Lapak Cilok dan Buku: Cara Raja Menantang Stigma di Jalan Dago

5 menit baca
Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan Jumat 17 Apr 2026, 11:45 WIB
Berjualan cilok menjadi sumber penghasilan utama Raja, di sela kegiatannya mengelola lapak baca sederhana di pinggir jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Berjualan cilok menjadi sumber penghasilan utama Raja, di sela kegiatannya mengelola lapak baca sederhana di pinggir jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Di kawasan Dago, tepatnya di perempatan Taman Cikapayang, ada sebuah taman kota dengan tulisan yang sangat ikonik, D A G O.

Di ruang publik itu, terparkir sebuah gerobak cilok berwarna merah yang sekilas tampak biasa saja. Panci besarnya mengeluarkan asap dan aroma sedap, tusuk dari bambu tersusun rapi, dan botol-botol sambal berjejer di sana. Namun, tak lama setelah pedagangnya membuka gerobaknya, muncul pemandangan tak lazim. Dia mengeluarkan tumpukan buku, kemudian digelarnya di trotoar. Tak berselang lama, orang-orang yang melintas pun datang dan mulai membaca buku yang menarik minat mereka.

Di situlah Raja Saut Martua Sinaga (26) berdiri. Pedagang cilok, sekaligus penjaga lapak buku yang ia pinjamkan secara gratis.

“Silakan baca aja, gratis. Enggak harus beli cilok juga enggak apa-apa,” katanya santai.

Raja, pemuda asal Majalengka, sudah dua tahun berjualan cilok. Setahun terakhir, ia menyusuri jalur Dago Cikapayang. Ia berangkat selepas magrib dan baru pulang menjelang subuh. Rutinitas panjang itu kini diselingi sesuatu yang lebih sunyi dan lebih dalam: membaca.

“Kalau ditanya kenapa suka membaca… saya ngerasa saya selamat hidup karena bacaan,” ujarnya pelan.

Lapak itu bukan bagian dari strategi jualan. Bahkan, bagi Raja, keduanya adalah dua dunia yang berbeda: cilok untuk bertahan hidup, buku untuk bertahan sebagai manusia.

Raja Saut Martua Sinaga tetap berjualan cilok seperti biasa di kawasan Dago, Bandung, sambil membuka akses baca gratis bagi pengunjung yang datang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Raja Saut Martua Sinaga tetap berjualan cilok seperti biasa di kawasan Dago, Bandung, sambil membuka akses baca gratis bagi pengunjung yang datang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Komik adalah Cara Bertahan Hidup

Jauh sebelum mendorong gerobak cilok di Bandung, Raja sudah lebih dulu akrab dengan buku. Awalnya dari komik, sekitar tahun 2014 saat masih SMP. Ketertarikan itu sederhana—ia suka menggambar, dan komik memberinya referensi visual.

Namun, seiring waktu, membaca berubah jadi sesuatu yang lebih dalam.

“Kalau dibilang kenapa suka baca… saya ngerasa saya selamat hidup karena bacaan,” ujarnya.

Ia tumbuh dalam keluarga broken home. Sejak SMP, ia sudah bekerja mengangkat karung di penggilingan padi, menjalani hidup yang keras bahkan sebelum benar-benar dewasa.

Di tengah fase itu, ia menemukan satu kalimat dari Albert Camus yang membekas:

“Lebih dibutuhkan keberanian untuk hidup dibandingkan untuk mati.”

Kalimat itu, kata Raja, seperti tamparan.

“Kadang satu kalimat kecil bisa ngerubah hidup seseorang. Dan itu kejadian di saya.”

Sejak saat itu, membaca bukan lagi sekadar hobi, tapi cara memahami hidup dan berdamai dengannya.

Lapak baca itu tidak muncul tiba-tiba. Ia lahir dari pengalaman kecil yang berulang. Setiap kali Raja membawa buku saat berjualan, respons orang hampir selalu sama: “Kuliah di mana?”

