Jejak Peringatan KAA Kobarkan Semangat Bandung

7 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung. (Sumber: Museum Konferensi Asia Afrika)
Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung. (Sumber: Museum Konferensi Asia Afrika)

Ada sesuatu yang khas ketika kita membuka kembali lembaran surat kabar lama. Aroma kertas yang mulai menua, warna tinta yang sedikit memudar, serta tata letak yang sederhana semuanya seperti lorong waktu yang diam-diam mengajak kita kembali ke masa silam. Surat kabar, lebih dari sekadar media informasi, bisa menjadi saksi bisu yang setia merekam perjalanan zaman.

Demikian pula ketika membuka Pikiran Rakyat edisi 25 April 1985, terbitan 41 tahun silam. Koran kebanggaan masyarakat Jawa Barat itu seakan menghidupkan kembali suasana Bandung empat dekade lalu, ketika kota ini menjadi panggung peringatan 30 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA).

Halaman muka edisi tersebut langsung menuntun ingatan pada sebuah foto utama yang memperlihatkan para delegasi berjalan kaki dari Hotel Homann menuju Gedung Merdeka. Di sepanjang jalan, ribuan pelajar berbaris rapi, melambaikan bendera merah putih kecil. Wajah-wajah muda itu memancarkan antusiasme yang tulus, sebuah gambaran generasi yang tumbuh dalam semangat persatuan dan kebanggaan nasional.

Di Gedung Merdeka, suasana berlangsung khidmat ketika Presiden Soeharto menyampaikan amanatnya. Dari tempat yang sama, tiga puluh tahun sebelumnya, dunia menyaksikan lahirnya semangat baru negara-negara Asia dan Afrika. Pada 24-25 April 1985, gema itu seperti dipanggil kembali untuk diingat, direnungkan, dan dihidupkan kembali.

Puncak peringatan berlangsung meriah. Jalan Asia Afrika dipadati ribuan pelajar yang memainkan angklung secara massal. Nada-nada bambu itu berpadu dengan lagu “Viva Asia Afrika”, menciptakan harmoni yang sederhana namun menggetarkan. Bandung saat itu bukan sekadar kota, tetapi menjadi panggung kenangan, tempat masa lalu dan masa kini bertemu dalam satu irama.

Selama dua hari, 24–25 April 1985, kawasan Jalan Asia Afrika ditutup bagi lalu lintas umum. Kota seakan memberi ruang khusus bagi sejarah untuk kembali hadir, bukan sebagai cerita lama, melainkan sebagai pengalaman yang kembali dirasakan.

Tiga puluh tahun sebelumnya, Bandung telah mencatatkan namanya dalam sejarah dunia. Pada 18–24 April 1955, kota ini menjadi tuan rumah Konferensi Asia Afrika yaitu pertemuan 29 negara yang sebagian besar baru merdeka. Negara-negara seperti Indonesia, India, Burma (Myanmar), Pakistan, dan Ceylon (Sri Lanka) hadir membawa harapan baru, terbebas dari bayang-bayang kolonialisme dan membangun kerja sama yang setara.

Konferensi itu dikoordinasikan oleh Roeslan Abdulgani, dan dibuka oleh Presiden Soekarno yang dengan penuh keyakinan menyebut negara-negara tersebut sebagai New Emerging Forces, kekuatan dunia baru. Dari Gedung Merdeka, lahir Dasasila Bandung, sebuah prinsip yang menegaskan pentingnya perdamaian, kedaulatan, dan solidaritas antarbangsa.

Surat kabar Pikiran Rakyat edisi 25 April 1985 yang memuat peringatan 30 tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Surat kabar Pikiran Rakyat edisi 25 April 1985 yang memuat peringatan 30 tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)

Pada 1985, semangat itu kembali digaungkan. Dalam pidatonya, Presiden Soeharto menyerukan agar “Semangat Bandung” dikobarkan kembali, sebuah ajakan untuk memperkuat solidaritas, mendorong pembangunan, dan menghapus kemiskinan yang masih membelit banyak negara Asia dan Afrika.

Berbagai agenda turut mewarnai peringatan tersebut. Dari rencana Deklarasi Bandung yang memuat isu kemerdekaan, kerja sama ekonomi, hingga seruan penghentian perlombaan senjata nuklir, hingga pertemuan penting antara Menteri Luar Negeri Indonesia Mochtar Kusumaatmadja dan Menteri Luar Negeri Tiongkok Wu Xueqian. Semua menjadi bagian dari upaya merawat dialog dan kerja sama di tengah dinamika Perang Dingin.

