Jejak Peringatan KAA Kobarkan Semangat Bandung

Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan Rabu 15 Apr 2026, 09:24 WIB
Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung. (Sumber: Museum Konferensi Asia Afrika)

Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung. (Sumber: Museum Konferensi Asia Afrika)

Ada sesuatu yang khas ketika kita membuka kembali lembaran surat kabar lama. Aroma kertas yang mulai menua, warna tinta yang sedikit memudar, serta tata letak yang sederhana semuanya seperti lorong waktu yang diam-diam mengajak kita kembali ke masa silam. Surat kabar, lebih dari sekadar media informasi, bisa menjadi saksi bisu yang setia merekam perjalanan zaman.

Demikian pula ketika membuka Pikiran Rakyat edisi 25 April 1985, terbitan 41 tahun silam. Koran kebanggaan masyarakat Jawa Barat itu seakan menghidupkan kembali suasana Bandung empat dekade lalu, ketika kota ini menjadi panggung peringatan 30 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA).

Halaman muka edisi tersebut langsung menuntun ingatan pada sebuah foto utama yang memperlihatkan para delegasi berjalan kaki dari Hotel Homann menuju Gedung Merdeka. Di sepanjang jalan, ribuan pelajar berbaris rapi, melambaikan bendera merah putih kecil. Wajah-wajah muda itu memancarkan antusiasme yang tulus, sebuah gambaran generasi yang tumbuh dalam semangat persatuan dan kebanggaan nasional.

Di Gedung Merdeka, suasana berlangsung khidmat ketika Presiden Soeharto menyampaikan amanatnya. Dari tempat yang sama, tiga puluh tahun sebelumnya, dunia menyaksikan lahirnya semangat baru negara-negara Asia dan Afrika. Pada 24-25 April 1985, gema itu seperti dipanggil kembali untuk diingat, direnungkan, dan dihidupkan kembali.

Puncak peringatan berlangsung meriah. Jalan Asia Afrika dipadati ribuan pelajar yang memainkan angklung secara massal. Nada-nada bambu itu berpadu dengan lagu “Viva Asia Afrika”, menciptakan harmoni yang sederhana namun menggetarkan. Bandung saat itu bukan sekadar kota, tetapi menjadi panggung kenangan, tempat masa lalu dan masa kini bertemu dalam satu irama.

Selama dua hari, 24–25 April 1985, kawasan Jalan Asia Afrika ditutup bagi lalu lintas umum. Kota seakan memberi ruang khusus bagi sejarah untuk kembali hadir, bukan sebagai cerita lama, melainkan sebagai pengalaman yang kembali dirasakan.

Tiga puluh tahun sebelumnya, Bandung telah mencatatkan namanya dalam sejarah dunia. Pada 18–24 April 1955, kota ini menjadi tuan rumah Konferensi Asia Afrika yaitu pertemuan 29 negara yang sebagian besar baru merdeka. Negara-negara seperti Indonesia, India, Burma (Myanmar), Pakistan, dan Ceylon (Sri Lanka) hadir membawa harapan baru, terbebas dari bayang-bayang kolonialisme dan membangun kerja sama yang setara.

Konferensi itu dikoordinasikan oleh Roeslan Abdulgani, dan dibuka oleh Presiden Soekarno yang dengan penuh keyakinan menyebut negara-negara tersebut sebagai New Emerging Forces, kekuatan dunia baru. Dari Gedung Merdeka, lahir Dasasila Bandung, sebuah prinsip yang menegaskan pentingnya perdamaian, kedaulatan, dan solidaritas antarbangsa.

Surat kabar Pikiran Rakyat edisi 25 April 1985 yang memuat peringatan 30 tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Surat kabar Pikiran Rakyat edisi 25 April 1985 yang memuat peringatan 30 tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)

Pada 1985, semangat itu kembali digaungkan. Dalam pidatonya, Presiden Soeharto menyerukan agar “Semangat Bandung” dikobarkan kembali, sebuah ajakan untuk memperkuat solidaritas, mendorong pembangunan, dan menghapus kemiskinan yang masih membelit banyak negara Asia dan Afrika.

