Bandung Was Wes Wos

7 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Wisatawan mencoba wisata hammock di Gunung Hawu, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat pada Sabtu, 17 Agustus 2024. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisatawan mencoba wisata hammock di Gunung Hawu, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat pada Sabtu, 17 Agustus 2024. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Sore yang itu cerah. Langit Bandung Timur tampak berwarna jingga muda, seolah-olah enggan beranjak meninggalkan hari. Di kedai sederhana Al Fatih, ku duduk bersama anak kedua, Aa Akil, yang kini berusia sepuluh tahun.

Ya sambil menunggu pesanan es kelapa muda, di tepi jalan yang ramai tapi terasa akrab. Kedai itu berdiri sebelum rental mobil Zaki, tak jauh dari Puskesmas Cibiru. Tempat menjemput rizki atas kehidupan kecil-kecilan berdenyut tanpa henti.

Rupanya beberapa pelanggan sudah lebih dulu hadir. Antri. Ada mahasiswa, anak-anak, Bapak-Ibu, termasuk para pengemudi ojek aplikasi, duduk beristirahat sejenak, sambil menunggu pesanan dengan wajah lelah, tapi tetap ramah, someah.

Mereka berbincang ringan, justru di balik tawa mereka, yang bercampur dengan deru motor dan aroma gorengan dari warung sebelah, depan laundry. Terdengar obrolan yang syarat makna dan dalam. Hanya keikhlasan dan kesabaran yang dimiliki oleh mereka tetap terbiasa menunggu dan berjuang atas ganasnya kehidupan.

Lamun hente perlu keur dahar jeung hirup mah moal ki kieuan, komo bari loba duit!” celetuk salah seorang di antara mereka yang berjaket orange.

Suaranya aga serak. “Da usum panas kebul, hujan banjir. Komo Sabtu-Minggu mah, parah pisan macetna, Bos!”

Teman yang disampingnya menimpali, “Eta pan loba turis nu ngadon ulin ka Bandung.”

Laki-laki yang berbadan agak kurus menyahut sambil tertawa kecil, “Enya, pan turis mah tuur tiis lain? Bandung ayeuna mah panas, heurin ku tangtung. Rek hitut gé hésé pisan.”

Tawa pejuang aspal itu pecah ringan, melayang di udara sore yang mulai semakin menyengat. Ada kesederhanaan dalam cara mereka menertawakan kenyataan. Panas, banjir, macet.

Semuanya diterima sebagai bagian dari hidup yang tak perlu dilawan. Ya cukup bersyukur, ikhtiar dan menjalani hidup agar lebih baik dan bermanfaat.

Saat larut dalam menikmati giliran dipanggil pesenan. "Ieu tos dua cai dipisah" kata Amang penjual.

Bocah kelas lima itu menepuk pundak. "Bah itu sudah beres pesenan nya, tinggal dibayar!"

Kujawab singkat, "Muhun. Ieu acisna pas. Hayu uih!"

Sambil berjalan pulang, tengok kanan-kiri untuk menyeberang jalan Manisi yang ramai dan padat menuju ke tanjakan Masjid Al-Hidayah. Pada belokan tepat di depan warung kelontong samping laundry.

Dengan kepolosannya Aa Akil bertanya, "Bah, kok turis jadi tuur tiis. Apaan itu?"

"Nya pami tos di bumi dijelasken! Hayu jalan bisi katabrak!" ajakku.

Wisatawan saat mengunjungi gua di kawasan tebing Citatah 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu 16 Agustus 2025 (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisatawan saat mengunjungi gua di kawasan tebing Citatah 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu 16 Agustus 2025 (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Kota yang Semakin Heurin

Dalam tulisan Ayo Jelajah bertajuk Jejak Bandung Baheula: Dari Dusun Sunyi hingga Kota yang Heurin Ku Tangtung, secara apik diuraikan perubahan di bumi Pasundan ini.

Bila Bandung pada abad ke-17 berawal dari dusun sunyi berisi 30 keluarga. Bagaimana kota ini berubah jadi pusat urbanisasi yang heurin ku tangtung?

Pasca nama Bandung masuk dalam panduan wisata internasional. Buku Guide Through Netherlands India yang terbit pada 1911, merekomendasikan penginapan di Hotel Homann dan kunjungan ke tempat-tempat seperti Curug Dago, Kawah Putih, hingga Telaga Patengan. Bandung resmi masuk radar pelancong asing.

