Menunda Kepastian, Merawat Percakapan ala Richard Rorty

4 menit baca
MH. D. Hermanto
Ditulis oleh MH. D. Hermanto diterbitkan
Richard Rorty menolak hasrat epistemologis, keinginan obsesi manusia dalam kepastian dan soloidaritas daripada objektivitas. (Sumber:Dokumentasi Penulis)
Richard Rorty menolak hasrat epistemologis, keinginan obsesi manusia dalam kepastian dan soloidaritas daripada objektivitas. (Sumber:Dokumentasi Penulis)

Bulan lau, saya terjebak dalam perdebatan panjang di grup WhatsApp alumni kamar pondok hanya karena satu hal sepele: siapa yang harus jadi pemimpin ideal menurut agama dan budaya. Perdebatan ini memicu dialog siapa yang paling keras kepala dalam mempertahankan argumennya, tidak pada siapa yang paling logis atau paling agamis. 

Satu hal yang membuat saya gelisah bukan karena perbedaan argumen, tapi karena atmosfer saling menghakimi yang begitu tebal. Setiap orang ingin dianggap benar, bahkan atas dasar potongan-potongan narasi yang diklaim mutlak. 

Dari sana saya merenung, bagaimana sebenarnya kita bisa berbicara soal kebenaran dalam dunia yang terus berubah dan dipenuhi ragam perspektif? Apakah kebenaran itu satu dan objektif? Atau malah justru sesuatu yang lahir dari ruang sosial yang cair dan bisa dinegosiasikan?

Di sinilah pemikiran Richard Rorty perlahan-lahan memanggil saya untuk membedahnya. Richard Rorty hadir sebagai pembangkang yang tak segan menolak fondasi-fondasi besar para raksasa filsafat. 

Pertama dia mempertanyakan ambisi Descartes yang mengandalkan rasio dan kesadaran diri sebagai dasar mutlak pengetahuan biasa kita temui dengan Cogito ergo Sum.  Atau Kant yang membangun kerangka apriori akal bagaikan fondasi yang tidak bisa diganggu gugat. Rorty, tidak hanya diam disitu tetapi juga mengkritik Plato yang mengejar kebenaran ideal di dunia ide dan Heidegger yang mencari makna ontologis terdalam dari kebenaran.

Filsafat itu telah terlalu lama mencoba menjadi “cermin alam” (mirror of nature), yakni upaya menyusun sistem representasional yang menggambarkan realitas secara objektif—sebuah konstruksi sosial yang berpatron pada percakapan, konteks, dan kesepakatan bersama.

Akan tetapi, semua itu bagi Richar Rorty, adalah proyek yang telah usang. Bahasa bukanlah cermin yang memantulkan dunia, melainkan alat sosial fleksibel, berubah-ubah, dan digunakan untuk tujuan-tujuan praktis. Maka kebenaran pun bukan lagi sesuatu yang ditemukan, tetapi dibentuk dalam percakapan lahir dari kesepakatan dalam komunitas.

Dalam semangat inilah, Rorty menolak hasrat epistemologis, keinginan obsesi manusia dalam kepastian dan soloidaritas daripada objektivitas. Filsafat bukanlah, hakim agung yang dapat mengadili semua ilmu, tetapi bagian dari percakapan budaya yang lebih besar: terbuka, manusiawi, dan membumi.

Bahasa bukanlah cermin yang memantulkan dunia, melainkan alat sosial fleksibel, berubah-ubah, dan digunakan untuk tujuan-tujuan praktis.

Refleksi ini membuat saya dapat memandang ulang tentang bagaimana kita berinteraksi di era digital sekarang, di mana algoritme media sosial seolah-olah memperkuat gagasan bahwa opini kita adalah kebenaran tunggal yang patut dipertahankan mati-matian.

Rorty mungkin akan berkata bahwa obsesi kita terhadap kebenaran yang absolut telah menjadi beban warisan filsafat representasional, tradisi yang menganggap filsafat sebagai hakim tertinggi dalam menentukan mana yang benar dan salah, bukan memposisikan sebagai bagian dari obrolan sosial yang terbuka.

Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini tampak dari cara kita berdebat soal politik, agama, atau bahkan selera budaya. Kita lebih sering ingin menang, bukan ingin memahami. Kita terjebak dalam apa yang oleh Rorty disebut sebagai hasrat “Hasrat epistemologis”, yaitu keinginan untuk memiliki dasar kokoh bagi segala keyakinan, seolah kita tidak bisa tenang hidup dalam ketidakpastian.