Berbagai agenda turut mewarnai peringatan tersebut. Dari rencana Deklarasi Bandung yang memuat isu kemerdekaan, kerja sama ekonomi, hingga seruan penghentian perlombaan senjata nuklir, hingga pertemuan penting antara Menteri Luar Negeri Indonesia Mochtar Kusumaatmadja dan Menteri Luar Negeri Tiongkok Wu Xueqian. Semua menjadi bagian dari upaya merawat dialog dan kerja sama di tengah dinamika Perang Dingin.

Tak kalah menarik, Pikiran Rakyat juga menampilkan foto-foto dokumenter karya pewarta foto senior Paul Tedjasurja, yang bukan hanya merekam peringatan tahun 1985, tetapi juga pernah mengabadikan momen bersejarah KAA 1955. Foto-foto itu menjadi jembatan visual antara dua zaman, memperlihatkan bagaimana sejarah terus berulang dalam wajah yang berbeda.

Membaca kembali koran lawas seperti ini menghadirkan sensasi yang sulit dijelaskan. Ia bukan sekadar aktivitas membaca, melainkan pengalaman menyusuri waktu. Kita seakan duduk di antara kerumunan pelajar, mendengar bunyi angklung, melihat iring-iringan delegasi, dan merasakan udara Bandung di bulan April 1985.

Lembaran-lembaran itu mengingatkan bahwa sejarah tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu untuk dibuka kembali, di antara lipatan kertas yang mulai rapuh, namun tetap menyimpan cerita yang utuh.

Pada akhirnya, lembaran Pikiran Rakyat itu bukan hanya menyimpan berita, melainkan menghidupkan kembali semangat zaman, bahwa “Semangat Bandung” bukan sekadar warisan sejarah, melainkan panggilan yang terus relevan untuk menjaga martabat, merawat solidaritas, dan memastikan bahwa suara bangsa-bangsa merdeka tetap bergema di tengah perubahan dunia.

Ada sesuatu yang khas ketika kita membuka kembali lembaran surat kabar lama. Aroma kertas yang mulai menua, warna tinta yang sedikit memudar, serta tata letak yang sederhana semuanya seperti lorong waktu yang diam-diam mengajak kita pulang ke masa silam. Surat kabar, lebih dari sekadar media informasi, adalah saksi bisu yang setia merekam denyut zaman.

Demikian pula ketika membuka Pikiran Rakyat edisi 25 April 1985. Koran kebanggaan masyarakat Jawa Barat itu seakan menghidupkan kembali suasana Bandung empat dekade lalu, ketika kota ini menjadi panggung peringatan 30 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA).

Halaman muka edisi tersebut langsung menuntun ingatan pada sebuah pagi yang semarak. Foto utama memperlihatkan para delegasi berjalan kaki dari Hotel Homann menuju Gedung Merdeka. Di sepanjang jalan, ribuan pelajar berbaris rapi, melambaikan bendera merah putih kecil. Wajah-wajah muda itu memancarkan antusiasme yang tulus, sebuah gambaran generasi yang tumbuh dalam semangat persatuan dan kebanggaan nasional.

Di Gedung Merdeka, suasana berlangsung khidmat ketika Presiden Soeharto menyampaikan amanatnya. Dari tempat yang sama, tiga puluh tahun sebelumnya, dunia menyaksikan lahirnya semangat baru negara-negara Asia dan Afrika. Pada April 1985, gema itu seperti dipanggil kembali untuk diingat, direnungkan, dan dihidupkan kembali.

Penulis memperlihatkan surat kabar Pikiran Rakyat terbitan 41 tahun silam sebagai bagian dari dokumentasi sejarah. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Penulis memperlihatkan surat kabar Pikiran Rakyat terbitan 41 tahun silam sebagai bagian dari dokumentasi sejarah. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)

Puncak peringatan berlangsung meriah. Jalan Asia Afrika dipadati ribuan pelajar yang memainkan angklung secara massal. Nada-nada bambu itu berpadu dengan lagu “Viva Asia Afrika”, menciptakan harmoni yang sederhana namun menggetarkan. Bandung hari itu bukan sekadar kota ia menjadi panggung kenangan, tempat masa lalu dan masa kini bertemu dalam satu irama.

