Bandung Was Wes Wos

Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan Minggu 09 Nov 2025, 18:01 WIB
Wisatawan mencoba wisata hammock di Gunung Hawu, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat pada Sabtu, 17 Agustus 2024. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Wisatawan mencoba wisata hammock di Gunung Hawu, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat pada Sabtu, 17 Agustus 2024. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Sore yang itu cerah. Langit Bandung Timur tampak berwarna jingga muda, seolah-olah enggan beranjak meninggalkan hari. Di kedai sederhana Al Fatih, ku duduk bersama anak kedua, Aa Akil, yang kini berusia sepuluh tahun.

Ya sambil menunggu pesanan es kelapa muda, di tepi jalan yang ramai tapi terasa akrab. Kedai itu berdiri sebelum rental mobil Zaki, tak jauh dari Puskesmas Cibiru. Tempat menjemput rizki atas kehidupan kecil-kecilan berdenyut tanpa henti.

Rupanya beberapa pelanggan sudah lebih dulu hadir. Antri. Ada mahasiswa, anak-anak, Bapak-Ibu, termasuk para pengemudi ojek aplikasi, duduk beristirahat sejenak, sambil menunggu pesanan dengan wajah lelah, tapi tetap ramah, someah.

Mereka berbincang ringan, justru di balik tawa mereka, yang bercampur dengan deru motor dan aroma gorengan dari warung sebelah, depan laundry. Terdengar obrolan yang syarat makna dan dalam. Hanya keikhlasan dan kesabaran yang dimiliki oleh mereka tetap terbiasa menunggu dan berjuang atas ganasnya kehidupan.

Lamun hente perlu keur dahar jeung hirup mah moal ki kieuan, komo bari loba duit!” celetuk salah seorang di antara mereka yang berjaket orange.

Suaranya aga serak. “Da usum panas kebul, hujan banjir. Komo Sabtu-Minggu mah, parah pisan macetna, Bos!”

Teman yang disampingnya menimpali, “Eta pan loba turis nu ngadon ulin ka Bandung.”

Laki-laki yang berbadan agak kurus menyahut sambil tertawa kecil, “Enya, pan turis mah tuur tiis lain? Bandung ayeuna mah panas, heurin ku tangtung. Rek hitut gé hésé pisan.”

Tawa pejuang aspal itu pecah ringan, melayang di udara sore yang mulai semakin menyengat. Ada kesederhanaan dalam cara mereka menertawakan kenyataan. Panas, banjir, macet.

Semuanya diterima sebagai bagian dari hidup yang tak perlu dilawan. Ya cukup bersyukur, ikhtiar dan menjalani hidup agar lebih baik dan bermanfaat.

Saat larut dalam menikmati giliran dipanggil pesenan. "Ieu tos dua cai dipisah" kata Amang penjual.

Bocah kelas lima itu menepuk pundak. "Bah itu sudah beres pesenan nya, tinggal dibayar!"

Kujawab singkat, "Muhun. Ieu acisna pas. Hayu uih!"

Sambil berjalan pulang, tengok kanan-kiri untuk menyeberang jalan Manisi yang ramai dan padat menuju ke tanjakan Masjid Al-Hidayah. Pada belokan tepat di depan warung kelontong samping laundry.

Dengan kepolosannya Aa Akil bertanya, "Bah, kok turis jadi tuur tiis. Apaan itu?"

"Nya pami tos di bumi dijelasken! Hayu jalan bisi katabrak!" ajakku.

Wisatawan saat mengunjungi gua di kawasan tebing Citatah 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu 16 Agustus 2025 (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisatawan saat mengunjungi gua di kawasan tebing Citatah 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu 16 Agustus 2025 (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Kota yang Semakin Heurin

Dalam tulisan Ayo Jelajah bertajuk Jejak Bandung Baheula: Dari Dusun Sunyi hingga Kota yang Heurin Ku Tangtung, secara apik diuraikan perubahan di bumi Pasundan ini.