Tak kalah menarik, Pikiran Rakyat juga menampilkan foto-foto dokumenter karya pewarta foto senior Paul Tedjasurja, yang bukan hanya merekam peringatan tahun 1985, tetapi juga pernah mengabadikan momen bersejarah KAA 1955. Foto-foto itu menjadi jembatan visual antara dua zaman, memperlihatkan bagaimana sejarah terus berulang dalam wajah yang berbeda.

Membaca kembali koran lawas seperti ini menghadirkan sensasi yang sulit dijelaskan. Ia bukan sekadar aktivitas membaca, melainkan pengalaman menyusuri waktu. Kita seakan duduk di antara kerumunan pelajar, mendengar bunyi angklung, melihat iring-iringan delegasi, dan merasakan udara Bandung di bulan April 1985.

Lembaran-lembaran itu mengingatkan bahwa sejarah tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu untuk dibuka kembali, di antara lipatan kertas yang mulai rapuh, namun tetap menyimpan cerita yang utuh.

Pada akhirnya, lembaran Pikiran Rakyat itu bukan hanya menyimpan berita, melainkan menghidupkan kembali semangat zaman, bahwa “Semangat Bandung” bukan sekadar warisan sejarah, melainkan panggilan yang terus relevan untuk menjaga martabat, merawat solidaritas, dan memastikan bahwa suara bangsa-bangsa merdeka tetap bergema di tengah perubahan dunia.

Ada sesuatu yang khas ketika kita membuka kembali lembaran surat kabar lama. Aroma kertas yang mulai menua, warna tinta yang sedikit memudar, serta tata letak yang sederhana semuanya seperti lorong waktu yang diam-diam mengajak kita pulang ke masa silam. Surat kabar, lebih dari sekadar media informasi, adalah saksi bisu yang setia merekam denyut zaman.

Demikian pula ketika membuka Pikiran Rakyat edisi 25 April 1985. Koran kebanggaan masyarakat Jawa Barat itu seakan menghidupkan kembali suasana Bandung empat dekade lalu, ketika kota ini menjadi panggung peringatan 30 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA).

Halaman muka edisi tersebut langsung menuntun ingatan pada sebuah pagi yang semarak. Foto utama memperlihatkan para delegasi berjalan kaki dari Hotel Homann menuju Gedung Merdeka. Di sepanjang jalan, ribuan pelajar berbaris rapi, melambaikan bendera merah putih kecil. Wajah-wajah muda itu memancarkan antusiasme yang tulus, sebuah gambaran generasi yang tumbuh dalam semangat persatuan dan kebanggaan nasional.

Di Gedung Merdeka, suasana berlangsung khidmat ketika Presiden Soeharto menyampaikan amanatnya. Dari tempat yang sama, tiga puluh tahun sebelumnya, dunia menyaksikan lahirnya semangat baru negara-negara Asia dan Afrika. Pada April 1985, gema itu seperti dipanggil kembali untuk diingat, direnungkan, dan dihidupkan kembali.

Penulis memperlihatkan surat kabar Pikiran Rakyat terbitan 41 tahun silam sebagai bagian dari dokumentasi sejarah. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Penulis memperlihatkan surat kabar Pikiran Rakyat terbitan 41 tahun silam sebagai bagian dari dokumentasi sejarah. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)

Puncak peringatan berlangsung meriah. Jalan Asia Afrika dipadati ribuan pelajar yang memainkan angklung secara massal. Nada-nada bambu itu berpadu dengan lagu “Viva Asia Afrika”, menciptakan harmoni yang sederhana namun menggetarkan. Bandung hari itu bukan sekadar kota ia menjadi panggung kenangan, tempat masa lalu dan masa kini bertemu dalam satu irama.

Selama dua hari, 24–25 April 1985, kawasan Jalan Asia Afrika ditutup bagi lalu lintas umum. Kota seakan memberi ruang khusus bagi sejarah untuk kembali hadir, bukan sebagai cerita lama, melainkan sebagai pengalaman yang kembali dirasakan.

Tiga puluh tahun sebelumnya, Bandung telah mencatatkan namanya dalam sejarah dunia. Pada 18–24 April 1955, kota ini menjadi tuan rumah Konferensi Asia Afrika yaitu pertemuan 29 negara yang sebagian besar baru merdeka. Negara-negara seperti Indonesia, India, Burma (Myanmar), Pakistan, dan Ceylon (Sri Lanka) hadir membawa harapan baru, terbebas dari bayang-bayang kolonialisme dan membangun kerja sama yang setara.

Konferensi itu dikoordinasikan oleh Roeslan Abdulgani, dan dibuka oleh Presiden Soekarno yang dengan penuh keyakinan menyebut negara-negara tersebut sebagai New Emerging Forces, kekuatan dunia baru. Dari Gedung Merdeka lahir Dasasila Bandung, sebuah prinsip yang menegaskan pentingnya perdamaian, kedaulatan, dan solidaritas antarbangsa.

