Botram, Tradisi Sunda yang Berpotensi Jadi Tujuan Wisata Tanah Pasundan

3 menit baca
Dudung Ridwan
Ditulis oleh Dudung Ridwan diterbitkan
Nasi liwet yang biasa menjadi menu botram orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mufid Majnun)
Nasi liwet yang biasa menjadi menu botram orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mufid Majnun)

RUPANYA kata botram sudah masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Artinya, secara bahasa (the jure), botram sudah menjadi kosakata nasional. Bukan tidak mungkin, bisa jadi secara the facto kegiatan botram akan menjadi budaya Indonesia. 

Menurut KBBI, botram adalah tradisi makan bersama khas Sunda yang dilakukan secara lesehan, di mana setiap orang membawa makanan dari rumah masing-masing untuk disajikan dan dinikmati bersama tanpa sekat. Tradisi ini bukan sekadar makan, melainkan juga sarana mempererat silaturahmi, kebersamaan, dan solidaritas. Bisa jadi tradisi semacam botram ini ada juga di tempat dan daerah lain, tetapi dengan sebutan yang berbeda.

Masyarakat Sunda umumnya melakukan botram dalam tradisi munggahan. Selain saat munggahan, botram juga kerap hadir dalam acara syukuran lainnya, seperti pernikahan, khitanan, selamatan rumah baru, dan sebagainya. Secara umum, acara ini dipandu oleh anggota keluarga yang dituakan atau ustaz di daerah setempat.

Ciri-ciri botram, pertama, membawa makanan sendiri: Setiap peserta membawa hidangan dari rumahnya untuk berbagi dengan peserta lain. Ciri kedua, semua makanan disajikan dan dinikmati bersama tanpa ada perbedaan status sosial, sering kali di atas daun pisang. 

Ciri ketiga, suasana botram sangat santai, penuh keakraban, dan kekeluargaan. Biasa dilakukan di kebun, sawah, lapangan, taman, atau halaman rumah. Tapi, belakangan banyak juga dilakukan di kantor-kantor ketika karyawan di kantor itu ada yang ulang tahun atau saat kantor mendapat untung besar, bonusan, syukuran, dan sebagainya. Dalam keadaan begini, peserta tidak usah bawa makanan lagi dari rumah, tapi berupa mendapat traktiran dari sohibul bait

Botram juga memiliki nilai filosofis, yaitu tentang kebersamaan, solidaritas, kesederhanaan, kesetaraan, dan juga hiburan. Ibu-ibu di suatu kampung yang mumet dengan pekerjaan sehari-hari mengajak ibu-ibu lain yang sama mumet-nya dengan melakukan botram—tentu saja diselingi dengan sedikit bergosip.

Bapak-bapak pengurus RW di suatu malam minggu sambil nobar laga Persib melaksanakan botram sambil membahas persoalan kampung. Adik-adik karang taruna panitia Agustusan mengadakan botram sambil merencanakan bagaimana caranya mencari dana. Bahkan, kini suatu kantor mengadakan syukuran dengan mengadakan botram karena kantor tersebut memperoleh laba tinggi. Jadi, botram bisa dilakukan oleh siapa saja.

Ilustrasi -- Nasi Liwet Sunda (Foto: Pixabay)
Ilustrasi -- Nasi Liwet Sunda (Foto: Pixabay)

Dalam botram, termuat nilai-nilai persaudaraan, kekeluargaan, kesederhanaan, dan persamaan. Silaturahmi tercipta. Sederhana, makanan tak perlu mewah. Bukankah dengan makan secara bersama-sama, makanan seadanya pun makan menjadi nikmat? Saling berbagi, yang tidak punya makanan, disubsidi oleh yang punya makanan lebih. 

Biasanya makanan disajikan beralaskan daun pisang yang panjang. Di atasnya nasi liwet dengan berbagai lauk terhidang: Ayam goreng, ikan asin, pais oncom, tahu tempe, telur dadar, goreng impun, lalapan serta sambal goan pedas beserta jengkol dan petenya.

Peserta duduk mengelilingi makanan. Orang kaya duduk. Orang miskin duduk. Yang berpangkat duduk. Yang tidak berpangkat duduk. Bawahan duduk. Atasan duduk. Semua peserta setara saat menikmati makanan.

