Ada sesuatu yang khas ketika kita membuka kembali lembaran surat kabar lama. Aroma kertas yang mulai menua, warna tinta yang sedikit memudar, serta tata letak yang sederhana semuanya seperti lorong waktu yang diam-diam mengajak kita kembali ke masa silam. Surat kabar, lebih dari sekadar media informasi, bisa menjadi saksi bisu yang setia merekam perjalanan zaman.
Demikian pula ketika membuka Pikiran Rakyat edisi 25 April 1985, terbitan 41 tahun silam. Koran kebanggaan masyarakat Jawa Barat itu seakan menghidupkan kembali suasana Bandung empat dekade lalu, ketika kota ini menjadi panggung peringatan 30 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA).
Halaman muka edisi tersebut langsung menuntun ingatan pada sebuah foto utama yang memperlihatkan para delegasi berjalan kaki dari Hotel Homann menuju Gedung Merdeka. Di sepanjang jalan, ribuan pelajar berbaris rapi, melambaikan bendera merah putih kecil. Wajah-wajah muda itu memancarkan antusiasme yang tulus, sebuah gambaran generasi yang tumbuh dalam semangat persatuan dan kebanggaan nasional.
Di Gedung Merdeka, suasana berlangsung khidmat ketika Presiden Soeharto menyampaikan amanatnya. Dari tempat yang sama, tiga puluh tahun sebelumnya, dunia menyaksikan lahirnya semangat baru negara-negara Asia dan Afrika. Pada 24-25 April 1985, gema itu seperti dipanggil kembali untuk diingat, direnungkan, dan dihidupkan kembali.
Puncak peringatan berlangsung meriah. Jalan Asia Afrika dipadati ribuan pelajar yang memainkan angklung secara massal. Nada-nada bambu itu berpadu dengan lagu “Viva Asia Afrika”, menciptakan harmoni yang sederhana namun menggetarkan. Bandung saat itu bukan sekadar kota, tetapi menjadi panggung kenangan, tempat masa lalu dan masa kini bertemu dalam satu irama.
Selama dua hari, 24–25 April 1985, kawasan Jalan Asia Afrika ditutup bagi lalu lintas umum. Kota seakan memberi ruang khusus bagi sejarah untuk kembali hadir, bukan sebagai cerita lama, melainkan sebagai pengalaman yang kembali dirasakan.
Tiga puluh tahun sebelumnya, Bandung telah mencatatkan namanya dalam sejarah dunia. Pada 18–24 April 1955, kota ini menjadi tuan rumah Konferensi Asia Afrika yaitu pertemuan 29 negara yang sebagian besar baru merdeka. Negara-negara seperti Indonesia, India, Burma (Myanmar), Pakistan, dan Ceylon (Sri Lanka) hadir membawa harapan baru, terbebas dari bayang-bayang kolonialisme dan membangun kerja sama yang setara.
Konferensi itu dikoordinasikan oleh Roeslan Abdulgani, dan dibuka oleh Presiden Soekarno yang dengan penuh keyakinan menyebut negara-negara tersebut sebagai New Emerging Forces, kekuatan dunia baru. Dari Gedung Merdeka, lahir Dasasila Bandung, sebuah prinsip yang menegaskan pentingnya perdamaian, kedaulatan, dan solidaritas antarbangsa.

Pada 1985, semangat itu kembali digaungkan. Dalam pidatonya, Presiden Soeharto menyerukan agar “Semangat Bandung” dikobarkan kembali, sebuah ajakan untuk memperkuat solidaritas, mendorong pembangunan, dan menghapus kemiskinan yang masih membelit banyak negara Asia dan Afrika.
Berbagai agenda turut mewarnai peringatan tersebut. Dari rencana Deklarasi Bandung yang memuat isu kemerdekaan, kerja sama ekonomi, hingga seruan penghentian perlombaan senjata nuklir, hingga pertemuan penting antara Menteri Luar Negeri Indonesia Mochtar Kusumaatmadja dan Menteri Luar Negeri Tiongkok Wu Xueqian. Semua menjadi bagian dari upaya merawat dialog dan kerja sama di tengah dinamika Perang Dingin.
Tak kalah menarik, Pikiran Rakyat juga menampilkan foto-foto dokumenter karya pewarta foto senior Paul Tedjasurja, yang bukan hanya merekam peringatan tahun 1985, tetapi juga pernah mengabadikan momen bersejarah KAA 1955. Foto-foto itu menjadi jembatan visual antara dua zaman, memperlihatkan bagaimana sejarah terus berulang dalam wajah yang berbeda.
Membaca kembali koran lawas seperti ini menghadirkan sensasi yang sulit dijelaskan. Ia bukan sekadar aktivitas membaca, melainkan pengalaman menyusuri waktu. Kita seakan duduk di antara kerumunan pelajar, mendengar bunyi angklung, melihat iring-iringan delegasi, dan merasakan udara Bandung di bulan April 1985.
Lembaran-lembaran itu mengingatkan bahwa sejarah tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu untuk dibuka kembali, di antara lipatan kertas yang mulai rapuh, namun tetap menyimpan cerita yang utuh.
Pada akhirnya, lembaran Pikiran Rakyat itu bukan hanya menyimpan berita, melainkan menghidupkan kembali semangat zaman, bahwa “Semangat Bandung” bukan sekadar warisan sejarah, melainkan panggilan yang terus relevan untuk menjaga martabat, merawat solidaritas, dan memastikan bahwa suara bangsa-bangsa merdeka tetap bergema di tengah perubahan dunia.
Ada sesuatu yang khas ketika kita membuka kembali lembaran surat kabar lama. Aroma kertas yang mulai menua, warna tinta yang sedikit memudar, serta tata letak yang sederhana semuanya seperti lorong waktu yang diam-diam mengajak kita pulang ke masa silam. Surat kabar, lebih dari sekadar media informasi, adalah saksi bisu yang setia merekam denyut zaman.
Demikian pula ketika membuka Pikiran Rakyat edisi 25 April 1985. Koran kebanggaan masyarakat Jawa Barat itu seakan menghidupkan kembali suasana Bandung empat dekade lalu, ketika kota ini menjadi panggung peringatan 30 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA).
Halaman muka edisi tersebut langsung menuntun ingatan pada sebuah pagi yang semarak. Foto utama memperlihatkan para delegasi berjalan kaki dari Hotel Homann menuju Gedung Merdeka. Di sepanjang jalan, ribuan pelajar berbaris rapi, melambaikan bendera merah putih kecil. Wajah-wajah muda itu memancarkan antusiasme yang tulus, sebuah gambaran generasi yang tumbuh dalam semangat persatuan dan kebanggaan nasional.
Di Gedung Merdeka, suasana berlangsung khidmat ketika Presiden Soeharto menyampaikan amanatnya. Dari tempat yang sama, tiga puluh tahun sebelumnya, dunia menyaksikan lahirnya semangat baru negara-negara Asia dan Afrika. Pada April 1985, gema itu seperti dipanggil kembali untuk diingat, direnungkan, dan dihidupkan kembali.