Bila Bandung pada abad ke-17 berawal dari dusun sunyi berisi 30 keluarga. Bagaimana kota ini berubah jadi pusat urbanisasi yang heurin ku tangtung?

Pasca nama Bandung masuk dalam panduan wisata internasional. Buku Guide Through Netherlands India yang terbit pada 1911, merekomendasikan penginapan di Hotel Homann dan kunjungan ke tempat-tempat seperti Curug Dago, Kawah Putih, hingga Telaga Patengan. Bandung resmi masuk radar pelancong asing.

Hanya dalam beberapa dekade, Bandung berubah dari dusun sunyi menjadi kota tujuan. Tahun 1901, jumlah penduduknya baru sekitar 29 ribu jiwa. Lima tahun kemudian, naik menjadi lebih dari 38 ribu. Pada 1930, populasinya sudah melewati angka 1,2 juta.

Pergerakan manusia ke Bandung menjadi fenomena urbanisasi awal di Pulau Jawa. Di mata Edi S. Ekadjati, Bandung bersama Jakarta, Jatinegara, Karawang, dan Sukabumi menjadi titik utama perpindahan penduduk dari desa ke kota. Kota yang dulu dihuni puluhan keluarga ini, kini mulai heurin ku tangtung. (Ayo Bandung, Senin 02 Jun 2025, 11:21 WIB).

Kereta Cepat Jakarta Bandung Whoosh. (Sumber: KCIC) (Sumber: KCIC | Foto: Istimewa)
Kereta Cepat Jakarta Bandung Whoosh. (Sumber: KCIC) (Sumber: KCIC | Foto: Istimewa)

Dalam Pusaran Simalakama Whoosh

Memang turis Malaysia doyan melancong ke Indonesia. Jakarta dan Bandung menjadi destinasi favorit bagi wisatawan asal negara Negeri jiran. Ini berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru, turis asing yang berkunjung ke Indonesia pada September 2025 didominasi dari Malaysia sebesar 19,53 persen dari total kunjungan. Kehadiran Kereta Cepat Whoosh memberikan dampak positif terhadap peningkatan turis.

Kementerian Pariwisata menargetkan 2,5 juta kunjungan turis Malaysia ke Indonesia sepanjang tahun 2025. Tercatat sudah 1,6 jutaan kunjungan turis Malaysia ke Indonesia pada Januari-Agustus 2025, sekitar 67 persen dari target kunjungan wisman tahun 2025.

General Manager Corporate Secretary PT KCIC, Eva Chairunnisa, mengungkapkan bahwa sejak pertama kali beroperasi, wisatawan Malaysia memang sudah mendominasi penumpang turis asing kereta cepat. Dari total 528.000 penumpang internasional Whoosh, sekitar 225.000 orang (43 persen) berasal dari Malaysia. (Kompas, 07 November 2025, 07:53 WIB).

Lepas dari pertemuan Jonan dengan Prabowo di tengah polemik Whoosh yang diinisiasi oleh Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya. Jonan, Menteri Perhubungan 2014–2016, menjadi tokoh kunci yang meloloskan proyek kereta cepat Whoosh. Keselamatan penumpang sebagai syarat utama, bukan besarnya nilai investasi.

Jepang mengajukan proyek senilai US$6,2 miliar dengan kecepatan 320 km/jam dalam lima tahun. China menawarkan US$5,5 miliar dengan kecepatan 350 km/jam dalam dua tahun.

