Pamer atau Bertahan? Logika Sosial di Balik Tren Flexing di Media Sosial

3 menit baca
Safira Mg
Ditulis oleh Safira Mg diterbitkan
Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)
Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)

Di tengah harga kebutuhan yang terus naik dan akses ekonomi yang tidak merata, linimasa media sosial justru dipenuhi oleh potret kehidupan yang serba mewah. Dari video “day in my life” di kafe mahal, koleksi barang bermerek, hingga rutinitas harian yang tampak tanpa beban, semuanya seolah menyajikan satu pesan yang sama: hidup ideal adalah hidup yang terlihat berkecukupan.

Fenomena ini dikenal sebagai flexing. Sekilas, ia mudah dipahami sebagai kebiasaan pamer kekayaan. Namun, jika dilihat lebih dalam, flexing bukan sekadar soal gaya hidup, melainkan cerminan dari cara baru masyarakat memaknai identitas dan eksistensi di era digital.

Dalam kacamata Pierre Bourdieu, praktik semacam ini bisa dibaca sebagai upaya mengumpulkan kapital simbolik yakni bentuk pengakuan sosial yang diperoleh bukan hanya dari apa yang dimiliki, tetapi dari apa yang berhasil ditampilkan dan diakui orang lain. Di media sosial, kekayaan seakan baru “bernilai” ketika ia terlihat. Tidak cukup punya, seseorang juga perlu menunjukkannya.

Masalahnya, yang kita lihat di media sosial tidak selalu merepresentasikan kenyataan. Banyak konten yang sebenarnya merupakan hasil kurasi dipilih, disusun, dan dipoles agar tampak menarik. Dalam proses itu, realitas tidak dihilangkan, tetapi disederhanakan. Hidup yang kompleks dipadatkan menjadi potongan-potongan visual yang “layak tayang”.

Di titik ini, kita masuk pada apa yang oleh Jean Baudrillard disebut sebagai hiperrealitas situasi ketika batas antara realitas dan representasi menjadi kabur, bahkan tak lagi mudah dibedakan. Apa yang kita konsumsi bukan lagi kehidupan itu sendiri, melainkan versi yang telah direkayasa agar tampak lebih sempurna dari kenyataan.

Di tengah kondisi ini, muncul paradoks: kita hidup di tengah realitas yang penuh keterbatasan, tetapi terus mengonsumsi gambaran kehidupan yang nyaris tanpa kekurangan. Tanpa disadari, standar tentang “hidup yang layak” pun ikut bergeser. Bukan lagi soal kecukupan, tetapi soal bagaimana kecukupan itu ditampilkan.

Di era digital, eksistensi tidak cukup dimiliki ia harus ditampilkan.

Logika ini diperkuat oleh cara kerja media sosial itu sendiri. Algoritma cenderung mengangkat konten yang menarik perhatian, yang visualnya kuat, dan yang memicu respons. Dalam situasi seperti ini, konten yang “biasa saja” mudah tenggelam. Akibatnya, banyak orang merasa perlu untuk menampilkan versi terbaik atau bahkan versi yang dilebihkan dari kehidupannya.

Di sinilah batas antara “pamer” dan “bertahan” menjadi kabur. Tidak semua orang melakukan flexing karena ingin menyombongkan diri. Sebagian melakukannya karena ingin tetap relevan, tetap terlihat, dan tidak hilang dalam arus informasi yang begitu cepat. Ketika perhatian menjadi mata uang utama, visibilitas menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan.

Ketidakhadiran di media sosial, pada titik tertentu, bahkan dapat dimaknai sebagai ketidakeksistenan sosial.

Namun, ada konsekuensi yang tidak selalu disadari. Paparan terus-menerus terhadap konten gaya hidup ideal dapat mendorong perbandingan sosial yang tidak sehat. Kita mulai mengukur diri berdasarkan standar yang sebenarnya tidak sepenuhnya nyata. Apa yang tampak sebagai inspirasi, perlahan bisa berubah menjadi tekanan.

Dalam konteks ini, flexing bukan hanya tentang individu yang menampilkan kehidupan, tetapi juga tentang sistem yang mendorong individu untuk melakukannya. Ia menjadi semacam “bahasa baru” dalam ruang digital cara kita memberi tahu dunia siapa kita, tanpa harus mengatakannya secara langsung.

Flexing adalah bahasa baru dalam mendefinisikan “siapa kita” di ruang digital.

Pada akhirnya, pertanyaan “pamer atau bertahan?” mungkin tidak perlu dijawab secara hitam-putih. Keduanya saling bertaut. Di satu sisi, ada dorongan untuk menunjukkan status. Di sisi lain, ada kebutuhan untuk tetap eksis dalam sistem yang terus menuntut visibilitas.

Yang perlu kita sadari, flexing bukan sekadar pilihan personal. Ia adalah bagian dari logika budaya digital yang lebih besar yang mendorong kita untuk terus terlihat, bahkan jika itu berarti harus menampilkan versi diri yang tidak sepenuhnya nyata.

