Polemik Edukasi Obat: Saat Tiktok Lebih Dipercaya ketimbang Tenaga Kesehatan

7 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Media sosial seperti Tiktok sudah menjadi alternatif bagi masyarakat untuk mencari rekomendasi pengobatan. (Sumber: Pexels/Daniel Frank)
Media sosial seperti Tiktok sudah menjadi alternatif bagi masyarakat untuk mencari rekomendasi pengobatan. (Sumber: Pexels/Daniel Frank)

Media sosial acap kali memang menyimpan segudang informasi. Pengguna seringkali diuntungkan dengan video yang dibagikan user lain tentang suatu kejadian, informasi pendidikan hingga edukasi mengenai kesehatan.

Sebagian besar user yang memiliki background kesehatan memang turut harus diapresiasi dengan usahanya menyebarluaskan edukasi dengan memanfaatkan teknologi yang ada.

Dibalik kemegahannya, secara sadar ataupun tidak teknologi perlahan merubah pola hidup dan tindak langkah manusia. Melalui kemudahannya, manusia jadi bergantung pada segala fasilitas yang disediakan.

Semua hal dari kebutuhan sehari-hari, menggunakan produk jasa hingga pemenuhan hal remeh-temeh pun disediakan secara virtual. Manusia tidak perlu lagi berangkat ke suatu tempat yang ia butuhkan, cukup duduk diam santai bahkan bisa sambil rebahan, jari-jemari melakukan tariannya, produk pun langsung terkirim ke rumahnya.

Dulu sekitar 10 tahun ke belakang, produk jasa erat kaitannya dengan komunikasi dua arah, pengguna dan penyedia jasa mesti duduk berhadapan, bertatap muka dan berkomunikasi sesuai dengan kebutuhannya.

Saat itu aku pernah berpikir, jika produk jasa adalah yang paling memungkinkan untuk bertahan dalam jangka waktu yang panjang.

Rasanya penyedia jasa tidak bisa tergantikan oleh teknologi apapun, karena menurutku produk jasa itu erat kaitannya dengan sebuah rasa. Namun ternyata hal ini pun tak terhindarkan, karena pada faktanya saat ini peran penyedia jasa mulai tergantikan oleh sistem bahkan robot.

Sejak dulu dunia farmasi termasuk apotek yang secara khusus bertemu dengan masyarakat tentu selalu menemui tantangan.

Salah satu tantangannya adalah perihal edukasi kesehatan yang berhubungan dengan indikasi, kontra indikasi, efek samping, aturan pakai serta cara penggunaan obat.

Dulu masyarakat nyaris lebih percaya kepada rekomendasi tetangga dibandingkan dengan penjelasan dan pemilihan obat yang dianjurkan oleh Apoteker.

Sering kali pasien berdebat dengan tenaga kesehatan karena satu pihak ngeyel dan satu pihak lagi idealis ingin memberikan edukasi yang benar sesuai dengan SOP.

Beberapa tenaga kesehatan tetap teguh merekomendasikan obat yang benar kepada pasien. Namun tidak menutup kemungkinan juga ada tenaga kesehatan yang pada akhirnya mengalah demi keinginan pasien.

Beberapa alasannya tidak mau ribet atau memperhitungkan omset semata. Memang jika tenaga kesehatan bersikukuh dengan prinsipnya, biasanya pasien akan lari ke apotek sebelah.

Hari ini perdebatan tidak hanya terjadi pada ruang lintas antar sesama manusia. Kompleksitas akan perdebatan ini sudah merambah menuju dunia maya. Bahkan perdebatan tidak hanya antara netizen dengan tenaga kesehatan. Bisa netizen dengan netizen, bahkan sesama tenaga kesehatan.

Hal ini bisa terjadi karena meskipun dalam ruang lingkup kesehatan yang sama, seringkali terdapat perbedaan proses belajar dan pengalaman yang tidak sama.

