Kartini Masa Kini yang Menggeluti Energi Angin

Totok Siswantara
Ditulis oleh Totok Siswantara diterbitkan Selasa 21 Apr 2026, 16:12 WIB
Ani Dwi Octavia, Kartini masa kini yang menggeluti energi angin. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Ani Dwi Octavia)

Ani Dwi Octavia, Kartini masa kini yang menggeluti energi angin. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Ani Dwi Octavia)

Peringatan Hari Kartini tahun 2026 merupakan momentum untuk menampilkan profil wanita Indonesia yang berani berjuang dan memiliki kiprah yang luar biasa.

Peribahasa ”siapa menabur angin akan menuai badai”  tampaknya tidak relevan bagi Kartini masa kini yang bernama Ani Dwi Octavia.   Kartini masa kini itu aktivitasnya terkait dengan proyek pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) di berbagai pelosok negeri. 

Aktivitas yang bisa dikatakan menantang bahaya, karena Ani yang berprofesi sebagai Insinyur tersebut tidak hanya merancang proyek, tetapi juga aktif ke lapangan memasang bermacam sensor pada menara dengan ketinggian puluhan meter. Apalagi proyek PLTB  secara geografis cocok untuk daerah terpencil yang sulit terjamah oleh program elektrifikasi PLN pada umumnya.

Kondisi krisis distribusi minyak dan gas secara global akibat agresi Militer Amerika Serikat dan Israel terhadap bangsa Iran menyebabkan darurat energi di berbagai negara. Kondisi tersebut membuat teknologi pembangkit listrik tenaga bayu ( angin ) dan tenaga surya menjadi alternatif yang jitu. Namun, pembangunan PLTB tidak semudah yang dibayangkan. Banyak faktor teknis dan non teknis yang menghadang.

Makna Hari karrtini dan praktik keinsinyuran Ani Dwi Octavia (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Makna Hari karrtini dan praktik keinsinyuran Ani Dwi Octavia (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Kemandirian Keinsinyuran

Ani Dwi Octavia adalah lulusan Program Studi Program Profesi Insinyur (PS PPI) Institut Teknologi Indonesia (ITI) Tangerang Selatan, Banten. Dengan tugas akhir yang berjudul “Implementasi Meteorological Mast untuk Monitoring Potensi Angin untuk Pembangkit Listrik”.

Terkait tugas akhir keinsinyuran dirinya, itu adalah permasalahan utama yang dihadapi untuk membangun PLTB, yakni keterbatasan data potensi angin yang akurat dan berkelanjutan. Melalui perancangan, instalasi, dan evaluasi sistem meteorological mast, insinyur mampu mengurangi ketidakpastian teknis serta mengatasi kendala lapangan dengan penerapan standar keselamatan dan perencanaan teknis yang tepat.

Praktik ini mencerminkan kemandirian keinsinyuran dalam melakukan pengukuran dan analisis potensi angin secara mandiri. Dengan penguasaan proses pengumpulan dan interpretasi data, ketergantungan terhadap data sekunder dapat dikurangi dan kapasitas nasional dalam pengembangan energi angin dapat ditingkatkan.

Hasil praktik keinsinyuran Ani memberikan manfaat nyata berupa tersedianya data teknis yang valid untuk studi kelayakan PLTB, mendukung pengembangan energi bersih, serta berkontribusi terhadap efisiensi dan keberlanjutan sistem ketenagalistrikan.

Inovasi diwujudkan melalui penerapan solusi rekayasa yang tepat guna dan kontekstual, dengan mengintegrasikan sistem meteorological mast, analisis kelas angin, dan estimasi produksi energi tahunan (AEP). Pendekatan ini memungkinkan perencanaan PLTB yang lebih akurat, efisien, dan sesuai dengan kondisi lokal Indonesia.

Menghadiri simposium tentang pembangkit tenaga angin (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Menghadiri simposium tentang pembangkit tenaga angin (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Iron Lady Asuhan Budaya Betawi

Saat ini Ani memimpin perusahaan penyedia instrumentasi di bidang teknologi untuk energi baru terbarukan khususnya energi angin dan surya.  Oleh Profesor dan guru besar, dinyatakan lulus Program Profesi Insinyur dengan predikat kelulusan tertinggi,.

Wanita yang mendapat julukan sebagai ”Iron Lady” ini tumbuh hasil didikan budaya Betawi yang kental. Kedua orang tuanya mendidik Ani dan saudaranya penuh dengan disiplin dan kemandirian. Saking mandirinya Ani dianjurkan ayahnya untuk membuat peralatan dan instrumentasi di rumah hasil buatan sendiri. Hasil didikan orang tuanya itulah yang membuat Ani tumbuh menjadi sosok yang kreatif dan pantang menyerah.

