Belajar Membaca Jalanan Bandung dari Dalam Angkot

5 menit baca
Angga Marditama Sultan Sufanir
Ditulis oleh Angga Marditama Sultan Sufanir diterbitkan
Sejak lama, angkot menjadi bagian dari keseharian mobilitas warga Kota Bandung, meski kini perannya mulai tergeser oleh moda transportasi umum daring. (Foto: Irfan Alfaritsi/ayobandung.com)
Sejak lama, angkot menjadi bagian dari keseharian mobilitas warga Kota Bandung, meski kini perannya mulai tergeser oleh moda transportasi umum daring. (Foto: Irfan Alfaritsi/ayobandung.com)

Tanggal 24 April diperingati sebagai Hari Angkutan Nasional di Indonesia, sebuah momentum untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya transportasi umum, sekaligus mendorong peralihannya sebagai solusi mengurangi kemacetan dan polusi di perkotaan.

Namun di Bandung, persoalan transportasi umum tidak berhenti pada ketersediaan moda. Masalah utamanya justru terletak pada informasi yang tidak pernah benar-benar hadir sebagai bagian dari layanan.

Bagi pendatang, pengalaman pertama naik angkot hampir selalu dimulai dengan kebingungan mendasar: angkot ini menuju ke mana, apakah rutenya langsung atau memutar, dan di mana harus turun. Tidak adanya peta rute yang mudah diakses di ruang publik, minimnya informasi digital resmi, serta ketiadaan sistem penanda yang konsisten membuat perjalanan menjadi serba tidak pasti.

Dalam praktiknya, pengguna harus mengandalkan komunikasi informal—bertanya kepada sopir atau penumpang lain—untuk memastikan arah perjalanan. Artinya, sistem transportasi tidak menyediakan informasi, melainkan menyerahkannya kepada interaksi sosial. Dalam perspektif pelayanan publik, kondisi ini menunjukkan bahwa informasi belum diposisikan sebagai komponen utama layanan, melainkan sekadar pelengkap yang tidak terjamin keberadaannya.

Secara kasat mata, angkot di Bandung tetap beroperasi dan masih menjadi bagian dari mobilitas sehari-hari. Namun jika ditelaah lebih dalam, sistem ini bertahan bukan karena perencanaan yang matang, melainkan karena kebiasaan yang terus berlangsung.

Pemerintah daerah sendiri mengakui bahwa sistem trayek angkot sudah berlangsung puluhan tahun tanpa perubahan signifikan, meskipun struktur kota dan pola mobilitas masyarakat telah berubah.

Akibatnya, banyak rute tidak lagi efisien dan tidak mencerminkan kebutuhan perjalanan saat ini. Penumpang kerap harus berganti kendaraan lebih dari satu kali untuk mencapai tujuan, dengan waktu tempuh yang sulit diprediksi akibat praktik “ngetem” dan deviasi rute di lapangan.

Tidak hanya berdampak pada efisiensi, ketiadaan desain sistem yang jelas juga berimplikasi pada keselamatan. Kasus angkot ugal-ugalan yang menyebabkan korban jiwa menjadi bukti bahwa aspek keselamatan belum terjamin secara memadai.

Dengan demikian, angkot memang berjalan, tetapi tanpa sistem yang benar-benar dirancang untuk menjamin kualitas layanan.

Sopir angkot trayek Cicaheum-Ciroyom saat menunggu kedatangan penumpang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Sopir angkot trayek Cicaheum-Ciroyom saat menunggu kedatangan penumpang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)

Dalam kondisi sistem yang tidak pasti, pengguna dipaksa untuk beradaptasi. Mereka belajar dari pengalaman, menghafal rute, memahami kebiasaan seperti “ngetem” atau “muter”, hingga menerima ketidaknyamanan sebagai bagian dari perjalanan.

Namun, ketika adaptasi menjadi terlalu mahal bagi pengguna—dalam bentuk waktu, tenaga, dan ketidakpastian—maka perpindahan menjadi pilihan yang rasional.

Hal inilah yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir, ketika banyak penumpang angkot beralih ke layanan berbasis aplikasi seperti ojek daring dan taksi daring. Perpindahan ini dipicu oleh perbedaan mendasar dalam kualitas layanan.

