Selamat Hari Raya Idul Adha
1447 H • Hari Raya Kurban & Kebajikan

Belajar Membaca Jalanan Bandung dari Dalam Angkot

5 menit baca
Angga Marditama Sultan Sufanir
Ditulis oleh Angga Marditama Sultan Sufanir diterbitkan Rabu 15 Apr 2026, 19:22 WIB
Sejak lama, angkot menjadi bagian dari keseharian mobilitas warga Kota Bandung, meski kini perannya mulai tergeser oleh moda transportasi umum daring. (Foto: Irfan Alfaritsi/ayobandung.com)

Sejak lama, angkot menjadi bagian dari keseharian mobilitas warga Kota Bandung, meski kini perannya mulai tergeser oleh moda transportasi umum daring. (Foto: Irfan Alfaritsi/ayobandung.com)

Tanggal 24 April diperingati sebagai Hari Angkutan Nasional di Indonesia, sebuah momentum untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya transportasi umum, sekaligus mendorong peralihannya sebagai solusi mengurangi kemacetan dan polusi di perkotaan.

Namun di Bandung, persoalan transportasi umum tidak berhenti pada ketersediaan moda. Masalah utamanya justru terletak pada informasi yang tidak pernah benar-benar hadir sebagai bagian dari layanan.

Bagi pendatang, pengalaman pertama naik angkot hampir selalu dimulai dengan kebingungan mendasar: angkot ini menuju ke mana, apakah rutenya langsung atau memutar, dan di mana harus turun. Tidak adanya peta rute yang mudah diakses di ruang publik, minimnya informasi digital resmi, serta ketiadaan sistem penanda yang konsisten membuat perjalanan menjadi serba tidak pasti.

Dalam praktiknya, pengguna harus mengandalkan komunikasi informal—bertanya kepada sopir atau penumpang lain—untuk memastikan arah perjalanan. Artinya, sistem transportasi tidak menyediakan informasi, melainkan menyerahkannya kepada interaksi sosial. Dalam perspektif pelayanan publik, kondisi ini menunjukkan bahwa informasi belum diposisikan sebagai komponen utama layanan, melainkan sekadar pelengkap yang tidak terjamin keberadaannya.

Secara kasat mata, angkot di Bandung tetap beroperasi dan masih menjadi bagian dari mobilitas sehari-hari. Namun jika ditelaah lebih dalam, sistem ini bertahan bukan karena perencanaan yang matang, melainkan karena kebiasaan yang terus berlangsung.

Pemerintah daerah sendiri mengakui bahwa sistem trayek angkot sudah berlangsung puluhan tahun tanpa perubahan signifikan, meskipun struktur kota dan pola mobilitas masyarakat telah berubah.

Akibatnya, banyak rute tidak lagi efisien dan tidak mencerminkan kebutuhan perjalanan saat ini. Penumpang kerap harus berganti kendaraan lebih dari satu kali untuk mencapai tujuan, dengan waktu tempuh yang sulit diprediksi akibat praktik “ngetem” dan deviasi rute di lapangan.

Tidak hanya berdampak pada efisiensi, ketiadaan desain sistem yang jelas juga berimplikasi pada keselamatan. Kasus angkot ugal-ugalan yang menyebabkan korban jiwa menjadi bukti bahwa aspek keselamatan belum terjamin secara memadai.

Dengan demikian, angkot memang berjalan, tetapi tanpa sistem yang benar-benar dirancang untuk menjamin kualitas layanan.

Sopir angkot trayek Cicaheum-Ciroyom saat menunggu kedatangan penumpang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Sopir angkot trayek Cicaheum-Ciroyom saat menunggu kedatangan penumpang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)

Dalam kondisi sistem yang tidak pasti, pengguna dipaksa untuk beradaptasi. Mereka belajar dari pengalaman, menghafal rute, memahami kebiasaan seperti “ngetem” atau “muter”, hingga menerima ketidaknyamanan sebagai bagian dari perjalanan.

Namun, ketika adaptasi menjadi terlalu mahal bagi pengguna—dalam bentuk waktu, tenaga, dan ketidakpastian—maka perpindahan menjadi pilihan yang rasional.

Hal inilah yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir, ketika banyak penumpang angkot beralih ke layanan berbasis aplikasi seperti ojek daring dan taksi daring. Perpindahan ini dipicu oleh perbedaan mendasar dalam kualitas layanan.

