AYOBANDUNG.ID - Di kawasan Dago, tepatnya di perempatan Taman Cikapayang, ada sebuah taman kota dengan tulisan yang sangat ikonik, D A G O.
Di ruang publik itu, terparkir sebuah gerobak cilok berwarna merah yang sekilas tampak biasa saja. Panci besarnya mengeluarkan asap dan aroma sedap, tusuk dari bambu tersusun rapi, dan botol-botol sambal berjejer di sana. Namun, tak lama setelah pedagangnya membuka gerobaknya, muncul pemandangan tak lazim. Dia mengeluarkan tumpukan buku, kemudian digelarnya di trotoar. Tak berselang lama, orang-orang yang melintas pun datang dan mulai membaca buku yang menarik minat mereka.
Di situlah Raja Saut Martua Sinaga (26) berdiri. Pedagang cilok, sekaligus penjaga lapak buku yang ia pinjamkan secara gratis.
“Silakan baca aja, gratis. Enggak harus beli cilok juga enggak apa-apa,” katanya santai.
Raja, pemuda asal Majalengka, sudah dua tahun berjualan cilok. Setahun terakhir, ia menyusuri jalur Dago Cikapayang. Ia berangkat selepas magrib dan baru pulang menjelang subuh. Rutinitas panjang itu kini diselingi sesuatu yang lebih sunyi dan lebih dalam: membaca.
“Kalau ditanya kenapa suka membaca… saya ngerasa saya selamat hidup karena bacaan,” ujarnya pelan.
Lapak itu bukan bagian dari strategi jualan. Bahkan, bagi Raja, keduanya adalah dua dunia yang berbeda: cilok untuk bertahan hidup, buku untuk bertahan sebagai manusia.

Komik adalah Cara Bertahan Hidup
Jauh sebelum mendorong gerobak cilok di Bandung, Raja sudah lebih dulu akrab dengan buku. Awalnya dari komik, sekitar tahun 2014 saat masih SMP. Ketertarikan itu sederhana—ia suka menggambar, dan komik memberinya referensi visual.
Namun, seiring waktu, membaca berubah jadi sesuatu yang lebih dalam.
“Kalau dibilang kenapa suka baca… saya ngerasa saya selamat hidup karena bacaan,” ujarnya.
Ia tumbuh dalam keluarga broken home. Sejak SMP, ia sudah bekerja mengangkat karung di penggilingan padi, menjalani hidup yang keras bahkan sebelum benar-benar dewasa.
Di tengah fase itu, ia menemukan satu kalimat dari Albert Camus yang membekas:
“Lebih dibutuhkan keberanian untuk hidup dibandingkan untuk mati.”
Kalimat itu, kata Raja, seperti tamparan.
“Kadang satu kalimat kecil bisa ngerubah hidup seseorang. Dan itu kejadian di saya.”
Sejak saat itu, membaca bukan lagi sekadar hobi, tapi cara memahami hidup dan berdamai dengannya.
Lapak baca itu tidak muncul tiba-tiba. Ia lahir dari pengalaman kecil yang berulang. Setiap kali Raja membawa buku saat berjualan, respons orang hampir selalu sama: “Kuliah di mana?”
“Lagi magang ya di cilok?”
Bagi sebagian orang, membaca dianggap tidak “cocok” dengan identitas pedagang cilok.
“Itu yang bikin saya mikir, kenapa orang yang baca tuh selalu dianggap punya strata tertentu?” katanya.

Keresahan itu menumpuk, sampai akhirnya menemukan bentuknya saat bulan puasa. Awalnya, Raja hanya nongkrong di titik yang sama lebih lama dari biasanya, membawa sekitar 10 buku miliknya sendiri.
Beberapa anak skateboard mulai membaca. Teman-temannya ikut. Lalu ia unggah ke media sosial dan respons datang lebih luas. Dari situ, lapak baca perlahan terbentuk.
Sekarang, jumlah bukunya mencapai 40–50 eksemplar. Sebagian milik pribadi, sebagian hasil donasi—meski tidak semua ia terima.
“Saya takut kalau suatu saat saya berhenti, terus bukunya dari orang lain. Ada tanggung jawab moral di situ,” ujarnya.
Lapak baca ini tidak punya aturan rumit. Tidak ada kartu anggota, tidak ada biaya, bahkan tidak ada kewajiban membeli cilok. Namun, ada satu batas: buku tidak boleh dibawa pulang. Ia menghindari risiko kehilangan, bukan karena takut rugi, tapi karena sebagian buku adalah titipan kepercayaan. Di sisi lain, ia juga sadar lapak ini punya keterbatasan: letaknya di pinggir jalan, berisik, kadang terganggu cuaca.
“Kalau lagi baca, fokusnya susah. Banyak suara kendaraan, sama ya kalau hujan kehujanan,” katanya.
Tapi justru di situ letak realitasnya. Membaca tidak harus di ruang sunyi, tidak harus di perpustakaan, tidak harus “ideal”. Bisa juga di trotoar, di sela jualan, di antara asap cilok.
Seiring waktu, lapak ini bukan hanya tempat membaca. Ia berubah jadi ruang pertemuan—tempat orang datang, membaca, lalu berbagi cerita. Raja justru merasa dirinya yang lebih banyak belajar.
“Saya malah banyak dapet dari orang-orang yang datang. Mereka sharing, cerita hidupnya. Itu yang bikin saya terus jalanin ini.”
Pengunjungnya beragam, tapi yang paling sering datang adalah mahasiswa dan pekerja muda. Salah satunya Rafi (25), mahasiswa asal Subang yang kini tinggal di Bandung. Ia pertama kali tahu lapak ini dari media sosial dan rekomendasi teman.
“Tertarik karena ada sesuatu yang beda. Di balik dia cari nafkah, dia juga pengen bermanfaat buat orang lain,” kata Rafi.
Bagi Rafi, pengalaman membaca di sana bukan sekadar membaca. Ia menemukan dorongan baru.
“Jadi ke-trigger buat lebih banyak baca. Apalagi lihat semangat si Mang-nya, itu yang kena,” ujarnya.
Ia juga melihat lapak kecil ini sebagai bagian dari sesuatu yang lebih besar.
“Semoga gerakan kecil kayak gini bisa jadi awal buat ningkatin minat baca di Indonesia.”

Meski terlihat inspiratif, Raja tidak pernah ingin membesar-besarkan apa yang ia lakukan. Ia tetap pedagang cilok. Penghasilannya tetap bergantung pada jualan malam hingga subuh. Lapak baca, baginya, bukan proyek besar.
“Saya enggak punya ekspektasi tinggi buat ke depannya. Jalanin aja,” katanya.
Ia bahkan menolak menjadikan ini sebagai “aji mumpung”.
“Saya takut kalau ini dimanfaatin buat kepentingan pribadi. Saya jualan cilok, bukan jual cerita.”
Namun, di balik kesederhanaannya, ada satu harapan yang terus ia pegang: suatu hari nanti, membaca tidak lagi dianggap milik kalangan tertentu.
“Saya pengen kalau ada pemulung bawa buku Madilog, orang-orang biasa aja. Enggak heran,” ujarnya.
