Bandung Tertawa Pukul 13.30, Ada Si Kundang

5 menit baca
bram herdiana
Ditulis oleh bram herdiana diterbitkan
Ilustrasi orang Bandung pada 1980-an. (Sumber: Pexels/Daniel Lee)
Ilustrasi orang Bandung pada 1980-an. (Sumber: Pexels/Daniel Lee)

Pada pukul  13.30 WIB di Bandung pada era 1980-an, ada satu kebiasaan unik kalangan masyarakatnya, yaitu menunggu siaran radio bernama ‘Sempal Guyon Parahyangan Si Kundang’ di Radio Garuda Bandung.

Saat itu, panas siang hari seolah tak terasa, karena setiap sudut kota  dipenuhi suara tawa yang pecah bersamaan. Orang-orang menghentikan sejenak rutinitasnya atau sambil beraktifitas, menyetel pesawat radio, kemudian mendengarkan setiap hari celotehan kocak duet  maut pendongeng radio  legendaris yaitu Tisna Suntara dan Andi R Djauhari.

Bandung di tahun 1980-an, pesawat radio menjadi hiburan utama di tengah keterbatasan siaran televisi. Maka, ketika jarum jam menunjukkan setengah dua siang, ada semacam kesepakatan tak tertulis di antara warga Bandung, ini saatnya mendengarkan Si Kundang.

Bagi para ibu rumah tangga, waktu itu menjadi momen santai setelah beres-beres memasak untuk makan siang. Para pelajar yang sudah pulang sekolah berada di rumah. Para sopir angkot memutar volume radionya lebih keras agar penumpang ikut tertawa. Sementara para karyawan yang sedang istirahat makan siang sering menempelkan telinga pada radio kecil di warung atau pos satpam. Bandung seolah berhenti sejenak untuk satu hal yakni  tertawa bersama.

Menariknya, pendengar acara ini datang dari berbagai usia dan kalangan. Anak-anak menikmati gaya bicara lucu para tokohnya, remaja tertawa karena leluconnya segar dan relevan, sementara orang tua justru menemukan nostalgia dan kritik sosial yang cerdas di balik guyonan tersebut. Bahkan mereka yang biasanya serius tak  luput dari pesona siaran ini.

Acara Sempal Guyon Parahyangan Si kundang menjadi ruang bersama di mana semua batas sosial luluh oleh humor Sunda yang segar, jenaka, dan hangat. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa radio ini berhasil menyatukan masyarakat Bandung melalui tertawa bersama secara serentak.

‘Sempal Guyon Parahyangan Si Kundang’ bukan sekedar sandiwara radio biasa. Ia adalah dongeng komedi, kombinasi antara lawakan, kritik sosial, dan kisah rakyat yang dibumbui kearifan lokal Sunda.

Setiap episodenya mengangkat cerita berbeda  mulai dari keseharian warga kampung, keanehan pejabat, hingga kisah cinta kocak anak muda. Dialognya mengalir alami, diselingi sindiran halus terhadap perilaku manusia modern yang mulai kehilangan kesederhanaan.

Kekuatan utama acara ini adalah kemampuannya membuat pendengar tertawa tanpa merasa digurui. Guyonan yang dilontarkan tidak kasar, tapi cerdas, penuh permainan kata khas Sunda. Tak heran jika pendengar sering kali menunggu-nunggu bagaimana nasib Si Kundang, Mang Minta atau Si Oded dan lainnya di episode berikutnya.

Di balik kesuksesan besar acara ini, berdirilah dua sosok yang luar biasa, Tisna Suntara dan Andi R Djauhari. Keduanya bukan hanya penyiar, tapi juga seniman sejati radio. Mereka memerankan banyak karakter dengan suara dan gaya bicara yang berbeda-beda, seolah di balik mikrofon itu ada satu kampung penuh tokoh hidup.

Beberapa karakter yang paling dikenal di antaranya: Si Kundang, Pak Kurdi, Ibu Iting, Mang Minta, Abah Jangkung, Ema Uti, Mas Paijo, dan Si Oded dkk. Keduanya memainkan semua karakter ini secara kompak dan alami. Kadang, tanpa sadar pendengar lupa bahwa semua suara itu berasal dari dua orang yang sama. Mereka bukan hanya lucu, tapi piawai menciptakan keakraban lewat suara.

Dalam setiap tawa, selalu terselip rasa hangat seperti mendengar cerita dari tetangga sendiri. Misalnya hal ini tergambar Ketika mendengarkan salah satu judul dongengnya yaitu ’KU MANTEGA’ yang artinya memakai mentega.

Ada satu fakta menarik yang membuat acara ini semakin fenomenal, pada pukul setengah dua siang, hampir seluruh penduduk Bandung mendengarkan ‘Sempal Guyon Parahyangan Si Kundang’ bahkan para penyiar muda dari stasiun radio anak muda yang biasanya tampil penuh gaya dan gengsi, ikut terdiam untuk mendengarkan siaran tersebut.