Dari sisi kepastian, transportasi umum daring menyediakan informasi rute, tarif, dan waktu tempuh sejak awal perjalanan. Dari sisi efisiensi, perjalanan cenderung lebih langsung tanpa berhenti lama. Dari sisi kemudahan, pengguna tidak perlu memahami jaringan trayek yang kompleks. Sementara dari sisi keamanan, adanya identitas pengemudi dan sistem penilaian memberikan rasa aman tambahan.

Sebaliknya, angkot masih menuntut pengguna untuk “belajar” sebelum bisa menggunakannya secara efektif. Dalam kondisi ini, angkot tidak kalah semata karena teknologi, tetapi karena tidak mampu menyediakan kepastian layanan. Perpindahan dari angkot ke transportasi umum daring membawa konsekuensi yang lebih luas bagi sistem transportasi kota.

Perubahan pilihan individu ini, ketika terjadi secara masif, berdampak langsung pada sistem transportasi kota.

Ketika lebih banyak perjalanan dilakukan secara individual melalui transportasi umum daring, jumlah kendaraan di jalan meningkat, sementara tingkat okupansi menurun. Hal ini membuat sistem transportasi menjadi kurang efisien secara keseluruhan.

Dalam jangka panjang, kondisi ini berkontribusi pada meningkatnya kemacetan, konsumsi energi, dan emisi. Kota menghadapi beban yang lebih besar, bukan karena kekurangan moda, tetapi karena ketidakseimbangan dalam sistem.

Ironisnya, ketika angkot tidak mampu memberikan layanan yang kompetitif, masyarakat justru terdorong menggunakan moda yang secara sistemik kurang efisien.

Angkot yang Belum Inklusif

Selain persoalan kepastian dan efisiensi, ada dimensi lain yang tidak kalah penting, yaitu inklusivitas layanan.

Bagi perempuan, risiko keamanan masih menjadi perhatian. Kasus pelecehan seksual di dalam angkot menunjukkan bahwa sistem belum sepenuhnya memberikan perlindungan yang memadai.

Bagi lansia, keterbatasan akses fisik menjadi hambatan. Ketiadaan desain ramah pengguna, seperti lantai rendah atau pegangan yang memadai, serta pola berhenti yang tidak pasti, membuat angkot sulit diakses.

Sementara bagi anak-anak, minimnya informasi dan ketidakpastian sistem membuat mereka tidak dapat menggunakan transportasi secara mandiri dengan aman.

Kondisi ini menunjukkan bahwa angkot belum sepenuhnya memenuhi prinsip aksesibilitas dan kesetaraan. Sistem masih cenderung melayani mereka yang mampu beradaptasi, bukan semua kelompok pengguna.

Berbagai kota di dunia menunjukkan bahwa transportasi umum dapat dirancang sebagai sistem layanan yang jelas dan mudah digunakan.

Kota Curitiba mengembangkan Bus Rapid Transit dengan struktur rute yang sederhana dan terintegrasi. Sementara Singapore dan Tokyo memanfaatkan Intelligent Transport Systems (ITS) untuk menyediakan informasi real-time, integrasi antarmoda, dan sistem pembayaran yang terpadu.

Di kota-kota ini, pengguna tidak perlu beradaptasi secara berlebihan. Sistem sudah dirancang untuk menjelaskan dirinya sendiri, sehingga dapat digunakan oleh siapa pun, termasuk pengguna baru.

Suasana angkot ngetem di Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung)
Suasana angkot ngetem di Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung)

Jika dirangkum, seluruh persoalan ini bermuara pada satu hal: siapa yang harus beradaptasi?

Di Bandung, pengguna menyesuaikan diri dengan sistem yang tidak pasti. Di kota maju, sistem dirancang untuk menyesuaikan kebutuhan pengguna.

Selama beban adaptasi tetap berada di pihak pengguna, maka dorongan untuk memperbaiki sistem akan selalu terbatas. Kondisi ini juga tercermin dari tingginya penggunaan kendaraan pribadi yang hampir menyamai jumlah penduduk.

Ini menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap transportasi publik masih rendah.

Momentum Perbaikan

Peringatan Hari Angkutan Nasional seharusnya menjadi momentum untuk mengubah cara pandang terhadap transportasi umum.