Hanya dalam beberapa dekade, Bandung berubah dari dusun sunyi menjadi kota tujuan. Tahun 1901, jumlah penduduknya baru sekitar 29 ribu jiwa. Lima tahun kemudian, naik menjadi lebih dari 38 ribu. Pada 1930, populasinya sudah melewati angka 1,2 juta.

Pergerakan manusia ke Bandung menjadi fenomena urbanisasi awal di Pulau Jawa. Di mata Edi S. Ekadjati, Bandung bersama Jakarta, Jatinegara, Karawang, dan Sukabumi menjadi titik utama perpindahan penduduk dari desa ke kota. Kota yang dulu dihuni puluhan keluarga ini, kini mulai heurin ku tangtung. (Ayo Bandung, Senin 02 Jun 2025, 11:21 WIB).

Kereta Cepat Jakarta Bandung Whoosh. (Sumber: KCIC) (Sumber: KCIC | Foto: Istimewa)
Kereta Cepat Jakarta Bandung Whoosh. (Sumber: KCIC) (Sumber: KCIC | Foto: Istimewa)

Dalam Pusaran Simalakama Whoosh

Memang turis Malaysia doyan melancong ke Indonesia. Jakarta dan Bandung menjadi destinasi favorit bagi wisatawan asal negara Negeri jiran. Ini berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru, turis asing yang berkunjung ke Indonesia pada September 2025 didominasi dari Malaysia sebesar 19,53 persen dari total kunjungan. Kehadiran Kereta Cepat Whoosh memberikan dampak positif terhadap peningkatan turis.

Kementerian Pariwisata menargetkan 2,5 juta kunjungan turis Malaysia ke Indonesia sepanjang tahun 2025. Tercatat sudah 1,6 jutaan kunjungan turis Malaysia ke Indonesia pada Januari-Agustus 2025, sekitar 67 persen dari target kunjungan wisman tahun 2025.

General Manager Corporate Secretary PT KCIC, Eva Chairunnisa, mengungkapkan bahwa sejak pertama kali beroperasi, wisatawan Malaysia memang sudah mendominasi penumpang turis asing kereta cepat. Dari total 528.000 penumpang internasional Whoosh, sekitar 225.000 orang (43 persen) berasal dari Malaysia. (Kompas, 07 November 2025, 07:53 WIB).

Lepas dari pertemuan Jonan dengan Prabowo di tengah polemik Whoosh yang diinisiasi oleh Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya. Jonan, Menteri Perhubungan 2014–2016, menjadi tokoh kunci yang meloloskan proyek kereta cepat Whoosh. Keselamatan penumpang sebagai syarat utama, bukan besarnya nilai investasi.

Jepang mengajukan proyek senilai US$6,2 miliar dengan kecepatan 320 km/jam dalam lima tahun. China menawarkan US$5,5 miliar dengan kecepatan 350 km/jam dalam dua tahun.

Setelah China memenangkan tender dan membentuk PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), Jonan menetapkan sembilan syarat agar proyek berjalan, termasuk larangan penggunaan dana APBN. Pendanaan proyek akhirnya terdiri dari 75% pinjaman China Development Bank (CDB) dan 25% ekuitas konsorsium. (CNN Indonesia Kamis, 06 November 2025 11:19 WIB)

Sejumlah pengunjung mengamati salah satu koleksi
yang ada di Museum Geologi, Jalan Diponegoro. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejumlah pengunjung mengamati salah satu koleksi yang ada di Museum Geologi, Jalan Diponegoro. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Ada sekitar 600 ribu turis asing naik Whoosh untuk wisata di Bandung–Jakarta. Laman resmi KCIC merilis selama periode Januari–Oktober 2025, jumlah penumpang mancanegara naik Whoosh mencapai 335.681 orang. Angka ini meningkat 65,3% dibandingkan periode yang sama pada 2024 sebanyak 203.071 penumpang WNA. “Secara kumulatif sejak awal operasional pada Oktober 2023, layanan Kereta Cepat Whoosh telah digunakan oleh 600.958 wisatawan asing,” kata Eva.