Masa muda Ani dilalui dengan bersekolah di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Dia merupakan contoh sukses anak SMK yang berhasil meraih kemajuan dalam skala global. Ani adalah teladan anak SMK yang berhasil transfer teknologi dari negara maju. Beberapa kali mengunjungi negara-negara maju untuk belajar dan berbisnis tentang teknologi untuk memanen energi angin dan surya.

Ani Dwi Octavia menjelaskan tentang pembangunan PLTB (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ani Dwi Octavia menjelaskan tentang pembangunan PLTB (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Indonesia Perlu Totalitas Mengembangkan PLTB

Kepada penulis, Ani menekankan pentingnya bangsa Indonesia mengembangkan pembangkit listrik tenaga bayu/angin secara totalitas.  Menurutnya pengembangan tersebut tidak luput dari Meteorological Mast atau Mast Meteorologi. Yakni menara tinggi yang dipasang khusus untuk mengukur data cuaca dan iklim di ketinggian tertentu.

Menara itu dipasang sensor untuk mengukur parameter atmosfer yang berubah sesuai ketinggian, seperti kecepatan dan arah angin. Biasanya pada ketinggian 10, 50, 80,  dan 100 meter.  Kondisi angin di permukaan tanah berbeda jauh dengan di ketinggian 80-100 meter.

”Turbin angin membutuhkan data angin di beberapa tingkat ketinggian untuk menghitung potensi energinya. Makanya mast ini wajib ada sebelum membangun Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB),” kata Ani kepada penulis.

Pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) merupakan bagian penting dari kebijakan energi nasional untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil dan menurunkan emisi gas rumah kaca. Energi angin menjadi salah satu sumber EBT yang memiliki potensi untuk dikembangkan, terutama pada wilayah dengan karakteristik kecepatan dan kestabilan angin yang memadai.

Dalam pengembangan PLTB, ketersediaan data angin yang akurat dan representatif merupakan faktor kunci dalam menentukan kelayakan suatu lokasi. Data angin digunakan untuk memperkirakan potensi energi, menentukan pemilihan teknologi turbin, serta mengurangi risiko teknis pada tahap konstruksi dan operasi.

Meteorologi Mast (Met Mast) merupakan instrumen utama yang digunakan untuk melakukan pengukuran potensi angin secara langsung di lapangan. Met Mast dilengkapi dengan sensor kecepatan angin, arah angin, serta parameter meteorologi pendukung yang dipasang pada beberapa ketinggian. Data hasil pengukuran Met Mast menjadi dasar utama dalam analisis potensi energi angin.

Biasanya met mast dibangun dengan ketinggian 60-120 meter, bentuknya rangka besi lattice seperti menara telekomunikasi BTS.  Untuk membangun PLTB, investor harus tahu kondisi angin di lokasi  tersebut apakah cukup kuat  dan konsisten untuk menggerakkan turbin paling tidak 25 tahun ke depan.

Jika kecepatan angin rata-rata masih 4-5 m/s, maka itu masih di bawah standar komersial 6 m/s. Data dari mast harus memenuhi standar IEC 61400 supaya bisa dipakai untuk meyakinkan pihak investor.  

Dalam perkembangan, eksistensi Mast fisik mulai diganti LIDAR atau SODAR yang memakai laser dan suara untuk mengukur angin tanpa menara. Namun begitu peran mast konvensional masih menjadi “gold standard” karena paling akurat. Pada prinsipnya mast meteorologi  menjadi alat verifikasi yang tepat sebelum berinvestasi untuk PLTB.  Untuk proyek PLTB Sidrap di Sulawesi Selatan dan  PLTB Jeneponto memakai mast 100 meter.

Potensi PLTB di Indonesia cukup besar. Potensi teknis onshore: 246,2 GW dari 341 lokasi di seluruh Indonesia. Ini setara 200x kapasitas PLTB yang ada sekarang. Potensi ekonomis versi ESDM: 60,6 GW. Bedanya, potensi ekonomis itu yang kecepatan anginnya >4 m/s dan layak secara biaya.

Sampai tahun 2024 di Indonesia baru ada dua PLTB komersial besar, yakni PLTB Sidrap 75 MW - Sulawesi Selatan,dan PLTB Jeneponto 60 MW - Sulawesi Selatan.  Total kapasitas terpasang cuma ∼150 MW, padahal target 2025 awalnya 1,8 GW. Sekarang target revisi jadi 255 MW di 2025 dan 5 GW di tahun 2030.