Padahal, hidup ini tidak pernah benar-benar bisa dipaku dalam satu sistem logika konsisten. Bahasa dan nilai selalu bergerak, dan Rorty dengan berani meminta kita menerima kontigensi itu sebagai bagian dari kemanusiaan kita. 

Kita terjebak dalam apa yang oleh Rorty disebut sebagai hasrat “Hasrat epistemologis”, yaitu keinginan untuk memiliki dasar kokoh bagi segala keyakinan, seolah kita tidak bisa tenang hidup dalam ketidakpastian.

Yang menarik, Rorty tidak menawarkan nihilisme atau relativisme ekstrem. Ia justru mendorong kita untuk mengganti objektivitas dengan solidaritas, mengganti klaim kebenaran dengan  empati antara manusia. Di sinilah refleksi itu semakin dalam bagi saya.

Saat melihat orang-orang saling menyerang di kolom komentar media sosial, bukan karena fakta yang kuat tapi karena fanatisme simbolik, saya rasa Rorty hadir untuk menasihati: berhentilah mencari dasar mutlak, mulailah berdialog. Karena menurut Rorty, tugas kita bukan membenarkan sistem nilai kita keseuluruh dunia melainkan membangun percakapan yang memungkinkan kita untuk hidup bersama tanpa saling menyingkirkan.

Bahkan dalam pendidikan pun, refleksi Rorty terasa relevan. Ketika dosen atau guru memaksakan satu prespektif tunggal dan mematikan diskusi, saat itulah pendidikan kehilangan sisi pragmatisnya. Rorty akan menyarankan agar kita menjadikan pendidikan bukan sebagai tempat penanaman kebenaran, tetapi sebagai tempat memperluas imajinasi moral kita, tempat kita belajar mendengarkan narasi lain, dan membiasakan diri dengan ketidaknyamanan dalam berpikir.

Dunia yang dipenuhi krisis, dari krisis identitas, lingkungan sampai politik, menuntut cara berpikir baru yang tidak terjebak pada absolutisme lama. Kita butuh filsafat yang bukan menajwab pertanyaan, tetapi mengajukan pertanyaan baru dan membuka ruang refleksi. Rorty memberikan filsafat seperti itu.

Dalam bukunya yang berjudul “Contigency, Irony,and Solidarity”, ia mengajak kita menjadi ‘ironis’, yakni orang sadar bahwa keyakinannya sendiri terbentuk oleh sejarah dan bahasa tertentu, dan bisa saja tak berlaku bagi orang lain. Ini bukan sikap acuh, melainkan sikap rendah haru yang dalam: kesadaran bahwa kita bisa salah, dan orang lain pun mungkin mempunyai narasi yang lebih masuk akal.

Dalam dunia yang bising dan gaduh seperti hari ini, menjadi ironis ala Rorty justru adalah bentuk keberanian. Keberanian untuk menggurui, tapi juga tidak diam. Refleksi ini mungkin dapat memberikan jawaban final atas keresahan saya di grup WhatsApp pondok, atau dunia yang penuh konflik naratis, tapi setidaknya memberi cara baru untuk memahami: bahwa dalam dunia yang tak pasti, justru kepastian itu sendiri yang layak kita curigai.

Kita tak perlu berhenti berpikir atau berdebat, tapi kita perlu menggeser arah percakapan dari membenarkan diri menuju merawat pemahaman. Dalam semangat itu, saya kira Rorty tidak sedang membunuh filsafat, melainkan mengamankannya: dengan cara menjadikannya lebih menusiawi, lebih habblumminan nas, dan lebih siap menghadapi dunia yang terus berlangsung dan berubah. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

MH. D. Hermanto
Tentang MH. D. Hermanto
Menulis dan melukis di Gasebu Pembebasan, dan berprofesi menjadi Mahasiswa Filsafat UINSUKA

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 25 Agu 2026, 13:45

Uswah: Ketika Orang Tua Ingin Melahirkan Keturunan yang Saleh

Jika ingin anak menjadi saleh, jangan hanya sibuk menasihatinya. Jadilah teladan yang baik. Sebab anak mungkin lupa kata-kata kita, tetapi ia akan mengingat siapa kita di hadapannya.

Ringkasan tulisan. (Sumber: chtgpt | Foto: chtgpt)
Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)