Tantangan Kartini Masa Kini : Bangkitkan Kesadaran Konsumen dan Geluti Ekonomi Kreatif

5 menit baca
Sri Maryati
Ditulis oleh Sri Maryati diterbitkan Jumat 17 Apr 2026, 20:52 WIB
Ilustrasi RA.Kartini dalam sebuah film (Sumber: Legacy Pictures)

Ilustrasi RA.Kartini dalam sebuah film (Sumber: Legacy Pictures)

Kaum perempuan masa kini sesuai dengan perkembangan zaman bisa disebut Kartini 4.0. Peringatan Hari Kartini 2026 bagi kartini masa kini memiliki dua tantangan penting. Yaitu membangkitkan kesadaran konsumen dan menggeluti ekonomi kreatif secara cerdas. 

Kartini 4,0 memiliki ciri mampu membangkitkan kesadaran konsumen terhadap lingkungan terutama keluarganya. Mereka jangan justru mengidap konsumerisme sehingga boros dan tidak tidak memiliki literasi tentang cara memilih produk yang baik dan tidak terjebak kepada gaya hidup yang tidak produktif.

Membangkitkan Kesadaran Konsumen

Perempuan yang notabene juga seorang ibu merupakan pembentuk intelektual anak. Bayi yang baru lahir mulai merangkai kecerdasannya dimulai dengan mendengar tutur sapa dan isyarat dari ibunya. Tingkat kecerdasan sang anak semakin tumbuh pesat jika sang ibu gemar berliterasi, utamanya sering membaca buku.

Perempuan mau tidak mau harus bersiap diri menghadapi revolusi industri gelombang keempat atau Industri 4.0. Kuncinya adalah meningkatkan daya literasi. Termasuk literasi terkait kesadaran konsumen yang harus terus dibangkitan.

Salah satu upaya membangkitakn kesadaran konsumen pada saat berbelanja adalah mendorong penerapan “Cek KLIK” (Cek Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kadaluarsa) sebelum membeli atau mengkonsumsi produk pangan olahan. Selain itu masyarakat agar lebih teliti memilih produk dengan membaca dan memahami informasi nilai gizi (ING) pada label pangan, sehingga dapat memilih dan mengkonsumsi pangan secara seimbang.

Masyarakat perlu diberi pencerahan supaya tidak malas membuka aplikasi BPOM Mobile untuk memudahkan dalam memperoleh berita aktual dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan mengecek legalitas suatu produk.

Tugas Sejarah Kartini Terkait Pangan Tradisional

 Peringatan hari Kartini  juga momentum untuk melindungi dan memberikan insentif kepada usaha pangan tradisional. Dahulu pada saat penulis masih bersekolah, setiap Hari Kartini siswi tidak hanya berpakaian kebaya, tetapi juga ada cara lomba memasak menu tradisional khasanah Nusantara dengan bahan baku lokal.

Kartini 4.0 memiliki tugas sejarah antara lain memperbaiki mutu, volume produksi dan kemasan pangan tradisional sehingga lebih adaptif dengan pasar. Selama ini usaha untuk menerapkan manajemen mutu bagi usaha pangan tradisional belum optimal.

Pangan tradisional juga mewarnai wisata kuliner yang menjadi pesona berbagai daerah. Sayangnya, usaha pangan tradisional masih sarat dengan masalah. Masalah utama adalah kurangnya insentif dan pembinaan. Perhatian pemerintah daerah terhadap usaha pangan tradisional masih sebatas seremonial dan belum ada insentif yang berkelanjutan.

R.A. Kartini. (Sumber: Istimewa)
R.A. Kartini. (Sumber: Istimewa)

Definisi pangan tradisional adalah makanan, minuman, dan bahan campuran yang digunakan secara tradisional dan telah lama berkembang secara spesifik di daerah. Biasanya pangan tradisional diolah dari resep yang sudah dikenal masyarakat lokal dengan bahan-bahan yang juga diperoleh dari sumber lokal.