“Lagi magang ya di cilok?”

Bagi sebagian orang, membaca dianggap tidak “cocok” dengan identitas pedagang cilok.

“Itu yang bikin saya mikir, kenapa orang yang baca tuh selalu dianggap punya strata tertentu?” katanya.

Lapak baca yang digelar di trotoar kawasan Dago ini menyediakan puluhan buku yang dapat dibaca gratis tanpa syarat bagi siapa saja. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Lapak baca yang digelar di trotoar kawasan Dago ini menyediakan puluhan buku yang dapat dibaca gratis tanpa syarat bagi siapa saja. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Keresahan itu menumpuk, sampai akhirnya menemukan bentuknya saat bulan puasa. Awalnya, Raja hanya nongkrong di titik yang sama lebih lama dari biasanya, membawa sekitar 10 buku miliknya sendiri.

Beberapa anak skateboard mulai membaca. Teman-temannya ikut. Lalu ia unggah ke media sosial dan respons datang lebih luas. Dari situ, lapak baca perlahan terbentuk.

Sekarang, jumlah bukunya mencapai 40–50 eksemplar. Sebagian milik pribadi, sebagian hasil donasi—meski tidak semua ia terima.

“Saya takut kalau suatu saat saya berhenti, terus bukunya dari orang lain. Ada tanggung jawab moral di situ,” ujarnya.

Lapak baca ini tidak punya aturan rumit. Tidak ada kartu anggota, tidak ada biaya, bahkan tidak ada kewajiban membeli cilok. Namun, ada satu batas: buku tidak boleh dibawa pulang. Ia menghindari risiko kehilangan, bukan karena takut rugi, tapi karena sebagian buku adalah titipan kepercayaan. Di sisi lain, ia juga sadar lapak ini punya keterbatasan: letaknya di pinggir jalan, berisik, kadang terganggu cuaca.

“Kalau lagi baca, fokusnya susah. Banyak suara kendaraan, sama ya kalau hujan kehujanan,” katanya.

Tapi justru di situ letak realitasnya. Membaca tidak harus di ruang sunyi, tidak harus di perpustakaan, tidak harus “ideal”. Bisa juga di trotoar, di sela jualan, di antara asap cilok.

Seiring waktu, lapak ini bukan hanya tempat membaca. Ia berubah jadi ruang pertemuan—tempat orang datang, membaca, lalu berbagi cerita. Raja justru merasa dirinya yang lebih banyak belajar.

“Saya malah banyak dapet dari orang-orang yang datang. Mereka sharing, cerita hidupnya. Itu yang bikin saya terus jalanin ini.”

Pengunjungnya beragam, tapi yang paling sering datang adalah mahasiswa dan pekerja muda. Salah satunya Rafi (25), mahasiswa asal Subang yang kini tinggal di Bandung. Ia pertama kali tahu lapak ini dari media sosial dan rekomendasi teman.

“Tertarik karena ada sesuatu yang beda. Di balik dia cari nafkah, dia juga pengen bermanfaat buat orang lain,” kata Rafi.

Bagi Rafi, pengalaman membaca di sana bukan sekadar membaca. Ia menemukan dorongan baru.

“Jadi ke-trigger buat lebih banyak baca. Apalagi lihat semangat si Mang-nya, itu yang kena,” ujarnya.

Ia juga melihat lapak kecil ini sebagai bagian dari sesuatu yang lebih besar.

“Semoga gerakan kecil kayak gini bisa jadi awal buat ningkatin minat baca di Indonesia.”

Buku-buku koleksi pribadi dan donasi yang disediakan Raja dapat dibaca di tempat, dengan aturan tidak diperkenankan dibawa pulang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Buku-buku koleksi pribadi dan donasi yang disediakan Raja dapat dibaca di tempat, dengan aturan tidak diperkenankan dibawa pulang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Meski terlihat inspiratif, Raja tidak pernah ingin membesar-besarkan apa yang ia lakukan. Ia tetap pedagang cilok. Penghasilannya tetap bergantung pada jualan malam hingga subuh. Lapak baca, baginya, bukan proyek besar.

