Penguburan Tembuni di Halaman Rumah dan Filosofi Suku Sunda Sulit Merantau Jauh

Azzahra Nadhira Putri Ramadhan
Ditulis oleh Azzahra Nadhira Putri Ramadhan diterbitkan Jumat 14 Nov 2025, 18:14 WIB
Salah seorang warga sedang menyiram kuburan Tembuni cucunya yang dibantu oleh Ika pada tahun 2019 lalu di Desa Pagerwangi, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. (3/11/2025) (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Azzahra Nadhira)

Salah seorang warga sedang menyiram kuburan Tembuni cucunya yang dibantu oleh Ika pada tahun 2019 lalu di Desa Pagerwangi, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. (3/11/2025) (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Azzahra Nadhira)

Rintik hujan maghrib dingin yang memudarkan senja seolah menghitung detik waktu yang terus berjalan, diselimuti hangatnya rumah terkuaklah sebuah kisah mengenai Tembuni.

Sebuah tradisi yang dipercayai oleh masyarakat setempat guna menghormati ‘saudara kembar’ dari bayi yang baru lahir di Kampung Bukanagara, Desa Pagerwangi, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Senin (3/11/2025)

Ika, seorang Paraji di Desa Pagerwangi mengatakan, “Setiap daerah cara mengurus dudukan bayi itu berbeda, kalau di Lembang atau Sunda itu dikubur di halaman rumah supaya si bayi ngerasa betah di rumahnya.” Alasan inilah yang menyebabkan Suku Sunda kebanyakan sulit untuk merantau karena sejatinya jiwa mereka akan terus terikat dengan ‘saudara kembarnya’ yang dikubur di halaman rumah.

Suku Sunda mempercayai bahwa ‘saudara kembar’ dari bayi yang baru lahir harus dikubur layaknya seorang jenazah yang pernah memiliki nyawa guna menghormati ibu dan bayi. Prosesnya tidaklah mudah, terdapat banyak tahapan serta doa yang harus dipanjatkan terlebih dahulu sebelum pada akhirnya ‘saudara kembar bayi’ ini dapat dikuburkan.

Pertama-tama setelah dilahirkan, ‘saudara kembar’ sang bayi harus segera dibersihkan dari noda merah yang melumurinya sampai bersih terlebih dahulu. Kemudian dimasukkan ke dalam kendi dan disusul dengan ‘bumbu’ lainnya seperti garam, bawang merah, gula merah, jahe, lengkuas, ketumbar dan lainnya. Hal ini dipercaya agar kelak sang anak tumbuh sebagai seseorang yang ‘nyari’ atau dalam bahasa adalah seseorang yang bersenyum manis, baik hati, pintar, dan pantas.

“Sempat ada beberapa orang tua yang meminta memasukan ‘bumbu’ yang aneh aneh ke dalam kendi. Contohnya seperti buku tulis, pensil, dan lainnya,” papar Ika.

Namun menurut Ika sendiri apabila hal tersebut tidak diperlukan selayaknya logika manusia maka ia akan menjelaskannya kepada keluarga dari sang bayi.

“Terkadang permintaan orang tua bayi itu suka aneh-aneh, jadi ada beberapa yang saya kasih penjelasaan soalnya takut menjerumus ke arah ‘syirik’.” 

Wawancara Ika, Seorang Paraji, mengenai kisah tentang Tembuni di Kampung Bukanagara, Desa Pagerwangi, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Senin (3/11/2025) (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Azzahra Nadhira)

Setelah semua ‘bumbu’ dimasukkan, disinilah peran Sang Ayah dibutuhkan dimana nantinya kendi yang berisikan ‘kembaran bayi’ itu akan digendong menggunakan samping kemudian dipanjatkan doa.

Dan yang terakhir adalah proses penguburan, ini juga menjadi tugas yang seharusnya dilakukan oleh Ayah dari bayi yang baru lahir. Namun jika tidak memungkinkan, dapat meminta bantuan dari Paraji yang telah terbiasa, proses Tembuni tidak berakhir begitu saja saat setelah dikuburkan. 

Di hari berikutnya, setiap pagi anggota keluarga diwajibkan untuk menyirami kuburan dengan air hangat, hal ini dipercaya dapat membantu proses pemulihan Sang Ibu dari bayi. Kepercayaan mengenai Tembuni ini telah turun temurun dilakukan oleh Suku Sunda, terutama di Desa Pagerwangi yang masih kental terhadap budayanya.

