Jeda Sejenak di Masjid Al Jabbar: Cerita Sore Mendung yang Damai

3 menit baca
Syahiratul Maghfiroh
Ditulis oleh Syahiratul Maghfiroh diterbitkan
Di tengah sore mendung yang adem, Masjid Al Jabbar menjadi ruang jeda, tempat jamaah larut dalam ketenangan, di bawah cahaya lembut dan arsitektur megah yang memeluk suasana dengan damai (Foto: Syahiratul Mghfiroh)
Di tengah sore mendung yang adem, Masjid Al Jabbar menjadi ruang jeda, tempat jamaah larut dalam ketenangan, di bawah cahaya lembut dan arsitektur megah yang memeluk suasana dengan damai (Foto: Syahiratul Mghfiroh)

Langit abu-abu dan awan mendung yang menandakan akan turunnya hujan menemani perjalanan saya menuju Masjid Al Jabbar. Bersama seorang teman, saya melaju pelan dengan sepeda motor dari Kampus Cibiru UIN Sunan Gunung Djati, membiarkan hembusan angin sore dan pemandangan sawah di pinggir jalan menjadi jeda singkat dari rutinitas harian.

Area parkir motor luar sudah hampir penuh ketika kami tiba. Beruntung, masih ada satu ruang kosong untuk kami. Kami bergegas menuju pintu terdekat karena waktu salat Asar sudah masuk. 

Di depan masjid, banyak pengunjung terlihat berswafoto, namun kami tak berhenti. Sepatu dititipkan, langkah dipercepat, dan kami langsung naik ke lantai atas.

Di Ruang salat cahaya lembut sore hari menembus kaca-kaca besar, memantulkan rona keemasan di lantai marmer memberikan suasana yang tenang. Dalam ketenangan itu, saya merasakan seolah waktu ikut melambat. 

Seusai salat, saya duduk sejenak, membiarkan diri bernapas dan menikmati jeda itu. 

Ruang utama masjid dipenuhi jamaah yang mulai beranjak, namun atmosfer khidmat masih tertinggal. Suara yang terdengar hanya langkah kaki pelan dan bisikan doa dari beberapa jamaah yang masih duduk menunduk. Sementara udara sejuk dari ruangan membuat semuanya terasa tenang, seakan waktu enggan beranjak lebih cepat

Ketika berjalan menuju pintu keluar, cahaya oranye redup membias di permukaan marmer, sementara angin sore yang lembap menerpa wajah saya. Dari lantai atas, saya melihat pelataran masjid yang ramai namun tetap terasa damai. Suasana mendung menjadikan sore itu lebih hangat dan lebih dekat.

Saat menuruni tangga, bertemu seorang ibu muda bercadar hitam yang sedang berjalan bersama ibunya. Namanya Rinda.

Ia datang dari Majalengka untuk mengajak orang tuanya melihat Masjid Al Jabbar. “Orang tua belum pernah ke sini,” ujarnya sambil memastikan ibunya tidak tertinggal. Angin menyibakkan cadarnya pelan, dan dari tatapannya, saya bisa merasakan ketulusan saat ia menikmati momen sederhana bersama keluarganya.

Baginya, Al Jabbar adalah tempat yang tenang, ruang untuk bernapas sejenak di tengah kesibukan.

Langkah kemudian membawa saya menuju area taman depan masjid, tempat pohon-pohon kurma berjajar rapi. Lantai yang masih lembap setelah hujan membuat udara terasa lebih segar. Di bawah salah satu pohon, sekelompok pelajar tengah bercengkerama.

Di antara mereka, saya berbincang dengan Mirnawati, siswi dari Maluku yang sedang mengikuti study tour. “Tenang banget, kayak bukan di Bandung,” katanya sambil memandang bangunan masjid yang menjulang. Baginya, barisan pohon kurma membuat suasana terasa seperti di Timur Tengah.

Ia juga sempat mengunjungi museum Al Jabbar yang membuatnya sangat terkesan. “Tadi waktu salat di atas… hampir nangis,” ujarnya lirih.

Sebelum keluar, saya kembali ke penitipan sepatu dan bertemu Risma, petugas berseragam hitam. Ia bercerita bahwa Al Jabbar selalu ramai sejak hari pertama dibuka. “Weekend mah lebih rame, teh,” katanya ramah.

Dalam keseharian yang padat, Risma adalah bagian dari ritme masjid, menjaga alurnya tetap teratur dari subuh hingga malam.

Masjid Raya Al Jabbar di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Masjid Raya Al Jabbar di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Setelah mengenakan sepatu, saya melewati jembatan yang menghubungkan pelataran masjid dengan area taman. Di sinilah saya bertemu Syarifuddin, seorang pengunjung yang sedang menikmati pemandangan waduk bersama saudaranya. 

Air yang tenang memantulkan langit abu-abu pucat, membuat suasana sore itu terasa syahdu.

Ia bercerita bahwa beribadah di Al Jabbar membuatnya merasa seperti berada di Makkah atau Madinah. “Tenang… adem… kayak di sana,” ucapnya sambil menatap bangunan raksasa di belakang kami dengan dinding-dinding kaca bersegi yang saling bertaut, memantulkan cahaya sore di permukaannya. Atap lengkungnya menjulang tinggi, dan seluruh strukturnya yang berwarna putih keperakan tampak tegas sekaligus anggun, seolah muncul dari permukaan air waduk yang mengelilinginya. Masjid al jabar yang megah.

Langit tetap mendung, tapi tidak menakutkan. Justru menjadi latar yang meneduhkan, seperti selimut raksasa yang menjaga suasana tetap lembut.