Hambatan yang berarti dalam Pembangunan PLTB karena kecepatan angin Indonesia rata-rata 3-5 m/s. Sedangkan standar komersial itu minimal 6-7 m/s. Tapi teknologi turbin sekarang sudah bisa beroperasi dengan baik dengan kondisi angin 5,5 m/s dengan rotor besar.

Hambatan lain adalah biaya investasi awal cukup tinggi dan infrastruktur jaringan distribusi listrik di daerah terpencil belum siap. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Totok Siswantara
Penulis lepas, pemulia tanaman, lulusan Program Profesi Insinyur

Berita Terkait

News Update

Ikon 21 Apr 2026, 18:46

Hikayat Tol Cipali, Warisan Enam Presiden yang jadi Jantung Penghubung Jawa Barat

Sejarah panjang Tol Cipali dari krisis 1998 hingga beroperasi, serta dampaknya terhadap konektivitas dan ekonomi Pulau Jawa.

Tol Cipali. (Sumber: Ayomedia)
Wisata & Kuliner 21 Apr 2026, 17:50

Wisata Curug Cihanyawar, Air Terjun di Kaki Gunung Cikuray

Panduan wisata Curug Cihanyawar Garut, meliputi lokasi, akses jalur, kondisi jalan, serta daya tarik air terjun di kawasan kebun teh dan hutan pinus.

Curug Cihanyawar Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 21 Apr 2026, 17:08

Di Hari Kartini, Dua Perempuan Ojol Ceritakan Realitas Kerasnya Pekerjaan di Jalanan

Di Hari Kartini, dua perempuan pengemudi ojol di Bandung berbagi pengalaman menghadapi risiko, stigma, dan ketidakpastian penghasilan saat bekerja di jalanan.

Bagi Enis, menjadi Kartini masa kini berarti pantang menyerah mencari nafkah di usia senja. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 21 Apr 2026, 16:12

Kartini Masa Kini yang Menggeluti Energi Angin

Wanita yang mendapat julukan ”Iron Lady” ini tumbuh dalam budaya Betawi yang kental.

Ani Dwi Octavia, Kartini masa kini yang menggeluti energi angin. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Ani Dwi Octavia)
Komunitas 21 Apr 2026, 15:51

Lewat Kearifan Lokal, Komunitas Cika-Cika Konsisten Jaga Ekosistem Sungai Selama 17 Tahun

Komunitas Cika-Cika menjaga ekosistem Sungai Cikapundung selama 17 tahun melalui edukasi dan kearifan lokal. Aksi nyata ini mengubah bantaran sungai menjadi ruang sosial ekonomi yang berkelanjutan.

Pengunjung beraktivitas di bantaran Sungai Cikapundung, Cikalapa pada Minggu 19 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 21 Apr 2026, 15:29

Langkah Kecil Merawat Bumi

Menjaga lingkungan bukan sekadar kebiasaan baik, tetapi menjadi bagian dari ibadah.

Sejumlah siswa SD Darul Hikam Bandung menanam pohon di kawasan Dago Giri, Kabupaten Bandung Barat, Kamis, 25 April 2024 (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Apr 2026, 12:32

Jejak Kiprah Radio Bandung Era Tahun 70-an

Romantisme mendengarkan radio di Bandung pada awal dekade 1970-an bukan sekadar hiburan.

Para penyiar Radio Flippies Psychedelic, salah satu radio favorit di Bandung pada awal 1970-an. (Sumber: Majalah Aktuil)
Ayo Netizen 21 Apr 2026, 10:21

Mewujudkan Bandung Kota Vokasional

Bandung memiliki potensi besar menjadi kota vokasional, terutama berbasis industri kreatif, teknologi, dan jasa.

Ilustrasi sekolah kejuruan SMKN 4 Bandung. (Sumber: Laman SMKN 4 Bandung)
Beranda 21 Apr 2026, 09:41

Memburu Senyum Wisatawan, Rezeki Fotografer Jalanan di Asia Afrika Kota Bandung

Kisah inspiratif para fotografer jalanan di Asia Afrika Bandung yang tetap eksis di era ponsel, mengubah momen liburan wisatawan menjadi kenangan berharga demi mengais rezeki.

Wisatawan lokal berpose di Jalan Asia Afrika Kota Bandung dengan latar belakang gedung bersejarah, Hotel Savoy Homann. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 21 Apr 2026, 08:58

Tangkuban Parahu dari Sudut yang Tak Biasa

Kisah perjalanan empat orang ke Upas Hill yang tidak hanya soal puncak, tapi juga cara baru melihat Tangkuban Perahu.