Setelah China memenangkan tender dan membentuk PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), Jonan menetapkan sembilan syarat agar proyek berjalan, termasuk larangan penggunaan dana APBN. Pendanaan proyek akhirnya terdiri dari 75% pinjaman China Development Bank (CDB) dan 25% ekuitas konsorsium. (CNN Indonesia Kamis, 06 November 2025 11:19 WIB)

Sejumlah pengunjung mengamati salah satu koleksi
yang ada di Museum Geologi, Jalan Diponegoro. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejumlah pengunjung mengamati salah satu koleksi yang ada di Museum Geologi, Jalan Diponegoro. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Ada sekitar 600 ribu turis asing naik Whoosh untuk wisata di Bandung–Jakarta. Laman resmi KCIC merilis selama periode Januari–Oktober 2025, jumlah penumpang mancanegara naik Whoosh mencapai 335.681 orang. Angka ini meningkat 65,3% dibandingkan periode yang sama pada 2024 sebanyak 203.071 penumpang WNA. “Secara kumulatif sejak awal operasional pada Oktober 2023, layanan Kereta Cepat Whoosh telah digunakan oleh 600.958 wisatawan asing,” kata Eva.

Daftar lima negara asal turis asing yang paling banyak menggunakan Whoosh, pertama adalah Malaysia dengan jumlah mencapai 264.569 orang, atau 44,02% dari total wisatawan asing yang telah naik Whoosh. Singapura sebanyak 68.470 penumpang (11,39%), Tiongkok 53.892 penumpang (8,97%), Jepang 28.881 penumpang (4,81%), serta Korea Selatan 19.729 penumpang (3,28%).

Peningkatan jumlah penumpang wisatawan asing menunjukkan semakin kuatnya posisi Whoosh sebagai ikon transportasi modern Indonesia yang cepat dan nyaman, sekaligus menjadi wajah baru pariwisata Indonesia di mata dunia.

Kehadiran Whoosh terbukti memperkuat konektivitas antardestinasi, mempercepat mobilitas wisatawan, dan mendukung pengembangan ekosistem pariwisata berkelanjutan di koridor Jakarta–Bandung. KCIC terus memperkuat sinergi dengan Kementerian Pariwisata, pemerintah daerah, serta pelaku industri wisata untuk mengembangkan potensi pariwisata di sepanjang jalur Whoosh. (PRFM News 5 November 2025, 06:00 WIB).

Inilah penjelasan was wes wos (Sumber: Instagram | Foto: narabahasa)
Inilah penjelasan was wes wos (Sumber: Instagram | Foto: narabahasa)

Ketika Presiden Prabowo Subianto menyatakan siap menanggung utang proyek super kilat itu, seorang kawan berseloroh "Asal tong ngajadikeun Bandung was wes wos wae!"

"Maksadna?" tanyaku.

Ya hampir mirip dengan “Fafifu Wasweswos” bahasa gaul populer yang sempat viral di media sosial pada tahun 2021. Ungkapan ini digunakan untuk mengecilkan atau merendahkan pendapat seseorang, seolah-olah apa yang dikatakannya hanyalah omong kosong.

Ada yang berpendapat “fafifu” berarti banyak omong, dan “wasweswos” dimaknai sebagai berbelit-belit. Dengan demikian, kata ini menggambarkan seseorang yang terlalu banyak berbicara hal-hal tidak penting dan bertele-tele.

Meskipun maknanya terdengar cukup keras, sebutan ini sering digunakan secara netral sebagai tambahan dalam menyindir (mengkritik) orang lain, terutama dalam konteks perbincangan mengenai isu-isu sosial.

Asal mula munculnya istilah “fafifu wasweswos” tidak diketahui secara pasti. Namun, frasa ini kerap muncul di Twitter untuk mengomentari orang yang memiliki pandangan (ideologi) tertentu, yang ucapannya dianggap sebagai bualan belaka. Itulah arti dari “fafifu wasweswos” yang sempat ramai diperbincangkan di media sosial. (Suara.com, Senin, 21 Maret 2022 | 08:40 WIB)

Bandung memang dikenal sebagai kota yang ramah. Warganya someah, gampang senyum, suka nyapa, dan terbuka sama siapa pun.

Prinsip someah hade ka semah sebenarnya bentuk penghormatan dari tuan rumah ke tamu. Dari dulu, orang Sunda tuh nggak pernah pilih-pilih tamu, siapa pun yang datang harus dihormati.