Kita semua masih prihatin, melihat kondisi yang masih lemah dalam melindungi konsumen. Eksistensi Undang Undang Perlindungan Konsumen jangan menjadi macan kertas. Akibatnya, masyarakat semakin tidak berdaya dikepung oleh aneka produk pangan yang merugikan dirinya. Mestinya ada kebijakan yang keras dan ekstra hati-hati untuk produk pangan. Dibutuhkan langkah yang konsisten dan strategis yang terkait registrasi pabrik produk pangan baik yang dimiliki oleh pengusaha dalam negeri maupun asing. Registrasi harus komprehensif sehingga bisa mencakup ketentuan tentang rekam jejak produk. Rekam jejak itu mencakup aspek pengolahan, pengemasan, transportasi, distribusi, dan pengapalan.

Dwifungsi Kartini

Keniscayaan bagi para Kartini 4.0 untuk mencetak generasi yang unggul dan adaptif dengan perkembangan zaman. Konsekuensi bagi seluruh warga agar bersiap diri menghadapi revolusi industri gelombang keempat atau Revolusi Industri 4.0. Generasi saat ini perlu menambah ilmu pengetahuan karena semakin banyak realitas yang sulit dikenali lagi.

Tantangan Kartini 4.0 yang krusial adalah masalah perubahan lapangan kerja yang semakin berbasis ekonomi digital. Semua jenis profesi menuju pekerjaan yang mengandalkan platform digital. Dari perekrutan tenaga kerja hingga metode bekerja semua dilakukan secara online.

Akibatnya pasal perjanjian kerja dan beban kerja sudah berubah secara total. Istilah karyawan sudah berganti menjadi mitra, jam kerja menjadi sangat fleksibel. Pasal hak-hak normatif pekerja sudah sirna digantikan dengan aturan yang dikontrol oleh sistem digital.

Sosok Kartini 4.0 perlu mentransformasikan dirinya dalam ber dwifungsi. Yakni fungsi menjadi pendukung ekonomi keluarga dan fungsi keduanya sebagai seorang ibu yang berkemampuan untuk mengatasi bermacam masalah keluarga. Salah satu persoalan krusial bangsa saat ini adalah masih banyaknya ibu rumah tangga yang tidak memiliki pengetahuan yang baik tentang gizi keluarga.

Kartini 4.0 perlu berperan memperluas lapangan kerja dan menumbuhkan profesi baru yang terkait dengan perempuan. Para Kartini 4.0 perlu regulasi yang selama ini menghambat aktivitasnya di sektor ekonomi kreatif. Jangan ada lagi resistensi dan pembatasan di beberapa tempat terkait dengan bidang usaha perempuan, utamanya di sektor ekonomi kreatif.

Di masa mendatang semakin banyak sosok Kartini 4.0 yang menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Juga menjadi tulang punggung perekonomian bangsa. Mereka menjadi pemimpin di berbagai start up dan menjadi pencipta model bisnis baru. Kondisi diatas sesuai dengan kajian Mckinsey, konsultan terkemuka dunia dalam laporannya yang berjudul “How Helping Women Helps Business”. Kajian tersebut secara garis besar menyatakan bahwa selama satu dekade terakhir perempuan telah berperan meningkatkan 1,6 persen Produk Domestik Bruto (PDB) suatu negara.

Tantangan bagi Kartini 4.0 yang paling menjanjikan adalah menggeluti ekonomi kreatif. Gambaran singkat dari kinerja ekonomi kreatif menurut World Bank setiap tahunnya mencapai pertumbuhan 9 persen. Malah ada negara yang mengalami pertumbuhan hingga 15 persen, antara lain Inggris. Tak pelak lagi, selama lima tahun terakhir sekitar 7,5 persen PDB dunia adalah kontribusi dari industri kreatif. Pekerja kreatif akan terus tumbuh rata-rata diatas 7 persen setiap tahun.