Tiktok Dijadikan Sarana Mencari Rekomendasi Obat

Tiktok tidak hanya dikenal sebagai aplikasi bagi konten kreator yang menampilkan kegiatan joget-joget semata. Kini tiktok sudah berkembang dan didatangi oleh berbagai macam konten kreator. Mulai dari kreator bisnis, fashion, makanan, pendidikan, travelling, hukum, hingga dunia kesehatan.

Banyak kreator di bidang kesehatan yang pada mulanya hanya membagikan keluh kesah selama berinteraksi dengan pasien. Banyak hal-hal lucu hingga menjengkelkan yang tenaga kesehatan alami. Kegiatan story telling seperti ini ternyata cukup disambut baik oleh netizen. Hal ini yang memicu tenaga kesehatan lainnya ikut meramaikan dengan membuat konten yang sama.

Dulu industri farmasi khususnya apotek merupakan salah satu pekerjaan privat yang sangat dijaga kerahasiannya dari pihak diluar tenaga kesehatan. Banyak hal-hal yang bersifat rahasia pengguna pelayanan jasa yaitu pasien. Misalnya saja resep obat yang dimiliki pasien, beberapa lokasi obat berlabel keras, lemari psikotropik dan narkotik.

Kegiatan meracik obat pun menjadi sesuatu yang sangat vital yang semestinya tidak perlu diketahui pasien bahkan orang diluar yang tidak bersangkutan. Tapi hari ini data itu dengan mudah disebarluaskan dengan sadar atau tidak ke khalayak umum, bisa melalui story, postingan bahkan live sekalipun.

Namun hadirnya tiktok hari ini, membuat tenaga kesehatan mengikuti trend dengan membuka live atau saluran langsung. Ada yang hanya bercanda sebagai konten hiburan tapi ada juga yang membuka konsultasi perihal penggunaan obat. Tapi rasanya ini kurang bijak, terlebih kegiatan kefarmasian di apotek itu cukup kompleks, melibatkan banyak prosedur yang harus dijaga dengan penuh kosentrasi dan perhatian.

Melakukan live di jam kerja tidak hanya menggambil hak pemilik perusahaan medapatkan karyawan terbaik tapi juga mengambil waktu yang sudah diberikan hitungan upah gaji per-harinya. Terlepas jika pemilik perusahaan mengizinkan, seharusnya tenaga kerja yang melakukan live tidak merangkap sambil melakukan kegiatan kefarmasian.

Sediakan khusus antara petugas yang melakukan live dengan petugas yang melayani kefarmasian. Dengan catatan jika live memang memiliki provit bagi branding perusahaan atau memang apotek yang bersangkutan memiliki niat yang mulia untuk melayani edukasi kesehatan melalui siaran langsung.

Melihat viewers yang dapat meningkatkan engagement, tentu menambah penghasilan bagi para kreatornya. Hal ini yang memicu timbulnya akun-akun anonim yang mengambil konten para nakes atau mereka mengarang konten hanya bermodalkan pencarian di intenet semata.

Banyak akun yang memberikan kombinasi obat secara random yang belum tentu dipastikan keamanannya. Banyak kasus pasien yang membeli obat dengan membawa contoh screen shoot sebuah akun di tiktok. Misalnya saja pernah ada yang membeli obat stelan untuk sakit kaki dengan merk vadrol (methyl prednisolon), carbiru(dexametason) dan juga kaditic (diclofenak pottasium).

Tanpa diketahui pasien, dua diantara obat diatas memiliki jenis dan penggunaan yang hampir serupa, golongan obat methyl prednisolon dan dexametason termasuk ke dalam jenis kortikosteroid yang bisa digunakan sebagai anti inflamasi (radang), antihistamin (alergi), pembantu anti sesak pada kasus penderita asma.

