Pamer atau Bertahan? Logika Sosial di Balik Tren Flexing di Media Sosial

Safira Mg
Ditulis oleh Safira Mg diterbitkan Jumat 17 Apr 2026, 19:51 WIB
Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)

Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)

Di tengah harga kebutuhan yang terus naik dan akses ekonomi yang tidak merata, linimasa media sosial justru dipenuhi oleh potret kehidupan yang serba mewah. Dari video “day in my life” di kafe mahal, koleksi barang bermerek, hingga rutinitas harian yang tampak tanpa beban, semuanya seolah menyajikan satu pesan yang sama: hidup ideal adalah hidup yang terlihat berkecukupan.

Fenomena ini dikenal sebagai flexing. Sekilas, ia mudah dipahami sebagai kebiasaan pamer kekayaan. Namun, jika dilihat lebih dalam, flexing bukan sekadar soal gaya hidup, melainkan cerminan dari cara baru masyarakat memaknai identitas dan eksistensi di era digital.

Dalam kacamata Pierre Bourdieu, praktik semacam ini bisa dibaca sebagai upaya mengumpulkan kapital simbolik yakni bentuk pengakuan sosial yang diperoleh bukan hanya dari apa yang dimiliki, tetapi dari apa yang berhasil ditampilkan dan diakui orang lain. Di media sosial, kekayaan seakan baru “bernilai” ketika ia terlihat. Tidak cukup punya, seseorang juga perlu menunjukkannya.

Masalahnya, yang kita lihat di media sosial tidak selalu merepresentasikan kenyataan. Banyak konten yang sebenarnya merupakan hasil kurasi dipilih, disusun, dan dipoles agar tampak menarik. Dalam proses itu, realitas tidak dihilangkan, tetapi disederhanakan. Hidup yang kompleks dipadatkan menjadi potongan-potongan visual yang “layak tayang”.

Di titik ini, kita masuk pada apa yang oleh Jean Baudrillard disebut sebagai hiperrealitas situasi ketika batas antara realitas dan representasi menjadi kabur, bahkan tak lagi mudah dibedakan. Apa yang kita konsumsi bukan lagi kehidupan itu sendiri, melainkan versi yang telah direkayasa agar tampak lebih sempurna dari kenyataan.

Di tengah kondisi ini, muncul paradoks: kita hidup di tengah realitas yang penuh keterbatasan, tetapi terus mengonsumsi gambaran kehidupan yang nyaris tanpa kekurangan. Tanpa disadari, standar tentang “hidup yang layak” pun ikut bergeser. Bukan lagi soal kecukupan, tetapi soal bagaimana kecukupan itu ditampilkan.

Di era digital, eksistensi tidak cukup dimiliki ia harus ditampilkan.

Logika ini diperkuat oleh cara kerja media sosial itu sendiri. Algoritma cenderung mengangkat konten yang menarik perhatian, yang visualnya kuat, dan yang memicu respons. Dalam situasi seperti ini, konten yang “biasa saja” mudah tenggelam. Akibatnya, banyak orang merasa perlu untuk menampilkan versi terbaik atau bahkan versi yang dilebihkan dari kehidupannya.

Di sinilah batas antara “pamer” dan “bertahan” menjadi kabur. Tidak semua orang melakukan flexing karena ingin menyombongkan diri. Sebagian melakukannya karena ingin tetap relevan, tetap terlihat, dan tidak hilang dalam arus informasi yang begitu cepat. Ketika perhatian menjadi mata uang utama, visibilitas menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan.

Ketidakhadiran di media sosial, pada titik tertentu, bahkan dapat dimaknai sebagai ketidakeksistenan sosial.

Namun, ada konsekuensi yang tidak selalu disadari. Paparan terus-menerus terhadap konten gaya hidup ideal dapat mendorong perbandingan sosial yang tidak sehat. Kita mulai mengukur diri berdasarkan standar yang sebenarnya tidak sepenuhnya nyata. Apa yang tampak sebagai inspirasi, perlahan bisa berubah menjadi tekanan.

Dalam konteks ini, flexing bukan hanya tentang individu yang menampilkan kehidupan, tetapi juga tentang sistem yang mendorong individu untuk melakukannya. Ia menjadi semacam “bahasa baru” dalam ruang digital cara kita memberi tahu dunia siapa kita, tanpa harus mengatakannya secara langsung.

