Mewujudkan Indonesia Bebas Korupsi: Transformasi Budaya adalah Kunci

5 menit baca
Joni Dawud Wiradisatra
Ditulis oleh Joni Dawud Wiradisatra diterbitkan
Mata uang rupiah dan emas. (Sumber: Pexels | Foto: Robert Lens)
Mata uang rupiah dan emas. (Sumber: Pexels | Foto: Robert Lens)

Mengakhiri 2025 dan mengawali 2026, berbagai persoalan korupsi kembali mencuat ke permukaan. Sebagai pembanding, kinerja penindakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sepanjang tahun 2025 menunjukkan intensitas penanganan perkara korupsi yang tinggi. Sepanjang tahun tersebut, KPK telah melakukan 11 operasi tangkap tangan (OTT) dan menetapkan 118 orang sebagai tersangka. Selain itu, KPK memproses ratusan perkara tindak pidana korupsi serta berhasil memulihkan aset negara sebesar Rp1,53 triliun.

Deretan kasus yang terungkap itu bahkan menimbulkan dugaan bahwa masih ada antrean panjang perkara serupa yang menunggu untuk dibuka ke hadapan publik. Fenomena ini seakan terus berulang dan berulang. Memang sangat ironis, di tengah gencarnya suara-suara lantang baik dari pemerintah maupun dari masyarakat yang menyuarakan pemberantasan korupsi. Praktik korupsi justru tetap tumbuh  “subur” di republik ini.  Dengan terus berlangsungnya korupsi, apakah ini mengindikasikan korupsi sebagai bagian dari kehidupan atau budaya  dalam kehidupan bangsa Indonesia?

Korupsi Sebuah Budaya Negatif

Budaya bisa diartikan sebagai pola sikap atau pola tindak yang berkembang di masyarakat, berlaku secara luas, dan berlangsung dalam waktu lama (sejak jaman dulu sampai sekarang) terjadi. Bahkan, masyarakat menganggap tindakan itu sesuatu yang biasa atau normal.  Ketika seseorang tidak melakukannya justru dianggap menyimpang. Dalam perspektif pemahaman demikian, budaya tidak selalu bermakna positif. Positif atau negatifnya suatu budaya sangat bergantung pada kriteria yang dianut masyarakat bersangkutan, baik yang bersandar pada norma dan nilai sosial yang berlaku, maupun pada tolok ukur lain, seperti dampaknya terhadap kesehatan, kerusakan sosial, atau konsekuensi lain yang ditimbulkannya.

Dengan berkembangnya masyarakat maka bisa jadi penilaian masyarakat akan mengalami perubahan. Karena itu, budaya masyarakat akan mengalami perubahan menyesuaikan dengan kondisi masyarakat yang ada pada saat itu. Namun demikian perubahan budaya terkadang tidak selalu bergerak ke arah yang lebih baik, bisa jadi perubahan ke arah yang sebaliknya. Untuk itu perubahan budaya perlu dilakukan dengan direncanakan, Perubahan yang seperti itulah dimaknai Transformasi. Transformasi sebagai perubahan yang terencana dapat mengarah pada perkembangan ke arah positif. Tentu saja transformasi yang diharapkan dalam konteks budaya korupsi adalah perubahan budaya yang mendorong nilai-nilai positif, memperkuat keadilan sosial, dan memperbaiki kualitas kehidupan bersama.

Seperti kasus korupsi di Pemkab Bandung Barat, uang korupsi direkayasa jadi macam uang bersih melalui tindak pidana pencucian uang. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Seperti kasus korupsi di Pemkab Bandung Barat, uang korupsi direkayasa jadi macam uang bersih melalui tindak pidana pencucian uang. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)

Transformasi Budaya Korupsi Menuju Budaya Anti Korupsi

Dengan masifnya kasus dan praktik korupsi yang terjadi di sekitar kita, masyarakat kerap merasakannya sebagai bagian dari keseharian. Secara tidak langsung dan tanpa disadari, kita menganggap hal tersebut sebagai hal yang biasa dalam kehidupan, bahkan dianggap normal. Dalam situasi demikian, tidak berlebihan jika muncul pandangan bahwa korupsi telah menjelma menjadi bagian dari budaya. Terlepas dari pandangan yang kontra bahwa korupsi itu bukan budaya tetapi penyakit. Faktanya, praktik tersebut hadir nyata dalam kehidupan masyarakat saat ini.

