TikTok, Trotoar, dan Eksistensi

5 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Konten kreator TikTok bernyanyi secara daring menggunakan smartphone (telepon pintar) di Jalan Babakan Siliwangi, Kota Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Konten kreator TikTok bernyanyi secara daring menggunakan smartphone (telepon pintar) di Jalan Babakan Siliwangi, Kota Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Saat asyik membaca buku Aku Klik Maka Aku Ada: Manusia dalam Revolusi Digital karya F. Budi Hardiman (PT Kanisius, 2021), tiba-tiba cuplikan realitas unik melintas di beranda, video @garagara_ig berjudul Para Tiktoker yang Live di Pinggir Jalan Babakan Siliwangi yang bersumber dari @indyrahmawati. Dengan gaya satir mengajak kepada pemiarsa “Ayo hitung, ada berapa yang live TikTok di jalan ini?”

Memang di balik kesederhanaan para konten kreator, tersimpan pertanyaan yang lebih dalam tentang keberadaan manusia utuh di tengah derasnya arus informasi hari ini.

Untuk di kawasan Babakan Siliwangi (Baksil) kesejukan udara, rindangnya pepohonan, dan hamparan hijau yang dulu menjadi ruang jeda, berkumpul dari hiruk-pikuk keganasan kota, kini perlahan berubah menjadi panggung digital alakadarnya.

Konten kreator TikTok bernyanyi secara daring menggunakan smartphone (telepon pintar) di Jalan Babakan Siliwangi, Kota Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Konten kreator TikTok bernyanyi secara daring menggunakan smartphone (telepon pintar) di Jalan Babakan Siliwangi, Kota Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Nasib Trotoar Atas Akal

Betapak tidak, sepanjang trotoar, bukan hanya pejalan kaki yang berlalu-lalang, melainkan para kreator yang bernyanyi, berbicara, dan hadir menyapa melalui layar gawai. Keberadaan Smartphone bukan lagi sekadar alat, justru menjadi perantara eksistensi diri.

Kawasan yang strategis dan teduh ini memang tak pernah sepi. Kendaraan melintas, orang berhenti sejenak, sebagian lain hanya memperlambat laju, ya sekadar melirik, tengok kanan-kiri.

Kini, ada berjuta lapisan penonton lain yang tak kasatmata, yang ikut hadir dari jauh, menyaksikan siaran langsung, memberi komentar, sekadar menjadi angka dalam hitungan penonton, sesekali memberikan saweran (gift), terus meningkatkan jangkauan konten biar jadi FYP (For You Page). Babakan Siliwangi tak lagi hanya ruang fisik, justru berlipat menjadi ruang digital.

Tentunya, ini seolah-olah membenarkan pernyataan F. Budi Hardiman, “aku klik, maka aku ada.” Keberadaan tidak lagi semata diukur dari kehadiran tubuh, melainkan dari keterhubungan, ikatan yang intim, kuat, mengikat, dari seberapa sering kita muncul di layar orang lain. Trotoar berubah fungsi, dari ruang berjalan menjadi ruang tampil, dari ruang publik menjadi ruang representasi eksistensi diri.

Data tahun 2020 menunjukkan sebanyak 226 titik trotoar di Kota Bandung mengalami kerusakan, mulai dari kategori ringan hingga parah, yang berpotensi membahayakan pejalan kaki. Untuk wilayah Asia Afrika, Cihampelas dan Dago menjadi juaranya jalan dengan kondisi trotoar terburuk. Sungguh mengancam keamanan dan kenyamanan wisatawan luar kota yang mengidentikan identitas Kota Bandung sebagai kota wisata buruk.

Dampaknya, banyak warga terpaksa berjalan di pinggir jalan raya, hingga meningkatkan risiko kecelakaan, terutama bagi kelompok rentan seperti penyandang disabilitas. Kondisi ini menimbulkan keresahan di tengah masyarakat, yang menilai adanya pengabaian dari Pemerintah Kota Bandung terhadap fasilitas publik.

Padahal, dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang hak pejalan kaki, pemerintah memiliki kewajiban untuk menyediakan dan memelihara infrastruktur yang aman dan layak. (Ayo Bandung Minggu 04 Jan 2026, 18:57 WIB).

Konten kreator TikTok bernyanyi secara daring menggunakan smartphone (telepon pintar) di Jalan Babakan Siliwangi, Kota Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Dinamika dan Kekuatan Homo digitalis

Saat ini seolah tidak ada yang lebih pasti daripada itu. Dengan kepastian dalam layar itu, Homo sapiens berubah menjadi Homo digitalis. Bersama dengan itu pula, kepastian-layar menggeser kepastian-realitas.

