Peringatan Hari Kartini tahun 2026 merupakan momentum untuk menampilkan profil wanita Indonesia yang berani berjuang dan memiliki kiprah yang luar biasa.
Peribahasa ”siapa menabur angin akan menuai badai” tampaknya tidak relevan bagi Kartini masa kini yang bernama Ani Dwi Octavia. Kartini masa kini itu aktivitasnya terkait dengan proyek pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) di berbagai pelosok negeri.
Aktivitas yang bisa dikatakan menantang bahaya, karena Ani yang berprofesi sebagai Insinyur tersebut tidak hanya merancang proyek, tetapi juga aktif ke lapangan memasang bermacam sensor pada menara dengan ketinggian puluhan meter. Apalagi proyek PLTB secara geografis cocok untuk daerah terpencil yang sulit terjamah oleh program elektrifikasi PLN pada umumnya.
Kondisi krisis distribusi minyak dan gas secara global akibat agresi Militer Amerika Serikat dan Israel terhadap bangsa Iran menyebabkan darurat energi di berbagai negara. Kondisi tersebut membuat teknologi pembangkit listrik tenaga bayu ( angin ) dan tenaga surya menjadi alternatif yang jitu. Namun, pembangunan PLTB tidak semudah yang dibayangkan. Banyak faktor teknis dan non teknis yang menghadang.

Kemandirian Keinsinyuran
Ani Dwi Octavia adalah lulusan Program Studi Program Profesi Insinyur (PS PPI) Institut Teknologi Indonesia (ITI) Tangerang Selatan, Banten. Dengan tugas akhir yang berjudul “Implementasi Meteorological Mast untuk Monitoring Potensi Angin untuk Pembangkit Listrik”.
Terkait tugas akhir keinsinyuran dirinya, itu adalah permasalahan utama yang dihadapi untuk membangun PLTB, yakni keterbatasan data potensi angin yang akurat dan berkelanjutan. Melalui perancangan, instalasi, dan evaluasi sistem meteorological mast, insinyur mampu mengurangi ketidakpastian teknis serta mengatasi kendala lapangan dengan penerapan standar keselamatan dan perencanaan teknis yang tepat.
Praktik ini mencerminkan kemandirian keinsinyuran dalam melakukan pengukuran dan analisis potensi angin secara mandiri. Dengan penguasaan proses pengumpulan dan interpretasi data, ketergantungan terhadap data sekunder dapat dikurangi dan kapasitas nasional dalam pengembangan energi angin dapat ditingkatkan.
Hasil praktik keinsinyuran Ani memberikan manfaat nyata berupa tersedianya data teknis yang valid untuk studi kelayakan PLTB, mendukung pengembangan energi bersih, serta berkontribusi terhadap efisiensi dan keberlanjutan sistem ketenagalistrikan.
Inovasi diwujudkan melalui penerapan solusi rekayasa yang tepat guna dan kontekstual, dengan mengintegrasikan sistem meteorological mast, analisis kelas angin, dan estimasi produksi energi tahunan (AEP). Pendekatan ini memungkinkan perencanaan PLTB yang lebih akurat, efisien, dan sesuai dengan kondisi lokal Indonesia.

Iron Lady Asuhan Budaya Betawi
Saat ini Ani memimpin perusahaan penyedia instrumentasi di bidang teknologi untuk energi baru terbarukan khususnya energi angin dan surya. Oleh Profesor dan guru besar, dinyatakan lulus Program Profesi Insinyur dengan predikat kelulusan tertinggi,.
Wanita yang mendapat julukan sebagai ”Iron Lady” ini tumbuh hasil didikan budaya Betawi yang kental. Kedua orang tuanya mendidik Ani dan saudaranya penuh dengan disiplin dan kemandirian. Saking mandirinya Ani dianjurkan ayahnya untuk membuat peralatan dan instrumentasi di rumah hasil buatan sendiri. Hasil didikan orang tuanya itulah yang membuat Ani tumbuh menjadi sosok yang kreatif dan pantang menyerah.
Masa muda Ani dilalui dengan bersekolah di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Dia merupakan contoh sukses anak SMK yang berhasil meraih kemajuan dalam skala global. Ani adalah teladan anak SMK yang berhasil transfer teknologi dari negara maju. Beberapa kali mengunjungi negara-negara maju untuk belajar dan berbisnis tentang teknologi untuk memanen energi angin dan surya.

