Algoritma Media Sosial Hanya Menguntungkan Politisi

Joshua Adriel
Ditulis oleh Joshua Adriel diterbitkan Minggu 28 Des 2025, 11:28 WIB
 (Sumber: Pexels | Foto: Element5 Digital)

(Sumber: Pexels | Foto: Element5 Digital)

Seorang ekonom peraih hadiah nobel Milton Friedman pernah berkata “Tidak ada yang namanya makan siang gratis,” dan hal yang sama berlaku bagi media sosial yang sesungguhnya tidak gratis karena data para pengguna yang menjadi harganya. Para Pengguna memang dapat mengunduh ataupun menggunakan sosial media secara gratis, meskipun pada kenyataannya tidak demikian.

Ketika para pengguna pertama kali menggunakan sosial media, maka pengguna harus memasukkan data mereka kepada pihak perusahaan. Pengguna mungkin merasa tidak keberatan akan hal ini, sayangnya secara tak sadar data pengguna sudah dipajang sebagai bahan jualan oleh perusahaan sosial media. Dalam jangka pendek efeknya mungkin tak terasa secara langsung oleh pengguna, tetapi dia bisa menjadi bumerang yang berbahaya bagi pengguna.

Berbeda dengan media lainnya seperti televisi yang hanya ingin menayangkan konten berdasarkan selera pasar yang ada, media sosial justru bisa menyajikan konten yang dipersonalisasi sesuai preferensi setiap pengguna. Ketika pengguna memasuki laman sosial media pengguna akan menemukan beragam konten, dengan cara tersebut algoritma di sosial dapat lebih mengenal jenis konten yang disukai oleh pengguna.

Algoritma sosial media diciptakan bukanlah tanpa suatu tujuan, algoritma sosial media diciptakan agar pengguna dapat menghabiskan waktu yang lama dalam sosial media. Jika pengguna makin lama dan makin banyak menonton jenis konten yang sama, maka algoritma sosial media menjadi lebih mudah untuk merekomendasikan suatu tontonan kepada pengguna. Sebagai contoh seorang pengguna sangat menyukai konten tentang sepak bola, maka algoritma sosial media akan terus merekomendasikan pengguna konten lainnya mengenai sepak bola.

Rancangan algoritma inilah yang dapat menarik ratusan juta pengguna media sosial, dan dari data inilah yang kemudian dilihat sebagai peluang strategis oleh para politisi. Dari data yang diumumkan KPI terdapat 204,8 juta pemilih pada pemilihan umum tahun 2024 lalu, dari angka tersebut sekitar 114 hingga 115,6 juta di antaranya adalah pemilih generasi Z dengan rentang umur dari 17 hingga 28 tahun. Riset dari databoks menemukan bahwa sekiranya ada sekitar 191 juta pengguna sosial media, di mana jumlah pengguna sosial media didominasi oleh pengguna yang berumur 18 hingga 34 tahun.

Jika pada zaman sebelum sosial media politisi harus melakukan kampanye melalui media seperti televisi atau koran, maka kini politisi sosial media dapat melakukan kampanye melalui sosial media. Justru algoritma sosial media makin menguntungkan politisi, pengguna dapat terjebak dalam algoritma yang hanya memberitakan berita positif mengenai politisi tersebut atau bahkan membuat pengguna menjadi pendukung fanatik dari politisi tersebut.

Putusan MK 135/PUU-XXII/2024 pisahkan Pemilu Nasional dan Daerah mulai 2029. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Putusan MK 135/PUU-XXII/2024 pisahkan Pemilu Nasional dan Daerah mulai 2029. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Tak heran jika algoritma media sosial kini dianggap sebagai alat politik yang efektif untuk melanggengkan kekuasaan para politisi, sebagaimana terlihat jelas pada kampanye pemilihan umum 2024. Di mana di setiap konten yang diunggah pada sosial media, para tim sukses setiap calon pasangan presiden mempromosikan program calon presiden tersebut bahkan sampai ke fase menanggung-anggungkan calon presiden mereka sendiri. Pada satu sisi hal ini dapat memudahkan para calon pemilih dalam memilih manakah calon presiden yang sesuai dengan keinginan, tetapi ini pun dapat berdampak negatif di mana para calon pemilih justru dapat menjadi pendukung fanatik seorang calon presiden yang akan selalu membela sang calon presiden tersebut.

Sayangnya berbagai kampanye yang bertebaran di sosial media dapat menunjukkan bahwa demokrasi Indonesia dapat dikatakan masih belum sehat, di mana banyak tersebar disinformasi di sosial media dengan tujuan untuk menyerang dan menjatuhkan calon presiden lainnya.