Persoalan selanjutnya adalah bagaimana mentransformasi budaya korupsi menjadi budaya anti korupsi. Transformasi ini merupakan tuntutan mendesak yang harus kita realisasikan, apabila bangsa ini ingin bergerak menuju negara yang maju, makmur, dan sejahtera. Untuk itu  transformasi menjadi budaya anti korupsi perlu dilakukan dengan sistematis dan terpadu. Artinya transformasi ini tidak boleh dibiarkan berjalan secara alamiah, melainkan harus dilakukan secara sengaja, disadari, dan direncanakan. Langkah-langkah yang ditempuh pun perlu dijalankan secara konsisten agar perubahan yang diharapkan benar-benar terwujud dalam praktik kehidupan berbangsa dan bernegara. Beberapa langkah strategis untuk melakukan transformasi budaya anti korupsi :

Pertama: Pendidikan dan penanaman nilai semenjak dini; pendidikan di sini mencakup secara, menyeluruh tidak hanya Pengetahuan (kognitif) dan keterampilan (psikomotorik) tapi juga sampai pada ranah penerapan dengan kesadaran (afektif). Sering kali pendidikan kita hanya berada pada ranah kognitif dan psikomotorik sedangkan ranah afektif yang menuntut perubahan sikap perilaku, penerapan nilai dan norma kurang mendapatkan perhatian. Tidaklah mengherankan bila hasil pendidikan kita melahirkan figur-figur yang menghalalkan segala cara, menormalisasi kepalsuan, dan pada akhirnya terjerumus dalam praktik korupsi. Transformasi budaya antikorupsi semestinya dimulai dari dunia pendidikan. Proses penanaman nilai dan norma sejak dini menjadi langkah strategis dalam membangun karakter antikorupsi. Kurikulum pendidikan dan praktik penyelenggaraan pendidikan perlu ditinjau kembali dan disesuaikan agar tidak hanya mencetak manusia cerdas dan terampil, tetapi juga manusia yang berintegritas.

Kedua: Kampanye publik, Penanaman nilai dan norma anti korupsi perlu dilakukan kepada masyarakat umum. Kampanye ini berfungsi untuk mensosialisasikan, pengingat dan juga sarana internalisasi nilai dan norma antikorupsi. Penetapan konsep  “the power of repetion” (kekuatan pengulangan dan pengulangan) perlu untuk dilakukan dalam mempengaruhi cara pandang dan pemahaman masyarakat terhadap antikorupsi ini. Kampanye antikorupsi dengan terus mengulang-ngulang pesan, tanpa lelah dan tanpa jenuh, hingga nilai tersebut benar-benar tertanam dalam kesadaran kolektif masyarakat.

Ketiga: Untuk penguatan pemberlakuan nilai dan norma baru yang dilakukan, diperlukan langkah terstruktur dengan dengan memformalisasikan/ melegalisasikan   sebuah kebijakan. Kebijakan tersebut akan menjadi code of conduct (kode etik/perilaku) baru dan tentu saja dalam kebijakan tersebut tidak hanya mengatur dan menjelaskan nilai dan norma baru tapi juga mengatur bagaimana melaksanakannya dan  mengatur kebijakan itu ditegakkan. Penegakan kebijakan yang akan menciptakan tatanan baru tersebut membutuhkan pengawalan supaya tetap berada dalam koridor kebijakan yang telah ditetapkan. Jika terjadi penyimpangan dilakukan tindakan koreksi dan ada sanksi yang membuat orang tidak melakukan dan mencoba melakukan keluar dari kebijakan tersebut.

Keempat:  Konsistensi dan partisipasi dari seluruh lapisan masyarakat. Transformasi menuju budaya anti korupsi membutuhkan konsistensi dari berbagai pihak, terutama pimpinan apalagi di dalam masyarakat yang masih bercorak paternalistik karena pimpinan menjadi figur sentral dalam masyarakat. Di samping itu partisipasi aktif masyarakat dengan kesadaran akan nilai dan norma antikorupsi juga dibutuhkan untuk mewujudkan transformasi budaya anti korupsi.