Sayangnya, untuk mencetak Kartini 4.0 sebanyak banyaknya masih terhambat oleh faktor pendidikan. Hal ini sesuai dengan laporan dari United Nation Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO). Ternyata Indonesia masih menduduki peringkat bawah negara yang di survei. Laporan UNESCO yang berjudul “Education for All (EFA) Global Monitoring Report” itu, pada intinya menyoroti masih rendahnya kesempatan bagi anak perempuan untuk menikmati pendidikan.

Laporan UNESCO diatas sesuai dengan data yang menyatakan bahwa angka partisipasi tingkat SMP baru mencapai 71 persen, angka partisipasi kasar tingkat SMA/SMK hanya sebesar 55 persen dan pendidikan tinggi hanya mencapai 15 persen. Tingkat partisipasi itu secara gradasi terus menurun dari tahun ke tahun. Tingkat partisipasi itu masih dikurangi dengan angka putus sekolah yang cukup tinggi. Laporan itu bisa dijadikan indikator masih rendahnya kualitas kaum perempuan di negeri ini yang dampaknya bisa berlarut-larut hingga beberapa tahun kedepan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Sri Maryati
Tentang Sri Maryati
Pemerhati sosial, penikmat destinasi wisata

Berita Terkait

News Update

Linimasa 10 Jun 2026, 16:50

Ibun Bajra, Fenomena Alam Embun Membeku di Kertasari Bandung

Fenomena ibun bajra kembali muncul di Kertasari. Embun membeku jadi lapisan es dan berdampak pada pertanian.

Daun teh membeku di Kertasari saat cuaca dingin menyergap Bandung 2019 silam. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 16:48

Menelusuri Jejak Historis Surabi, Oleh-Oleh Khas Jawa Barat

Surabi adalah salah satu makanan tradisional khas Jawa Barat.

Surabi Cihapit Bandung. (Sumber: Instagram | Foto: Surabi Cihapit)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 15:31

Menyusuri Bukit Plangon: Saat Sejarah dan Kepercayaan Menjaga Alam

Bukit Plangon menjadi contoh bagaimana nilai spiritual dan kearifan lokal berperan dalam menjaga keseimbangan alam.

Sinar matahari menerobos rimbunnya pepohonan di sekitar bangunan makam Bukit Plangon, Cirebon. (Sumber Foto: Dokumentasi pribadi, 2025)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 14:48

Kesadaran Masyarakat terhadap Penggunaan Kain Wol dengan Fashion Old Money

Penerapan gaya old money dan pemakaian kain wol menjadi strategi yang sangat efektif untuk menekan laju pertumbuhan fashion cepat di Indonesia.

Ilustrasi kain wol. (Sumber: Pexels | Foto: Vlada Karpovich)
Wisata & Kuliner 10 Jun 2026, 14:33

Jelajah TMII, Panduan Lengkap Wisata, Harga Tiket, dan Wahana Terbaru

Panduan lengkap berkunjung ke TMII Jakarta, mulai dari harga tiket, museum, anjungan daerah, Jagat Satwa Nusantara, hingga cara menjelajahi kawasan seluas 150 hektare.

Ayo Netizen 10 Jun 2026, 12:49

Filosofi Kendi, Animo Pemakaian Tumbler dan Mesin Air Minum Gratis

Kendi adalah ikon sosialisme air minum pada zamannya.

Ilustrasi kendi yang merupakan ikon sosialisme air minum warisan budaya bangsa. (Sumber: Pexels | Foto: Eda Yılmaz)
Sejarah 10 Jun 2026, 12:21

Jelajah Candi-candi di Bandung, Jejak Peradaban Kuno yang yang Hampir Terlupakan

Jejak peninggalan Hindu kuno di Bandung masih bertahan, tetapi kondisi situsnya memerlukan perhatian serius.

Situs Candi Bojongemas di Solokanjeruk Kabupaten Bandung memprihatinkan dan tak terawat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 11:29

Toponimi Lembang (Bagian 1)

Lembang berasal dari bahasa Sunda yaitu “Ngalembang” yang berarti air yang tergenang.