Selama dua hari, 24–25 April 1985, kawasan Jalan Asia Afrika ditutup bagi lalu lintas umum. Kota seakan memberi ruang khusus bagi sejarah untuk kembali hadir, bukan sebagai cerita lama, melainkan sebagai pengalaman yang kembali dirasakan.

Tiga puluh tahun sebelumnya, Bandung telah mencatatkan namanya dalam sejarah dunia. Pada 18–24 April 1955, kota ini menjadi tuan rumah Konferensi Asia Afrika yaitu pertemuan 29 negara yang sebagian besar baru merdeka. Negara-negara seperti Indonesia, India, Burma (Myanmar), Pakistan, dan Ceylon (Sri Lanka) hadir membawa harapan baru, terbebas dari bayang-bayang kolonialisme dan membangun kerja sama yang setara.

Konferensi itu dikoordinasikan oleh Roeslan Abdulgani, dan dibuka oleh Presiden Soekarno yang dengan penuh keyakinan menyebut negara-negara tersebut sebagai New Emerging Forces, kekuatan dunia baru. Dari Gedung Merdeka lahir Dasasila Bandung, sebuah prinsip yang menegaskan pentingnya perdamaian, kedaulatan, dan solidaritas antarbangsa.

Pada 1985, semangat itu kembali digaungkan. Dalam pidatonya, Presiden Soeharto menyerukan agar “Semangat Bandung” dikobarkan kembali, sebuah ajakan untuk memperkuat solidaritas, mendorong pembangunan, dan menghapus kemiskinan yang masih membelit banyak negara Asia dan Afrika.

Berbagai agenda turut mewarnai peringatan tersebut. Dari rencana Deklarasi Bandung yang memuat isu kemerdekaan, kerja sama ekonomi, hingga seruan penghentian perlombaan senjata nuklir, hingga pertemuan penting antara Menteri Luar Negeri Indonesia Mochtar Kusumaatmadja dan Menteri Luar Negeri Tiongkok Wu Xueqian. Semua menjadi bagian dari upaya merawat dialog dan kerja sama di tengah dinamika Perang Dingin.

Tak kalah menarik, Pikiran Rakyat juga menampilkan foto-foto dokumenter karya pewarta foto senior Paul Tedjasurja, yang bukan hanya merekam peringatan tahun 1985, tetapi juga pernah mengabadikan momen bersejarah KAA 1955. Foto-foto itu menjadi jembatan visual antara dua zaman, memperlihatkan bagaimana sejarah terus berulang dalam wajah yang berbeda.

Membaca kembali koran lawas seperti ini menghadirkan sensasi yang sulit dijelaskan. Ia bukan sekadar aktivitas membaca, melainkan pengalaman menyusuri waktu. Kita seakan duduk di antara kerumunan pelajar, mendengar bunyi angklung, melihat iring-iringan delegasi, dan merasakan udara Bandung di bulan April 1985.

Lembaran-lembaran itu mengingatkan bahwa sejarah tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu untuk dibuka kembali, di antara lipatan kertas yang mulai rapuh, namun tetap menyimpan cerita yang utuh.

Pada akhirnya, lembaran Pikiran Rakyat itu bukan hanya menyimpan berita, melainkan menghidupkan kembali semangat zaman, bahwa “Semangat Bandung” bukan sekadar warisan sejarah, melainkan panggilan yang terus relevan untuk menjaga martabat, merawat solidaritas, dan memastikan bahwa suara bangsa-bangsa merdeka tetap bergema di tengah perubahan dunia. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 15 Apr 2026, 09:24

Jejak Peringatan KAA Kobarkan Semangat Bandung

Bandung telah mencatatkan namanya dalam sejarah dunia.

Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung. (Sumber: Museum Konferensi Asia Afrika)
Ayo Netizen 14 Apr 2026, 18:39

AAM sebagai Masa Depan Transportasi Udara

UBSI membahas Advanced Air Mobility (AAM) sebagai solusi transportasi udara masa depan untuk meningkatkan konektivitas dan distribusi logistik di Indonesia.

Kondisi Bandara Husein Sastranegara sebelum penerbangan dipindahkan. (Sumber: Ayobandung)
Beranda 14 Apr 2026, 17:07

Baca Bareng Anak di Bandung, Cara Sederhana Tanamkan Minat Literasi

Seorang ayah membawa anaknya mengikuti baca senyap di Bandung sebagai cara sederhana mengenalkan kebiasaan membaca sejak dini.

Herry Prihamdani datang bersama anaknya, mengenalkan kebiasaan membaca sejak dini sambil menikmati ketenangan dalam suasana baca senyap. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Sejarah 14 Apr 2026, 16:29

Hikayat Gunung Tampomas, Legenda Warisan Emas Kerajaan Sunda di Jantung Sumedang

Gunung Tampomas di Sumedang menyimpan legenda keris emas, jejak Kerajaan Sunda, dan situs arkeologi kuno di puncaknya.

Sunset Gunung Tampomas. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 14 Apr 2026, 16:08

Pendatang ke Bandung yang Jadi Presiden

Kisah Soekarno yang pernah datang dan tinggal di Kota Bandung kemudian menjadi Presiden RI pertama.

Monumen Soekarno di Lapas Banceuy Bandung. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 14 Apr 2026, 14:49

Lembang ‘Mundur’, Bandung ‘Membesar’

Begitu banyak beban yang ditopang kota ini, hingga tak heran tempat yang kecil ini pun harus membesar, menggeser wilayah lain terutama di utaranya, yaitu Lembang.

Kondisi tempat angkutan kota  (masih oplet) jurusan Lembang-Bandung "ngetem" di Jalan Setiabudi, Bandung 1950-an, lokasi tepatnya di Jajaran Setiabudi supermarket sekarang.
Ayo Netizen 14 Apr 2026, 13:32

Mewujudkan Indonesia Bebas Korupsi: Transformasi Budaya adalah Kunci

KPK memproses ratusan perkara tindak pidana korupsi serta berhasil memulihkan aset negara sebesar Rp1,53 triliun.

Mata uang rupiah dan emas. (Sumber: Pexels | Foto: Robert Lens)
Komunitas 14 Apr 2026, 12:29

Komunitas Baca di Bandung, Ruang Sunyi yang Menghidupkan Literasi di Nadi Kota Kembang

Komunitas Baca di Bandung menghadirkan ruang sunyi di tengah Kota Kembang, mengajak warga membaca bersama tanpa tekanan, sekaligus membuka akses literasi yang inklusif.

Puluhan anggota Komunitas Baca di Bandung berkumpul di Taman Badak untuk membaca bersama dalam senyap tanpa distraksi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Wisata & Kuliner 14 Apr 2026, 11:28

Jelajah Jans Park Jatinangor, Taman Rekreasi di Tengah Kawasan Kampus

Jans Park hadir di Jatinangor sebagai taman rekreasi keluarga dengan wahana lengkap, spot foto menarik, serta konsep visual yang menonjol di kawasan kampus

Objek wisata Jatinangor National Park atau Jans Park (Sumber: jatinangornasionalpark.com)
Ayo Netizen 14 Apr 2026, 10:23

Melintasi Waktu Menyoal Ruang untuk Pertumbuhan Anak di Kota Bandung

Kota Bandung masih kekurangan ruang terbuka hijau untuk anak sesuai dengan ketentuan luas ideal.

Menikmati suasana taman kota. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 14 Apr 2026, 09:01

Socrates untuk Kaum Sibuk: Benarkah Hidup Tanpa Refleksi Tidak Layak Dijalani?