Transformasi menuju budaya baru antikorupsi di Indonesia bukanlah sesuatu yang mustahil. Banyak contoh negara-negara di dunia yang pada awalnya memiliki budaya korupsi tapi lambat laun seiring dengan waktu mereka menjadi negara yang bersih dan berbudaya antikorupsi. Indonesia memiliki banyak potensi dan peluang untuk menumbuh kembangkan budaya anti korupsi tinggal bagaimana memanfaatkan dan menumbuh kembangkannya. (JDW)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Joni Dawud Wiradisatra
Analis Kebijakan dan Widyaiswara di Lembaga Administrasi Negara RI

Berita Terkait

News Update

Ayo Biz 31 Agu 2026, 19:02

Dua Wajah Paten UMKM Bandung, Dua Jalan Berbeda untuk Naik Kelas di Pasar Digital

Kisah kontras Koku Footwear dan Dimsum Inmons, dua UMKM Bandung yang sama-sama tumbuh lewat Shopee namun dengan tingkat ketergantungan yang jauh berbeda.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin (pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear) dan Ani Andriyani (pemilik Dimsum Inmons). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 17:25

Maut Menjemput Putri Diana, Dunia Berduka

Catatan Nostalgia dan In Memoriam 29 Tahun Kepergian “Lady Di”.

Berita kepergian Putri Diana menjadi perhatian utama berbagai media cetak di Indonesia, mencerminkan besarnya duka dan perhatian masyarakat terhadap sosok Princess of Wales tersebut. (Sumber: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 16:28

Sejarah Nama Bulan (Bagian 2)

Dua belas bulan yang kita kenal hari ini ternyata menyimpan jejak perubahan zaman, kekuasaan, dan cara manusia menata waktu.

Februa atau Lupercalia, suatu festival penyucian di Romawi Kuno. (Sumber: Wikimedia Commons)
Beranda 31 Agu 2026, 16:20

PLN Nusantara Power UP Cirata Overhaul Unit 5 dan 6 Demi Keandalan Pasokan Listrik

PLN Nusantara Power UP Cirata melakukan overhaul Unit 5 dan 6 PLTA Cirata untuk menjaga keandalan pasokan listrik pelanggan.

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat keandalan PLTA Cirata melalui overhaul Unit 5 dan Unit 6 demi pelayanan listrik pelanggan.
Beranda 31 Agu 2026, 16:13

Hari Pelanggan Nasional, PLN NP UP Cirata Perkuat Sinergi dengan Masyarakat Desa Ciroyom

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat sinergi dengan masyarakat melalui Milangkala Desa Ciroyom ke-171 di Hari Pelanggan Nasional.

PLN Nusantara Power UP Cirata berpartisipasi dalam Milangkala Desa Ciroyom ke-171 sebagai wujud sinergi bersama masyarakat dan lingkungan.
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 14:24

Rijsttafel Hidangan Perpaduan Belanda dan Nusantara di Priangan

Nikmati kelezatan Rijsttafel, tradisi kuliner unik era kolonial di Priangan. Perpaduan harmonis antara kemewahan rasa Belanda dan autentisitas rempah Nusantara dalam satu meja

Keluarga C.H. Japing dalam sebuah acara rijsttafel bersama Bibi Jet dan Paman Jan Breeman di Bandung. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Christoffel Hendrik)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 13:01

Medsos, Buku, dan Rindu

Algoritma semakin pandai mengenali, harusnya semakin pandai mengenali diri sendiri. Termasuk waktu berhenti pada satu video, apa dirasakan setelah menontonnya, dan nilai apa yang diambil hikmahnya.

Kaligrafi nama Nabi Muhammad berbentuk hati (Sumber: ayobandung.com)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 11:09

Ketika Rumput Habis, Bagaimana Mitigasi Pakan Ternak?

Berharap agar Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) membuat program massal sistem mitigasi bencana untuk hewan ternak maupun hewan liar.

Ilustrasi kondisi ternak rakyat ketika musim kemarau ekstrim. (Sumber: dikreasi denganvGemini | Foto: Totok Siswantara)
Beranda 31 Agu 2026, 10:30

Pernah Jadi Pintu Masuk Ratusan Ribu Wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara Kini Bangkit Lagi

Dulu jadi pintu gerbang ratusan ribu wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara sempat mati suri akibat pandemi dan pencabutan status internasional.

Suasana bandara saat pesawat jet komersial Garuda Indonesia mendarat perdana di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, Jumat 14 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 09:14

Manajemen Dapur Umum dan Menu Ideal untuk Korban Bencana Alam

Perencanaan dan pemilihan lokasi dapur umum harus bebas dari risiko bencana susulan.