Dari sisi kepastian, transportasi umum daring menyediakan informasi rute, tarif, dan waktu tempuh sejak awal perjalanan. Dari sisi efisiensi, perjalanan cenderung lebih langsung tanpa berhenti lama. Dari sisi kemudahan, pengguna tidak perlu memahami jaringan trayek yang kompleks. Sementara dari sisi keamanan, adanya identitas pengemudi dan sistem penilaian memberikan rasa aman tambahan.

Sebaliknya, angkot masih menuntut pengguna untuk “belajar” sebelum bisa menggunakannya secara efektif. Dalam kondisi ini, angkot tidak kalah semata karena teknologi, tetapi karena tidak mampu menyediakan kepastian layanan. Perpindahan dari angkot ke transportasi umum daring membawa konsekuensi yang lebih luas bagi sistem transportasi kota.

Perubahan pilihan individu ini, ketika terjadi secara masif, berdampak langsung pada sistem transportasi kota.

Ketika lebih banyak perjalanan dilakukan secara individual melalui transportasi umum daring, jumlah kendaraan di jalan meningkat, sementara tingkat okupansi menurun. Hal ini membuat sistem transportasi menjadi kurang efisien secara keseluruhan.

Dalam jangka panjang, kondisi ini berkontribusi pada meningkatnya kemacetan, konsumsi energi, dan emisi. Kota menghadapi beban yang lebih besar, bukan karena kekurangan moda, tetapi karena ketidakseimbangan dalam sistem.

Ironisnya, ketika angkot tidak mampu memberikan layanan yang kompetitif, masyarakat justru terdorong menggunakan moda yang secara sistemik kurang efisien.

Angkot yang Belum Inklusif

Selain persoalan kepastian dan efisiensi, ada dimensi lain yang tidak kalah penting, yaitu inklusivitas layanan.

Bagi perempuan, risiko keamanan masih menjadi perhatian. Kasus pelecehan seksual di dalam angkot menunjukkan bahwa sistem belum sepenuhnya memberikan perlindungan yang memadai.

Bagi lansia, keterbatasan akses fisik menjadi hambatan. Ketiadaan desain ramah pengguna, seperti lantai rendah atau pegangan yang memadai, serta pola berhenti yang tidak pasti, membuat angkot sulit diakses.

Sementara bagi anak-anak, minimnya informasi dan ketidakpastian sistem membuat mereka tidak dapat menggunakan transportasi secara mandiri dengan aman.

Kondisi ini menunjukkan bahwa angkot belum sepenuhnya memenuhi prinsip aksesibilitas dan kesetaraan. Sistem masih cenderung melayani mereka yang mampu beradaptasi, bukan semua kelompok pengguna.

Berbagai kota di dunia menunjukkan bahwa transportasi umum dapat dirancang sebagai sistem layanan yang jelas dan mudah digunakan.

Kota Curitiba mengembangkan Bus Rapid Transit dengan struktur rute yang sederhana dan terintegrasi. Sementara Singapore dan Tokyo memanfaatkan Intelligent Transport Systems (ITS) untuk menyediakan informasi real-time, integrasi antarmoda, dan sistem pembayaran yang terpadu.

Di kota-kota ini, pengguna tidak perlu beradaptasi secara berlebihan. Sistem sudah dirancang untuk menjelaskan dirinya sendiri, sehingga dapat digunakan oleh siapa pun, termasuk pengguna baru.

Suasana angkot ngetem di Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung)
Suasana angkot ngetem di Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung)

Jika dirangkum, seluruh persoalan ini bermuara pada satu hal: siapa yang harus beradaptasi?

Di Bandung, pengguna menyesuaikan diri dengan sistem yang tidak pasti. Di kota maju, sistem dirancang untuk menyesuaikan kebutuhan pengguna.

Selama beban adaptasi tetap berada di pihak pengguna, maka dorongan untuk memperbaiki sistem akan selalu terbatas. Kondisi ini juga tercermin dari tingginya penggunaan kendaraan pribadi yang hampir menyamai jumlah penduduk.

Ini menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap transportasi publik masih rendah.

Momentum Perbaikan

Peringatan Hari Angkutan Nasional seharusnya menjadi momentum untuk mengubah cara pandang terhadap transportasi umum.

Pemerintah telah mulai mewacanakan reformasi sistem angkot.

Namun, tanpa perubahan sistemik, angkot akan terus tertinggal dan kehilangan relevansi. Perbaikan tidak cukup dilakukan secara parsial, tetapi harus mencakup penataan rute, penyediaan informasi, peningkatan keselamatan, serta integrasi dengan moda lain.