“Saya enggak punya ekspektasi tinggi buat ke depannya. Jalanin aja,” katanya.

Ia bahkan menolak menjadikan ini sebagai “aji mumpung”.

“Saya takut kalau ini dimanfaatin buat kepentingan pribadi. Saya jualan cilok, bukan jual cerita.”

Namun, di balik kesederhanaannya, ada satu harapan yang terus ia pegang: suatu hari nanti, membaca tidak lagi dianggap milik kalangan tertentu.

“Saya pengen kalau ada pemulung bawa buku Madilog, orang-orang biasa aja. Enggak heran,” ujarnya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Linimasa 10 Jun 2026, 16:50

Ibun Bajra, Fenomena Alam Embun Membeku di Kertasari Bandung

Fenomena ibun bajra kembali muncul di Kertasari. Embun membeku jadi lapisan es dan berdampak pada pertanian.

Daun teh membeku di Kertasari saat cuaca dingin menyergap Bandung 2019 silam. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 16:48

Menelusuri Jejak Historis Surabi, Oleh-Oleh Khas Jawa Barat

Surabi adalah salah satu makanan tradisional khas Jawa Barat.

Surabi Cihapit Bandung. (Sumber: Instagram | Foto: Surabi Cihapit)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 15:31

Menyusuri Bukit Plangon: Saat Sejarah dan Kepercayaan Menjaga Alam

Bukit Plangon menjadi contoh bagaimana nilai spiritual dan kearifan lokal berperan dalam menjaga keseimbangan alam.

Sinar matahari menerobos rimbunnya pepohonan di sekitar bangunan makam Bukit Plangon, Cirebon. (Sumber Foto: Dokumentasi pribadi, 2025)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 14:48

Kesadaran Masyarakat terhadap Penggunaan Kain Wol dengan Fashion Old Money

Penerapan gaya old money dan pemakaian kain wol menjadi strategi yang sangat efektif untuk menekan laju pertumbuhan fashion cepat di Indonesia.

Ilustrasi kain wol. (Sumber: Pexels | Foto: Vlada Karpovich)
Wisata & Kuliner 10 Jun 2026, 14:33

Jelajah TMII, Panduan Lengkap Wisata, Harga Tiket, dan Wahana Terbaru

Panduan lengkap berkunjung ke TMII Jakarta, mulai dari harga tiket, museum, anjungan daerah, Jagat Satwa Nusantara, hingga cara menjelajahi kawasan seluas 150 hektare.

Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 12:49

Filosofi Kendi, Animo Pemakaian Tumbler dan Mesin Air Minum Gratis

Kendi adalah ikon sosialisme air minum pada zamannya.

Ilustrasi kendi yang merupakan ikon sosialisme air minum warisan budaya bangsa. (Sumber: Pexels | Foto: Eda Yılmaz)
Sejarah 10 Jun 2026, 12:21

Jelajah Candi-candi di Bandung, Jejak Peradaban Kuno yang yang Hampir Terlupakan

Jejak peninggalan Hindu kuno di Bandung masih bertahan, tetapi kondisi situsnya memerlukan perhatian serius.

Situs Candi Bojongemas di Solokanjeruk Kabupaten Bandung memprihatinkan dan tak terawat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 11:29

Toponimi Lembang (Bagian 1)

Lembang berasal dari bahasa Sunda yaitu “Ngalembang” yang berarti air yang tergenang.

Buku Toponimi Lembang. (Foto: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 10:18

Gedung Juang 45: Transformasi Bangunan Kolonial Menjadi Museum Berbasis Digital

Revitalisasi Gedung Juang 45 Bekasi dari bangunan cagar budaya yang sempat terbengkalai menjadi museum modern berbasis teknologi digital.

