Lapak Cilok dan Buku: Cara Raja Menantang Stigma di Jalan Dago

5 menit baca
Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan
Berjualan cilok menjadi sumber penghasilan utama Raja, di sela kegiatannya mengelola lapak baca sederhana di pinggir jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Berjualan cilok menjadi sumber penghasilan utama Raja, di sela kegiatannya mengelola lapak baca sederhana di pinggir jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Di kawasan Dago, tepatnya di perempatan Taman Cikapayang, ada sebuah taman kota dengan tulisan yang sangat ikonik, D A G O.

Di ruang publik itu, terparkir sebuah gerobak cilok berwarna merah yang sekilas tampak biasa saja. Panci besarnya mengeluarkan asap dan aroma sedap, tusuk dari bambu tersusun rapi, dan botol-botol sambal berjejer di sana. Namun, tak lama setelah pedagangnya membuka gerobaknya, muncul pemandangan tak lazim. Dia mengeluarkan tumpukan buku, kemudian digelarnya di trotoar. Tak berselang lama, orang-orang yang melintas pun datang dan mulai membaca buku yang menarik minat mereka.

Di situlah Raja Saut Martua Sinaga (26) berdiri. Pedagang cilok, sekaligus penjaga lapak buku yang ia pinjamkan secara gratis.

“Silakan baca aja, gratis. Enggak harus beli cilok juga enggak apa-apa,” katanya santai.

Raja, pemuda asal Majalengka, sudah dua tahun berjualan cilok. Setahun terakhir, ia menyusuri jalur Dago Cikapayang. Ia berangkat selepas magrib dan baru pulang menjelang subuh. Rutinitas panjang itu kini diselingi sesuatu yang lebih sunyi dan lebih dalam: membaca.

“Kalau ditanya kenapa suka membaca… saya ngerasa saya selamat hidup karena bacaan,” ujarnya pelan.

Lapak itu bukan bagian dari strategi jualan. Bahkan, bagi Raja, keduanya adalah dua dunia yang berbeda: cilok untuk bertahan hidup, buku untuk bertahan sebagai manusia.

Raja Saut Martua Sinaga tetap berjualan cilok seperti biasa di kawasan Dago, Bandung, sambil membuka akses baca gratis bagi pengunjung yang datang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Raja Saut Martua Sinaga tetap berjualan cilok seperti biasa di kawasan Dago, Bandung, sambil membuka akses baca gratis bagi pengunjung yang datang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Komik adalah Cara Bertahan Hidup

Jauh sebelum mendorong gerobak cilok di Bandung, Raja sudah lebih dulu akrab dengan buku. Awalnya dari komik, sekitar tahun 2014 saat masih SMP. Ketertarikan itu sederhana—ia suka menggambar, dan komik memberinya referensi visual.

Namun, seiring waktu, membaca berubah jadi sesuatu yang lebih dalam.

“Kalau dibilang kenapa suka baca… saya ngerasa saya selamat hidup karena bacaan,” ujarnya.

Ia tumbuh dalam keluarga broken home. Sejak SMP, ia sudah bekerja mengangkat karung di penggilingan padi, menjalani hidup yang keras bahkan sebelum benar-benar dewasa.

Di tengah fase itu, ia menemukan satu kalimat dari Albert Camus yang membekas:

“Lebih dibutuhkan keberanian untuk hidup dibandingkan untuk mati.”

Kalimat itu, kata Raja, seperti tamparan.

“Kadang satu kalimat kecil bisa ngerubah hidup seseorang. Dan itu kejadian di saya.”

Sejak saat itu, membaca bukan lagi sekadar hobi, tapi cara memahami hidup dan berdamai dengannya.

Lapak baca itu tidak muncul tiba-tiba. Ia lahir dari pengalaman kecil yang berulang. Setiap kali Raja membawa buku saat berjualan, respons orang hampir selalu sama: “Kuliah di mana?”

“Lagi magang ya di cilok?”

Bagi sebagian orang, membaca dianggap tidak “cocok” dengan identitas pedagang cilok.

“Itu yang bikin saya mikir, kenapa orang yang baca tuh selalu dianggap punya strata tertentu?” katanya.

Lapak baca yang digelar di trotoar kawasan Dago ini menyediakan puluhan buku yang dapat dibaca gratis tanpa syarat bagi siapa saja. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Lapak baca yang digelar di trotoar kawasan Dago ini menyediakan puluhan buku yang dapat dibaca gratis tanpa syarat bagi siapa saja. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Keresahan itu menumpuk, sampai akhirnya menemukan bentuknya saat bulan puasa. Awalnya, Raja hanya nongkrong di titik yang sama lebih lama dari biasanya, membawa sekitar 10 buku miliknya sendiri.

