang (air tergenang) sejatinya adalah catatan bencana masa lalu yang kini tertimbun perumahan mewah.

Ia lalu mengulang frasa yang kerap ia tekankan, baik dalam pemaparan maupun saat doorstop.

“Banjir itu bom waktu. Gempa juga bom waktu. Kita ini hidup di cekungan yang menyimpan banyak potensi risiko, tapi sering kali merasa aman-aman saja.”

Rasa aman semu inilah yang, menurutnya, justru mengancam. Persoalan terbesar bukan semata kondisi geologis, melainkan kesadaran kolektif.

“Kalau ditanya apakah kita sudah hidup harmonis dengan kondisi alam Cekungan Bandung? Belum. Sangat jauh. Banyak orang merasa tidak ada apa-apa. Padahal rasa aman semu itu berbahaya.”

Ia mengaku kerap dianggap “menakut-nakuti” ketika berbicara soal risiko.

“Tapi saya tidak sedang menakut-nakuti. Saya hanya mengingatkan. Harmoni bukan berarti bebas dari ancaman. Harmoni itu tahu ancaman, lalu menyesuaikan diri.”

Baginya, harmoni berarti adaptasi: rumah yang dirancang tahan gempa, ruang publik dengan penanda evakuasi yang jelas, serta latihan berkala yang bukan sekadar formalitas.

“Mitigasi itu kehormatan,” katanya tegas. “Karena kita menghargai nyawa. Satu nyawa pun tidak bisa dianggap kecil.”

Selama ini, Bachtiar telah berkeliling menyampaikan pesan serupa ke komunitas, sekolah, hingga forum pemerintah. Pengetahuan, menurutnya, sebenarnya sudah tersebar.

“Tapi pengetahuan tidak boleh berhenti di tahap tahu. Harus jadi tindakan. Harus jadi program kerja. Kalau tidak, hanya jadi bahan diskusi.”

Ia juga menyinggung rencana tata ruang wilayah yang sering tampak indah sebagai dokumen administratif, tetapi lemah dalam praktik. Pembangunan tetap merambah zona rawan demi estetika pemandangan.

Karena itu, baginya, jawaban tercepat saat ini bukan menunggu birokrasi, melainkan inisiatif warga. Kemampuan komunitas mengenali tanda alam dan saling terhubung menjadi kunci pertahanan utama.

Ia memberi contoh sederhana: apakah warga tahu apa yang harus dilakukan ketika gempa terjadi di jalan tol? Apakah tahu harus menepi, mematikan mesin, dan menjauh dari kendaraan?

Bandung, katanya, bahkan belum memiliki buku panduan praktis tinggal di kota rawan bencana seperti di Jepang.

“Kita ini tinggal di cekungan, di wilayah dengan sejarah letusan dan patahan aktif. Tapi literasi kebencanaan kita masih minim.”

Di tengah kompleksitas itu, solusi yang ia tawarkan justru sederhana.

“Tanam pohon.”

Bagi Bachtiar, pohon bukan sekadar elemen lanskap, melainkan titik kumpul alami saat darurat.

“Kalau gempa, orang bingung mau lari ke mana. Kenapa tidak sepakati saja satu pohon besar sebagai titik kumpul?”

Latihan pun harus berulang.

“Simulasi tidak bisa sekali lalu selesai. Harus terus-menerus, supaya refleks terbentuk.”

Di akhir pemaparannya, ia mengingatkan satu fakta yang sulit diabaikan.

“Berapa juta orang hidup di dasar cekungan ini. Kita membangun kota kreatif, kota pendidikan, kota wisata. Tapi secara geologis, kita tetap cekungan. Kita tetap wilayah tangkapan air dengan sejarah panjang letusan dan gempa.”

Sore itu, Bandung tampak tenang. Tidak ada getaran, tidak ada retakan. Lalu lintas tetap padat, kafe tetap ramai.

Namun di bawah beton dan aspal, tersimpan endapan lumpur puluhan ribu tahun yang menjadi fondasi kehidupan sekaligus potensi risiko.

Pertanyaannya bukan lagi apakah ancaman itu ada.