Ilustrasi obat. (Sumber: Pexels/Pixabay)
Ilustrasi obat. (Sumber: Pexels/Pixabay)

Golongan kortikosteroid sendiri merupakan obat yang mesti diperhatikan cara penggunaanya, tidak boleh sembarangan dan harus sesuai dengan resep dokter. Kortikosteroid yang dikonsumsi dalam jangka waktu panjang tanpa pemantauan akan menyebabkan moon face (pembengkakan pada area wajah) atau bisa menyebabkan peradangan sendi.

Kembali kepada efek sampingnya yang cukup berbahaya, obat diatas yang direkomendasikan oleh akun oknum tenaga kesehatan menjadi kombinasi yang tidak tepat. Satu jenis kortikostroid saja sudah memiliki dampak yang signifikan bagi kesehatan, lantas bagaimana dampak dengan kedua jenis obat yang sama tapi diminum secara bersamaan.

Kondisi ini akan memperparah tukak lambung (pembengkakan lambung), gangguan metabolik (diabetes, peningkatan berat badan), osteoporosis (gangguan pada tulang), gangguan miopati (otot), gangguan pada kulit (jerawat atau tumbuh rambut pada area tertentu secara berlebihan).

Tak heran juga jika saat ini banyak kasus imunosupresi, yang berhubungan dengan kelemahan imun sehingga tubuh tidak bisa melawan penyakit dengan baik.

Regulasi Undang-Undang Kesehatan di Media Digital

Sejauh ini belum ada undang-undang secara khusus yang mengaturr edukasi kesehatan melalaui media digital.

Adapun yang sempat terbit adalah UU No.17 Tahun 2023 yang mengatur tentang kesehatan termasuk penyelenggaraan upaya kesehatan yang dapat memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi seperti telemedicine dan telekesehatan.

Selanjutnya ada UU No.20 Tahun 2017 yang mengatur lebih terinci perihal penyelenggaraan telemedicine antar pelayanan kesehatan.

Peraturan ini merupakan payung hukum yang digunakan pada aktivitas pelayanan obat secara jarak jauh antara pasien dengan dokter. Kemudian dokter akan meresepkan obat yang kemudian akan dilanjutkan oleh sistem kepada apotek yang bekerja sama dan memiliki ketersediaan obat secara lengkap sesuai dengan yang dibutuhkan.

Ketidakhadiran Undang-undang pada media digital akan makin melegalkan produk yang tidak memilik BPOM untuk terjual keras di pasaran. Terlebih netizen Indonesia yang berada di media sosial kerap kali mudah mempercayai suatu produk yang viral tanpa mencari tahu keamanan sebuah produk.

Banyak influencer yang di-endorse untuk memasarkan suatu produk. Tanpa diketahui sebetulnya infuencer yang bersangkutan hanya bekerja memasarkan produk tapi tidak turut menggunakan produk yang diiklankan.

Setelah terjadi efek yang tidak diharapkan biasanya netizen yang menjadi korban akan speak up dan meminta validasi serta dukungan dari netizen lainnya. Padahal hal tersebut menjadi keselahannya sendiri karena mudah terbujuk produk yang belum jelas keamanannya.

Kedua Undang-undang di atas hanya membatasi proses pelayanan dan belum sampai ke tahap pembatasan edukasi yang dilakukan tenaga kesehatan atau oknum dalam menggunakan media sosial sebagai sebuah sarana.

Salah satu langkah yang bisa digunakan untuk mengatasi informasi yang tidak terkendali adalah dengan penggunaan bijak para pengguna media sosial. Sebagai bahan referensi tentu bisa diambil dari sumber mana saja termasuk tiktok.

Namun ada baiknya jika mengkonfirmasi kembali kepada tenaga kesehatan yang bertugas melakukan pelayanan kesehatan secara langsung di lapangan.

Tenaga kesehatan yang bertugas di lapangan pun harus turun aktif memberikan edukasi yang ramah. Sehingga pasien yang datang ke apotek bisa nyaman dan percaya sehingga mereka tidak membutuhkan lagi peran media sosial untuk mengakses informasi mengenai rekomendasi obat.