Pada 1985, semangat itu kembali digaungkan. Dalam pidatonya, Presiden Soeharto menyerukan agar “Semangat Bandung” dikobarkan kembali, sebuah ajakan untuk memperkuat solidaritas, mendorong pembangunan, dan menghapus kemiskinan yang masih membelit banyak negara Asia dan Afrika.

Berbagai agenda turut mewarnai peringatan tersebut. Dari rencana Deklarasi Bandung yang memuat isu kemerdekaan, kerja sama ekonomi, hingga seruan penghentian perlombaan senjata nuklir, hingga pertemuan penting antara Menteri Luar Negeri Indonesia Mochtar Kusumaatmadja dan Menteri Luar Negeri Tiongkok Wu Xueqian. Semua menjadi bagian dari upaya merawat dialog dan kerja sama di tengah dinamika Perang Dingin.

Tak kalah menarik, Pikiran Rakyat juga menampilkan foto-foto dokumenter karya pewarta foto senior Paul Tedjasurja, yang bukan hanya merekam peringatan tahun 1985, tetapi juga pernah mengabadikan momen bersejarah KAA 1955. Foto-foto itu menjadi jembatan visual antara dua zaman, memperlihatkan bagaimana sejarah terus berulang dalam wajah yang berbeda.

Membaca kembali koran lawas seperti ini menghadirkan sensasi yang sulit dijelaskan. Ia bukan sekadar aktivitas membaca, melainkan pengalaman menyusuri waktu. Kita seakan duduk di antara kerumunan pelajar, mendengar bunyi angklung, melihat iring-iringan delegasi, dan merasakan udara Bandung di bulan April 1985.

Lembaran-lembaran itu mengingatkan bahwa sejarah tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu untuk dibuka kembali, di antara lipatan kertas yang mulai rapuh, namun tetap menyimpan cerita yang utuh.

Pada akhirnya, lembaran Pikiran Rakyat itu bukan hanya menyimpan berita, melainkan menghidupkan kembali semangat zaman, bahwa “Semangat Bandung” bukan sekadar warisan sejarah, melainkan panggilan yang terus relevan untuk menjaga martabat, merawat solidaritas, dan memastikan bahwa suara bangsa-bangsa merdeka tetap bergema di tengah perubahan dunia. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 17 Jul 2026, 14:50

Islam di Kerajaan Demak: Warisan Peradaban dan Hukum Islam

Kemunculan Demak tidak terlepas dari melemahnya Majapahit yang memberi kesempatan bagi para penguasa Islam di pesisir Jawa untuk membangun kekuasaan.

Masjid Agung Demak, yang terletak di Kauman, Demak, Jawa Tengah, dibangun pada abad ke-15 M oleh Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak, bersama para Wali Songo. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hastosuprayogo)
Wisata & Kuliner 17 Jul 2026, 13:56

Panduan Wisata ke Pantai Legon Pari Sawarna, Laguna Tersembunyi di Ujung Jalan Setapak

Panduan lengkap Pantai Legon Pari Sawarna, mulai dari harga tiket, rute menuju lokasi, aktivitas, camping, hingga rekomendasi penginapan terbaru.

Pantai Legon Pari Sawarna. (Sumber: wisatasawarna.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 13:42

Soedirman dalam Tulisan Tempo

Review buku Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir karya Tempo.

Buku "Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir" (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Nahla Lisana, 2026)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 12:33

Persib dan Mimpi Menjadi Kekuatan Indonesia

Persib memiliki peluang menjadi salah satu lokomotif perubahan sepak bola di Tanah Air.

Pemain Persib Bandung melakukan selebarasi saar mengalahkan tamunya Selangor FC dengan skor 2-0. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 17 Jul 2026, 10:59

Soekarno-Hatta: Jalur Maut di Kota Bandung yang Terbelenggu Sekat Birokrasi

Selama birokrasi belum mampu di-bypass demi keselamatan, aspal Soekarno-Hatta akan tetap menjadi "jalur tengkorak" yang menanti nyawa lainnya.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 09:55

Hikayat Stasiun Kereta Api di Padang Panjang

dari awal berjalannya kereta api Padang Panjang sampai Berhentinya beroperasinya kereta api Padang Panjang

Stasiun Kereta Api Padang Panjang. (atourin.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 06:51

Reaktivasi SPP Sekolah Negeri di Jawa Barat

Pemerintah wajib menjaga stabilitas kehidupan masyarakat dalam pendidikan. Masyarakat tidak ingin ada beban biaya lagi dalam menuntut pendidikan

Sejumlah siswa SD pergi sekolah menaiki rakit bambu melintasi Waduk Saguling. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:41

Perkembangan Lukisan dari Zaman purba sampai Era Digital

Lukisan-lukisan yang kini kita kenal, menyimpan sejarahnya tersendiri tanpa kita sadari.

