Tangkuban Parahu dari Sudut yang Tak Biasa

3 menit baca
Pernando Aigro S
Ditulis oleh Pernando Aigro S diterbitkan Selasa 21 Apr 2026, 08:58 WIB
Empat orang di perjalanan menuju puncak Upas Hill, sebelum semua sudut pandang berubah di atas ketinggian 2084 Mdpl. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Pernando Aigro S.)

Empat orang di perjalanan menuju puncak Upas Hill, sebelum semua sudut pandang berubah di atas ketinggian 2084 Mdpl. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Pernando Aigro S.)

Upas Hill berada di kawasan dataran tinggi Puncak, Jawa Barat, tidak jauh dari Lembang, dengan ketinggian sekitar 2084 Mdpl (Meter Diatas Permukaan Laut). Jalur ini mulai sering didatangi karena aksesnya tidak terlalu sulit, tapi masih cukup memberi rasa “naik” ke ruang alam yang berbeda dari keseharian di bawah. Dari atas, Gunung Tangkuban Perahu terlihat di kejauhan, bukan sebagai objek wisata yang berdiri sendiri, tapi lebih seperti bagian dari lanskap yang memang sudah ada sejak lama. Tiket masuknya pun masih tergolong terjangkau, sekitar Rp35.000 di hari biasa dan sekitar Rp45.000 saat akhir pekan.

Kami berempat datang pada bulan Maret lalu, menjelang Lebaran, saat jalur sudah mulai ramai oleh orang-orang dengan tujuan yang kurang lebih sama: naik, sampai puncak, lalu melihat pemandangan. Jalurnya sendiri tidak bisa dibilang berat sekali, tapi juga bukan yang benar-benar santai. Ada momen ketika langkah mulai melambat, napas terasa naik turun, dan orang-orang biasanya berhenti sebentar tanpa alasan khusus. Di titik itu, mendaki bukan lagi soal cepat atau lambat, tapi soal terus melangkah sampai atas.

Waktu akhirnya sampai di puncak, kami berempat sempat berdiri dan mengambil satu foto sederhana, hanya momen singkat setelah perjalanan naik yang cukup menguras tenaga. Setelah itu, suasananya pelan-pelan terasa berubah. Puncak bukan lagi sekadar titik akhir, tapi ruang terbuka yang membuat cara melihat perjalanan tadi ikut bergeser. Dari sana, mata langsung tertuju ke arah Gunung Tangkuban Perahu yang terlihat cukup jelas di kejauhan, seperti ada jarak pandang yang baru terasa ketika sudah berada di atas.

Tangkuban Perahu dari puncak Upas Hill, terlihat lebih berbeda. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Pernando Aigro S)
Tangkuban Perahu dari puncak Upas Hill, terlihat lebih berbeda. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Pernando Aigro S)

Melihat Tangkuban Perahu dari Perspektif Berbeda

Dari Upas Hill, Tangkuban Perahu terlihat dengan sudut yang agak berbeda dibandingkan ketika dilihat dari area wisata di bawahnya. Bukan lagi sekadar objek yang jadi tujuan utama, tapi lebih seperti bagian dari bentang alam yang terasa menyatu dan lebih luas ketika dilihat dari ketinggian. Ada kesan sederhana bahwa yang sering kita sebut “destinasi” sebenarnya hanya satu bagian kecil dari perjalanan ini, karena untuk mencapainya saja tetap perlu usaha melalui pendakian.

Di puncak, suasananya tidak benar-benar bisa dibilang sepi. Ada yang duduk santai, ada yang sibuk mengabadikan momen, ada juga yang berdiri sambil menikmati suasana alam. Kami berempat sendiri lebih banyak menghabiskan waktu dengan obrolan ringan, sesekali berhenti untuk merasakan angin yang terasa berbeda dibandingkan di bawah. Siang hari membuat suasana di atas terasa cukup panas, karena matahari masih cukup terasa meskipun udara di atas tetap lebih ringan dan bersih. Campuran itu membuat puncak terasa hidup, bukan ruang yang tertata atau sunyi, tapi tempat yang dipakai orang dengan cara mereka masing-masing.