Pertanyaannya adalah: apakah kita benar-benar siap hidup harmonis dengan cekungan yang kita tinggali?

News Update

Ayo Netizen 03 Apr 2026, 18:39

Dari Bumi ke Bulan: Kisah Empat Astronot dalam Misi Artemis 2

Kisah empat astronot dalam misi Artemis II yang menandai kembalinya manusia mengelilingi Bulan setelah lebih dari 50 tahun.

Empat astronot misi Artemis II yang akan mengelilingi Bulan dalam program eksplorasi NASA. (Sumber: NASA)
Ikon 03 Apr 2026, 17:16

Hikayat Terminal Cicaheum, Ikon Bersejarah Bandung di Ujung Hayat

Setelah 50 tahun beroperasi, Terminal Cicaheum resmi dimatikan dan seluruh trayek dipindahkan ke Leuwipanjang.

Terminal Cicaheum. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 03 Apr 2026, 14:31

Persib (Jurnalistik) Nu Aing

Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan wadah yang merekam dan mewariskan nilai-nilai, norma, tradisi, adat istiadat

Persib Nu Aing sebagai bentuk ikrar dan menunjukkan rasa cintanya pada Persib. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Arif Rahman)
Mayantara 03 Apr 2026, 10:39

Cancel Culture: Saat Netizen Jadi Hakim di Ruang Digital

Di sinilah cancel culture bekerja, di mana publik secara kolektif “membatalkan” seseorang karena dianggap melanggar norma sosial tertentu.

Cancel culture. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Wisata & Kuliner 03 Apr 2026, 10:10

Panduan Wisata Pantai Santolo Garut: Rute, Biaya, dan Daya Tarik Lengkap

Panduan wisata Pantai Santolo Garut, mulai rute terbaik, biaya, spot menarik hingga tips liburan hemat dan nyaman di pesisir selatan.

Sunset di Pantai Santolo, Garut. (Sumber: Flickr)
Ayo Netizen 02 Apr 2026, 20:42

Trah Sumedang, Belajar Mangkas Rambut ke Orang Garut dan di Bandung Sukses Buka Barbershop

Bisnis barbershop alias tukang pangkas rambut selalu ramai selama Ramadan dan bulan Syawal.

Pemangkas rambut asal Garut. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Wisata & Kuliner 02 Apr 2026, 19:02

Hikayat Brem dalam Lintasan Sejarah Kuliner Fermentasi Jawa dan Bali

Brem merupakan produk fermentasi tradisional yang telah dikenal sejak abad ke-10 di Jawa. Dari minuman ritual di Bali hingga camilan khas Madiun, brem mencerminkan panjangnya sejarah kuliner Nusantara

Brem, kuliner fermentasi Jawa dan Bali
Bandung 02 Apr 2026, 17:31

Siasat Bakmie Feng Taklukkan Pasar Cihapit: Harga Stabil, Rasa Jadi Andalan

Lagi di Bandung? Yuk, intip rahasia Bakmie Feng di Pasar Cihapit yang selalu ramai! Dari menu ayam khek hingga strategi harga yang bikin pelanggan setia.

Bakmie Feng berdiri mencolok dengan nuansa merah menyala di antara deretan kios kuliner Bandung di Pasar Cihapit. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Netizen 02 Apr 2026, 17:27

Membaca Majalah Remaja Tahun 1980-an

Mengenang kembali ketika tahun 1980-an muncul majalah-majalah remaja yang digemari para remaja khususnya di Kota Bandung.

Majalah Remaja Gadis edisi September 1980. (Sumber: Instagram | Foto: Koleksi Goeni)
Ayo Netizen 02 Apr 2026, 16:25

Dari Ramadan, Lebaran, hingga Pendatang Urban: 5 Tips bagi Netizen Menulis di April 2026

Berikut tips praktis agar tulisanmu tepat sasaran.

Suasana Jalan Braga, Kota Bandung saat diberlakukannya Braga Free Vehicle pada Sabtu, 4 Mei 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 02 Apr 2026, 15:06

Sejarah Kupat Tahu Singaparna, Jejak Rasa Kuliner Legendaris dari Tasikmalaya

Kupat Tahu Singaparna lahir dari pasar tradisional Tasikmalaya, hasil perpaduan budaya, ekonomi rakyat, dan perjalanan kuliner sejak 1950-an.