Pada akhirnya, kualitas transportasi umum tidak ditentukan oleh jumlah armada, tetapi oleh kemudahan penggunaannya.

Transportasi yang baik harus aman bagi perempuan, ramah bagi lansia, dan dapat dipahami oleh anak-anak. Ia tidak menguji penggunanya, tetapi justru memandu mereka.

Naik angkot di Bandung memang mengajarkan banyak hal. Namun ke depan, pengalaman tersebut seharusnya tidak lagi menjadi keharusan, melainkan pilihan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Angga Marditama Sultan Sufanir
Asst. Professor of Transportation Engineering, Politeknik Negeri Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 31 Agu 2026, 17:25

Maut Menjemput Putri Diana, Dunia Berduka

Catatan Nostalgia dan In Memoriam 29 Tahun Kepergian “Lady Di”.

Berita kepergian Putri Diana menjadi perhatian utama berbagai media cetak di Indonesia, mencerminkan besarnya duka dan perhatian masyarakat terhadap sosok Princess of Wales tersebut. (Sumber: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 16:28

Sejarah Nama Bulan (Bagian 2)

Dua belas bulan yang kita kenal hari ini ternyata menyimpan jejak perubahan zaman, kekuasaan, dan cara manusia menata waktu.

Februa atau Lupercalia, suatu festival penyucian di Romawi Kuno. (Sumber: Wikimedia Commons)
Beranda 31 Agu 2026, 16:20

PLN Nusantara Power UP Cirata Overhaul Unit 5 dan 6 Demi Keandalan Pasokan Listrik

PLN Nusantara Power UP Cirata melakukan overhaul Unit 5 dan 6 PLTA Cirata untuk menjaga keandalan pasokan listrik pelanggan.

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat keandalan PLTA Cirata melalui overhaul Unit 5 dan Unit 6 demi pelayanan listrik pelanggan.
Beranda 31 Agu 2026, 16:13

Hari Pelanggan Nasional, PLN NP UP Cirata Perkuat Sinergi dengan Masyarakat Desa Ciroyom

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat sinergi dengan masyarakat melalui Milangkala Desa Ciroyom ke-171 di Hari Pelanggan Nasional.

PLN Nusantara Power UP Cirata berpartisipasi dalam Milangkala Desa Ciroyom ke-171 sebagai wujud sinergi bersama masyarakat dan lingkungan.
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 14:24

Rijsttafel Hidangan Perpaduan Belanda dan Nusantara di Priangan

Nikmati kelezatan Rijsttafel, tradisi kuliner unik era kolonial di Priangan. Perpaduan harmonis antara kemewahan rasa Belanda dan autentisitas rempah Nusantara dalam satu meja

Keluarga C.H. Japing dalam sebuah acara rijsttafel bersama Bibi Jet dan Paman Jan Breeman di Bandung. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Christoffel Hendrik)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 13:01

Medsos, Buku, dan Rindu

Algoritma semakin pandai mengenali, harusnya semakin pandai mengenali diri sendiri. Termasuk waktu berhenti pada satu video, apa dirasakan setelah menontonnya, dan nilai apa yang diambil hikmahnya.

Kaligrafi nama Nabi Muhammad berbentuk hati (Sumber: ayobandung.com)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 11:09

Ketika Rumput Habis, Bagaimana Mitigasi Pakan Ternak?

Berharap agar Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) membuat program massal sistem mitigasi bencana untuk hewan ternak maupun hewan liar.

Ilustrasi kondisi ternak rakyat ketika musim kemarau ekstrim. (Sumber: dikreasi denganvGemini | Foto: Totok Siswantara)
Beranda 31 Agu 2026, 10:30

Pernah Jadi Pintu Masuk Ratusan Ribu Wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara Kini Bangkit Lagi

Dulu jadi pintu gerbang ratusan ribu wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara sempat mati suri akibat pandemi dan pencabutan status internasional.

Suasana bandara saat pesawat jet komersial Garuda Indonesia mendarat perdana di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, Jumat 14 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 09:14

Manajemen Dapur Umum dan Menu Ideal untuk Korban Bencana Alam

Perencanaan dan pemilihan lokasi dapur umum harus bebas dari risiko bencana susulan.

Ilustrasi aktivitas dapur umum untuk korban bencana alam. (Sumber: by AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 08:13

Sisi Lain Sang Jenderal: Menelusuri Makna Filosofis dan Tradisi di Balik Kuliner Favorit Soeharto

Kegemaran kuliner Presiden ke-2 RI, Soeharto, tidak lepas dari perjalanan hidupnya yang berakar di Desa Kemusuk.