Adapun jika pasien masih akses melalui media sosial, kepentingannya bukan untuk mempercayai tapi sebagai bahan pembanding informasi yang relevan dan tidak relevan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dias Ashari
Tentang Dias Ashari
Menjadi Penulis, Keliling Dunia dan Hidup Damai Seterusnya...
Tag Terkait

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Sep 2026, 18:33

Jika Ada Lagi Taman Nasional atau Taman Hutan Raya Baru di Jawa Barat

Menelusuri peluang hadirnya taman nasional atau taman hutan raya (tahura) baru sebagai benteng keanekaragaman hayati, pelindung ekosistem (flora dan fauna) serta oasis hijau masa depan Bumi Pasundan.

Bagas Aji Prakoso saat menjajal Tahura Djuanda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 16:50

Ketika Idealisme Pengabdian Gen-Z Membentur Tembok Kaku Birokrasi

Artikel opini ini membahas paradoks antara idealisme pengabdian ASN Generasi Z dan budaya birokrasi yang masih dianggap kaku.

Tumpukan Berkas. (Sumber: Chat GPT | Foto: AI Chat GPT)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 15:05

Jalur FM: Ketika Suara dari Udara Menjadi Lebih Jernih

Sebelum gelombang FM semakin ramai di Bandung, perubahan serupa lebih dahulu terasa di Jakarta.

Studio Radio OZ Bandung di Jl. Setrasari II No. 14, Bandung. Radio OZ menjadi salah satu stasiun radio di Bandung yang termasuk awal bermigrasi dari jalur AM ke FM. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 14:42

216 Tahun Kota Bandung: Merawat Warisan dan Membangun Masa Depan Gastronomi Berkelanjutan

Lebih dari sekadar destinasi tempat orang mencari tempat makan yang estetis atau makanan lezat, Bandung pada hakikatnya adalah laboratorium budaya.

Kudapan tradisional khas Kota Kembang yang sangat populer antara lain cireng, cilok, seblak, dan telur gulung. (Sumber: Shutterstock | Foto: Hanifah Kurniati)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 12:21

Momentum Mahasiswa Meraih Prestasi

Mahasiswa sering menyalahkan diri dan keadaannya dalam situasi yang sulit. Menurut mahasiswa, bahwa keberadaannya belum tentu berprestasi. 

Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 22 Sep 2026, 10:40

Media Lokal Cari Model Bisnis Baru di Local Media Summit 2026

Media lokal tidak lagi hanya dituntut menjadi penerbit berita, tetapi juga dapat berkembang menjadi agensi lokal, pengelola komunitas.

Local Media Summit (LMS) akan kembali hadir di pada 22-23 Oktober 2026 di Hotel Manhattan Jakarta.
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:15

Jika Benzema Datang, Persib Sebenarnya Membeli Apa?

Status bebas transfer Benzema saat ini membuat sebuah pintu terbuka untuk Persib.

Karim Benzema (Sumber: ayobandung.com | Foto: Wikimedia Commons (Lisensi CC) via ayobandung.com)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:00

Urap: Jejak Mahakarya Kuliner Tertua dan Filosofi Kehidupan dalam Sepiring Sayuran Nusantara

Dalam khazanah gastronomi Indonesia, urap bukan sekadar komposisi sayuran dan kelapa parut.

Urap merupakan sajian sayuran tertua di tanah Jawa yang tercatat secara formal dalam literatur sejarah. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:31

Demokrasi yang Berakar: Ketika Politik Bertemu  Budaya dan Kepercayaan

Sebelum seseorang menjatuhkan pilihan politiknya, ada proses komunikasi yang panjang. Sebelum sebuah kekuasaan dianggap sah, ada proses pembentukan makna.