Dari riset yang dilakukan oleh Dimas Subekti dan kawan-kawannya menemukan bahwa selama masa kampanye pemilihan umum tahun 2024 terjadi lonjakan besar dalam jumlah konten disinformasi di sosial media yang juga ditemukan bahwa penyebaran ini  terjadi secara sistematis, melalui data ini dapat disimpulkan bahwa para politisi tidak peduli akan nasib bangsa ini tetapi hanya memedulikan bagaimana caranya untuk melanggengkan kekuasaan mereka di pemerintahan.

Baca Juga: Menata Parkir Braga, Menata Masa Depan Pariwisata Bandung

Naif rasanya mengharapkan adanya perubahan apabila para politisi masih menikmati semua keuntungan dari algoritma sosial media yang ada, namun perubahan dapat terjadi dari diri pengguna yang memutuskan untuk lebih kritis. Pengguna harus selalu ingat bahwa tidak semua konten yang beredar adalah konten yang baik, sehingga para pengguna harus bisa lebih bijaksana dalam menikmati suatu konten.

Sosial media hanya akan selalu memberikan konten yang disukai oleh penggunanya, sehingga sosial media akan berhenti menyodorkan konten yang tidak pengguna tidak sukai. Jika politisi menjadikan algoritma sosial media sebagai senjata, maka pengguna dapat menggunakan senjata yang sama untuk melawan politisi. Algoritma sosial media dapat pengguna manfaatkan untuk mengedukasi pengguna lain agar tak mudah dipengaruhi oleh konten yang tersebar di sosial media, karena sekecil apa pun sebuah perlawanan dia tetaplah perlawanan yang dapat mengubah nasib bangsa ini. (*)

Daftar pustaka:

  • Narayan, Arvind. 2023. Understanding Social Media Recommendation Algorithms. New York: Knight First Amendment Institute.
  • Subekti, Dimas., dkk. 2025. Social media and Disinformation for Candidates: the Evidence in the 2024 Indonesian Presidential Election. Laussane: Frontiers.

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Joshua Adriel
Tentang Joshua Adriel
Mahasiswa Informatika UNPAR

Berita Terkait

News Update

Beranda 25 Feb 2026, 06:39

Makhluk Kecil Ini Ungkap Kondisi Sebenarnya Air Sungai di Teras Cikapundung

Penelitian terbaru di Teras Sungai Cikapundung menunjukkan bahwa kualitas air di hulu sungai Bandung kini berada dalam status tercemar sedang akibat limbah domestik dan aktivitas peternakan

Petugas bersama masyarakat melakukan bersih-bersih Teras Cikapundung, Kota Bandung, Kamis 16 Mei 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 24 Feb 2026, 18:47

Di Simpul Kredit dan Hunian: Transformasi Pembiayaan Perumahan dalam Lanskap Stabilitas Perbankan

Di simpul antara kebijakan makro dan kebutuhan rumah tangga, pembiayaan perumahan berdiri sebagai jembatan.

Warga beraktivitas di salah satu komplek perumahan bersubsidi di Kabupaten Bandung (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Beranda 24 Feb 2026, 15:31

Ramadan di Masjid Lautze 2: Saling Berbagi dan Tak Pernah Bertanya Latar Belakang

Pengemis, pengemudi ojek online, pekerja harian, musafir, hingga warga sekitar yang sekadar ingin mampir, duduk dalam barisan yang sama. Tak ada kursi khusus, tak ada sekat sosial.

Suasana ramadan di Masjid Lauetze 2 di Jalan Tamblong, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 15:01

Miskin di Ruang yang Rusak: Menggugat Politik Kemiskinan Ekologis di Indonesia

Mengkritik politik kemiskinan ekologis: warga miskin hidup di ruang rusak, sementara bansos hanya jadi solusi tambal sulam struktural.

Gundukan sampah. (Sumber: Pexels | Foto: Mumtahina Tanni)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 13:37

Ramadan yang Bukan Sekadar Fasting dalam Bahasa Inggris

Untuk memahami Ramadan di Indonesia, seseorang tidak cukup hanya memahami konsep fasting.

Umat Muslim beribadah di Bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Annas Arfnahri)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 11:58

15 Istilah Penting Ramadan yang Mudah Dipahami WNA Nonmuslim di Indonesia

Untuk memahami Ramadan di Indonesia, memahami istilah-istilah kuncinya adalah langkah awal yang penting.

Pedagang takjil di bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Umar ben)
Beranda 24 Feb 2026, 11:52

RW 15 Tembus FYP, Bangunin Sahur Jadi Wadah Berkarya Anak Sekeloa Selatan

Tradisi bangunin sahur anak-anak muda Sekelo Selatan sudah berjalan sejak 2007. Bukan sekadar keliling kampung, kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi lintas generasi yang kini viral di media sosial.