Indonesia Perlu Totalitas Mengembangkan PLTB
Kepada penulis, Ani menekankan pentingnya bangsa Indonesia mengembangkan pembangkit listrik tenaga bayu/angin secara totalitas. Menurutnya pengembangan tersebut tidak luput dari Meteorological Mast atau Mast Meteorologi. Yakni menara tinggi yang dipasang khusus untuk mengukur data cuaca dan iklim di ketinggian tertentu.
Menara itu dipasang sensor untuk mengukur parameter atmosfer yang berubah sesuai ketinggian, seperti kecepatan dan arah angin. Biasanya pada ketinggian 10, 50, 80, dan 100 meter. Kondisi angin di permukaan tanah berbeda jauh dengan di ketinggian 80-100 meter.
”Turbin angin membutuhkan data angin di beberapa tingkat ketinggian untuk menghitung potensi energinya. Makanya mast ini wajib ada sebelum membangun Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB),” kata Ani kepada penulis.
Pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) merupakan bagian penting dari kebijakan energi nasional untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil dan menurunkan emisi gas rumah kaca. Energi angin menjadi salah satu sumber EBT yang memiliki potensi untuk dikembangkan, terutama pada wilayah dengan karakteristik kecepatan dan kestabilan angin yang memadai.
Dalam pengembangan PLTB, ketersediaan data angin yang akurat dan representatif merupakan faktor kunci dalam menentukan kelayakan suatu lokasi. Data angin digunakan untuk memperkirakan potensi energi, menentukan pemilihan teknologi turbin, serta mengurangi risiko teknis pada tahap konstruksi dan operasi.
Meteorologi Mast (Met Mast) merupakan instrumen utama yang digunakan untuk melakukan pengukuran potensi angin secara langsung di lapangan. Met Mast dilengkapi dengan sensor kecepatan angin, arah angin, serta parameter meteorologi pendukung yang dipasang pada beberapa ketinggian. Data hasil pengukuran Met Mast menjadi dasar utama dalam analisis potensi energi angin.
Biasanya met mast dibangun dengan ketinggian 60-120 meter, bentuknya rangka besi lattice seperti menara telekomunikasi BTS. Untuk membangun PLTB, investor harus tahu kondisi angin di lokasi tersebut apakah cukup kuat dan konsisten untuk menggerakkan turbin paling tidak 25 tahun ke depan.
Jika kecepatan angin rata-rata masih 4-5 m/s, maka itu masih di bawah standar komersial 6 m/s. Data dari mast harus memenuhi standar IEC 61400 supaya bisa dipakai untuk meyakinkan pihak investor.
Dalam perkembangan, eksistensi Mast fisik mulai diganti LIDAR atau SODAR yang memakai laser dan suara untuk mengukur angin tanpa menara. Namun begitu peran mast konvensional masih menjadi “gold standard” karena paling akurat. Pada prinsipnya mast meteorologi menjadi alat verifikasi yang tepat sebelum berinvestasi untuk PLTB. Untuk proyek PLTB Sidrap di Sulawesi Selatan dan PLTB Jeneponto memakai mast 100 meter.

Potensi PLTB di Indonesia cukup besar. Potensi teknis onshore: 246,2 GW dari 341 lokasi di seluruh Indonesia. Ini setara 200x kapasitas PLTB yang ada sekarang. Potensi ekonomis versi ESDM: 60,6 GW. Bedanya, potensi ekonomis itu yang kecepatan anginnya >4 m/s dan layak secara biaya.
Sampai tahun 2024 di Indonesia baru ada dua PLTB komersial besar, yakni PLTB Sidrap 75 MW - Sulawesi Selatan,dan PLTB Jeneponto 60 MW - Sulawesi Selatan. Total kapasitas terpasang cuma ∼150 MW, padahal target 2025 awalnya 1,8 GW. Sekarang target revisi jadi 255 MW di 2025 dan 5 GW di tahun 2030.
Hambatan yang berarti dalam Pembangunan PLTB karena kecepatan angin Indonesia rata-rata 3-5 m/s. Sedangkan standar komersial itu minimal 6-7 m/s. Tapi teknologi turbin sekarang sudah bisa beroperasi dengan baik dengan kondisi angin 5,5 m/s dengan rotor besar.
Hambatan lain adalah biaya investasi awal cukup tinggi dan infrastruktur jaringan distribusi listrik di daerah terpencil belum siap. (*)