Tembuni bagi Suku Sunda bukan hanya sekedar organ biologis, melainkan sebuah penjelasan mengenai makna dari setiap manusia yang akan didampingi oleh empat elemen. Yaitu ketuban, air kawah, darah, dan ari-ari yang nantinya akan menemani dari kandungan hingga akhir hayat dari seorang manusia.

Pada dasarnya, Tembuni lebih dari sekedar upacara penguburan dudukan bayi, melainkan sebuah manifestasi dari pandangan hidup Suku Sunda yang melambangkan kasih sayang dan rasa saling menghargai. Dimana tradisi ini menjunjung tinggi kekeluargaan, kehangatan, rasa cinta dan hormat pada budaya yang telah dilestarikan sedari dulu di Desa Pagerwangi. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Azzahra Nadhira Putri Ramadhan
Mahasiswi, S1 Digital Public Relations Telkom University

Berita Terkait

News Update

Beranda 11 Apr 2026, 08:51

JPO Berkarat dan Berlubang Membahayakan Pelajar di Batas Kota Bandung–Cimahi, Tanggung Jawab Siapa?

JPO di Jalan Amir Machmud rusak parah: lantai berlubang, berkarat, dan tanpa atap pelindung, membahayakan pejalan kaki terutama pelajar.

Pelejar berjalan di JPO di Jalan Amir Machmud, perbatasan Kota Bandung dan Cimahi, Jumat, 10 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 20:01

Antara Bandung yang Kubayangkan dan Kenyataan yang Kutemui

Bagi banyak orang, Bandung selalu punya tempat istimewa dalam imajinasi.

Jalan Asia-Afrika, depan Alun-Alun Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Suci Firda)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 18:23

WFH sebagai Cermin Budaya Kerja Aparatur

Hilangnya kehadiran fisik dalam WFH menantang organisasi untuk membangun sistem penilaian kerja yang berbasis output dan tanggung jawab.

Ilustrasi Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Diskominfo Depok)
Bandung 10 Apr 2026, 16:36

Mengenal Dongmoon Dimsum, Ikon Kuliner Baru di Pasar Cihapit yang Viral Lewat Varian Mentai

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum tetap kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung.

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ikon 10 Apr 2026, 15:17

Sejarah Istana Cipanas, Warisan Kolonial di Kaki Gunung Gede Pangrango

Istana Cipanas bermula dari rumah singgah abad ke-18, berkembang menjadi istana kepresidenan yang menyimpan jejak kolonial, perang, hingga keputusan penting negara

Lukisan Istana Cipanas, Cianjur, tahun 1880-1890-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:26

Jelajah Wisata Pangalengan dengan Pilihan Tempat Menginapnya

Pangalengan punya sejarah penginapan panjang, dari Berghotel hingga glamping modern di Rahong dan Situ Cileunca dengan nuansa alam yang menenangkan.

Muara Rahong Hills, salah satu glamping tempat menginap wisatawan di Pangalengan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:18

Panduan Wisata Gunung Guntur, "Semeru"-nya Jawa Barat dengan Panorama Spektakuler

Gunung Guntur menawarkan jalur berpasir terjal, panorama pegunungan luas, serta pengalaman mendaki unik di gunung berapi aktif dekat pusat Kota Garut.

Gunung Guntur dilihat dari kawasan pemandian Cipanas, Garut (Sumber: Wikimedia)
Beranda 10 Apr 2026, 09:29

Power of Ibu-ibu Cibogo Mengubah Sampah Jadi Gerakan Kolektif yang Berdampak Nyata

Power of Ibu-Ibu Cibogo mengubah pengelolaan sampah rumah tangga menjadi gerakan kolektif yang berdampak, menghadirkan solusi lingkungan sekaligus manfaat sosial dan ekonomi bagi warga.

Ibu-ibu di Cibogo, Kecamatan Sukajadi mengolah sampah rumah tangga yang memberikan perubahan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 08:30

Tren Rambut Lady Diana

Kehebohan para wanita Kota Bandung dari berbagai kalangan usia meniru gaya rambut Lady Diana saat tahun 1980-an

Lady Diana. (Sumber: Flickr | Foto: Joe Haupt)
Bandung 09 Apr 2026, 19:40

Urgensi Literasi Keuangan dan Akselerasi Sektor Riil demi Resiliensi Ekonomi Jawa Barat

Di tengah derasnya arus digitalisasi keuangan, Jawa Barat menghadapi tantangan besar: bagaimana memastikan inklusi keuangan berjalan selaras dengan literasi?