Belakangan kata botram banyak dijadikan nama restoran. Mungkin restoran tersebut meminjam konsep: kenikmatan, kekeluargaan, dan tradisi Sunda. Bahkan, kini banyak pelancong yang tidak saja botram di restoran Sunda, tapi secara sengaja ikut botram Bersama di suatu kampung.

Jadi, bukan tidak mungkin kegiatan botram ini menjadi tujuan wisata kuliner budaya Sunda dan menjadi budaya nasional.

Yuk, mari kita botram dulu. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dudung Ridwan
Tentang Dudung Ridwan
Jurnalis dan Pengamat Bulutangkis

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 17 Jul 2026, 17:29

Alih Fungsi Jalur Sepeda Menjadi Parkir Motor: Inkonsistensi Kebijakan Transportasi Kota Bandung

Alih fungsi jalur sepeda di Jalan Lembong menjadi parkir motor bukan sekadar persoalan parkir, tetapi mencerminkan inkonsistensi kebijakan Kota Bandung dalam mewujudkan transportasi berkelanjutan.

Pemandangan miris di Jalan Lembong, Kota Bandung pada Kamis (16/7/2026). Jalur sepeda yang dibangun untuk menjamin keselamatan pesepeda, justru beralih fungsi menjadi ruang parkir sepeda motor. (Foto: Alkhalifi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:58

Mengapa Isolasi Politik Pasca Tragedi Bubat Membuat Sunda Makin Mandiri?

Mengulas bagaimana Kerajaan Sunda memperkuat kemandirian politik, ekonomi, dan pertahanannya setelah Perang Bubat melalui kebijakan isolasi dari Majapahit.

Ilustrasi peristiwa Perang Bubat di Taman Citra Resmi, Purwakarta. (Sumber: nationalgeographic.grid.id | Foto: Cut Menas Nila Tanu Sukma Devi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:25

Satu Peluncuran, Tiga Cara Bercerita: Menganalisis Penyampaian Pesan Produsen Ponsel Pintar Ternama

Memahami bagaimana cara jenama besar menyebarkan informasi tentang produk terbaru.

Ilustrasi ponsel pintar. (Sumber: Pexels | Foto: Efrem Efre)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 15:18

Revolusi Perancis dan Bandung Nol Kilometer

Revolusi Prancis berawal dari penjara Bastille tahun 1789 telah membuat perubahan besar hak asasi manusia juga mempengaruhi perkembangan Bandung.

Monumen titik nol kilometer Kota Bandung diresmikan Gubernur H. Danny Setiawan pada 18 Mei 2004 dan didedikasikan untuk masyarakat Priangan korban kerja paksa. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Anya Dellanita)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 14:50

Islam di Kerajaan Demak: Warisan Peradaban dan Hukum Islam

Kemunculan Demak tidak terlepas dari melemahnya Majapahit yang memberi kesempatan bagi para penguasa Islam di pesisir Jawa untuk membangun kekuasaan.

Masjid Agung Demak, yang terletak di Kauman, Demak, Jawa Tengah, dibangun pada abad ke-15 M oleh Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak, bersama para Wali Songo. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hastosuprayogo)
Wisata & Kuliner 17 Jul 2026, 13:56

Panduan Wisata ke Pantai Legon Pari Sawarna, Laguna Tersembunyi di Ujung Jalan Setapak

Panduan lengkap Pantai Legon Pari Sawarna, mulai dari harga tiket, rute menuju lokasi, aktivitas, camping, hingga rekomendasi penginapan terbaru.

Pantai Legon Pari Sawarna. (Sumber: wisatasawarna.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 13:42

Soedirman dalam Tulisan Tempo

Review buku Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir karya Tempo.

Buku "Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir" (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Nahla Lisana, 2026)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 12:33

Persib dan Mimpi Menjadi Kekuatan Indonesia

Persib memiliki peluang menjadi salah satu lokomotif perubahan sepak bola di Tanah Air.

