Di tengah harga kebutuhan yang terus naik dan akses ekonomi yang tidak merata, linimasa media sosial justru dipenuhi oleh potret kehidupan yang serba mewah. Dari video “day in my life” di kafe mahal, koleksi barang bermerek, hingga rutinitas harian yang tampak tanpa beban, semuanya seolah menyajikan satu pesan yang sama: hidup ideal adalah hidup yang terlihat berkecukupan.
Fenomena ini dikenal sebagai flexing. Sekilas, ia mudah dipahami sebagai kebiasaan pamer kekayaan. Namun, jika dilihat lebih dalam, flexing bukan sekadar soal gaya hidup, melainkan cerminan dari cara baru masyarakat memaknai identitas dan eksistensi di era digital.
Dalam kacamata Pierre Bourdieu, praktik semacam ini bisa dibaca sebagai upaya mengumpulkan kapital simbolik yakni bentuk pengakuan sosial yang diperoleh bukan hanya dari apa yang dimiliki, tetapi dari apa yang berhasil ditampilkan dan diakui orang lain. Di media sosial, kekayaan seakan baru “bernilai” ketika ia terlihat. Tidak cukup punya, seseorang juga perlu menunjukkannya.
Masalahnya, yang kita lihat di media sosial tidak selalu merepresentasikan kenyataan. Banyak konten yang sebenarnya merupakan hasil kurasi dipilih, disusun, dan dipoles agar tampak menarik. Dalam proses itu, realitas tidak dihilangkan, tetapi disederhanakan. Hidup yang kompleks dipadatkan menjadi potongan-potongan visual yang “layak tayang”.
Di titik ini, kita masuk pada apa yang oleh Jean Baudrillard disebut sebagai hiperrealitas situasi ketika batas antara realitas dan representasi menjadi kabur, bahkan tak lagi mudah dibedakan. Apa yang kita konsumsi bukan lagi kehidupan itu sendiri, melainkan versi yang telah direkayasa agar tampak lebih sempurna dari kenyataan.
Di tengah kondisi ini, muncul paradoks: kita hidup di tengah realitas yang penuh keterbatasan, tetapi terus mengonsumsi gambaran kehidupan yang nyaris tanpa kekurangan. Tanpa disadari, standar tentang “hidup yang layak” pun ikut bergeser. Bukan lagi soal kecukupan, tetapi soal bagaimana kecukupan itu ditampilkan.
Di era digital, eksistensi tidak cukup dimiliki ia harus ditampilkan.
Logika ini diperkuat oleh cara kerja media sosial itu sendiri. Algoritma cenderung mengangkat konten yang menarik perhatian, yang visualnya kuat, dan yang memicu respons. Dalam situasi seperti ini, konten yang “biasa saja” mudah tenggelam. Akibatnya, banyak orang merasa perlu untuk menampilkan versi terbaik atau bahkan versi yang dilebihkan dari kehidupannya.
Di sinilah batas antara “pamer” dan “bertahan” menjadi kabur. Tidak semua orang melakukan flexing karena ingin menyombongkan diri. Sebagian melakukannya karena ingin tetap relevan, tetap terlihat, dan tidak hilang dalam arus informasi yang begitu cepat. Ketika perhatian menjadi mata uang utama, visibilitas menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan.
Ketidakhadiran di media sosial, pada titik tertentu, bahkan dapat dimaknai sebagai ketidakeksistenan sosial.
Namun, ada konsekuensi yang tidak selalu disadari. Paparan terus-menerus terhadap konten gaya hidup ideal dapat mendorong perbandingan sosial yang tidak sehat. Kita mulai mengukur diri berdasarkan standar yang sebenarnya tidak sepenuhnya nyata. Apa yang tampak sebagai inspirasi, perlahan bisa berubah menjadi tekanan.
Dalam konteks ini, flexing bukan hanya tentang individu yang menampilkan kehidupan, tetapi juga tentang sistem yang mendorong individu untuk melakukannya. Ia menjadi semacam “bahasa baru” dalam ruang digital cara kita memberi tahu dunia siapa kita, tanpa harus mengatakannya secara langsung.

Flexing adalah bahasa baru dalam mendefinisikan “siapa kita” di ruang digital.
Pada akhirnya, pertanyaan “pamer atau bertahan?” mungkin tidak perlu dijawab secara hitam-putih. Keduanya saling bertaut. Di satu sisi, ada dorongan untuk menunjukkan status. Di sisi lain, ada kebutuhan untuk tetap eksis dalam sistem yang terus menuntut visibilitas.
Yang perlu kita sadari, flexing bukan sekadar pilihan personal. Ia adalah bagian dari logika budaya digital yang lebih besar yang mendorong kita untuk terus terlihat, bahkan jika itu berarti harus menampilkan versi diri yang tidak sepenuhnya nyata.
Dan mungkin, pertanyaan yang lebih penting bukan lagi apakah orang lain sedang “pamer”, tetapi: sejauh mana kita sendiri ikut terjebak dalam kebutuhan untuk terlihat? (*)