Menariknya, pengunjung di sini tidak melulu anak muda. Kami sempat bertemu seorang pendaki yang usianya sekitar 50 tahun, tapi masih naik dengan ritme yang stabil tanpa terlihat terburu-buru atau memaksakan diri. Momen seperti itu pelan-pelan mengubah cara melihat aktivitas di alam, bahwa ini bukan sekadar soal usia atau tren, tapi lebih ke kebiasaan untuk tetap menjaga diri agar tidak berhenti dalam satu pola yang sama terus-menerus.

Perjalanan singkat di Upas Hill ini bukan cuma soal sampai di puncak atau melihat pemandangan dari ketinggian. Lebih dari itu, ada momen ketika tubuh dan pikiran sama-sama seperti dipaksa berhenti sebentar dari rutinitas yang biasanya berjalan terus tanpa jeda. Kadang kita terlalu lama duduk, terlalu lama menatap layar, sampai lupa kalau tubuh juga butuh dipakai dan pikiran butuh ruang yang lebih lega dari sekadar aktivitas harian.

Berada di tempat seperti ini juga otomatis memberi jarak dari hal-hal yang biasanya tidak kita sadari di kota, seperti kebisingan, polusi, dan ritme hidup yang terasa cepat terus. Di atas, semuanya jadi lebih pelan dengan caranya sendiri. Dan mungkin memang tidak selalu harus jauh-jauh, tapi sesekali cukup keluar sebentar dari kebiasaan yang itu-itu saja, supaya saat kembali lagi ke rutinitas, kita bisa merasa lebih semangat dan lebih siap. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Pernando Aigro S
Mahasiswa FH Unpar. Quotes "Jangan takut gagal, karna gagal ga takut kamu"- Leonico Joedo. 🗿

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Jun 2026, 18:47

Ulos: Kain yang Menjadi Simbol dari Masyarakat Batak

Ulos adalah kain tenun khas Batak berbentuk selendang. Benda sakral ini merupakan simbol restu, kasih sayang dan persatuan.

Kain Ulos Ragi Hidup (Sumber: https://repositori.kemendikdasmen.go.id/19484/1/2010-Booklet-Mengenal%20Ulos.pdf)
Bandung 10 Jun 2026, 17:55

Mengenal Kanemura, Brand Kuliner Jepang yang Mengusung Sistem Manajemen Terpusat dalam Bisnis Waralaba

Brand kuliner Jepang, Kanemura, menawarkan berbagai paket kemitraan menarik bagi masyarakat yang ingin merambah bisnis waralaba (franchise).

Brand kuliner Jepang, Kanemura, menawarkan berbagai paket kemitraan menarik bagi masyarakat yang ingin merambah bisnis waralaba (franchise). (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Biz 10 Jun 2026, 17:29

Denyut Digitalisasi Perbankan yang Menghidupi Perajin Sepatu Kulit Cibaduyut

Sejak 2018, Mochamad Indra Yusuf Wahyudin aktif mengikuti pelatihan di Rumah BUMN Bandung.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik Koku Footwear (produsen sepatu kulit) di Taman Cibaduyut Indah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Linimasa 10 Jun 2026, 16:50

Ibun Bajra, Fenomena Alam Embun Membeku di Kertasari Bandung

Fenomena ibun bajra kembali muncul di Kertasari. Embun membeku jadi lapisan es dan berdampak pada pertanian.

Daun teh membeku di Kertasari saat cuaca dingin menyergap Bandung 2019 silam. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 16:48

Menelusuri Jejak Historis Surabi, Oleh-Oleh Khas Jawa Barat

Surabi adalah salah satu makanan tradisional khas Jawa Barat.

Surabi Cihapit Bandung. (Sumber: Instagram | Foto: Surabi Cihapit)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 15:31

Menyusuri Bukit Plangon: Saat Sejarah dan Kepercayaan Menjaga Alam

Bukit Plangon menjadi contoh bagaimana nilai spiritual dan kearifan lokal berperan dalam menjaga keseimbangan alam.

Sinar matahari menerobos rimbunnya pepohonan di sekitar bangunan makam Bukit Plangon, Cirebon. (Sumber Foto: Dokumentasi pribadi, 2025)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 14:48

Kesadaran Masyarakat terhadap Penggunaan Kain Wol dengan Fashion Old Money

Penerapan gaya old money dan pemakaian kain wol menjadi strategi yang sangat efektif untuk menekan laju pertumbuhan fashion cepat di Indonesia.