Ingat, falsafah ini nggak cuma berlaku pas ada tamu di rumah aja. Dalam kehidupan sehari-hari bisa banget diterapkan. Contohnya, waktu ada wisatawan yang nanya arah jalan, kita bantu dengan senyum dan ramah. Nah, itu salah satu bentuk nyata dari someah hade ka semah.

Di tengah hiruk-pikuk kota, senyum tulus dan sapa ramah dari warga Bandung jadi pengingat ihwal kebaikan sederhana masih hidup di sini. Someah hade ka semah, nilai lama yang tetap relevan buat zaman sekarang. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Beranda 25 Feb 2026, 06:39

Makhluk Kecil Ini Ungkap Kondisi Sebenarnya Air Sungai di Teras Cikapundung

Penelitian terbaru di Teras Sungai Cikapundung menunjukkan bahwa kualitas air di hulu sungai Bandung kini berada dalam status tercemar sedang akibat limbah domestik dan aktivitas peternakan

Petugas bersama masyarakat melakukan bersih-bersih Teras Cikapundung, Kota Bandung, Kamis 16 Mei 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 24 Feb 2026, 18:47

Di Simpul Kredit dan Hunian: Transformasi Pembiayaan Perumahan dalam Lanskap Stabilitas Perbankan

Di simpul antara kebijakan makro dan kebutuhan rumah tangga, pembiayaan perumahan berdiri sebagai jembatan.

Warga beraktivitas di salah satu komplek perumahan bersubsidi di Kabupaten Bandung (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Beranda 24 Feb 2026, 15:31

Ramadan di Masjid Lautze 2: Saling Berbagi dan Tak Pernah Bertanya Latar Belakang

Pengemis, pengemudi ojek online, pekerja harian, musafir, hingga warga sekitar yang sekadar ingin mampir, duduk dalam barisan yang sama. Tak ada kursi khusus, tak ada sekat sosial.

Suasana ramadan di Masjid Lauetze 2 di Jalan Tamblong, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 15:01

Miskin di Ruang yang Rusak: Menggugat Politik Kemiskinan Ekologis di Indonesia

Mengkritik politik kemiskinan ekologis: warga miskin hidup di ruang rusak, sementara bansos hanya jadi solusi tambal sulam struktural.

Gundukan sampah. (Sumber: Pexels | Foto: Mumtahina Tanni)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 13:37

Ramadan yang Bukan Sekadar Fasting dalam Bahasa Inggris

Untuk memahami Ramadan di Indonesia, seseorang tidak cukup hanya memahami konsep fasting.

Umat Muslim beribadah di Bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Annas Arfnahri)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 11:58

15 Istilah Penting Ramadan yang Mudah Dipahami WNA Nonmuslim di Indonesia

Untuk memahami Ramadan di Indonesia, memahami istilah-istilah kuncinya adalah langkah awal yang penting.

Pedagang takjil di bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Umar ben)
Beranda 24 Feb 2026, 11:52

RW 15 Tembus FYP, Bangunin Sahur Jadi Wadah Berkarya Anak Sekeloa Selatan

Tradisi bangunin sahur anak-anak muda Sekelo Selatan sudah berjalan sejak 2007. Bukan sekadar keliling kampung, kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi lintas generasi yang kini viral di media sosial.

Anak-anak muda Sekeloa Selatan pelaku tradisi bangunin sahur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 08:09

Puasa Perisai Konsumtif

Jangan sampai nilai-nilai Ramadan ini tereduksi menjadi sekadar simbol dan rutinitas di tengah derasnya arus budaya konsumtif.

Pengunjung belanja pada Gelar Produk Pasar Tani di Bale Asri Pusdai, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa 18 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 20:20

Reforma Agraria di Punclut: Negara Hadir atau Abai?

Di lereng yang menjadi bagian dari Kawasan Bandung Utara (KBU) itu, warga telah puluhan tahun menggarap lahan ex-erfpacht verponding.