Sore itu, Al Jabbar bukan hanya tempat ibadah, ia menjadi ruang jeda. Tempat di mana langkah-langkah yang terburu bisa melambat, pikiran yang penuh bisa menjadi lega, dan pertemuan sekilas dengan orang-orang asing bisa terasa hangat.

Dalam kesejukan sore yang mendung namun adem, setiap percakapan terasa lebih dekat, setiap momen lebih berarti.

Sesaat saja berhenti di Al Jabbar, namun rasanya seperti mengisi ulang ruang tenang dalam diri. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Okt 2026, 20:03

KDM dan Tantangan Mengubah Empati Menjadi Kebijakan

Pemimpin dengan skor empati tinggi bisa berhasil ketika mereka membangun institusi yang mampu menerjemahkan empati menjadi kebijakan yang bermakna.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 18:00

Pengalaman Memandu SMP Atirah Makassar #1

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin.

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:57

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta.

Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:42

Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie mengulas perjalanan Benny Soebardja dan perannya dalam membentuk sejarah rock progresif Indonesia.

Benny Soebardja: Perjalanan Sang Godfather Rock Progresif Indonesia (Sumber: Zuhair Alyafie)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 15:21

Peran Bank Perekonomian Rakyat Mencegah Jerat Rentenir di Bandung

Tujuan utama perbankan daerah bukan hanya menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Keberadaannya menjaga martabat ekonomi keluarga di Bandung.

Ilustrasi pentingnya peran Bank Perekonomian Rakyat di Kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 13:58

Cerita Perjalanan Menuju Palimanan dan Belajar Keberanian dari Lapak Baca Buku Gratis Cirebon

Kegiatan membuka lapak untuk membaca buku gratis mulai hadir di beberapa kota untuk meningkatkan minat literasi, begitu juga dengan Kota Cirebon.

Baca Buku Gratis di Alun-Alun Palimanan Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 11:07

Jalur Banjaran–Pangalengan Seringkali Padat: Mengapa Kemacetan Terjadi?

Kemacetan di jalur Banjaran–Pangalengan menjadi perhatian karena jalur ini digunakan oleh warga untuk beraktivitas sehari-hari sekaligus menjadi akses menuju kawasan wisata.

Dokumentasi kemacetan di daerah Pasar Banjaran.
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 10:07

SKS: Kebiasaan Buruk atau Mekanisme Bertahan Mahasiswa?

Tugas menumpuk dan tenggat mendekat membuat mahasiswa begadang demi menyelesaikan pekerjaan. Apakah SKS sekadar kebiasaan buruk atau cara bertahan di tengah tuntutan akademik?

night study (Sumber: pexels.com | Foto: Bikram Bezbaruah)
Bandung 15 Okt 2026, 19:59

Industri Hiburan Bandung Masih Bergelora, Playlist Rewind 2026 Jadi Bukti Eksistensi Kota Musik

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026.

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 17:57

Para Insinyur Planologi, Arsitektur dan Sipil Terkemuka Yang Terlibat Pembangunan Kota Bandung dan Cimahi (Bagian 1)

Kisah insinyur planologi, arsitektur dan sipil terkemuka dalam membangun Bandung dan Cimahi. Temukan jejak sejarah, inovasi tata kota dan mahakarya ikonis mereka di sini!

Lukisan cat air Gedung Sate (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Bandung 15 Okt 2026, 16:41

Menolak Lupa Rasa Rumah, 11 Tahun Warung Kopi Imah Babaturan Merawat Hangatnya Bandung

Tepat pada 15 Oktober 2026, warung kopi dan rumah makan, yakni Warung Kopi Imah Babaturan yang bersemayam di jantung Kota Bandung ini merayakan hari jadinya yang ke-11.

Pemilik Warung Kopi Imah Babaturan, yakni Mohammad Nurul Hudha dan sang istri, Anggia Bonyta. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:48

Relasi Santri dengan Indonesia

Refleksi Hari Santri Nasional 2026: menelusuri jejak Resolusi Jihad, peran ulama, dan perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga hubungan santri dan negara.

Relasi Santri dengan Indonesia (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:09

Ketika Pertemanan Punya Target Harian: Terhubung atau Sekadar Menjaga Api Streak TikTok?

Pernah takut api streak TikTok dengan teman terputus? Kebiasaan ini bisa menjaga komunikasi, tetapi juga terasa seperti kewajiban harian. Apakah kita benar-benar terhubung atau sekadar menjaga angka?

Fitur api streak TikTok bisa menjadi cara menyenangkan untuk menjaga komunikasi.
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:03

Pardoks 'Tidak Ada Bukti' dalam Kasus Pelecehan Seksual di Unpas

Data menunjukkan bahwa laporan palsu -- atau bahkan fitnah -- dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus sangat rendah, sementara underreporting sangat tinggi. Apa artinya?

Aksi mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 12:03

Mengenal Emma Poeradiredja dan Jejak Politik Perempuan Sunda

Emma Peoradiredja, seorang tokoh perempuan sunda yang membukakan jalan berpolitik untuk perempuan di tanah sunda

Emma Poeradiredja
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 22:06

Bandung dan Cirebon Sama-Sama Minim Penerangan Lampu Jalanan

Penerangan jalan umum di wilayah Jawa Barat masih sangat minim perhatian sehingga kondisi ini bisa mengakibatkan potensi kecelakaan bagi pengguna kendaraan.

Penerangan Jalan Ahmad Yani-Pantura Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)