Empat orang di perjalanan menuju puncak Upas Hill, sebelum semua sudut pandang berubah di atas ketinggian 2084 Mdpl. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Pernando Aigro S.)
Ayo Netizen 21 Apr 2026, 07:55

Rahasia Dapur Putri Jepara: Menghidupkan Kembali 209 Resep Autentik R.A. Kartini

Warisan kuliner ini kini terdokumentasi secara megah dalam buku Kisah dan Kumpulan Resep Putri Jepara: Rahasia Kuliner RA Kartini, RA Kardinah, RA Roekmini.

Sampul depan buku Kisah dan Kumpulan Resep Putri Jepara: Rahasia Kuliner RA Kartini, RA Kardinah, RA Roekmini. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Bandung 20 Apr 2026, 21:13

Dari Kantoran ke Roastery, Cerita Good Things Membangun “Rasa” dan Relasi Lewat Kopi

Good Things dimulai dari langkah sederhana sang founder, Alvira Kanusa Putra, yang memilih resign dari pekerja kantoran dan gagasan sederhana yang berkaitan dengan ketertarikannya dengan kopi.

Good Things dimulai dari langkah sederhana sang founder, Alvira Kanusa Putra, yang memilih resign dari pekerja kantoran dan gagasan sederhana yang berkaitan dengan ketertarikannya dengan kopi. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Wisata & Kuliner 20 Apr 2026, 20:28

Wisata Gunung Singah, Gunung Api Purba yang Cocok untuk Pendaki Pemula

Panduan pendakian Gunung Singah Bandung, termasuk jalur pendakian, estimasi waktu, kondisi trek, dan pemandangan luas Cekungan Bandung dari puncaknya.

Pemandangan dari puncak Gunung Singah. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 20 Apr 2026, 20:22

Meningkatkan Kerjasama Ketenagakerjaan dengan Jepang

Salah satu isu penting yang perlu terus ditekankan kepada pemerintah Jepang adalah masalah ketenagakerjaan

Keberangkatan pekerja dari Bandung untuk magang dan bekerja di Jepang (Sumber: lpksekaimustika.com)
Seni Budaya 20 Apr 2026, 14:27

Ketakutan dalam Kehidupan Baduy Luar: Modernisasi yang Diterima Diam-Diam dan Adat yang Tetap Mengawasi

Di Baduy Luar, barang modern seperti sabun hingga panel surya mulai digunakan, namun tetap disembunyikan karena aturan adat yang kuat.

Rumah dengan panel surya, bukti Baduy luar menerima modernisasi dengan cara sembunyi-sembunyi dari ketua adat.
Ayo Jelajah 20 Apr 2026, 13:39

Di Tanah Baduy, Kesetaraan Tak Perlu Didebatkan

Di tanah Baduy, kesetaraan laki-laki dan perempuan tak diperdebatkan, melainkan dijalani dalam keseharian yang sederhana dan harmonis.

Di tanah Baduy, kesetaraan laki-laki dan perempuan tak diperdebatkan, melainkan dijalani dalam keseharian yang sederhana dan harmonis. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Dian Naren Prastiti)
Ayo Netizen 20 Apr 2026, 13:10

Dari Lari ke Meditasi: Lari sebagai Praktik Budaya Populer dalam Transformasi Ruang Kota Bandung

Tren lari selalu menjadi solusi untuk mencari ketenangan dalam setiap indiividu.

Komunitas dan aktivitas lari yang semakin marak di Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Wisata & Kuliner 20 Apr 2026, 11:45

Wisata Geopark Ciletuh Sukabumi, Panduan Jelajah dari Puncak hingga Pantai

Jelajahi Geopark Ciletuh dari Puncak Darma hingga pesisir Samudra Hindia dengan panduan akses, tiket, dan spot wisata terbaik.

Geopark Ciletuh Sukabumi. (Sumber: anri.go.id)
Ayo Netizen 20 Apr 2026, 10:28

Kartini di Jalan Kota: Mengapa Transportasi Inklusif Masih Jadi PR?

Hari Kartini mengingatkan: emansipasi belum selesai jika perempuan masih merasa tidak aman dalam mobilitas.

Potret Raden Ajeng Kartini, pelopor emansipasi perempuan Indonesia yang memperjuangkan pendidikan, kesetaraan, dan kebebasan berpikir bagi perempuan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Ayo Netizen 20 Apr 2026, 09:57

Hari Buku Sedunia dan Angka 59: Ketika Bandung Belum Benar-Benar Membaca

Peringatan Hari Buku Sedunia dan realitas minat baca di Bandung yang masih cenderung rendah berdasarkan data BPS.

Ilustrasi Hari Buku Sedunia yang menjadi pengingat bahwa buku bukan hanya untuk dirayakan, tetapi juga untuk dibaca dalam keseharian. (Sumber: Freepik | Foto: Black Foundry)