Buku Toponimi Lembang. (Foto: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 10:18

Gedung Juang 45: Transformasi Bangunan Kolonial Menjadi Museum Berbasis Digital

Revitalisasi Gedung Juang 45 Bekasi dari bangunan cagar budaya yang sempat terbengkalai menjadi museum modern berbasis teknologi digital.

Gedung Juang 45 Kota Bekasi (Sumber: bekasikab.go.id | Foto: Situs Pemerintah)
Beranda 10 Jun 2026, 10:12

Di Tengah Janji Energi Bersih, Warga Lereng Gunung Cemas Kehilangan Air, Lahan, dan Masa Depan

Di balik janji energi bersih dari proyek geotermal, warga di sejumlah lereng gunung di Jawa Barat menyuarakan kekhawatiran atas ancaman terhadap sumber air, lahan pertanian, dan ma

Dani Setiawan, petani sayur di kaki Gunung Gede Pangrango, menyuarakan kekhawatirannya terhadap proyek geotermal yang dinilai dapat mengancam sumber air, lahan pertanian, dan ruang hidup warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 09:17

Mengenal Peuyeum sebagai Makanan Tradisional Khas Jawa Barat

Peuyeum sebagai makanan tradisional khas Jawa Barat

Peuyeum Bandung. (Foto: Sofi Putri)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 08:38

Taat Rambu Lalu Lintas adalah Hal Sepele tapi Menyelamatkan Nafas Kehidupan

Satu detik yang menurut kita sepele bisa saja jadi harapan kehidupan bagi orang lain.

Salah satu titik yang sering mengalami kemacetan parah di Kota Bandung, persimpangan lampu merah di Jalan Djunjunan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 20:22

Pasang Surut Era Trem di Batavia

Transportasi trem di Batavia yang kini sudah tidak ada di Indonesia.

Tram Gondangdia di Batavia. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 09 Jun 2026, 16:31

Wisata Candi Borobudur: Panduan Lengkap Tiket, Sunrise, dan Sunset Experience

Panduan lengkap wisata Candi Borobudur 2026, mulai dari harga tiket, kuota naik candi, aturan penggunaan upanat, hingga waktu terbaik untuk berkunjung.

Candi Borobudur. (Sumber: Pemprov Jateng)
Ayo Biz 09 Jun 2026, 16:27

Kisah para Juara 1 BRIncubator, Konsisten Berdayakan Pekerja Lokal

Program inkubasi bergengsi dari BRI itu setiap tahunnya mengangkat segelintir UMKM ke panggung yang lebih besar.

Koku Footwear terpilih sebagai Juara 1 BRIncubator 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Beranda 09 Jun 2026, 16:05

Bandung Raya di Ambang Krisis Sampah, TPA Sarimukti Diperkirakan Penuh Oktober 2026

TPA Sarimukti diperkirakan penuh pada Oktober 2026, memicu ancaman krisis sampah di Bandung Raya yang masih bergantung pada pembuangan akhir dan minim pengolahan dari sumbernya.

Kendaraan pengangkut sampah terparkir di Jalan Tamansari, Kota Bandung, Rabu 6 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 15:08

Sesat Logika, Tantangan dalam Berbahasa

Transformasi digital telah membuka ruang publik semakin luas, tetapi membawa dampak pada kerusakan bahasa akibat kesalahan-kesalahan penafsiran masyarakat

Ilustrasi rak buku. (Sumber: Pexels | Foto: Yazid N)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 14:21

Sedia Payung sebelum Perusahaan Melakukan Pengrumahan Sementara hingga Tutup Permanen

Secara hukum lock out merupakan hak pengusaha untuk menolak pekerja masuk dalam rangka perselisihan industrial, namun pelaksanaannya wajib mematuhi aturan hukum yang berlaku.

Ilustrasi penutupan perusahaan atau lock out. (Sumber: Meta AI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 13:28

Dari Tambang ke Kanvas: Jejak Warna Biru dari Timur

Warna biru punya sejarah panjang yang dimulai dari ketiadaan, mari kita lihat perjalanannya.

Lapis Lazuli (Sumber: WikiMedia | Foto: Hannes Grobe)