Ilustrasi. Di tengah derasnya arus digitalisasi keuangan, Jawa Barat menghadapi tantangan besar bagaimana memastikan inklusi keuangan berjalan selaras dengan literasi. (Sumber: Ayobiz.id/Gemini Generated)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 18:18

Asyiknya Berburu Koran Era 2000-an

Berburu koran tidak hanya mencari informasi, berita, ilmu pengetahuan, melainkan momentum bersejarah saat menerima (menjemput), ikhtiar, harapan dan kenyataan untuk terus belajar sepanjang hayat.

Aa Akil, anak kedua tengah asyik baca koran, Sabtu (4/4/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Wisata & Kuliner 09 Apr 2026, 16:40

Wisata Pantai Patimban, Pesisir Subang Utara yang jadi Pelabuhan Logistik

Pantai Patimban tawarkan sunset, kuliner laut, dan suasana santai, namun kini berubah sejak hadirnya Pelabuhan Internasional.

Pantai Patimban Subang. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 09 Apr 2026, 16:39

Beralih ke Motor Listrik, Ojol Hadapi Dilema Antara Hemat Biaya dan Keterbatasan Jarak

Peralihan ojol ke motor listrik menghadirkan efisiensi biaya, namun dibayangi tantangan jarak tempuh dan infrastruktur, memaksa pengemudi lebih cermat mengatur strategi kerja.

Rizki Ahmad sedang melakukan pengisian baterai motor listrik di Kantor Pos Ujung Berung Kota Bandung, pada Kamis, 9 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 15:02

4 Ide Tulisan Hari Besar Terkait Tema Ayonetizen April 2026: Kartini, Asia-Afrika, sampai Hari Puisi

Bulan April penuh dengan momentum yang bisa diubah jadi cerita.

Warga berwisata di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Minggu, 30 April 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 09 Apr 2026, 13:42

Menjembatani Kreativitas dan Regulasi: Menilik Tantangan Ekonomi Kreatif di Bandung

Pemerintah dan pelaku ekraf Bandung bedah regulasi & standar harga pengadaan dalam Ruang Dialog Ekraf guna dorong dampak ekonomi nyata.

Ilustrasi. Ekonomi kreatif (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 13:14

Dari Sampah Menjadi Penjernih Sungai

Mahasiswa Tel-U menggagas website edukasi Ecoenzyme untuk atasi banjir Bojongsoang, Kabupaten Bandung.

Ilustrasi banjir yang menggenang Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 12:03

Doktrin Pemikiran Manusia

Dalam konteks apapun, doktrin menjadikan sebuah pemikiran otak manusia menjadi lebih aktif dalam berbagai permasalahan.

Ilustrasi manusia. (Sumber: Pexels | Foto: beytlik)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 11:18

Acara Radio Legendaris Top Hits Pop Indonesia (THPI) dari Radio Ganesha Bandung

Di Bandung, salah satu acara yang paling ditunggu adalah Top Hits Pop Indonesia (THPI).

Daftar lagu Top Hits Pop Indonesia edisi Desember 1990 yang dimuat di surat kabar Suara Pembaruan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 09 Apr 2026, 09:55

Menjembatani Kesenjangan Internet: Antara Fiber, FWA, dan Harapan 5G

Kesenjangan akses internet di Indonesia masih tinggi, sehingga kombinasi fiber optik, 4G, 5G, dan FWA serta kolaborasi pemerintah dan operator jadi kunci pemerataan broadband.

Suasana Seminar Teknologi FTTH, FWA & Mobile Broadband di Aula Timur ITB Kampus Ganesa, yang membahas strategi pemerataan akses internet di tengah kesenjangan infrastruktur digital di Indonesia. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 09:54

Rambu dan Marka yang Tidak Dipelihara: Ancaman Sunyi di Jalanan Bandung

Rambu pudar, tertutup, dan marka hilang meningkatkan risiko kecelakaan di Bandung. Masalah ini menegaskan pentingnya pemeliharaan infrastruktur jalan.

Salah satu titik yang sering mengalami kemacetan parah di Kota Bandung, persimpangan lampu merah di Jalan Djunjunan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)