Kupat tahu Singaparna.
Ayo Netizen 02 Apr 2026, 14:56

4 Cara Mengubah Pengalaman Sehari-hari Menjadi Tulisan untuk Ayo Netizen

Kirimkan tulisanmu melalui akun penulis di Ayobandung.id dengan periode publikasi 1–30 April 2026.

Kirimkan tulisanmu melalui akun penulis di Ayobandung.id (Sumber: Pexels)
Ayo Netizen 02 Apr 2026, 11:03

Kisah Beberapa Perkampungan Kota Bandung (Bagian 2)

Kawasan perkampungan tempat saya dilahirkan adalah kawasan yang memiliki sejarah panjang, yang mungkin tak banyak warga Bandung tau.

Kampung Apandi atau gang Apandi tahun 1900-1910. (Sumber: wereldculturn.nl)
Wisata & Kuliner 02 Apr 2026, 10:02

Perjalanan Kawah Putih, Ikon Wisata Kabupaten Bandung

Kawah Putih terus berinovasi dengan wahana baru sambil menjaga keindahan alamnya sebagai ikon wisata Kabupaten Bandung.

Objek wisata ikonik Kawah Putih, Ciwidey, Bandung. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 02 Apr 2026, 09:57

Buku Langka dan Keberuntungan Menanti di Jalan Kautamaan Istri

Di tengah hiruk-pikuk Kota Bandung, lapak buku bekas di Jalan Kautamaan Istri masih menjadi tempat berburu buku langka, di mana keberuntungan sering datang dari cover buku yang sudah usang.

Lapak buku Wawan menjadi sudut kecil bagi pemburu bacaan di tengah ramainya Jalan Kautamaan Istri. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 02 Apr 2026, 08:44

Bandung dalam Kenangan Pendatang Era 90-an

Awal tahun 1990-an, Bandung selalu kedatangan wajah-wajah baru, terutama setelah Lebaran.

Mahasiswa di Bandung pada era 1990-an, para pendatang dari berbagai daerah. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 01 Apr 2026, 19:02

4 Cerita yang Bisa Kamu Tulis untuk Ayo Netizen April 2026

Berikut empat sudut cerita yang bisa jadi titik masuk tulisanmu.

Dalam tujuan mengapreasiasi kamu yang gemar menulis dengan etika orisinalitas, Ayobandung.id pun memberi total hadiah Rp1,5 juta setiap bulannya. (Sumber: Pexels/Lisa)
Wisata & Kuliner 01 Apr 2026, 17:32

Panduan Wisata Gunung Bromo: dari Rute, Biaya hingga Waktu Terbaik

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru menawarkan lebih dari sekadar kawah. Ini panduan lengkap untuk merencanakan kunjungan yang efisien dan tidak boros.

Gunung Bromo (Sumber: freerangestock.com)
Ayo Netizen 01 Apr 2026, 17:22

Cikuntul, Lahan Basah Tempat Burung Kuntul Berburu Pakan

Bagaimana keadaan Kecamatan Tempuran dan Kecamatan Kutawaluya sampai-sampai di daerah itu ada daerah yang diberi nama Cikuntul?

Kuntul kerbau (Bubulcus ibis) pada saat musim berbiak, dengan bulu yang menarik lawan jenis, jingga keemasan, dan warna putih sesudah musim berbiak. (Sumber: John MacKinnon (1993))
Ayo Netizen 01 Apr 2026, 16:43

Di Balik Ramainya Kendaraan saat Mudik Lebaran, Ada Risiko Kecelakaan Pengemudi yang Minim Pengalaman

Di balik ramainya mudik Lebaran, hadir pengemudi minim pengalaman. Faktor manusia tetap menjadi kunci utama dalam risiko kecelakaan.

Sejumlah kendaraan melintas di Gerbang Tol Pasteur 1, Kota Cimahi pada Jumat, 27 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)