Kartini Masa Kini yang Menggeluti Energi Angin

6 menit baca
Totok Siswantara
Ditulis oleh Totok Siswantara diterbitkan
Ani Dwi Octavia, Kartini masa kini yang menggeluti energi angin. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Ani Dwi Octavia)
Ani Dwi Octavia, Kartini masa kini yang menggeluti energi angin. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Ani Dwi Octavia)

Peringatan Hari Kartini tahun 2026 merupakan momentum untuk menampilkan profil wanita Indonesia yang berani berjuang dan memiliki kiprah yang luar biasa.

Peribahasa ”siapa menabur angin akan menuai badai”  tampaknya tidak relevan bagi Kartini masa kini yang bernama Ani Dwi Octavia.   Kartini masa kini itu aktivitasnya terkait dengan proyek pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) di berbagai pelosok negeri. 

Aktivitas yang bisa dikatakan menantang bahaya, karena Ani yang berprofesi sebagai Insinyur tersebut tidak hanya merancang proyek, tetapi juga aktif ke lapangan memasang bermacam sensor pada menara dengan ketinggian puluhan meter. Apalagi proyek PLTB  secara geografis cocok untuk daerah terpencil yang sulit terjamah oleh program elektrifikasi PLN pada umumnya.

Kondisi krisis distribusi minyak dan gas secara global akibat agresi Militer Amerika Serikat dan Israel terhadap bangsa Iran menyebabkan darurat energi di berbagai negara. Kondisi tersebut membuat teknologi pembangkit listrik tenaga bayu ( angin ) dan tenaga surya menjadi alternatif yang jitu. Namun, pembangunan PLTB tidak semudah yang dibayangkan. Banyak faktor teknis dan non teknis yang menghadang.

Makna Hari karrtini dan praktik keinsinyuran Ani Dwi Octavia (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Makna Hari karrtini dan praktik keinsinyuran Ani Dwi Octavia (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Kemandirian Keinsinyuran

Ani Dwi Octavia adalah lulusan Program Studi Program Profesi Insinyur (PS PPI) Institut Teknologi Indonesia (ITI) Tangerang Selatan, Banten. Dengan tugas akhir yang berjudul “Implementasi Meteorological Mast untuk Monitoring Potensi Angin untuk Pembangkit Listrik”.

Terkait tugas akhir keinsinyuran dirinya, itu adalah permasalahan utama yang dihadapi untuk membangun PLTB, yakni keterbatasan data potensi angin yang akurat dan berkelanjutan. Melalui perancangan, instalasi, dan evaluasi sistem meteorological mast, insinyur mampu mengurangi ketidakpastian teknis serta mengatasi kendala lapangan dengan penerapan standar keselamatan dan perencanaan teknis yang tepat.

Praktik ini mencerminkan kemandirian keinsinyuran dalam melakukan pengukuran dan analisis potensi angin secara mandiri. Dengan penguasaan proses pengumpulan dan interpretasi data, ketergantungan terhadap data sekunder dapat dikurangi dan kapasitas nasional dalam pengembangan energi angin dapat ditingkatkan.

Hasil praktik keinsinyuran Ani memberikan manfaat nyata berupa tersedianya data teknis yang valid untuk studi kelayakan PLTB, mendukung pengembangan energi bersih, serta berkontribusi terhadap efisiensi dan keberlanjutan sistem ketenagalistrikan.

Inovasi diwujudkan melalui penerapan solusi rekayasa yang tepat guna dan kontekstual, dengan mengintegrasikan sistem meteorological mast, analisis kelas angin, dan estimasi produksi energi tahunan (AEP). Pendekatan ini memungkinkan perencanaan PLTB yang lebih akurat, efisien, dan sesuai dengan kondisi lokal Indonesia.

Menghadiri simposium tentang pembangkit tenaga angin (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Menghadiri simposium tentang pembangkit tenaga angin (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Iron Lady Asuhan Budaya Betawi

Saat ini Ani memimpin perusahaan penyedia instrumentasi di bidang teknologi untuk energi baru terbarukan khususnya energi angin dan surya.  Oleh Profesor dan guru besar, dinyatakan lulus Program Profesi Insinyur dengan predikat kelulusan tertinggi,.

Wanita yang mendapat julukan sebagai ”Iron Lady” ini tumbuh hasil didikan budaya Betawi yang kental. Kedua orang tuanya mendidik Ani dan saudaranya penuh dengan disiplin dan kemandirian. Saking mandirinya Ani dianjurkan ayahnya untuk membuat peralatan dan instrumentasi di rumah hasil buatan sendiri. Hasil didikan orang tuanya itulah yang membuat Ani tumbuh menjadi sosok yang kreatif dan pantang menyerah.

Masa muda Ani dilalui dengan bersekolah di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Dia merupakan contoh sukses anak SMK yang berhasil meraih kemajuan dalam skala global. Ani adalah teladan anak SMK yang berhasil transfer teknologi dari negara maju. Beberapa kali mengunjungi negara-negara maju untuk belajar dan berbisnis tentang teknologi untuk memanen energi angin dan surya.

