Sebentar Lagi Hari Kartini, namun Kekerasan terhadap Perempuan Tak Kunjung Hilang

4 menit baca
Pernando Aigro S
Ditulis oleh Pernando Aigro S diterbitkan
Raden Ajeng Kartini, juga dikenal sebagai Raden Ayu Kartini. (Sumber: Istimewa)
Raden Ajeng Kartini, juga dikenal sebagai Raden Ayu Kartini. (Sumber: Istimewa)

Setiap April, nama Raden Ajeng Kartini kembali dihadirkan dalam ingatan publik. Ia lahir pada 21 April 1879 di Jepara dan wafat pada 17 September 1904. Dalam hidupnya yang singkat, Kartini dikenal sebagai pelopor emansipasi perempuan di Indonesia yang memperjuangkan kesetaraan, terutama dalam melawan keterbatasan yang menempatkan perempuan pada posisi yang tidak setara dalam pendidikan dan kehidupan sosial. Gagasan-gagasannya menunjukkan bahwa perempuan tidak seharusnya dibatasi oleh struktur budaya yang mengekang. Peringatan Hari Kartini setiap 21 April pada dasarnya dimaksudkan sebagai refleksi atas perjuangan tersebut, bukan sekadar seremoni tahunan.

Perjuangan Raden Ajeng Kartini tidak berhenti pada tuntutan pendidikan semata, tetapi juga pada upaya mengubah cara pandang masyarakat terhadap perempuan. Ia menolak anggapan bahwa perempuan hanya layak berada di ruang domestik dan tidak memiliki kebebasan berpikir. Bagi Kartini, pendidikan adalah jalan untuk membebaskan perempuan dari keterbelakangan sekaligus dari struktur sosial yang menempatkan mereka sebagai pihak yang lebih rendah. Dengan kata lain, yang diperjuangkan Kartini adalah “martabat”, bahwa perempuan harus dipandang sebagai manusia yang utuh, setara, dan memiliki hak atas dirinya sendiri.

Namun, jika melihat realitas hari ini, nilai-nilai tersebut belum sepenuhnya terwujud. Cara pandang yang merendahkan perempuan masih bertahan, meskipun tidak selalu dalam bentuk yang sama seperti pada masa Kartini, tetapi berubah menjadi bentuk yang lebih halus. Perempuan hari ini mungkin memiliki akses pendidikan dan ruang sosial yang lebih luas, tetapi masih dihadapkan pada berbagai bentuk ketidakadilan yang merendahkan martabatnya. Kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan masih terus terjadi, bahkan di ruang-ruang yang seharusnya aman. Maka, menjadi masuk akal untuk merefleksikan kembali: apakah perjuangan Kartini hanya berhenti sebagai simbol sejarah, sementara ketidakadilan yang ia lawan justru tetap hidup dalam bentuk yang berbeda?

Ilustrasi kekerasan seksual yang menunjukkan bagaimana pelecehan, termasuk secara verbal, dapat merendahkan martabat dan menimbulkan dampak psikologis bagi korban. (Sumber: tangerangkota.go.id/ https://www.tangerangkota.go.id/berita/detail/34217/alami-pelecehan-atau-kekerasan-seksual-yuk-warga-kota-tangerang-lapor-ke-p2tp2a | Foto: -)
Ilustrasi kekerasan seksual yang menunjukkan bagaimana pelecehan, termasuk secara verbal, dapat merendahkan martabat dan menimbulkan dampak psikologis bagi korban. (Sumber: tangerangkota.go.id/ https://www.tangerangkota.go.id/berita/detail/34217/alami-pelecehan-atau-kekerasan-seksual-yuk-warga-kota-tangerang-lapor-ke-p2tp2a | Foto: -)

Ketika Kampus Tak Lagi Aman bagi Perempuan

Kasus yang terjadi di tengah menjelang Hari Kartini, yaitu dugaan pelecehan seksual verbal di lingkungan Universitas Indonesia, mencuat ke publik setelah beredarnya tangkapan layar percakapan dalam sebuah grup yang melibatkan mahasiswa Fakultas Hukum. Dalam percakapan tersebut, terdapat candaan bernuansa seksual, yakni percakapan yang mengarah pada tubuh perempuan hingga pernyataan yang merendahkan martabat perempuan. Kasus ini kemudian ramai diperbincangkan karena melibatkan setidaknya 16 mahasiswa dan terjadi di ruang akademik yang seharusnya menjunjung tinggi etika serta penghormatan terhadap sesama. Pihak kampus pun menelusuri kasus ini setelah mendapat laporan dan sorotan publik.

Kasus ini menunjukkan bahwa persoalan yang dahulu diperjuangkan oleh Raden Ajeng Kartini belum benar-benar selesai. Jika Kartini melawan pembatasan yang menempatkan perempuan sebagai pihak yang tidak setara, maka hari ini ketidaksetaraan itu hadir dalam bentuk yang berbeda, yakni melalui bahasa, sikap, dan perilaku yang merendahkan perempuan. Pelecehan verbal yang dibungkus sebagai candaan memperlihatkan bahwa perempuan masih kerap diposisikan sebagai objek, bukan sebagai subjek yang memiliki martabat. Padahal, ruang pendidikan yang seharusnya menjadi tempat tumbuhnya kesadaran justru masih menyimpan cara pandang yang bertentangan dengan nilai kesetaraan yang diperjuangkan sejak masa Kartini.

Yang lebih miris lagi, pelaku justru berasal dari mahasiswa Fakultas Hukum, yang kelak akan menjadi bagian dari penegak hukum dan penjaga keadilan. Fakta ini menimbulkan ironi yang serius. Di satu sisi, mereka sedang menempuh pendidikan yang mengajarkan tentang keadilan, hak asasi manusia, dan perlindungan terhadap korban. Namun di sisi lain, perilaku yang ditunjukkan justru mencerminkan penyimpangan dari nilai-nilai tersebut. Hal ini memperlihatkan bahwa pendidikan formal saja tidak cukup jika tidak diiringi dengan pembentukan kesadaran moral dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Persoalan menjadi semakin penting ketika dikaitkan dengan sudut pandang publik terhadap hukum di Indonesia yang kerap dipenuhi ketidakpercayaan. Ketika calon-calon penegak hukum justru menunjukkan perilaku yang bertentangan dengan nilai keadilan, hal ini berpotensi memperkuat stigma negatif bahwa hukum belum sepenuhnya berpihak pada perlindungan yang adil, khususnya bagi perempuan. Oleh karena itu, peringatan Kartini seharusnya tidak hanya menjadi refleksi historis, melainkan menjadi pengingat bahwa perjuangan Kartini menuntut adanya kesadaran akan hukum yang tidak hanya dimulai dari lingkungan pendidikan, tetapi terutama dari kesadaran individu masing-masing.

Pada akhirnya, Hari Kartini tidak bisa berhenti pada seremoni atau sekadar mengenang sejarah. Ia menuntut keberanian untuk melihat kenyataan bahwa ketidakadilan terhadap perempuan masih berlangsung, bahkan di ruang-ruang yang seharusnya menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan keadilan. Selama perempuan masih dipandang sebagai objek, selama pelecehan masih dinormalisasi sebagai candaan, maka nilai-nilai yang diperjuangkan oleh Raden Ajeng Kartini belum benar-benar hidup dalam kehidupan kita.

Sebentar lagi Hari Kartini. Peringatan ini seharusnya menjadi lebih dari sekadar tradisi tahunan, tetapi momentum untuk membangun kesadaran yang nyata, yang dimulai dari diri sendiri dalam menghormati martabat perempuan dan menolak segala bentuk kekerasan, sekecil apa pun. Sebab, selama kekerasan terhadap perempuan masih terus terjadi, maka perjuangan Kartini belum selesai, dan refleksi ini tidak boleh berhenti hanya di bulan April. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Pernando Aigro S
Mahasiswa FH Unpar. Quotes "Jangan takut gagal, karna gagal ga takut kamu"- Leonico Joedo. 🗿

Berita Terkait

News Update

Ayo Biz 31 Agu 2026, 19:02

Dua Wajah Paten UMKM Bandung, Dua Jalan Berbeda untuk Naik Kelas di Pasar Digital

Kisah kontras Koku Footwear dan Dimsum Inmons, dua UMKM Bandung yang sama-sama tumbuh lewat Shopee namun dengan tingkat ketergantungan yang jauh berbeda.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin (pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear) dan Ani Andriyani (pemilik Dimsum Inmons). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 17:25

Maut Menjemput Putri Diana, Dunia Berduka

Catatan Nostalgia dan In Memoriam 29 Tahun Kepergian “Lady Di”.

Berita kepergian Putri Diana menjadi perhatian utama berbagai media cetak di Indonesia, mencerminkan besarnya duka dan perhatian masyarakat terhadap sosok Princess of Wales tersebut. (Sumber: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 16:28

Sejarah Nama Bulan (Bagian 2)

Dua belas bulan yang kita kenal hari ini ternyata menyimpan jejak perubahan zaman, kekuasaan, dan cara manusia menata waktu.

Februa atau Lupercalia, suatu festival penyucian di Romawi Kuno. (Sumber: Wikimedia Commons)
Beranda 31 Agu 2026, 16:20

PLN Nusantara Power UP Cirata Overhaul Unit 5 dan 6 Demi Keandalan Pasokan Listrik

PLN Nusantara Power UP Cirata melakukan overhaul Unit 5 dan 6 PLTA Cirata untuk menjaga keandalan pasokan listrik pelanggan.

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat keandalan PLTA Cirata melalui overhaul Unit 5 dan Unit 6 demi pelayanan listrik pelanggan.
Beranda 31 Agu 2026, 16:13

Hari Pelanggan Nasional, PLN NP UP Cirata Perkuat Sinergi dengan Masyarakat Desa Ciroyom

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat sinergi dengan masyarakat melalui Milangkala Desa Ciroyom ke-171 di Hari Pelanggan Nasional.

PLN Nusantara Power UP Cirata berpartisipasi dalam Milangkala Desa Ciroyom ke-171 sebagai wujud sinergi bersama masyarakat dan lingkungan.
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 14:24

Rijsttafel Hidangan Perpaduan Belanda dan Nusantara di Priangan

Nikmati kelezatan Rijsttafel, tradisi kuliner unik era kolonial di Priangan. Perpaduan harmonis antara kemewahan rasa Belanda dan autentisitas rempah Nusantara dalam satu meja

Keluarga C.H. Japing dalam sebuah acara rijsttafel bersama Bibi Jet dan Paman Jan Breeman di Bandung. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Christoffel Hendrik)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 13:01

Medsos, Buku, dan Rindu

Algoritma semakin pandai mengenali, harusnya semakin pandai mengenali diri sendiri. Termasuk waktu berhenti pada satu video, apa dirasakan setelah menontonnya, dan nilai apa yang diambil hikmahnya.

Kaligrafi nama Nabi Muhammad berbentuk hati (Sumber: ayobandung.com)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 11:09

Ketika Rumput Habis, Bagaimana Mitigasi Pakan Ternak?

Berharap agar Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) membuat program massal sistem mitigasi bencana untuk hewan ternak maupun hewan liar.

Ilustrasi kondisi ternak rakyat ketika musim kemarau ekstrim. (Sumber: dikreasi denganvGemini | Foto: Totok Siswantara)
Beranda 31 Agu 2026, 10:30

Pernah Jadi Pintu Masuk Ratusan Ribu Wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara Kini Bangkit Lagi

Dulu jadi pintu gerbang ratusan ribu wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara sempat mati suri akibat pandemi dan pencabutan status internasional.

Suasana bandara saat pesawat jet komersial Garuda Indonesia mendarat perdana di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, Jumat 14 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 09:14

Manajemen Dapur Umum dan Menu Ideal untuk Korban Bencana Alam

Perencanaan dan pemilihan lokasi dapur umum harus bebas dari risiko bencana susulan.

Ilustrasi aktivitas dapur umum untuk korban bencana alam. (Sumber: by AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 08:13

Sisi Lain Sang Jenderal: Menelusuri Makna Filosofis dan Tradisi di Balik Kuliner Favorit Soeharto

Kegemaran kuliner Presiden ke-2 RI, Soeharto, tidak lepas dari perjalanan hidupnya yang berakar di Desa Kemusuk.

Momen Presiden Soeharto dan Ibu Tien memotong tumpeng saat merayakan HUT pernikahan di Jalan Cendana, Jakarta, Juni 1986, disaksikan ibu mertua dan Sumitro Djoyohadkusumo. (Sumber: ANRI, Setneg 634)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 20:52

Ketika Seniman Memilih untuk Tidak Diam, Jangan Biarkan Kezaliman Menjadi Kelaziman

Ketika kezaliman menjadi kelaziman, diam bukan lagi netral. Manifesto Seniman Bandung adalah ajakan untuk bersuara—bukan sekadar nyinyir dari kejauhan.

Aliansi Bandung Ngagoak mengadakan aksi ekspresi seni di Kebun Seni Jalan Tamansari 56 Bandung. (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 18:14

Menciptakan Kembali Televisi Pendidikan

Televisi pendidikan sebagai proyek nasional pun sudah seharusnya menjadi keputusan pemerintah.

Ilustrasi televisi. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 16:45

Cerita Tomakur Milik KWT Desa Nagarawangi Terpilih untuk Pendaftaran Legalitas Merek

Tomakur milik KWT Desa Nagarawangi terpilih mendapat pendampingan pendaftaran merek melalui program KKN UNINUS untuk memperkuat legalitas dan identitas produk UMKM.

Sosialisasi dan Pendampingan Proses Pendaftaran HKI (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 14:11

Kedaulatan di Atas Meja Makan: Diplomasi Kuliner Sukarno pada Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 di Bandung

Sukarno menegaskan visi bahwa "kemerdekaan dimulai dari lidah"—sebuah manifestasi dari prinsip Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri).

Momen jamuan makan malam resmi pada Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Hotel Savoy Homann, Bandung, pada 19 April 1955. (Sumber foto: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 12:04

Sehat untuk Semua, Warga Desa Nagarawangi Ikuti CKG dan Edukasi Pertolongan Pertama

Warga Nagarawangi mengikuti CKG dan edukasi kesehatan, mulai dari pertolongan pertama dalam situasi darurat hingga kesehatan psikologis anak dan remaja bersama Puskesmas Rancakalong.

Kegiatan Pelaksanaan Program "Sehat  untuk Semua Warga Desa Nagarawangi" (KKN UNINUS Kel.5&6) (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 09:59

Budaya Mengaji di Tengah Kota

Di tengah modernitas dan dinamisnya kehidupan perkotaan. Masih ada ruang di sudut perkotaan untuk mempertemukan anak-anak dengan kehidupan sosial dan agamanya.

Mengaji di kalangan anak-anak menjadi memori yang begitu melekat. Melihat aktivitas tersebut masih berjalan di area perkotaan menjadi fenomena yang menarik untuk dibahas. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Sejarah 29 Agu 2026, 10:47

Jejak K.F. Holle, Tokoh Kolonial yang Membawa Perubahan Pertanian di Garut

K.F. Holle meninggalkan jejak panjang di Cikajang, Garut, dari perkebunan teh, pertanian, hingga pengembangan domba Garut.

Monumen K.F. Holle di perkebunan teh Giriawas, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 28 Agu 2026, 22:17

Dobrak Stigma 'Bandung Coret', FKB 2026 Boyong Kuliner Legendaris demi Gaet Wisatawan hingga Gen Z

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong kuliner legendaris seperti Perkedel Bondon ke Gedebage, langkah gerilya untuk gaet wisatawan dan Gen Z.

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong berbagai kuliner legendaris Bandung dan Jawa Barat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 28 Agu 2026, 19:12

Lipat demi Lipat, Dimsum Inmons Menyusun Resep Paten dari Gang Sempit Cicadas

Kisah Dimsum Inmons, UMKM kuliner asal gang sempit Cicadas, yang menyeimbangkan kanal digital dengan kekuatan penjualan konvensional.

Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung, (12/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)