Sebentar Lagi Hari Kartini, namun Kekerasan terhadap Perempuan Tak Kunjung Hilang

Pernando Aigro S
Ditulis oleh Pernando Aigro S diterbitkan Rabu 15 Apr 2026, 10:50 WIB
Raden Ajeng Kartini, juga dikenal sebagai Raden Ayu Kartini. (Sumber: Istimewa)

Raden Ajeng Kartini, juga dikenal sebagai Raden Ayu Kartini. (Sumber: Istimewa)

Setiap April, nama Raden Ajeng Kartini kembali dihadirkan dalam ingatan publik. Ia lahir pada 21 April 1879 di Jepara dan wafat pada 17 September 1904. Dalam hidupnya yang singkat, Kartini dikenal sebagai pelopor emansipasi perempuan di Indonesia yang memperjuangkan kesetaraan, terutama dalam melawan keterbatasan yang menempatkan perempuan pada posisi yang tidak setara dalam pendidikan dan kehidupan sosial. Gagasan-gagasannya menunjukkan bahwa perempuan tidak seharusnya dibatasi oleh struktur budaya yang mengekang. Peringatan Hari Kartini setiap 21 April pada dasarnya dimaksudkan sebagai refleksi atas perjuangan tersebut, bukan sekadar seremoni tahunan.

Perjuangan Raden Ajeng Kartini tidak berhenti pada tuntutan pendidikan semata, tetapi juga pada upaya mengubah cara pandang masyarakat terhadap perempuan. Ia menolak anggapan bahwa perempuan hanya layak berada di ruang domestik dan tidak memiliki kebebasan berpikir. Bagi Kartini, pendidikan adalah jalan untuk membebaskan perempuan dari keterbelakangan sekaligus dari struktur sosial yang menempatkan mereka sebagai pihak yang lebih rendah. Dengan kata lain, yang diperjuangkan Kartini adalah “martabat”, bahwa perempuan harus dipandang sebagai manusia yang utuh, setara, dan memiliki hak atas dirinya sendiri.

Namun, jika melihat realitas hari ini, nilai-nilai tersebut belum sepenuhnya terwujud. Cara pandang yang merendahkan perempuan masih bertahan, meskipun tidak selalu dalam bentuk yang sama seperti pada masa Kartini, tetapi berubah menjadi bentuk yang lebih halus. Perempuan hari ini mungkin memiliki akses pendidikan dan ruang sosial yang lebih luas, tetapi masih dihadapkan pada berbagai bentuk ketidakadilan yang merendahkan martabatnya. Kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan masih terus terjadi, bahkan di ruang-ruang yang seharusnya aman. Maka, menjadi masuk akal untuk merefleksikan kembali: apakah perjuangan Kartini hanya berhenti sebagai simbol sejarah, sementara ketidakadilan yang ia lawan justru tetap hidup dalam bentuk yang berbeda?

Ilustrasi kekerasan seksual yang menunjukkan bagaimana pelecehan, termasuk secara verbal, dapat merendahkan martabat dan menimbulkan dampak psikologis bagi korban. (Sumber: tangerangkota.go.id/ https://www.tangerangkota.go.id/berita/detail/34217/alami-pelecehan-atau-kekerasan-seksual-yuk-warga-kota-tangerang-lapor-ke-p2tp2a | Foto: -)
Ilustrasi kekerasan seksual yang menunjukkan bagaimana pelecehan, termasuk secara verbal, dapat merendahkan martabat dan menimbulkan dampak psikologis bagi korban. (Sumber: tangerangkota.go.id/ https://www.tangerangkota.go.id/berita/detail/34217/alami-pelecehan-atau-kekerasan-seksual-yuk-warga-kota-tangerang-lapor-ke-p2tp2a | Foto: -)

Ketika Kampus Tak Lagi Aman bagi Perempuan

Kasus yang terjadi di tengah menjelang Hari Kartini, yaitu dugaan pelecehan seksual verbal di lingkungan Universitas Indonesia, mencuat ke publik setelah beredarnya tangkapan layar percakapan dalam sebuah grup yang melibatkan mahasiswa Fakultas Hukum. Dalam percakapan tersebut, terdapat candaan bernuansa seksual, yakni percakapan yang mengarah pada tubuh perempuan hingga pernyataan yang merendahkan martabat perempuan. Kasus ini kemudian ramai diperbincangkan karena melibatkan setidaknya 16 mahasiswa dan terjadi di ruang akademik yang seharusnya menjunjung tinggi etika serta penghormatan terhadap sesama. Pihak kampus pun menelusuri kasus ini setelah mendapat laporan dan sorotan publik.