Radio Garuda Bandung seketika menjadi pusat perhatian seluruh kota. Suara khas Tisna dan Andi seolah menjadi alarm sosial jika terdengar tawa di mana-mana, itu artinya “Si Kundang” sedang mengudara. Tak ada siaran lain yang mampu menyaingi popularitasnya. Di warung, di pabrik, di sekolah, bahkan di kantor pemerintahan semua mendengarkan hal yang sama. Bandung seperti memiliki satu detak irama yang sama, tawa kolektif di siang bolong.

Ketenaran ‘Sempal Guyon Parahyangan Si Kundang’ juga membawa efek besar bagi industri radio saat itu. Rating siaran radio-radio swasta lain langsung merosot tajam setiap kali program ini tayang.

Fenomena ini menjadi pelajaran penting dalam dunia penyiaran radio bahwa kekuatan utama radio bukan hanya pada teknologi atau kemasan modern, melainkan pada isi dan kedekatan emosional dengan pendengarnya. Dan itu yang dimiliki oleh Tisna Suntara dan Andi R Djauhari keaslian, spontanitas, dan humor yang membumi lalu  akrab dengan pendengar ketika terkadang  nama-nama para pendengarnya disebut sehingga pendengar merasa terlibat.

Radio lawas pada masa lalu. (Sumber: Pexels/Adiardi Zulfansyah)
Radio lawas pada masa lalu. (Sumber: Pexels/Adiardi Zulfansyah)

Pada masa itu, sekitar awal 1980-an, siaran radio swasta masih terbatas jangkauannya. Sinyalnya hanya bisa ditangkap di sekitar wilayah Bandung Raya. Belum ada jaringan nasional, belum ada internet, apalagi siaran streaming seperti sekarang.

Namun keterbatasan itu justru membuat suasana menjadi lebih intim. Pendengar merasa memiliki “dunia kecil” sendiri yang hanya bisa dinikmati warga Bandung dan sekitarnya. Inilah yang membuat ‘Sempal Guyon Parahyangan Si Kundang’ terasa eksklusif dan lokal, sekaligus memperkuat identitas budaya Sunda di tengah perubahan zaman.

Acara ini pertama kali muncul di awal dekade 1980-an. Selain versi siang yang menjadi favorit, ada juga siaran malam di hari Selasa, meskipun yang paling ramai tetap edisi siang hari. Di waktu itulah, ‘Sempal Guyon Parahyangan Si Kundang’ mencapai puncak popularitasnya.

Ketenarannya bertahan bertahun-tahun, melintasi generasi pendengar. Banyak orang dewasa di tahun 2000-an masih bisa menirukan suara Si Kundang, Pak Kurdi atau Mang Minta bukti betapa dalamnya kesan yang ditinggalkan acara yang penuh dengan obrolan kocak itu.

Kini, ketika dunia sudah berubah dengan kehadiran internet dan hiburan digital, kenangan tentang ‘Sempal Guyon Parahyangan Si Kundang’ tetap hidup dalam ingatan masyarakat Bandung. Ia bukan sekadar acara radio, tapi bagian dari sejarah kebudayaan Sunda modern simbol bagaimana tawa bisa menyatukan masyarakat.

Tisna Suntara dan Andi R Djauhari telah menunjukkan bahwa humor bukan sekadar lucu-lucuan, melainkan juga seni komunikasi dan refleksi kehidupan. Di balik kelucuan Si Kundang dan kawan-kawan, tersimpan kritik sosial, pesan moral, dan potret kehidupan para rakyat kecil yang jujur serta apa adanya melalui Theater of Mind bagi pendengar, yaitu membantu imajinasi melalui suara dan dialog.

Kini, meskipun sudah  tidak ada lagi, gema tawa dari ‘Sempal Guyon Parahyangan Si Kundang’ masih terasa di memori hati mereka yang pernah mendengarkannya. Para generasi lama Bandung serasa mendengar kembali irama musik jaipongan yang mengawali acara terus suara khas Tisna dan Andi yang bersahut-sahutan di udara.

Mereka bukan hanya penyiar mereka adalah penjaga tawa dan kenangan sebuah kota.  Bandung, dengan segala kehangatan dan kelucuannya, akan selalu mengenang momen ketika seluruh warganya bersatu dalam tawa, karena satu siaran fenomenal ‘Sempal Guyon Parahyangan Si Kundang’ yang fenomenal  dizamannya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)
Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 11:12

Sunyi yang Tidak Selalu Puitik

Refleksi peringatan hari kesehatan mental di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Kesehatan Mental Remaja (Sumber: GeminiAI)
Ayo Biz 14 Okt 2026, 10:41

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat infrastruktur jalan demi mendukung kelancaran mobilisasi dan keselamatan masyarakat sekitar.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi
Beranda 14 Okt 2026, 09:38

Data Center AI Jatiluhur Butuh 33 Juta Liter Air per Hari, Walhi Soroti Hak Warga dan Petani

Selain kebutuhan air yang besar, WALHI Jabar menyoroti transparansi dokumen lingkungan, potensi dampak terhadap pertanian, serta kebutuhan energi untuk operasional pusat data.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 09:04

Persib Sudah Juara, Mengapa Fasilitas Pemain Perlu Disoal?

