Pernahkah kita benar-benar berhenti sejenak, di tengah kesibukan yang seolah tidak pernah selesai, lalu bertanya: apa yang sebenarnya sedang kita jalani? Di antara suara notifikasi yang terus berdatangan, target yang harus dikejar, dan rutinitas yang berulang setiap hari, ada satu hal yang sering luput ialah “kesadaran”.
Kita bergerak, berbicara, bahkan mengambil keputusan, tetapi sering kali tanpa benar-benar memahami mengapa kita melakukannya. Dan tanpa disadari, waktu terus berjalan, membawa kita semakin jauh dari pertanyaan paling mendasar tentang makna hidup itu sendiri.
Pemikiran seperti ini sebenarnya sudah lama disuarakan oleh Socrates, seorang filsuf yang hidup di Athena sekitar tahun 469–399 SM. Ia dikenal karena kebiasaannya mempertanyakan kehidupan dan mendorong orang lain untuk berpikir lebih dalam tentang kebenaran.
Cara berpikirnya yang kritis membuatnya diadili dengan tuduhan merusak moral generasi muda dan tidak menghormati kepercayaan yang berlaku. Pada akhirnya, ia dijatuhi hukuman mati dan menghadapinya dengan meminum racun hemlock. Menariknya, dalam menghadapi kematian itu, Socrates tidak menunjukkan ketakutan, melainkan tetap tenang dan memandangnya sebagai sesuatu yang belum tentu buruk, karena manusia sebenarnya tidak benar-benar tahu apa itu kematian.
The Unexamined Life is Not Worth Living
Socrates mengatakan bahwa “Kehidupan yang Tak Direnungkan Tak Layak Dijalani”. Pernyataan ini terasa semakin relevan ketika melihat bagaimana banyak orang hari ini menjalani hidup dengan begitu cepat, tetapi tanpa benar-benar memahaminya.
Sejak awal, manusia sebenarnya telah memiliki pengetahuan tentang baik dan buruk di dalam dirinya. Namun dalam kehidupan yang serba sibuk, kesadaran itu sering tertutup oleh rutinitas yang terus berulang. Kita terbiasa melakukan sesuatu karena sudah menjadi kebiasaan, bukan karena benar-benar dipikirkan atau dipahami.
Di sinilah persoalannya. Ketika hidup tidak pernah diperiksa, manusia perlahan kehilangan arah tanpa menyadarinya. Ia tetap menjalani aktivitas seperti biasa; bangun pagi, bekerja, mengejar target, tetapi semuanya terasa seperti berjalan sendiri tanpa benar-benar dipahami. Ia mungkin terlihat sibuk dan produktif, tetapi tidak pernah benar-benar bertanya apakah semua itu sesuai dengan apa yang sebenarnya ia inginkan atau yakini.
Tanpa refleksi, hidup sering kali berubah jadi sekadar rutinitas yang berulang. Banyak orang bangun pagi, berangkat kerja atau kuliah, mengejar target, lalu pulang dalam keadaan lelah, dan semuanya diulang lagi keesokan harinya. Tapi di tengah semua itu, jarang ada waktu untuk benar-benar bertanya: apakah ini yang saya inginkan, atau hanya sekadar mengikuti alur yang sudah terbentuk?
Akibatnya, banyak keputusan diambil bukan karena dipikirkan dengan sadar, melainkan karena terbiasa atau karena tuntutan sekitar. Memilih jurusan karena ikut-ikutan, bekerja hanya demi memenuhi ekspektasi, atau menjalani hidup berdasarkan standar orang lain tanpa pernah benar-benar mempertanyakan apakah itu sesuai dengan diri sendiri.
Dalam kondisi seperti ini, menghindari refleksi sering kali juga berarti menghindari tanggung jawab. Ketika seseorang tidak pernah “berhenti” untuk memeriksa hidupnya, ia tidak perlu menghadapi pertanyaan sulit tentang benar atau salah, tentang pilihan yang ia ambil, atau tentang arah hidup yang sedang ia jalani. Semua terasa “baik-baik saja”, bukan karena memang benar, tetapi karena tidak pernah benar-benar dipikirkan.
Dalam salah satu pandangan, bahkan disebutkan bahwa “hanya orang bodoh yang berkata dalam hatinya bahwa tidak ada ‘Tuhan’.” Pernyataan ini tidak semata soal keyakinan, tetapi menggambarkan bagaimana manusia bisa menipu dirinya sendiri dengan menolak adanya kebenaran yang lebih tinggi, sehingga ia merasa tidak perlu mempertanggungjawabkan apa yang ia lakukan.
Padahal, dalam diri manusia tetap ada hati nurani yang bekerja, meskipun sering diabaikan. Namun, ketika hidup dijalani tanpa kesadaran dan refleksi, manusia seolah melupakan bahwa waktu tidak berjalan tanpa batas. Pada akhirnya, setiap orang akan berhadapan dengan satu hal yang pasti yaitu “kematian”, dan di titik itu, pertanyaan tentang hidup tidak lagi bisa dihindari.

What is Death?
Kematian adalah keadaan ketika tubuh dan jiwa manusia terpisah, membawa manusia ke suatu tempat penantian, dalam keadaan ini, tidak ada lagi distraksi atau kesibukan seperti saat hidup. Tidak ada lagi rutinitas yang bisa dijadikan pelarian. Yang ada hanyalah waktu untuk mempertimbangkan kembali seluruh kehidupan yakni; pilihan, tindakan, serta konsekuensi dari apa yang telah dilakukan.
Dalam kondisi tersebut, manusia tidak lagi memiliki ruang untuk menghindar. Apa yang selama ini diabaikan—pilihan, tindakan, dan konsekuensinya—akan tetap dihadapkan kembali. Jika selama hidup seseorang tidak pernah benar-benar memeriksa dirinya, maka di titik ini ia harus melihat semuanya secara utuh, tanpa distraksi dan tanpa pelarian.
Jika dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, justru di sinilah persoalannya. Banyak orang menjalani hidup tanpa refleksi, seolah-olah waktu selalu tersedia. Padahal, ketika kematian datang, tidak ada lagi yang bisa ditunda. Semua yang sebelumnya diabaikan tetap harus dihadapi, tanpa pengecualian.
Pada akhirnya, hidup dan kematian saling berkaitan. Cara seseorang menjalani hidup akan menentukan bagaimana ia menghadapinya di akhir. Jika selama ini hidup hanya dijalani tanpa kesadaran, maka yang tersisa bukan sekadar penyesalan, tetapi juga pertanyaan yang tidak pernah dijawab. Lalu, jika suatu saat kita harus menghadapi seluruh hidup kita tanpa bisa mengelak, apakah kita benar-benar sudah menjalaninya dengan sadar? (*)
REFERENSI
Twelve Tribes. (n.d.). The Unexamined Life... Is Not Worth Living. Diakses dari https://www.twelvetribes.org/publication/unexamined-life-not-worth-living