Puncak peringatan berlangsung meriah. Jalan Asia Afrika dipadati ribuan pelajar yang memainkan angklung secara massal. Nada-nada bambu itu berpadu dengan lagu “Viva Asia Afrika”, menciptakan harmoni yang sederhana namun menggetarkan. Bandung hari itu bukan sekadar kota ia menjadi panggung kenangan, tempat masa lalu dan masa kini bertemu dalam satu irama.
Selama dua hari, 24–25 April 1985, kawasan Jalan Asia Afrika ditutup bagi lalu lintas umum. Kota seakan memberi ruang khusus bagi sejarah untuk kembali hadir, bukan sebagai cerita lama, melainkan sebagai pengalaman yang kembali dirasakan.
Tiga puluh tahun sebelumnya, Bandung telah mencatatkan namanya dalam sejarah dunia. Pada 18–24 April 1955, kota ini menjadi tuan rumah Konferensi Asia Afrika yaitu pertemuan 29 negara yang sebagian besar baru merdeka. Negara-negara seperti Indonesia, India, Burma (Myanmar), Pakistan, dan Ceylon (Sri Lanka) hadir membawa harapan baru, terbebas dari bayang-bayang kolonialisme dan membangun kerja sama yang setara.
Konferensi itu dikoordinasikan oleh Roeslan Abdulgani, dan dibuka oleh Presiden Soekarno yang dengan penuh keyakinan menyebut negara-negara tersebut sebagai New Emerging Forces, kekuatan dunia baru. Dari Gedung Merdeka lahir Dasasila Bandung, sebuah prinsip yang menegaskan pentingnya perdamaian, kedaulatan, dan solidaritas antarbangsa.
Pada 1985, semangat itu kembali digaungkan. Dalam pidatonya, Presiden Soeharto menyerukan agar “Semangat Bandung” dikobarkan kembali, sebuah ajakan untuk memperkuat solidaritas, mendorong pembangunan, dan menghapus kemiskinan yang masih membelit banyak negara Asia dan Afrika.
Berbagai agenda turut mewarnai peringatan tersebut. Dari rencana Deklarasi Bandung yang memuat isu kemerdekaan, kerja sama ekonomi, hingga seruan penghentian perlombaan senjata nuklir, hingga pertemuan penting antara Menteri Luar Negeri Indonesia Mochtar Kusumaatmadja dan Menteri Luar Negeri Tiongkok Wu Xueqian. Semua menjadi bagian dari upaya merawat dialog dan kerja sama di tengah dinamika Perang Dingin.
Tak kalah menarik, Pikiran Rakyat juga menampilkan foto-foto dokumenter karya pewarta foto senior Paul Tedjasurja, yang bukan hanya merekam peringatan tahun 1985, tetapi juga pernah mengabadikan momen bersejarah KAA 1955. Foto-foto itu menjadi jembatan visual antara dua zaman, memperlihatkan bagaimana sejarah terus berulang dalam wajah yang berbeda.
Membaca kembali koran lawas seperti ini menghadirkan sensasi yang sulit dijelaskan. Ia bukan sekadar aktivitas membaca, melainkan pengalaman menyusuri waktu. Kita seakan duduk di antara kerumunan pelajar, mendengar bunyi angklung, melihat iring-iringan delegasi, dan merasakan udara Bandung di bulan April 1985.

Lembaran-lembaran itu mengingatkan bahwa sejarah tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu untuk dibuka kembali, di antara lipatan kertas yang mulai rapuh, namun tetap menyimpan cerita yang utuh.
Pada akhirnya, lembaran Pikiran Rakyat itu bukan hanya menyimpan berita, melainkan menghidupkan kembali semangat zaman, bahwa “Semangat Bandung” bukan sekadar warisan sejarah, melainkan panggilan yang terus relevan untuk menjaga martabat, merawat solidaritas, dan memastikan bahwa suara bangsa-bangsa merdeka tetap bergema di tengah perubahan dunia. (*)