Ilustrasi kain wol. (Sumber: Pexels | Foto: Vlada Karpovich)
Wisata & Kuliner 10 Jun 2026, 14:33

Jelajah TMII, Panduan Lengkap Wisata, Harga Tiket, dan Wahana Terbaru

Panduan lengkap berkunjung ke TMII Jakarta, mulai dari harga tiket, museum, anjungan daerah, Jagat Satwa Nusantara, hingga cara menjelajahi kawasan seluas 150 hektare.

Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 12:49

Filosofi Kendi, Animo Pemakaian Tumbler dan Mesin Air Minum Gratis

Kendi adalah ikon sosialisme air minum pada zamannya.

Ilustrasi kendi yang merupakan ikon sosialisme air minum warisan budaya bangsa. (Sumber: Pexels | Foto: Eda Yılmaz)
Sejarah 10 Jun 2026, 12:21

Jelajah Candi-candi di Bandung, Jejak Peradaban Kuno yang yang Hampir Terlupakan

Jejak peninggalan Hindu kuno di Bandung masih bertahan, tetapi kondisi situsnya memerlukan perhatian serius.

Situs Candi Bojongemas di Solokanjeruk Kabupaten Bandung memprihatinkan dan tak terawat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 11:29

Toponimi Lembang (Bagian 1)

Lembang berasal dari bahasa Sunda yaitu “Ngalembang” yang berarti air yang tergenang.

Buku Toponimi Lembang. (Foto: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 10:18

Gedung Juang 45: Transformasi Bangunan Kolonial Menjadi Museum Berbasis Digital

Revitalisasi Gedung Juang 45 Bekasi dari bangunan cagar budaya yang sempat terbengkalai menjadi museum modern berbasis teknologi digital.

Gedung Juang 45 Kota Bekasi (Sumber: bekasikab.go.id | Foto: Situs Pemerintah)
Beranda 10 Jun 2026, 10:12

Di Tengah Janji Energi Bersih, Warga Lereng Gunung Cemas Kehilangan Air, Lahan, dan Masa Depan

Di balik janji energi bersih dari proyek geotermal, warga di sejumlah lereng gunung di Jawa Barat menyuarakan kekhawatiran atas ancaman terhadap sumber air, lahan pertanian, dan ma

Dani Setiawan, petani sayur di kaki Gunung Gede Pangrango, menyuarakan kekhawatirannya terhadap proyek geotermal yang dinilai dapat mengancam sumber air, lahan pertanian, dan ruang hidup warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 09:17

Mengenal Peuyeum sebagai Makanan Tradisional Khas Jawa Barat

Peuyeum sebagai makanan tradisional khas Jawa Barat

Peuyeum Bandung. (Foto: Sofi Putri)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 08:38

Taat Rambu Lalu Lintas adalah Hal Sepele tapi Menyelamatkan Nafas Kehidupan

Satu detik yang menurut kita sepele bisa saja jadi harapan kehidupan bagi orang lain.

Salah satu titik yang sering mengalami kemacetan parah di Kota Bandung, persimpangan lampu merah di Jalan Djunjunan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 20:22

Pasang Surut Era Trem di Batavia

Transportasi trem di Batavia yang kini sudah tidak ada di Indonesia.

Tram Gondangdia di Batavia. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 09 Jun 2026, 16:31

Wisata Candi Borobudur: Panduan Lengkap Tiket, Sunrise, dan Sunset Experience

Panduan lengkap wisata Candi Borobudur 2026, mulai dari harga tiket, kuota naik candi, aturan penggunaan upanat, hingga waktu terbaik untuk berkunjung.

Candi Borobudur. (Sumber: Pemprov Jateng)
Ayo Biz 09 Jun 2026, 16:27

Kisah para Juara 1 BRIncubator, Konsisten Berdayakan Pekerja Lokal

Program inkubasi bergengsi dari BRI itu setiap tahunnya mengangkat segelintir UMKM ke panggung yang lebih besar.

Koku Footwear terpilih sebagai Juara 1 BRIncubator 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Beranda 09 Jun 2026, 16:05

Bandung Raya di Ambang Krisis Sampah, TPA Sarimukti Diperkirakan Penuh Oktober 2026

TPA Sarimukti diperkirakan penuh pada Oktober 2026, memicu ancaman krisis sampah di Bandung Raya yang masih bergantung pada pembuangan akhir dan minim pengolahan dari sumbernya.

Kendaraan pengangkut sampah terparkir di Jalan Tamansari, Kota Bandung, Rabu 6 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)