Diah Fatma Sjoraida merupakan Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. (Sumber: Gemini | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:01

Urgensi Kota Bandung: Persolan Sampah dan Kemacetan

Sampah dan kemacetan adalah dua persoalan besar yang dihadapi Bandung. Harus diatasi dengan membangun kesadaran bersama, yang akhirnya demi kenyamanan bagi warga Bandung, sebagai rumah bersama.

Pengendara melintas di dekat tumpukan sampah yang menggunung di TPS Jalan Makam Caringin, Kota Bandung, Kamis, 9 April 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 18:17

Imaji Papua Bersilaturahmi dengan Caraka Sundanologi Bandung

Imaji Papua membawa cerita tentang manusia, budaya, dan kehidupan Tanah Papua ke Bandung melalui film dan dialog lintas komunitas.

Caraka Sundanologi bersilaturahmi dengan komunitas Imaji Papua melalui pemutaran film dokumenter sebagai ruang berbagi cerita, budaya, dan pengalaman tentang Papua. (Sumber: Nonon Rachnaya)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 17:20

Bandung dan Terbentuknya Karyawan 'Flourish'

Ketika Pemkot Bandung berhasil memangkas hambatan birokrasi,sektor industri harus siapkan sistem rekrutmen yang presisi.

Bandung dan urgensi karyawan "Flourish" (Sumber: dokpri dengan kreasi chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 16:22

Tugu Proklamasi Cirebon: Jejak Pembacaan Proklamasi 15 Agustus 1945

Sebuah tugu berwarna putih di perempatan Jalan Siliwangi, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, itu menjadi saksi bahwa kemerdekaan Indonesia pernah diproklamirkan sebelum 17 Agustus 1945.

Tugu Proklamasi Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Wahyu)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 15:58

Menimbang Dampak Pajak Otomatis di Tengah Melejitnya Lokapasar Kota Bandung

Proses perpajakan digital menuntut UMKM agar merapikan pembukuan mereka

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan (Kanan). (Sumber: Humas Pemkot Bandung)
Ikon 21 Sep 2026, 15:33

Stasiun Cicalengka, dari Stasiun Bersejarah jadi Tinggal Sejarah

Stasiun Cicalengka berusia lebih dari seabad. Bangunan lamanya telah dibongkar, sementara tinggalan sejarahnya masih tersisa.

Stasiun Cicalengka, Bandung, antara tahun 1900-1920-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 13:41

Akar Historis dan Evolusi Gastronomi Sunda: Meneroka Budaya Pangan Tatar Parahyangan

Gastronomi bukan sekadar urusan pemuasan kebutuhan fisiologis manusia melalui asupan nutrisi, melainkan sebuah disiplin ilmu yang membedah korelasi intrinsik antara makanan dan kebudayaan.

Penjual makanan keliling di Jawa Barat sekitar tahun 1910. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 11:21

Bioskop sebagai Ruang Refleksi Diri

Bioskop di era modern tidak sekedar ajang hiburan tapi ruang refleksi yang membuat nyaman.

Ilustrasi bioskop. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 09:09

Ketika Fikom Harus Mengajarkan Cara Berkomunikasi dengan Mesin

Sekarang mulai terbentuk pola baru komunikasi, yakni manusia berbicara kepada mesin, mesin menghasilkan pesan, mesin memilih pesan, lalu manusia menerima dan menafsirkannya.

Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. (Sumber: ayobandung.com | Foto: fikom.unpad.ac.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 17:07

930 Pecatur di Bandung Dapat Wejangan dari Legenda Utut Adianto

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru.

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 16:57

Istilah Bahasa Jawa untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Mengenal istilah lokal Bahasa Jawa untuk menggambarkan kekuatan guncangan gempa bumi, dari Lir hingga Lindhu Kiamat/Jagad Obah. Kaya makna dan kearifan lokal suu bangsa Jawa.

Ilustrasi bangunan yang rusak akibat gempa bumi. (Sumber: Pexels | Foto: Ahmed akacha)