Kasus ini menunjukkan bahwa persoalan yang dahulu diperjuangkan oleh Raden Ajeng Kartini belum benar-benar selesai. Jika Kartini melawan pembatasan yang menempatkan perempuan sebagai pihak yang tidak setara, maka hari ini ketidaksetaraan itu hadir dalam bentuk yang berbeda, yakni melalui bahasa, sikap, dan perilaku yang merendahkan perempuan. Pelecehan verbal yang dibungkus sebagai candaan memperlihatkan bahwa perempuan masih kerap diposisikan sebagai objek, bukan sebagai subjek yang memiliki martabat. Padahal, ruang pendidikan yang seharusnya menjadi tempat tumbuhnya kesadaran justru masih menyimpan cara pandang yang bertentangan dengan nilai kesetaraan yang diperjuangkan sejak masa Kartini.

Yang lebih miris lagi, pelaku justru berasal dari mahasiswa Fakultas Hukum, yang kelak akan menjadi bagian dari penegak hukum dan penjaga keadilan. Fakta ini menimbulkan ironi yang serius. Di satu sisi, mereka sedang menempuh pendidikan yang mengajarkan tentang keadilan, hak asasi manusia, dan perlindungan terhadap korban. Namun di sisi lain, perilaku yang ditunjukkan justru mencerminkan penyimpangan dari nilai-nilai tersebut. Hal ini memperlihatkan bahwa pendidikan formal saja tidak cukup jika tidak diiringi dengan pembentukan kesadaran moral dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Persoalan menjadi semakin penting ketika dikaitkan dengan sudut pandang publik terhadap hukum di Indonesia yang kerap dipenuhi ketidakpercayaan. Ketika calon-calon penegak hukum justru menunjukkan perilaku yang bertentangan dengan nilai keadilan, hal ini berpotensi memperkuat stigma negatif bahwa hukum belum sepenuhnya berpihak pada perlindungan yang adil, khususnya bagi perempuan. Oleh karena itu, peringatan Kartini seharusnya tidak hanya menjadi refleksi historis, melainkan menjadi pengingat bahwa perjuangan Kartini menuntut adanya kesadaran akan hukum yang tidak hanya dimulai dari lingkungan pendidikan, tetapi terutama dari kesadaran individu masing-masing.

Pada akhirnya, Hari Kartini tidak bisa berhenti pada seremoni atau sekadar mengenang sejarah. Ia menuntut keberanian untuk melihat kenyataan bahwa ketidakadilan terhadap perempuan masih berlangsung, bahkan di ruang-ruang yang seharusnya menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan keadilan. Selama perempuan masih dipandang sebagai objek, selama pelecehan masih dinormalisasi sebagai candaan, maka nilai-nilai yang diperjuangkan oleh Raden Ajeng Kartini belum benar-benar hidup dalam kehidupan kita.

Sebentar lagi Hari Kartini. Peringatan ini seharusnya menjadi lebih dari sekadar tradisi tahunan, tetapi momentum untuk membangun kesadaran yang nyata, yang dimulai dari diri sendiri dalam menghormati martabat perempuan dan menolak segala bentuk kekerasan, sekecil apa pun. Sebab, selama kekerasan terhadap perempuan masih terus terjadi, maka perjuangan Kartini belum selesai, dan refleksi ini tidak boleh berhenti hanya di bulan April. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Pernando Aigro S
Wanna See More Information About Me? Copy And Paste The Link "https://pernandoaigro.my.canva.site/portofolio"

Berita Terkait

News Update

Wisata & Kuliner 15 Apr 2026, 11:08

Panduan Wisata Pantai Jayanti, Pelabuhan Tua di Cianjur Selatan yang Belum Terlalu Ramai

Panduan lengkap wisata Pantai Jayanti mulai dari akses, harga tiket, aktivitas nelayan, hingga spot terbaik menikmati ombak selatan yang masih alami.