Dan mungkin, pertanyaan yang lebih penting bukan lagi apakah orang lain sedang “pamer”, tetapi: sejauh mana kita sendiri ikut terjebak dalam kebutuhan untuk terlihat? (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 23 Okt 2026, 20:14

Lemahneundeut, Jejak Tanah Neundeut atau Nendatan di Lereng Gunung

Lemahneundeut adalah masa tanah atau batuan yang bergerak ke bawah lereng.

Persawahan berteras-teras di Bandung Selatan, merupakan jejak lemahneundeut yang dikelola dengan baik. (Sumber: T. Bachtiar)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 19:17

Sosok Didi Petet sebagai Potret Bandung dalam Film Preman Pensiun

Didi Petet sudah meninggal beberapa tahun lalu, tapi sosoknya dalam film Preman Pensiun masih membekas, dan menjadi ingatan waktu yang tercermin dalam potret kehidupan sehari-hari di Bandung.

Ilustrasi Didi Petet. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 18:31

Lebih Berani di Rumah daripada di Jenewa: Posisi Indonesia dalam Perundingan Plastik

Menurut KLH/BPLH, 202), porsi plastik dalam sampah nasional naik dari 11% pada 2010 menjadi hampir 20% pada 2024 dan dapat mencapai 50% pada 2050 tanpa intervensi seriu.

Warga memungut sampah botol dan gelas plastik di bawah jembatan Babakan Sapan (BBS) Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 30 Juni 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:59

Kampus Bukan Tempat Pamer Knalpot: Saatnya Menjaga Kenyamanan Akademik di UIN Bandung Kampus I Cipadung

Knalpot bising di Kampus I UIN Bandung, Cipadung, mengganggu kenyamanan akademik. Saatnya bersama menjaga ketertiban kampus.

Ilustrasi knalpot brong. (Sumber: Pexels | Foto: Quốc Bùi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:26

CCTV Merekam, tetapi Belum Tentu Mencegah: Keamanan Lingkungan Mahasiswa Perlu Tanggung Jawab Bersama

CCTV dapat membantu merekam kejadian, menyusun kronologi, dan memberikan petunjuk untuk mengidentifikasi orang yang diduga terlibat.

Ilustrasi CCTV. (Sumber: Pexels | Foto: Bezalens JGP)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 15:32

Kisah 101 FM : Ketika Radio Bandung Masih Siaran di Gelombang AM/MW

Dari kawasan Jalan Rajamantri Kulon, Bandung, stasiun radio ini mengudara melalui jalur FM (Frequency Modulation).

Radio 101 FM Bandung, salah satu pelopor siaran radio di jalur FM di Kota Bandung pada era 1980-an hingga 1990-an. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 14:41

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon

Taman Wisata Goa Sunyaragi adalah salah satu wisata bersejarah di Kota Cirebon yang menyimpan banyak cerita menarik.

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 13:00

BRT Bandung Dibangun untuk Mengurai Kemacetan, Mengapa Masyarakat Justru Menanggung Dampaknya?

Pembangunan Bus Rapid Transit Bandung Raya diharapkan mengurangi kemacetan. Namun, dampak proyek halte menimbulkan pertanyaan tentang tanggung jawab pemerintah dalam menjaga kenyamanan masyarakat.

Halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Cicadas termasuk tipe B dimana halte berada di antara jalan satu arah dengan 4 lajur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 12:41

Mewujudkan Bandung Kota Jamu, Merawat Warisan Inggit Garnasih

Salah satu contoh inovasi Jamu kekinian di Bandung adalah Paduan Rempah, usaha minuman herbal yang dirintis Ahmad Hikmat Rahayu bersama istrinya

Acaraki Jamu tak sekadar menjual minuman herbal, tetapi menyuguhkan pengalaman gaya hidup yang berakar pada warisan budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 11:27

Demam Aplikasi Pemda: Solusi Pelayanan Publik atau Cuma Proyek 'Sampah Digital'?

Membahas masalah aplikasi pemerintah yang belum efektif serta pentingnya digitalisasi pelayanan publik yang berorientasi pada kemudahan, keamanan, dan kebutuhan masyarakat.

Foto seseorang menggunakan ponsel. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 10:17

Menengok Terminal Ledeng, Menengok Diri Sendiri

Terminal Ledeng mengingatkan saya bahwa kita tidak pernah benar-benar berjalan di tempat yang sama, bahkan ketika melewati jalan yang benar-benar sama.

Terminal Ledeng, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)
Sejarah 22 Okt 2026, 12:36

Hikayat Resolusi Jihad dan Lahirnya Hari Santri

Resulusi Jihad menjadi pembakar jiwa nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional

Ilustrasi Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang diperingatinya Hari Santri Nasional (Foto: artificial intelligence)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 09:04

Polisi, Massa Hitam, dan Keamanan Kota Bandung

Dalam merespon demonstrasi, kemampuan membedakan aksi damai dan serangan terorganisir sangat penting.

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demo di sekitar Tugu Simpang Lima, Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026) sore (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 07:54

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan.

Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)