Tangkuban Parahu dari Sudut yang Tak Biasa

3 menit baca
Pernando Aigro S
Ditulis oleh Pernando Aigro S diterbitkan
Empat orang di perjalanan menuju puncak Upas Hill, sebelum semua sudut pandang berubah di atas ketinggian 2084 Mdpl. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Pernando Aigro S.)
Empat orang di perjalanan menuju puncak Upas Hill, sebelum semua sudut pandang berubah di atas ketinggian 2084 Mdpl. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Pernando Aigro S.)

Upas Hill berada di kawasan dataran tinggi Puncak, Jawa Barat, tidak jauh dari Lembang, dengan ketinggian sekitar 2084 Mdpl (Meter Diatas Permukaan Laut). Jalur ini mulai sering didatangi karena aksesnya tidak terlalu sulit, tapi masih cukup memberi rasa “naik” ke ruang alam yang berbeda dari keseharian di bawah. Dari atas, Gunung Tangkuban Perahu terlihat di kejauhan, bukan sebagai objek wisata yang berdiri sendiri, tapi lebih seperti bagian dari lanskap yang memang sudah ada sejak lama. Tiket masuknya pun masih tergolong terjangkau, sekitar Rp35.000 di hari biasa dan sekitar Rp45.000 saat akhir pekan.

Kami berempat datang pada bulan Maret lalu, menjelang Lebaran, saat jalur sudah mulai ramai oleh orang-orang dengan tujuan yang kurang lebih sama: naik, sampai puncak, lalu melihat pemandangan. Jalurnya sendiri tidak bisa dibilang berat sekali, tapi juga bukan yang benar-benar santai. Ada momen ketika langkah mulai melambat, napas terasa naik turun, dan orang-orang biasanya berhenti sebentar tanpa alasan khusus. Di titik itu, mendaki bukan lagi soal cepat atau lambat, tapi soal terus melangkah sampai atas.

Waktu akhirnya sampai di puncak, kami berempat sempat berdiri dan mengambil satu foto sederhana, hanya momen singkat setelah perjalanan naik yang cukup menguras tenaga. Setelah itu, suasananya pelan-pelan terasa berubah. Puncak bukan lagi sekadar titik akhir, tapi ruang terbuka yang membuat cara melihat perjalanan tadi ikut bergeser. Dari sana, mata langsung tertuju ke arah Gunung Tangkuban Perahu yang terlihat cukup jelas di kejauhan, seperti ada jarak pandang yang baru terasa ketika sudah berada di atas.

Tangkuban Perahu dari puncak Upas Hill, terlihat lebih berbeda. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Pernando Aigro S)
Tangkuban Perahu dari puncak Upas Hill, terlihat lebih berbeda. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Pernando Aigro S)

Melihat Tangkuban Perahu dari Perspektif Berbeda

Dari Upas Hill, Tangkuban Perahu terlihat dengan sudut yang agak berbeda dibandingkan ketika dilihat dari area wisata di bawahnya. Bukan lagi sekadar objek yang jadi tujuan utama, tapi lebih seperti bagian dari bentang alam yang terasa menyatu dan lebih luas ketika dilihat dari ketinggian. Ada kesan sederhana bahwa yang sering kita sebut “destinasi” sebenarnya hanya satu bagian kecil dari perjalanan ini, karena untuk mencapainya saja tetap perlu usaha melalui pendakian.

Di puncak, suasananya tidak benar-benar bisa dibilang sepi. Ada yang duduk santai, ada yang sibuk mengabadikan momen, ada juga yang berdiri sambil menikmati suasana alam. Kami berempat sendiri lebih banyak menghabiskan waktu dengan obrolan ringan, sesekali berhenti untuk merasakan angin yang terasa berbeda dibandingkan di bawah. Siang hari membuat suasana di atas terasa cukup panas, karena matahari masih cukup terasa meskipun udara di atas tetap lebih ringan dan bersih. Campuran itu membuat puncak terasa hidup, bukan ruang yang tertata atau sunyi, tapi tempat yang dipakai orang dengan cara mereka masing-masing.

Menariknya, pengunjung di sini tidak melulu anak muda. Kami sempat bertemu seorang pendaki yang usianya sekitar 50 tahun, tapi masih naik dengan ritme yang stabil tanpa terlihat terburu-buru atau memaksakan diri. Momen seperti itu pelan-pelan mengubah cara melihat aktivitas di alam, bahwa ini bukan sekadar soal usia atau tren, tapi lebih ke kebiasaan untuk tetap menjaga diri agar tidak berhenti dalam satu pola yang sama terus-menerus.

Perjalanan singkat di Upas Hill ini bukan cuma soal sampai di puncak atau melihat pemandangan dari ketinggian. Lebih dari itu, ada momen ketika tubuh dan pikiran sama-sama seperti dipaksa berhenti sebentar dari rutinitas yang biasanya berjalan terus tanpa jeda. Kadang kita terlalu lama duduk, terlalu lama menatap layar, sampai lupa kalau tubuh juga butuh dipakai dan pikiran butuh ruang yang lebih lega dari sekadar aktivitas harian.

