Algoritma Media Sosial Hanya Menguntungkan Politisi

4 menit baca
Joshua Adriel
Ditulis oleh Joshua Adriel diterbitkan
 (Sumber: Pexels | Foto: Element5 Digital)
(Sumber: Pexels | Foto: Element5 Digital)

Seorang ekonom peraih hadiah nobel Milton Friedman pernah berkata “Tidak ada yang namanya makan siang gratis,” dan hal yang sama berlaku bagi media sosial yang sesungguhnya tidak gratis karena data para pengguna yang menjadi harganya. Para Pengguna memang dapat mengunduh ataupun menggunakan sosial media secara gratis, meskipun pada kenyataannya tidak demikian.

Ketika para pengguna pertama kali menggunakan sosial media, maka pengguna harus memasukkan data mereka kepada pihak perusahaan. Pengguna mungkin merasa tidak keberatan akan hal ini, sayangnya secara tak sadar data pengguna sudah dipajang sebagai bahan jualan oleh perusahaan sosial media. Dalam jangka pendek efeknya mungkin tak terasa secara langsung oleh pengguna, tetapi dia bisa menjadi bumerang yang berbahaya bagi pengguna.

Berbeda dengan media lainnya seperti televisi yang hanya ingin menayangkan konten berdasarkan selera pasar yang ada, media sosial justru bisa menyajikan konten yang dipersonalisasi sesuai preferensi setiap pengguna. Ketika pengguna memasuki laman sosial media pengguna akan menemukan beragam konten, dengan cara tersebut algoritma di sosial dapat lebih mengenal jenis konten yang disukai oleh pengguna.

Algoritma sosial media diciptakan bukanlah tanpa suatu tujuan, algoritma sosial media diciptakan agar pengguna dapat menghabiskan waktu yang lama dalam sosial media. Jika pengguna makin lama dan makin banyak menonton jenis konten yang sama, maka algoritma sosial media menjadi lebih mudah untuk merekomendasikan suatu tontonan kepada pengguna. Sebagai contoh seorang pengguna sangat menyukai konten tentang sepak bola, maka algoritma sosial media akan terus merekomendasikan pengguna konten lainnya mengenai sepak bola.

Rancangan algoritma inilah yang dapat menarik ratusan juta pengguna media sosial, dan dari data inilah yang kemudian dilihat sebagai peluang strategis oleh para politisi. Dari data yang diumumkan KPI terdapat 204,8 juta pemilih pada pemilihan umum tahun 2024 lalu, dari angka tersebut sekitar 114 hingga 115,6 juta di antaranya adalah pemilih generasi Z dengan rentang umur dari 17 hingga 28 tahun. Riset dari databoks menemukan bahwa sekiranya ada sekitar 191 juta pengguna sosial media, di mana jumlah pengguna sosial media didominasi oleh pengguna yang berumur 18 hingga 34 tahun.

Jika pada zaman sebelum sosial media politisi harus melakukan kampanye melalui media seperti televisi atau koran, maka kini politisi sosial media dapat melakukan kampanye melalui sosial media. Justru algoritma sosial media makin menguntungkan politisi, pengguna dapat terjebak dalam algoritma yang hanya memberitakan berita positif mengenai politisi tersebut atau bahkan membuat pengguna menjadi pendukung fanatik dari politisi tersebut.

Putusan MK 135/PUU-XXII/2024 pisahkan Pemilu Nasional dan Daerah mulai 2029. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Putusan MK 135/PUU-XXII/2024 pisahkan Pemilu Nasional dan Daerah mulai 2029. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Tak heran jika algoritma media sosial kini dianggap sebagai alat politik yang efektif untuk melanggengkan kekuasaan para politisi, sebagaimana terlihat jelas pada kampanye pemilihan umum 2024. Di mana di setiap konten yang diunggah pada sosial media, para tim sukses setiap calon pasangan presiden mempromosikan program calon presiden tersebut bahkan sampai ke fase menanggung-anggungkan calon presiden mereka sendiri. Pada satu sisi hal ini dapat memudahkan para calon pemilih dalam memilih manakah calon presiden yang sesuai dengan keinginan, tetapi ini pun dapat berdampak negatif di mana para calon pemilih justru dapat menjadi pendukung fanatik seorang calon presiden yang akan selalu membela sang calon presiden tersebut.

Sayangnya berbagai kampanye yang bertebaran di sosial media dapat menunjukkan bahwa demokrasi Indonesia dapat dikatakan masih belum sehat, di mana banyak tersebar disinformasi di sosial media dengan tujuan untuk menyerang dan menjatuhkan calon presiden lainnya.

Dari riset yang dilakukan oleh Dimas Subekti dan kawan-kawannya menemukan bahwa selama masa kampanye pemilihan umum tahun 2024 terjadi lonjakan besar dalam jumlah konten disinformasi di sosial media yang juga ditemukan bahwa penyebaran ini  terjadi secara sistematis, melalui data ini dapat disimpulkan bahwa para politisi tidak peduli akan nasib bangsa ini tetapi hanya memedulikan bagaimana caranya untuk melanggengkan kekuasaan mereka di pemerintahan.

Baca Juga: Menata Parkir Braga, Menata Masa Depan Pariwisata Bandung

Naif rasanya mengharapkan adanya perubahan apabila para politisi masih menikmati semua keuntungan dari algoritma sosial media yang ada, namun perubahan dapat terjadi dari diri pengguna yang memutuskan untuk lebih kritis. Pengguna harus selalu ingat bahwa tidak semua konten yang beredar adalah konten yang baik, sehingga para pengguna harus bisa lebih bijaksana dalam menikmati suatu konten.

Sosial media hanya akan selalu memberikan konten yang disukai oleh penggunanya, sehingga sosial media akan berhenti menyodorkan konten yang tidak pengguna tidak sukai. Jika politisi menjadikan algoritma sosial media sebagai senjata, maka pengguna dapat menggunakan senjata yang sama untuk melawan politisi. Algoritma sosial media dapat pengguna manfaatkan untuk mengedukasi pengguna lain agar tak mudah dipengaruhi oleh konten yang tersebar di sosial media, karena sekecil apa pun sebuah perlawanan dia tetaplah perlawanan yang dapat mengubah nasib bangsa ini. (*)

Daftar pustaka:

  • Narayan, Arvind. 2023. Understanding Social Media Recommendation Algorithms. New York: Knight First Amendment Institute.
  • Subekti, Dimas., dkk. 2025. Social media and Disinformation for Candidates: the Evidence in the 2024 Indonesian Presidential Election. Laussane: Frontiers.
Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)