Pemerintah telah mulai mewacanakan reformasi sistem angkot.

Namun, tanpa perubahan sistemik, angkot akan terus tertinggal dan kehilangan relevansi. Perbaikan tidak cukup dilakukan secara parsial, tetapi harus mencakup penataan rute, penyediaan informasi, peningkatan keselamatan, serta integrasi dengan moda lain.

Pada akhirnya, kualitas transportasi umum tidak ditentukan oleh jumlah armada, tetapi oleh kemudahan penggunaannya.

Transportasi yang baik harus aman bagi perempuan, ramah bagi lansia, dan dapat dipahami oleh anak-anak. Ia tidak menguji penggunanya, tetapi justru memandu mereka.

Naik angkot di Bandung memang mengajarkan banyak hal. Namun ke depan, pengalaman tersebut seharusnya tidak lagi menjadi keharusan, melainkan pilihan. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Angga Marditama Sultan Sufanir
Asst. Professor of Transportation Engineering, Politeknik Negeri Bandung

Berita Terkait

News Update

Wisata & Kuliner 31 Mei 2026, 10:27

5 Pilihan Restoran dan Kafe Bandung Favorit Wisatawan Luar Daerah

Bandung punya banyak kafe baru, tapi lima tempat ini tetap jadi favorit wisatawan karena suasana nyaman, makanan enak, dan lokasi strategis.

Lebak Caring, Dago. Salah satu restoran favorit di Bandung.
Ayo Netizen 31 Mei 2026, 09:54

Identifikasi Toponimi ‘Wangi’ di Zona Sesar Lembang

Literasi toponimi sangat dibutuhkan oleh masyarakat, salah satunya adalah toponimi dengan nama spesifik "wangi" di sepanjang zona Sesar Lembang.

Warga melintas di dekat rambu zona Sesar Lembang di kawasan Gunung Batu, Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 22 Agustus 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ikon 30 Mei 2026, 15:27

Bunga Rawa Rancaupas, Tanaman Langka Penjaga Ekosistem Rawa Dataran Tinggi

Bunga rawa di Rancaupas dikenal sebagai bunga abadi yang tidak mudah layu dan hanya ditemukan di lokasi tertentu di Indonesia.

Bunga rawa di Rancaupas. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 30 Mei 2026, 10:48

Kekerasan terhadap Perempuan Tak Selalu Berdarah, Kadang Hadir dalam Bentuk yang Dianggap Biasa

Pameran NeoFemisida di Bandung mengajak publik melihat kekerasan terhadap perempuan yang tak selalu berupa luka fisik, tetapi juga pembungkaman, stigma, dan penghi

Ima Suswanto menjelaskan makna di balik salah satu karya yang dipamerkan dalam pameran NeoFemisida kepada pengunjung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 30 Mei 2026, 10:06

Menelusuri Sejarah, Filosofi, dan Kehidupan Baru Karinding di Tangan Generasi Muda

Buku “Sejarah Karinding Priangan” dan “Dangiang Karinding” terpampang di antara jajaran karinding tersebut.

Buku Sejarah Karinding Priangan memuat hasil penelitian Kimung mengenai jejak sejarah dan perkembangan karinding di Tatar Sunda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 18:02

Terima Kasih untuk yang Berkurban

Adanya orang-orang yang bekurban adalah bukti masih ada yang mau memberi dan membuat bahagia masyarakat yang tidak mampu berkurban

Panitia bersiap melakukan penyembelihan hewan kurban berupa sapi dan domba di halaman Masjid Lautze 2, Jalan Tamblong, Kota Bandung pada Rabu, 27 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 29 Mei 2026, 17:57

Kafe ACD Taraju, Tempat Healing dengan Rumah Pohon di Tengah Kebun Teh

Kafe ACD di Taraju Tasikmalaya menawarkan suasana ngopi di tengah perkebunan teh dan rumah pohon estetik.

Kafe ACD Taraju. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 16:30

Tentang Makna Do'a Pernikahan

Pernikahan memang menjadi momen bahagia dan bersejarah bagi setiap orang.

Ilustrasi pernikahan. (Sumber: Pexels | Foto: fadhil wy_)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 15:34

KLCBS, Gelombang Jazz dari Bandung yang Tak Pernah Padam

Salah satu siaran yang tetap hidup dalam ingatan itu adalah Radio KLCBS Bandung.