Thom Haye melayangkan kritikan terhadap fasilitas pemulihan yang disediakan Persib Bandung. Kritikan Haye dibarengi keluhan soal padatnya jadwal dan perjalanan yang melelahkan,

Thom Haye dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 08:00

Sampah Itu Pasti, Bersih Itu Pilihan: Belajar dari Kota Bandung

Sampah adalah konsekuensi kehidupan sehari-hari, tetapi kota yang dipenuhi sampah bukanlah takdir.

Launching GASLAH Tahun 2026 dalam Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 Tingkat Kota Bandung. (Sumber: prokopim.bandung.go.id | Foto: Protokol Komunikasi Pimpinan)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 20:52

KDM, 'Bakakak Hayam', 'Bakekok', dan Investasi Rp7,4 Triliun

Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda pastilah tahu -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.

Ilustrasi bakakak hayam. (Sumber: Dok pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 19:14

Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya

Pegunungan Sanggabuana bersiap beralih status menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem hutan Jawa.

Peta Pegunungan Sanggabuana (Sumber Peta:  Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), 1923 (Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:25

Paradigma Kereta Api Menjadi Wajah Baru Mobilitas Indonesia

Kereta api telah menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Dari alat transportasi menjadi ekosistem mobilitas. Wajah baru ini harus mampu menghubungkan berbagai aktivitas manusia.

Pekerja melakukan perawatan lokomotif di Depo Lokomotif Daop 2, Kota Bandung, Selasa 19 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:06

Ketika Hak Pejalan Kaki Terampas dan Jalanan Terjebak Macet di Kawasan SPOrT Jabar

Ulasan kritis trotoar SPOrT Jabar yang tersita PKL hingga picu kemacetan. Mengajak Pemda bertindak nyata demi hak pedestrian dan keadilan ruang publik.

Trotoar depan pagar SPOrT Jabar, Pacuan Kuda di penuhi pedagang kaki lima. (Sumber: Pribadi | Foto: Marsya Laura Humaira)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 17:02

Dualisme Mahasiswa Bandung: Di Antara Barisan Soekarno dan Gelombang Aksi Massa

Ketika demonstrasi mahasiswa mengguncang pemerintahan Soekarno, muncul pertanyaan yang membelah mahasiswa: apakah membela Indonesia berarti harus menjatuhkan Soekarno, atau justru mempertahankannya?

Pawai ITB Tahun 1966 di Jl. Asia Afrika Bandung (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 16:14

Janji Manis Negara Lindungi Berita, Angin Segar atau Alarm Waspada?

Saat pembaca beralih dari mesin pencari ke AI, industri media kian tertekan. Menkum Supratman Andi Agtas janji lindungi karya pers, apakah ini angin segar atau alarm waspada?

Industri media kian tertekan akibat pergeseran pola konsumsi informasi usai kehadiran AI yang menggeser mesin pencari. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 15:13

Investasi Jawa Barat, SIO, dan Perlindungan Pekerja

Banyak pekerjaan di sektor industri dan konstruksi memerlukan keterampilan khusus, terutama pengoperasian forklift, crane, alat berat, serta pesawat angkat dan angkut lainnya.

Ilustrasi Investasi dan ketenagakerjaan di Jawa Barat mesti maju bersama (Sumber: dokpri | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 11:11

Nostalgia Era 90-an sambil Menikmati Sejuknya Gelatopedia Cirebon

Berkunjung ke Gelatopedia Cirebon tak hanya sekedar menikmati dinginnya es krim tapi juga nostalgia ke tahun 90-an di tempat yang sangat sejuk.

Desain Dinding Gelatopedia Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 08:56

Jalan A.H. Nasution UIN 1 Bandung: Ramai Laju Kendaraan, Sepi Hak Pejalan Kaki

Setiap hari mahasiswa dan warga terpaksa berjalan di bahu Jalan A.H. Nasution karena trotoar yang rusak.

Mahasiswa terpaksa berjalan di bahu jalan,karena trotoar yang tidak layak digunakan disekitar gerbang UIN Bandung Kampus 1. (Foto: Risa Aulia Rahma)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 07:44

Persib U18 dan Anak-Anak yang Menanggung Dosa Rivalitas Orang Dewasa

Langkah manajemen Persib membawa kasus penyerangan terhadap rombongan Persib U18 ke jalur hukum memiliki arti penting.

Bobotoh cilik Persib. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 20:24

Soto-Soto Populer Nusantara: Mozaik Rasa, Pemetaan, Tipologi, dan Teknik Gastronomi Soto Indonesia

Dalam lanskap kuliner Nusantara, soto merupakan representasi konkret dari akulturasi dan adaptasi seni dapur tradisional Indonesia.

Soto Bandung, soto khas Bandung berbahan dasar daging sapi tanpa santan yang disajikan unik dengan lobak dan kedelai goreng. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 19:05

Mungkinkah Tiket Murah dari Bandara Husein?

Bandara perlu model bisnis yang mampu menarik maskapai, mendatangkan penumpang, dan menciptakan aktivitas ekonomi di sekitarnya.

Bandara Husein Sastranegara di Kota Bandung. (Sumber: bandung,go.id)