Ani Dwi Octavia menjelaskan tentang pembangunan PLTB (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ani Dwi Octavia menjelaskan tentang pembangunan PLTB (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Indonesia Perlu Totalitas Mengembangkan PLTB

Kepada penulis, Ani menekankan pentingnya bangsa Indonesia mengembangkan pembangkit listrik tenaga bayu/angin secara totalitas.  Menurutnya pengembangan tersebut tidak luput dari Meteorological Mast atau Mast Meteorologi. Yakni menara tinggi yang dipasang khusus untuk mengukur data cuaca dan iklim di ketinggian tertentu.

Menara itu dipasang sensor untuk mengukur parameter atmosfer yang berubah sesuai ketinggian, seperti kecepatan dan arah angin. Biasanya pada ketinggian 10, 50, 80,  dan 100 meter.  Kondisi angin di permukaan tanah berbeda jauh dengan di ketinggian 80-100 meter.

”Turbin angin membutuhkan data angin di beberapa tingkat ketinggian untuk menghitung potensi energinya. Makanya mast ini wajib ada sebelum membangun Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB),” kata Ani kepada penulis.

Pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) merupakan bagian penting dari kebijakan energi nasional untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil dan menurunkan emisi gas rumah kaca. Energi angin menjadi salah satu sumber EBT yang memiliki potensi untuk dikembangkan, terutama pada wilayah dengan karakteristik kecepatan dan kestabilan angin yang memadai.

Dalam pengembangan PLTB, ketersediaan data angin yang akurat dan representatif merupakan faktor kunci dalam menentukan kelayakan suatu lokasi. Data angin digunakan untuk memperkirakan potensi energi, menentukan pemilihan teknologi turbin, serta mengurangi risiko teknis pada tahap konstruksi dan operasi.

Meteorologi Mast (Met Mast) merupakan instrumen utama yang digunakan untuk melakukan pengukuran potensi angin secara langsung di lapangan. Met Mast dilengkapi dengan sensor kecepatan angin, arah angin, serta parameter meteorologi pendukung yang dipasang pada beberapa ketinggian. Data hasil pengukuran Met Mast menjadi dasar utama dalam analisis potensi energi angin.

Biasanya met mast dibangun dengan ketinggian 60-120 meter, bentuknya rangka besi lattice seperti menara telekomunikasi BTS.  Untuk membangun PLTB, investor harus tahu kondisi angin di lokasi  tersebut apakah cukup kuat  dan konsisten untuk menggerakkan turbin paling tidak 25 tahun ke depan.

Jika kecepatan angin rata-rata masih 4-5 m/s, maka itu masih di bawah standar komersial 6 m/s. Data dari mast harus memenuhi standar IEC 61400 supaya bisa dipakai untuk meyakinkan pihak investor.  

Dalam perkembangan, eksistensi Mast fisik mulai diganti LIDAR atau SODAR yang memakai laser dan suara untuk mengukur angin tanpa menara. Namun begitu peran mast konvensional masih menjadi “gold standard” karena paling akurat. Pada prinsipnya mast meteorologi  menjadi alat verifikasi yang tepat sebelum berinvestasi untuk PLTB.  Untuk proyek PLTB Sidrap di Sulawesi Selatan dan  PLTB Jeneponto memakai mast 100 meter.

Potensi PLTB di Indonesia cukup besar. Potensi teknis onshore: 246,2 GW dari 341 lokasi di seluruh Indonesia. Ini setara 200x kapasitas PLTB yang ada sekarang. Potensi ekonomis versi ESDM: 60,6 GW. Bedanya, potensi ekonomis itu yang kecepatan anginnya >4 m/s dan layak secara biaya.

Sampai tahun 2024 di Indonesia baru ada dua PLTB komersial besar, yakni PLTB Sidrap 75 MW - Sulawesi Selatan,dan PLTB Jeneponto 60 MW - Sulawesi Selatan.  Total kapasitas terpasang cuma ∼150 MW, padahal target 2025 awalnya 1,8 GW. Sekarang target revisi jadi 255 MW di 2025 dan 5 GW di tahun 2030.

Hambatan yang berarti dalam Pembangunan PLTB karena kecepatan angin Indonesia rata-rata 3-5 m/s. Sedangkan standar komersial itu minimal 6-7 m/s. Tapi teknologi turbin sekarang sudah bisa beroperasi dengan baik dengan kondisi angin 5,5 m/s dengan rotor besar.

Hambatan lain adalah biaya investasi awal cukup tinggi dan infrastruktur jaringan distribusi listrik di daerah terpencil belum siap. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Totok Siswantara
Penulis lepas, pemulia tanaman, lulusan Program Profesi Insinyur

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 09:15

Harpelnas: Bangkitkan Senyum Pelanggan di Bandung

Tema Harpelnas 2026 sangat relevan untuk perkembangan perekonomian Bandung.

Ilustrasi peringatan Hari Pelanggan Nasional (Harpelnas) 2026 (Sumber: Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 18:01

Dari Teknologi Maritim ke Instagram: Cara Kapal Selam Diperkenalkan ke Publik

Komunikasi digital yang efektif bukan hanya soal pesan yang konsisten, tetapi juga bagaimana pesan tersebut disesuaikan dengan karakter setiap platform.

Ilustrasi Kapal Selam. (Sumber: Garda Bima Brimantara | Foto: Garda Bima Brimantara)