Daftar lima negara asal turis asing yang paling banyak menggunakan Whoosh, pertama adalah Malaysia dengan jumlah mencapai 264.569 orang, atau 44,02% dari total wisatawan asing yang telah naik Whoosh. Singapura sebanyak 68.470 penumpang (11,39%), Tiongkok 53.892 penumpang (8,97%), Jepang 28.881 penumpang (4,81%), serta Korea Selatan 19.729 penumpang (3,28%).

Peningkatan jumlah penumpang wisatawan asing menunjukkan semakin kuatnya posisi Whoosh sebagai ikon transportasi modern Indonesia yang cepat dan nyaman, sekaligus menjadi wajah baru pariwisata Indonesia di mata dunia.

Kehadiran Whoosh terbukti memperkuat konektivitas antardestinasi, mempercepat mobilitas wisatawan, dan mendukung pengembangan ekosistem pariwisata berkelanjutan di koridor Jakarta–Bandung. KCIC terus memperkuat sinergi dengan Kementerian Pariwisata, pemerintah daerah, serta pelaku industri wisata untuk mengembangkan potensi pariwisata di sepanjang jalur Whoosh. (PRFM News 5 November 2025, 06:00 WIB).

Inilah penjelasan was wes wos (Sumber: Instagram | Foto: narabahasa)
Inilah penjelasan was wes wos (Sumber: Instagram | Foto: narabahasa)

Ketika Presiden Prabowo Subianto menyatakan siap menanggung utang proyek super kilat itu, seorang kawan berseloroh "Asal tong ngajadikeun Bandung was wes wos wae!"

"Maksadna?" tanyaku.

Ya hampir mirip dengan “Fafifu Wasweswos” bahasa gaul populer yang sempat viral di media sosial pada tahun 2021. Ungkapan ini digunakan untuk mengecilkan atau merendahkan pendapat seseorang, seolah-olah apa yang dikatakannya hanyalah omong kosong.

Ada yang berpendapat “fafifu” berarti banyak omong, dan “wasweswos” dimaknai sebagai berbelit-belit. Dengan demikian, kata ini menggambarkan seseorang yang terlalu banyak berbicara hal-hal tidak penting dan bertele-tele.

Meskipun maknanya terdengar cukup keras, sebutan ini sering digunakan secara netral sebagai tambahan dalam menyindir (mengkritik) orang lain, terutama dalam konteks perbincangan mengenai isu-isu sosial.

Asal mula munculnya istilah “fafifu wasweswos” tidak diketahui secara pasti. Namun, frasa ini kerap muncul di Twitter untuk mengomentari orang yang memiliki pandangan (ideologi) tertentu, yang ucapannya dianggap sebagai bualan belaka. Itulah arti dari “fafifu wasweswos” yang sempat ramai diperbincangkan di media sosial. (Suara.com, Senin, 21 Maret 2022 | 08:40 WIB)

Bandung memang dikenal sebagai kota yang ramah. Warganya someah, gampang senyum, suka nyapa, dan terbuka sama siapa pun.

Prinsip someah hade ka semah sebenarnya bentuk penghormatan dari tuan rumah ke tamu. Dari dulu, orang Sunda tuh nggak pernah pilih-pilih tamu, siapa pun yang datang harus dihormati.

Ingat, falsafah ini nggak cuma berlaku pas ada tamu di rumah aja. Dalam kehidupan sehari-hari bisa banget diterapkan. Contohnya, waktu ada wisatawan yang nanya arah jalan, kita bantu dengan senyum dan ramah. Nah, itu salah satu bentuk nyata dari someah hade ka semah.

Di tengah hiruk-pikuk kota, senyum tulus dan sapa ramah dari warga Bandung jadi pengingat ihwal kebaikan sederhana masih hidup di sini. Someah hade ka semah, nilai lama yang tetap relevan buat zaman sekarang. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 25 Agu 2026, 13:45

Uswah: Ketika Orang Tua Ingin Melahirkan Keturunan yang Saleh

Jika ingin anak menjadi saleh, jangan hanya sibuk menasihatinya. Jadilah teladan yang baik. Sebab anak mungkin lupa kata-kata kita, tetapi ia akan mengingat siapa kita di hadapannya.

Ringkasan tulisan. (Sumber: chtgpt | Foto: chtgpt)
Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)