Berada di tempat seperti ini juga otomatis memberi jarak dari hal-hal yang biasanya tidak kita sadari di kota, seperti kebisingan, polusi, dan ritme hidup yang terasa cepat terus. Di atas, semuanya jadi lebih pelan dengan caranya sendiri. Dan mungkin memang tidak selalu harus jauh-jauh, tapi sesekali cukup keluar sebentar dari kebiasaan yang itu-itu saja, supaya saat kembali lagi ke rutinitas, kita bisa merasa lebih semangat dan lebih siap. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 23 Okt 2026, 20:14

Lemahneundeut, Jejak Tanah Neundeut atau Nendatan di Lereng Gunung

Lemahneundeut adalah masa tanah atau batuan yang bergerak ke bawah lereng.

Persawahan berteras-teras di Bandung Selatan, merupakan jejak lemahneundeut yang dikelola dengan baik. (Sumber: T. Bachtiar)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 19:17

Sosok Didi Petet sebagai Potret Bandung dalam Film Preman Pensiun

Didi Petet sudah meninggal beberapa tahun lalu, tapi sosoknya dalam film Preman Pensiun masih membekas, dan menjadi ingatan waktu yang tercermin dalam potret kehidupan sehari-hari di Bandung.

Ilustrasi Didi Petet. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 18:31

Lebih Berani di Rumah daripada di Jenewa: Posisi Indonesia dalam Perundingan Plastik

Menurut KLH/BPLH, 202), porsi plastik dalam sampah nasional naik dari 11% pada 2010 menjadi hampir 20% pada 2024 dan dapat mencapai 50% pada 2050 tanpa intervensi seriu.

Warga memungut sampah botol dan gelas plastik di bawah jembatan Babakan Sapan (BBS) Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 30 Juni 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:59

Kampus Bukan Tempat Pamer Knalpot: Saatnya Menjaga Kenyamanan Akademik di UIN Bandung Kampus I Cipadung

Knalpot bising di Kampus I UIN Bandung, Cipadung, mengganggu kenyamanan akademik. Saatnya bersama menjaga ketertiban kampus.

Ilustrasi knalpot brong. (Sumber: Pexels | Foto: Quốc Bùi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:26

CCTV Merekam, tetapi Belum Tentu Mencegah: Keamanan Lingkungan Mahasiswa Perlu Tanggung Jawab Bersama

CCTV dapat membantu merekam kejadian, menyusun kronologi, dan memberikan petunjuk untuk mengidentifikasi orang yang diduga terlibat.

Ilustrasi CCTV. (Sumber: Pexels | Foto: Bezalens JGP)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 15:32

Kisah 101 FM : Ketika Radio Bandung Masih Siaran di Gelombang AM/MW

Dari kawasan Jalan Rajamantri Kulon, Bandung, stasiun radio ini mengudara melalui jalur FM (Frequency Modulation).

Radio 101 FM Bandung, salah satu pelopor siaran radio di jalur FM di Kota Bandung pada era 1980-an hingga 1990-an. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 14:41

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon

Taman Wisata Goa Sunyaragi adalah salah satu wisata bersejarah di Kota Cirebon yang menyimpan banyak cerita menarik.

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 13:00

BRT Bandung Dibangun untuk Mengurai Kemacetan, Mengapa Masyarakat Justru Menanggung Dampaknya?

Pembangunan Bus Rapid Transit Bandung Raya diharapkan mengurangi kemacetan. Namun, dampak proyek halte menimbulkan pertanyaan tentang tanggung jawab pemerintah dalam menjaga kenyamanan masyarakat.

Halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Cicadas termasuk tipe B dimana halte berada di antara jalan satu arah dengan 4 lajur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 12:41

Mewujudkan Bandung Kota Jamu, Merawat Warisan Inggit Garnasih

Salah satu contoh inovasi Jamu kekinian di Bandung adalah Paduan Rempah, usaha minuman herbal yang dirintis Ahmad Hikmat Rahayu bersama istrinya

Acaraki Jamu tak sekadar menjual minuman herbal, tetapi menyuguhkan pengalaman gaya hidup yang berakar pada warisan budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 11:27

Demam Aplikasi Pemda: Solusi Pelayanan Publik atau Cuma Proyek 'Sampah Digital'?

Membahas masalah aplikasi pemerintah yang belum efektif serta pentingnya digitalisasi pelayanan publik yang berorientasi pada kemudahan, keamanan, dan kebutuhan masyarakat.

Foto seseorang menggunakan ponsel. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 10:17

Menengok Terminal Ledeng, Menengok Diri Sendiri

Terminal Ledeng mengingatkan saya bahwa kita tidak pernah benar-benar berjalan di tempat yang sama, bahkan ketika melewati jalan yang benar-benar sama.

Terminal Ledeng, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)
Sejarah 22 Okt 2026, 12:36

Hikayat Resolusi Jihad dan Lahirnya Hari Santri

Resulusi Jihad menjadi pembakar jiwa nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional

Ilustrasi Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang diperingatinya Hari Santri Nasional (Foto: artificial intelligence)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 09:04

Polisi, Massa Hitam, dan Keamanan Kota Bandung

Dalam merespon demonstrasi, kemampuan membedakan aksi damai dan serangan terorganisir sangat penting.

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demo di sekitar Tugu Simpang Lima, Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026) sore (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 07:54

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan.

Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)