Anak-anak muda Sekeloa Selatan pelaku tradisi bangunin sahur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 08:09

Puasa Perisai Konsumtif

Jangan sampai nilai-nilai Ramadan ini tereduksi menjadi sekadar simbol dan rutinitas di tengah derasnya arus budaya konsumtif.

Pengunjung belanja pada Gelar Produk Pasar Tani di Bale Asri Pusdai, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa 18 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 20:20

Reforma Agraria di Punclut: Negara Hadir atau Abai?

Di lereng yang menjadi bagian dari Kawasan Bandung Utara (KBU) itu, warga telah puluhan tahun menggarap lahan ex-erfpacht verponding.

Pertemuan warga Punclut (Foto: Dokumen Mang Aqli)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 16:20

Kumpulan Kata yang Mendadak Ramai Diucap Pas Ramadan

Berikut kumpulan kata khas Ramadan yang sering digunakan beserta maknanya.

Ilustrasi santri. (Sumber: Pixabay)
Bandung 23 Feb 2026, 15:25

Strategi Bertahan Gado Gado Gerobakan Cibadak Menembus Batas Zaman dan Pandemi

Merintis bisnis bukanlah wacana yang mudah. Perencanaan yang matang hingga eksekusi bisnis sampai di tahap mempunyai pelanggan setia, bukanlah proses yang mudah.

Kuliner tradisional yakni gado-gado gerobakan di kawasan Cibadak milik Efendi Wahyudin. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 14:18

Di Balik Kumpulan Kata Khas Ramadan, Memahami Bahasa dan Makna Sosial

Memahami istilah-istilah khas Ramadan berarti memahami bagaimana bahasa berfungsi sebagai medium pengalaman kolektif.

Seorang anak sedang mengaji. (Sumber: Pixabay | Foto: Joko_Narimo)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 12:13

Bahasa yang Menjadi Kontrol Sosial Kala Ramadan

Di Bulan Suci ini, bahasa menjaga puasa kita tetap tuntas dengan baik.

Ilustrasi orang Indonesia berkumpul di sebuah warung. (Sumber: Pexels | Foto: Noval Gani)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 09:07

Mendadak Pasar Takjil Ramadan

Yang membuat Pasar Takjil menarik, di antaranya adalah suasananya yang meriah dan penuh kejutan.

Pasar Takjil dadakan di Jalan Gading Tutuka, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 18:04

Sejarah Es Cendol Elizabeth yang Selalu Menjadi Minuman 'Bintang' di Saat Ramadan

Kisah Es Cendol Elizabeth berawal dari cerita Haji Rohman pada 1972 yang ditinggal pergi ayahnya.

Es Cendol Elizabeth. (Sumber: Instagram @escendolelizabethofficial)
Bandung 22 Feb 2026, 15:08

Manisnya Berkah Ramadan di Jalan Cibadak, Kisah Pak Heri Merawat Tradisi Es Goyobod di Tengah Gempuran Zaman

Eksistensi pedagang Es Goyobod di kota kembang membuktikan bagaimana peran kuliner tradisional tetap hidup di zaman yang terus berkembang dan tak terbatas ini.

Eksistensi pedagang Es Goyobod di kota kembang membuktikan bagaimana peran kuliner tradisional tetap hidup di zaman yang terus berkembang dan tak terbatas ini. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 15:02

Ngabuburead: Menemukan Ketenangan di Tengah Riuh Ramadan Jawa Barat

Inilah tren 'Ngabuburead', cara baru menepi lewat konten digital yang lebih intim dan berisi.

Media digital. (Sumber: Unsplash | Foto: @felirbe)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 11:43

Lembang Tempo Dulu

Dahulu Lembang adalah sebuah kawasan hijau yang pada masa VOC memiliki sebuah upeti istimewa.

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 09:36

Miéling Poé Basa Indung: Jejak Panjang Pers Sunda

Denyut pers Sunda sebenarnya telah terdengar sejak akhir abad ke-19 melalui penerbitan seperti Sunda Almanak (1894) dan Panemu Guru (1906).

Wajah baru Majalah Mangle dalam manajemen Pusat Budaya Sunda Unpad. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 22 Feb 2026, 07:10

Tak Ada yang Berbuka Sendirian: Cerita Ramadan, Relawan, dan Sampah yang Dipilah di Salman ITB

Saat azan Magrib mendekat, halaman sekitar Masjid Salman ITB dipenuhi aroma makanan berbuka yang tertata rapi di atas meja-meja panjang

Masjid Salman ITB menyiapkan sekitar 800 porsi berbuka setiap hari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)