Flexing adalah bahasa baru dalam mendefinisikan “siapa kita” di ruang digital.

Pada akhirnya, pertanyaan “pamer atau bertahan?” mungkin tidak perlu dijawab secara hitam-putih. Keduanya saling bertaut. Di satu sisi, ada dorongan untuk menunjukkan status. Di sisi lain, ada kebutuhan untuk tetap eksis dalam sistem yang terus menuntut visibilitas.

Yang perlu kita sadari, flexing bukan sekadar pilihan personal. Ia adalah bagian dari logika budaya digital yang lebih besar yang mendorong kita untuk terus terlihat, bahkan jika itu berarti harus menampilkan versi diri yang tidak sepenuhnya nyata.

Dan mungkin, pertanyaan yang lebih penting bukan lagi apakah orang lain sedang “pamer”, tetapi: sejauh mana kita sendiri ikut terjebak dalam kebutuhan untuk terlihat? (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Safira Mg
Tentang Safira Mg
Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi Universitas Telkom dengan peminatan media

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 20 Mei 2026, 11:38

Inflasi Mengganas: Pilih Menabung Sampai Bonyok atau Berutang Biar Jadi Bos?

Memegang uang tunai terlalu lama di dalam tabungan adalah sebuah kerugian karena nilainya menyusut.

Ilustrasi uang tunai rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 10:13

Hadiah Kecil untuk Lembang (Lembangku Sayang, Lembangku Malang)

Untuk melahirkan rasa sayang dan kepedulian itu maka, marilah mengenal Lembang lebih dekat.

Para pemuda yang tergabung dalam komunitas pecinta budaya Lembang mengikuti tur sejarah Lembang untuk meningkatkan kesadaran para pemuda. (Sumber: Dokumentasi Indra Riyadi)
Beranda 20 Mei 2026, 09:39

Menjaga Damai dan Bahagia para Oma hingga Tuhan Memanggilnya

Panti Nazareth di Bandung bukan sekadar tempat tinggal lansia, tetapi ruang untuk menemani para oma menjalani masa tua dengan hangat.

Yunanth, staf administrasi dan bagian umum di Panti Nazareth. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 08:51

Molornya Acara Nobar 'Pesta Babi': Pilih Bertahan atau Pergi

Untuk peduli dan mengajak banyak orang peduli dengan isu-isu krusial dan besar.

Bagaimana mungkin kita mengajak orang lain untuk peduli kepada mereka yang diperlakukan semena-mena. Sementara dengan orang terdekat kita tidak peduli dengan waktunya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 05:35

Tamasya ke Pantai Pasir Putih Pangandaran, Surga Tersembunyi di Balik Hutan Pananjung

Tersembunyi di balik hutan Pananjung, Pantai Pasir Putih Pangandaran dikenal dengan air jernih, terumbu karang, dan suasana yang lebih sunyi.

Pantai Pasir Putih Pangandaran.
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 03:00

Tamasya Bukit Strawberry Lembang, Bucket List Wisata Panorama Perbukitan di Bandung Barat

Panduan wisata Bukit Strawberry Lembang lengkap: tiket masuk, petik strawberry, wahana keluarga, glamping, kuliner, hingga waktu terbaik berkunjung.

Bukit Strawberry Lembang.
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 20:05

Bertahan dari Stereotipe 'Perempuan Belum Menikah'

Seberdaya apapun seorang perempuan tapi jika belum menikah, mereka seringkali dianggap tidak cukup lengkap hidup di tengah masyarakat.

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Fanny Hariadi)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 17:52

Eksistensialisme Mahasiswa Zaman Now: Daya Nalar Mengikis, yang Penting Eksis!

Menurunnya daya nalar adalah lampu kuning bagi masa depan.

Ilustrasi mahasiswa. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Magang Foto/Habib Riyadhi A.S)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 17:35

Panduan Berkunjung ke Keraton Kanoman Cirebon, Jejak Kesultanan Zaman Baheula

Keraton Kanoman Cirebon menawarkan wisata sejarah, museum pusaka, dan tradisi kesultanan yang masih bertahan di tengah hiruk-pikuk pasar kota tua.

Gedung Gajah Mungkur di kompleks Keraton Kanoman CIrebon. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 19 Mei 2026, 16:25

Bagi Wagino, Menjaga Buku Sama Artinya dengan Menjaga Harapan Orang untuk Belajar

Di tengah budaya digital, Wagino M Putra tetap menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, dan percaya membaca adalah pondasi penting bagi generasi muda.

