Penguburan Tembuni di Halaman Rumah dan Filosofi Suku Sunda Sulit Merantau Jauh

2 menit baca
Azzahra Nadhira Putri Ramadhan
Ditulis oleh Azzahra Nadhira Putri Ramadhan diterbitkan
Salah seorang warga sedang menyiram kuburan Tembuni cucunya yang dibantu oleh Ika pada tahun 2019 lalu di Desa Pagerwangi, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. (3/11/2025) (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Azzahra Nadhira)
Salah seorang warga sedang menyiram kuburan Tembuni cucunya yang dibantu oleh Ika pada tahun 2019 lalu di Desa Pagerwangi, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. (3/11/2025) (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Azzahra Nadhira)

Rintik hujan maghrib dingin yang memudarkan senja seolah menghitung detik waktu yang terus berjalan, diselimuti hangatnya rumah terkuaklah sebuah kisah mengenai Tembuni.

Sebuah tradisi yang dipercayai oleh masyarakat setempat guna menghormati ‘saudara kembar’ dari bayi yang baru lahir di Kampung Bukanagara, Desa Pagerwangi, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Senin (3/11/2025)

Ika, seorang Paraji di Desa Pagerwangi mengatakan, “Setiap daerah cara mengurus dudukan bayi itu berbeda, kalau di Lembang atau Sunda itu dikubur di halaman rumah supaya si bayi ngerasa betah di rumahnya.” Alasan inilah yang menyebabkan Suku Sunda kebanyakan sulit untuk merantau karena sejatinya jiwa mereka akan terus terikat dengan ‘saudara kembarnya’ yang dikubur di halaman rumah.

Suku Sunda mempercayai bahwa ‘saudara kembar’ dari bayi yang baru lahir harus dikubur layaknya seorang jenazah yang pernah memiliki nyawa guna menghormati ibu dan bayi. Prosesnya tidaklah mudah, terdapat banyak tahapan serta doa yang harus dipanjatkan terlebih dahulu sebelum pada akhirnya ‘saudara kembar bayi’ ini dapat dikuburkan.

Pertama-tama setelah dilahirkan, ‘saudara kembar’ sang bayi harus segera dibersihkan dari noda merah yang melumurinya sampai bersih terlebih dahulu. Kemudian dimasukkan ke dalam kendi dan disusul dengan ‘bumbu’ lainnya seperti garam, bawang merah, gula merah, jahe, lengkuas, ketumbar dan lainnya. Hal ini dipercaya agar kelak sang anak tumbuh sebagai seseorang yang ‘nyari’ atau dalam bahasa adalah seseorang yang bersenyum manis, baik hati, pintar, dan pantas.

“Sempat ada beberapa orang tua yang meminta memasukan ‘bumbu’ yang aneh aneh ke dalam kendi. Contohnya seperti buku tulis, pensil, dan lainnya,” papar Ika.

Namun menurut Ika sendiri apabila hal tersebut tidak diperlukan selayaknya logika manusia maka ia akan menjelaskannya kepada keluarga dari sang bayi.

“Terkadang permintaan orang tua bayi itu suka aneh-aneh, jadi ada beberapa yang saya kasih penjelasaan soalnya takut menjerumus ke arah ‘syirik’.” 

Wawancara Ika, Seorang Paraji, mengenai kisah tentang Tembuni di Kampung Bukanagara, Desa Pagerwangi, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Senin (3/11/2025) (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Azzahra Nadhira)

Setelah semua ‘bumbu’ dimasukkan, disinilah peran Sang Ayah dibutuhkan dimana nantinya kendi yang berisikan ‘kembaran bayi’ itu akan digendong menggunakan samping kemudian dipanjatkan doa.

Dan yang terakhir adalah proses penguburan, ini juga menjadi tugas yang seharusnya dilakukan oleh Ayah dari bayi yang baru lahir. Namun jika tidak memungkinkan, dapat meminta bantuan dari Paraji yang telah terbiasa, proses Tembuni tidak berakhir begitu saja saat setelah dikuburkan. 

Di hari berikutnya, setiap pagi anggota keluarga diwajibkan untuk menyirami kuburan dengan air hangat, hal ini dipercaya dapat membantu proses pemulihan Sang Ibu dari bayi. Kepercayaan mengenai Tembuni ini telah turun temurun dilakukan oleh Suku Sunda, terutama di Desa Pagerwangi yang masih kental terhadap budayanya.

Tembuni bagi Suku Sunda bukan hanya sekedar organ biologis, melainkan sebuah penjelasan mengenai makna dari setiap manusia yang akan didampingi oleh empat elemen. Yaitu ketuban, air kawah, darah, dan ari-ari yang nantinya akan menemani dari kandungan hingga akhir hayat dari seorang manusia.

Pada dasarnya, Tembuni lebih dari sekedar upacara penguburan dudukan bayi, melainkan sebuah manifestasi dari pandangan hidup Suku Sunda yang melambangkan kasih sayang dan rasa saling menghargai. Dimana tradisi ini menjunjung tinggi kekeluargaan, kehangatan, rasa cinta dan hormat pada budaya yang telah dilestarikan sedari dulu di Desa Pagerwangi. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)