Pemikiran Socrates Tentang Refleksi Diri di Tengah Kehidupan Modern Yang Serba Cepat, Dengan Menelaah Makna Hidup, Kesadaran, dan Tanggungjawab Atas Tindakan Sebelum Menghadapi Akhir Kehidupan.

Dalam diam dan renungannya, Socrates mengingatkan: hidup tanpa refleksi hanyalah perjalanan tanpa makna. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 13 Apr 2026, 18:07

Lalap: Rahasia Kesehatan dan Identitas Budaya di Meja Makan Sunda

Tradisi mengonsumsi tumbuhan segar atau lalab (lalap) adalah denyut nadi kebudayaan yang selama ini lebih banyak berpindah melalui tutur lisan.

Lalapan dan sambal terasi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Bandung 13 Apr 2026, 18:06

Mencicipi 'The Best Dirty Latte in Town' di CO,MA Coffee Matter, Coffee Shop dengan Bakery Paling 'Niat' di Bandung

Menjadi pusat gravitasi komunitas kreatif, Coffee Matter hadir bukan hanya membawa aroma biji kopi pilihan, melainkan sebuah ekosistem gaya hidup yang inklusif.

CO,MA Coffee Matter hadir bukan hanya membawa aroma biji kopi pilihan, melainkan sebuah ekosistem gaya hidup yang inklusif. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Wisata & Kuliner 13 Apr 2026, 17:00

Panduan Wisata Capolaga Subang, Surga Tiga Curug dan Camping di Kebun Teh

Wisata Capolaga Subang menawarkan tiga curug, camping ground, dan trekking kebun teh dengan suasana alam sejuk dan asri.

Salah satu curug yang ada di Wisata Alam Capolaga. (Sumber: subang.go.id)
Ayo Netizen 13 Apr 2026, 16:11

Bandung dalam Novel ‘Dilan ITB 1997’

Mari kita telusuri jejak-jejak Dilan dan Ancika di Bandung tahun 1997.

Poster film 'Dilan ITB 1997'. (Sumber: Falcon Pictures)
Ayo Netizen 13 Apr 2026, 15:12

Ketik, Kurir, dan Kupon

Setiap kata yang ditulis dengan sungguh-sungguh selalu menemukan jalan bersama untuk menjadi ilmu, rezeki, dan kenangan yang tak pernah benar-benar selesai.

Ayobandung.id dengan bangga mengumumkan 10 netizen terpilih dengan kontribusi terbaik di kanal AYO NETIZEN (Sumber: Unsplash/Bram Naus)
Linimasa 13 Apr 2026, 14:00

Sejarah dan Kontroversi Konversi Gas Elpiji di Indonesia

Program konversi minyak tanah ke LPG sejak 2007 mengubah pola energi rumah tangga, namun menyisakan kontroversi, kecelakaan, dan polemik kebijakan

Sejumlah warga mengantre untuk membeli gas elpiji di Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 13 Apr 2026, 12:43

Potret Bandung Era 90-an dalam Kenangan 

Bandung pada awal 1990-an adalah kota yang bergerak dengan irama pelan.

Bus DAMRI jadul di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 13 Apr 2026, 10:24

Intelektual, Masyarakat Sipil, dan Perubahan Sosial

Di tengah kondisi yang tidak pasti saat ini, kita membutuhkan intelektual yang mampu berpikir jernih, masyarakat sipil yang kuat, dan keberanian untuk melakukan perubahan sosial.

Calon jemaah haji saat kegiatan pelepasan manasik haji di Masjid Pusat Dakwah Islam (Pusdai), Kota Bandung, Rabu (1/4/2026). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Komunitas 13 Apr 2026, 09:11

Masagi Tjibogo, Kekuatan Warga Lokal Mengolah Sampah Hingga Produknya Tembus Pasar Global

Komunitas Masagi Tjibogo mengolah sampah berbasis budaya lokal, membangun kesadaran warga, sekaligus menciptakan produk bernilai ekonomi yang menembus pasar global.

Abang Oyong yang sudah memasuki usia 80-an membantu membuat karpet hasil olahan sampah di Komunitas Masagi Tjibogo. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)