Cidulang, Cekung seperti Dulang

4 menit baca
T Bachtiar
Ditulis oleh T Bachtiar diterbitkan
Gambaran seorang perempuan sedang ngakeul nasi di dalam dulang. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: T Bachtiar)
Gambaran seorang perempuan sedang ngakeul nasi di dalam dulang. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: T Bachtiar)

Sampai sekarang, di dapur masyarakat Sunda, masih banyak yang menggunakan dulang dalam proses menanak nasi. Dalam bahasa Kawi, dulang berarti bejana dari kayu, dan dulang, andulang, berarti menyuap makanan.

Begitupun dalam bahasa Sunda, dulang mempunyai dua arti. Pertama, sejenis wadah yang dibuat dari kayu, yang menjadi bagian dalam proses menanak nasi, terutama pada masa lalu, yaitu untuk ngarih dan ngakeul. Ngarih itu proses setelah beras dikukus dalam aseupan (kukusan) sampai timus, setengah matang, kemudian dimasukan ke dalam dulang, diberi air panas secukupnya, diaduk-aduk dengan pangarih, seperti cukil, hanya ukurannya lebih besar dan panjang, hingga semua terairi, lalu ditutup, dibiarkan sampai beukah, mengembang. Setelah itu dimasukan kembali ke dalam aseupan, dikukus kembali di atas seeng, dandang tinggi, dipanaskan dengan api dari kayubakar hingga tanak. Nasi yang sudah matang itu dimasukan kembali ke dalam dulang, lalu diakeul, dikipasi dengan hihid sambil diaduk-aduk, dibolak-balik, sedikit ditumbuh-tumbuk dengan pangarih, yang membuat nasi itu menjadi hangat dan pulen.

Arti yang kedua, dulang, andulang berarti menyuap makanan. Dalam bahasa Sunda ada peribahasa, budak keur meujeuhna bilatung dulang, yang bermakna anak yang masanya sedang suka makan.

Di Tatar Sunda, dulang itu berbentuk seperti tabung yang mengecil di bagian bawahnya. Bagian atasnya berbentuk lingkaran dengan garis tengah antara 40 cm sampai 45 cm. Di tengah lingkaran bagian atas itu berbentuk cekungan sedalam 20 cm sampai 25 cm. Tebal pinggiran dulang bagian atas sekitar 3 cm. Tinggi keseluruhan dulang 40 cm, yang dibagi menjadi dua bagian utama. Dari bagian atas yang bergaris tengah 40 cm, semakin ke bawah sampai 30 cm dari atas, atau 10 cm dari bawah, garis tengahnya sekitar 25 cm. Dari batas itu ke bawah, garis tengahnya berangsung melebar kembali hingga di dasar dulang dengan diameter 30 cm. 

Dulang di Tatar Sunda berbeda bentuknya dengan dulang yang biasa digunakan untuk melimbangkan bijih emas yang terdapat dalam bebatuan di sungai. Dulang untuk mendulang emas, sama-sama dibuat dari kayu, berbentuk lingkaran dengan garis tengah sekitar 45 cm. Bentuknya ceper, tebal dulang sekitar 4 cm. Pada bagian lingkaran terluar, tebalnya sekitar 1 cm. Dari pinggiran itu ke bagian tengah menurun hingga kedalaman 2 cm. Bijih emas yang terkandung dalam bebatuan kemudian dimasukkan ke dalam dulang, lalu digoyang, diputar, sambil dimasukan sedikit air. Bagian yang tidak dibutuhkan, dikeluarkan dan kembali ke sungai.

Karena dalam proses menanak nasi di Tatar Sunda, dulang menjadi alat yang sangat penting, sehingga citra dulang berada dalam puncak pikiran masyarakatnya saat itu. Beralasan, karena setiap hari mereka melihat benda tersebut, setidaknya dua kali dalam sehari, pagi dan petang hari.

Sangat mungkin, inilah yang menyebabkan, ketika mereka berbahasa, banyak menggunakan kata dulang dalam perumpamaan-perumpamaan. Inilah beberapa contohnya:  dulang tinandé, yang bermakna perempuan (istri) yang sangat hormat tanpa syarat kepada suaminya. Dalam arsitektur Sunda, ada gaya bangunan yang disebut sanggadulang, yang bentuknya seperti tanduk kerbau. Ada juga nama tumbuhan dulangsontak (Hycotyle javanica THUNB.), yang satu keluarga dengan antanan kecil.

Di Jawa Barat, dulang itu umumnya dibuat dibuat dari batang pohon nangka (Artocarpus heterophyllus). Tinggi pohon nangka itu antara 20 m sampai 30 m, dengan batang pohon yang silindris. Garis tengah pohon yang sudah tua dapat mencapai satu meter. Kayu nangka berwarna kuning di bagian terasnya. Kualitas kayunya termasuk kayu yang baik, kuat, tidak mudah belah, awet, padat, keras, dan tahan terhadap serangan rayap atau jamur, namun mudah dikerjakan, mudah dibentuk untuk berbagai kebutuhan. Kayu nangka memiliki pola yang menarik, serta gampang mengkilap bila diserut halus dan digosok dengan minyak. Karena itulah kayu nangka banyak dijadikan perkakas rumah tangga, dan baik menjadi bahan untuk alat musik seperti kendang, menjadi bagian dari perut gitar dan biola.

Seluruh bagian batang hingga ranting, termasuk kulit buahnya yang berduri, bila ditoreh, akan mengeluarkan getah putih yang kental. Buah nangka berukuran besar, banyak dimanfaatkan ketika buah nangka masih muda untuk bahan pembuatan gudeg, seperti banyak dibuat di Yogyakarta, dan nangka yang sudah matang.

Baca Juga: Maung Sélang Sudah Tak Dikenali Lagi, tapi Abadi dalam Toponimi

Karena dulang menjadi peralatan memasak yang harus ada saat menanak nasi, maka dulang menjadi benda yang berada dalam puncak pikiran masyarakatnya. Itulah sebabnya, ketika masyarakat melihat ada daerah dengan rona bumi berupa cekungan, langsung pikirannya terhubung dengan dulang. Kemudian tempat itu dinamai Cidulang. Ketika melihat air terjun yang jatuh ke dasar sungai membentuk cekungan yang melingkar, dinamailah Curug Cidulang, seperti air terjun yang ada di Desa Sirnajaya, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor. Toponim yang memakai kata dulang, seperti Desa Cidulang di Kecamatan Cikijing, Kabupaten Majalengka. Cibuntu Cidulang di Desa Pinggirsari, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung. Dan Cidulang Jonggol di Desa Sirnajaya, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor.

Walau saat ini peralatan memasak sudah banyak berganti, namun toponim itu tetap abadi, menjadi perekam sejarah penggunaan peralatan memasak di Tatar Sunda. Walau suatu saat nanti, masyarakat tak mengenali lagi wujud dulang, biarkan kawasan itu tetap bernama Cidulang, jangan diganti menjadi Cimejikjar! (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)