Pertemuan warga Punclut (Foto: Dokumen Mang Aqli)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 16:20

Kumpulan Kata yang Mendadak Ramai Diucap Pas Ramadan

Berikut kumpulan kata khas Ramadan yang sering digunakan beserta maknanya.

Ilustrasi santri. (Sumber: Pixabay)
Bandung 23 Feb 2026, 15:25

Strategi Bertahan Gado Gado Gerobakan Cibadak Menembus Batas Zaman dan Pandemi

Merintis bisnis bukanlah wacana yang mudah. Perencanaan yang matang hingga eksekusi bisnis sampai di tahap mempunyai pelanggan setia, bukanlah proses yang mudah.

Kuliner tradisional yakni gado-gado gerobakan di kawasan Cibadak milik Efendi Wahyudin. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 14:18

Di Balik Kumpulan Kata Khas Ramadan, Memahami Bahasa dan Makna Sosial

Memahami istilah-istilah khas Ramadan berarti memahami bagaimana bahasa berfungsi sebagai medium pengalaman kolektif.

Seorang anak sedang mengaji. (Sumber: Pixabay | Foto: Joko_Narimo)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 12:13

Bahasa yang Menjadi Kontrol Sosial Kala Ramadan

Di Bulan Suci ini, bahasa menjaga puasa kita tetap tuntas dengan baik.

Ilustrasi orang Indonesia berkumpul di sebuah warung. (Sumber: Pexels | Foto: Noval Gani)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 09:07

Mendadak Pasar Takjil Ramadan

Yang membuat Pasar Takjil menarik, di antaranya adalah suasananya yang meriah dan penuh kejutan.

Pasar Takjil dadakan di Jalan Gading Tutuka, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 18:04

Sejarah Es Cendol Elizabeth yang Selalu Menjadi Minuman 'Bintang' di Saat Ramadan

Kisah Es Cendol Elizabeth berawal dari cerita Haji Rohman pada 1972 yang ditinggal pergi ayahnya.

Es Cendol Elizabeth. (Sumber: Instagram @escendolelizabethofficial)
Bandung 22 Feb 2026, 15:08

Manisnya Berkah Ramadan di Jalan Cibadak, Kisah Pak Heri Merawat Tradisi Es Goyobod di Tengah Gempuran Zaman

Eksistensi pedagang Es Goyobod di kota kembang membuktikan bagaimana peran kuliner tradisional tetap hidup di zaman yang terus berkembang dan tak terbatas ini.

Eksistensi pedagang Es Goyobod di kota kembang membuktikan bagaimana peran kuliner tradisional tetap hidup di zaman yang terus berkembang dan tak terbatas ini. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 15:02

Ngabuburead: Menemukan Ketenangan di Tengah Riuh Ramadan Jawa Barat

Inilah tren 'Ngabuburead', cara baru menepi lewat konten digital yang lebih intim dan berisi.

Media digital. (Sumber: Unsplash | Foto: @felirbe)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 11:43

Lembang Tempo Dulu

Dahulu Lembang adalah sebuah kawasan hijau yang pada masa VOC memiliki sebuah upeti istimewa.

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 09:36

Miéling Poé Basa Indung: Jejak Panjang Pers Sunda

Denyut pers Sunda sebenarnya telah terdengar sejak akhir abad ke-19 melalui penerbitan seperti Sunda Almanak (1894) dan Panemu Guru (1906).

Wajah baru Majalah Mangle dalam manajemen Pusat Budaya Sunda Unpad. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 22 Feb 2026, 07:10

Tak Ada yang Berbuka Sendirian: Cerita Ramadan, Relawan, dan Sampah yang Dipilah di Salman ITB

Saat azan Magrib mendekat, halaman sekitar Masjid Salman ITB dipenuhi aroma makanan berbuka yang tertata rapi di atas meja-meja panjang

Masjid Salman ITB menyiapkan sekitar 800 porsi berbuka setiap hari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)