Pemain Persib Bandung melakukan selebarasi saar mengalahkan tamunya Selangor FC dengan skor 2-0. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 17 Jul 2026, 10:59

Soekarno-Hatta: Jalur Maut di Kota Bandung yang Terbelenggu Sekat Birokrasi

Selama birokrasi belum mampu di-bypass demi keselamatan, aspal Soekarno-Hatta akan tetap menjadi "jalur tengkorak" yang menanti nyawa lainnya.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 09:55

Hikayat Stasiun Kereta Api di Padang Panjang

dari awal berjalannya kereta api Padang Panjang sampai Berhentinya beroperasinya kereta api Padang Panjang

Stasiun Kereta Api Padang Panjang. (atourin.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 06:51

Reaktivasi SPP Sekolah Negeri di Jawa Barat

Pemerintah wajib menjaga stabilitas kehidupan masyarakat dalam pendidikan. Masyarakat tidak ingin ada beban biaya lagi dalam menuntut pendidikan

Sejumlah siswa SD pergi sekolah menaiki rakit bambu melintasi Waduk Saguling. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:41

Perkembangan Lukisan dari Zaman purba sampai Era Digital

Lukisan-lukisan yang kini kita kenal, menyimpan sejarahnya tersendiri tanpa kita sadari.

Lukisan digital printing. (Sumber: Taswadi. 2019. "Teknik Digital Printing Lukisan Warli Haryana." Irama: Jurnal Seni, Desain dan Pembelajarannya, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain UPI)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:03

Jejak Tersembunyi di Balik Gereja Sidang Kristus Sukabumi

Gereja Sidang Kristus merupakan salah satu bangunan bersejarah yang ada di pusat kota Sukabumi.

Tampak depan Gereja Sidang Kristus Kota Sukabumi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Kepadalisna)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 18:44

Inspirasi Pajajaran sebagai Warisan yang Menunggu Diingat Kembali

Kerajaan Pajajaran banyak meninggalkan sejarah di masa Nusantara, tapi sayangnya ingatan kolektif tentang inspirasi Pajajaran bagi masa kini mulai terlupakan.

Kirab budaya di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Selasa 19 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 16 Jul 2026, 17:05

Menikmati Matahari Terbit di Lawang Angin

Lawang Angin Garut menawarkan panorama matahari terbit, Gunung Cikuray, kabut pegunungan, dan potensi wisata yang belum tergarap.

Sunset di Lawang Angin, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 16:33

Mandala Koran Legendaris yang Mewarnai Sejarah Pers Jawa Barat

Pada masanya, Harian Mandala merupakan salah satu surat kabar paling berpengaruh di Jawa Barat.

Sampul depan Harian Umum MANDALA edisi 13 Juli 1976, terbitan 50 tahun silam yang menjadi salah satu saksi perjalanan pers di Jawa Barat. (Sumber: Foto dan koleksi koran lawas milik Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 15:12

Teruslah Membaca meskipun Dianggap Tidak Berguna

Membaca saja tidak cukup, kita harus memahami isi, konteks, dan pesan yang ingin disampaikan dalam buku atau tulisan tersebut.

Seseorang sedang membaca buku. (Sumber: Unsplash | Foto: Mufid Majnun)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 14:43

Di Balik MPLS Masih Adakah Pendidikan untuk Semua?

MPLS sudah dilaksanakan namun yang menjadi sorotan adalah masih ada sekolah yang menerima murid kurang dari kebutuhan

Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 12:56

Bagaimana Teknologi Pengenal Plat Nomor Mengubah Wajah Transportasi Modern?

Teknologi License Plate Recognition (LPR) memungkinkan kamera dan AI mengenali plat nomor kendaraan secara otomatis untuk mendukung transportasi yang lebih aman, efisien, dan cerdas.

LPR (License Plate Recognition) atau disebut juga dengan ANPR (Automatic Number Plate Recognition) adalah salah satu aplikasi cctv untuk mengenali plat nomor kendaraan. (Sumber: ilmiteknik.co.id)
Wisata & Kuliner 16 Jul 2026, 11:48

Panduan Berkunjung ke Pulau Komodo: Cara ke Labuan Bajo, Pink Beach, dan Pulau Padar

Panduan lengkap Taman Nasional Komodo mulai dari harga tiket, aplikasi SiOra, Pulau Padar, Pink Beach, Manta Point, hingga pilihan tour terbaik.

Pulau Komodo. (Sumber: Flickr)