Wagino M Putra tetap setia menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, sambil meyakini bahwa buku tidak akan tergantikan oleh layar ponsel. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 19 Mei 2026, 16:25

Digitalisasi yang Tanpa Sadar Mendongkrak Kenaikan Kelas UMKM Cikopi Mang Eko

Inilah sisi menarik lain dari Cikopi Mang Eko yang jarang diceritakan, tentang peran vital digitalisasi yang tanpa sadar telah mendongkrak 'UMKM Naik Kelas'.

Muchtar Koswara, pemiliki Cikopi Mang Eko,  di Jalan Golf Dalam, Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 15:27

Menolak Lupa Mei 98: Kini Indonesia Cemas akan Rupiah Kian Melorot

Jika pemerintah terus abai, krisis kepercayaan publik yang meruntuhkan Orde Baru bukan tidak mungkin akan terulang kembali.

Massa membakar kursi dan benda lainnya saat kerusuhan Mei 1998 di Jakarra. (Sumber: Publication of the Indonesian government without copyright notice)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 14:53

Panduan Jelajah Wisata Lembang Bandung, Iteneray Liburan Pilihan Destinasi Favorit

Jelajahi wisata favorit Lembang seperti Farmhouse, Floating Market, The Lodge Maribaya, hingga Curug Maribaya lengkap dengan tips waktu kunjungan terbaik.

Farmhouse Susu Lembang. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ikon 19 Mei 2026, 14:05

Jembatan BBS, Dari Muara Sampah Sampai Jadi Tempat Nongkrong

Jembatan BBS di Bandung Barat dikenal sebagai spot nongkrong estetik di atas Citarum, meski kawasan ini juga menjadi tempat penumpukan sampah.

Jembatan Babakan Sapan (BBS) di Bandung Barat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 13:44

Dari Pesisir Lasem hingga Jadi Maestro Kuliner di Bandung: Mengenang Dedikasi Julie Sutarjana

Julie Sutarjana pernah melewati "masa sulit" perjuangan ekonomi di Bandung.

Julie Sutarjana. (Sumber: Instagram | Foto: kedainyonyarumah.bdg)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 11:49

Untuk Bertahan Jangan jadi Manusia Polos di Bandung

Bertahan bukan tentang bisa makan dan memiliki pekerjaan saja melainkan bertahan dari segala tindak kriminalitas dan modus penipuan yang terjadi di ruang publik di Kota Bandung.

Ilustrasi rawan modus penipuan di ruang publik di Kota Bandung (Sumber: AI)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 10:36

Bangkit di Kota Hujan: Dari PHK hingga Peluang Baru

Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, menjadi perjuangan nyata bagi warga Bandung di tengah badai PHK.

Kota Hujan di Bandung. (Sumber: Humas Kota Bandung)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 09:11

Mengapa Kasus Ban Truk Lepas Terus Berulang?

Kasus ban truk lepas yang terus berulang menunjukkan pentingnya perawatan kendaraan, inspeksi rutin, dan penguatan budaya keselamatan transportasi jalan.

Dua gerobak pedagang di Kawasan Simpang DAM, Kota Batam, hancur dihantam ban truk pengangkut tanah yang lepas pada Senin (30/6/2025). (Sumber: Youtube/Official UTV)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 08:10

Syukur, Takabur, dan Kufur

Dari momen sederhana itu tersimpan harapan agar langkah kecil hari ini menjadi motivasi untuk terus mencintai Al-Qur’an, menjaganya dalam ingatan, dan menghidupkannya dalam keseharian.

Di balik kelancaran menghafal hingga 5 juz para murid hari ini, Sabtu (16/6/2026) ada komitmen dan disiplin kuat dalam menjaga rutinitas. (Sumber: Tangkap layar Instagram @sdialamanahbdg)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 20:54

Potret Bandung Era Tahun 70-an dalam Koran GALA Edisi Lawas

Membaca surat kabar lama sering kali terasa seperti menaiki mesin waktu.

Halaman depan surat kabar GALA edisi 16 Mei 1973, terbit 53 tahun silam, yang menjadi salah satu potret dinamika sosial, politik, dan kehidupan Kota Bandung pada masanya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)