Homo digitalis (manusia jari) memastikan keberadaannya lewat jari yang mengklik. Namun, kepastian itulah yang perlu kita sangsikan di sini, jika kita tidak ingin seluruhnya dikendalikan genius malignus zaman kita yang menukar eksistensi korporeal dengan eksistensi digital.

Dunia aktual yang ke dalamnya kita terlibat sebagai darah dan daging terus dikolonisasi dengan suatu dunia keseolahan yang bertempat di mana pun, sekaligus tidak di mana pun. Dari situ keseolahan mulai menyihir siapa pun. Ego merasa pasti akan eksistensinya bukan dari dirinya, melainkan dari citra yang tidak jarang mengecoh.

Ketika membuka smartphone pagi-pagi dan melihat dirinya terpampang di Facebook atau kicauannya dikomentari di Twitter (X). Di sana ada personal brand-nya. Dia pun yakin bahwa doa sungguh ada dan bukan delusi. Buktinya, foto, teks atau videonya ada di sana. Sewaktu-waktu, si ego bertindak, dengan klik untuk apa saja agar tetap update. Berpikir tidak penting lagi: yang terpenting adalah klik agar si ego eksis dalam media-media sosial.

Berbeda dari apa yang dikemukakan Descartes di awal modernitas, si ego di zaman kita tidak menyangsikan eksistensi digitalnya. Padahal masih dapat disangsikan apakah citra-citra dalam dunia digital dan isi komunikasi di dalam media-media sosial bukan kecohan suatu genius malignus.

Eksistensi si ego tidak ditentukan oleh kesangsiannya, melainkan oleh kepastiannya, bahwa dia telah mempos, membalas chats, mendapat likes, atau merekrut sejumlah besar followers. Untuk itu tidak perlu pikir-pikir, melainkan cukup klik. "Aku klik, maka aku ada", premo ergo sum.

Komunikasi digital, terutama lewat media-media sosial, memang di satu sisi membuka ruang kebebasan komunikatif, tetapi di lain sisi tidak lebih dari echo chamber dan confirmation bias, maka media sosial dapat menjadi "sekolah" fanatisme dan ekshibisionisme sikap-sikap ekstrem.

Fanatisme di era media sosial bukan sikap alamiah individu, melainkan produk ciptaan digital invisible hands, yakni hot politis atau algoritma dalam industri media. Sikap reaksioner, hipersensitivitas, agresi, dan kekasaran adalah hasil modifikasi perilaku lewat algoritma media sosial. Makin banyak keterlibatan pada sebuah isu, makin diketahui perasaan, selera, pikiran pengguna, maka makin persis mengendalikan perilakunya.

Di sini distingsi antara motivasi internal dan eksternal dalam fanatisme tetap berguna untuk merespons fenomena ini secara bijaksana. Bot politis yang secara otomatis mengirim kicauan kebencian tiap menit dapat merubah kondisi internal manusia. Bot hanya merangsang dari luar, sementara keputusan ada di dalam diri ego, selama kekuatan karakter masih sanggup menahan sugesti dari luar. (F. Budi Hardiman, 2021:14-15 dan 64-65)

Konten kreator TikTok bernyanyi secara daring menggunakan smartphone (telepon pintar) di Jalan Babakan Siliwangi, Kota Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Konten kreator TikTok bernyanyi secara daring menggunakan smartphone (telepon pintar) di Jalan Babakan Siliwangi, Kota Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Kaburnya Batas Antara yang Nyata dan Virtual

Uniknya, para live streamer melihat segala potensi di Kawasan Baksin ini bukan hanya keindahan alamnya, tetapi pada arus perhatian yang mengalir deras tanpa henti. Rasa penasaran pengendara, lirikan pejalan kaki, hingga interaksi penonton digital. Semuanya menjadi energi positif yang terus menghidupkan pertunjukan spontan ini.

Walhasil, batas antara yang nyata dan yang virtual menjadi kabur. Babakan Siliwangi hari ini adalah cermin kecil dari perubahan besar, bagaimana media sosial, seperti TikTok, menggeser makna ruang publik yang bukan lagi sekadar tempat berbagi ruang, malah menjadi tempat berbagi perhatian.

Pertanyaannya bukan lagi “ada berapa orang yang live di sana,” melainkan, “seperti apa kita memaknai kehadiran?” Ke depan, barangkali yang dibutuhkan bukan sekadar pembatasan,  penertiban, melainkan kesadaran kolektif.

Dengan demikian, ihwal kreativitas digital memang layak dirayakan, tetapi ruang publik tetap menyimpan fungsi sosial yang tak bisa sepenuhnya dapat digantikan oleh layar. Di antara rindangnya pepohonan di kawasan Baksil yang tetap tegak berdiri dan kokoh, keberadaan manusia terus mencari cara (model) baru untuk merawat sambil berkata “inilah aku yang hadir dan berada.” (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)