Momen Presiden Soeharto dan Ibu Tien memotong tumpeng saat merayakan HUT pernikahan di Jalan Cendana, Jakarta, Juni 1986, disaksikan ibu mertua dan Sumitro Djoyohadkusumo. (Sumber: ANRI, Setneg 634)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 20:52

Ketika Seniman Memilih untuk Tidak Diam, Jangan Biarkan Kezaliman Menjadi Kelaziman

Ketika kezaliman menjadi kelaziman, diam bukan lagi netral. Manifesto Seniman Bandung adalah ajakan untuk bersuara—bukan sekadar nyinyir dari kejauhan.

Aliansi Bandung Ngagoak mengadakan aksi ekspresi seni di Kebun Seni Jalan Tamansari 56 Bandung. (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 18:14

Menciptakan Kembali Televisi Pendidikan

Televisi pendidikan sebagai proyek nasional pun sudah seharusnya menjadi keputusan pemerintah.

Ilustrasi televisi. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 16:45

Cerita Tomakur Milik KWT Desa Nagarawangi Terpilih untuk Pendaftaran Legalitas Merek

Tomakur milik KWT Desa Nagarawangi terpilih mendapat pendampingan pendaftaran merek melalui program KKN UNINUS untuk memperkuat legalitas dan identitas produk UMKM.

Sosialisasi dan Pendampingan Proses Pendaftaran HKI (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 14:11

Kedaulatan di Atas Meja Makan: Diplomasi Kuliner Sukarno pada Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 di Bandung

Sukarno menegaskan visi bahwa "kemerdekaan dimulai dari lidah"—sebuah manifestasi dari prinsip Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri).

Momen jamuan makan malam resmi pada Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Hotel Savoy Homann, Bandung, pada 19 April 1955. (Sumber foto: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 12:04

Sehat untuk Semua, Warga Desa Nagarawangi Ikuti CKG dan Edukasi Pertolongan Pertama

Warga Nagarawangi mengikuti CKG dan edukasi kesehatan, mulai dari pertolongan pertama dalam situasi darurat hingga kesehatan psikologis anak dan remaja bersama Puskesmas Rancakalong.

Kegiatan Pelaksanaan Program "Sehat  untuk Semua Warga Desa Nagarawangi" (KKN UNINUS Kel.5&6) (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 09:59

Budaya Mengaji di Tengah Kota

Di tengah modernitas dan dinamisnya kehidupan perkotaan. Masih ada ruang di sudut perkotaan untuk mempertemukan anak-anak dengan kehidupan sosial dan agamanya.

Mengaji di kalangan anak-anak menjadi memori yang begitu melekat. Melihat aktivitas tersebut masih berjalan di area perkotaan menjadi fenomena yang menarik untuk dibahas. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Sejarah 29 Agu 2026, 10:47

Jejak K.F. Holle, Tokoh Kolonial yang Membawa Perubahan Pertanian di Garut

K.F. Holle meninggalkan jejak panjang di Cikajang, Garut, dari perkebunan teh, pertanian, hingga pengembangan domba Garut.

Monumen K.F. Holle di perkebunan teh Giriawas, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 28 Agu 2026, 22:17

Dobrak Stigma 'Bandung Coret', FKB 2026 Boyong Kuliner Legendaris demi Gaet Wisatawan hingga Gen Z

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong kuliner legendaris seperti Perkedel Bondon ke Gedebage, langkah gerilya untuk gaet wisatawan dan Gen Z.

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong berbagai kuliner legendaris Bandung dan Jawa Barat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 28 Agu 2026, 19:12

Lipat demi Lipat, Dimsum Inmons Menyusun Resep Paten dari Gang Sempit Cicadas

Kisah Dimsum Inmons, UMKM kuliner asal gang sempit Cicadas, yang menyeimbangkan kanal digital dengan kekuatan penjualan konvensional.

Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung, (12/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 18:08

Menerapkan Pompa Submersible Tenaga Surya untuk Atasi Karhutla

Kebakaran hutan dan lahan ( Karhutla ) di berbagai wilayah dihadang masalah klasik yakni titik api jauh dari sumber air dan listrik.

Ilustrasi penggunaan sistem pompa untuk atasi karhutla (Sumber: dibuat dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)