Ilustrasi aktivitas dapur umum untuk korban bencana alam. (Sumber: by AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 08:13

Sisi Lain Sang Jenderal: Menelusuri Makna Filosofis dan Tradisi di Balik Kuliner Favorit Soeharto

Kegemaran kuliner Presiden ke-2 RI, Soeharto, tidak lepas dari perjalanan hidupnya yang berakar di Desa Kemusuk.

Momen Presiden Soeharto dan Ibu Tien memotong tumpeng saat merayakan HUT pernikahan di Jalan Cendana, Jakarta, Juni 1986, disaksikan ibu mertua dan Sumitro Djoyohadkusumo. (Sumber: ANRI, Setneg 634)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 20:52

Ketika Seniman Memilih untuk Tidak Diam, Jangan Biarkan Kezaliman Menjadi Kelaziman

Ketika kezaliman menjadi kelaziman, diam bukan lagi netral. Manifesto Seniman Bandung adalah ajakan untuk bersuara—bukan sekadar nyinyir dari kejauhan.

Aliansi Bandung Ngagoak mengadakan aksi ekspresi seni di Kebun Seni Jalan Tamansari 56 Bandung. (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 18:14

Menciptakan Kembali Televisi Pendidikan

Televisi pendidikan sebagai proyek nasional pun sudah seharusnya menjadi keputusan pemerintah.

Ilustrasi televisi. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 16:45

Cerita Tomakur Milik KWT Desa Nagarawangi Terpilih untuk Pendaftaran Legalitas Merek

Tomakur milik KWT Desa Nagarawangi terpilih mendapat pendampingan pendaftaran merek melalui program KKN UNINUS untuk memperkuat legalitas dan identitas produk UMKM.

Sosialisasi dan Pendampingan Proses Pendaftaran HKI (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 14:11

Kedaulatan di Atas Meja Makan: Diplomasi Kuliner Sukarno pada Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 di Bandung

Sukarno menegaskan visi bahwa "kemerdekaan dimulai dari lidah"—sebuah manifestasi dari prinsip Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri).

Momen jamuan makan malam resmi pada Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Hotel Savoy Homann, Bandung, pada 19 April 1955. (Sumber foto: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 12:04

Sehat untuk Semua, Warga Desa Nagarawangi Ikuti CKG dan Edukasi Pertolongan Pertama

Warga Nagarawangi mengikuti CKG dan edukasi kesehatan, mulai dari pertolongan pertama dalam situasi darurat hingga kesehatan psikologis anak dan remaja bersama Puskesmas Rancakalong.

Kegiatan Pelaksanaan Program "Sehat  untuk Semua Warga Desa Nagarawangi" (KKN UNINUS Kel.5&6) (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 09:59

Budaya Mengaji di Tengah Kota

Di tengah modernitas dan dinamisnya kehidupan perkotaan. Masih ada ruang di sudut perkotaan untuk mempertemukan anak-anak dengan kehidupan sosial dan agamanya.

Mengaji di kalangan anak-anak menjadi memori yang begitu melekat. Melihat aktivitas tersebut masih berjalan di area perkotaan menjadi fenomena yang menarik untuk dibahas. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Sejarah 29 Agu 2026, 10:47

Jejak K.F. Holle, Tokoh Kolonial yang Membawa Perubahan Pertanian di Garut

K.F. Holle meninggalkan jejak panjang di Cikajang, Garut, dari perkebunan teh, pertanian, hingga pengembangan domba Garut.

Monumen K.F. Holle di perkebunan teh Giriawas, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 28 Agu 2026, 22:17

Dobrak Stigma 'Bandung Coret', FKB 2026 Boyong Kuliner Legendaris demi Gaet Wisatawan hingga Gen Z

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong kuliner legendaris seperti Perkedel Bondon ke Gedebage, langkah gerilya untuk gaet wisatawan dan Gen Z.

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong berbagai kuliner legendaris Bandung dan Jawa Barat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 28 Agu 2026, 19:12

Lipat demi Lipat, Dimsum Inmons Menyusun Resep Paten dari Gang Sempit Cicadas

Kisah Dimsum Inmons, UMKM kuliner asal gang sempit Cicadas, yang menyeimbangkan kanal digital dengan kekuatan penjualan konvensional.

Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung, (12/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)