Beberapa anak skateboard mulai membaca. Teman-temannya ikut. Lalu ia unggah ke media sosial dan respons datang lebih luas. Dari situ, lapak baca perlahan terbentuk.

Sekarang, jumlah bukunya mencapai 40–50 eksemplar. Sebagian milik pribadi, sebagian hasil donasi—meski tidak semua ia terima.

“Saya takut kalau suatu saat saya berhenti, terus bukunya dari orang lain. Ada tanggung jawab moral di situ,” ujarnya.

Lapak baca ini tidak punya aturan rumit. Tidak ada kartu anggota, tidak ada biaya, bahkan tidak ada kewajiban membeli cilok. Namun, ada satu batas: buku tidak boleh dibawa pulang. Ia menghindari risiko kehilangan, bukan karena takut rugi, tapi karena sebagian buku adalah titipan kepercayaan. Di sisi lain, ia juga sadar lapak ini punya keterbatasan: letaknya di pinggir jalan, berisik, kadang terganggu cuaca.

“Kalau lagi baca, fokusnya susah. Banyak suara kendaraan, sama ya kalau hujan kehujanan,” katanya.

Tapi justru di situ letak realitasnya. Membaca tidak harus di ruang sunyi, tidak harus di perpustakaan, tidak harus “ideal”. Bisa juga di trotoar, di sela jualan, di antara asap cilok.

Seiring waktu, lapak ini bukan hanya tempat membaca. Ia berubah jadi ruang pertemuan—tempat orang datang, membaca, lalu berbagi cerita. Raja justru merasa dirinya yang lebih banyak belajar.

“Saya malah banyak dapet dari orang-orang yang datang. Mereka sharing, cerita hidupnya. Itu yang bikin saya terus jalanin ini.”

Pengunjungnya beragam, tapi yang paling sering datang adalah mahasiswa dan pekerja muda. Salah satunya Rafi (25), mahasiswa asal Subang yang kini tinggal di Bandung. Ia pertama kali tahu lapak ini dari media sosial dan rekomendasi teman.

“Tertarik karena ada sesuatu yang beda. Di balik dia cari nafkah, dia juga pengen bermanfaat buat orang lain,” kata Rafi.

Bagi Rafi, pengalaman membaca di sana bukan sekadar membaca. Ia menemukan dorongan baru.

“Jadi ke-trigger buat lebih banyak baca. Apalagi lihat semangat si Mang-nya, itu yang kena,” ujarnya.

Ia juga melihat lapak kecil ini sebagai bagian dari sesuatu yang lebih besar.

“Semoga gerakan kecil kayak gini bisa jadi awal buat ningkatin minat baca di Indonesia.”

Buku-buku koleksi pribadi dan donasi yang disediakan Raja dapat dibaca di tempat, dengan aturan tidak diperkenankan dibawa pulang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Buku-buku koleksi pribadi dan donasi yang disediakan Raja dapat dibaca di tempat, dengan aturan tidak diperkenankan dibawa pulang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Meski terlihat inspiratif, Raja tidak pernah ingin membesar-besarkan apa yang ia lakukan. Ia tetap pedagang cilok. Penghasilannya tetap bergantung pada jualan malam hingga subuh. Lapak baca, baginya, bukan proyek besar.

“Saya enggak punya ekspektasi tinggi buat ke depannya. Jalanin aja,” katanya.

Ia bahkan menolak menjadikan ini sebagai “aji mumpung”.

“Saya takut kalau ini dimanfaatin buat kepentingan pribadi. Saya jualan cilok, bukan jual cerita.”

Namun, di balik kesederhanaannya, ada satu harapan yang terus ia pegang: suatu hari nanti, membaca tidak lagi dianggap milik kalangan tertentu.

“Saya pengen kalau ada pemulung bawa buku Madilog, orang-orang biasa aja. Enggak heran,” ujarnya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 23 Okt 2026, 20:14

Lemahneundeut, Jejak Tanah Neundeut atau Nendatan di Lereng Gunung

Lemahneundeut adalah masa tanah atau batuan yang bergerak ke bawah lereng.

Persawahan berteras-teras di Bandung Selatan, merupakan jejak lemahneundeut yang dikelola dengan baik. (Sumber: T. Bachtiar)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 19:17

Sosok Didi Petet sebagai Potret Bandung dalam Film Preman Pensiun

Didi Petet sudah meninggal beberapa tahun lalu, tapi sosoknya dalam film Preman Pensiun masih membekas, dan menjadi ingatan waktu yang tercermin dalam potret kehidupan sehari-hari di Bandung.

Ilustrasi Didi Petet. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 18:31

Lebih Berani di Rumah daripada di Jenewa: Posisi Indonesia dalam Perundingan Plastik

Menurut KLH/BPLH, 202), porsi plastik dalam sampah nasional naik dari 11% pada 2010 menjadi hampir 20% pada 2024 dan dapat mencapai 50% pada 2050 tanpa intervensi seriu.

Warga memungut sampah botol dan gelas plastik di bawah jembatan Babakan Sapan (BBS) Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 30 Juni 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:59

Kampus Bukan Tempat Pamer Knalpot: Saatnya Menjaga Kenyamanan Akademik di UIN Bandung Kampus I Cipadung

Knalpot bising di Kampus I UIN Bandung, Cipadung, mengganggu kenyamanan akademik. Saatnya bersama menjaga ketertiban kampus.

Ilustrasi knalpot brong. (Sumber: Pexels | Foto: Quốc Bùi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:26

CCTV Merekam, tetapi Belum Tentu Mencegah: Keamanan Lingkungan Mahasiswa Perlu Tanggung Jawab Bersama

CCTV dapat membantu merekam kejadian, menyusun kronologi, dan memberikan petunjuk untuk mengidentifikasi orang yang diduga terlibat.

Ilustrasi CCTV. (Sumber: Pexels | Foto: Bezalens JGP)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 15:32

Kisah 101 FM : Ketika Radio Bandung Masih Siaran di Gelombang AM/MW

Dari kawasan Jalan Rajamantri Kulon, Bandung, stasiun radio ini mengudara melalui jalur FM (Frequency Modulation).

Radio 101 FM Bandung, salah satu pelopor siaran radio di jalur FM di Kota Bandung pada era 1980-an hingga 1990-an. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 14:41

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon

Taman Wisata Goa Sunyaragi adalah salah satu wisata bersejarah di Kota Cirebon yang menyimpan banyak cerita menarik.

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 13:00

BRT Bandung Dibangun untuk Mengurai Kemacetan, Mengapa Masyarakat Justru Menanggung Dampaknya?

Pembangunan Bus Rapid Transit Bandung Raya diharapkan mengurangi kemacetan. Namun, dampak proyek halte menimbulkan pertanyaan tentang tanggung jawab pemerintah dalam menjaga kenyamanan masyarakat.

Halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Cicadas termasuk tipe B dimana halte berada di antara jalan satu arah dengan 4 lajur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 12:41

Mewujudkan Bandung Kota Jamu, Merawat Warisan Inggit Garnasih

Salah satu contoh inovasi Jamu kekinian di Bandung adalah Paduan Rempah, usaha minuman herbal yang dirintis Ahmad Hikmat Rahayu bersama istrinya

Acaraki Jamu tak sekadar menjual minuman herbal, tetapi menyuguhkan pengalaman gaya hidup yang berakar pada warisan budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 11:27

Demam Aplikasi Pemda: Solusi Pelayanan Publik atau Cuma Proyek 'Sampah Digital'?

Membahas masalah aplikasi pemerintah yang belum efektif serta pentingnya digitalisasi pelayanan publik yang berorientasi pada kemudahan, keamanan, dan kebutuhan masyarakat.

Foto seseorang menggunakan ponsel. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 10:17

Menengok Terminal Ledeng, Menengok Diri Sendiri

Terminal Ledeng mengingatkan saya bahwa kita tidak pernah benar-benar berjalan di tempat yang sama, bahkan ketika melewati jalan yang benar-benar sama.

Terminal Ledeng, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)
Sejarah 22 Okt 2026, 12:36

Hikayat Resolusi Jihad dan Lahirnya Hari Santri

Resulusi Jihad menjadi pembakar jiwa nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional

Ilustrasi Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang diperingatinya Hari Santri Nasional (Foto: artificial intelligence)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 09:04

Polisi, Massa Hitam, dan Keamanan Kota Bandung

Dalam merespon demonstrasi, kemampuan membedakan aksi damai dan serangan terorganisir sangat penting.

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demo di sekitar Tugu Simpang Lima, Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026) sore (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 07:54

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan.

Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)