Lukisan digital printing. (Sumber: Taswadi. 2019. "Teknik Digital Printing Lukisan Warli Haryana." Irama: Jurnal Seni, Desain dan Pembelajarannya, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain UPI)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:03

Jejak Tersembunyi di Balik Gereja Sidang Kristus Sukabumi

Gereja Sidang Kristus merupakan salah satu bangunan bersejarah yang ada di pusat kota Sukabumi.

Tampak depan Gereja Sidang Kristus Kota Sukabumi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Kepadalisna)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 18:44

Inspirasi Pajajaran sebagai Warisan yang Menunggu Diingat Kembali

Kerajaan Pajajaran banyak meninggalkan sejarah di masa Nusantara, tapi sayangnya ingatan kolektif tentang inspirasi Pajajaran bagi masa kini mulai terlupakan.

Kirab budaya di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Selasa 19 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 16 Jul 2026, 17:05

Menikmati Matahari Terbit di Lawang Angin

Lawang Angin Garut menawarkan panorama matahari terbit, Gunung Cikuray, kabut pegunungan, dan potensi wisata yang belum tergarap.

Sunset di Lawang Angin, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 16:33

Mandala Koran Legendaris yang Mewarnai Sejarah Pers Jawa Barat

Pada masanya, Harian Mandala merupakan salah satu surat kabar paling berpengaruh di Jawa Barat.

Sampul depan Harian Umum MANDALA edisi 13 Juli 1976, terbitan 50 tahun silam yang menjadi salah satu saksi perjalanan pers di Jawa Barat. (Sumber: Foto dan koleksi koran lawas milik Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 15:12

Teruslah Membaca meskipun Dianggap Tidak Berguna

Membaca saja tidak cukup, kita harus memahami isi, konteks, dan pesan yang ingin disampaikan dalam buku atau tulisan tersebut.

Seseorang sedang membaca buku. (Sumber: Unsplash | Foto: Mufid Majnun)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 14:43

Di Balik MPLS Masih Adakah Pendidikan untuk Semua?

MPLS sudah dilaksanakan namun yang menjadi sorotan adalah masih ada sekolah yang menerima murid kurang dari kebutuhan

Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 12:56

Bagaimana Teknologi Pengenal Plat Nomor Mengubah Wajah Transportasi Modern?

Teknologi License Plate Recognition (LPR) memungkinkan kamera dan AI mengenali plat nomor kendaraan secara otomatis untuk mendukung transportasi yang lebih aman, efisien, dan cerdas.

LPR (License Plate Recognition) atau disebut juga dengan ANPR (Automatic Number Plate Recognition) adalah salah satu aplikasi cctv untuk mengenali plat nomor kendaraan. (Sumber: ilmiteknik.co.id)
Wisata & Kuliner 16 Jul 2026, 11:48

Panduan Berkunjung ke Pulau Komodo: Cara ke Labuan Bajo, Pink Beach, dan Pulau Padar

Panduan lengkap Taman Nasional Komodo mulai dari harga tiket, aplikasi SiOra, Pulau Padar, Pink Beach, Manta Point, hingga pilihan tour terbaik.

Pulau Komodo. (Sumber: Flickr)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 11:09

Bobotoh Layak Menuntut Persib Lebih daripada Sekadar Juara

Klab besar di dunia hampir tidak pernah mendefinisikan dirinya hanya melalui jumlah piala yang mereka koleksi.

Bobotoh Persib sedang berkonvoi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Lukman Hidayat/Magang)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 08:00

Ci Manuk, Sungai Suci Penuh Do’a untuk Kekuatan Jiwa

Ci Manuk itu bukan berasal dari kata "manuk" yang berarti burung, tapi berasal dari kata "manu", dari bahasa Sanskerta.

Bandar Dermayu, tertulis dalam peta abad ke-16. Peta ini merupakan potongan dari Nova tabula insularum Javae, Sumatrae, Borneonis et aliarum Malaccam usque, 1598. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 07:42

Republik Tanpa Akuntabilitas

Kekuasaan yang menolak pertanggungjawaban sesungguhnya sedang mengingkari hakikatnya sebagai amanah rakyat.

Sebuah aksi penolakan Jokowi di Jawa Barat. Bandung 14 Juli 2026 di Depan DPRD Jawa Barat (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 15 Jul 2026, 18:45

Sisi Lain Kota Bandung: Kebiasaan Lama yang Berulang Kembali

Bahkan peringatan "Kesurupan" pun tetap tidak menghentikan oknum pembuang sampah sembarangan di kawasan Cibaduyut.

Peringatan Hantu dan CCTV pun tidak mengurungkan niat seseorang untuk membuang sampah sembarangan (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)