Ruang siaran dan studio KLCBS yang asri dan nyaman. (Sumber: KLCBS Official | Foto: Yanti Rangkuti)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 13:28

Kweekschool Goenoeng Sarie dan Legenda Persib di Lembang

Beberapa legenda Persib lahir dari sebuah lapangan sederhana di utara Pasar Panorama Lembang.

Keadaan kelas di Kweekschool Goenoeng Sarie Lembang 1920-an. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 10:43

Hutan dalam Toponim, Indah, Damai, dan Menyejahterakan

Masyarakat Sunda, pada mulanya melebur dengan alam, dengan hutan.

Hutan yang terjaga memberikan kelimpahan sumberdaya alam. Masyarakat memanfaatkan tanpa merusak. (Foto: T. Bachtiar)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 09:45

Serpihan Napas Kehidupan bagi Penarik Becak di Bandung

Bandung terus berjalan cepat mengikuti arus perkembangan zaman.

Begitu banyak cerita tentang transportasi di Bandung salah satunya becak yang sudah mulai ditinggalkan penumpangnya (Sumber: Ilustrasi ubah foto asli menjadi AI | Foto: Dias Ashari)
Beranda 29 Mei 2026, 08:43

Pengendara Ojol di Kota Bandung Mulai Beralih ke Motor Listrik, Nyaman tapi Belum Sepenuhnya Praktis

Pengemudi ojol di Bandung mulai mencoba motor listrik karena lebih nyaman dan hemat. Namun, keterbatasan infrastruktur baterai masih jadi tantangan utama.

Yusuf dan motor listriknya yang digunakannya untuk mengantar penumpang di kawasan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 28 Mei 2026, 19:21

Takbir, Tahmid, dan Tahlil

Allahu akbar, Allahu akbar. Laa ilaha illallah, wallahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamdu.

Warga menggelar tradisi takbiran di Kampung Bunut, Margahurip, Kabupaten Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 28 Mei 2026, 15:10

Kurban dan Masakan Ibu Saat Tahun 1980-an

Suasana Hari Raya Iduladha tahun 1980-an tentang bagaimana seorang Ibu mengolah daging kurban diolah menjadi masakan yang digemari anak-anaknya

Ilustrasi salat Idul Adha. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 28 Mei 2026, 12:20

Laksa Bogor, Kuliner Peranakan Legendaris di Kota Hujan

Laksa Bogor dikenal dengan teknik penyajian unik “dikocok” yang membuat bihun dan tauge menyatu sempurna dengan kuah santan kuning berbumbu.

Laksa Bogor. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 28 Mei 2026, 12:03

Mengapa Nabi Mengajarkan 'Baarakallahu Laka' dan 'Baaraka Alaika' dalam Doa Pernikahan?

Mengapa Nabi menggunakan lafazh “laka” dan “‘alaika” dalam doa pernikahan? Ternyata tersimpan pesan mendalam tentang sakinah, cinta, ujian hidup, syukur, dan kesabaran rumah tangga.

Pasangan suami istri. (Sumber: Istimewa | Foto: Muhammad Mufti SN)
Beranda 28 Mei 2026, 09:45

Idul Adha 1447 H, PLN NP UP Cirata Tebar Kepedulian lewat Bantuan Hewan Kurban

PT PLN Nusantara Power UP Cirata menyalurkan hewan kurban kepada masyarakat dan stakeholder di Purwakarta pada Idul Adha 1447 H.

PT PLN Nusantara Power UP Cirata menyalurkan 5 sapi dan 21 kambing kurban kepada masyarakat dan stakeholder di Purwakarta pada Idul Adha 1447 H.
Ayo Netizen 28 Mei 2026, 09:34

Harga Mahal Sebuah Piala: Saat Euforia Juara Persib Bandung Harus Dibayar dengan Nyawa

Merayakan Persib boleh menggila, tetapi logika dan kemanusiaan jangan sampai ikut mati.

Ribuan Bobotoh mengikuti konvoi perayaan juara Super League 2025–2026 di Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 28 Mei 2026, 00:27

Kelola Belanja Keluarga lewat HP, Ibu Rumah Tangga Perlu Paham Ancaman Digital Perbankan

Era digital yang sudah serba canggih telah memberikan kemudahan untuk pelbagai sektor, termasuk perbankan.

Aplikasi BRImo dari Bank BRI. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)