Gedung Juang 45 Kota Bekasi (Sumber: bekasikab.go.id | Foto: Situs Pemerintah)
Beranda 10 Jun 2026, 10:12

Di Tengah Janji Energi Bersih, Warga Lereng Gunung Cemas Kehilangan Air, Lahan, dan Masa Depan

Di balik janji energi bersih dari proyek geotermal, warga di sejumlah lereng gunung di Jawa Barat menyuarakan kekhawatiran atas ancaman terhadap sumber air, lahan pertanian, dan ma

Dani Setiawan, petani sayur di kaki Gunung Gede Pangrango, menyuarakan kekhawatirannya terhadap proyek geotermal yang dinilai dapat mengancam sumber air, lahan pertanian, dan ruang hidup warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 09:17

Mengenal Peuyeum sebagai Makanan Tradisional Khas Jawa Barat

Peuyeum sebagai makanan tradisional khas Jawa Barat

Peuyeum Bandung. (Foto: Sofi Putri)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 08:38

Taat Rambu Lalu Lintas adalah Hal Sepele tapi Menyelamatkan Nafas Kehidupan

Satu detik yang menurut kita sepele bisa saja jadi harapan kehidupan bagi orang lain.

Salah satu titik yang sering mengalami kemacetan parah di Kota Bandung, persimpangan lampu merah di Jalan Djunjunan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 20:22

Pasang Surut Era Trem di Batavia

Transportasi trem di Batavia yang kini sudah tidak ada di Indonesia.

Tram Gondangdia di Batavia. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 09 Jun 2026, 16:31

Wisata Candi Borobudur: Panduan Lengkap Tiket, Sunrise, dan Sunset Experience

Panduan lengkap wisata Candi Borobudur 2026, mulai dari harga tiket, kuota naik candi, aturan penggunaan upanat, hingga waktu terbaik untuk berkunjung.

Candi Borobudur. (Sumber: Pemprov Jateng)
Ayo Biz 09 Jun 2026, 16:27

Kisah para Juara 1 BRIncubator, Konsisten Berdayakan Pekerja Lokal

Program inkubasi bergengsi dari BRI itu setiap tahunnya mengangkat segelintir UMKM ke panggung yang lebih besar.

Koku Footwear terpilih sebagai Juara 1 BRIncubator 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Beranda 09 Jun 2026, 16:05

Bandung Raya di Ambang Krisis Sampah, TPA Sarimukti Diperkirakan Penuh Oktober 2026

TPA Sarimukti diperkirakan penuh pada Oktober 2026, memicu ancaman krisis sampah di Bandung Raya yang masih bergantung pada pembuangan akhir dan minim pengolahan dari sumbernya.

Kendaraan pengangkut sampah terparkir di Jalan Tamansari, Kota Bandung, Rabu 6 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 15:08

Sesat Logika, Tantangan dalam Berbahasa

Transformasi digital telah membuka ruang publik semakin luas, tetapi membawa dampak pada kerusakan bahasa akibat kesalahan-kesalahan penafsiran masyarakat

Ilustrasi rak buku. (Sumber: Pexels | Foto: Yazid N)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 14:21

Sedia Payung sebelum Perusahaan Melakukan Pengrumahan Sementara hingga Tutup Permanen

Secara hukum lock out merupakan hak pengusaha untuk menolak pekerja masuk dalam rangka perselisihan industrial, namun pelaksanaannya wajib mematuhi aturan hukum yang berlaku.

Ilustrasi penutupan perusahaan atau lock out. (Sumber: Meta AI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 13:28

Dari Tambang ke Kanvas: Jejak Warna Biru dari Timur

Warna biru punya sejarah panjang yang dimulai dari ketiadaan, mari kita lihat perjalanannya.

Lapis Lazuli (Sumber: WikiMedia | Foto: Hannes Grobe)