Objek wisata Pantai Jayanti, Cianjur selatan. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 15 Apr 2026, 10:50

Sebentar Lagi Hari Kartini, namun Kekerasan terhadap Perempuan Tak Kunjung Hilang

Refleksi atas peringatan Hari Kartini yang mengkritik masih berlangsungnya kekerasan terhadap perempuan.

Raden Ajeng Kartini, juga dikenal sebagai Raden Ayu Kartini. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 15 Apr 2026, 09:24

Jejak Peringatan KAA Kobarkan Semangat Bandung

Bandung telah mencatatkan namanya dalam sejarah dunia.

Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung. (Sumber: Museum Konferensi Asia Afrika)
Ayo Netizen 14 Apr 2026, 18:39

AAM sebagai Masa Depan Transportasi Udara

UBSI membahas Advanced Air Mobility (AAM) sebagai solusi transportasi udara masa depan untuk meningkatkan konektivitas dan distribusi logistik di Indonesia.

Kondisi Bandara Husein Sastranegara sebelum penerbangan dipindahkan. (Sumber: Ayobandung)
Beranda 14 Apr 2026, 17:07

Baca Bareng Anak di Bandung, Cara Sederhana Tanamkan Minat Literasi

Seorang ayah membawa anaknya mengikuti baca senyap di Bandung sebagai cara sederhana mengenalkan kebiasaan membaca sejak dini.

Herry Prihamdani datang bersama anaknya, mengenalkan kebiasaan membaca sejak dini sambil menikmati ketenangan dalam suasana baca senyap. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Sejarah 14 Apr 2026, 16:29

Hikayat Gunung Tampomas, Legenda Warisan Emas Kerajaan Sunda di Jantung Sumedang

Gunung Tampomas di Sumedang menyimpan legenda keris emas, jejak Kerajaan Sunda, dan situs arkeologi kuno di puncaknya.

Sunset Gunung Tampomas. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 14 Apr 2026, 16:08

Pendatang ke Bandung yang Jadi Presiden

Kisah Soekarno yang pernah datang dan tinggal di Kota Bandung kemudian menjadi Presiden RI pertama.

Monumen Soekarno di Lapas Banceuy Bandung. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 14 Apr 2026, 14:49

Lembang ‘Mundur’, Bandung ‘Membesar’

Begitu banyak beban yang ditopang kota ini, hingga tak heran tempat yang kecil ini pun harus membesar, menggeser wilayah lain terutama di utaranya, yaitu Lembang.

Kondisi tempat angkutan kota  (masih oplet) jurusan Lembang-Bandung "ngetem" di Jalan Setiabudi, Bandung 1950-an, lokasi tepatnya di Jajaran Setiabudi supermarket sekarang.
Ayo Netizen 14 Apr 2026, 13:32

Mewujudkan Indonesia Bebas Korupsi: Transformasi Budaya adalah Kunci

KPK memproses ratusan perkara tindak pidana korupsi serta berhasil memulihkan aset negara sebesar Rp1,53 triliun.

Mata uang rupiah dan emas. (Sumber: Pexels | Foto: Robert Lens)
Komunitas 14 Apr 2026, 12:29

Komunitas Baca di Bandung, Ruang Sunyi yang Menghidupkan Literasi di Nadi Kota Kembang

Komunitas Baca di Bandung menghadirkan ruang sunyi di tengah Kota Kembang, mengajak warga membaca bersama tanpa tekanan, sekaligus membuka akses literasi yang inklusif.

Puluhan anggota Komunitas Baca di Bandung berkumpul di Taman Badak untuk membaca bersama dalam senyap tanpa distraksi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Wisata & Kuliner 14 Apr 2026, 11:28

Jelajah Jans Park Jatinangor, Taman Rekreasi di Tengah Kawasan Kampus

Jans Park hadir di Jatinangor sebagai taman rekreasi keluarga dengan wahana lengkap, spot foto menarik, serta konsep visual yang menonjol di kawasan kampus

Objek wisata Jatinangor National Park atau Jans Park (Sumber: jatinangornasionalpark.com)
Ayo Netizen 14 Apr 2026, 10:23

Melintasi Waktu Menyoal Ruang untuk Pertumbuhan Anak di Kota Bandung

Kota Bandung masih kekurangan ruang terbuka hijau untuk anak sesuai dengan ketentuan luas ideal.

Menikmati suasana taman kota. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 14 Apr 2026, 09:01

Socrates untuk Kaum Sibuk: Benarkah Hidup Tanpa Refleksi Tidak Layak Dijalani?

Pemikiran Socrates Tentang Refleksi Diri di Tengah Kehidupan Modern Yang Serba Cepat, Dengan Menelaah Makna Hidup, Kesadaran, dan Tanggungjawab Atas Tindakan Sebelum Menghadapi Akhir Kehidupan.

Dalam diam dan renungannya, Socrates mengingatkan: hidup tanpa refleksi hanyalah perjalanan tanpa makna. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 13 Apr 2026, 18:07

Lalap: Rahasia Kesehatan dan Identitas Budaya di Meja Makan Sunda

Tradisi mengonsumsi tumbuhan segar atau lalab (lalap) adalah denyut nadi kebudayaan yang selama ini lebih banyak berpindah melalui tutur lisan.

Lalapan dan sambal terasi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Bandung 13 Apr 2026, 18:06

Mencicipi 'The Best Dirty Latte in Town' di CO,MA Coffee Matter, Coffee Shop dengan Bakery Paling 'Niat' di Bandung

Menjadi pusat gravitasi komunitas kreatif, Coffee Matter hadir bukan hanya membawa aroma biji kopi pilihan, melainkan sebuah ekosistem gaya hidup yang inklusif.

CO,MA Coffee Matter hadir bukan hanya membawa aroma biji kopi pilihan, melainkan sebuah ekosistem gaya hidup yang inklusif. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Wisata & Kuliner 13 Apr 2026, 17:00

Panduan Wisata Capolaga Subang, Surga Tiga Curug dan Camping di Kebun Teh

Wisata Capolaga Subang menawarkan tiga curug, camping ground, dan trekking kebun teh dengan suasana alam sejuk dan asri.

Salah satu curug yang ada di Wisata Alam Capolaga. (Sumber: subang.go.id)
Ayo Netizen 13 Apr 2026, 16:11

Bandung dalam Novel ‘Dilan ITB 1997’

Mari kita telusuri jejak-jejak Dilan dan Ancika di Bandung tahun 1997.

Poster film 'Dilan ITB 1997'. (Sumber: Falcon Pictures)
Ayo Netizen 13 Apr 2026, 15:12

Ketik, Kurir, dan Kupon

Setiap kata yang ditulis dengan sungguh-sungguh selalu menemukan jalan bersama untuk menjadi ilmu, rezeki, dan kenangan yang tak pernah benar-benar selesai.

Ayobandung.id dengan bangga mengumumkan 10 netizen terpilih dengan kontribusi terbaik di kanal AYO NETIZEN (Sumber: Unsplash/Bram Naus)
Linimasa 13 Apr 2026, 14:00

Sejarah dan Kontroversi Konversi Gas Elpiji di Indonesia

Program konversi minyak tanah ke LPG sejak 2007 mengubah pola energi rumah tangga, namun menyisakan kontroversi, kecelakaan, dan polemik kebijakan

Sejumlah warga mengantre untuk membeli gas elpiji di Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 13 Apr 2026, 12:43

Potret Bandung Era 90-an dalam Kenangan 

Bandung pada awal 1990-an adalah kota yang bergerak dengan irama pelan.

Bus DAMRI jadul di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung)